Tampilkan postingan dengan label Agustine Dwi Putri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agustine Dwi Putri. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 September 2013

Memutuskan Hubungan secara Lebih Sehat

Memutuskan Hubungan secara Lebih Sehat
Agustine Dwiputri  ;   Penulis Rubrik Konsultasi Psikologi Kompas
KOMPAS, 15 September 2013


Selama 8 tahun perkawinan saya, tak pernah sekalipun suami memberi nafkah untuk kehidupan berkeluarga kami. Banyak lagi kelakuannya yang sangat tidak pantas dan kurang menyenangkan untuk dibahas di sini, yang membuat saya sering menangis karena sakit hati dan marah. Memang, saya akui dahulu saya yakin bahwa saya cinta padanya dan dapat membantu mengubah sifat-sifatnya yang buruk jika menikah dengannya. Ternyata saya salah.
Saya pun telah berdosa karena tidak mendengarkan nasihat orangtua yang tidak merestui hubungan kami ketika itu. Pendek kata, saat ini saya sudah berniat untuk mengakhiri saja hubungan perkawinan ini. Banyak pertimbangan yang telah saya pikirkan untuk itu, dan saya pikir saya akan terus makan hati, stres, dan tidak sehat jika melanjutkan hubungan ini.
Satu keberuntungan atau malah kekurangan, saya tidak tahu, adalah kami tidak punya anak selama perkawinan kami. Yang masih menjadi pikiran saya adalah bagaimana supaya setelah putus, kami dapat hidup ”lebih baik” sebagai pribadi. Mohon pandangan dari Ibu. Terima kasih. (H, 33 tahun)
————————————————————
Sdri H yang sedang gundah, pastinya selama 8 tahun Anda sudah memikirkan baik buruknya, dan juga telah meminta pertimbangan pihak lain yang Anda percayai bisa membantu. Nah, untuk melangkah kepada pengakhiran hubungan, coba renungkan situasi yang menurut John Gray (1984), seorang pakar di bidang peningkatan komunikasi dan hubungan antarmanusia, acap kali dilakukan orang banyak ini.
Jika kita ingin meninggalkan seseorang, khususnya dalam hubungan cinta, kita mulai dengan mengumpulkan berbagai bukti untuk membenarkan keputusan. Kita mulai menyusun daftar tentang semua perilaku buruk pasangan kita, dan kemudian suatu hari kita mengatakan padanya: ”Inilah bukti-buktinya bahwa kamu jahat. Saya telah diperlakukan dengan buruk dan karenanya saya punya alasan untuk pergi. Saya sudah tidak mencintaimu lagi.”
Nah, apabila demikian adanya, akan sulit bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa setelah perpisahan berlangsung. Berikut beberapa kiat yang bisa kita coba agar langkah kita lebih bijaksana dan hidup kita kemudian lebih berkualitas.
Lepaskan emosi negatif
Menurut John Gray (1984), sebelum mengakhiri suatu hubungan adalah penting untuk menyelesaikan penumpukan berbagai emosi negatif terhadap pasangan Anda serta untuk merasakan cinta dan rasa syukur kembali mengenai kehidupan. Ketika cinta dalam suatu hubungan ditekan karena tidak adanya komunikasi lanjutan, Anda sering terikat pada perasaan berkurangnya rasa cinta pada pasangan Anda.
Padahal, sebenarnya Anda tidak harus berhenti mencintai pasangan Anda ketika meninggalkan dia. Jika Anda jujur pada diri sendiri dan telah menyelesaikan kemarahan atau dendam Anda terhadap pasangan, Anda akan dapat tetap merasa cinta padanya.
Dengan demikian, jika Anda berpikir untuk meninggalkan pasangan Anda, cobalah mulai dengan memberinya peringatan terlebih dahulu. Tawarkan kesempatan padanya untuk berfokus pada relasinya dengan Anda. Beritahu pasangan Anda apa yang Anda inginkan dan apa yang tidak Anda peroleh selama ini, kemudian beri dia suatu patokan atau cara untuk mencapainya.
Cobalah saling bekerja sama untuk mengekspresikan dan melepaskan berbagai perasaan mengenai kemarahan, sakit hati, rasa takut, dan rasa bersalah yang telah tertekan selama ini. Dengan menyampaikan kebenaran yang lengkap tentang emosi-emosi Anda, Anda bisa mendapatkan kembali rasa cinta Anda.
Hal ini tidak berarti bahwa Anda harus tetap tinggal bersamanya; hanya jika Anda masih ingin pergi, Anda dapat meninggalkan dia dalam rasa persahabatan dan tidak dalam rasa permusuhan. Dengan kata lain, Anda telah mengambil keputusan dengan ”kepala dingin”.
Berpisah dengan damai
John Gray menambahkan bahwa Anda masih bisa mencintai seseorang dan mengatakan ”tidak lagi bersama” hanya karena jauh di dalam hati Anda, Anda tahu dia tidak tepat untuk Anda. Bahkan bisa saja Anda mungkin akan terkejut menemukan bahwa setelah Anda menyelesaikan beberapa perasaan negatif Anda, Anda mulai merasakan adanya harapan lagi, dan muncul suatu keinginan baru untuk mencoba memulai hubungan kembali. Mayoritas pasangan yang putus masih tetap memiliki potensi besar untuk mendapatkan sebuah hubungan yang sukses, tapi rasa cinta dengan kemarahan dan rasa sakit hati yang terpendam selama bertahun-tahun perlu dibantu untuk disembuhkan.
Oleh karena itu, perlu diingat bahwa meninggalkan pasangan saat Anda masih memiliki perasaan sakit hati dan kemarahan yang belum terselesaikan bisa menjadi berbahaya bagi perkembangan pribadi Anda (kecuali pasangan Anda memang benar-benar mengerikan). Pada umumnya, yang terjadi adalah Anda akan membawa semua perasaan negatif tersebut ke dalam hubungan Anda berikutnya. Begitu hal tersebut mulai memengaruhi hubungan baru Anda , maka secara sangat cepat Anda akan menemukan diri Anda berada dalam kekacauan yang sama dengan ketika Anda meninggalkan pasangan sebelumnya.
Hal semacam inilah yang acap kali menyebabkan kondisi perkawinan kedua tidak lebih baik dari perkawinan pertama. Ketika Anda meninggalkan pasangan tanpa menyelesaikan perasaan Anda, Anda membawa perasaan ini ke dalam hubungan Anda berikutnya.
Semua pengalaman gagal menjalin relasi dengan pasangan tetap memberi peluang besar bagi kita untuk melakukan perbaikan diri. Sangat penting untuk belajar dari kesalahan masa lalu dalam rangka untuk mencegah hal tersebut terulang lagi. Daripada hanya menyalahkan pasangan Anda saja sebelumnya, mari kita melihat apa yang Anda berdua telah salah lakukan dalam relasi sehingga Anda dapat menghindari pengulangan kesalahan yang sama dalam hubungan Anda berikutnya.
Semoga membantu. 

Minggu, 25 Agustus 2013

Memperoleh Kepuasan Kerja

Memperoleh Kepuasan Kerja
Agustine Dwiputri  ;    Penulis Rubrik Konsultasi Psikologi Kompas
KOMPAS, 25 Agustus 2013


Pertanyaan dari anak muda yang baru lulus dari perguruan tinggi adalah mengenai pekerjaan yang paling memberikan kepuasan kerja. Mereka melihat bahwa banyak sebayanya yang sering pindah kerja sehingga dapat menghambat kelancaran karier. Di lain pihak, mereka juga tahu bahwa tidak mudah mencari pekerjaan saat ini. Apa saja patokan yang dapat mereka pegang dalam bekerja?

Sejak dulu manusia tak bisa menghindari bekerja. Menurut Pillemer (2011), pada tingkat paling dasar, kita bekerja untuk bertahan hidup, seperti untuk memperoleh makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Pekerjaan bisa sangat bervariasi, tetapi prinsip dasarnya adalah sama: kita mengganti sejumlah jam dari usia kita untuk uang, dan kita menggunakan uang itu untuk hidup.

Memang, bagi banyak orang, kerja punya arti yang lebih dari itu, di antaranya menjadi sumber utama dari makna dan tujuan hidup, cara memperoleh harga diri dan prestasi, ataupun sarana untuk membina hubungan dengan orang lain. Bahkan, kerja juga merupakan bagian inti dari identitas kita: orang akan mempertimbangkan diri kita.

Dalam masyarakat modern, jarang ditemukan seseorang menetap di satu pekerjaan sepanjang kariernya dibandingkan mereka yang hidup pada generasi masa lalu. Pengamatan kasar menunjukkan bahwa kebanyakan anak muda masa kini akan berpindah pekerjaan sekitar lima kali atau lebih sepanjang kehidupan mereka.

Jalur karier dari mereka yang berasal dari generasi terdahulu sesungguhnya juga sangat bervariasi. Beberapa ada yang terus mengejar karier tunggal dengan bekerja selama puluhan tahun di bidang yang sama. Yang lainnya berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Beberapa lainnya memilih alternatif bekerja dan berhenti sementara, termasuk para ibu yang mengambil waktu untuk membesarkan anaknya.

Ada pula orang yang seumur hidup memilih pekerjaan paruh waktu, tetapi dapat melanjutkan kegiatan sampingan di bidang seni atau politik. Beberapa orang mencintai pekerjaan mereka, beberapa tidak begitu peduli, dan yang lainnya baru menemukan kebahagiaan kerja di akhir hidupnya.

Lima pelajaran

Hasil penelitian Pillemer (2011) menyarikan lima pelajaran dalam mencari pekerjaan secara memuaskan dan mencapai karier maksimal.

1. Pilihlah suatu karier untuk imbalan intrinsik (sesuatu dari dalam diri), bukan untuk keuangan Anda.
Kesalahan terbesar yang dilakukan orang dalam berkarier adalah memilih suatu profesi hanya berdasarkan potensi penghasilan. Padahal, rasa memiliki suatu tujuan dan semangat untuk pekerjaan seseorang akan mengalahkan perolehan gaji yang besar.

Jika ada karier lain yang Anda ingin kejar tetapi Anda khawatir hal itu akan menurunkan pendapatan, tetaplah mencoba melakukannya. Tidak ada waktu yang terbuang percuma untuk pengalaman tersebut. Tidak ada buku yang dapat memberitahu kita secara tepat bagaimana melakukan hal ini, tetapi temukan pelajaran mendasar di hati kita. Tidak ada imbalan finansial yang dapat diperoleh untuk waktu yang hilang pada pekerjaan yang membosankan Anda.

2. Jangan menyerah untuk mencari pekerjaan yang membuat Anda bahagia.
Kita mungkin tidak langsung memperoleh pekerjaan yang kita cintai pada percobaan pertama atau kedua. Banyak yang mengalami ”salah jalan”. Namun, janganlah terus meraba-raba dalam pekerjaan yang sebenarnya tidak Anda sukai. Orang-orang sering mengambil jalan yang salah dalam memilih pekerjaan hanya berdasarkan gaji saja. Menurut para ahli, kita tidak boleh berhenti mencari karier yang memuaskan. Ketekunan adalah kunci untuk menemukan pekerjaan yang Anda cintai. Ini mungkin memakan waktu bertahun-tahun, tetapi janganlah mudah menyerah.

3. Lakukan yang terbaik dari suatu pekerjaan yang ”buruk”.
Banyak dari kita menemukan diri kita berada dalam pekerjaan yang kurang ideal: tugas berlebihan, lokasi sangat jauh dari tempat tinggal, lingkungan kerja pengap, tidak menyenangkan, atau tak ada jalur naik jabatan. Untuk masa kini, mungkin lebih banyak situasi kerja semacam ini.

Untuk itu, mari mencoba memodifikasi lirik lagu Stephen Stills ”And if you can’t be with the one you love, honey, love the one you’re with” dengan kalimat seperti ini: ”Dan jika Anda tidak dapat memiliki pekerjaan yang Anda cintai, carilah sesuatu yang berharga pada tugas yang tengah Anda pegang.” Jika Anda menemukan diri berada dalam situasi kerja yang kurang ideal, jangan sia-siakan pengalaman itu karena banyak senior kita telah belajar dari pekerjaan yang buruk.

4. Keterampilan interpersonal mengalahkan lainnya.
Para ahli sepakat bahwa tidak peduli sehebat apa pun bakat dan kepandaian seseorang, kita harus memiliki keterampilan interpersonal jika ingin berhasil di tempat kerja. Banyak anak muda begitu terfokus pada pencapaian keahlian teknis hingga mereka melupakan kunci utama keberhasilan pekerjaan, yaitu ciri pribadi empatis, mampu mempertimbangkan, keterampilan mendengarkan, dan kemampuan untuk menyelesaikan konflik di tempat kerja.

Satu prinsip yang mendasari keterampilan interpersonal adalah memelihara kerendahan hati yang sehat. Para senior mengatakan bahwa kita harus menghormati pengetahuan pekerja lain, khususnya mereka yang hierarki kerjanya lebih rendah. Kita perlu belajar dari setiap orang di tempat kerja, dan jalur ke arah kesuksesan kita akan terhambat bila kita tak mampu memahami motivasi dan aspirasi para bawahan.

5. Setiap orang membutuhkan otonomi.
Otonomi berarti kemampuan untuk bertindak mandiri atas keinginan sendiri dan kebebasan untuk mengarahkan diri. Berdasarkan pengalaman hidup para senior itu, otonomi dan fleksibilitas adalah kunci untuk mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan dan lebih banyak memberi kebebasan. Kepuasan karier sering bergantung pada seberapa banyak otonomi yang Anda miliki dalam bekerja.

Carilah kebebasan untuk membuat keputusan dan bergerak ke arah yang Anda minati tanpa terlalu banyak kontrol dari atas. Anda dapat mencapai otonomi yang lebih besar melalui berbagai cara, dari pilihan profesi untuk bekerja sesuai dengan cara Anda sampai ke posisi tanggung jawab yang lebih besar untuk menangani bisnis milik sendiri.

Selamat bekerja. ● 

Senin, 08 Juli 2013

Teman Dekat “Temper Tantrum”

Teman Dekat “Temper Tantrum”

Agustine Dwiputri  ;  Penulis Rubrik Konsultasi Psikologi Kompas
KOMPAS, 07 Juli 2013


Saya, 30 tahun, sudah setahun terakhir ini menjalin hubungan dekat dengan seorang teman wanita, 27 tahun. Saya banyak kecocokan jika mengobrol dengannya, dapat saling mengisi pengetahuan. Menurut saya, dia juga pintar dan menarik. Kami sama-sama sudah bekerja dan rasanya saling menyayangi. Hal yang membuat saya masih kurang sreg adalah perilakunya yang sering tidak terkontrol.
Jika dia tersinggung atau muncul emosi marahnya karena saya terlambat datang, misalnya, dia akan merajuk seperti anak kecil dengan cara menangis bahkan beberapa kali membenturkan kepalanya ke tembok atau meraung-raung di hadapan saya. Pernah juga dia menangis keras-keras di sebuah restoran. Saya malu terhadap orang-orang yang ada di sekitar situ. Benarkah ini yang disebut temper tantrum? Mengapa dia bisa demikian dan apakah dapat diubah? Bagaimana cara saya menghadapi dia? Atas jawaban Ibu saya mengucapkan terima kasih.
D, di Sumatera

Tipe ”temper tantrum”

Benar bahwa pacar Anda memiliki suatu ciri kepribadian yang disebut dengan temper tantrum. Tipe seperti dia memang acap kali menampilkan perilaku seperti yang dilakukan anak kecil jika tidak memperoleh apa yang mereka inginkan, seperti berteriak dan menjerit-jerit, pergi begitu saja meninggalkan ruangan tanpa pamit, membanting pintu, dan berbicara tidak sopan. Dalam upaya mencapai keinginan, mereka tak mampu mengendalikan diri sesuai dengan usianya saat ini. Semua perilaku mereka berpusat pada kebutuhan yang berlebihan untuk mendapat perhatian khusus sebagai anak-anak.

Menurut Jon P Bloch (2013), tipe semacam ini tergolong orang-orang yang sulit (difficult people). Mereka bisa tampil sangat menarik pada pertemuan pertama. Mereka mudah bergaul dan secara umum mengomunikasikan, ”Yuk, kita menjadi teman.”

Kehidupan

Lebih lanjut Bloch mengungkapkan bahwa dalam sejarah hidup mereka mungkin ada beberapa ruang kosong yang dramatis dalam kehidupannya, seperti tidak saling berjumpa selama beberapa tahun dengan saudara kandungnya, sering memiliki serangkaian pasangan yang berbeda-beda, atau hanya memiliki satu pasangan tetapi hubungannya ”putus nyambung”. Hal ini terjadi karena banyak orang yang tak tahan sekaligus tak tega menghadapi berbagai perilaku yang dianggap tidak pantas dan mengganggu hubungan sebagai sesama orang dewasa.

Mereka mungkin merupakan anak tunggal, anak dari orangtua yang bercerai, atau karena satu dan alasan lain cenderung membuat orangtua atau pengasuh utamanya merasa bersalah. Hal yang khusus pada mereka adalah siapa pun cenderung untuk menyerah pada setiap keinginannya. Anak-anak tersebut tidak banyak diajarkan tentang keterbatasan dan tetap yakin bahwa apa pun yang mereka inginkan harus mereka peroleh.

Tipe temper tantrum jarang diberi kesempatan untuk menerima apa pun yang guru katakan atau lakukan karena ayah atau ibu akan terus siap berada di dekatnya memberikan bantuan dan pembelaan. Padahal, kadang kala anak perlu belajar bahwa mereka akan kehilangan, hidup bisa menjadi tidak adil, yang terbaik adalah membiarkan hal-hal berlalu dan membiarkan orang lain menggunakan cara mereka, serta kita tidak selalu mendapatkan apa pun yang kita inginkan.

Membantu

Bloch dalam bukunya, Handling Difficult People, mengatakan, jika kita ingin seorang dengan tipe temper tantrum tetap menjadi bagian dari kehidupan kita, satu hal yang dapat dilakukan adalah menetapkan contoh yang baik bagaimana berperilaku sesuai dengan usia. Tunjukkan kepada si dia bagaimana kita menangani sendiri berbagai masalah dengan cara yang dewasa. Dia bahkan perlu belajar bahwa adalah mungkin menyatakan ketidaksetujuan, kesedihan, ataupun kemarahan tanpa menjadi tidak terkendali. Semua ini perlu Anda latih dengan sabar, tetapi tegas dan konsisten.

Strategi lain adalah secara ringkas memberikan suatu solusi yang masuk akal. Sebagai contoh, jika si dia panik karena keluarganya tidak lagi mengiriminya SMS untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya, Anda dapat mengatakan, ”Mungkin kamu harus mulai mengirim SMS mereka dulu untuk membuat tradisi saling mengirim ucapan selamat ulang tahun terjadi lagi.” Jika kemudian ternyata dia telah mengirimkan pesan ucapan kepada adiknya tanpa mendapat balasan, coba mengingatkan bahwa hal semacam ini banyak juga terjadi kepada orang lain sepanjang waktu. Anda juga dapat mengatakan, ”Wah, itu pasti menyakitkan, ya? Sudahlah, yang penting kita sudah mencoba. Saya juga pernah merasakan semacam itu dengan kakak saya.” Kemudian segera ubah topik pembicaraan ke hal-hal yang lebih produktif. Arahkan dia untuk melihat berbagai kekecewaan sebagai masalah kecil yang merupakan bagian dari kehidupan dan menyadarkannya bahwa hidup harus berjalan terus tanpa terus kecewa.

Dalam situasi yang kurang ekstrem, jangan ragu untuk mengatakan, ”Saya punya banyak urusan lain yang harus saya selesaikan, coba kamu urus sendiri, nanti laporkan kepada saya hasilnya. Saya peduli kepadamu, tetapi saya tidak ingin terjebak di tengah urusanmu dengan orang lain.”

Jika adegan besar terjadi secara spontan di hadapan Anda, seperti dia meraung-raung di tengah banyak orang, Anda mungkin perlu untuk mulai dengan tegas menyatakan bahwa kehebohan itu perlu dihentikan sekarang. Misalnya berkata, ”Dengar, ya, saya akan mencari segelas air atau secangkir teh atau aspirin, tetapi kamu perlu menghentikan semua ini sekarang, terserah bagaimana caranya.” Jadi, tipe temper tantrum harus belajar untuk mengandalkan kemampuannya sendiri untuk secara rasional dan tenang memperbaiki keadaan.

Setelah masalah ini tampak dapat dikendalikan, Anda bahkan dapat mengatakan bahwa Anda tidak suka jika perilaku tadi terjadi, ”Besok-besok, silakan kamu berupaya lebih keras untuk menenangkan diri di sekitar saya. Saya sayang kamu, tetapi kalau begini terus, bagaimana saya bisa membantu. Saya akan temani untuk pergi berkonsultasi dengan ahli kalau kamu merasa perlu, tetapi saya tidak ingin seperti ini lagi.”

Jika dia menuduh Anda akan meninggalkan dia, cobalah mengatakan, ”Kamu salah, saya sangat peduli. Namun, saya punya keterbatasan dan semua ini juga mengambil bayaran untuk saya. Jadi, tolong mencari bantuan profesional karena saya tidak bisa membantumu lagi.”


Semoga membantu. ● 

Senin, 17 Juni 2013

Anti Punya Orangtua Tiri, Mengapa?

Anti Punya Orangtua Tiri, Mengapa?
Agustine Dwiputri ;   Penulis Rubrik Konsultasi Psikologi Kompas
KOMPAS, 16 Juni 2013


Di masa lalu, orangtua atau keluarga tiri memiliki konotasi buruk sebagai keluarga yang semestinya tak terjadi, selalu bermasalah, dan tak akan sebaik orangtua kandung.

Sikap ini mungkin merupakan perluasan dari stigma mengenai perpisahan atau meninggalnya salah satu orangtua. Prasangka terhadap keluarga tiri jelas terlihat dalam mitos ibu tiri yang egois, galak, dan jahat yang masih tumbuh dengan subur sampai sekarang melalui buku-buku ataupun film.

Sebenarnya tidak adil selalu melihat orangtua tiri sebagai penjahat. Mereka juga perlu mendapat informasi dan dukungan yang dibutuhkan. Tulisan berikut dimaksudkan untuk memahami keadaan anak yang akan menjadi tanggung jawab para orangtua tiri sehingga orangtua dapat mempersiapkan diri dan berperan secara lebih positif.

Reaksi anak

Memang perlu diakui bahwa kehidupan di keluarga tiri sangat berbeda dengan keluarga kandung. Menurut Edward Teyber (2001), umumnya anak-anak yang akan mempunyai orangtua tiri menghadapi dua persoalan.

Pertama, sulit bagi banyak anak untuk menerima bahwa ibu atau ayah baru bergabung dengan keluarga mereka. Mereka sering merasa seolah-olah ibu atau ayah yang baru akan menggantikan orangtua kandung sehingga tentu saja mereka menolak perubahan ini.

Secara khusus anak-anak usia sekolah dan remaja biasanya sangat tak acuh kepada ”pengganti” orangtua kandung mereka. Bahkan, jika orangtua kandung mereka kooperatif, anak-anak masih takut mereka akan mengkhianati kesetiaan terhadap orangtua kandung yang telah pergi jika mereka menerima orangtua baru.
Orang dewasa seyogianya tidak menekan anak untuk mengakui adanya masalah dengan orangtua kandung mereka atau untuk menerima hubungan pribadi dengan orangtua tiri baru selama dua tahun pertama. 

Kebanyakan anak pada awalnya menolak orangtua baru dan mencegah orangtua tiri dari perasaan bahwa mereka juga menjadi milik keluarga. Karena itu, sebagai orangtua tiri, Anda perlu siap menerima beban kemarahan dan penolakan dari anak-anak tiri Anda. Acap kali terasa sulit bagi kebanyakan orang dewasa ketika anak-anak hanya mau berbicara dengan orangtua kandungnya saja ataupun terus mengganggu dan menolak tawaran dari orangtua tiri.

Persoalan kedua adalah rasa takut kehilangan orangtua kandung dengan datangnya pasangan yang baru. Anak-anak telah menderita kerugian melalui perpisahan perkawinan ataupun meninggalnya salah satu orangtua. Karena itu, mereka akan sangat peka dan reaktif pada kerugian lebih lanjut, baik kerugian yang nyata maupun yang mereka rasakan. Pernikahan kembali membawa orang dewasa lain terlibat ke dalam jalinan ”keluarga” yang telah kuat dan akan terjadi perubahan besar atas kebersamaan yang telah dikembangkan selama satu orangtua kandung dan anak bersatu.

Pada awalnya anak-anak sering merasa tergeser akibat campur tangan orangtua baru dan mencoba untuk menjaga orangtua kandung sebagai milik mereka sendiri. Anak-anak tidak merasa siap jika harus berbagi perhatian dan kasih sayang dari orangtua kandung. Banyak anak yang cemburu, kompetitif, dan menolak pasangan baru orangtua kandungnya.

Penyesuaian anak

Meskipun anak laki-laki lebih sering memiliki kesulitan menyesuaikan diri dengan perceraian dan hidup serumah dengan ibu tunggal, melalui pernikahan kembali ibu gambarannya menjadi berubah. Anak perempuan biasanya memiliki lebih banyak kesulitan menyesuaikan diri dengan orangtua tiri daripada anak laki-laki. Anak laki-laki bisa mendapatkan sesuatu dari ayah tirinya yang hangat dan mendukung. Jika ayah tiri mereka responsif secara emosional, kebanyakan anak laki-laki secara bertahap dapat menerima minat mereka dan berkembanglah hubungan yang saling memuaskan.

Para peneliti di negara Barat telah menemukan bahwa beberapa tahun setelah pernikahan kembali anak-anak dengan ayah tiri yang ”kebapakan” dan suka menolong akan menyesuaikan diri dan berkembang lebih positif daripada anak laki-laki yang terus hidup dengan ibu tunggalnya saja.

Di lain pihak, anak perempuan cenderung lebih cepat mengatasi terjadinya perpecahan dan perpisahan perkawinan orangtua serta berfungsi lebih baik di rumah bersama ibu tunggalnya. Ikatan kuat antara ibu dan anak sering berkembang dalam kehidupan mereka sehingga hubungan dekat ini menjadi terancam oleh adanya pernikahan kembali.

Kebanyakan anak perempuan enggan melepas hubungan dekat dengan ibu mereka bersama orangtua baru sehingga sulit menerima kehadiran ayah tiri. Meskipun sebagian besar ayah tiri akhirnya dapat mengadopsi peran pengasuhan aktif dengan anak-anak, akan terus ditolak oleh anak perempuan tirinya.

Tentang usia anak, secara umum terlihat bahwa semakin muda anak-anak pada saat terjadinya pernikahan kembali semakin mudah mereka menyesuaikan diri dengan orangtua tiri baru. Para peneliti menemukan bahwa masa praremaja adalah masa yang sangat sulit untuk menghadapi kondisi ini. Hal ini disebabkan adanya kepedulian terhadap munculnya seksualitas mereka sendiri yang membuat, bahkan tampilan kasih sayang sesedikit apa pun antara orangtua kandung dan pasangan barunya, tak dapat mereka terima.


Untuk mengurangi ketegangan dan meningkatkan ikatan keluarga, orangtua tiri perlu mengambil alih peran pengasuhan dan disiplin secara perlahan. Sebaiknya di awal peran tersebut masih dipegang oleh orangtua kandung. Secara khusus ibu atau ayah kandung harus terus memantau dan mengawasi anak-anak mereka, terutama selama masa remaja, dan tidak membiarkan diri mereka menjadi berkecil hati dan merasa dipisahkan.

Senin, 06 Mei 2013

Menjalani Masa Berduka


Menjalani Masa Berduka
Agustine Dwiputri ;  Penulis Rubrik Konsultasi Psikologi Kompas
KOMPAS, 05 Mei 2013


Kehilangan orang yang dicintai karena meninggal sama seperti kehilangan sebagian dari diri sendiri. Hal ini pasti merupakan pengalaman yang sangat menyakitkan. Bagaimana sebaiknya menghadapi kondisi berduka (”grieve”) yang mengacu pada adanya penderitaan emosional yang kuat tersebut?
Berikut akan dipaparkan pandangan Duffy dan Atwater (2005) dalam bukunya, Psychology for Living, Adjustment, Growth and Behavior Today.

Masa berduka yang wajar terdiri dari kondisi membebaskan diri secara emosional dari orang yang telah meninggal, menyesuaikan kembali kehidupan tanpa keberadaan almarhum, melanjutkan aktivitas sehari-hari, serta membentuk berbagai hubungan baru. Awalnya kita bereaksi terhadap kematian seseorang tercinta dengan perasaan shock (sangat terkejut) dan tidak percaya, terutama jika kematian terjadi secara mendadak.

Ketika kita sudah mengantisipasi terjadinya kematian pada seseorang, seperti dalam kasus sang ibu yang telah lama menderita sakit parah, respons awal mungkin lebih tenang dan disertai dengan rasa lega karena melihat penderita justru terbebas dari penderitaannya.

Setelah shock awal habis, kita cenderung akan terganggu oleh berbagai kenangan mengenai almarhum. Seseorang, misalnya, jadi tidak menyukai bersosialisasi dengan teman-temannya, terutama pada kegiatan yang akan mengingatkannya pada almarhum. Emosi-emosi negatif, seperti marah dan rasa bersalah, cenderung muncul ke permukaan pada tahap ini. Kita mungkin menyalahkan Tuhan, nasib, atau mereka yang telah merawat almarhum. Merupakan hal yang tidak aneh untuk menyalahkan almarhum karena telah meninggalkan kita, terutama jika orang tersebut melakukan bunuh diri. Kita mungkin juga merasa bersalah karena sesuatu yang telah kita ucapkan atau lakukan atau merasa bahwa seharusnya kita melakukan sesuatu ketika almarhum masih hidup.

Gejala Fisik

Intensitas emosional dari kondisi berduka sering muncul dalam bentuk gejala fisik, terutama di kalangan orang yang sudah lebih tua. Pada bulan-bulan awal masa berkabung, gejala yang paling umum dari berduka adalah menangis, perasaan depresi, kurang nafsu makan, dan kesulitan berkonsentrasi di tempat kerja atau di rumah. Pada umumnya, berbagai gejala ini tidak akan berlangsung lama karena adanya resiliensi pada seseorang (kemampuan untuk bangkit kembali).

Pada tahap akhir dari proses berduka, biasanya kita mencoba untuk berdamai dengan kehilangan dan melanjutkan kegiatan kita sehari-hari. Tahap ini dapat terjadi mulai dari beberapa bulan sampai satu tahun atau lebih setelah kehilangan awal, bergantung pada seberapa dekat hubungan kita dan kondisi yang terjadi di sekitar kematiannya. Penelitian telah menunjukkan bahwa jangka sekitar satu tahun merupakan standar untuk masa berduka yang normal (Lindstrom, 1995), tetapi ahli lain menemukan bahwa kesedihan yang normal dapat lebih panjang melampaui tahun pertama (Davis, 2001).

Depresi dan reaksi emosional lainnya terhadap kematian orang yang dicintai umumnya menurun setelah tahun pertama. Setelah itu, kita cenderung untuk mengingat orang yang meninggal dengan berbagai kenangan yang menyenangkan. Untuk beberapa hubungan, mungkin kita tidak pernah sepenuhnya dapat mengatasi kehilangan itu, seperti sebagai orangtua, anak, atau pasangan. Bagaimanapun, semakin penuh usaha kita melalui kedukaan kita, semakin besar kemungkinan kita akan dapat melanjutkan kehidupan.

Kedukaan yang belum terselesaikan ini merupakan keadaan di mana reaksi emosional seseorang terhadap kehilangan tetap ditekan, sering kali tampil dalam gejala gangguan fisik atau psikologis yang tidak dapat dijelaskan. Sebagai contoh, beberapa orang tidak mau lagi pergi ke rumah sakit atau ke ruangan tempat almarhum meninggal karena duka yang tidak terselesaikan.

Reaksi Kesedihan

Beberapa orang lainnya mengingat bahwa mereka tidak pernah menangis atau mengalami reaksi kesedihan yang biasa, tetapi beberapa tahun kemudian baru menemukan perasaan dendam mereka terhadap almarhum. Beberapa orang melakukan hal yang berlawanan, mereka justru terlalu banyak memikirkan kedukaan mereka dan kehilangan tersebut. Perenungan terus-menerus dan keterpakuan pada kematian bisa menjadi hal yang buruk.

Seseorang yang terlalu terpaku atau terus-menerus membicarakan secara rinci tentang kematian tersebut, terutama juga kurang mendapat dukungan sosial dan mengalami pemicu stres lainnya, akan lebih mengalami depresi dan pesimistis. Kondisi berduka yang berkepanjangan dan kompleks mungkin memerlukan perhatian khusus dari profesional.

Bagaimanapun, terdapat beberapa aspek positif dari kedukaan. Melalui proses retrospeksi, kedukaan dapat membantu kita mengapresiasi orang tercinta yang telah meninggal dan menghargai hubungan kita dengan mereka yang masih hidup, bahkan membina kedekatan baru sambil menerima kekurangan yang mereka miliki. Singkatnya, kedukaan yang baik membuat kita belajar sesuatu dan berkembang menjadi pribadi yang lebih positif.

Salah satu cara untuk membuat pengalaman berduka lebih efektif adalah dengan mengeluarkannya. Meski awalnya sangat sulit untuk bicara tentang kematian seseorang, biasanya dengan mengutarakannya dapat sangat membantu. Hal utama yang perlu diingat, fokusnya adalah pada perasaan berduka. Beberapa hal mungkin terdengar sepele, seperti ”setidaknya dia keluar dari penderitaannya”, tetapi seorang teman yang baik harus berusaha untuk mendengarkan dan membantu orang yang tengah berduka untuk membicarakan perasaannya sebanyak mungkin.

Seseorang yang mendorong dan memberdayakan teman yang tengah berduka agar mengungkapkan perasaannya merupakan hal yang melegakan. Orang cenderung tidak malu jika dapat bercerita kepada beberapa teman dekat yang dapat dipercaya. Dukungan akan sangat membantu apabila teman dekat tidak menginterupsi pembicaraan dengan berbagai penilaian atau respons yang justru menghakimi dan menimbulkan emosi negatif yang baru.

Cara lain untuk mengatasi kedukaan adalah menggunakan cara yang relevan, misalnya dengan aktivitas fisik, seperti jalan cepat, membantu untuk mengurangi ketegangan, setidaknya untuk sementara. Beberapa upacara pemakaman dan doa bersama secara psikologis dapat menjadi penyaluran untuk melepas kedukaan. Membereskan urusan almarhum yang belum selesai juga dapat menjadi sesuatu yang bersifat terapeutis.

Semoga membantu.