Rabu, 25 Mei 2016

Optimisme Ekonomi Indonesia

Optimisme Ekonomi Indonesia

Tirta Segara ;    Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia
                                                    KORAN SINDO, 24 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ada dua hal penting yang patut kita catat dari keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) bulan Mei 2016. Pertama, di balik keputusan mempertahankan suku bunga kebijakan BI Rate 6,75% dan BI 7-day Repo Rate sebesar 5,5%, BI juga mengisyaratkan bahwa ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter yang selama ini terbuka akan dapat dimanfaatkan lebih awal. Kedua, BI menyesuaikan angka pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2016 ke kisaran 5,0- 5,4% secara tahunan, sedikit lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, 5,2-5,6% secara tahunan.

Apa yang melatarbelakangi keputusan bank sentral tersebut? Dan apakah kita masih bisa optimistis pada ekonomi Indonesia saat ini? RDG BI, yang berlangsung selama dua hari, membahas secara menyeluruh berbagai aspek yang terkait dengan makroekonomi, moneter, dan stabilitas sistem keuangan, baik dari sisi global, domestik, termasuk berbagai daerah di Indonesia.

Dari pembahasan selama dua hari tersebut, BI menganalisis berbagai perkembangan yang terjadi, dan berdasarkan hal tersebut, menempuh beberapa respons kebijakan. Di sisi global, kita melihat, kondisi perekonomian dunia belum menunjukkan tanda pemulihan signifikan. Isu keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) menjadi perhatian banyak negara. Kekhawatiran pelaku pasar terhadap Brexit adalah terjadinya penurunan pertumbuhan ekonomi Inggris dan Eropa lebih lanjut.

Kita juga masih mencermati sikap dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) terkait dengan rencana menaikkan suku bunga kebijakan (Fed Fund Rate). Kondisi Jepang dan China juga belum dapat diharapkan banyak untuk mendorong ekonomi global. Di dalam negeri, perekonomian Indonesia belum tumbuh secara optimal. Pada triwulan I-2016 lalu, ekonomi Indonesia tumbuh di bawah perkiraan.

Pertumbuhan pada triwulan I-2016 mencapai 4,92% (yoy), disebabkan oleh masih terbatasnya pertumbuhan konsumsi pemerintah dan investasi swasta, meskipun pemerintah telah berupaya menggenjot pengeluaran belanja. Kalau kita lihat secara kewilayahan RI, perlambatan ekonomi terjadihampirdiseluruhwilayah Indonesia.

Dalam Laporan Kajian Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) yang dikeluarkan BI, terlihat beberapa provinsi yang memiliki kekuatan ekonomi sumber daya alam migas, seperti Kalimantan Timur dan Papua, mengalami kontraksi ekonomi secara signifikan. Berbagai kondisi tersebut memang dapat menimbulkan keraguan dan pesimisme pada ekonomi Indonesia.

Kita mengetahui, perekonomian yang tumbuh melambat dapat memiliki dampak lanjutan seperti lingkaran yang terus berputar (vicious circle). Lingkaran itu bekerja seperti ini, saat ekonomi melambat, muncul risiko peningkatan jumlah non performing loan (NPL) perbankan dan perlambatan tumbuhnya Dana Pihak Ketiga yang pada akhirnya menurunkan jumlah kredit.

Di sisi lain, perlambatan ekonomi menjadikan permintaan masyarakat juga ikut turun. Konsumsi turun dan permintaan kredit juga turun. Akibatnya, investasi ikut melemah, yang pada gilirannya menjadikan pertumbuhan ekonomi melambat. Ini adalah lingkaran yang terus berputar sehingga perlu diputuskan agar tidak menimbulkan efek negatif pada perekonomian. Bagaimana memutusnya?

Upaya pemerintah meningkatkan belanja modal, melakukan pembangunan infrastruktur, termasuk mengeluarkan rangkaian Paket Kebijakan, adalah satu langkah yang perlu kita apresiasi dan dukung bersama. Implementasi dan akselerasi paket kebijakan pemerintah dapat mendukung perekonomian Indonesia dan diharapkan dalam jangka menengah panjang berdampak positif.

Namun dalam jangka pendek, upaya untuk memberikan semacam j ump start atau ”kejutan awal” pada perekonomian, perlu juga dilakukan. BI memandang bahwa di tengah kondisi saat ini, kita masih memiliki kekuatan berupa ketahanan dan stabilitas makroekonomi yang semakin terjaga. Meski akan memasuki bulan Ramadan dan Hari Raya, tingkat inflasi secara keseluruhan tahun 2016 diperkirakan terkendali dalam kisaran sasaran 4% plus minus 1%.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan berada pada posisi yang membaik, didukung oleh nilai tukar rupiah yang relatif stabil. Neraca perdagangan Indonesia pada April 2016 mencatat surplus sebesar USD0,67 miliar. Transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2016 juga surplus. Jumlah cadangan devisa RI juga berada pada tingkat yang aman di angka USD107,7 miliar.

Berbagai indikator makroekonomi tersebut menunjukkan stabilitas makroekonomi Indonesia tetap terjaga. Dengan modal stabilitas tersebut, upaya untuk memberikan jump start pada perekonomian tentu dapat dilakukan. Pertama, membangun optimisme bersama. Optimisme ini sangat penting karena akan membangun ekspektasi masyarakat. Kalangan pengusaha, pelaku pasar, hingga masyarakat yang optimistis akan dapat memberi dorongan pada ekonomi dengan meningkatkan investasi, produksi, dan konsumsi.

Kedua, upaya mengatasi hambatan pembiayaan, baik dari sisi fiskal, pinjaman perbankan, maupun likuiditas. Wacana pemberlakuan tax amnesty untuk mengatasi permasalahan penerimaan pajak, perlu dicermati dan diputuskan dalam jangka yang tidak terlalu lama. Ketiga , upaya BI untuk secara konsisten menjaga dan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi ekonomi makro yang stabil.

BI telah melakukan beberapa langkah pelonggaran kebijakan moneter dengan menurunkan BI Rate selama beberapa kali sejak Januari 2016. Melalui bauran kebijakan, BI juga melakukan relaksasi di kebijakan makroprudensial dan menurunkan tingkat Giro Wajib Minimum (GWM).

Ke depan, apabila stabilitas makroekonomi tetap terjaga, BI akan memanfaatkan ruang pelonggaran moneter yang semakin terbuka tersebut. Dengan tumbuhnya optimisme di masyarakat, sinergi kebijakan fiskal dengan moneter, dan tentunya disiplin serta konsistensi kebijakan, ekonomi Indonesia saya yakini dapat tumbuh lebih baik. Kita harus tetap optimistis.