Sabtu, 29 Mei 2021

 

Tantangan Pendidikan Bangsa

Emil Salim ; Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

KOMPAS, 28 Mei 2021

 

 

                                                           

Di pintu-gerbang Universitas Afrika Selatan terpampang secara mencolok kata-kata sebagai berikut.

 

”Menghancurkan suatu bangsa tidak perlu pakai bom atom ataupun misil jarak jauh. Cukup hanya dengan menurunkan kualitas pendidikan dan membiarkan penipuan dalam menguji para mahasiswa oleh guru besar sehingga pasien meninggal di tangan dokter medis hasil pendidikan seperti itu. Bangunan gedung roboh di tangan insinyur seperti itu. Uang pun hilang di tangan ahli ekonomi dan akuntan begituan. Kemanusiaan sirna di tangan hakim seperti itu”.

 

Robohnya pendidikan

 

Bila ingin kita menilai kualitas SDM Indonesia sebagai hasil proses pendidikan di Tanah Air, secara obyektif sebaiknya kita gunakan penilaian tingkat internasional, seperti tecermin pada penilaian (1) Program for Internasional Students Assesment (PISA) yang mencakup 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara yang menilai ”kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains”. PISA diselenggarakan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) setiap tiga tahun.

 

Selain itu, Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) sebagai penilai internasional untuk pengetahuan matematika dan sains bagi siswa kelas 4 dan 8 di seluruh dunia. TIMMS diselenggarakan oleh Asosiasi Internasional untuk Evaluasi Prestasi Pendidikan untuk pembandingan prestasi pendidikan di dunia setiap empat tahun dan dimulai sejak 1995.

 

Dalam kedua penilaian, Indonesia berada di kelompok lima negara terbawah. Jika kualitas pendidikan Indonesia bermutu rendah dibandingkan negara berkembang lain dan kualitas kesehatan penduduk Indonesia menderita pukulan yang juga berdampak negatif pada perkembangan pembangunan, semua ini mengakibatkan merosotnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

 

IPM mencakup: (1) indeks harapan hidup; (2) mutu pendidikan, dan (3) pendapatan per jiwa penduduk. Bila dikaji IPM per daerah dan ditelusuri dampaknya pada tingkat Pendapatan Regional Bruto di daerah-daerah, dapat ditarik kesimpulan bahwa rendahnya kualitas pendidikan di daerah berkorelasi erat dan berdampak buruk pada tingkat Pendapatan Regional Bruto di provinsi yang rendah.

 

Dengan demikian, akan sia-sia, tak berkembang proyek pembangunan yang berdiri tersendiri.

 

Misalnya, proyek pertambangan Freeport tanpa smelter di Papua dan pembangunan jalan raya di Papua jika diperlakukan sebagai ”pembangunan proyek tunggal” dan tak diikuti proyek-proyek pengembangan SDM untuk bisa menaikkan nilai tambah. Misalnya, melalui pengembangan smelter di Freeport. Atau aktif mengembangkan sentra-sentra pelatihan SDM untuk bisa memanfaatkan sumber daya alam yang kini terbuka berkat pembangunan jalan raya terbuka di daerah.

 

Pembangunan fisik yang tak disertai pengembangan SDM, apa lagi di daerah yang sudah diketahui tertinggal dalam kualitas SDM, tidak akan membangkitkan efek berganda yang diharapkan dari pembangunan fisik proyek dan prasarana.

 

Karena itu, sangatlah penting agar usaha menggalakkan investasi, baik dari luar maupun dalam negeri, disertai kewajiban ”mengembangkan SDM” demi kepentingan keberlanjutan usaha investor itu sendiri.

 

Pengutamaan pengembangan SDM dalam pola pembangunan pasca-Covid-19 ini menjadi sangat penting karena dampak pandemi dengan keharusan kerja “ambil jarak”, ”bekerja dan belajar dari rumah” telah memperkuat arus ”inteligensi buatan” yang mendorong teknologi digital dan perkembangan dari ”Industri 2.0 berbasis tenaga listrik” ke ”Industri 4.0 dan 5.0 berbasis kecerdasan buatan” di dasawarsa-dasawarsa akan datang.

 

Investasi di pendidikan

 

Sejak 2020 hingga 2030, Indonesia memasuki struktur kependudukan yang didominasi generasi muda (15 tahun ke atas). Generasi ini akan menjadi motor penggerak pembangunan pada tahun-tahun menjelang Indonesia lepas landas 2045.

 

Oleh karena itu, sangatlah mendesak untuk membuka peluang emas menaikkan kualitas SDM generasi bonus demografi 2020-2035 ini. Dan, ini perlu dimulai dengan memperbarui sistem pendidikan kita, terutama dalam matematika, sains, dan teknologi mengatasi ketertinggalan bangsa Indonesia di bidang-bidang ini.

 

Genetika manusia Indonesia tidak lebih rendah dari China dan Singapura yang meraih posisi tertinggi dalam PISA-2018. Yang diperlukan adalah investasi tenaga guru, mengatas ketertinggalan kita dalam pendidikan matematika, sains, dan teknologi. Pemerintah perlu merintis kerja sama dengan Singapura dalam mendidik tenaga-tenaga pengajar kita secara masif sebagai sokoguru tenaga pengajar matematika, sains, dan teknologi di Tanah Air.

 

Dengan kerja keras dan rencana-kerja yang terfokus, Indonesia membangun generasi bonus demografinya guna meraih Indonesia lepas landas pada 100 tahun Indonesia merdeka tahun 2045 yang akan datang. ●

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar