Rabu, 20 Desember 2017

Bahaya Pengakuan Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Bahaya Pengakuan Yerusalem sebagai Ibukota Israel
Imam Shamsi Ali ;   Presiden Nusantara Foundation, menulis dari New York
                                                 DETIKNEWS, 07 Desember 2017



                                                           
Entah kata apa yang tepat untuk mengekspresikan keputusan Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Beranikah? Nekadkah? Terobosankah? Atau, boleh jadi karena kegilaan dan ketidakstabilan mental?

Keputusan Donald Trump itu oleh banyak kalangan dianggap memang keputusan "reckless" (sangat berbahaya) dan pencabulan nyata kepada upaya-upaya perdamaian yang telah diperjuangkan oleh pejuang perdamaian, seperti Yitzhak Rabin, Yasser Arafat, dan banyak lagi. Keputusan tersebut adalah pelecehan nyata terhadap upaya perdamaian di Timur Tengah.

Kita sadari bahwa konflik Timur Tengah, Israel-Palestina, menjadi sumber sentimen berbagai konflik di dunia, khususnya antara dunia Islam dan Barat. Kebencian dan permusuhan, bahkan kekerasan timbul di mana-mana, semuanya minimal terinspirasi oleh sentimen konflik Palestina-Israel. Dan, salah satu isu terpenting dan menjadi dasar sentimen agama di kedua belah pihak adalah isu Yerusalem, atau Al-Quds dalam bahasa Arabnya.

Saya paham betul dari interaksi saya dengan komunitas Yahudi bahwa Yerusalem bagi mereka memang menjadi bagian dari iman. Bahwa Yerusalem adalah kota tua sekaligus simbol kejayaan masa lalu mereka. The Temple of Solomon yang diyakini terletak persis di bawah Masjid Al-Aqsa itu adalah impian keagamaan bagi mereka. Kira-kira mirip keinginan seorang muslim menatap wajah baginda Rasulullah SAW.

Sebaliknya Al-Quds, tempat Masjidil Al-Aqsa berdiri, juga menjadi bagian integral dari keimanan Islam. Tempat ini bagi orang Islam bukan sekedar terbangun di atas sejarah 3000 tahun silam. Tapi diyakini sebagai kota akidah, sejak Ibrahim hingga ke anak-anak keturunannya. Bedanya adalah bagi kita memang relevansinya adalah akidah atau keimanan. Sementara umat Yahudi relevansinya adalah sejarah kejayaan etnis dan ras.

Di sinilah kemudian dilema besar dari keputusan Donald Trump. Sebuah keyakinan iman tidak akan pernah terselesaikan dengan solusi politik. Dan karenanya pengakuan Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel tidak mengurangi keyakinan umat bahwa Yerusalem juga adalah kota suci, sekaligus diakui sebagai ibu kota masa depan Palestina.

Akan lebih parah lagi bahwa keputusan Donald Trump mengakui Yerusalem sebagia Ibu Kota Israel semakin memperdalam permusuhan, dan boleh jadi membawa kepada konflik masif di Timur Tengah. Lebih parah lagi kemarahan itu bukan saja di Timur Tengah. Donald Trump telah menyulutkan api ke dalam bara kebencian kepada Amerika di mana-mana. Implikasinya tidak saja kepada Israel tapi juga kepada Amerika dan negara-negara pendukung lainnya, termasuk sebagian dunia Islam sendiri.

Apa yang dilakukan oleh Donald Trump justru berdampak sangat buruk kepada Amerika sendiri. Sejak lama Amerika dicurigai sebagai tuan Israel. Artinya kebijakan-kebijakan buruk pemerintahan Israel dinilai sebagai bagian dari kebijakan Amerika. Bahkan ada kecurigaan jika ekspansi Amerika ke Timur Tengah tujuannya adalah melapangkan jalan bagi Israel untuk semakin melakukan apa saja terhadap negara-negara muslim tetangganya.

Dengan keputusan Donald Trump tersebut, kecurigaan itu seolah menjadi bukti nyata. Bukan lagi kecurigaan, tapi telah terjadi di depan mata bahwa Amerika memang selalu menjadi "bumper" bagi kepentingan Israel. Konsekuensinya, Amerika akan menjadi bulan-bulanan kebencian dan kemarahan dunia Islam. Dan, pada akhirnya masyarakat Amerika secara luas akan menjadi korban, demi ambisi Donald Trump untuk memuaskan segelintir pendukungnya.

Masalah Dunia Islam

Saya sesungguhnya tidak terlalu terkejut dengan keputusan Donald Trump itu. Selain karena memang itu adalah karakternya yang memang cenderung berbuat sebelum berpikir, dan kalau salah susah mengakui. Tapi juga karena selama ini memang itulah persepsi yang berkembang di Amerika. Bahwa membela Israel adalah melakukan sesuatu yang secara nilai ditinggikan oleh Amerika. Sebaliknya, menentang Israel seolah menentang nilai Amerika (American values). Benjamin Natanyahu membenci setengah mati Barack Obama, salah satunya karena Obama berani mengkritik Israel.

Oleh karenanya kebijakan ini tidak mengejutkan, walau pahit, karena memang itulah sejarah kebijakan Amerika sejak dulu. Perhatikan semua keputusan atau resolusi PBB tentang isu Palestina dan Israel. Anda tidak akan terlalu terkejut dengan hal ini.

Justru yang menjadi masalah utama sesungguhnya adalah dunia Islam sendiri. Secara agama ini juga bukan sesuatu yang aneh. Kelemahan terutama umat akan selalu ada pada perpecahannya. Kerapuhan umat dalam kesatuan menjadi kelemahan utama sejak dahulu yang kerap dimainkan oleh mereka yang punya kepentingan.

Saat ini ada 57 negara dengan mayoritas penduduk muslim. Mereka tergabung dalam sebuah organisasi yang disebut OKI (Organisasi Kerja Sama Islam). Secara jumlah organisasi ini adalah organisasi negara-negara di dunia terbesar setelah GNB (Gerakan Non Blok). Persatuan negara-negara Amerika, Uni Eropa, bahkan persatuan negara-negara Afrika masih kalah. Ironisnya, negara-negara OKI ini tidak punya gigi ketika berada pada posisi membela kepentingan umat. Perhatikan posisi mereka di setiap keputusan yang diambil di PBB.

Isu Palestina sejak dari dulu selalu menjadi isu seksi di kalangan pemimpin Islam. Di setiap kampanye pemilihan misalnya, salah satu isu yang layak jual adalah isu Palestina. Termasuk ketika pemilihan Presiden RI yang lalu. Tapi, begitu kepentingan para pemain telah di tangan, Palestina tidak lagi mendapat perhatian. Isu itu akan kembali digoreng ketika para penguasa itu kembali berkepentingan.

Retorika demi retorika juga didengar di mana-mana, sejak dahulu hingga kini. Dari zaman Saddam Hussein, Muammar Qadhafi, Mahathir Muhammad, hingga ke Ahmadinejad, dan sekarang ini Presiden Turki Erdogan. Yang lebih parah adalah ketika pemimpin itu dengan retorika tinggi mengutuk-ngutuk Israel, tapi di belakang pintu mereka berjabat tangan dan membuka hubungan diplomatik.

Dalam situasi seperti saat ini, saya merasa negara yang bisa didengar oleh Amerika dan Donald Trump adalah Saudi Arabia. Ingat kunjungan pertama Trump keluar negeri justru ke Saudi Arabia. Itu adalah sinyal bahwa Saudi Arabia sesungguhnya masih punya tempat terhormat di matanya.

Pertanyaannya kemudian, apakah Saudi memang ingin menggunakan posisi itu untuk membela Palestina? Atau, sejatinya Saudi Arabia memang tidak akan pernah memposisikan diri sebagai pembela Palestina?

Saya khawatir jika Saudi memang berada pada posisi kedua. Bahwa, Saudi Arabia memang tidak pernah akan melakukan pembelaan itu. Bahkan yang terjadi sebaliknya, jangan-jangan keberanian Donald Trump ini karena ada permainan mata di belakang layar. Wallahu a'lam.

Saat ini Saudi Arabia berada dalam nightmare (ketakutan) yang sangat dalam. Selain ancaman dari dalam (internal conflict, bahkan antarkeluarga) juga Saudi dibayang-bayangi oleh ketakutan dari tetangga-tetangganya. Dulu dengan Saddam, lalu Qadhafi, dan sekarang Basyar Al-Asad. Tapi, ancaman yang paling ditakuti Saudi adalah Iran yang dinilai berhasil melebarkan sayap kekuasaannya di kawasan. Wajar jika Saudi melakukan apa saja untuk membasmi kelompok-kelompok Syiah di Yaman maupun Lebanon.

Kesemua itu menjadikan Saudi Arabia memilih diam terhadap kebijakan Donald Trump ini. Kalaupun bersuara nantinya, di balik layar rangkulan mereka justru semakin mesra. Apalagi rencana reformasi keagamaan Saudi, yang dilabel sebagai "proses moderasi" oleh Ben Salman, semakin mendapat simpati dari Donald Trump dan sekutunya.

Intinya keputusan Donald Trump ini dilakukan untuk kepentingan basis dukungannya. Maklum dengan segala permasalahan internal yang dihadapinya semakin tidak tertahankan. Keterlibatan Rusia dalam pemilihan dirinya semakin membayang-bayanginya untuk menghadapi pemecatan (impeachment). Maka secara politik dalam negeri keputusan ini akan banyak mengurangi minimal gonjang ganjing politik dalam negeri.

Justru yang akan menanggung akibat blunder ini ke depan adalah warga Amerika dan mereka yang dianggap terwakili oleh Donald Trump. Sementara dunia Islam hanya akan semakin nampak kemunafikan, sikap "mudzabdzabina", terombang-ambing di antara kepentingan dan ketakutan para penguasanya. Pada akhirnya harapan itu hanya pada Sang Hafidz Baitullah, Rabbul Ka'bah wal-Aqso. Insya Allah! ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar