Buruk Rupa
Samuel Mulia ;
Penulis
kolom “Parodi” Kompas Minggu
|
KOMPAS,
05 April 2015
Pada suatu hari saya masuk ke sebuah chat room. Saya bolos ke
kantor karena hari itu rasa malas dan bosan menyerang dengan gencar. Hari
masih sekitar pukul sembilan pagi. Beberapa menit berada di ruang untuk
bertemu sejuta umat itu, saya tertarik dan kemudian tersinggung membaca
status seseorang. Begini bunyinya. "Yang jelek enggak usah coba-coba
chat. Ke laut aja."
Saya menyesal masuk ke ruang mengobrol itu. Tersinggung pada
pagi hari itu seharusnya tak sepantasnya terjadi. Sakitnya tu di sini. Di
hati dan ubun-ubun, maksudnya. Baru saja saya mau meninggalkan chat room itu tak sengaja saya membaca
satu status lagi. "Mencari yang ganteng, yang lain ke laut aja."
Saya sampai merasa bahwa kedua status yang menyinggung perasaan
itu sebagai upah dari membolos. Tetapi, toh itu tetap tak menggoyahkan hati
untuk berpikir membatalkan acara membolos.
Kemudian saya teringat dengan beberapa teman yang memiliki
kelompok yang terdiri dari pria-pria tampan dan perempuan cantik. Beberapa
orang mengatakan kepada saya, kelompok itu sombongnya setengah mati. Saya
mengenal beberapa dari mereka. Mereka tidak sombong dalam percakapan, tetapi
bahasa tubuh mereka berbicara dengan sendirinya tanpa mulut mereka harus
bersuara. "You can not seat with me."
Setelah tersinggung beberapa saat karena saya sangat menyadari
keadaan saya ini sangat bisa dimasukkan ke dalam kategori buruk rupa, saya
mulai berpikir. Begini. Pertama, kalau seseorang tak mau bertemu atau
berkenalan dengan yang jelek, artinya ia tak mau bertemu alias menolak
seorang makhluk ciptaan Tuhan.
Artinya, mereka tak sedang menghina saya, tetapi sedang menghina
Yang Mahakuasa. Karena, saya ini percaya manusia yang berada di dunia ini
adalah ciptaan Tuhan, apa pun bentuknya. Tetapi, pengelompokan manusia itu
dibuat oleh manusia sendiri. Kaya, miskin, buruk rupa, cantik jelita, tampan
memesona. Pandai, bodoh, dan seterusnya.
Saya sendiri juga tidak tahu apakah pengelompokan yang dibuat
tersebut juga salah satu bentuk penghinaan terhadap Sang Pencipta. Saya malah
berpikir setelah melihat status dua manusia di ruang mengobrol itu, bagaimana
manusia bisa begitu beraninya menghina Yang Mahakuasa memilah-milah dengan
siapa ia mau bergaul, dan dengan siapa ia mau diasosiasikan hanya berdasarkan
fisik semata.
Sementara Yang Mahakuasa itu malah bertujuan agar manusia
mengasihi sesama manusia, apa pun keadaan mereka. Saya merasa, orang yang
memiliki status semacam itu memosisikan dirinya di atas Sang Pencipta.
Lapang dada
Kedua, apakah jelek itu? Apa kategorinya seseorang dapat
dianggap buruk rupa? Apakah jelek itu kerempeng? Tidak berotot? Tidak
bahenol? Tidak seksi? Apakah jelek itu bukan putih? Bukan berambut panjang
nan hitam berikal? Apakah jelek itu tidak tinggi? Tidak semampai?
Di beberapa perusahaan yang bergerak di dalam riset kehidupan
sosial, ada batasan yang disebut kelas sosial atas, menengah, dan bawah.
Mereka memiliki angka tertentu yang mampu mengelompokkan kelas sosial
tersebut.
Di sekolah ada predikat juara. Juara satu dan juara lima puluh.
Juara satu dianggap pandai, juara lima puluh dianggap ya gitu deh. Tetapi,
bagaimana kriteria dan nilai yang disebut cantik dan buruk rupa itu?
Seperti saya katakan di atas, saya ini sama sekali jauh dari
kategori tampan. Sampai pada suatu hari saya ingin sekali melakukan operasi
plastik. Saya bahkan sudah mendatangi sebuah seminar dan melihat bagaimana
prosedurnya dan seberapa banyak dana yang harus saya sediakan.
Ide saya untuk melakukan operasi plastik ini dasarnya ada dua.
Pertama, saya ingin dikelompokkan tampan supaya lebih cepat laku. Karena,
saya tersakiti bertahun lamanya karena ketidaktampanan itu. Kedua, saya ini
merasa hidung saya terlalu besar, alis mata saya tidak tumbuh dengan posisi
yang benar, kulit saya seperti jalan rusak yang berlubang, saya kurang
tinggi.
Tetapi, seorang teman yang tampangnya gitu deh membuat saya
mengurungkan niat saya itu. "Jadi, elo tu nggak suka sama apa yang
dikasih Tuhan? Elo merasa bahwa Tuhan salah merancang fisik elo? Elo gak
puas? Emang setelah operasi dan katakan elo jadi tampan, emang elo bakal
dikejer-kejer orang?"
Saya terdiam tak bisa berkata apa-apa, dan sampai tulisan ini
dibuat saya masih dengan kondisi yang sama. Saya tak bisa menghindari adanya
pengelompokan, saya tak bisa tersinggung karena ada orang yang hanya mau
bergaul dengan yang tampan.
Sekarang ini yang jadi pekerjaan rumah adalah menerima keadaan
saya. Suka atau tidak suka. Semoga suatu hari dengan mampu menerima, saya
jadi lapang dada. Kalau saya lapang dada, saya berharap itu akan melapangkan
jalan saya untuk mendapatkan seseorang yang bisa melihat kondisi fisik saya,
sebagai sebuah hal yang memesona. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar