Senin, 24 Mei 2021

 

Parodi Anjing & Katak

Samuel Mulia ;  Penulis Kolom “PARODI” Kompas Minggu

KOMPAS, 23 Mei 2021

 

 

                                                           

Kalau Anda becermin, cermin akan memperlihatkan diri Anda. Kalau Anda berbuat sesuatu, perbuatan Anda itu adalah cermin siapa diri Anda. Bisa jadi, cermin itu merefleksikan Anda yang sesungguhnya atau Anda yang tengah berpura-pura. Apa pun alasannya, itu adalah yang Anda suguhkan kepada khalayak kebanyakan.

 

Anjing

 

Saya yakin, sebagian besar dari Anda telah melihat perbuatan tiga perempuan yang viral di media sosial belakangan ini. Bahkan perbuatan mereka itu sudah dijadikan meme. Teman saya sudah menggunakan meme itu sebagai alat untuk menjawab pesan tanpa kata-kata. Saya tak perlu menjelaskan perilaku dan perbuatan mereka yang sangat emosional itu. Bagi Anda yang belum melihat, Anda bisa mencarinya di media sosial dengan sangat mudah.

 

Kejadian itu adalah satu dari sekian banyak contoh cermin yang dibawa seseorang di mana pun ia berada dan kemana pun ia pergi. Cermin yang menggambarkan tabiat seseorang, yang merefleksikan seberapa tinggi atau rendahnya penguasaan diri, yang memperlihatkan dengan sejelas-jelasnya seberapa besar atau kecilnya kepekaan sosial, dan seberapa besar atau kecilnya keinginan seseorang berbuat baik atau tidak sama sekali.

 

Permohonan maaf yang dilakukan setelah perbuatan penuh emosi itu juga tak selalu menggambarkan sebuah tabiat yang mulia. Permohonan maaf dengan menggunakan kalimat yang klise, yaitu saya khilaf dan tak akan mengulangi perbuatan itu, masih perlu dibuktikan dalam waktu berjalan.

 

Membuktikan apakah itu hanya sekadar kalimat basa-basi bermeterai atau benar-benar dieksekusi sehingga manusia itu benar berubah menjadi sebuah pribadi baru yang sudah enggan menyebut ”anjing” atau ”goblok”, sebagai bentuk luapan amarah.

 

Saya kalau jadi anjing, juga akan tersinggung, selalu dibawa-bawa dalam sebuah kejadian buruk dan nama saya selalu dikonotasikan sebagai sebutan yang kasar, padahal saya sebagai anjing sangat mudah memaafkan, setia, dan dapat menjadi teman di kala suka dan duka, dijadikan penuntun bagi mereka yang membutuhkan.

 

Seandainya sebagai anjing saya bisa menuntut manusia mencemarkan nama baik, akan saya lakukan. Saya akan membuat konferensi pers untuk mengembalikan nama baik saya yang sudah sering dicemari berpuluh tahun lamanya.

 

Katak

 

Setelah kejadian emosional yang membuat saya ikutan emosi, nurani saya yang sudah lama, lama sekali tak bernyanyi, pagi itu, saat saya sedang membuat tulisan ini, nyanyian kembali terdengar. Keras seperti biasa.

 

”Kamu kok pinter banget bisa ngomong kayak gitu. Lawong kamu itu juga gak beda sama ibu-ibu itu. Kamu itu beruntung karena pada masa kamu berteriak seperti itu, belum ada media sosial dan anak buahmu tidak merekamnya. Tapi, kamu sami mawon. Jadi mending tulisan yang di atas kamu jadikan bahan kuliah untuk dirimu sendiri.”

 

Benar. Sungguh seratus persen benar. Saya pernah merobek hasil karya anak buah, saya pernah berteriak dengan sangat emosi di sebuah rumah makan di sebuah mal, yang telah membuat teman saya yang menemani saya makan ketakutan setengah mati. Saya mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakiti, sampai teman saya bilang begini. ”Mas Sam, aku tu gak nyangka loh, elo bisa sampai kayak gitu.”

 

Nah, teman-temanku se-Tanah Air, orang mengatakan bahwa hidup itu penuh kejutan. Sekarang, di hari Minggu ini, saya mau bertanya kepada Anda semua. Kejutan apa yang Anda telah berikan kepada teman Anda, kepada anak, suami, teman sekerja, anak buah atau klien Anda, sampai mereka terbelalak karena mereka tak tahu kalau Anda bisa menjadi orang yang berbeda yang selama ini mereka ketahui.

 

Cermin apa yang Anda perlihatkan kepada mereka yang selama ini tersimpan rapi sampai mereka merasa Anda seperti saya, disebut dengan predikat katak, karena dapat hidup di dua dunia. Satu hari terlihat sangat santun, tetapi bisa berbuat kekejaman yang jauh dari kesantunan perilaku yang selama ini dikenal orang.

 

Melihat kejadian di atas, saya kemudian berpikir begini. Mungkin banyak orang tak mau bekerja sama dengan saya bukan hanya semata-mata karena proposal saya tidak menarik atau harga yang saya tawarkan terlalu mahal, atau saya orang yang tidak fleksibel, melainkan karena mereka melihat saya seperti katak.

 

Mereka takut kebaikan saya di awal dapat berubah menjadi kekejaman yang luar biasa. Mereka takut apakah saya ini bisa dipercaya. Di air bisa dipercaya, tetapi belum tentu kalau sudah berada di darat. Mereka malas bekerja sama dengan orang yang tingkat penguasaan dirinya sangat rendah. Mereka enggan bekerja sama dengan orang yang juga tidak taat pada peraturan atau kontrak yang sudah disepakati. ●

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar