Tampilkan postingan dengan label Sofie Dewayani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sofie Dewayani. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2016

Membangkitkan Literasi Lokal

Membangkitkan Literasi Lokal

Sofie Dewayani ;    Ketua Yayasan Litara; Anggota Satgas Gerakan Literasi Sekolah
                                               MEDIA INDONESIA, 23 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Bungai ingin seperti Kak Putir, bisa menganyam tikar...tapi Kak Putir tak mau mengajari. Bungai ingin seperti Kak Putir, punya banyak teman. Bungai ingin ikut bermain Basam bersama, tapi Bungai hanya boleh melihat saja. Diam-diam Bungai mengikuti Kak Putir ke sanggar. Bungai meniru gerakan Kak Putir menari. "Bungai! Anak laki-laki tak boleh menari tarian Bahalai," kata Kak Putir. Bungai melihat dan menirukan orang menari Mandau. Hore! Ternyata ada tarian yang cocok untuk Bungai. Bungai dan Kak Putir menari bersama. Mereka bisa menari Manasai bersama-sama.

GURU-GURU SD dari Kabupaten Pulang Pisau, Kotawaringin, dan beberapa kabupaten lain di Kalimantan Tengah itu takjub akan lontaran ide-ide tentang kekayaan budaya lokal yang dapat mereka tuangkan saat mengadaptasi buku cerita anak Ketika Gilang Ingin seperti Kak Sita, yang berlatar budaya Jawa. Karya guru-guru ini menampilkan tokoh cerita yang berkostum tarian Mandau, menarikan tari Manasai atau menggunakan masker ke sekolah karena kabut asap yang pekat.

Apabila buku-buku cerita anak menampilkan tokoh cerita yang mencerminkan pembaca dan tradisi di lingkungan mereka yang kaya, anak akan bangga terhadap diri dan budaya mereka. Dengan praktik menulis dan memadukan kekayaan tradisi lokal dalam pembelajaran, guru pun tumbuh sebagai figur teladan yang literat. Maka, kita dapat membayangkan dahsyatnya kemampuan literasi siswa apabila guru mampu mengadaptasi buku teks pelajaran, kurikulum, dan menyusun Rencana Program Pembelajaran yang berbasis pada kompetensi yang mempertimbangkan kebutuhan lokal suatu daerah. Inilah profil pendidik yang dibutuhkan Indonesia saat ini.

Praktik literasi lokal ialah kegiatan sporadis yang selama ini luput dari pengamatan. Karena itu, tidak terukur oleh survei literasi global. Dengan tingkat melek aksara 93% (UNESCO, 2012), Indonesia sesungguhnya mengungguli India (69%) dan Pakistan (55%). Namun, kemampuan membaca aksara ini ternyata tak mampu mendongkrak perilaku literat. Survey terbaru CCSU bahkan menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal tingkat sirkulasi surat kabar dan sebaran perpustakaan per kapita. Apa yang salah dengan kehidupan literasi bangsa ini?

Multidimensi

Harvey Graff (1979) sudah lama mengingatkan bahwa tingkat melek aksara ialah mitos literasi. Program pemberantasan buta aksara tidak otomatis menaikkan taraf kehidupan seseorang, memberdayakannya, apalagi menjadikannya motor perubahan sosial. Salah satu sebabnya ialah tingkat kemelekaksaraan sering diukur dari kemampuan seseorang untuk berpikir dan berkomunikasi menggunakan bahasa yang dominan.

Penelitian Susan Philips (1992), misalnya menunjukkan bahwa buruknya prestasi akademik siswa-siswa Indian di sebuah sekolah Amerika Serikat disebabkan oleh prasangka bahwa mereka tidak responsif dan tidak literat. Ternyata, sikap 'tidak responsif' ini merupakan ekspresi sikap hormat kepada orang dewasa yang ditunjukkan siswa dengan menghindari kontak mata saat berbicara kepada guru yang berkulit putih.

Menariknya, para siswa Indian ini menunjukkan prestasi akademik ketika diajar guru orang Indian. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan literasi bersifat multidimensi dan terbentuk dalam konteks budaya komunikasi lokal yang unik. Ironisnya, kemampuan literasi selama ini diseragamkan oleh kurikulum, buku teks pelajaran, bahkan kompetensi dasar yang berstandar nasional sehingga budaya minoritas menjadi 'tidak tampak (invisible).

Praktik literasi di negara multikultur seperti Amerika Serikat dan Indonesia seharusnya mengakomodasi aktivitas literasi yang beragam. Sikap literat tidak dapat ditumbuhkan tanpa penghargaan terhadap budaya literasi siswa, yaitu budaya berpikir, mengolah pengetahuan, dan cara berkomunikasi yang membesarkan mereka di rumah. Cara berpikir literat dapat dipupuk dengan membuat materi pembelajaran yang relevan dengan kehidupan mereka. Dengan materi yang relevan ini, siswa tidak hanya mampu memahami bacaan, tetapi juga menganalisis bacaan dan menggunakannya dalam memahami fenomena sosial di sekitarnya. Apabila pembelajaran berlangsung seperti ini, pendidikan mampu mengubah kesadaran, membebaskan, dan pada akhirnya memungkinkan transformasi sosial.

Kemiskinan struktural

Kemerdekaan Indonesia tak mungkin diraih tanpa kebangkitan literasi lokal yang dimotori Budi Utomo. Budi Utomo mengembangkan pendidikan keaksaraan menjadi pemberdayaan rakyat pribumi dan pergerakan sosial. Sekolah yang dikembangkan Budi Utomo memodifikasi sekolah Belanda dengan memasukkan nilai-nilai budaya Jawa. Dengan kemunculan Budi Utomo, perjuangan melawan penjajah menjadi lebih terorganisasi karena dimotori kaum intelektual pribumi. Budi Utomo melakukan transformasi sosial melalui pendidikan dengan kegiatan literasi yang tak hanya menjadikan rakyat pribumi melek aksara, tetapi juga motor perubahan sosial.

Tantangan Indonesia di era modern ini bukan lagi buta aksara. Saat ini kita ditantang oleh permasalahan kemiskinan struktural, ketidakpedulian sosial, sikap individualistis, egoisme kelompok yang memicu konflik horizontal, serta ketidakmampuan untuk memilah dan mengkritisi informasi dengan baik. Mengembangkan literasi lokal dalam konteks krisis lingkungan, misalnya dapat dilakukan guru sekolah dasar di Kalimantan dengan membuat cerita tentang anak yang harus pergi ke sekolah dengan sebagian wajah tertutup masker karena kabut asap yang pekat. Setelah membacakan cerita ini, guru dan siswa dapat berdiskusi tentang dampak kebakaran hutan bagi kesehatan dan cara menanam kelapa sawit yang ramah lingkungan, tanpa membakar lahan.

Contoh lain, tokoh dalam cerita karya guru dapat menampilkan seorang anak Dayak dan anak Jawa di Kalimantan yang bersahabat di sekolah. Cerita multikultural ini dapat dijadikan media untuk berdiskusi tentang keragaman budaya juga agama, secara terbuka. Selama ini praktik toleransi sudah terjadi di banyak tempat. Dengan mendiskusikannya di sekolah, siswa akan terlatih untuk berbagi pendapat dan melakukan refleksi kritis secara lebih mendalam tentang pengalaman keseharian mereka. Diskusi seperti ini perlu terjadi di sekolah dan guru perlu memfasilitasi serta menjadi promotor dialog dalam norma yang sesuai dengan kearifan budaya lokal daerah.

Tema-tema pembakaran hutan dan praktik keragaman kultural di daerah tidak terpapar secara spesifik dalam buku teks pelajaran dan buku-buku pengayaan yang beredar di kota-kota besar di Pulau Jawa. Tugas gurulah untuk menjadikan kompetensi dasar dalam kurikulum nasional relevan dengan misi dan kebutuhan pembelajaran di daerah. Indonesia memerlukan guru-guru yang berperan seperti aktivis Budi Utomo, yaitu yang mengajarkan pendidikan yang memberdayakan -- yang tidak terpaku pada kurikulum yang kaku -- sembari memampukan siswa untuk menjadi arif dengan budaya lokal dan menjadi motor perubahan sosial.

Kamis, 24 Maret 2016

Mengapa Perlu Gerakan Literasi Sekolah?

Mengapa Perlu Gerakan Literasi Sekolah?

Sofie Dewayani ;  Satgas Gerakan Literasi Sekolah (GLS); Ketua Yayasan Litara
                                             MEDIA INDONESIA, 21 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

IT takes a village to raise a child. Pepatah Afrika itu menegaskan tugas pengasuhan anak ialah tanggung jawab masyarakat. Jauh sebelum sekolah melembaga dalam kultur Indonesia, keluarga besar, tetangga, dan lingkungan masyarakat terdekat ikut mengawasi pertumbuhan seorang anak. Tradisi itu membuat halaman rumah menjadi tempat bermain bersama dan ruang pengasuhan komunal. Namun, pada era modern ini, tanggung jawab pengasuhan bergeser ke keluarga inti dan sekolah. Ruang komunal merambah dan difasilitasi ranah daring. Ini terlihat dari sinergi antarelemen masyarakat yang berlangsung dalam ruang chat, media sosial, dan terbentuknya komunitas-komunitas daring yang peduli pendidikan. Kepedulian bersama ini seharusnya menguatkan peran sekolah sebagai lembaga pendidikan.

Penelitian Alan Barton (2003) membuktikan keterlibatan keluarga dan publik dalam mendukung sekolah mampu meningkatkan motivasi belajar anak, mempertahankan keajegan kehadiran siswa di sekolah, mengurangi tingkat drop out, dan meningkatkan prestasi akademik siswa. Keberhasilan ini dialami siswa dari semua ras minoritas di sana sehingga partisipasi publik dalam pendidikan ditengarai mampu mengurangi kesenjangan pencapaian akademik antara mayoritas dan minoritas yang selalu menjadi momok pendidikan multikultural.

Penelitian ini juga menunjukkan dukungan publik dalam bentuk sumber daya untuk memfasilitasi kegiatan sekolah terbukti dapat meningkatkan kinerja sekolah dan motivasi belajar siswa. Studi itu sangat kontekstual dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Banyak sekolah negeri berada di daerah terluar, daerah-daerah dengan akses terbatas pada infrastruktur publik, dan mengakomodasi siswa-siswa dari keluarga prasejahtera serta suku minoritas. Fakta itu tentu tidak mengabaikan sekolah-sekolah negeri di kantung kemiskinan perkotaan dan daerah miskin lain yang masih berjibaku dengan kebutuhan mendasar, seperti ruang dan fasilitas belajar yang layak dan aman.

Dengan kompleksitas itu, gerakan literasi sekolah yang mengawal program membaca 15 menit setiap hari di sekolah terlihat seperti kebijakan yang utopis. Bagaimana mungkin sekolah menyediakan ragam bacaan bagi guru dan siswa membaca setiap hari apabila sekolah masih berkutat dengan banyak permasalahan mendasar lainnya? Data statistik menunjukkan hanya 5,7% sekolah di Indonesia--dari jenjang pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas-- yang memiliki perpustakaan. Itu pun dengan kondisi yang bervariasi; dari kondisi ruangan yang kurang memadai, koleksi yang hanya terdiri atas buku-buku teks pelajaran, hingga tiadanya tenaga pengelola perpustakaan atau pustakawan.
Selain itu, penggunaan 5% dana bantuan operasional sekolah (BOS) masih berfokus pada pengadaan buku teks pelajaran dan bukan pada buku bacaan yang mampu menumbuhkan minat baca siswa.

Fenomena itu menunjukkan penguatan budaya literasi di sekolah bukan hanya menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan guru, melainkan juga tanggung jawab seluruh elemen publik sebagai 'pengasuh' anak dalam ruang komunal. Dukungan ini menjadi penting karena Indonesia tengah mengalami darurat literasi. Minat baca siswa perlu ditumbuhkan agar mereka mencintai pengetahuan. Kemampuan membaca siswa perlu ditingkatkan bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan memahami bacaan siswa Indonesia yang terpuruk pada peringkat 64 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam tes Programme of International Student Assessment (PISA); tapi juga untuk menjadikan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat. Meningkatkan kemampuan literasi siswa menjadi cara yang efektif untuk menjamin tercapainya tujuan pendidikan nasional.

Dukungan publik

Pelibatan publik dalam gerakan literasi sekolah perlu menjadi bagian penting dari visi dan misi sekolah. Praktik di banyak negara maju membuktikan reformasi pendidikan yang hanya mengintervensi siswa dan sekolah tidak akan berlanjut dalam jangka panjang. Pelibatan publik dapat dilakukan melalui antara lain; program-program keayahbundaan (parenting), menyinergikan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, memperkuat komunikasi dan jejaring sekolah dengan pihak eksternal, menggalakkan program relawan, melibatkan elemen masyarakat dalam perencanaan kegiatan-kegiatan literasi sekolah, serta meningkatkan kolaborasi antarsekolah, alumni sekolah, dan komunitas pegiat literasi.

Program keayahbundaan bertujuan meningkatkan kapasitas orangtua sebagai figur teladan literasi. Rumah perlu menjadi lingkungan yang literat dengan figur orangtua dan anggota keluarga yang suka membacakan cerita, bercerita, membaca, berdiskusi dengan anak, dan mendengarkan pendapat mereka. Selain itu, kebijakan pelibatan keluarga dalam sekolah anak perlu mendapatkan dukungan melalui kebijakan-kebijakan yang ramah keluarga. Misalnya, lembaga pemerintahan dan swasta perlu diimbau untuk memberikan izin khusus kepada orangtua yang bekerja untuk mengantar anak pada hari pertama tahun ajaran baru, menghadiri pertemuan-pertemuan orangtua, dan menjadi relawan dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Kesadaran akan pelibatan keluarga perlu menjadi semangat dalam perancangan kebijakan. Misalnya, di beberapa negara bagian di Amerika Serikat, program pelibatan publik dan keluarga menjadi salah satu kriteria agar dana pengembangan pendidikan yang diajukan sekolah dapat disetujui.

Sinergi kegiatan belajar di rumah dan di sekolah bertujuan mencari titik temu kegiatan belajar di rumah dan di sekolah. Sinergi bisa dilakukan dengan dua arah; siswa membawa pekerjaan sekolah untuk dikerjakan di rumah dengan dibantu orangtua, dan guru mengembangkan praktik baik di rumah untuk dilakukan di sekolah. Ini bisa dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bercerita atau menuliskan kegiatannya di rumah, atau orangtua diundang untuk bercerita dan menjadi relawan membaca di sekolah. Praktik baik di rumah dapat dieksplorasi guru melalui kegiatan kunjungan ke rumah.

Untuk menjalin komunikasi dengan keluarga dan pelaku bisnis serta komunitas pegiat literasi, kapasitas sekolah perlu ditingkatkan. Sekolah perlu menganalisis kebutuhan keluarga, minat, dan ide-ide mereka tentang pengembangan kegiatan literasi, serta mempertimbangkan kendala mereka dalam berpartisipasi di kegiatan sekolah. Informasi ini perlu dipertimbangkan dalam menyusun program literasi sekolah.

Pendidik perlu mampu berkomunikasi dengan efektif, memahami bahasa lokal, dan menghargai latar belakang budaya keluarga. Untuk melibatkan alumni, pelaku bisnis, dan komunitas pegiat literasi, sekolah perlu membangun sistem informasi tentang jejaring potensial dan selalu memublikasikan kegiatan literasi sekolah pada jejaring sosial. Apabila perlu, sekolah dapat menugaskan liaison untuk menjalin relasi dengan pihak eksternal sekolah.

Kebijakan pendidikan perlu lebih memotivasi sekolah untuk melibatkan keluarga dan publik secara lebih kreatif. Tentunya, upaya-upaya sinergis yang sudah berjalan perlu diapresiasi, dijadikan model, dan dikembangkan dengan lebih baik lagi. Gerakan literasi sekolah tidak akan berlangsung dengan efektif tanpa dukungan masif dari publik. ●

Kamis, 26 November 2015

Buku Anak dan Identitas Indonesia di FBF 2015

Buku Anak dan Identitas Indonesia di FBF 2015

Sofie Dewayani  ;  Penulis Buku Anak; Peneliti Sastra Anak
                                           MEDIA INDONESIA, 23 November 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PERHELATAN akbar Frankfurt Book Fair (FBF) sudah usai. Lampu sorot yang menerangi panggung utama tempat Indonesia tampil sebagai tamu kehormatan telah dipadamkan. Properti pertunjukan telah dikemas. Buku-buku yang mendandani penampilan Indonesia di panggung pentas dunia itu kembali ke tempatnya semula di negeri ini. Mereka (buku-buku) meng huni sudut-sudut sunyi. Kesempatan tampil dan menjadi pusat perhatian di ajang seperti Frankfurt Book Fair ialah kemewahan bagi bukubuku produksi dalam negeri.

Realitas bagi buku-buku karya anak negeri ini ialah menghadapi kenyataan bahwa buku masih merupakan komoditas industri. Dengan tingkat minat baca dan daya beli masyarakat yang rendah, harga kertas yang terus melonjak, masalah pembajakan, dan pajak pertambahan nilai (PPN) buku, produksi buku-buku di dalam negeri masih berjuang untuk memenuhi target penjualan yang sering begitu sulit diraih. Buku anak Indonesia, terutama, masih belum menjadi produk budaya.

