Tampilkan postingan dengan label Victor Siagian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Victor Siagian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Maret 2013

Bawang Merah dan Bawang Putih


Bawang Merah dan Bawang Putih
Victor Siagian  ;  Alumni Fakultas Pertanian, Jurusan Sosek  IPB 1987,
Magister Sains Ilmu Ekonomi Pertanian dari Sekolah Pascasarjana IPB tahun 2005
SINAR HARAPAN, 26 Maret 2013

  
Masyarakat saat ini dihadapkan pada tingginya harga kebutuhan pokok, mulai dari beras, sayur mayur, daging sapi, kambing/babi, daging ayam, dan lain-lain. Harga  yang ada saat ini sudah di luar batas kewajaran, di luar daya beli konsumen.

Oleh karena itu banyak masyarakat merasa tidak puas terhadap pemerintahan sekarang, sebagian menginginkan situasi pada masa pemerintahan Soeharto yang harga kebutuhan pokok serba murah. Situasi di mana keadaan sosial terkendali, walaupun jauh dari demokrasi.

Ini karena memang yang pertama  dibutuhkan manusia adalah kebutuhan dasar hidup (basic need of live), baru berdemokrasi. Untuk membeli makanan saja susah, bagaimana bisa bekerja, menghasilkan produktivitas yang tinggi. Apalagi memikirkan demokrasi?

Lantas kenapa harga kebutuhan pokok ini terus melonjak? Karena produksinya memang jauh dari mencukupi, sementara usaha mencukupi kekurangan produksi, yaitu impor, ditentang sebagian besar kaum elite, baik elite pemerintahan, elite politik, maupun elite cendekiawan.

Mengimpor tidak mencerminkan kedaulatan pangan, menghabiskan devisa, dan merugikan petani. Jadi, solusinya apa untuk menurunkan harga yang meroket ini? Tidak ada, harga memang dibiarkan setinggi ini agar petani mendapat untung besar.

Namun, jangan lupa ada penumpang gelap (free rider) di sini yang mendapat durian runtuh (windfall) atas situasi ini, yaitu para importir, pejabat tinggi pemerintahan yang bekerja sama dengan importir, politikus, atau para cendekiawan yang mendukung situasi harga tinggi ini.

Lantas siapa yang dirugikan? Konsumen, inflasi akan meningkat, daya beli masyarakat berkurang. Agregat dari menurunnya daya beli nasional akan menurunkan tingkat konsumsi nasional yang akhirnya menurunkan  pendapatan nasional. Apakah para pencari keuntungan mengetahui dampak negatif ini? Jelas tahu, tapi mereka menutup mata. Kasus impor daging sapi merupakan salah satu contohnya.

Sekarang bagaimana dengan bawang merah dan bawang putih? Produksi bawang merah Indonesia sebenarnya cukup baik, sekitar 90 persen dari kebutuhan nasional. Menurut data BPS, luas panen bawang merah tahun 2011 seluas 93.667 ha menurun 17,0 persen dibandingkan tahun 2010, sedangkan produksi 893.124 ton menurun 17,4 persen dibandingkan tahun 2011.

Oleh karena tidak mencukupi kebutuhan, terpaksa harus diimpor dari Thailand, Vietnam, Miyanmar, dan India. Volume impor bawang merah pada 2012 sebesar 95.000 ton dengan nilai Rp 400 miliar. Jumlah ini menurun 40,8 persen dibandingkan tahun 2011.

Impor bawang merah ini sudah berlangsung sejak 20 tahun lebih dan tidak dipersoalkan, guna mencukupi kebutuhan nasional dan menjaga stablisasi harga.

Pada masa pemerintahan SBY (yakni KIB I dan II) baru masalah impor ini dipersoalkan, mulai dari impor beras, kedelai, hortikultura, sayur mayur, daging sapi, daging ayam, dan ikan selalu menjadi  pertentangan di sebagian pihak. Akibatnya pemerintah urung melakukan impor, padahal produksi di bawah kebutuhan, akibatnya harga melambung tinggi.

Kadang pemerintah juga melakukan impor tapi jumlahnya dibatasi, sehingga harga domestik yang seharusnya turun kenyataannya tetap atau turun relatif kecil. Dampak dari semua ini adalah daya beli masyarakat yang semakin lemah.

Naiknya harga daging sapi Rp 100.000/kg  mengakibatkan ikut naiknya harga barang substitusinya seperti daging kambing/domba, daging babi, ayam, dan  telur. Itu adalah hukum ekonomi, karena konsumen  beralih ke barang substitusi yang harganya relatif  lebih murah. Ini karena permintaan meningkat maka harga barang substitusi ikut naik. Inilah yang tidak disadari pembuat kebijakan.

Sekarang kenapa kita belum mampu berswasembada bawang merah? Ini karena biaya memproduksi bawang merah relatif mahal yakni Rp 4-5 juta per 1.000 m atau Rp 40-50 juta per ha, dan risiko kegagalan panennya tinggi.

Tanaman bawang merah dapat tumbuh pada berbagai tipologi lahan baik lahan sawah maupun lahan kering. Tidak dibatasi topografi lahan, dapat tumbuh di daerah pegunungan ataupun di lahan datar. Yang penting adalah cukup air, minimal 5-6 hari sekali harus disiram. Tanaman bawang merah juga rawan terhadap genangan air dan hama penyakit. Perlu ekstra hati-hati dalam pemeliharaannya. Tanaman bawang merah dapat dipanen  pada umur 70 hari.  

Sentra bawang merah saat ini adalah Jawa Tengah dengan produksi tahun 2011 sebesar 372.256 ton (41,7 persen dari produksi nasional) dengan Kabupaten Brebes sebagai produsen utama. Produsen kedua terbesar adalah Jawa Timur yakni 198.388 ton (22,2 persen), Jawa Barat yakni 101.273 ton (11,3 persen), dan Nusa Tenggara Barat yakni 78.300 ton (8,8 persen).  

Yang menjadi permasalahan utama dalam budi daya bawang merah adalah lemahnya permodalan petani. Seperti yang penulis lihat secara empiris di Kabupaten Brebes (di sepanjang saluran utama Jaringan Irigasi Pemali) pada 23 Februari 2013, umumnya luas tanaman  bawang merah relatif kecil di bawah 0,25 ha. Petani yang menanam lebih dari luasan tersebut umumnya dimodali pengusaha luar yang sebagian merangkap pedagang besar.  

Jika ada pemodal yang memodali petani dengan keuntungan dibagi dua, niscaya kita dapat berswasembada bawang merah. Keuntungan bawang merah dapat mencapai 100 persen jika harga Rp 10.000-12.000 per kg, apalagi dengan harga sekarang Rp 20.000-30.000 per kg, tentunya petani akan sejahtera.

Sebagai contoh Badan Litbang Pertanian cq Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) sudah membina petani untuk mampu membudidayakan bawang merah di Kecamatan Sepatan Timur Kabupaten Tangerang, tetapi luas tanamnya tidak bertambah sekitar 2 ha, karena apa? Mahalnya biaya produksi. Juga benih yang harus didatangkan dari Brebes.

Dari survei penulis tahun 2011 di kecamatan di atas dengan harga jual Rp 10.000 dan  produksi 0,8 tonper 1.200 m petani sudah memperoleh keuntungan Rp 5,25 juta. Tanaman sayuran yang mampu ditanam petani adalah yang berbiaya rendah seperti caesin, kangkung, kemangi, bayam, karena modal yang lemah.

Pada akhir 1990-an terdapat kredit usaha tani (KUT) untuk hortikultra sekitar Rp 9 juta per ha untuk biaya garap dan pupuk. Kredit ini sangat membantu petani, tetapi saat ini belum ada skema kredit seperti itu yang dapat dimanfaatkan petani. Ada juga skema kredit tertentu tapi besaran pinjamannya relatif kecil Rp 200.000-1.000.000.  

Kurang Cocok

Bagaimana dengan bawang putih? Kondisi geografis  Negara Indonesia yang terletak di daerah tropis memang kurang cocok untuk budi daya bawang putih, komoditi ini lebih sesuai di daerah subtropis. Negara asal bawang putih adalah Asia Tengah. China adalah produsen utama bawang putih yakni 70 persen dari produksi dunia, kemudian  India (4,1 persen) dan Korea Selatan (3,2 persen).

Hanya di daerah tertentu tanaman bawang putih dapat tumbuh dengan baik, yakni di dataran tinggi, misalnya  Pulau Flores-NTT, lereng Gunung Rinjani-NTB, dataran tinggi Toba, dan Tanah Karo-Sumut. Produsen utama bawang putih tahun 2002 di Indonesia adalah Jawa Timur  (39,8 persen), Sumatera Utara (18,2 persen)  Jawa Tengah (16,9 persen), dan Nusa Tenggara Barat (9,5 persen).

Luas panen bawang putih di Indonesia tahun 2011 hanya 1.828 ha (meningkat 0,6 persen dibandingkan tahun 2010) dengan produksi 14.749 ton (meningkat 2,0 persen dibandingkan tahun 2010) atau produktivitas 8,1 ton per ha. Jika dibandingkan produktivitas tahun 2001 di Negara China yakni 13,8 ton per ha, Republik Korea yakni 11,8 ton per ha masih jauh lebih rendah.   

Harga bawang putih yang selama ini relatif murah memang membuat petani kurang berminat menanamnya,  dan tingkat konsumsinya juga jauh lebih rendah (dibandingkan bawang merah). Komoditi bawang putih memang tidak perlu swasembada, hanya persentase impornya bisa dikurangi, misalnya produksi dalam negeri 30-40 persen dari kebutuhan  nasional.   

Pada 2012 volume impor bawang putih 415.000 ton dengan nilai Rp 2,3 triliun, terbesar dari China yaitu 98,8 persen, dan dari India, Pakistan, dan Thailand (detikfinance, 28-2-2013).

Langkah yang diambil pemerintah saat ini dengan membuka keran impor bawang merah dan bawang putih sudah tepat. Komoditi bawang putih yang tertahan  sebanyak lebih dari 300 kontainer di Pelabuhan Tanjung Perak sudah dikeluarkan untuk dijual di pasar dalam negeri sehingga harga sudah mulai turun.

Impor ini juga harus dilakukan terhadap buah-buahan seperti jeruk,  appel, dan pir yang harganya sudah jauh melembung tinggi. Hampir seluruh buah-buahan tidak ada lagi yang murah harganya saat ini. Pisang Rp 15.000 per sisir, jeruk lokal Rp 15.000-20.000 per kg, pepaya Rp 7.000-8.000 per kg. Apel impor Rp 25.000 per kg, apel malang Rp 15.000-18.000 per kg. Jangan sampai masyarakat kita kekurangan vitamin dan zat pigmen karena kurang mengonsumsi buah-buahan. ●