Resesi Amerika Serikat (AS) sudah dekat, walaupun demikian untuk memastikannya harus menunggu data pertumbuhan ekonomi triwulan III-2019. Pertumbuhan ekonomi triwulan II melambat secara signifikan ke 2,1 persen (yoy) dari 3,1 persen di triwulan I-2019. Definisi resesi adalah penurunan pertumbuhan dua triwulan berturut-turut secara signifikan. Tanda-tanda yang meyakinkan bahwa resesi sudah sangat dekat adalah dari data sektor finansial dan sektor riil di AS yang tampaknya sudah sejalan.
Suku bunga obligasi Pemerintah AS untuk jangka pendek sudah lebih tinggi daripada suku bunga jangka panjang sejak pertengahan tahun (inverted yield curve). Tak hanya pertumbuhan, beberapa indikator lain seperti PMI (Purchasing Manager Index), muatan truk lintas negara bagian dan keyakinan bisnis, mulai menurun.
Di China, tanda-tanda perlambatan juga mulai terlihat. Pertumbuhan menurun dari 6,4 persen di triwulan I menjadi 6,2 persen triwulan II-2019, terendah dalam tiga dekade. Ekspor sudah turun 1,3 persen yoy pertengahan tahun ini. Beberapa studi memperkirakan China akan memasuki zona pertumbuhan di bawah 6 persen, yaitu sekitar 5,6 persen yoy pada triwulan mendatang. China juga membiarkan nilai tukar terdepresiasi di bawah 7 yuan/dollar AS. Saat ini sudah 7,15 yuan/dollar AS. Pelemahan ini memberikan kompensasi bagi penurunan daya saing ekspor China ke AS akibat peningkatan tarif.
Yang menarik, beberapa indikator makro-ekonomi masih belum meyakinkan bahwa resesi sudah dekat. Di AS masih terjadi penciptaan lapangan kerja 164.000 pada Juli 2019 yang membuat pengangguran bertahan pada 3,7 persen. Di China, pemerintah mulai mendorong konsumsi dalam negeri sebagai kontra-siklus pelambatan ekonomi dunia. Pengeluaran ritel termasuk pembelian kendaraan bermotor tumbuh 9,8 persen yoy pada Juli, dari 8,6 persen yoy pada Juni lalu, meski harus diakui ini terjadi karena program diskon besar-besaran.
Kendati demikian, masyarakat mulai mengurangi pengeluaran untuk perjalanan, kuliner dan kegiatan leisure lain dan mengalihkannya ke konsumsi barang. Pengeluaran untuk proyek infrastruktur naik dari 2 triliun yuan menjadi 4 triliun yuan untuk mengompensasi penurunan ekspor yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan China. Kata hantu resesi menunjukkan ekspektasi sudah terbentuk menuju resesi dunia, terutama akibat perang dagang AS-China yang tak kunjung usai. Ini memengaruhi perilaku ekspor dan investasi di seluruh dunia.
Data konsumsi dan pengangguran AS meyakinkan Trump untuk tetap melakukan perang dagang untuk mendapatkan konsesi dari China terutama untuk hak kekayaan intelektual (HAKI) dan akses ke pasar modal. Tampaknya ia yakin dengan daya tahan perekonomian AS sampai pilpres, Oktober nanti, untuk memenangi termin keduanya sebagai Presiden AS. Di lain pihak, China tetap bertahan dengan posisinya karena bertaruh perekonomian AS akan melambat sehingga Trump tidak terpilih kembali.
Negosiasi dagang diharapkan akan dapat dilakukan dengan pengganti Trump. Situasi ini menyebabkan terjadinya kebuntuan, mirip permainan anak-anak adu mata zaman dulu, di mana yang berkedip terlebih dulu dinyatakan kalah. Ada secercah harapan pada pertemuan AS-China Oktober nanti tercapai suatu kesepakatan awal. Namun, tampaknya kalangan pengusaha tetap pesimistis sesuatu yang positif akan terjadi sehingga resesi tampak akan terjadi lebih awal pada 2020 dan berlangsung hingga 2021.
Mitigasi
Bagi Indonesia, dampak perlambatan ekonomi dunia paling kentara dari neraca dagang. Pada tahun-tahun pasca-bonanza komoditas, neraca dagang biasanya masih surplus meski transaksi berjalan tetap defisit karena kelemahan di neraca jasa. Namun, sepanjang 2018, neraca dagang mencatat defisit 438 juta dollar AS, dibandingkan dengan surplus 2017 sebesar 18,814 miliar dollar AS sebagai akibat pelambatan perdagangan dunia, sempitnya basis ekspor, turunnya harga komoditas dan tingginya ketergantungan industri Indonesia pada impor input industri. Situasi ini memperburuk defisit transaksi berjalan.
Defisit ini kemudian ditutup arus modal masuk jangka pendek sehingga secara keseluruhan neraca pembayaran masih positif. Usulan Bank Dunia untuk menutup defisit transaksi berjalan dengan penanaman modal luar negeri langsung (FDI) merupakan solusi ideal, tetapi juga terlalu menyederhanakan masalah. Solusi jangka panjang seperti menarik FDI tidaklah semudah membalikkan tangan. Hal ini dijawab sendiri oleh Bank Dunia dengan contoh bahwa 33 perusahaan yang hengkang dari China, mayoritas memilih Vietnam dan tidak ada satu pun yang memilih Indonesia karena ekonomi biaya tinggi.
Harus diingat Vietnam adalah negara sosialis yang tak dapat dibandingkan dengan sistem demokrasi yang dianut Indonesia. FDI juga punya sifat berbeda-beda. Menarik FDI yang hanya memanfaatkan pasar domestik, tetapi dan sangat tergantung input industri yang diimpor, juga akan mengganggu transaksi berjalan pada masa depan.
Solusi yang ideal dibedakan untuk jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Modal masuk investasi portofolio tetap diperlukan dalam jangka pendek untuk menjaga likuiditas perekonomian. Untuk itu kebijakan makro-ekonomi yang berhati-hati diperlukan untuk menjaga fundamental makro-ekonomi sehingga FDI tetap melihat Indonesia dalam radar mereka. Kendati demikian, dalam jangka panjang porsi investasi portofolio harus dikurangi untuk menstabilkan volatilitas nilai tukar rupiah. Dalam jangka menengah neraca jasa dapat diperbaiki untuk mengurangi defisit transaksi berjalan.
Ada dua transaksi yang potensial, yaitu neraca perjalanan di mana pariwisata ada di dalamnya dan pendapatan sekunder yang mencakup remitansi. Neraca perjalanan mencatat surplus berturut-turut sebesar 3,639 miliar dollar AS; 4,850 miliar dollar AS dan 5,338 miliar dollar AS di tahun 2016, 2017, dan 2018. Sementara itu, neraca pendapatan sekunder mencatat surplus 4,460 miliar dollar AS; 4,5 miliar dollar AS dan 6,895 miliar dollar AS pada periode yang sama. Peningkatan kualitas pendidikan vokasi mempunyai potensi meningkatkan surplus dari neraca ini dengan menggeser struktur remitansi dari pekerja informal (domestic helper) ke tenaga profesional seperti juru masak, pelaut, perawat, pekerja pabrik, dan lain-lain.
Dalam jangka panjang usaha-usaha untuk menurunkan ekonomi biaya tinggi telah dilakukan pemerintah seperti pembangunan infrastruktur tulang punggung dan akan dilanjutkan dengan infrastruktur pendukung yang lain. Perizinan di pusat dan di daerah memang masih menjadi permasalahan, usaha-usaha yang serius sudah dan akan dijalankankan terus. Untuk memperbaiki defisit neraca dagang, selain untuk menarik FDI berorientasi ekspor, insentif perpajakan juga disiapkan untuk produsen barang input industri yang merupakan bagian dari rantai pasokan industri baik yang berorientasi sekaligus ekspor dan non-ekspor seperti otomotif, eksportir murni, dan non-eksportir.
Sisi permintaan perekonomian juga perlu didorong dalam rangka mengantisipasi penurunan ekspor, perlambatan konsumsi karena masyarakat yang lebih konservatif. Perekonomian adalah bagaikan suatu arus lingkaran dari konsumsi masyarakat, investasi, pengeluaran masyarakat yang merupakan aliran masyarakat dan impor yang merupakan aliran keluar. Untuk Indonesia karena tidak semua bahan baku, barang input industri dan barang modal dapat dihasilkan di dalam negeri, sebagian impor diperlukan untuk dapat mendorong ekspor dan produksi nasional sementara sebagian lagi digunakan untuk konsumsi.
Makin cepat lingkaran ini berputar atau ada suntikan arus baru, lingkaran tersebut dapat berkembang menjadi lebih besar seperti halnya angin topan atau hurricane. Sebaliknya, kebocoran dari arus lingkaran atau pelambatan putaran akan mendorong pelambatan lebih lanjut. Untuk itu diperlukan keseimbangan antara arus masuk, arus keluar, dan kecepatan berputar sehingga arus tersebut dapat berkelanjutan. Kecepatan berputar dipengaruhi oleh ekspektasi masyarakat. Semakin positif, semakin tinggi kecepatan putaran arus produksi/pendapatan nasional.
”Pump-priming”
Dalam konsep lingkaran ini apa yang baik untuk perseorangan belum tentu baik untuk perekonomian nasional. Pepatah hemat pangkal kaya kalau diterapkan pada arus pendapatan nasional di atas dapat berubah menjadi hemat pangkal resesi. Untuk membuatnya tidak resesi, tabungan harus dikembalikan ke dalam arus sebagai investasi atau konsumsi pada masa depan.
Pajak harus kembali sebagai pengeluaran pemerintah. Reformasi perpajakan juga dilakukan untuk menurunkan beban pajak sektor swasta, memperbaiki inovasi dan rantai pasok. Ketakutan akan resesi akan membuat masyarakat menunda pengeluarannya, terutama untuk barang-barang tahan lama. Pemodal mungkin akan menunda investasinya. Pelanggan di luar negeri mungkin akan menunda pemesanannya. Wisatawan mancanegara menunda kunjungannya.
Tugas pemerintah adalah melakukan kebijakan pengeluaran dan memperbaiki terus sisi produksi perekonomian untuk membuat arus lingkaran pendapatan tetap lancar berputar serta menjaga ekspektasi positif masyarakat konsumen dan dunia usaha. Jika resesi dunia berjalan lama sampai 2020 bahkan 2021, perlu dilakukan kebijakan pump-priming ala Presiden AS Roosevelt pada saat resesi besar tahun 1930-an. Proyek-proyek infrastruktur, seperti irigasi, jalan desa, pasar, tempat pelelangan ikan, dan lain-lain dapat dilanjutkan.
Terlepas dari pro dan kontra, pemindahan ibu kota dapat dijadikan salah satu instrumen kontra-resesi. Sektor konstruksi mempunyai kaitan ke belakang dan ke depan yang tinggi dengan sektor-sektor lain sehingga melalui proses multiplier-akselerator dapat berfungsi sebagai alat kontra-siklus.
(Ari Kuncoro, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia)