Selasa, 18 Mei 2021

 

Sampah Sungai-sungai Dunia

Jean Couteau ;  Penulis kolom “UDAR RASA” Kompas Minggu

KOMPAS, 16 Mei 2021

 

 

                                                           

Tanggal 13 Mei. Sejak pagi, membuka handphone, saya menyaksikan bagaimana warga negeri ini berupaya merayakan ”keindonesiaannya” dengan mempertemukan ucapan ”Mohon maaf lahir dan batin” dengan ucapan ”Tuhan memberkati”. Mumpung terdapat pertemuan kalender antara perayaan Idul Fitri dan perayaan Kenaikan Isa Almasih.

 

Apakah kita akan dapat mempertahankan toleransi antarkelompok dengan sekadar tradisi bersilaturahmi, yaitu dengan ”berseru-seru” bahwa Pancasila tidak membedakan agama-agama secara hukum, atau dengan merujuk pada ungkapan bahwa ”kita memang berjiwa toleran sebagai bangsa”. Kini perombakan sosial mahabesar; adapun redistribusi kekayaan nasional dan internasional sangat timpang. Karena itu, agama dengan mudah dijadikan senjata politik, bahkan tanpa sepenuhnya disadari oleh para rahib, ulama, rabi, sadu, pendeta, dan lain-lain.

 

Memikirkan semua itu, saya kadang-kadang tidak enak hati membaca surat kabar. Saya tidak enak, misalnya, ketika membaca berita di Le Monde yang menggambarkan betapa terpuruknya HAM di negeri asal saya, negeri yang pertama menelurkan HAM itu: seorang Muslim ditangkap di dekat katedral kota Lyon karena dianggap ”bersikap aneh” ketika mengujar kata ”Allah” di tengah kerumunan gereja. Bukankah gereja adalah tempat suci yang semestinya terbuka pada semua umat manusia?

 

Di Perancis itu, seperti juga di banyak tempat, bahkan di negeri tercinta ini, mau tidak mau terjadi kristalisasi agama: orang merapatkan barisan di seputar identitas asal, abai pada akal dan kemanusiaan yang sebelumnya mereka junjung tinggi.

 

Penyakit agama kini menyeluruh. Paranoia mengambil dimensi global. Israel sebenarnya terlahir dari tafsir kembali Alkitab yang dilakukan orang Yahudi setelah diizinkan keluar dari gettho-gettho-nya oleh Napoleon. Mereka lalu meninggalkan tradisi mistis mereka ketika hanya berupaya menggapai Jerusalem spiritual dan merangkul sebagai gantinya Jerusalem nyata, tanah Israel politik yang konon dijanjikan itu. Lalu digerogotilah oleh mereka setiap jengkal, satu per satu, dari tanah yang disebut suci itu.

 

Bahkan akhir-akhir ini tafsir kolonial itu tidak cukup. Muncul tafsir baru: melihat bahwa masih ada Masjid Al-Aqsa di Jerusalem yang diperuntukkan bagi orang Islam, kaum Yahudi ekstrem kanan merujuk pada cerita Samson sebagai patokan represi politik. Seperti Samson yang konon telah merobohkan kuil atas orang Filistin demi menghancurkan mereka 2.500 tahun yang lalu, mereka pun ingin membinasakan orang Palestina masa kini. Meskipun mereka pun mati untuk itu. Gila, kan?

 

Memang pemelintiran kitab agama bukanlah hal baru. Perang Salib dilakukan atas nama kebenaran. Para pejuang Perang Salib lalu itu diperangi oleh pejuang Islam atas nama kebenaran pula. Lalu orang Yahudi dan Islam sama-sama diusir dari Iberia oleh Raja Katolik Spanyol atas nama kebenaran lain. Amerika dianggap oleh pendatang kolonial pertama sebagai tanah yang dijanjikan Alkitab. Lalu, dibantainya orang Indian atas nama itu.

 

Apakah agama-agama non-Semitik lebih halus sikap politiknya? Tidak. Setelah dibungkam lama, kini muncul radikalisme Hindutwa di India. Adapun agama Buddha, apakah perlakuannya terhadap orang Islam di Myanmar adalah lebih baik? Konon mirip genosida, kata beberapa ahli PBB.

 

Begitulah pembaca yang budiman. Saya kelihatan marah, kan? Karena itu, skeptis tentang masa depan kebersamaan bangsa dan dunia. Namun, justru karena skeptis, harus dapat saya buktikan keliru, yaitu perdamaian mesti diciptakan. Namun, untuk itu tidak cukup berjuang dengan berkata-kata saja, seperti diungkap orang bijak Bali dan Jawa yang lama: ”Semua agama adalah sama, semua seperti sungai-sungai, yang asalnya dari gunung, dan akhirnya semua bermuara di laut. Hanya jalurnya yang berbeda.

 

”Ya! Ungkapan bijak itu tidak lagi cukup. Harus menyadari pula bahwa di sungai-sungai masa kini terdapat banyak plastik dan sampah-sampah. Oleh karena itu, bukankah sudah saatnya para rahib, ulama, rabi, dan pendeta melakukan pembersihan sungainya masing-masing. Hingga akhirnya air mengalir sejernih-jernihnya. ●

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar