Senin, 23 Mei 2016

Pesan Kasih Waisak di Tengah Kerusakan

Pesan Kasih Waisak di Tengah Kerusakan

Tom Saptaatmaja  ;   Teolog; Aktivis Lintas Agama
                                               MEDIA INDONESIA, 21 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SELAMAT kepada saudara-saudara kita yang beragama Buddha yang merayakan Trisuci Waisak 2560, Minggu (22/5). Disebut Trisuci Waisak karena menunjuk pada peristiwa kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan wafat Sang Buddha Gautama. Tiga peristiwa itu berlangsung pada hari purnama sidi, bulan Waisak, dengan tahun berturut-turut 623 SM, 588 SM, dan 543 SM.

Bagi kita yang tidak beragama Buddha, rasanya kita perlu menumbuhkan semangat menghargai perbedaan, termasuk keberanian menghargai peran dan kontribusi umat Buddha, baik pada masa lalu maupun sekarang di NKRI yang begitu majemuk.

Kesadaran menghargai perbedaan sangat penting terus dikembangkan di tengah maraknya kecenderungan politik identitas dan radikalisme agama akhir-akhir ini jelas bisa memecah belah sesama anak bangsa.

Tulisan ini berangkat dari ketulusan seorang penulis yang telah melintasi banyak agama, termasuk Buddha. Jika kita jujur, kita juga harus menghargai kontribusi agama Buddha dan kekayaan peradabannya yang telah terbukti memberikan warna tersendiri dalam sejarah Nusantara.

Seperti kita tahu, agama Buddha muncul ke dunia tidak lepas dari peran Pangeran Siddharta Gautama, putra mahkota Kerajaan Kapilavastu di India Utara. Sang pangeran pernah diramalkan, kalau tidak menjadi raja, dia akan menjadi pertapa. Sang ayah tidak ingin anaknya jadi pertapa. Karena itu, ia membesarkan pangeran dengan segala kesenangan dan kemewahan, menjauhkannya dari orang-orang yang mengalami kesusahan. Pangeran dinikahkan dengan Putri Yasodhara yang memberinya seorang putra. Namun, toh pangeran tetap menyaksikan bagaimana orang menderita, ditelan usia tua, sakit, dan mati.

Dengan merenungkan terus mengapa ada penderitaan, pada umur 29 tahun, pangeran meninggalkan kemapanan kerajaan dan memilih menjadi rakyat jelata. Banyak guru ditemui untuk menjawab pergolakan batinnya mengapa ada banyak penderitaan, tetapi tidak satu pun mampu menunjukkan cara mengatasi penderitaan. Dia berpuasa menahan lapar hingga maut hampir merenggutnya.

Akhirnya timbul kesadaran untuk mengambil jalan tengah, menghindari dua bentuk ekstrem: mengumbar nafsu dan menyiksa diri. Tepat pada usia 35 tahun, pangeran berhasil mencapai penerangan sempurna di Bodhgaya sehingga disebut Buddha. Beliau mangkat 'Pari-nibbana' di Kusinara, India.

Penderitaan dan kerusakan

Agama Buddha memang memberikan perhatian amat besar pada masalah penderitaan. Penderitaan bisa disebabkan banyak hal, tapi sebagian justru terjadi karena kerusakan perilaku manusia sendiri.

Menurut Chris Hedges, jurnalis senior New York Times sekaligus penulis The Death of Liberal Class (2011) dan War is a Force That Gives Us Meaning (2002), kita semua punya andil dalam kerusakan yang sedang terjadi belakangan ini. "Kita tengah hidup di sebuah zaman ketika para dokter merusak kesehatan, para pengacara menghancurkan keadilan, pemerintah melumatkan kebebasan, pers mengaburkan informasi, petinggi agama merusak moralitas bangsa, dan bankir menghancurkan perekonomian." Jika kita tidak bernafsu membela diri, jelas apa yang diungkapkan Hegdes juga terjadi di sekitar kita.

Syukurlah di tengah kerusakan demikian, kita selalu bisa menggali pesan Waisak yang selalu relevan untuk kita renungkan. Waisak mengajak penganut Buddha dan siapa pun untuk mengasah kembali kesadaran dan pengendalian diri dari perbuatan jahat. Pesan itu dilandasi konsep dhamma bahwa pikiran menjadi lokomotif dari suatu tindakan.

Maraknya berbagai kasus kekerasan belakangan ini, seperti kekerasan antarwarga, pembunuhan, atau pemerkosaan jelas merupakan eksternalisasi pikiran jahat. Demikian juga sebenarnya pikiran jahatlah yang mendorong bangsa ini untuk terus dirasuki kebencian dan dendam antarsesama anak bangsa, seperti tampak dari isu bangkitnya komunisme dan pembakaran buku dan diskusi berbau kiri.

Oleh karena itu, kita perlu menghapus kejahatan dari pikiran dan menggantinya dengan belas kasih. Buddha mengajarkan belas kasih universal kepada semua mahluk karena belas kasih universal mampu meluaskan pikiran baik, menyingkap sekat pembatas, dan menjadi kekuatan sejati dalam membina persaudaraan. Seperti sabda Sang Buddha: "Kebencian tidak akan pernah usai jika dibalas dengan kebencian, tapi kebencian akan berakhir dengan cinta kasih. Inilah hukum yang abadi." (Dhammapada 5).

Selama ini hambatan primordial untuk mencintai sesama ialah egoisme. Kepentingan diri membuat orang memberi tanpa ketulusan. Kepentingan diri membuat kita melihat sesama manusia sebagai 'yang lain'. Sering kita melihat ironi. Dengan dalih membela kebenaran, menegakkan keadilan, membangun demokrasi, menjaga HAM atau mencintai agama, justru orang tergoda melakukan tindak kekerasan.

Yang masih bernurani pasti menangis menyaksikan perilaku kekerasan.
Bumi meronta menatap kaum jelata kelaparan di tengah naiknya harga pangan. Bumi kerontang akibat ulah manusia yang mengeksploitasi alam tanpa henti. Banjir bandang dan tanah longsor pun terjadi, seperti di Sibolangit, Sumatra Utara, baru-baru ini.

Introspeksi

Belum lagi penyerangan kelompok lain yang berbeda pilihan politik atau penyerangan umat yang dianggap sesat. Menurut Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera, Kepala Vihara Mendut, banyak sekali orang menganggap agama sama dengan Tuhan, padahal agama bukan Tuhan.
Agama juga terlalu rendah jika dipakai sebagai kendaraan politik, apalagi jika untuk membenarkan segala bentuk kekerasan.

Karena itu, Waisak harus mendorong kita untuk berani melakukan introspeksi diri, bahkan autokritik. Ajaran Buddha bisa menjadi alternatif pembentukan sikap dan tingkah laku masyarakat menjadi lebih manusiawi. Momentum Waisak ialah kesempatan bagi umat Buddha untuk memperjuangkan nilai kemanusiaan daripada sekadar mempertahankan simbolisme agama yang kosong.

Apalagi, dalam teologi Buddhis, agama hanyalah rakit. Orang beragama menggunakan rakit. Tidak harus melekat. Kalau seseorang melekat pada apa pun, kemelekatan itu akan merugikan. Tiap rakit punya keunikan, kecepatan, dan jenis yang berbeda. Meski demikian, tujuannya sama, yakni ke pantai seberang. Oleh karena itu, ajaran Buddha menegaskan bahwa mengorbankan manusia demi kepentingan agama hanya akan menambah penderitaan dan kerusakan di dunia. Agama bukan tujuan.
Agama hanyalah jalan menebarkan kasih.