Selasa, 18 Mei 2021

 

Jaringan Internet Lemot, Bagaimana Nasib Pendidikan?

Peni Nur Febriyanti ;  Mahasiswa Pendidikan Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

KOMPAS, 16 Mei 2021

 

 

                                                           

Internet sudah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat Indonesia. Padahal, dahulu internet diciptakan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada proyek ARPA atau lebih kita kenal sebagai ARPANET untuk keperluan militer saja. Seiring berjalannya waktu, perkembangan internet semakin pesat dan canggih.

 

Berbagai kegiatan baik dari sektor industri, pertanian, pariwisata, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya tidak terlepas dari internet. Terlebih pada masa pandemi ini semua sektor pasti akan melakukan kegiatan masing-masing secara dalam jaringan dan tentu saja hal tersebut tidak akan terlepas dari yang namanya internet.

 

Pandemi Covid-19 telah melanda Indonesia lebih dari satu tahun. Hal yang hangat perbincangkan dan menyita perhatian yaitu mengenai kendala buruknya jaringan internet di Indonesia, padahal kini semua aktivitas di berbagai sektor dilakukan secara daring, salah satunya sektor pendidikan.

 

Walau pemerintah telah menyinggung bahwa akan dilakukan pendidikan pada era normal baru, tetapi hingga kini kebijakan tersebut belum dapat dipastikan. Pembelajaran yang dilakukan secara daring membuat seluruh pelajar dituntut untuk memiliki gawai dan sudah pasti harus memiliki jaringan internet yang baik agar bisa mengikuti pembelajaran.

 

Lantas kapankah pandemi akan berakhir? Bagaimana nasib pendidikan di daerah pelosok negeri? Apakah fasilitas di sana sudah baik dan mencukupi? Atau perlukah perluasan jaringan internet? Hal ini tentu saja menjadi pertanyaan bagi kita semua.

 

Seluruh pelajar baik dari PAUD/TK, SD, SMP, SMA, SMK hingga perguruan tinggi melakukan pembelajaran secara teori bahkan melakukan praktikum secara daring. Banyak di antara mereka yang mengeluh akan jaringan internet yang tiba-tiba hilang pada saat pembelajaran berlangsung, bahkan ketika ujian. Sudah pasti hal tersebut merugikan dan menghambat pembelajaran.

 

Berbeda halnya dengan pelajar di daerah pelosok, jangankan sinyal internet, memiliki gawai untuk melakukan pembelajaran saja tidak ada. Walaupun memiliki gawai sekalipun, banyak pelajar yang kesulitan mendapat koneksi internet. Banyak di antara mereka yang pergi ke hutan, mendaki bukit, bahkan memanjat pohon demi mendapat koneksi internet. Meskipun telah melakukan banyak usaha tersebut, terkadang mereka tetap tidak mendapatkan sinyal internet. Betapa mirisnya negeri ini, untuk sekadar belajar saja harus dilakukan dengan cara yang membahayakan diri.

 

Butuh dukungan

 

Menyinggung program Merdeka Belajar yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan-Riset dan Teknologi Nadiem Makarim, kita tahu bahwa Merdeka Belajar memiliki makna, yaitu peserta didik memiliki kesempatan untuk belajar secara bebas dan menyenangkan dengan memperlihatkan bakat dan keinginan masing-masing. Guru juga dituntut agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengajar.

 

Namun, dengan keadaan tersebut, apakah program ini dapat terlaksana dengan baik? Agar tercipta pendidikan yang merdeka, sebaiknya pemerintah juga turut dalam memfasilitasi pendidikan, bantuan yang telah diberikan hendaknya disebarkan secara menyeluruh, bukan hanya yang berada di kota saja, justru yang berada di pelosok negeri juga berhak mendapat hak berupa fasilitas yang sama.

 

Pemerintah juga turut memberikan pelatihan-pelatihan yang bermanfaat bagi guru dan memperbaiki jaringan internet di seluruh Indonesia. Terlebih pada saat pandemi seperti saat ini, semua kegiatan hanya dapat kita lakukan secara daring. Bagaimana kita akan merdeka jika fasilitas berupa jaringan internet saja tidak ada? Sayang sekali jika pendidikan terhambat hanya karena jaringan internet yang buruk. Padahal, seperti dilansir dari laman Kominfo.go.id, Indonesia memiliki koneksi tercepat di Asia Pasifik. Lantas mengapa masih banyak daerah di Indonesia yang jaringan internetnya sangat lambat dan buruk?

 

Kita bahkan tidak tahu, sampai kapan pembelajaran daring ini akan dilakukan. Normal baru pendidikan yang diharapkan belum juga dapat diwujudkan. Sudah banyak kasus yang terjadi akibat jaringan internet yang lemot dan buruk tersebut. Jaringan internet yang lemot membuat banyak siswa emosi dan putus asa, banyak di antara mereka lebih memilih bermain daripada mengikuti pembelajaran yang kurang lancar.

 

Tidak hanya itu, kasus jaringan internet yang lemot juga telah merenggut nyawa seorang siswi SMA di Goa, Sulawesi Selatan. Diduga karena banyaknya tugas dan jaringan internet yang buruk di desanya, ia nekat bunuh diri dengan menenggak racun yang dicampurkan pada teh yang diminumnya. Dari kasus yang terjadi tersebut, dapat kita lihat betapa besar peran jaringan internet dalam kondisi saat ini.

 

Pelajar adalah generasi masa depan, penerus estafet bangsa. Kondisi pandemi seperti ini justru sebaiknya digunakan pemerintah untuk ajang memperbaiki fasilitas dan membangun bangsa. Dengan adanya pandemi ini kita bisa tahu apa saja yang perlu diperbaiki sehingga tercipta kemajuan di Indonesia.

 

Dengan terjadinya banyak kasus tersebut, pemerintah bahkan seluruh masyarakat dapat menilik berbagai kendala yang ada, baik dari sektor pendidikan maupun sektor lain. Jangan sampai kondisi yang sudah buruk semakin memburuk karena kurangnya perhatian dari pemerintah.

 

Bukan saatnya kita saling menyalahkan, melainkan kita perlu saling mendukung, saling memberi masukan, dan turut membangun bangsa walau dengan cara yang berbeda-beda. Semoga jaringan internet semakin membaik, dapat tersebar luas di seluruh pelosok Indonesia dan semua fasilitas yang diberikan pemerintah dapat menjangkau seluruh wilayah di Indonesia guna terciptanya pendidikan yang semakin maju dan tidak tertinggal dengan negara lain. ●

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar