Senin, 27 Juni 2022

 

Bahaya Krisis Aset Kripto yang Berkepanjangan

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo

MAJALAH TEMPO, 25 Juni 2022

 

 

                                                           

RENCANA Patricius membeli rumah ambyar sudah. Betapa tidak, nilai aset kripto yang ia pegang awalnya ratusan juta rupiah. Dari dana penjualan aset itulah Patricius berniat membeli rumah. Niat itu kini menjadi sebatas impian karena nilai aset kriptonya tinggal Rp 10-an juta.

 

Awalnya, Patricius mengucurkan modal Rp 45 juta untuk membeli aset kripto Waves Coin. Dua tahun lalu nilainya meroket 500 persen sehingga pria 47 tahun ini sempat meraup cuan Rp 250 juta. Atas rekomendasi kawannya, Patricius juga membeli Ripple Crypto atau XRP dengan prediksi keuntungan sembilan kali lipat di akhir tahun ini. Modal yang ditanamkan di Waves Coin ia tarik dan belikan 11 ribu unit XRP. "Keuntungannya untuk membeli rumah dan tanah di Bekasi dan Ambarawa," ujar warga Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, ini pada Jumat, 24 Juni lalu.

 

Siapa sangka, memasuki semester kedua tahun lalu, nilai aset kripto yang ia pegang merosot. Kondisi kian parah karena otoritas investasi Amerika Serikat atau Securities and Exchange Commission melayangkan gugatan terhadap penerbit XRP, Ripple Labs Inc. Melihat gelagat buruk ini, Patricius melakukan cut loss atau jual rugi hingga tersisa kurang dari sepersepuluh nilai tahun lalu.

 

Hal serupa dialami Vini—bukan nama sebenarnya. Wanita 31 tahun ini awalnya mengail untung besar. Dengan modal Rp 1 juta, pekerja sebuah media massa ini membeli Waves Coin dan Binance Coin (BNB). "Banyak yang kaya mendadak, pernah melihat yang untung sampai miliaran," ucapnya.

 

Vini bahkan menambah portofolio dengan membeli aset kripto lain seperti Shiba Inu (SHIB), Dogecoin (DOGE), dan XRP senilai Rp 20 juta. Dalam beberapa bulan dia mendapat untung Rp 5 juta. Tapi pada pertengahan tahun lalu nilai hampir semua aset kripto merosot. Kini nilai aset Vini hanya tersisa Rp 7 juta. "Tapi tidak akan saya tarik karena bakal rugi banyak banget," ujar Vini seraya berharap pasar kripto kembali membaik.

 

Penurunan nilai aset kripto sejak pertengahan tahun lalu masih terjadi sampai saat ini. Nilai mata uang kripto utama, seperti Bitcoin, Ethereum, Litecoin, dan Dogecoin, anjlok gila-gilaan. Memasuki Juni 2022, nilai sejumlah aset kripto merosot hingga 80 persen. Bahkan nilai koin asal Korea Selatan, Terra Luna, merosot hingga US$ 0,0001 alias nyaris tak berharga pada Mei lalu. Para pemain mata uang virtual itu mengibaratkan krisis ini sebagai ancaman musim dingin yang menakutkan atau crypto winter. Ini istilah populer yang diambil dari film Game of Thrones.

 

Ada beberapa penyebab fenomena ini. Yang paling kentara adalah kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve setelah inflasi di Negeri Abang Sam melonjak. Pada Rabu, 15 Juni lalu, The Fed menaikkan suku bunga 75 basis point menjadi 1,5-1,75 persen. Kenaikan bunga The Fed memaksa investor menarik dana dari portofolio investasi yang berisiko tinggi, termasuk mata uang kripto.

 

Faktor lain adalah munculnya krisis akibat konflik Rusia dan Ukraina hingga larangan penggunaan mata uang kripto oleh bank sentral Rusia pada Januari lalu. Rusia melarang penggunaan mata uang kripto karena menganggapnya bisa mengancam stabilitas keuangan dan kedaulatan kebijakan moneter. Kini daftar negara yang melarang perdagangan kripto pun kian panjang. Sebelum Rusia, Cina, Mesir, Irak, Qatar, Oman, Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Bangladesh melarang pemakaian Bitcoin dan aset kripto lain.

 

Di Indonesia, dampak crypto winter sudah terlacak oleh otoritas yang menangani perdagangan aset ini. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat penurunan nilai transaksi mata uang kripto sebesar 32,6 persen pada Mei 2022.

 

 “Investor kini lebih berpikir, apakah kripto akan menguntungkan atau tidak,” kata pelaksana tugas Kepala Bappebti, Didid Noordiatmoko, kepada Tempo pada Kamis, 23 Juni lalu. Didid menyebutkan transaksi aset kripto sepanjang Januari-April 2022 senilai Rp 167,1 triliun. Adapun total transaksi sepanjang 2021 mencapai Rp 859,4 triliun.

 

Analis pasar uang Poltak Hotradero turut mewanti-wanti ihwal kenaikan suku bunga The Fed yang bakal berlanjut sehingga badai musim dingin kripto bisa berlangsung lama. “Saat ini hanya 125 basis point, targetnya minimum 325 basis point sampai tahun depan,” ujar Poltak, menganalisis rencana The Fed. 

 

Chief Operating Officer Tokocrpyto yang juga Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia, Teguh Kurniawan Harmanda, mengamini faktor yang mendorong turunnya harga aset kripto. Selain kecemasan terhadap inflasi dan potensi resesi global, menurut Teguh, sentimen negatif berasal dari kekhawatiran akan rapuhnya sistem aset kripto.

 

Kekhawatiran ini muncul setelah platform perdagangan kripto asal New Jersey, Amerika Serikat, Celsius, menghentikan penarikan dana atau withdrawal investor. Masalah ini diperburuk rumor gagal bayar utang (insolvency) yang melanda perusahaan modal ventura Three Arrows Capital. "Keraguan investor kami coba hilangkan dengan memberikan pemahaman yang jelas bahwa kondisi pasar saat ini adalah hal yang biasa dan menjadi siklus yang pernah terjadi sebelumnya," ujar Teguh pada Rabu, 22 Juni lalu.

 

•••

 

BADAI musim dingin kripto terjadi saat pasar komoditas berbasis enkripsi digital ini tengah melejit. Data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi menyebutkan nilai transaksi aset kripto di Indonesia melesat dari Rp 64,9 triliun pada 2020 menjadi Rp 859,4 triliun pada 2021. Pada Januari-April tahun ini, nilai transaksi mencapai Rp 167,1 triliun.

 

Bappebti juga mencatat sepanjang Januari-Mei lalu total transaksi aset kripto mencapai Rp 192 triliun dengan rata-rata transaksi Rp 38,4 triliun per bulan. Adapun jumlah pelanggan aset kripto hingga Mei lalu sebanyak 14,1 juta. Besarnya nilai perdagangan aset kripto menjadi potensi sekaligus risiko, mengingat nilainya yang sangat volatil. "Kami betul-betul menjaga ekosistemnya walau semuanya belum tersedia," kata pelaksana tugas Kepala Bappebti, Didid Noordiatmoko.

 

Menurut Didid, Bappebti berupaya membangun bursa kripto. Tapi upaya itu terhambat beberapa hal. Salah satunya ihwal calon pengelola tempat penyimpanan aset kripto atau depository. Bappebti, tutur Didid, telah menerima jawaban kesiapan dari calon bursa kripto dan akan mengecek sistemnya agar terintegrasi dengan ekosistem lain, seperti lembaga kliring, pengelola depository, dan pedagang fisik aset kripto. "Para aktor ini harus benar-benar memenuhi kriteria karena ini masalah trust," ucapnya.

 

Analis pasar uang Poltak Hotradero mengatakan upaya mengatur pasar kripto tidak mudah. Sebab, aset kripto adalah bagian dari jaringan bank data digital atau blockchain yang terdesentralisasi atau tidak memiliki otoritas sentral. "Ini memang dirancang agar tidak bisa diregulasi," katanya. Poltak menyarankan pemerintah dan otoritas terkait menggencarkan edukasi mengenai investasi kripto yang berisiko tinggi. “Anak muda sekarang berharap bisa dapat untung dari kripto, tapi itu realistis atau tidak?"

 

Ketua Satuan Tugas Waspada Investasi Tongam Tobing mengatakan sistem blockchain aset kripto membuat penggunanya sulit terlacak. Akibatnya, aset ini rentan disalahgunakan untuk kegiatan kriminal. Dia juga mengingatkan risiko aset kripto yang harus dipahami masyarakat yang hendak berinvestasi.

 

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan sudah melarang bank dan lembaga keuangan lain memfasilitasi perdagangan aset kripto karena berisiko tinggi. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso beberapa waktu lalu mengatakan larangan memfasilitasi jual-beli aset kripto untuk industri jasa keuangan sesuai dengan Undang-Undang Perbankan. Regulasi itu melarang bank melakukan transaksi di luar produk perbankan.

 

Sumber Tempo mengatakan otoritas mewaspadai transaksi aset kripto karena bisa berdampak pada industri keuangan. Dia memberi contoh adanya potensi nasabah perbankan yang membeli aset kripto dengan dana kredit konsumsi. Saat nilai aset kripto jatuh seperti saat ini, nasabah itu merugi dan mungkin tidak bisa mengembalikan uang yang ia pinjam dari bank. “Ada potensi kredit macet dari hal semacam ini,” ujar sumber itu.

 

Namun Didid Noordiatmoko mengatakan sampai saat ini Bappebti belum menemukan penggunaan kredit perbankan untuk membeli aset kripto. Menurut dia, hal semacam ini kecil kemungkinan terjadi karena bank punya sistem untuk memberikan pinjaman, termasuk rencana penggunaan dana tersebut. “Ada kemungkinan nasabah bohong. Tapi seharusnya bank meminta jaminan atau bukti saat nasabah mengajukan permohonan pinjaman,” katanya.

 

Didid mengatakan, berdasarkan peraturan Bappebti tentang pedoman penyelenggaraan perdagangan pasar fisik aset kripto, pelanggan dapat bertransaksi hanya bila memiliki cukup dana atau saldo aset kripto. Pedagang fisik aset kripto dilarang memfasilitasi transaksi jika pelanggan tidak memiliki cukup dana. “Termasuk dengan memberikan fasilitas pembiayaan,” ujarnya.

 

•••

 

KICAUAN Bos Tesla Inc, Elon Musk, di Twitter pada Ahad, 19 Juni lalu, sedikit membawa sinar cerah di pasar kripto. Pernyataan Musk memang tidak serta-merta mengerek harga berbagai jenis koin kripto yang tengah merosot. Tapi, beberapa hari kemudian, harga kripto merangkak ke zona hijau alias sedikit naik. "I will keep supporting Dogecoin," demikian cuitan @elonmusk, yang mendapat 380 ribu like. Dampaknya, pada Sabtu, 25 Juni lalu, pukul 07.25 WIB, harga Dogecoin naik 3,25 persen menjadi Rp 992,66.

 

Karena itu, crypto winter tak membuat Chief Executive Officer Indodax Oscar Darmawan khawatir. Bos perusahaan teknologi blockchain dan perdagangan kripto ini menilai krisis tersebut sebagai siklus empat tahun sekali. Menurut Oscar, Indodax sudah mengalami tiga kali crypto winter sejak berdiri pada 2014. "Pada 2018, nilai Bitcoin juga anjlok 80 persen," katanya.

 

Meski nilai transaksi turun, Oscar mengklaim masih banyak trader dan investor yang menambah portofolio mereka. Para pemain ini membeli aset kripto saat harganya jatuh. Menurut Oscar, ada pula trader yang memanfaatkan token derivatif seperti HEDGE dan BEAR untuk menuai cuan. Sebab, nilai token derivatif berlawanan dengan harga kripto pada umumnya. "Jika Bitcoin turun, nilai BEAR akan naik. Begitu pula sebaliknya,” ujar Oscar.

 

Oscar menuturkan, meski nilai aset kripto menurun jika dibanding pada awal 2020, jumlah transaksi saat ini dinilai masih jauh lebih besar. "Yang berpengaruh besar mungkin lebih ke lambatnya pertambahan jumlah pengguna," ucapnya. Pada 2020 dan 2021, pertambahan jumlah pengguna lebih cepat karena saat itu aset kripto sedang naik daun.

 

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia Teguh Kurniawan Harmanda juga tak memungkiri ihwal adanya tekanan dari berbagai aspek di pasar aset kripto yang berbuntut turunnya transaksi perdagangan. Sejumlah laporan dari para pedagang aset kripto tentang dampak crypto winter yang terasa pada penurunan transaksi harian, dia mengungkapkan, terus masuk.

 

"Penurunan transaksi terjadi karena investor menahan dana masuk ke investasi aset berisiko, seperti kripto," kata Teguh. Menurut dia, trader yang menjalankan posisi short atau transaksi jangka pendek masih bisa menggairahkan pasar. Nilai transaksinya tidak begitu besar, tapi bisa memicu pertumbuhan transaksi harian.

 

Di tengah kondisi yang terkena dampak penurunan harga ini, Teguh melihat pertumbuhan industri aset kripto di Indonesia punya potensi besar. Dia menilai para investor sudah memiliki strategi untuk menyikapi kondisi pasar, termasuk fenomena “musim dingin” yang mungkin akan berlangsung lama. ●

 

Sumber :   https://majalah.tempo.co/read/ekonomi-dan-bisnis/166283/bahaya-krisis-aset-kripto-yang-berkepanjangan

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar