Minggu, 17 Desember 2017

Mewaspadai Merkuri

Mewaspadai Merkuri
Rosi Ketrin ;  Pusat Penelitian Metrologi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Kawasan Puspitek, Serpong
                                                    KOMPAS, 16 Desember 2017



                                                           
Merkuri kembali menjadi pokok bahasan beberapa bulan terakhir ketika media massa memberitakan tentang penambangan emas tanpa izin. Merkuri atau air raksa adalah logam yang sangat unik karena berbentuk cair dan dapat berubah menjadi bentuk gas yang tidak terlihat.

Larutan garam merkuri yang tidak stabil dapat bereaksi dengan udara dan menghasilkan uap merkuri. Uap ini dapat menembus pori-pori dari botol plastik dan gelas. Oleh karena itu, merkuri harus disimpan di dalam botol gelas yang terbuat dari borosilikat atau botol plastik yang terbuat dari polikarbonat atau high density poly ethylene (HDPE), dengan pH kurang dari 2.

Merkuri dapat terjadi alami, misalnya dari tanah, batuan, tambang, aktivitas gunung berapi, fosil, batubara, dan minyak bumi, maupun karena berbagai aktivitas manusia. Kelimpahan merkuri alami sangat kecil, rata-rata 0,08 part per million mass, sebagai bijih tambang cinnabar, corderoite, livingstonite atau bergabung dengan mineral lain. Pencemaran merkuri timbul lebih karena aktivitas manusia seperti penambangan emas, industri, dan pemakaian minyak bumi.

Dulu untuk industri

Dulu, merkuri banyak digunakan di berbagai industri. Misal, dalam industri kosmetik untuk membuat kulit menjadi putih dan terlihat bercahaya, industri batu baterai untuk mencegah kebocoran baterai, pengisi termometer dan manometer, elektroda, lampu UV dan fluorescence, hingga bidang kesehatan sebagai antiseptik (obat merah) dan amalgam penambal gigi berlubang. Namun, fakta bahwa merkuri berbahaya bagi manusia membuat beberapa negara membatasi penggunaan merkuri.

Sebagai logam bebas, merkuri tidak larut dalam air, tetapi mudah menguap dan mencemari udara. Uap merkuri tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa sehingga dapat terhirup masuk ke dalam tubuh tanpa diketahui. Sebagai garam anorganik, merkuri klorida dapat larut di air, sedangkan merkuri sulfat tidak larut. Bahaya akibat pencemaran merkuri anorganik adalah kerusakan hati dan ginjal. Namun, garam merkuri organik lebih berbahaya dibandingkan dengan garam merkuri anorganik.

Metil merkuri merupakan garam yang paling berbahaya karena dapat langsung berpengaruh pada saraf dan otak. Selain itu, metil merkuri yang terserap tubuh akan terakumulasi karena proses pengeluarannya sangat lambat. Gejala klinis keracunan merkuri akut meliputi sakit perut, mual dan muntah, diare disertai darah, dan shock. Gejala ini mirip dengan gejala keracunan pada umumnya sehingga sulit dibedakan, apakah disebabkan oleh merkuri atau penyakit lain.

Pada keracunan merkuri, gejala ini akan berlangsung secara terus-menerus, hingga terjadi pembengkakan kelenjar ludah, stomatitis, gigi yang menjadi longgar, hepatitis, hingga kematian. Pada ibu hamil, keracunan merkuri dapat menyebabkan janin tidak berkembang, sedangkan pada bayi, keracunan merkuri bisa menyebabkan cacat dan keterbelakangan mental.

Pencemaran merkuri

Berdasarkan program lingkungan United Nations, sekitar 1960 ton merkuri dilepaskan ke udara tahun 2010. Dari jumlah itu, 80 persen berasal dari negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Porsi terbanyak, 37 persen, berkaitan dengan penambangan skala kecil yang menggunakan merkuri untuk menambang emas dan melepaskan kembali merkuri ke udara saat emasnya diekstraksi.

Penambang biasanya menggunakan cinnabar sebagai sumber merkuri. Saat cinnabar dipanaskan, merkuri akan dilepaskan sebagai uap merkuri. Uap ini didinginkan untuk mengumpulkan merkurinya. Merkuri kemudian dicampur dengan lumpur yang diduga mengandung emas. Reaksi emas dalam lumpur dengan merkuri membentuk amalgam.

Amalgam mudah dikenali karena warnanya berkilau seperti campuran emas dan perak sehingga mudah dipisahkan dari tanah atau lumpur. Untuk mendapatkan emas, campuran amalgam dipanaskan kembali. Merkuri akan menguap, sedangkan emasnya tidak. Uap merkuri dapat digunakan kembali, tetapi tetap saja akan ada banyak merkuri yang hilang ke udara.

Merkuri di udara dapat masuk ke tanah dan air melalui hujan. Adanya mikroorganisme di tanah dan air akan mengubah merkuri menjadi metil merkuri, yaitu garam merkuri yang paling berbahaya. Organisme air seperti ikan dan kerang juga dapat mengubah merkuri anorganik menjadi metil merkuri. Merkuri dari air yang tercemar dapat juga masuk ke tumbuh-tumbuhan.

Padi sebagai salah satu tanaman yang perlu banyak air untuk pertumbuhan menjadi salah satu pangan yang patut diwaspadai, apalagi beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia.

Dalam padi, merkuri anorganik menetap di akar padi, sedangkan merkuri organik, seperti metil merkuri, akan bermigrasi hingga ke bulir beras. Selain menghirup uap merkuri, merkuri masuk ke tubuh manusia melalui makanan dan minuman.

Perjanjian Minamata

Pada Oktober 2013, 1.000 delegasi dari 140 negara mengikuti konferensi internasional di Minamata, Jepang. Pada konferensi ini, United Nations mengusulkan Perjanjian Minamata untuk mengatur penggunaan dan perdagangan merkuri sebagai upaya mencegah bahaya kesehatan dan gangguan lingkungan akibat pelepasan logam dan senyawa logam tersebut.

Dalam perjanjian dinyatakan bahwa produksi, ekspor, dan impor sembilan produk, termasuk baterai, kosmetik, dan lampu fluoresen yang mengandung merkuri dalam jumlah nyata, akan dilarang tahun 2020. Sementara penggunaan merkuri dalam proses produksi asetaldehida akan dilarang tahun 2018. Ini mengingat tragedi Minamata, yaitu peristiwa pencemaran merkuri yang menyebabkan ribuan orang rusak sistem sarafnya.

Perjanjian itu ditandatangani oleh 128 perwakilan dari setiap negara, dan bersyukur Indonesia merupakan salah satunya. Namun, penerapan hal ini patut menjadi perhatian kita bersama. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar