Rabu, 20 Desember 2017

Betapa Nikmatnya Dianiaya

Betapa Nikmatnya Dianiaya
Iqbal Aji Daryono ;   Esais, tinggal sementara di Perth, akan segera pulang ke Bantul
                                                 DETIKNEWS, 19 Desember 2017



                                                           
Sudah jelas Australia adalah negara anti-Islam. Bagi pemerintah Australia, setiap muslim adalah teroris, sampai ia berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan teroris.

Aha, paragraf pembuka yang cakep sekali, bukan? Anda pasti kecantol. Padahal itu bukan kalimat saya. Pernyataan demikian muncul mendadak pada sebuah sore, saat seseorang mampir di beranda Facebook saya yang hangat itu.

Mulanya saya kira orang itu membaca Australia dari jarak pandang sepuluh ribu kilometer, lalu mengimajinasikan seperti apa kehidupan di benua ini. Namun saya salah sangka. Justru dia, sebut saja Bilal nama palsunya, menumpang di tanah ini jauh lebih lama ketimbang saya. Bahkan posisi geografisnya lebih dekat ke sentrum Negeri-Aborigin-yang-Akhirnya-Meng-Eropa ini.

Benar, Mas Bilal yang ganteng itu tinggal di Sydney, kota yang langsung membuat orang ingat Australia. Perth, tempat saya ngontrak selama empat tahun terakhir, jelas kalah magnitude dalam soal itu.

Maka saya pun menyimak cerita Bilal dengan takzim. Tentang bagaimana Australia begitu mencurigai umat Islam, bahkan memosisikan setiap muslim sebagai teroris.

Malang buat saya, karena tak ada kisah heboh dari lelaki itu sebagai bukti pandangannya. Satu-satunya yang berhasil dia sajikan dengan cukup menarik adalah tautan berita, berupa kesaksian seorang polisi federal Australia yang menyatakan persis sebagaimana Bilal sampaikan: bahwa bagi pemerintah Australia setiap muslim adalah teroris, sampai bukti-bukti ditemukan bahwa ia bukan teroris.

Selebihnya, saya mengingat-ingat pengalaman saya sendiri. Barangkali saya kena amnesia atau sejenisnya. Sebab tidak muncul ingatan buruk tentang perlakuan petugas atau pegawai lembaga pemerintah yang menyikapi saya sebagai teroris, hanya karena mereka tahu saya muslim.

Di bagian imigrasi bandara, saya melewati batas teritorial dengan relatif lancar. Tidak ada pertanyaan aneh-aneh. Padahal nama resmi saya yang terpampang di paspor ada "Muhammad"-nya, fotonya berjenggot pula. Kenapa mereka tidak memasukkan saya ke dalam ruang isolasi, lalu mencecar dengan 30 pertanyaan ngeri, sembari menyabetkan sebilah cambuk ekor ikan pari ke punggung saya sesekali? Kenapa?

Di Fremantle Hospital, rumah sakit negeri tempat saya berobat, petugas pun tahu saya muslim. Sebab pada tahap pendaftaran mereka memastikan apa agama saya, agar mereka bisa menyediakan vitamin dan obat-obatan yang tidak melanggar keyakinan yang saya anut.
Namun bagaimana bisa mereka tetap tenang merawat saya, padahal setiap muslim dianggap teroris?

Di tempat-tempat umum kerap kali saya juga bertemu dengan para petugas polisi. Jelas, mereka paling berkepentingan kalau ada indikasi-indikasi terorisme. Herannya, mereka tidak menangkap dan menginterogasi saya, padahal saya berjalan bersama istri saya yang berjilbab, bahkan bareng ibu saya yang kadang gamisnya begitu syar'i.

Itu sungguh aneh. Bukankah kata Bilal seorang muslim di Australia akan dianggap teroris dulu, hingga kemudian terbukti bukan?

Boleh jadi Bilal akan menganggap saya tidak kritis, terlalu lunak dalam bersikap kepada negara Barat atau negara non-Barat yang kebarat-baratan, dan tidak tegas membela sesama umat Islam.

Masalahnya, memang yang saya alami jauh dari gambaran Bilal dan pengakuan oknum polisi Australia dalam berita yang entah seberapa valid itu. Jadi saya harus bagaimana? Haruskah saya percaya teori Bilal, sembari mencampakkan fakta yang saya saksikan sendiri?

Saya mengetik tulisan ini dengan ponsel sambil berhenti di tepi Hay Street. Di ujung timur jalan raya ini, ada Princess Margaret Hospital, rumah sakit negeri. Pada beberapa pintu lift di rumah sakit itu ditempel pengumuman lokasi "Salat Room" alias musala. Pengumuman itu murni petunjuk arah, bukan semacam peringatan keras bagi pengunjung RS agar tidak dekat-dekat dengan Salat Room (yang sewajarnya penuh dengan granat dan RPG itu).

Di ujung barat Hay Street, jauh di depan sana, ada King Eddward Hospital, rumah sakit negeri juga. Musala di sana paling enak, dan biasanya saya Salat Duhur di situ. Ajaibnya, tidak pernah saya berpapasan dengan satu pun petugas detasemen antiteror atau jihandak di sekitar musala. Lho, katanya muslim dianggap teroris?

Belok ke selatan hingga ujung dari King Eddward Hospital, ada kampus UWA, University of Western Australia. Di kampus itu ada musala lengkap dengan toilet dan tempat-tempat wudunya.

Dulu kala pernah terjadi aksi seorang bigot membuang kepala babi di toilet musala UWA. Tapi membuang kepala hewan saya rasa bukan sikap standar dalam menghadapi terorisme, kecuali saya telat info dan belum mengerti bahwa kepala babi zaman now bisa menjadi penjinak bom.

Dan, dengan atau tanpa kepala babi di toiletnya, komunitas mahasiswa muslim di UWA tetap rutin menggelar Salat Jumat. Saya pun selalu bergabung ke sana, karena UWA cukup dekat dengan area kerja delivery saya.

Jadi universitas paling tua dan berwibawa di Australia Barat mendukung terorisme?

Entah apa istilahnya dalam psikologi. Disebut masokisme jelas kurang cocok, sebab dengan masokisme orang menikmati rasa sakit itu sendiri.

Lah, ini tidak. Rasa sakit itu sendiri tidak membawa kenikmatan secara langsung. Namun perasaan terus-menerus dianiaya, ditekan, dan dizalimi membuat banyak orang mendapat kesempatan untuk dengan garang menuding pihak lain sebagai para biadab.

Saya kira, dengan pola demikianlah gejala-gejala yang terjadi pada orang-orang yang tak lelah berimajinasi bahwa mereka terus dianiaya.

Dahsyatnya, disorder seperti itu gampang sekali mewabah pada masa kini. Bahkan ketika penjelasan yang komprehensif atas peta masalah disajikan, bukti-bukti konkret disodorkan, kemudian yang merasa dizalimi tadi berubah sikap jadi penuh optimisme, tak lama kemudian pada kasus lain bakalan muncul lagi rengekan dengan pola perasaan teraniaya seperti sedia kala. Kenapa?

Saya kok jadi penasaran. Adakah dalam sejarah umat manusia pernah muncul peradaban besar yang berangkat dari suatu tradisi komunal, yang konsisten menanamkan perasaan dizalimi dan dianiaya pada masyarakatnya? ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar