Tampilkan postingan dengan label Ida Bagus Made Nada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ida Bagus Made Nada. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Mei 2014

Kenaikan dan Agenda Pilpres

Kenaikan dan Agenda Pilpres

 Ida Bagus Made Nada  ;   Anggota Dewan Paroki St Clara Bekasi
KORAN JAKARTA,  29 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Kamis ini, umat Kristiani seluruh dunia merayakan Hari Kenaikan Yesus ke surga. Apa makna perayaan peristiwa yang terjadi lebih dari 2.000 tahun lalu itu? Yang jelas, ini menjadi sangat menentukan dalam perjalanan Gereja Perdana.

Waktu itu, para murid belum habis rasa tidak percayanya karena guru dan harapan mereka telah mati. Banyak murid dan rakyat Yahudi mengharap banyak pada Yesus, terutama akan membebaskan mereka dari penjajah Roma dan mengembalikan kejayaan kerajaan Daud.

Namun, apa yang terjadi? Dia mati. Tidak hanya itu, matinya pun mengenaskan: disalib. Jelas bagi masyarakat Yahudi mati disalib adalah lambang kehinaan. Selain itu, mati muda bukan berita bagus. Pendek kata, habislah harapan masyarakat. Akan tetapi, Yesus bangkit dari mati. Harapan para murid dihidupkan lagi.

Yesus masih mendampingi selama beberapa waktu untuk menguatkan hati para murid dan memastikan bahwa mereka bisa “ditinggal” Inilah saat yang harus dilalui dan dialami para murid: Yesus naik ke surga. Para murid harus melanjutkan ajaran Sang Guru. Mereka menanti-nanti Roh Kudus. Ya, dalam tradisi dan ajaran Gereja, setelah Yesus naik ke surga, para murid akan dihibur dan dikuatkan oleh Roh Kudus. Itulah yang disebut Pantekosta, turunnya Roh Kudus. Jadi, kenaikan Yesus adalah harapan baru bagi para murid.

Dalam konteks kini, kenaikan harus menjadi simbol penantian Roh yang akan menguatkan dan memberi damai. Indonesia dalam hal ini akan dikuatkan semangat yang memberi kekuatan untuk melanjutkan karya-karya cinta kasih. Bagi pemerintah, dia akan dikuatkan dan diberi roh semangat membangun masyarakat yang damai. Pada kasus tertentu, kedamaian dapa tercipta bila ada kesejahteraan.

Maka, rakyat akan damai bila mereka sejahtera. Untuk itu, pemerintah harus bersemangat membangun kesejahteraan rakyat agar tercipta kedamaian. Selain itu, praktik-praktik kehidupan harus mampu menciptakan kedamaian. Hal itu hanya terjadi bila sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dijalankan dengan bersih: jauh dari korupsi dan penipuan.

Dalam konteks pemilihan presiden (pilres), kebersihan sendi berbangsa dan bernegara termasuk mempersiapkan pemilu dengan bersih. Maka, praktik kampanye hitam bertentangan dengan semangat hidup bersih. Semua harus tampil gentle, elegan, dan cantik. Dengan kata lain, persiapan pemilu harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Kampanye harus lebih mengutamakan upaya memperkenalkan arah pembangunan dan langkah-langkah yang akan ditempuh guna menyejahterakan rakyat. Dengan begitu, kampanye berisi program nyata, bukan upaya memojokkan saingan. Sudah waktunya bangsa ini melahirkan pemimpin lewat sistem demokrasi yang bermartabat, berkualitas, dan elegan.

Buah baik berasal dari sistem yang baik pula. Demikian juga pemimpin yang baik hanya dapat dilahirkan lewat sistem yang dibangun dan direncanakan dalam koridor akhlak, etika, dan moral yang baik.

Masa Antara

Antara Kenaikan dan turunnya Roh Kudus adalah masa penantian. Inilah waktu yang mencemaskan, mengkhawatirkan, sekaligus diharapkan, ditunggu-tunggu. Suasana hati para murid berkecamuk, campur aduk menantikan apa yang akan terjadi pada hari Pantekosta.

Demikian pula bangsa Indonesia sekarang sedang berada dalam masa antara. Saat ini, rakyat tengah menanti penuh kecemasan, namun juga harapan. Masyarakat juga campur aduk, menantikan apa yang akan terjadi pada 9 Juli. Mereka menanti siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam pilpres.

Pantekosta menjadi titik balik para murid. Mulai saat itu, tiada sedikit pun rasa takut untuk mewartakan karya-karya Yesus. Mereka tampil penuh semangat dan siap ditangkap, dipenjara, dan dihukum mati penguasa. Mereka berani karena arah sudah jelas: Kerajaan Allah harus diwartakan.

Demikian pula bangsa Indonesia seharusnya juga tampil all out setelah jelas pemenang pilpres karena arahnya sudah jelas: maju bersama demi menyejahterakan bangsa. Pemerintah baru, setelah cemas menanti-nanti dan akhirnya menang, harus langsung tancap gas bekerja keras. Tidak ada ampun bagi pemenang pemilu harus langsung berjibaku mewujudkan visi misi yang telah diuraikan di dalam kampanye.

Mereka tidak boleh leha-leha karena rakyat sudah lama menanti pemerintahan baru yang akan membebaskan dari “penjajah Roma”: kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Itu pula yang diperjuangkan Yesus semasa hidup. Dia melawan ketiganya meski harus berakhir di tiang salib. Pemenang pilpres harus tampil dengan roh dan semangat baru.

Dengan kata lain, pemerintah baru harus meninggalkan cara hidup lama: korup, tidak adil, KKN dan penuh tipu-tipu. Dalam bahasa positif, pemerintah baru harus menjalankan manajemen: bersih, adil, jujur, memikirkan rakyat, dan anti-KKN. Inilah gambaran sejati harapan baru tersebut. Tidak ada artinya bila pemerintah baru hanya berganti orang, tetapi sistem tetap membiarkan korupsi, ketidakadilan, dan KKN.

Oleh karena itu, semua elemen bangsa harus benar-benar mengawal pelaksanaan dan hasil Pilpres 9 Juli agar semua berjalan adil, jujur, dan bersih. Pemilu 9 Juli sangat menentukan, dan oleh karena itu amat vital bagi perjalanan bangsa ke depan. Maka, semua berkepentingan untuk menyukseskan pilpres, dalam artian hasilnya adalah untuk kepentingan seluruh rakyat.

Hasil yang baik akan menguntungkan rakyat. Sebaliknya, hasil jelek, rakyat pula yang menanggung. Itulah arti penting semua berkepentingan akan hasil pilpres. Apa pun hasilnya dan siapa pun pemenangnya, bila sudah berjalan dalam sistem, harus diterima sebagai bentuk mandat penuh dari rakyat untuk menjalankan roda pemerintahan. Dengan kata lain, kandidat yang kalah harus menerimanya dengan besar hati karena semua berjalan dalam tataran yang benar.

Selanjutnya, dua kubu harus bersatu dan melupakan kalah-menang untuk bersama-sama bahu-membahu membangun Indonesia dengan tujuan utama: menciptakan kesejahteraan rakyat, bukan kesejahteraan keluarga, kerabat, dan teman-teman. Begitulah buah penantian yang begitu ditunggu seluruh bangsa.

Selasa, 25 Maret 2014

Menginternalisasikan Nilai-nilai

Menginternalisasikan Nilai-nilai

Ida Bagus Made Nada  ;   Pengawas Guru Sekolah Dasar
KORAN JAKARTA,  24 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Sering terdengar ungkapan "Hidup adalah pilihan". Namun kadang-kadang tidak semua pilihan benar. Adakalanya orang salah memilih sehingga bukannya menuju kepada kebenaran, akan tetapi keputusannya justru menjerumuskan. Lingkungan dan keluarga yang tidak sehat secara moral dapat memberi "inspirasi" berbagai pilihan keputusan hidup yang salah.

Meski begitu, sebuah keputusan bisa saja pada saat itu benar adanya akan tetapi suatu ketika dapat keliru. Maka, patokan utama keputusan atau pilihan dalam hidup haruslah selalu sumber yang tidak bisa salah: suara hati.

Setiap orang dituntun suara hati untuk menuju kebenaran. Hanya, karena bisingnya kota sering kali suara hati tak terdengar. Telinga manusia tertutup berbagai kesibukan sehingga tak dapat mendengar.

Hati manusia terselimuti upaya mengejar kekayaan dengan berbagai cara, termasuk yang tidak halal seperti korupsi, bertindak tidak adil, memanipulasi, serta menindas.

Inilah praktik-praktik yang membuat hati seseorang gelap, hitam, dan penuh ketamakan. Ini hanya membuahkan sikap tidak acuh, mementingkan diri, tidak peduli, dan dengki. Secara positif dapat dibalik, suara hati membuahkan sikap acuh, peduli, peka, murah hati, dan memaatkan.

Agaknya pilihan keputusan yang telah diambil Elizabet sekeluarga untuk mengampuni para pembunuh putri satu-satunya sungguh buah dari orang yang mendengarkan tuntunan suara hati. Suara hati tidak peduli lingkungan.

Dia bisa melawan arus. Lingkungan sekarang cenderung mengembangkan saling membalas kejahatan. Tetapi suara hati mengembangkan saling mengampuni yang tak lain merupakan buah kasih.

Untuk suatu keluarga kehilangan satu-satunya anak jelas sebuah adegan mematikan keturunan. Sebab setelah ini tidak ada lagi yang meneruskan generasi Elizabeth karena putri tunggalnya, Ade Sara, dibunuh sepasang kekasih, Hafidt dan Syifa. Namun itulah blessing indisguise, rahmat terselubung. Allah berkarya lewat berbagai peristiwa, termasuk yang memedihkan.

Dengan kematian Sara, Allah mengingatkan, melalui ibunda dan ayahnya, masih ada yang namanya pemaafan. Kematian Sara menjadi jalan Allah membuka kembali mata manusia yang selama ini mengembangkan permusuhan, membalas kejahatan dengan kejahatan, kebengisan dengan kebengisan, Oooo ... ada arus balik.

Ada upaya melawan arus yang diperlihatkan keluarga Sara, dengan memeluk, mengampuni, bahkan minta maaf. Elizabeth justru minta maaf kepada dua pembunuh kalau Sara telah menyakiti mereka sehingga terjadi peristiwa ini.

Empat Keutamaan

Sikap mengampuni inilah yang harus ditanamkan sejak dini kepada anak didik. Para guru sangat dianjurkan untuk memperkenalkan jalan "aneh" yang ditempuh kedua orang tua Sara. Sebab andai anak-anak sejak dini menginternaliasikan ke dalam sanubari mereka mengampuni adalah jalan paling luhur untuk memusnahkan sikap saling memusuhi, jelas generasi masa depan berada di jalan benar.

Generasi muda yang membekali diri dengan pengampunan akan menegasikan tradisi kekerasan yang dikembangkan generasi sekarang.

Generasi masa depan memang harus dibangun berlandaskan hati yang mengampuni. Jangan mendasarkan diri pada angkatan yang paling merasa benar sehingga berhak menganggap orang lain salah. Parahnya, lalu merada berhak bertindak semaunya, termasuk kekerasan.

Mari membangun angkan muda masa depan dengan membekali anak didik di sekolah dasar dengan karakter yang kuat untuk saling memaafkan. Guru harus benar-benar mampu menanamkan di dalam diri anak sampai mereka terpateri bahwa manusia itu pada hakikatnya harus saling mengampuni. Tak ada hakikat kemanusiaan saling berlaku kekerasan terhadap orang lain.

Untuk itu, pendidikan karakter harus menjadi landasan utama proses belajar siswa sebelum melanjutkan infiltrasi pengetahuan. Karakter hanya dapat dibangun dengan tiap hari menginternalisasikan satu sama lain harus saling mencintai. Cinta akan membuahkan penerimaan satu sama lain. Dengan saling diterima maka anak merasa enjoy, tidak diasingkan, dan menganggap satu saudara.

Dari sini para guru tinggal memberi teladan kepada murid. Anak-anak adalah bersifat monkeys see monkeys do. Apa yang dilihat dikerjakan. Bocah masih bersifat meniru atau meneladani. Dengan kata lain, anak akan melakukan yang dilihat pada para guru dan orang dewasa, baik di rumah, lingkungan, atau tempat lain.

Oleh karena itu, di depan anak-anak jangan pernah berlaku kasar, berkata kotor, dan bertindak tidak benar. Mereka akan cepat mudah menangkap dan menirunya.

Untuk itu, para orang tua jangan bertengkar selagi ada anak-anak. Orang dewasa harus bertindak benar di depan anak-anak. Orang dewasa harus berkata benar setiap ada bocah. Dengan begitu, anak hanya akan melihat "segala"-nya baik adanya.

Paling sulit memang membangun karakter manusia. Maka, dia diletakkan atau "diajarkan" pada tataran awal manusia. Dengan membelajarkan karakter sejak dini, kelak ketika dewasa, manusia menjadi sosok yang integral, tidak mudah goyah, dan penuh percaya diri menjalani kehidupan. Meski di kiri-kanan penuh orang korupsi, rasanya manusia berkarakter akan mampu menjaga diri dengan baik dan tidak ikut arus.

Memutus generasi yang banyak melihat praktik-praktik kekerasan harus dimulai sekarang. Langkah ini tak dapat ditunda lagi guna melahirkan generasi penerus yang lebih mengedepankan sikap saling menerima daripada berwatak bengis, penuh permusuhan, dan intoleran.

Keluarga merupakan peletak dasar penerimaan. Jika anak tidak diterima di rumah, dia akan mencari penerimaan di luar dan itu berbahaya karena belum tentu baik.

Sekolah harus mampu menjadi ruang penerimaan bagi semua anak yang dari rumah diterima atau ditolak. Sekolah harus mampu menerima anak, lebih-lebih yang tidak begitu diterima di dalam keluarga entah karena bermasalah atau broken home.

Anak yang diterima dengan baik di rumah dan di sekolah sangat beruntung karena mereka lebih akan mampu mengaktualisasikan diri secara optimal. Sekolah dan keluarga menjadi kunci dan tempat paling dini serta utama menginternalisasikan nilai-nilai luhur: saling mencintai, memaafkan, menerima, dan menghargai.

Bocah yang dicintai, dimaafkan, diterima, dan dihargai bakal menjadi pribadi yang juga mencintai, memaafkan, menerima, dan menghargai orang lain. Dengan kata lain, empat keutamaan ini menjadi batu sendi dan kunci membuka gerbang kepribadian masa depan yang dinanti-nantikan untuk melahirkan bangsa yang beradab.

Senin, 13 Januari 2014

Kembalikan Hak-hak Anak

                                      Kembalikan Hak-hak Anak

Ida Bagus Made Nada  ;   Penilik Sekolah Dasar di Kabupaten Bekasi
KORAN JAKARTA,  11 Januari 2014
                                                                                                                       


Di kota-kota besar seperti Jakarta, semakin banyak bocah aktif mencari nafkah. Anak-anak aktif mencari uang dengan cara mengamen, mengemis, dan berjualan. Mungkin kasus tersebut sebenarnya juga sudah dilihat negara.

Tindakan mereka rata-rata bukan atas inisiatif sendiri. Anak-anak didorong atau, bisa jadi, dipaksa orang tua untuk mencari uang. Kalau menyangkut anak-anak pengemis, mereka sudah sering dirazia karena terbukti ada koordinatornya dan bocah-bocah itu didrop di suatu tempat pada pagi hari dan dijemput saat pulang pada malam hari.

Anak-anak yang seharusnya "hanya" bermain bersama teman sebaya malah mesti bekerja lebih dari 12 jam sehari. Operasi sering dilakukan petugas Satpol PP atau dari Dinas Sosial, tetapi gagal menghapus anak-anak mengemis dan mengamen dari jalanan. Bahkan jumlahnya semakin banyak saja. 

Persoalan menjadi sangat memprihatinkan kalau benar anak-anak dipaksa oleh orang tua untuk mencari uang. Alasan yang dimiliki orang tua, anak kecil mudah menimbulkan iba orang lain sehingga ayah ibu yang tidak bertanggung jawab menjadikannya ujung tombak mencari nafkah. 

Jadi, anak-anak disulap menjadi tulang punggung keluarga. Peribahasa Jawa kebo nusu gudel (kerbau menyusu kepada anaknya) menjadi nyata di sini karena orang tua "menyusu" atau dihidupi anak-anak.

Para orang tua tidak bertanggung jawab ini mungkin enak-enak di rumah menanti penghasilan anak di jalanan atau di atas bus umum. Sementara bocah-bocah harus membawa jajanan seperti kacang, permen, dan lainnya dalam ukuran besar. Bocah sering tampak sempoyongan karena harus membawa beban bahan jualan cukup berat.

Negara harus bertindak untuk menghentikan kegiatan bocah-bocah dan mengembalikan mereka ke rumah untuk bermain. Sementara, orang tua yang tidak bertanggung jawab harus ditangkap karena masuk kategori telah mempekerjakan anak di bawah umur, apalagi bila disertai ancaman.

Negara telah meratifikasi Konvensi ILO seperti termaktub dalam Undang-Undang No 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan ILO Convention No 182 mengenai Larangan dan Tindakan Segera Menghapus Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak.
Anak, dalam konvensi ini, didefinisikan mereka yang berumur di bawah 18. Namun, konvensi ini sepertinya untuk institusi yang mempekerjakan anak.

Sekarang mungkin lembaga legal atau perusahaan-perusahaan semakin sedikit yang mempekerjakan anak. Ini menggembirakan. Persoalan sekarang yang mungkin tidak dimaksudkan atau belum dilihat konvensi ILO, anak-anak yang dipekerjakan oleh kedua orang tua mereka.

Tak Disinggung

Dari bagian penjelasan, tidak disinggung anak yang dipekerjakan orang tuanya. Maka, karena tidak ada dalam konvensi ILO atau yang telah diratifikasi dalam UU No 1 tadi, negara harus proaktif mencermati masalah ini dan mencari payung hukum guna menindak orang tua yang telah menyuruh anak-anak bekerja dari pagi sampai malam demi menghidupi keluarga.

Secara psikososial, anak-anak juga dipaksa menjadi dewasa secara lebih cepat karena menjadi tulang punggung keluarga. Anak tidak tahu bahwa orang tuanya melanggar hak asasi. Yang anak ketahui, dia menjalankan perintah orang tua. Saya tidak tahu apakah Kementerian Sosial atau Dinas Sosial menyadari situasi ini: anak menjadi tulang punggung atau mereka dipaksa menjadi pencari nafkah?

Sebaiknya Kementerian Sosial mengambil inisiatif untuk menghentikan orang tua yang mempekerjakan anak ini dan menempuh jalur hukum menyeret ayah ibu yang tidak bertanggung jawab tersebut guna memberi efek jera. Sebab memberi nafkah anak merupakan tanggung jawab orang tua. Ayah dan ibulah yang harus mencari uang untuk menghidupi keluarga, bukan anak-anak.

Alasan Indonesia mengesahkan konvensi dalam butir empat disebutkan, "Dalam pengamalan Pancasila dan penerapan peraturan perundang-undangan, masih dirasakan adanya penyimpangan perlindungan hak anak.

Maka, pengesahan konvensi ini untuk menghapuskan segala bentuk terburuk dalam praktik mempekerjakan anak serta meningkatkan perlindungan dan penegakan hukum secara efektif sehingga lebih menjamin perlindungan anak dari segala bentuk tindakan perbudakan dan tindakan atau pekerjaan yang berkaitan dengan praktik pelacuran, pornografi, narkotika, dan psikotropika." 

Dari alasan itu, jelas tidak tercakup aktivitas mengamen, mengemis, dan berjualan yang sesungguhnya sekarang semakin banyak dilakukan anak-anak. Diperlukan tindakan segera "mengembalikan" anak dari halte, perempatan, jalanan, kendaraan umum, dan tempat peristirahatan pinggir tol ke rumah agar bisa belajar dan bermain.

Hak-hak mereka untuk bermain dan belajar harus segera dikembalikan karena bocah-bocah adalah generasi yang akan melanjutkan penyelenggaraan negara di masa depan. Mereka tidak berhak berada di jalanan.

Tempat mereka di tengah-tengah keluarga, di dalam rumah, atau bermain bersama teman sebaya di lingkungan rumah, bukan di halte, perempatan jalan, atau peristirahatan pinggir tol. Kementerian Sosial mohon serius menyelesaikan kasus anak jalanan ini.

Petugas harus terus-menerus mengoperasi dan menelusur anak hingga ke rumah guna membawa kedua orang tua untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Pertama-tama, orang tua harus disadarkan bahwa perbuatan mereka mempekerjakan anak adalah melanggar hak asasi. Jika masih juga memaksa anak untuk turun ke jalan, aparat harus tegas, seret mereka ke meja hijau.

Ketegasan pada kedua orang tua akan bisa mengeliminasi anak dari jalanan. Ketegasan pada ayah dan ibu akan mengembalikan anak-anak ke rumah masing-masing untuk sekolah, belajar, dan bermain. Mari sehatkan calon generasi penerus bangsa ini dengan cara mengembalikan hak mereka untuk sekolah, belajar, dan bermain.  ●

Kamis, 26 Desember 2013

Solidaritas dari dalam Kandang

Solidaritas dari dalam Kandang
Ida Bagus Made Nada  ;   Anggota Dewan Paroki St Clara, Bekasi
KORAN JAKARTA,  25 Desember 2013

  

Saat ini, para elite ramai-ramai duduk di tahta untuk dilayani. Para birokrat pun tidak kalah. Mereka juga berada di singgasana menanti pelayanan.
Ya, sangat disayangkan banyak pejabat publik atau kaum elite yang tidak tahu posisinya bahwa mereka itu pelayan, tetapi pada kenyataannya justru hadir minta dilayani. Hal ini bertolak belakang dengan kehadiran Yesus Sang Penebus yang datang untuk melayani.

Dia hadir bukan untuk dilayani, melainkan melayani. Kelahiran Yesus di dalam kandang hewan yang bau, dingin, dan pengap merupakan bentuk paling nyata dari sebuah kisah solidaritas dengan kaum papa. Solider dengan mereka yang terbuang, tidak punya papan untuk tinggal, kedinginan, dan kelaparan.

Allah hadir dalam bentuk Putra Manusia untuk merasakan sendiri hidup terbuang, diasingkan, dan bahkan diancam. Sebagaimana diceritakan, Herodes Agung memburu bayibayi mungil di Bethlehem untuk dibunuh.

Dia marah karena tidak dapat menemukan bayi Yesus untuk dibunuh. Herodes lalu memerintahkan untuk memenggal seluruh bayi laki-laki di daerah tersebut dengan harapan salah satunya adalah Yesus. Itulah genosida pertama penguasa kepada rakyatnya.

Sekarang ini, apakah praktik genosida masih berjalan? Tentu saja praktik "pembunuhan besar-besaran" tetap berlangsung di dunia ketika para penguasa membiarkan rakyat miskin mati kelaparan, sementara mereka berfoya-foya menghabiskan anggaran.

Para elite terlibat "genosida" karena tanpa malu-malu mereka korupsi bersama teman, sanak saudara, dinasti, bahkan dengan anak, istri, dan suami, uang yang seharusnya untuk menyejahterakan rakyat.

Dana untuk pemberdayaan masyarakat beralih ke kantong sendiri, keluarga, dan teman-teman. Manusia telah menjadi "Herodes- Herodes Agung" ketika mereka tidak berbela rasa kepada kaum kesrakat.

Manusia tidak lagi peduli dan empati kepada orang miskin karena kehidupan dunia semakin menjadi "sesembahan". Kehidupan dunia telah menjadi berhala baru dan menutup hati bagi orang-orang yang berkekurangan. Harta dan kekayaan dunia menjadi tujuan hidup itu sendiri.

Manusia lupa bahwa mereka seharusnya kembali kepada Sang Pencipta, akan tetapi mereka malah menuju kepada dunia. Maka, Natal ini merupakan peluang terbaik bagi setiap manusia untuk kembali menimba kebeningan dan kebersihan hati agar dimurnikan lagi, dilahirkan kembali berkat pengorbanan dan solidaritas Sang Bayi di Betlehem.

Natal kali ini harus menjadi pilihan manusia untuk merefl eksikan kembali makna kehidupan, kembali menggeluti hidup suci. Manusia harus menimba semangat solidaritas dari dalam gua yang sunyi, sepi, dan bau.

Ini analogi bahwa manusia harus kembali menjadi sepi ing pamrih rame ing gawe (kerja keras tanpa pamrih) dan sunyi dari keinginan berlebih yang bukan haknya serta mau berkotor-kotor melayani masyarakat yang bau (orang yang bau biasanya adalah orang miskin), Kehidupan dunia semakin memprihatinkan karena tambah menjauh dari "gua" yang sunyi, tenang, mungkin juga dingin, tetapi di situlah ditemukan keabadian.

Namun, manusia justru memilih kefanaan dengan memuja hidup duniawi. Glamouria uang telah menjerumuskan banyak anak manusia ke dalam kegelapan korupsi. Mereka terjerat ke dalam kesenangan sesaat, tidak abadi.

Hidup menjadi semakin indiviualistis dan materialistis. Semua diukur demi kepentingan sendiri. Materialistis dalam artian orientasi hidup adalah mengejar kekayaan duniawi. Dalam semangat ini, mereka tak segan menyingkirkan saingan yang mengganggu tujuan.

Reorientasi 

Natal ini hendaklah menjadi titik balik reorientasi cara hidup dari berfokus pada sentrum diri sendiri harus diarahkan demi mementingkan sesama. Reorientasi harus menjadi fokus penimbaan kesederhanaan makna Natal. Kembalikan seluruh harta yang diambil dengan tidak legal kepada mereka yang berhak.

Hanya dengan melepaskan hartaharta ilegal, hidup menjadi lebih bersih. Itulah semangat Natal sesungguhnya: berbagi. Bagikan kepada sesama yang miskin dan papa harta benda yang dimiliki agar manusia tidak terlalu lekat pada milik. Berbagi harus menjadi buah reorientasi dari hidup tamak menjadi sosial, dari kedengkian menjadi pembagi kegembiraan.

Hendaklah dunia bersukacita karena telah datang Anak Manusia yang dinanti-nantikan sebagai juru bebas kelekatan manusia pada dunia. Dia datang untuk mengambil kembali milik-Nya, yaitu manusia, dari cengkeraman dunia. Manusia telah dibajak dunia dari tangan Allah.

Untuk itu, Allah mengutus Putra-Nya untuk menebus manusia. Anak Manusia menjadi tebusan dengan mengorbankan diri demi mengambil manusia dari gadai. Manusia telah tergadai dalam dosa, tergadai ke dunia. Hanya, tidak semua menyadari bahwa kehadiran-Nya untuk menyelamatkan, membebaskan, dan menebus.

Maka tidak sedikit manusia yang menolaknya. Bahkan, mereka berusaha membunuhnya seperti diwakili bangsa Yahudi tempo dulu. Herodes Agung menjadi potret nyata manusia yang menolak diselamatkan.

Dia semakin dalam terjerembap ke dalam cengkeraman dunia karena terbelenggu kekuasaan. Dia menjadi gambar asli manusia yang berorientasi pada kekuasaan sehingga hatinya tak dapat melihat kedatangan Juru Selamat.

Hidup dengan semangat baru merupakan jawaban nyata dari tiap manusia dalam menyambut Natal. Hidup baru haruslah menjadi habitus dengan lebih peduli, lebih berbela rasa, dan lebih murah hati kepada sesama. Dengan kata lain, manusia harus meninggalkan hidup lama sebagai pendosa yang rakus, tamak, korup, dan iri hati serta intoleran.

Natal adalah toleransi Yang Mahatinggi kepada manusia lemah. Maka Natal juga harus menjadi tempat menimba ilmu toleransi bangsa Indonesia agar semakin sadar bahwa sesama harus diperlakukan sebaik mungkin.

Bangsa yang tidak toleran tidak perlu mengaku sebagai masyarakat agamis. Sebab kaum beragama mutlak bertoleransi. Marilah merayakan Natal agar bisa bertoleransi, ber-tepo seliro dan berserah diri. Selamat Natal.