Realitas buku anak Indonesia tak seindah logo 17 ribu Pulau Imaji (17.000 Islands of Imagination) bernuansa monokrom yang menjadi slogan Guest of Honour tahun ini. Dengan merepresentasikan kemajemukan Indonesia, logo-logo ini merupakan rangkaian titik-titik piksel yang secara imajinatif membentuk gambar candi, reog, gunungan wayang, dan artefak lain yang sangat Indonesia. Saat tersebar di pusat-pusat keramaian dan Terminal S-Bahn, logo-logo ini mengundang pengamatan multiperspektif dan imajinasi kreatif.

Imaji ini mengingatkan kita bahwa Indonesia, sebagaimana tutur Benedict Anderson (1991), ialah sebuah imagined community. Meskipun mungkin tak mengenal atau bahkan bertemu satu sama lain, kita mengembangkan ikatan kebangsaan dengan membayangkan Indonesia sebagai komunitas yang kohesif. Melalui logo-logo itu, Indonesia tampil dalam wajahnya yang majemuk, terbuka, dan kreatif. Sayangnya identitas itu kurang tecermin dalam buku-buku anak Indonesia yang dipajang di pentas Frankfurt Book Fair.

Buku bacaan ialah buah pikir yang merefleksikan perjalanan sebuah bangsa dalam berproses memaknai jati dirinya yang unik. Melalui buku, sebuah bangsa membuka dirinya untuk dipelajari dan dimengerti bangsa lain. Buku ialah karya intelektual yang merekam jejak pemikiran seseorang yang dibesarkan dalam konteks budaya tertentu.

Dengan demikian, buku ialah produk budaya yang merekam proses pencarian jati diri bangsa. Bagi pembaca anak, buku bacaan membantunya untuk memahami identitasnya, siapa dia dan di mana ia tumbuh dan dibesarkan. Sebuah buku akan membantu anak untuk memahami lingkungan sosial dan bangsanya.

Identitas kebangsaan memang seharusnya tidak dipahami secara stagnan. Indonesia tumbuh secara dinamis sebagai bangsa, begitu pun anak-anak Indonesia. Anak tumbuh dalam lingkungan sosial yang menghadirkan tantangan demi tantangan. Kemiskinan struktural, bencana alam akibat menurunnya kualitas lingkungan, dan sistem pendidikan yang semakin kompetitif ialah realitas modern yang mereka akrabi. Di samping itu, keragaman budaya menuntut anak-anak untuk piawai menyesuaikan diri. Adakah multikulturalisme, isu sosial, dan lingkungan terartikulasikan dengan baik dalam bacaan anak kontemporer? Sayangnya tidak.

Yang termasuk dalam dinamika itu ialah tantangan pasar global. Penetrasi budaya pop seperti Disney dan Pixar menghantarkan tokoh-tokoh idola baru dunia anak, seperti Putri Elsa dan Putri Sovia ke penjuru dunia. Buku-buku bergambar diproduksi dengan gaya ilustrasi ala Disney. Di Indonesia, figur-figur putri dan tokoh-tokoh Disney ini mengalami rekontekstualisasi. Tokoh-tokoh rekaan ini berkulit putih dan berpipi semu merah seperti tokoh populer itu. Bedanya, mereka berkerudung dan berbusana menutup aurat. Imitasi dan rekontekstualisasi tentu ialah hal yang sangat wajar dalam industri.

Yang diperlukan anak Indonesia ialah ragam bacaan yang kaya yang terdiri atas buku terjemahan, buku anak mengusung budaya populer, dan buku-buku bernuansa budaya lokal yang membantu mereka memaknai identitas. Tampilnya Indonesia di panggung utama FBF 2015 memicu rasa penasaran beberapa penerbit asing untuk mengetahui wujud buku anak yang autentik Indonesia. Sayangnya mereka tak menemukan wujud itu.

Orient Verlag, sebuah penerbit Jerman, menganalisis bahwa buku-buku anak Indonesia masih berorientasi pada mass market, dengan cerita dan gaya ilustrasi yang berkiblat pada Disney. Indonesia tertinggal jauh dari Spanyol, India, dan Iran yang memiliki beberapa penerbit kecil yang fokus menerbitkan buku-buku dengan ilustrasi berkualitas yang sangat menonjolkan ornamen budaya khas bangsa mereka. Buku-buku seperti ini tentunya diproduksi dengan investasi waktu dan dana yang memberikan keleluasaan bagi terciptanya sebuah produk budaya bercita rasa tinggi.

Keingintahuan pembaca asing terhadap buku autentik Indonesia menjelaskan alasan buku-buku anak kontemporer bernuansa budaya Indonesia yang diterbitkan Yayasan Litara dan buku adaptasi cerita rakyat dari KPBA (Komunitas Pecinta Bacaan Anak) yang dijual di depan paviliun Indonesia habis terjual dalam sekejap. Dua penerbit ini ialah yayasan nirlaba yang tidak memasarkan buku secara massal di toko-toko buku besar karena tingginya rabat toko-toko buku ini.

Meskipun telah memenangi beberapa ajang kompetisi buku anak tingkat Asia dan dunia, buku-buku itu terus diproduksi dalam sunyi dan didistribusikan di luar rimba industri buku anak. Upaya itu membuktikan bahwa industri produksi budaya (cultureproducing industry) berusaha bertahan dalam marjin dunia perbukuan. Entah sampai kapan ini akan bertahan.

Tulisan ini tentunya tidak menafikan peran industri perbukuan Indonesia di arena global. Di FBF 2015, Indonesia masih menjadi kiblat buku-buku anak bernuansa religius. Fakta bahwa buku-buku anak Indonesia diterjemahkan dan didistribusikan di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Pakistan, Turki, dan Malaysia merupakan catatan pencapaian yang membanggakan. Namun, hal ini menunjukkan bahwa industri buku di Indonesia masih berfokus pada memproduksi buku sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai moral. Sekali lagi, buku anak belum menjadi produk budaya literasi yang mengembangkan kemajemukan.

