Rabu, 29 April 2015

Heboh Pesta Bikini Pascaunas

Heboh Pesta Bikini Pascaunas

Akh Muzakki  ;  Dekan FISIP dan FEBI UIN Sunan Ampel Surabaya
JAWA POS, 28 April 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

HARI-HARI ini situs YouTube menjadikan sejumlah video pesta bikini anak SMA pasca ujian nasional (unas) di Jakarta dan sekitarnya sebagai headline (berita unggahan utama). Begitu situs itu diklik, langsung video-video pendek nan menghebohkan tersebut nongol di laman depan. Judulnya macam-macam. Di antaranya Pesta Bikini Anak SMA Pasca-UN, Heboh Pesta Bikini Kelulusan UN SMA, dan Video Pesta Bikini.

Headline YouTube di atas semakin melengkapi berita heboh tentang agenda dan praktik pesta bikini siswa SMA beberapa waktu terakhir. Tentu, bukannya menyenangkan, apalagi membanggakan, orang tua, pesta bikini itu membuat publik luas harus mengernyitkan dahi.

Lihatlah komentar waras yang muncul di bawah kotak video unggahan yang tayang di YouTube di atas. Rata-rata berisi keprihatinan. Salah satunya berbunyi Kayaknya ini bukan anak sekolah yang berhasil, saya turut prihatin. Yang lain menyatakan: Ini seperti penyakit yang bisa menular, maka harus cepat disembuhkan sebelum kita, adik, kakak, di Indonesia tertular.

Sejak awal rencana penyelenggaraan pesta bikini tersebut, sejumlah kehebohan dan kontroversi langsung muncul secara kuat. Pertama, kontroversi itu muncul karena di undangan pesta tersebut disertakan nama sejumlah SMA sebagai pendukung utama. Baik SMA negeri maupun swasta yang berbasis ormas keagamaan. Undangan itu disebarkan secara fisik maupun menggunakan instrumen media sosial.

Beberapa sekolah buru-buru sibuk menyangga keterlibatan dan dukungan mereka. Yang lain bahkan harus membuat konferensi pers untuk memperkuat ketidakterlibatan mereka. Meski begitu, video atau tayangan pendek menghebohkan di YouTube di atas menjelaskan bahwa pesta bikini itu terjadi walau dengan tingkat sembunyi-sembunyi yang tinggi.

Kedua, dari sisi ide maupun praktiknya, pesta bikini pascaunas tersebut tak lain adalah turunan langsung dari fenomena clubbing yang banyak menggejala di perkotaan. Di antaranya dengan mengambil bentuk pesta malam (night party) dan pesta kolam renang (pool party). Temanya juga begitu, mulai ladies night hingga bikini night.

Pada video pendek nan menghebohkan di YouTube di atas, sangat tampak jelas bagaimana anak-anak SMA itu melakukan pesta bikini di kolam renang. Mulai pakaian hingga jingkrak-jingkrak gerakan mereka tak ubahnya yang banyak menghiasi praktik clubbing di kelab-kelab malam.

Publik di negeri ini sangat perlu memberikan perhatian khusus terhadap mulai menggejalanya praktik heboh pada siswa SMA di atas. Sikap abai, apalagi pembiaran, hanya akan membuat kita ke depan kehilangan pilihan hidup yang baik, rasional, dan bermanfaat pada ruang publik. Ujungnya, penyesalan yang tidak bisa diputar balik akan menjadi ratapan bersama.

Kita patut belajar dari kasus pesta kelulusan anak SMA di Australia. Di Negeri Kanguru itu ada pesta kelulusan SMA yang bernama schoolies party. Pesta tersebut seakan sudah menjadi tradisi tahunan siswa SMA di seluruh penjuru Australia.

Di pesta itu biasanya mereka menyewa seluruh kamar hotel untuk digunakan secara eksklusif oleh siswa sebuah sekolah atau kumpulan sekolah SMA. Tidak boleh ada orang dewasa yang berada dan atau menyewa kamar hotel saat schoolies party tersebut berlangsung. Kepentingannya, tidak ada kasus sexual assault oleh orang dewasa, khususnya pedofilia.

Di hotel itu anak-anak SMA, laki-laki dan perempuan, menikmati kebebasan yang luar biasa tanpa kehadiran orang tua. Anything goes. Apa pun bisa terjadi. Begitulah prinsip yang berlaku pada schoolies party tersebut.

Orang tua di Australia mendapati situasi yang sulit saat anak-anak mereka lulus dari SMA. Di satu sisi, kelulusan SMA menjadi penanda bagi anak untuk segera memasuki dunia kerja atau studi lanjut di perguruan tinggi. Namun, di sisi lain, begitu kuatnya tradisi schoolies party di atas menghipnotis kesadaran anak-anak mereka hingga seakan tidak ada pilihan untuk menyambut kelulusan, kecuali turut serta dalam pesta itu.

Menunjuk pada prinsip anything goes dalam schoolies party di atas, keresahan tidak bisa disembunyikan para orang tua. Hingga ada di antara mereka yang harus merayu anaknya agar tidak sampai ikut schoolies party. Sebagai ganti, mereka menawari si anak berwisata ke luar negeri, seberapa pun jauh jarak dan mahalnya biaya perjalanan wisata itu. Asal anak mereka mau untuk tidak ikut di schoolies party, mereka siap membiayai perjalanan wisata semahal apa pun.

Tentu kita tidak layak menunggu keresahan akut akan mengimpit kita bersama, terutama orang tua, saat menghadapi kelulusan anak dari SMA. Karena itu, gejala pesta bikini yang menghebohkan di atas harus bisa mendorong kita bersama mengambil langkah preventif hingga kuratif yang strategis.

Para penyelenggara pendidikan persekolahan dan kepengasuhan di rumah oleh orang tua sangat perlu melakukan reorientasi terhadap pola pendidikan dan pengasuhan terhadap anak, terutama dalam usia sekolah jenjang SMA. Bentuknya adalah penguatan kesadaran bahwa lulus SMA merupakan babak hidup yang biasa, reguler, dan berlaku pada semuanya.

Hal itu penting agar kelulusan tidak membuat anak-anak kehilangan nilai, apalagi arah hidup pada usia remaja. Alih-alih manfaat yang lebih bersifat internal-personal maupun masalah yang bersifat interpersonal ke masyarakat luas bisa ditebar oleh kegiatan penyambutan kelulusan.

Dalam rangka menjaga nilai kemanfaatan dan kemaslahatan di atas, langkah strategis yang bersifat sistemik harus diambil. Kewenangannya ada di tangan pemerintah. Menurut hemat saya, kontrol dan pengawasan hingga berujung pelarangan atas praktik heboh seperti pesta bikini adalah opsi langkah strategis berjarak pendek. Namun, untuk lebih sistemik dan berjangka panjang, pemerintah perlu melahirkan kebijakan serta instrumentasinya demi penguatan nilai karakter pada proses kelulusan siswa.

Sebagai contoh, pemerintah Kanada menerapkan kebijakan penguatan volunteerism dan karitas untuk proses kelulusan anak SMA. Di Negara Bagian Ontario dan British Columbia, Kanada, sebagai misal, sekolah-sekolah menerapkan kebijakan bahwa siswa level SMA wajib melakukan pengabdian kepada masyarakat (community services) selama 40 jam. Kewajiban itu harus ditunaikan sebelum masa kelulusan dan bisa dicicil selama masa studi.

Pemerintah kita layak melakukan ikhtiar sistemik seperti pemerintah Kanada di atas. Kepentingannya adalah menjamin pengembangan karakter bangsa melalui proses pendidikan yang dijalankan. Jangan sampai momentum kelulusan menjadi antitesis dari rangkaian pengembangan nilai dan karakter luhur sebelumnya oleh guru serta orang tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar