Rabu, 18 Mei 2016

Tragedi Mei dan Pelajaran dari Atlanta

Tragedi Mei dan Pelajaran dari Atlanta

Endang Suryadinata ;   Peneliti Sejarah; Tinggal di Jakarta
                                                        JAWA POS, 16 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

MENCOBA menguak misteri Kerusuhan Mei 1998 memang sulit. Ada sejumlah pihak yang justru menutupi tragedi yang merenggut lebih dari 1.000 jiwa tersebut. Usaha menutupi tragedi yang berlangsung pada 13-15 Mei 1998 di Jakarta itu, di antaranya, tampak pada upaya lebih menonjolkan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan Tionghoa yang juga terjadi dalam peristiwa tersebut. Ironisnya, kekerasan seksual itu hanya disebut puluhan dengan alasan sulit mendapatkan pengakuan.

Kenyataan tersebut tentu sangat getir bagi para korban dan keluarganya. Penderitaan mereka hanya dianggap sebagai angin lalu. Pemerintah, wakil rakyat, dan institusi hukum atau militer yang seharusnya menegakkan keadilan bagi korban ternyata lebih suka melindungi kepentingan pelaku atau dalang dari peristiwa itu. Impunitas masih terjadi dalam tragedi ini. 

Ujung-ujungnya, pemerintah dan aparatnya lebih suka melupakan, mengaburkan, atau bahkan menganggap peristiwa itu tidak ada. Alasannya tentu saja demi menjaga kepentingan pragmatis semata. Yakni, kasus tersebut tidak memberikan keuntungan bila diungkap.

Amnesia Kolektif

Para penguasa kita selama ini sangat lihai dalam memanipulasi hal-hal yang terkait dengan sejarah masa lalu bangsa ini. Berbagai cara ditempuh untuk melakukan gerakan yang membuat terjadinya amnesia kolektif. Orang dibikin lupa akan masa lalu. Atau, kalaupun ingat, ingatannya dibuat parsial atau tidak lengkap, demi melayani kepentingan penguasa.

Akibatnya, sejarah masa lalu kita, termasuk sejarah Tragedi Mei, juga bias dan lebih berpihak kepada penguasa. Maka, bisa saja anak-anak di jenjang SD hingga SMA tidak tertarik pada sejarah. Simak saja, buku yang paling sering ditarik dari peredaran adalah buku sejarah. Itu artinya, tidak boleh ada sejarah versi lain, kecuali sejarah yang keluar dari versi penguasa.

Dan, menurut versi penguasa, tidak ada bukti-bukti yang mendukung Tragedi Mei. Meski, tim pencari fakta telah merekomendasikan cukup banyak bukti. Pantas saja dokumen berikut data-data asli dari tim gabungan pencari fakta yang diserahkan kepada pemerintah telah hilang atau sengaja dihilangkan. Yang sekarang tersisa hanya fotokopi dari dokumen tersebut.

Yang menjengkelkan, jasad korban Tragedi Mei pun dikecilkan keberadaannya. Misalnya, dengan menyebut potongan tubuh yang ditemukan hangus dalam peristiwa terbakarnya Plaza Sentral Klender, Jakarta Timur, bukan orang, melainkan manekin. Padahal, jika manekin, pasti meleleh dan tidak hangus karena terbuat dari plastik. Sungguh, memang tidak ada keadilan bagi para korban.

Mengharap peran para sejarawan dalam kasus ini juga akan sia-sia. Sebab, mereka pasti akan berhadapan dengan kekuasaan dan berbagai kesulitan lain. Kesulitan itu bukan disebabkan lemahnya perangkat ilmu sejarah, tapi lebih pada fakta bahwa kejujuran ilmiah yang dimiliki para sejarawan belum tentu mampu diterima beragam silang pendapat yang sudah kadung terpecah. Bukannya mencerahkan, apa yang diungkapkan sejarawan justru bisa berpotensi menimbulkan jurang perpecahan yang semakin dalam di masyarakat yang pada kenyataannya sering dihinggapi mentalitas antisejarah dan antimasa lalu.

Jangankan sejarah yang melibatkan orang-orang kecil seperti para korban Tragedi Mei, yang melibatkan sosok proklamator kita, Bung Karno, pun, para sejarawan kita bisa ''diorder'' untuk tidak bersikap objektif. Misalnya, ada yang ganjil ketika buku Pejuang dan Prajurit karya Nugroho Notosusanto terbit pada 1984. Wajah Soekarno tak tampak dalam foto pengibaran Merah Putih pada 17 Agustus 1945. Hanya wajah Bung Hatta yang terlihat. Sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo menelepon penerbit Sinar Harapan. Menurut dia, tindakan itu merupakan penggelapan sejarah.

Upaya penggelapan semacam itu masih terus terjadi hingga saat ini, apalagi yang melibatkan rakyat jelata seperti para korban Tragedi 1965 atau Tragedi 1998. Akibatnya, peristiwa seperti Tragedi Mei hingga sekarang masih mandek menjadi misteri yang entah sampai kapan akan terungkap. Padahal, pengungkapan dan penegakan hukum bagi pelaku Tragedi Mei sangat penting. Bukan hanya demi menegakkan keadilan dan tanggung jawab negara bagi para korban, melainkan juga bagi kepentingan bangsa di masa depan.

Pengungkapan bisa menguji kematangan dan kedewasaan kita sebagai bangsa yang besar. Sebab, kebesaran sebuah bangsa bisa diukur dari keberanian bangsa itu menatap masa lalunya. Di Atlanta City, Georgia, Amerika Serikat, terdapat makam Martin Luther King Jr dan museumnya. Di sana biasa diputar film-film bagaimana orang Afrika-Amerika atau biasa disebut orang kulit hitam didiskriminasi atau disiksa oleh warga kulit putih karena hukum segregasi yang diterapkan oleh negara. Keberadaan makam atau museum itu hanya salah satu bukti betapa AS merupakan bangsa yang tidak malu mengakui masa lalunya yang buruk demi kemajuannya di masa depan. ●