Jumat, 27 Mei 2016

Menuju Indonesia Berkemajuan

Menuju Indonesia Berkemajuan

Benni Setiawan  ;    Anggota Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah; Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta
                                                        JAWA POS, 23 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

MUHAMMADIYAH kembali menggelar hajatan besar. Kali ini Persyarikatan Muhammadiyah yang berusia lebih tua daripada Republik Indonesia itu menggelar Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB).

Mengambil tajuk ”Jalan Perubahan Membangun Daya Saing Bangsa”, Muhammadiyah ingin meneguhkan diri sebagai organisasi yang terus berkontribusi positif terhadap perkembangan bangsa dan negara. Bangsa dan negara ini perlu terus mendapat masukan dan catatan penting.

Artinya, keberlangsungan bangsa dan negara perlu menjadi perhatian semua pihak. Bangsa dan negara ini tidak akan pernah tegak hanya karena pemerintahan yang baik.

Masyarakat (civil society) yang kukuh dan mandiri juga perlu mendukung. Muhammadiyah yang sejak 1912 memberikan kontribusi positif bagi pembangunan kemanusiaan terus berupaya mengemban amanat itu.

Organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan tersebut terus mendedikasikan diri bagi terciptanya masyarakat adil dan makmur yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah bersama pemerintah menjaga agar perahu republik tetap mampu berlayar di tengah semakin besarnya badai yang menghadang.

Kerapuhan Moral

Salah satu masalah republik saat ini adalah menurunnya komitmen moral. Rendahnya komitmen moral itu terlihat dari banyaknya kasus kekerasan seksual pada anak.

Misalnya kasus Yeye, 14, di Bengkulu. Data Komnas Perempuan menunjukkan, ada 321.752 kasus kekerasan seksual selama 2015.

Sebuah angka yang menunjukkan betapa bangsa ini dalam masalah kerapuhan moral. Kerapuhan moral juga melanda politisi bangsa. Mereka lebih sibuk memikirkan diri sendiri dan golongan daripada kepentingan umum.

Kerapuhan peran politisi itu menjadi penanda betapa mereka masih belum menyadari peran sebagai ”filsuf”. Mereka masih terkungkung pada posisi sebagai pejabat, bukan pemimpin.

Pemimpin adalah mereka yang rela mendedikasikan diri selama 24 jam untuk kesejahteraan rakyat.

Silaturahmi Kebangsaan

Dua hal itu tampaknya perlu mendapat perhatian dalam KNBI yang diselenggarakan di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Minggu (23/5) dan Senin (24/5). KNBI yang akan dibuka Presiden Joko Widodo dan mengundang banyak tokoh bangsa tersebut selayaknya menjadi salah satu sarana bertemunya pemimpin nasional dalam sebuah forum.

Forum itu tidak hanya membahas hal teknis kebangsaan, tapi juga menjadi sarana silaturahmi kebangsaan.

Pendiri dan Pembangun

Bangsa ini masih dipenuhi spirit para pendiri dan pembangun negeri. Mereka terus berusaha agar tiang penyangga Republik Indonesia tetap tegak dan memayungi kebangsaan.

Spirit pendiri dan pembangun negeri selayaknya menjadi acuan dan gerak langkah seorang pemimpin. Pasalnya, saat dua hal itu tidak ada, bangsa ini akan dipenuhi para penikmat dan perusak.

Mentalitas penikmat dan perusak tentu tidak kita inginkan. Mereka perlu mendapat dukungan dan arahan agar kebangsaan tidak dipenuhi para ”brutus”.

KNBI menjadi semacam langkah berani Muhammadiyah untuk merevolusi mental bangsa agar memiliki sikap seorang pendiri dan pembangun bangsa. KNBI menjadi momen strategis tokoh bangsa berbagi spirit sekaligus membagi pengalaman dalam membangun republik.

Republik tidak akan tegak saat pemimpin menonjolkan diri tanpa mau berbagi ilmu dan pengalaman. Republik akan kukuh saat pemimpin mempunyai kesamaan visi dan misi membangun bangsa dan negara.

Mereka memimpin dengan kekhasan yang dapat diadopsi di daerah lain. Sehingga daerah lain yang belum ”maju” dapat meniru sekaligus belajar untuk menyejajarkan diri.

Saat banyak daerah maju, Republik Indonesia akan mampu bersaing di tengah arus Masyarakat Ekonomi ASEAN dan perdagangan bebas. Sebaliknya, saat kepala daerah (pemimpin) tidak mau berbagi ”rahasia” membagi ilmu dan pengalaman, akan banyak kesenjangan di republik ini.

Kesenjangan hanya akan merapuhkan kebangsaan. Kebangsaan akan mudah terkoyak oleh isu dan persoalan remeh-temeh. Padahal, masalah dan tantangan masa depan bangsa semakin banyak dan kompleks.

Pada akhirnya, semoga KNBI sebagai ijtihad kecil Muhammadiyah ini mampu memberikan sumbangan berharga bagi bangsa dan negara. KNBI tidak sekadar menjadi ”seminar elitis”, tapi juga memberikan kontribusi positif bagi pembangunan cita-cita kebangsaan.

Sehingga cita-cita mulia Indonesia berkemajuan mewujud dalam keseharian masyarakat.