Tampilkan postingan dengan label Idrus F Shahab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idrus F Shahab. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Agustus 2014

Bendera Hitam

Bendera Hitam

Idrus F Shahab  ;   Wartawan Tempo
KORAN TEMPO, 27 Agustus 2014
                                                


Hari itu, suatu Minggu pagi di bulan Zulkaidah ini, Wak Lihun membuktikan dirinya sebagai perkusionis hebat. Di kawasan Condet yang masih diselang-selingi deretan pohon pisang, sawo, dan duku, Wak Lihun dan kawan-kawan berjalan sepanjang 30 meter sambil menari, menepuk marwas, mengantar mempelai pria muda ke rumah keluarga calon istrinya. Wak Lihun beserta delapan rekannya yang mengenakan seragam sarung langsung terjun ke lokasi ngarak. Mengarak pengantin, maksudnya.

Hari masih pagi, tapi matahari musim kemarau sudah membuat tubuh berkeringat dan kening berkerut tegang. Tapi, begitu Syarrul-leil dinyanyikan bareng-bareng, marawis ditepuk bergantian, suasana seketika menjadi riuh-rendah. Syarrul-leil mencairkan suasana, apalagi bila sinkopasi--tepukan jatuh di antara dua ketukan yang rumit dan gampang bikin orang terpeleset itu--mulai muncul.

Wak Lihun yang memegang hajir, gendang besar, itu kelihatan bermain dengan semangat 45. Wak Lihun memasuki usia uzur, dengan rambutnya yang memutih perak itu, tersenyum lebar, seolah-olah ingin memperlihatkan gigi di gusi kiri dan kanannya yang tanggal, seraya bergoyang dan berputar-putar. Menggendong dan memukul gendang besarnya di tengah rekan-rekan juniornya, Wak Lihun tak ubahnya seperti matahari yang dikelilingi planet-planet yang bergerak mengikuti garis orbitnya.

Wak Lihun, wajahnya secerah pagi itu. Baru kali ini ia terlepas dari batu besar yang selama ini mengimpit dadanya yang kerempeng. Seminggu ini, pikirannya melayang-layang dari masa lalu yang menenteramkan ke masa kini yang menggelisahkan, dan sebaliknya. Melihat tayangan pasukan berbendera hitam ISIS dengan kalimat syahadat di sisi atasnya serta sebuah lingkaran putih di tengah-tengahnya di layar televisi, ia teringat cerita Ustad Romli yang mengajarnya mengaji di langgar dekat rumahnya dulu.  

Setelah memproklamasikan kekhalifahan di sebagian wilayah Suriah dan Irak,  kelompok Islamic State of Iraq and al-Sham itu memang cepat sekali menjadi "musuh bersama" bagi kalangan main stream, sekaligus menjadi solidarity maker di antara kelompok garis keras. Namun hati Wak Lihun tidak bisa dibohongi, ada sesuatu yang ikut hanyut dalam dirinya, mungkin sebuah mimpi yang tak mudah padam, ketika kekhalifahan itu ditahbiskan.

Ia langsung teringat cerita Ustad Romli tentang khalifah Umar bin Abdul Aziz yang berhati-hati membedakan urusan pribadi dan pemerintahan. Khalifah meniup mati lentera, manakala salah seorang anaknya mengajaknya berbicara soal pribadi. Urusan pribadi tak boleh dibiayai dengan ongkos negara. Ada juga cerita tentang khalifah Umar bin Khattab yang merasa bersalah mendengar sebuah keluarga yang kelaparan pada masa pemerintahannya. Sebagai hukuman, ia menaruh sekarung gandum pada punggungnya, dan berjalan kaki ia mengantarkan sendiri kepada keluarga yang malang itu.

Wak Lihun menunggu cerita serupa dari khalifah ISIS Abu Bakar al-Baghdadi. Namun, yang muncul adalah cerita gerakan profetik bak Taliban yang hendak memberantas berhala dengan patung Buddha terbesar di Bamyan. Juga--ini terjadi pada ekstrem sebaliknya--cerita seperti Khmer Merah di Kamboja yang menghalalkan pembantaian warganya untuk membangun masyarakat baru tanpa kelas. Wak Lihun bingung.

Jumat, 06 Juni 2014

Rakyat Jelata

Rakyat Jelata

Idrus F Shahab  ;   Wartawan Tempo
TEMPO.CO,  04 Juni 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Sebuah gelas beling di atas piring kecil. Seseorang telah menuangkan kopi ke dalamnya. Dan manakala gelas terisi separuh, seorang lelaki setengah tua terbatuk-batuk. Ia tersedak, tapi kemudian menitipkan pesan kepada seorang kawannya di kota: kalau ada yang ke kota esok pagi, tolong sampaikan salam rindunya. Desa kecil ini, demikian si lelaki melanjutkan, siap menyambutnya dengan batang-batang padi yang terkembang, dan roda-roda giling yang berputar-putar, siang-malam.

Ia Leo Kristi. Ada batuk dan gelas kopi yang perlahan menggiring panorama padesan dalam Salam dari Desa. Leo Kristi terus menyanyi. Tambur di belakangnya dan gitar di tangannya mengisi irama pada setiap jengkal musik yang mengalir dalam ketukan dua perempat itu.

Dan ketika block flute mengalunkan potongan-potongan melodi, panorama desa, panorama yang amat dikenalnya, semakin jelas tergambar. Desa kecil yang tengah menyambut panen raya, ritual yang paling ditunggu-tunggu tiap-tiap tahun. Musik riang, dan semua berlangsung seperti waktuwaktu sebelumnya. Kecuali pada setiap akhir bait, suaranya yang berat membawakan ironi: sawah-sawah itu bukan lagi milik mereka.

Leo tidak menunjuk penyebabnya, tidak menawarkan solusi. Ia tidak menyerukan perlawanan, tidak menuntut land reform— yang memang tak kunjung menjadi kenyataan di republik ini. Ia hanya menyodorkan sebuah potret kenyataan kepada lawan bicaranya, seperti seorang pedagang kaki lima meletakkan barang dagangannya di atas alas koran.

Indonesia, di mata Leo, bukan negeri yang gampang menyerah. Dalam Sayur Asam Kacang Panjang, ia berkisah tentang seorang nelayan yang bergulat mencari ikan di tengah laut. Hidup memang berat, harapan-harapan harus disederhanakan, dan nelayan yang berjuang itu seakan berbisik kepadanya: setumpuk ikan di perahu sudah cukup untuk mengusir segenap kecemasan di hatinya. Ia akan pulang ke darat dan memperpanjang hidupnya sekeluarga sehari lagi. Adanya setumpuk ikan di perahu berarti banyak: selalu ada cahaya harapan di ujung perjuangan ini.

Sayur Asam Kacang Panjang musik yang sederhana. Nadanadanya pentatonis, mengandung repetisi layaknya mantra.

Tak seperti kandidat pemilihan presiden 2014 yang di atas podium dan di hadapan kamera televisi senantiasa menjanjikan perubahan dan keberpihakannya kepada rakyat; dalam musikmusiknya Leo Kristi melupakan slogan dan tangan-tangan yang terkepal. Cukup memperlihatkan keakrabannya dengan kebersahajaan, kemiskinan, kenaifan, dan kesederhanaan, baladeer ini sudah menunjukkan keberpihakannya kepada rakyat jelata.

Seorang calon pemimpin memang diharapkan dapat menangkap aspirasi dan memenuhi angan-angan para pemilih. Ya, mula-mula kedua kandidat menampilkan dirinya sebagai antitesis dari pemimpin lama yang dinilai peragu dan tidak teguh pendirian. Kemudian, sesuai dengan angan-angan para pemilih, kita menyaksikan dua kandidat presiden 2014-2019 bergantian menegaskan visinya tentang Indonesia yang hebat dan disegani kawan-lawan, serta bagaimana "hijrah" ke kondisi ideal tersebut.

Mereka berbicara dalam skala makro. Padahal, ketika membahas seorang petani yang kehilangan sawah, atau nelayan pulang ke darat dengan setumpuk ikan, kita menggunakan skala mikro—seperti yang disampaikan Leo dalam lagunya.

Kamis, 06 Maret 2014

Tom and Jerry

Tom and Jerry

Idrus F Shahab  ;   Wartawan Tempo
TEMPO,  05 Maret 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
Wak Lihun tak ingin diganggu. Tetangga yang menyapa, istri yang menawarkan kudapan, tak ia gubris. Matanya berbinar-binar, terpusat pada kotak televisi di hadapannya.

Inilah Tom dan Jerry dalam The Cat Concerto, salah satu film kartun produksi Warner Bros. Panggung temaram yang berukuran sekitar 10 x 15 meter itu jadi terang-benderang manakala sang maestro mengayunkan kakinya ke sebuah grand piano, persis di tengah-tengah pentas. Tom, sang maestro, tafakur sejenak di hadapan barisan tuts, di bawah tatapan ribuan pasang mata penonton. Suatu mukadimah yang mayestis dari Hungarian Rhapsody no 2 in C # minor karya Franz Liszt (1811-1886) meluncur dalam tangga nada minor. Nadanya bulat dan tegas, seakan-akan hendak menyampaikan sebuah manifesto politik.

Segalanya berlangsung sesuai dengan rencana, sampai akhirnya bagian itu kemudian diisi rangkaian nada-nada ringan lagi bergemerincing lincah: sebuah potongan lagu rakyat Hungaria.

Tiada yang tahu si tikus Jerry tengah lelap di dalam bak piano, meringkuk dengan selimutnya yang mungil dan tipis, ketika Tom semakin larut dalam musik. Pada Hungarian Rhapsody no 2 bagian ini, dentingan tuts tidak hanya membangunkan tidurnya, tapi juga membuat Jerry terpelanting beberapa kali. Kita pun lalu menyaksikan musik piano zaman Romantik yang diciptakan Franz Liszt dengan sepenuh hati itu ternyata begitu tepat untuk mengiringi adegan selanjutnya: adu-licik, adu-siasat, kejar-kejaran di antara dua makhluk yang bermusuhan itu.

Wak Lihun tergelak, seperti ia tergelak menyaksikan permusuhan yang tak kunjung padam itu pada layar hitam-putih 50 tahun silam. Jakarta 1964 ibarat sebuah kampung besar yang terpesona menyambut kotak menakjubkan itu, dan kegiatan menonton televisi pun cepat menjadi peristiwa komunal yang paling ditunggu. Ketika hari mulai gelap, di sebuah rumah gedong (rumah batu yang kokoh) Wak Lihun bersama para tetangga berkumpul, menyaksikan deretan gambar-gambar Tom and Jerry yang menawan: serba hiperbolis dan penuh adegan slap stick di sepanjang film.

Dunia tak banyak berubah. Sementara dulu Tom muncul sebagai kucing berbulu hitam dengan semburat putih pada dada dan perutnya, sekarang ia seekor kucing dengan punggung biru dan perut putih. Televisi hitam-putih telah digantikan televisi berwarna, tapi pertarungan kucing melawan tikus, negara kaya melawan negara miskin, kulit putih melawan kulit berwarna, Timur melawan Barat (bisa digantikan dengan terminologi yang lebih kontemporer: Islam versus Barat), moderat versus garis keras, dan liberal versus radikal, dalam segala manifestasinya belum juga berakhir.

Hegel menyebutnya standing contradiction, sesuatu yang membuat dialektika mandek, terpaku pada satu titik seiring perjalanan waktu. Tak ada yang salah dalam pemikiran di atas, kecuali sebuah obsesi yang besar untuk membaca buku dari sampulnya, memandang dunia dari "merek dagang"-nya. Hitam-putih dan monolitik.

Dunia tentu saja tak semonolitik itu. Namun, jauh di dalam benak Wak Lihun, bersembunyi memori yang menyenangkan tentang dua makhluk yang sibuk kejar-kejaran, saling tipu dan saling memperdaya. Andaikan dunia sesederhana ini, seperti dunia dalam film kartun. 

Di depan televisi berwarna sekarang Wak Lihun tergelak, seperti ia tergelak lima puluh tahun silam.

Sabtu, 08 Februari 2014

Garis Nasib

Garis Nasib

Idrus F Shahab   ;   Wartawan Tempo
TEMPO.CO,  07 Februari 2014
                                                                                                                       
                                                                                         
                                                      
Seolah-olah menepati janjinya tahun lalu, banjir kembali menggenangi Ibu Kota. Di rumahnya, Wak Lihun terduduk di bangku panjang, menyaksikan benda-benda asing itu-sandal jepit tipis, botol susu bayi, sepasang kaus kaki hitam, dompet laki-laki, serta cakram padat Lady Gaga dan H Rhoma Irama-berenang di air tak harum itu. 

Beberapa jam yang lalu, benda-benda itu mungkin milik seorang janda beranak banyak di Bogor sana, atau seorang pensiunan pegawai negeri yang tinggal di perumahan bank yang masih satu kelurahan dengan rumahnya. 

Setiap benda mewakili satu keluarga, dan masing-masing keluarga menyimpan potongan biografi, cerita manusia, yang selalu menarik. Namun Wak Lihun tak peduli. Dengan matanya yang lelah, kini ia menatap pantulan wajahnya yang kusut pada genangan air cokelat dan kotor itu. 

Seperti ada yang menggiring, perlahan pandangan matanya bergerak ke sebuah sudut di mana sebuah album foto keluarga tampak timbul-tenggelam di air berlumpur itu. Ia melupakan rasa letihnya, dan sejurus kemudian album itu pun sudah berada di tangannya. Wak Lihun terpesona menatap foto dirinya pada 1955: seorang anak berumur 6 tahun yang bangga akan seragam dokter kecil dengan stetoskop mini di lehernya. 

Seumur-umur ia akhirnya tidak pernah menyandang gelar dokter, tapi ia cepat menyimpulkan: seperti para tetanggaku yang bermimpi jadi tentara, cita-cita cukup menjadi hiasan dalam hidup, tak perlu menjadi kenyataan. Wak Lihun menyebutnya garis hidup, tapi orang lain mengatakan faktor ekonomilah yang menggagalkannya merengkuh cita-cita.

Menahan berat album, tangan Wak Lihun yang keriput itu bergetar keras, tapi ia tak hendak berhenti. Album foto itu seperti sebuah harapan bahwa satu momen akan diikuti momen lain, satu babak diikuti babak lain, seperti rangkaian gerbong kereta kehidupan yang tidak berhenti di satu titik-kecuali jika kematian muncul, membubuhkan tanda titik terakhir.

Album juga menyimpan semacam peringatan bahwa kejadian-kejadian yang tragis, menyedihkan, dan traumatik itu telah berlalu dan tak akan muncul kembali. Album memang tak sama dengan film dokumentasi. Sebuah album akan lebih menenangkan ketimbang mengguncang. Mungkin inilah keajaiban sang waktu.

Sejak 1955, sudah sepuluh pemilihan umum dilalui Wak Lihun, dari pemerintahan Bung Karno yang senantiasa gegap-gempita, Soeharto yang selalu membenci demokrasi yang "berisik", kemudian berturut-turut Habibie, Gus Dur, Megawati, hingga yang terakhir, Susilo Bambang Yudhoyono, Wak Lihun menjalani hidupnya yang tak kunjung berubah. Mungkin perubahan yang dialaminya cuma satu: dulu bapak dan engkong menarik oplet milik seorang pria keturunan, kini ia menarik mikrolet milik seorang lelaki pribumi. 

Wak Lihun punya banyak alasan untuk tak menyumpahi hidup ini. Ia memang tak pernah jadi dokter, tapi ia cukup bangga pernah bekerja sebagai sopir pribadi seorang dokter umum yang membuka praktek di dekat rumahnya. Dan ia tidak pernah lupa, untuk sementara waktu bisa menikmati ongkos pengobatan dan obat gratis dari sang dokter.

Wak Lihun tidak percaya pemilihan umum akan mengubah garis nasibnya. Namun ia jarang mengatakan kepada orang lain bahwa ia selalu berdoa agar nasib anak-anaknya lebih baik daripada nasibnya.

Jumat, 24 Januari 2014

Agent of Change

Agent of Change

Idrus F Shahab   ;    Wartawan Tempo 
TEMPO.CO,  24 Januari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
Namanya Vanessa Mae, 35 tahun. Sembilan belas tahun silam, pemain biola bermata sipit, bertubuh langsing, dan berbibir sensual ini melangsungkan pemberontakan kecil-kecilan terhadap adat-istiadat musik klasik. 

Sebagai solois, Vanessa lebih suka mengenakan setelan hot pant dan kaus singlet daripada gaun panjang anggun berwarna gelap. Dalam konser-konsernya yang riuh-rendah, segenap sopan santun yang telah beratus tahun membentengi dunia musik klasik tak diberi tempat. Bila berminat, para penonton, yang kebanyakan kaum muda, diperkenankan berjingkrak-jingkrak mengikuti beat disko yang mengalir dari drum set. Dan manakala kesempatan untuk memainkan konserto atau sonata duo terbuka, misalnya, ia memilih berpasangan dengan gitar listrik, instrumen yang jadi belahan jiwa musik rock, ketimbang dengan piano atau gitar klasik.

Dengan caranya sendiri, Vanessa telah mengambil bagian dalam menghapuskan kesan angker yang selama ini meliputi dunia musik klasik. Otomatis dengan meniupkan erotisisme ke tengah-tengah panggung, ia telah menempuh jalan yang telah berpuluh tahun dilakoni rekan-rekannya di dunia musik pop: seks bagian dari musik. Dan perlahan-lahan, penggemarnya pun kerasukan pikiran jernih: tak ada ruginya berkenalan dengan karya J.S. Bach, Paganini, atau Mozart, yang kualitasnya rata-rata di atas kebanyakan musik pop. 

Dengan sebab tak begitu jelas, selama ini musik klasik memang selalu tertarik untuk berpenampilan sangar. Buah dari peradaban Barat yang telah bercokol sepanjang ratusan tahun ini punya segerobak aturan dingin, termasuk larangan bertepuk tangan di antara dua gerakan/bagian (movement). Di samping itu, ada juga sederet istilah latin, seperti opus, alegro, kre­sendo-sesuatu yang pada akhirnya cuma menambah-nambah bingung dan takut peminat mula musik klasik. 

Alhasil, di antara tetek-bengek kaku yang menguasai musik klasik, tiba-tiba kita dapati Vanessa yang bisa mengerling, memoles bibirnya dengan lipstik warna eksotis, menggeliat lemah dan pelan-pelan merebahkan tubuhnya. Ada sejumlah imajinasi yang bisa terbang. Tapi ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab: siapa sesungguhnya Vanessa Mae? Adakah ia seorang agent of change yang hendak merobohkan keangkuhan musik klasik? Atau sebuah kemasan dagang? Atau keduanya sekaligus? 

Di antara agent of change dan kemasan dagang memang terbentang perbedaan. Seorang agent of change tak ambil peduli terhadap kemasan atau pencitraan; ia tak terobsesi oleh dirinya. Ia sadar dirinya bukan pusat dunia, karena itu perhatiannya tertuju pada hal-hal penting di luar sana. 

Ia kerap berjalan sendirian tanpa seorang kamerawan yang sigap menangkap setiap gesture yang paling mengesankan. Ketika mengunjungi p­ermukiman padat ibu kota yang dikepung banjir, ia menunggu sampai rombongan para artis, birokrat, wartawan, dan-tentu saja-politikus berlalu. 

Sulitnya, terutama di masa-masa yang penuh ketidakberdayaan dan kejumudan, pelaku pencitraan acap kali membubuhkan ciri agent of change pada dirinya. Tiada jalan lain, kita harus pandai membedakan mana yang nyata dan mana yang sekadar fatamorgana.

Dan Vanessa? Inilah potret dunia kini. Selalu ada dua Vanessa: yang menggesek biola dengan penjiwaan penuh, dan yang bisa mengerling, menggeliat lemah, lalu pelan-pelan merebahkan tubuhnya.

Senin, 06 Januari 2014

Song of Joy

                                                              Song of Joy

Idrus F Shahab  ;   Wartawan Tempo
TEMPO.CO,  03 Januari 2014
                                                                                                                    


Pembaca, kali ini kita membicarakan seseorang yang tentu kita kenal. Orang yang telah beratus tahun silam mangkat, tapi "hantu"-nya selalu muncul setiap pengujung dan awal tahun seperti ini. 

Dialah Ludwig van Beethoven, kampiun para komponis dari zaman klasik sampai zaman kontemporer seperti saat ini. Dan baiklah kita mulai membicarakannya dengan sebuah fakta bahwa Desember adalah bulan Beethoven. Ia lahir di Bonn, Jerman, pada 17 Desember 1770. Dan tampaknya tidak ada bulan yang lebih tepat untuk memainkan atau memutar berulang-ulang rekaman Symphony No 9 in D Minor selain bulan di pengujung tahun yang baru lewat. Simfoni terakhir yang digubah sang komponis ini berkisah tentang harapan segenap umat manusia: kebebasan, perdamaian, persaudaraan, dan persamaan.  

Karya Beethoven yang dirampungkannya pada 1824 ini acap kali hadir manakala peristiwa bersejarah pecah. Musik yang dikenal dengan sebutan Ode to Joy ini dimainkan tidak lama setelah Tembok Berlin runtuh pada 1989 dan gempa bumi besar menghancurkan Jepang pada 2011. 

Bagian keempat simfoni ini dibuka dengan suasana mendung, yang dibangun oleh barisan pemain alat-alat gesek berat: bas, kontrabas, dan cello. Mungkin alat gesek tersebut dianggap sanggup mewakili perasaan-perasaan kelam dengan tepat. Melalui suasana ini, Beethoven seolah-olah menyodorkan  gambaran seorang ibu yang-dengan segala peluh, pedih, dan nyeri-sedang berjuang keras dalam sebuah persalinan panjang. Suasana berubah total manakala klarinet dan flute, ditambah simbal, mulai membawakan melodi yang bergemerincing riang dalam nada-nada mayor.  

Sang bayi telah lahir, bayi kebebasan, persamaan, dan persaudaraan umat manusia serta semua instrumen bangkit memainkan nada-nada meriah tersebut. Pada puncaknya, kelompok paduan suara bergabung menyanyikan Ode to Joy, terjemahan An die Freude, puisi karya penyair Jerman abad ke-18, Friedrich Schiller, dalam melodi yang riang itu. Satu puisi yang berbicara tentang pembebasan segenap manusia. 

Ya, revolusi, reformasi, dan perubahan besar lainnya umumnya berangkat dari rasa perih dan pengorbanan. Lahir dari penolakan terhadap suatu keadaan, ia kemudian berakhir dengan labelisasi yang-acap kali-sewenang-wenang: sejumlah orang menjadi korban, sebagian menjadi pahlawan, dan sebagian lagi pengkhianat. Demikianlah, korban jatuh, lalu terjadilah suatu power struggle, yang pada akhirnya menetapkan seseorang sebagai pahlawan atau pengkhianat. 

Revolusi tentu berbeda dengan pemilihan umum, yang berangkat dari suatu kampanye di tanah lapang, dengan orkes dangdut yang menghibur dan mengantar sang calon pejabat berbicara di podium. Masyarakat menyambut revolusi dan memberikan dirinya demi kebebasan, persaudaraan, dan persamaan. Sebaliknya pemilihan umum. Memahami posisinya yang inferior, para juru kampanye justru mendatangi dan meminta dukungan massa pemilih. Tidak ada pahlawan dan pengkhianat dalam hal ini, melainkan sebuah tawar-menawar dan transaksi: masyarakat akan memilih calon yang menghibur dan menguntungkan. 

Mungkin karena hal superfisial itulah, bagian keempat Symphony No 9 in D Minor-dalam bentuk yang populer dikenal sebagai Song of Joy-terdengar lebih menggetarkan.

Sabtu, 28 Desember 2013

Becek

Becek

Idrus F Shahab  ;   Wartawan Tempo
TEMPO.CO,  27 Desember 2013

  

Sejurus, Wak Lihun melirik langit biru yang cerah. Wak Lihun, yang wajahnya penuh senyum, sambil bernyanyi-nyanyi kecil menyeret sepeda kumbangnya ke jalan semen di depan rumahnya, dan dalam sekejap ia pun sudah nangkring di atas sadel karet busa yang sudah keras-membatu itu.

Namun lagu tua yang tidak pernah mengindahkan tata irama dan melodi itu sekonyong-konyong senyap. Menoleh ke atas, Wak Lihun menyaksikan matahari kehilangan senyum: gerimis mulai turun, makin lama makin deras. Bunyinya semakin keras, menelan deru mobil, makian para pengendara sepeda motor dan kondektur Metro Mini, klakson yang bersahutan, serta aneka hiruk-pikuk jalan raya lain.

"Ujan kayak gini gak bakalan lama," dia bergumam seraya menggiring sepeda ke satu sudut ramai di tepi jalan. Cuaca pada masa pemanasan global ini ibarat mood swing bagi penderita manic depressive-dalam tempo singkat, suasana kejiwaan bergerak dari satu kondisi ekstrem ke kondisi ekstrem lain. Sepuluh menit berselang, Wak Lihun sudah mengayuh sepeda kumbangnya di atas jalan yang basah. 

Wak Lihun tidak menyukai pemandangan di depannya: kolam-kolam kecil di antara aspal hitam-di matanya, hal ini tampak bagaikan bom waktu yang siap memporak-porandakan kegembiraannya hari itu. Serangan pertama datang dari seorang anak muda pengendara sepeda motor yang melintasi sebuah genangan kecil, tepat di sampingnya. Ia mengaduh, tapi bersyukur: genangan air cokelat itu cuma memercik kekaki dan celananya. 

Namun serangan mendadak dari sebuah Porsche mutakhir yang dikendarai seorang lelaki berambut putih-berwajah teduh membuatnya gelagapan. Dengan tenang, lelaki itu melintasi sebuah kolam cukup besar di tengah jalan seraya menyibakkan air kotor itu ke kanan-kiri. Kali ini baju koko Wak Lihun, yang hanya dikenakannya untuk bepergian, tak tertolong lagi. Menghentikan sepedanya, ia merasa terhina, sedih, geregetan, tapi kehilangan kata-kata untuk memaki.

Di hadapan orang-orang yang lemah, kekuasaan seperti monster yang senantiasa mengancam. Tanpa niat buruk sekalipun, pemegang kekuasaan, dengan berbagai manifestasinya-kekayaan, jabatan, keperkasaan, serta mobil mewah dan canggih-selalu dapat menimbulkan mudarat bagi mereka yang lebih lemah. Kekuasaan tak mengindahkan keberadaan orang lain; ia berawal dan berakhir pada kepentingan sendiri dan kalangan sendiri. 

Mungkin karena itulah kesewenang-wenangan, power abuse kemudian terjadi. Bupati Ngada Marianus Sae, yang tak berhasil mendapatkan tiket pesawat, muncul dengan pembalasan yang menihilkan keberadaan orang lain. Merasa disepelekan oleh sebuah maskapai penerbangan, amarahnya terbakar, ia memerintahkan penutupan bandar udara di salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur itu. Tanpa nawaitu yang buruk pun, ia telah mengkhianati publik yang memilihnya dalam pemilihan beberapa tahun lalu. Tapi begitulah kekuasaan. 

Kita telah berjalan jauh. Di kampus perguruan tinggi, mahasiswa baru menjadi senior, yang senior menjadi alumnus, tapi tradisi power abuse tak berhenti. Di kampus ITN Malang, senioritas adalah kekuasaan, dan kekuasaan bukan sesuatu yang dipelihara layaknya amanah. Kekuasaan ini justru mengambil nyawa seorang mahasiswa baru.

Tiba di rumah, kemarahan Wak Lihun menguap sudah. Ia membayangkan dirinya di belakang kemudi Porsche mewah itu dan menimbang: apakah ia masih ingat akan mereka yang mengayuh sepeda di hari hujan?

Kamis, 05 Desember 2013

Wak Lihun

Wak Lihun
Idrus F Shahab  ;   Wartawan Tempo
TEMPO.CO,  04 Desember 2013

  

Selepas salat isya, Wak Lihun terpaku di tepi jalan. Di hadapannya terbentang zebra cross dengan warna putih yang pudar. Tapi hatinya mungkret, tidak percaya pada korneanya yang butek dan tengah menunggu operasi katarak gratis yang dijanjikan habis Lebaran Haji tahun ini. 

Telinganya yang tajam menangkap, jalan itu mengaum dahsyat: semua kendaraan bermotor melintas sambil tancap gas. Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit Wak Lihun berdiri mematung di pinggir jalan, sampai akhirnya seorang lelaki tak dikenal yang berperawakan kekar muncul dari kegelapan, tersenyum kepadanya, mengajaknya menyeberang bersama. 

Malaikatkah ia? Yang jelas, menyeberang jalan raya di Jakarta membutuhkan keberanian luar biasa--lebih tepat lagi, kenekatan-seperti yang dimiliki lelaki misterius itu. Begitu lampu lalu lintas yang jaraknya sekitar 70 meter dari tempat Wak Lihun berdiri itu bersinar hijau, para penyeberang serta-merta harus menghadapi barisan berani mati: sejumlah sepeda motor melesat bagai puluhan anak panah dilepas dari busurnya, menerjang, menyapu apa saja yang berani menghadang di depannya. Mereka barisan penyapu ranjau yang seakan-akan berfungsi membersihkan jalan bagi kendaraan beroda empat yang juga bergerak dengan kecepatan tinggi. 

Di jalan raya, doktrin survival of the fittest menjulang seperti Monumen Nasional, dengan para penyeberang sebagai spesies terlemah yang kalah kuat-kalah cepat dibanding kendaraan-kendaraan itu. Di mata spesies yang nyaris punah ini, sepeda motor dan mobil sama saja: selalu bahu-membahu mendominasi setiap titik di atas aspal hitam itu. Kalau mobil merupakan pasukan utama, sepeda motor ibarat laskar penyapu ranjau. 

Berbeda dengan para penyeberang yang kerap melambangkan kelambanan gerak, dengan kapasitasnya menaklukkan waktu dan ruang, kendaraan bermotor merupakan pertanda agresivitas sekaligus progress. Ya, dalam "rantai makanan" di jalan raya, terpeta sebuah hierarki--dengan Metro Mini, si bongsor predator utama, pada puncaknya, dan para penyeberang pada kaki piramida ini. 

Jakarta, kota ini memang tidak dibangun untuk orang-orang yang kalah dan suka memandang masa lalu dengan nostalgia. Jika penyair Sitor Situmorang mengenang Kota Paris dengan kalimat "di udara dingin sejarah mengaum", Wak Lihun senang mengingat-ingat bagian kota ini dengan sederhana: lapangan sepak bola yang telah menjadi kompleks mal yang ramai, kebun karet yang menjadi barisan apartemen, dan sepasang empang besar di belakangnya yang telah disulap menjadi lahan parkir luas beraspal. 

Dalam kenangannya yang semakin ketinggalan zaman itu, kita dapat menangkap apa yang disampaikan oleh novelis eksistensialis Albert Camus dalam risalahnya "Sebuah Petunjuk untuk Kota-kota tanpa Masa Lalu". Wak Lihun melihat lingkungannya seperti disulap jadi ruang terbuka pameran poster-poster orang asing, dengan lambang dan bendera partai pendukungnya. Orang-orang asing, tanpa sejarah, ini menawarkan sejumlah janji: memperbaiki lingkungan, iklim usaha, layanan kesehatan, dan lain-lain. Aneh. 

Jakarta semakin luas, tapi ruang gerak Wak Lihun menyempit. Malam berikutnya, Wak Lihun kembali terpaku di tepi jalan. Di depan zebra cross, menunggu seseorang yang tersenyum lalu mengajaknya menyeberang bersama. Malaikatkah ia? Atau sekadar harapan?