Tampilkan postingan dengan label Miarti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Miarti. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 September 2013

Politik dan Bangsa yang Narsis

Politik dan Bangsa yang Narsis
Miarti  ;   Pegiat LSM Gema Pertiwi Jawa Barat, Kontributor ahli majalah Al-Intima
SUARA KARYA, 23 September 2013


Tentang sifat narsis, Andrew Morisson berpendapat bahwa bila seorang manusia memiliki sifat narsis dalam kadar yang cukup, akan membuat hidupnya seimbang. Sebaliknya, jika berlebihan maka akan sangat mengganggu terhadap kehidupan sosialnya. Karena, dengan sendirinya atau secara refleks, orang-orang berpribadi narsis, baik secara perlahan maupun reaktif, akan dijauhi oleh lingkungan sekeliling. Karena, orang-orang narsis terbiasa mengedepankan kepantasan pribadi, habis-habisan memunculkan dan menjaga kharisma, menonjolkan harta, membanggakan paras atau ketampanan, tampil dengan elegan, mencari perhatian orang sekitar, serta terbiasa memastikan agar dirinya selalu lebih eye catching dari orang lain walau dengan cara apapun mengupayakannya.

Dalam konteks bangsa kita, terlihat dari permasalahan dan aneka kasus mengemuka dari masa ke masa. Jika demikian keadaannya, bisa disimpulkan bahwa kadar narsisme bangsa kita jelas-jelas sudah berkelebihan, dimana kerugian dan dampak negatifnya lagi-lagi harus ditelan oleh seluruh rakyat tanpa kecuali.

Tahun 2012, barangkali publik masih teringat dengan rencana DPR untuk merenovasi gedung. Menyusul, rencana untuk memperbaiki toilet dengan estimasi dana sekian miliar rupiah. Adapun motif dari rencana tersebut, konon untuk mengejar sebuah kepantasan. Tidak jadi soal sebetulnya mengejar kepantasan sebuah lembaga tinggi negara dengan berbagai upaya yang perfect. Tetapi, menjadi sangat ironis akhirnya ketika rencana tersebut dibuat di atas sebuah kondisi permasalahan negara yang belum tertuntaskan. Sebut saja, kemiskinan, ketidakberdayaan, ketergantungan, dan kesimpangsiuran berbagai sistem di pemerintahan.

Memang wajar adanya, ketika penyakit narsisme mewabah di negeri kita yang sudah jelas kaya akan kasus. Karena, kalau terkait sifat narsis sendiri, sebetulnya sudah menjangkiti individu manusia di hampir seluruh belahan dunia. Hal ini dibeberkan oleh Jean M Twenge dan W Keith Campbel dalam buku, The Narcism Epidemic: Living in the Age of Enlitlement. Ini artinya, jika di luar negeri saja yang konon pengelolaan negaranya sudah jauh lebih sistematis dan mekanistis tetapi masih terjangkiti wabah narsisme, apalah lagi dengan bangsa kita yang sudah jelas-jelas pragmatis, massif dan obsesif tentu narsismenya menjadi sebuah epidemik tersendiri.

Selanjutnya, sudah bukan lagi cerita dari negeri dongeng ketika ada orang atau ada pihak yang habis-habisan mengeluarkan dana untuk mendongkrak kemenangannya di kompetisi pencalonan anggota legislatif. Untuk tujuan apalagi kalau bukan untuk sebuah obsesi narsisme. Bahkan hal-hal tak wajar yang menyelingkuhi hukum pun ditempuhnya dengan leluasa. Contoh sederhananya, politik uang, transaksi posisi, memberi iming-iming yang menggiurkan, dan lain-lain.

Kedudukan, jabatan, dan posisi-posisi penting lainnya memang telah menjadi obsesi narsisme bagi sebagian besar masyarakat bangsa kita. Dan hanya sebagian orang atau sebagian pihak saja yang motif utamanya adalah untuk sebuah pengabdian atau untuk sekadar aktualisasi diri. Bahkan, kedudukan itu dengan sendirinya menjadi batu loncatan menuju sebuah kepuasan materi.

Padahal kalau direfleksi, negara kita sudah terlalu berbeban menanggung aneka kebutuhan. Maka betapa semakin berbeban bangsa kita ketika ada tugas tambahan untuk mengakomodir aneka kepentingan. Lebih ironis lagi ketika para elite yang berkepentingan untuk menempati sebuah posisi pemerintahan, dengan mudahnya mengatasnamakan ketimpangan dan keterpurukan yang ada untuk ia perjuangkan dan tuntaskan. Seoalah-olah, mereka lah yang paling mampu mengembalikan kondisi bangsa yang tengah carut cemarut, paling mampu membenahi sistem pemerintahan terbaik, paling memungkinkan mengentaskan kemiskinan yang bergelimpangan dimana-mana.

Cukup mengerikan rasanya menyaksikan narsisme bangsa kita yang sudah mewabah ke hampir semua lini. Ini sebuah penyakit kronis yang tak cukup hanya untuk ditonton. Melainkan perlu banyak lakon-lakon perubahan yang dimunculkan, dimana para lakon itu semangat berkarya dan ikhlas bekerja serta tidak sekadar cerdas dalam retorika.

Maka kita seharusnya terbuka pada peta politik yang ada. Jangan sampai terjebak pada performa. Jangan pula terjebak pada retorika. Karena performa dan retorika belum sepenuhnya bisa dijadikan indikator kualitas calon penegak pemerintahan yang adil. Pertimbangkan kembali pilihan kita, sehingga tidak jatuh pada elit yang keberadaannya laksana Narcis yang melegenda dalam The Alchemist-nya Paolo Coelho. Narcis habis-habisan menjaga kharismatiknya, walau dengan cara-cara arogan sekalipun. Ia menghabiskan waktunya hanya untuk mematut-matut diri, mencermati bayangan diri dan melakukan penolakan terhadap setiap perempuan cantik yang mengaguminya sebagai pertanda kegagahan dan keeksklusifannya.

Barangkali kita semua sepakat untuk menolak pemerintahan yang berkutat pada panggung narsis, dimana para lakonnya sibuk mematut-matut citra dirinya. Dan rupanya kita perlu lebih analitis dalam mencermati fenomena yag ada. Dampak politik narsis bersayap ke berbagai ranah kehidupan, mulai dari ranah hukum, pendidikan, sosial, budaya, dan lain-lain. Cara berpikir narsis, melahirkan kebijakan-kebijakan publik yang seringkali tidak bersubstansi. Perubahan kurikulum, perubahan mekanisme ujian nasional, perubahan manajemen pelayanan kesehatan, dan lain-lain, malah cenderung membingungkan dan berdampak pada tumbuh suburnya sifat-sifat pragmatis dan kekanak-kanakkan.

Sedangkan pengembangan yang dilakukan lebih berupa pengembagan fisik yang hanya polesan, bukan pengembangan sumber daya manusia yang keterandalannya jelas-jelas diperlukan untuk mengorkrestasi negeri ini menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi. ●

Selasa, 23 April 2013

Ketika Anak Terjebak Stereotip Gender


Ketika Anak Terjebak Stereotip Gender
Miarti ;  Direktur PG dan TK Zaidan Alam Mandiri, Aktivis LSM Gema Pertiwi Jawa Barat
SUARA KARYA, 20 April 2013


Ayah bunda! Baik secara sadar maupun tidak, kita seringkali memiliki penilaian sempit tentang perbedaan karakter anak laki-laki dan perempuan. Misalnya, anak laki-laki cenderung dipandang pemberani, mendominasi, ceroboh, nakal. Sebaliknya, anak perempuan cenderung dipandang cengeng, pemalu, sensitif dan kurang percaya diri. Dampaknya, anak laki-laki sering dianggap tidak pantas ketika menangis, dan anak perempuan sering dikatakan tidak wajar ketika melakukan hal-hal seperti memanjat, bermain sepeda dan lain sebagainya.

Padahal sesungguhnya, yang namanya sifat itu tidak dibatasi oleh jenis kelamin. Artinya, baik laki-laki maupun perempuan berpotensi untuk memiliki kesamaan sifat. Dalam hal ini, sifat pemberani bukan hanya milik anak laki-laki dan sifat lembut pun bukan hanya milik anak perempuan. Sifat-sifat tersebut sejatinya dimiliki oleh masing-masing jenis. Karena baik laki-laki maupun perempuan berkebutuhan terhadap sifat lembut maupun pemberani. Bisa dibayangkan, apabila anak laki-laki terlanjur dibentuk untuk menjadi seseorang yang benar-benar berjiwa pemberani tanpa mengindahkan sifat lembut yang seharusnya melekat dan mengarakter dalam jiwanya. Bagaimanakah kelak ketika ia telah dewasa dimana ia harus menghadapi sebuah fragmen kehidupan seperti istri melahirkan. Bagaimana bisa ia mampu berempati atau membantu istrinya yang sedang bertaruh nyawa, atau dalam kehidupan sehari-hari misalnya. Ketika sang anak menghadapi sebuah kenyataan dimana salah seorang temannya kecelakaan atau dicemooh oleh hampir seluruh temannya, akankah empatinya itu hadir, akankah ia mampu melakukan pembelaan.

Demikian pula dengan anak perempuan. Jika orang tua atau lingkungan sekitar terlanjur membentuk dan men-judge bahwa dirinya harus lembut dan harus mengalah, sementara nilai-nilai ketangguhan, ketegasan dan keberaniannya tidak diperhatikan, maka hal ini tentu saja menuai bahaya. Mengapa dikatakan bahaya? Karena jika suatu saat anak perempuan tersebut beranjak remaja atau dewasa, lalu ada laki-laki yang menggangunya atau sampai hampir mau memperkosanya, adakah kemampuan si anak perempuan tersebut untuk melakukan perlawanan. Padahal ini adalah hal yang niscaya.

Nah, jika ketegasan dan keberanian itu tidak dibentuk dan tidak dibangun, semakin banyaklah korban-korban pelecehan dari laki-laki yang tidak berhak atas tubuhnya. Bahkan, potret mengenaskan semacam yang terjadi pada anak perempuan berumur 11 tahun yang akhirnya hamil akibat perbuatan biadab ayah kandungnya sendiri, ini adalah bagian dari ketidakberdayaan seorang perempuan untuk menolak atau melakukan perlawanan.

Adapun konstruksi nilai yang masih dianut oleh beberapa masyarakat kita adalah penyikapan terhadap anak yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Contohnya adalah ketika sepasang suami istri secara berturut-turut memiliki anak yang berjenis kelamin sama, perempuan semua atau laki-laki semua. Karena sangat berharap anak laki-laki, sementara tiga anak yang telah lahir itu semuanya perempuan, maka pasangan suami istri tersebut bersepakat untuk menyikapi anak yang keempat sebagai anak perempuan. Padahal sebetulnya laki-laki. Hal ini tentu saja melanggar fitrah. Mengapa melanggar fitrah? Karena jenis kelamin tidak bisa dipertukarkan. Sehingga anak laki-laki tidak bisa didandani dengan cara mendandani anak perempuan. Anak laki-laki tidak bisa diperlakukan sebagai anak perempuan. Gaya berjalan anak laki-laki tidak bisa dipaksakan untuk kemudian diganti seperti gaya berjalan anak perempuan. Aksesoris anak laki-laki tidak bisa digantikan begitu saja dengan aksesoris anak perempuan seperti anting, kalung, gelang, dan atau sejenisnya.

Konstruksi nilai tersebut lagi-lagi sangat berbahaya. Karena pemberian simbol, aksesoris, dan cara penyikapan yang salah akan menjadi sebuah mental kepribadian yang tidak proporsional. Selain itu, anak akhirnya tidak memiliki citra diri yang jelas. Karena keterpaksaan dari lingkungan, membuat dirinya harus menjadi seorang laki-laki, sementara hakikatnya adalah perempuan, atau sebaliknya. Maka, semakin berbahayalah bila kemudian anak tersebut mencintai sesama jenis. Naudzubillaahimindzalik.

Selain penyikapan yang salah dari orang tua atau lingkungan sekitar, media juga cukup memberi andil negatif terhadap pemahaman anak akan perbedaan gender. Jika sekian banyak tayangan menyuguhkan profil seorang waria, ini adalah bagian dari fakta yang membingungkan bagi anak. Anak dengan segudang rasa penasarannya (kuriositas), dimana tahap perkembangannya berada pada tahap operasional konkrit (harus serba tervisualisasi dan tersimbolkan), akan memendam pertanyaan besar tentang apakah waria itu laki-laki atau perempuan.

Demikian juga dengan iklan-iklan yang mayoritas menggunakan tampilan perempuan cantik dan menarik. Bahkan yang korelasinya tidak ada sama sekali seperti iklan mesin traktor atau iklan pompa air. Ketika tayangan iklan tersebut terekam oleh memori otak anak, maka sang anak akan membuat berbagai simpulan yang salah satu diantaranya adalah, perempuan itu adalah alat. Atau, simpulan lain misalnya, jika sebuah produk itu ingin laku, maka harus dijajakan oleh perempuan cantik dan menarik. Nah, sesempit itukah penafsiran tentang gender yang kemudian muncul pada benak anak-anak kita? ●

Sabtu, 06 April 2013

Anak dan Moralitas Bangsa


Anak dan Moralitas Bangsa
Miarti ;   Praktisi Pendidikan Prasekolah, Aktivis LSM Gema Pertiwi Jawa Barat
SUARA KARYA, 06 April 2013

  
Jika diukur beban anak zaman sekarang dan dahulu, barangkali anak zaman sekarang jauh lebih berbeban. Mulai dari dampak kemudahan teknologi yang cukup sulit untuk diredam, permasalahan moral yang terus mengemuka, serta banyaknya perilaku aneh yang mengakibatkan tipisnya pengertian apakah seseorang bisa dikatakan manusia atau bukan.

Begitupun, rangkaian masalah di negeri ini seolah tiada akhir. Orientasi kekuasaan, korupsi berkepanjangan, pengangguran, kemiskinan yang merajalela, keadilan yang tak juga mengejawantah, penderitaan para TKI yang tak tertuntaskan, korban perkosaan yang hampir tak teradvokasi hingga tuntas, penganiayaan terhadap anak kandung, kekerasan dalam rumah tangga, penjualan anak di bawah umur, banyaknya mafia peradilan alias markus, perilaku bohemian orang-orang berduit, kasus narkoba hingga kematian akibat minuman keras, berita heboh video mesum mirip artis, serta kasus bunuh diri anak.

Rangkaian potret buram bangsa kita secara tidak langsung menjadi fatamorgana memilukan bagi kelangsungan hidup anak-anak. Banyak hal yang seharusnya sangat tidak boleh didengar dan dilihat anak, namun ironisnya bisa mereka dapatkan dengan sangat mudah. Padahal sejatinya, seorang anak dengan segala genuinitasnya, memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menangkap dan merekam berbagai obyek. Sehingga dengan sangat mudahnya mereka mempelajari sesuatu bahkan tanpa diajari secara langsung sekalipun.

Anak memang merupakan pribadi yang unik. Ada berjuta gagasan cerdas yang muncul dari otak jeniusnya. Ada beribu pertanyaan menarik yang tersimpan didalam benaknya. Ada bermiliar pengetahuan yang terekam dalam memorinya. Sungguh pribadi itu suatu anugerah yang sangat berharga. Oleh karena itulah, berbagai tindakan preventif yang arif dan mendidik adalah niscaya.
Jangan sampai kehebatan dan kemuliaan pribadinya hangus dan terberangus oleh kompleksitas permasalahan yang ditimbulkan oleh orang-orang dewasa.

Kehebatan daya tangkap anak seharusnya berbanding lurus dengan berbagai stimulasi yang mendidik dan mencerdaskan. Kehebatan otaknya yang genius dengan miliaran sel saraf menakjubkan, seharusnya menjadi lahan subur bagi orang dewasa untuk mengolahnya menjadi anak cerdas berkualitas. Keceriaannya yang khas dan kepolosannya yang memesona, seharusnya tetap bisa ditampilkan dengan natural tanpa adanya intervensi negatif dalam bentuk amarah orang dewasa dan celaan yang menyakitkan.

Namun, kenyataannya potret demoralisai sangat mudah dilihat, ditiru dan diikuti jejaknya. Tak heran bila ada seorang bocah tiga tahun dengan begitu lihainya berargumen ala peran antagonis di sebuah sinetron. Tak heran, bila seorang anak sudah sangat familiar dengan narkoba. Tak heran pula bila ada seorang anak SD yang mencoba bunuh diri hanya gara-gara tidak mampu membayar biaya sekolah. Sangat tidak heran, apabila ada anak SD yang melakukan tindakan asulila (mesum) seperti yang dicontohkan di internet dan diberitakan di televisi.

Menyelematkan moral anak memang bukanlah perkara yang simplistis dan pragmatis. Menyelesaikannya membutuhkan banyak elemen. Tidak cukup pihak sekolah yang memiliki tugas mendidik dan membina anak. Namun, keluarga pun sejatinya memiliki porsi tanggungjawab yang jauh lebih banyak.

Salah satu hal yang perlu dianggap prioritas yang perlu diupayakan guna menyelematkan anak-anak dari berbagai potret buram bangsa kita yang kini semakin mengemuka adalah penanaman kesadaran ber-Tuhan. Tanamkan kesadaran pada mereka bahwa segala bentuk perilaku, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang baik maupun yang buruk, semuanya akan dilihat dan direkam oleh Allah SWT. Dengan bahasa yang sangat sederhana, hal itu bisa disampaikannya seperti contoh berikut.

Allah akan tahu terhadap siapapun yang berbohong. Allah juga pasti akan melihat apapun yang dilakukan manusia walaupun dengan cara-cara sembunyi-sembunyi. Allah akan mendengar perkataan setiap ummat-Nya. Tangisan, rengekan, kata-kata kasar, semuanya akan didengar oleh Allah. Bahkan kata-kata yang diucapkan dalam hati pun didengar Allah.

Tak cukup sampai di sana. Upaya kita belum tuntas hanya dengan menanamkan kesadaran ber-Tuhan. Namun, perlu direnungkan kembali tentang masalah yang bermunculan di negeri ini. Dalam hal ini, barangkali orang perlu belajar membuka hati dan menerima terhadap masalah yang ada tanpa ada kesan mendukung terhadap kebobrokan moral yang terjadi.

Masalah layaknya sel yang terus berganti dan terus berganti. Bahkan kehadirannya begitu terstruktur mulai dari tingkat kerumitan yang biasa sampai tingkat kerumitan yang luar biasa. Dari tantangan yang sangat standar hingga tantangan yang melelahkan. Dari ujian yang ringan sampai ujian yang sangat berat.

Dan, dengan adanya permasalahaan yang semakin mengemuka, barangkali perlu diambil pelajaran tentang pentingnya sikap optimistis. kemudian, sikap optimistis itu diduplikasikan kepada anak-anak. Oleh karena itu, harus dipastikan kepada anak-anak bahwa negeri ini tak selamanya penuh dengan kompleksitas masalah seperti sekarang ini.

Orang dewasa juga perlu meyakinkan pada mereka bahwa negeri ini bisa berubah. Siapa lagi yang akan mengubah dan memperbaiki negeri ini dari segala kesemerawutan kalau bukan anak-anak generasi penerus. Karena kecemerlangan peradaban bangsa ada di tangan mereka, bukan di tangan orang dewasa.

Betapa gagalnya kita bila anak-anak harus meneruskan jejak kehancuran. Betapa meruginya kita ketika anak-anak kita tumbuh dan berkembang menjadi penerus pelaku korupsi, penerus pelaku pembunuhan, penerus pelaku video mesum, penerus mafia kasus. ●