FBF 2015 meninggalkan satu pertanyaan penting. Apakah dunia produksi buku anak benar-benar ingin menciptakan segmen pembaca yang literer? Pertanyaan ini terdengar seperti utopia. Saat ini, penerbit buku anak mati-matian harus bertahan dengan--mau tak mau--memperlakukan penulis dan ilustrator cerita anak sebagai buruh industri. Penulis dan ilustrator harus bisa bekerja cepat memproduksi tema cerita dan gaya ilustrasi yang diprediksi akan disukai konsumen.

Sementara itu, dikabarkan, di negeri jiran Malaysia, pemerintah bertindak proaktif mendukung produksi buku-buku anak bernuansa budaya lokal--tema-tema yang kurang diminati penerbit besar--untuk didistribusikan di perpustakaan dan sekolah di penjuru negeri. Di Indonesia, penerbit buku anak harus cukup puas ditampilkan di panggung gemerlap sesekali untuk kemudian berjibaku sendiri di sudut sepi.

Rabu, 29 Juli 2015

Literasi dan Kelisanan (1)

Literasi dan Kelisanan (1)

Sofie Dewayani ;  Penulis; Penggiat Literasi; Ketua Yayasan Litara
                                                MEDIA INDONESIA, 27 Juli 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

BANYAK yang tak mengetahui bahwa trilogi Pulau Buru yang terkenal itu awalnya ialah sebuah kisah tutur. Pramudya mengisahkannya kepada sesama tawanan Pulau Buru karena dia tidak diizinkan memegang kertas dan pena. Merasa terhibur dan sekaligus terinspirasi, para tawanan lalu menyebarkan kisah ini dari mulut ke mulut. Ketika akhirnya diizinkan untuk memiliki kertas dan pena, Pramudya cepat menuliskan kisah-kisah itu dari ingatannya.

Trilogi Pulau Buru menunjukkan bahwa tradisi menulis dan kelisanan itu berkelindan. Menulis dan berbicara memiliki metode yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama menjadi media untuk mengartikulasikan gagasan. Literasi selalu berkembang dalam konteks kelisanan. Sebuah karya tulis dibuat dari gagasan yang didialogkan dengan orang lain, lalu tumbuh dan disempurnakan dengan pertukaran pemikiran. Setelah selesai ditulis, sebuah karya terus akan menjadi bahan dialog. Dalam proses memahami sebuah karya, seseorang perlu berdialog dan berbicara. Sayangnya, proses literasi yang diakrabi kelisanan, dan tradisi kelisanan yang bersumber kepada bacaan ini tidak disemai dan dipupuk di sekolah-sekolah. Literasi di sekolah menjadi kering dan tidak diminati karena tidak ditumbuhkan dalam kehangatan tradisi kelisanan. Tidak mengherankan apabila anak-anak kita tidak memiliki keterikatan emosi dengan literasi. 

Kebanyakan mereka tidak terbiasa menulis dan kurang gemar membaca.
Kegemaran membaca biasanya tumbuh dari kecintaan terhadap kisah. Sebelum mengenal bacaan, anak-anak dibesarkan dengan tutur dari orang-orang terdekat mereka. Anak-anak mencintai kisah, dan ketika mereka dapat membaca, kecintaan ini menemukan muaranya dalam buku-buku bacaan. Anak-anak yang dibesarkan dengan limpahan kisah dan buku-buku, akan tumbuh dengan memori tentang membaca yang menyenangkan. Anakanak seperti ini biasanya menjadi pembelajar sepan jang hayat.

Kebanyakan anak-anak tak begitu beruntung. Ketika memasuki sekolah, mereka harus melafalkan bacaan tanpa makna seperti “Ini ibu Budi, ini bapak Budi“ yang harus dieja sempurna.Mereka dinilai dari seberapa baik dan lancar mereka mengeja. Membaca terkonversi menjadi angka-angka nilai yang menentukan prestasi akademik mereka. Ketika mereka dapat membaca secara mandiri, mereka harus membaca soal-soal ujian dan menjawabnya dengan benar, juga buku-buku teks pelajaran yang membosankan.Buku-buku cerita yang menarik jarang mereka temukan. Seandainya buku-buku itu tersedia, mereka tak sempat membacanya karena buku-buku itu dianggap tak relevan dengan persiapan untuk ujian.Pelajaran membaca di sekolah mungkin dapat menjadikan anak mampu mengeja. Namun, ia gagal untuk menumbuhkan minat baca. Rendahnya minat baca dan kemampuan untuk memahami bacaan (seperti dilansir oleh tes PISA 2013) tampaknya terkait dengan tiga hal berikut ini.

Hilangnya tradisi

Membacakan buku kepada anak sering dianggap sebagai kegiatan praliterasi belaka. Artinya, buku dibacakan kepada anak semata untuk mengenalkan mereka kepada konsep cetak, format bacaan, alfabet, dan bahasa tulis. Ketika anak sudah bisa mengeja tulisan, mereka digegas untuk dapat membaca secara mandiri. Padahal, membacakan buku juga berfungsi untuk menghidupkan bacaan, menggugah minat anak terhadap bacaan, dan mempererat ikatan emosional anak dengan orang dewasa. Hal ini penting di era modern ketika relasi anak dengan orang dewasa (guru, orangtua, dan anggota keluarga lainnya) diuji dengan kehadiran perangkat teknologi yang sungguh menyita waktu dan perhatian.

Di kelas menulis yang saya ampu di Institut Teknologi Bandung, saya masih membacakan buku untuk mahasiswa saya. Di angket yang mereka isi di akhir semester, mahasiswa tingkat sarjana biasanya menyebutkan saat-saat dibacakan buku sebagai waktu favorit mereka. Buku-buku anak bergambar yang saya bacakan kepada mereka itu menjadi media bagi mereka untuk belajar lebih dalam tentang aspek-aspek penulisan yang kami diskusikan. Mereka juga belajar bahwa sumber belajar tidak melulu berupa buku teks kuliah saja. Untuk mahasiswa pascasarjana, saya membacakan nukilan novel, buku, atau artikel jurnal yang menarik. Nukilan-nukilan ini kemudian menjadi amunisi diskusi kami.

Ketika dibacakan, sebuah teks tidak hanya menjadi menarik, tetapi juga ia menjadi hidup dan relevan bagi kehidupan siswa. Teks yang didiskusikan mendapatkan pemaknaan secara lebih luas dan mendalam karena ia diperkaya oleh pengalaman dan penghayatan pembacanya. Karena itu, membacakan buku tidak semata dilakukan untuk mengajari membaca atau menyampaikan kisah kepada mereka yang belum bisa membaca. Melalui membacakan buku, seorang pengajar memberi contoh proses ‘membaca’ teks secara reflektif, analitis, dan kritis.

Terlalu digegas

Saat ini, anak-anak digegas untuk dapat mengeja sejak dini agar mereka dapat membaca dengan mandiri secepat mungkin. Hal ini mereduksi pengertian membaca hanya pada kegiatan mengeja dan membaca dengan fasih, belum pada memahami, menghayati, apalagi menganalisis, mengkritisi, dan merespons bacaan secara verbal dan tertulis. Siswa perlu mendapat bimbingan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut. Karena itu, selain membaca mandiri, mereka perlu mendapatkan bimbingan dalam membaca di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Selasa, 06 Januari 2015

Mencanangkan 2015 sebagai Tahun Kebangkitan Literasi

Mencanangkan 2015 sebagai Tahun Kebangkitan Literasi

Sofie Dewayani  ;  Ketua Yayasan Litara; Pegiat gerakan Ayo Membaca, Indonesia!
MEDIA INDONESIA,  05 Januari 2015

                                                                                                                       


TAHUN 2014 ditutup dengan gonjang-ganjing seputar pengalihan Kurikulum 2013 ke KTSP. Emosi reaktif guru, kerisauan orangtua, dan kebingungan pemerintah lokal menunjukkan bahwa kurikulum masih menjadi jantung pendidikan nasional kita. Kurikulum berfungsi laiknya buku manual untuk mengoperasikan mesin-mesin yang mencetak produk-produk dengan spesifi kasi yang seragam. Sekolah merupakan sebuah industri raksasa yang beroperasi secara mekanistis. Produk mekanisasi itu bernama siswa.

Tahun 2015 seharusnya menjadi titik balik untuk memanusiakan guru. Guru bukanlah robot pengoperasi mesin yang potensi kreatifnya bisa dikebiri buku manual bernama kurikulum. Guru membutuhkan kurikulum yang memandu, bukan mendikte. Kurikulum seharusnya memberikan ruang yang leluasa bagi guru untuk mengambil keputusan, untuk memilih dan memilah materi yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan siswa.

Pemerintah perlu menjadikan 2015 sebagai momen untuk memberdayakan guru melalui destandardisasi kurikulum, program-program pendampingan, membantu guru untuk mengakses bahan ajar di luar buku teks, dan mendorong tumbuhnya materi dan bahan ajar (resource) yang variatif untuk mendorong kreativitas guru. Di 2015, guru perlu menjadi komunitas literat yang kritis dan berdaya. Pemberdayaan tersebut memerlukan dukungan sistem, yang tidak hanya terdiri atas pemerintah, tetapi juga semua elemen pegiat literasi dan perbukuan.

Terdapat alasan lain mengapa 2015 layak dicanangkan sebagai Tahun Kebangkitan Literasi. Dunia perbukuan Indonesia menjadi sorotan di panggung dunia dalam perannya sebagai guest of honour dalam ajang Frankfurt Book Fair Oktober 2015. Pemerintah tengah menyiapkan bukubuku terbaik dan representatif untuk mencitrakan Indonesia di mata dunia. Ironisnya, di ranah buku anak, buku-buku yang merangkum Indonesia dalam cerita yang berkualitas dan elemen visual yang baik tak banyak jumlahnya.

Rendahnya kualitas dan keragaman buku anak menunjukkan bahwa dunia perbukuan belum dapat berperan maksimal sebagai bahan ajar pendidikan, apalagi meningkatkan minat baca. Mengadopsi istilah yang dipopulerkan Anies Baswedan, gejala itu menandakan gawat darurat literasi anak di Indonesia. Literasi dapat dikatakan sekarat kalau tak berbenah dan meningkatkan kualitas diri. Ia gagal apabila tidak memiliki visi edukasi; menyadarkan anak akan misinya menjadi manusia sejati.

Salah satu contoh kesenjangan reading for learning dan reading for pleasure dapat ditengarai dalam literasi awal. Di Indonesia, anak belajar membaca dengan mengeja suku kata tanpa makna. Ba–ba–ba. Bi-bu–bo. Kefasihan membaca ditentukan seberapa cepat anak mengeja tanpa cela. Ketertarikan anak terhadap teks dan isi cerita (yang kemudian dapat berkembang menjadi rasa ingin tahu dan kegemaran membaca) belum menjadi benchmark atau kriteria kesuksesan literasi. Kurikulum mensyaratkan membaca dengan intonasi yang baik (reading with fluency) dan kemampuan anak untuk menceritakan isi teks kembali (yang berkaitan dengan reading comprehension) sebagai tonggak pencapaian literasi. Setelah itu, anak digegas untuk meraih capaian berikutnya. 
Tak ada waktu untuk memilih bacaan yang mereka suka dan menganalisisnya. Sekolah dan kurikulum yang kaku telah gagal mengembangkan minat baca anak sejak belia.

Ketika anak beranjak dewasa, buku-buku yang menarik minat mereka tak banyak tersedia. Buku harus bersaing dengan ragam aplikasi dan fitur teknologi. Di sekolah, buku-buku pelajaran melulu didominasi teks yang berceramah tanpa jeda, tanpa bersusah-payah menarik minat pembacanya. Ironisnya, di banyak sekolah, buku-buku fiksi yang anak sukai masih disikapi dengan apriori. Apabila terbawa ke sekolah, buku-buku novel dan komik itu akan tersita dalam razia.

Selama bangsa ini menganggap standardisasi sebagai satusatunya cara untuk memajukan pendidikan, segala daya dan upaya akan dicurahkan untuk menciptakan banyak standar. Kurikulum yang rigid, standar evaluasi, dan buku teks pelajaran dengan instruksi detail yang seragam sesungguhnya bertentangan dengan semangat literasi. Tidak seharusnya guru diatur teks bernama kurikulum. Literasi seharusnya memampukan anak dan guru untuk memiliki agensi dan otoritas terhadap teks. Misalnya, guru dapat memilih teks yang sesuai dengan target capaian dan relevan dengan latar belakang anak didiknya.
Perlunya pemihakan
Menciptakan lingkungan literat yang beragam dan mem perkaya me rupakan sebuah SENO hal yang niscaya. Dalam pendidikan literasi yang memberdayakan, keterkaitan perlu terjalin antara kegiatan membaca dan menulis.Hal itu dilandasi dua premis. Pertama, dalam kegiatan menulis, anak perlu dibebaskan untuk memilih dan menulis topik yang disukainya.
Kedua, kegiatan menulis anak perlu diletakkan dalam konteks kegiatan membaca. Anak seharusnya diminta merespons teks bacaan, dan apabila perlu, mendekonstruksinya. Sayangnya, keterkaitan tersebut tidak tercipta dalam pendidikan literasi saat ini. Kegiatan menulis di sekolah sering berfungsi untuk mengetes pemahaman anak terhadap teks. Di jenjang literasi awal, pendidikan literasi bahkan tereduksi menjadi kegiatan membaca. Menulis masih dianggap sebagai aktivitas ‘sakral’ untuk meminimalisasi kesalahan eja dan mengekspresikan ide dengan struktur yang sempurna, yang tentu terlalu rumit untuk pembaca pemula.
Ketersediaan beragam teks di luar buku pelajaran tidak hanya membantu siswa menjadi literat secara kritis dan kreatif, tetapi juga mendorong mereka untuk menemukan gairah (passion) terhadap literasi. Satu upaya awal untuk menciptakan itu ialah pemerintah perlu berperan lebih besar dalam memperkaya resource pendidikan ini. Dalam kondisi gawat darurat literasi, pemerintah seharusnya tidak menyerahkan produksi buku anak sepenuhnya kepada kendali pasar.
Pemerintah perlu mengupayakan keragaman dengan mendorong tumbuhnya buku-buku anak yang mengangkat tema-tema multikulturalisme, sains, sosial kemanusiaan, dengan standar penjenjangan yang kompatibel dengan pendidikan literasi (tingkat awal hingga tingkat lanjut), sains, dan matematika di sekolah. Upaya itu tentu tidak semata-mata menghalalkan proyek-proyek pengadaan buku ala inpres di masa Orde Baru yang saat itu menghasilkan buku-buku tanpa supervisi konten sehingga tidak berkualitas, rawan korupsi, dan tidak terdistribusi dengan baik. besar dalam memperkaya resource pendidikan ini. Dalam kondisi gawat darurat literasi, pemerintah seharusnya tidak menyerahkan produksi buku anak sepenuhnya kepada kendali pasar.
Pemerintah perlu mengupayakan keragaman dengan mendorong tumbuhnya buku-buku anak yang mengangkat tema-tema multikulturalisme, sains, sosial kemanusiaan, dengan standar penjenjangan yang kompatibel dengan pendidikan literasi (tingkat awal hingga tingkat lanjut), sains, dan matematika di sekolah. Upaya itu tentu tidak semata-mata menghalalkan proyek-proyek pengadaan buku ala inpres di masa Orde Baru yang saat itu menghasilkan buku-buku tanpa supervisi konten sehingga tidak berkualitas, rawan korupsi, dan tidak terdistribusi dengan baik.
Beberapa Langkah Strategis
Kebangkitan literasi dapat terjadi melalui peningkatan kualitas buku, penguatan peran fasilitator, dalam hal ini orangtua, guru, dan komunitas, dan pemaknaan baru terhadap kegiatan membaca dan menulis. Membangun komunitas yang gemar membaca dan menciptakan individu yang literat dapat dilakukan dengan mengurangi kesenjangan antara reading for learning dan reading for pleasure. Beberapa langkah strategis untuk memperkaya sumber daya literasi dan mereformasi pendidikan literasi di antaranya:
1. Membentuk lembaga independen beranggotakan pustakawan, pendidik, akademisi, pakar, dan sastrawan, untuk menetapkan rujukan literer sastra anak melalui pemberian anugerah sastra anak dan sosialisasi daftar buku rekomendasi. Amerika Serikat telah melakukan hal itu melalui American Library Association (ALA) dengan penghargaan Newberry dan Caldecott yang bergengsi. Demikian pula National Book Development Council of Singapore (NBDCS) di Singapura, sebuah lembaga yang aktif mengadakan festival literasi dan penganugerahan sastra anak setiap tahun.
2. Memberikan subsidi untuk mendukung produksi buku-buku anak yang berkualitas tinggi, yang selama ini tidak diproduksi penerbit komersial karena dianggap kurang laku (low-sell). Di Amerika Serikat, buku-buku anak pemenang penghargaan yang kurang diminati pasar tetap diproduksi karena diapresiasi komunitas akademik dan digunakan di sekolah. Buku-buku itu didistribusikan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah atau ditawarkan kepada sekolah dengan harga murah, dilengkapi dengan panduan untuk mengintegrasikannya dengan pelajaran bahasa, sains, dan matematika.
3. Mendukung adaptasi buku dengan teknologi untuk meningkatkan aksesibilitasnya ke penjuru negeri. Selain itu, rekonstruksi konten buku dalam format multimedia dan fitur yang interaktif juga bertujuan merespons kebutuhan dan minat anak di era digital ini.
4. Mendukung dan mendampingi guru-guru dalam memilih dan mendayagunakan bahan ajar di luar buku teks pelajaran dan menerapkannya di dalam kelas dengan metode yang kreatif dan inovatif.
Pelatihan-pelatihan untuk guru yang hanya bertujuan mencekoki guru dengan aspek teknis implementasi kurikulum sesungguhnya merupakan degradasi profesi keguruan. Kita membutuhkan lebih banyak kisah kesuksesan tentang pengalaman dan kepakaran guru di dalam ruang kelas; tentang bagaimana mereka mendayagunakan bahan ajar dan menghadapi kebutuhan siswa yang beragam. Kita membutuhkan lebih banyak subjektivitas guru dan mendukung mereka untuk menemukan gairah (passion) dalam mengajar.
Sekolah tentu bukan satu-satunya lokus kebangkitan literasi. Gerakan literasi juga perlu terjadi dalam keluarga dan komunitas. Di samping langkah strategis di atas, pemerintah perlu mendukung inisiatif-inisiatif kampanye literasi di masyarakat melalui rumah baca dan perpustakaan komunitas. Hanya melalui upaya sinergis dan kolaboratif di antara elemen pendukung elemen literasi, kebangkitan literasi dapat terwujud pada 2015.  

Selasa, 03 Desember 2013

Belajar Literasi dari Delhi

Belajar Literasi dari Delhi
Sofie Dewayani  ;   Penulis, Peneliti, dan Pegiat Literasi Anak
MEDIA INDONESIA,  02 Desember 2013

  

INI bukan Jakarta. Ini Delhi,” batin saya di tengah deru tuk-tuk (semacam bajaj) dan jerit klakson yang membelah jalan-jalan gersang dan berdebu. Saat menatap bus-bus kusam dan mobil tua yang seperti berlomba melaju kencang, saya membayangkan Jakarta di era 1970-an. Ketika itu, geliat modernitas masih mewujud dalam segelintir gedung mewah. Mobil-mobil mengilap pun belum melimpah ruah. Di Delhi ini, entah mengapa, kemiskinan tampil lebih nyata jika dibandingkan dengan di Jakarta. Gedung-gedung tua teronggok mirip reruntuhan, tetapi menampung sekian keluarga. Kuil tempat peribadatan kusam seperti terabaikan. Trotoar ialah toilet umum raksasa sehingga bau urine begitu saja menguar. Sungguh tak terbayangkan, negara berkembang berpopulasi padat ini menghasilkan pemenang Hadiah Nobel seperti Rabindranath Tagore, Amartya Sen, dan Subrahmanyan Chandrasekhar. Tak ternalar juga bagaimana industri perfi lman Bollywood dan teknologi informasi di Bangalore melambungkan nama negara yang sedang berjuang mengentaskan rakyat dari kemiskinan ini.

India ialah negara yang sarat kontradiksi. Di sebuah taman kota yang juga melingkupi Indira Gandhi Centre of Arts, di sebuah Sabtu siang akhir November lalu, saya melihat wajah India yang lain. Saya merasakan gairah yang dipancarkan ratusan, bahkan mungkin ribuan, pasang mata anak dan orang dewasa yang datang berduyun-duyun yang seperti tak sabar ingin bertemu sesuatu yang telah lama mereka tunggu. Nama gairah itu ialah rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap buku.

Saya mendapat kehormatan menjadi bagian dari seratus pembicara mancanegara dalam Festival Sastra Anak Bookaroo di New Delhi. Bersama seorang penulis buku anak Indonesia, Eva Nukman, tugas kami sebagai pembicara tidaklah mudah. Kami harus menghidupkan buku. Di hadapan anak-anak yang antusias dan terlihat menyimpan banyak pertanyaan di benak mereka, tugas itu terasa semakin mendebarkan. Lihatlah ketika mereka berebut mengacungkan tangan untuk bertanya kepada Cornelia Funke, penulis beberapa novel bestseller seperti Inkheart, Inkspell, dan Thief Lord, yang sudah difilmkan produsen Hollywood.

Pertanyaan pertanyaan kritis seperti, “Apakah bad writing itu menurut Anda?“ menggiring diskusi kepada topik seperti bahwa penulis yang baik tidak akan menulis sesuatu hanya untuk menyenangkan pasar, untuk membuat buku yang laku dan dibaca banyak orang, apalagi sekadar mendapatkan label bestseller

Di pojok lain, di bawah pohon rindang, Rukhsana Khan, penulis muslim asal Kanada, menjawab pertanyaan dan berdiskusi tentang bagaimana mengangkat topik-topik sensitif seperti diskriminasi ras, agama, dan pencarian identitas diri dalam cerita. Rasanya saya tak percaya topik-topik semacam itu didiskusikan secara artikulatif dengan pembaca berusia 10 hingga 12 tahun yang, jika ditilik dari seragam sekolah dan penampilan mereka, berasal dari beragam kalangan di sana.

Kerumitan di India

Antusiasme seperti itu menjalari taman kota yang luas itu. Di sebuah pojok yang agak terik, anak-anak berusia 6-10 tahun berebut menuangkan imajinasi mereka tentang If only I could fly di sebidang kertas seukuran tembok di bawah arahan ilustrator Jepang Naomi Kojima. Sementara itu, saya dan Eva memilih audiens berumur 8-10 tahun. Kami membacakan buku karya Eva yang bercerita tentang musik tradisional Indonesia; angklung, saluang, gamelan, dan sasando, yang ribut memperdebatkan siapakah di antara mereka yang paling hebat. Kami lalu membagikan angklung kepada audiens dan mengajak mereka memainkan nya. 

Di penghujung acara, guru-guru dari beberapa sekolah menghampiri kami dan bertanya apakah kami mau mengunjungi sekolah-sekolah mereka dan melakukan hal yang sama. Mereka sedang tidak berbasa-basi. Kecintaan mereka terhadap buku, pengetahuan, dan literasi telah membuat saya membungkukkan badan dalam-dalam kepada bangsa ini.

Dalam hitungan angka, prestasi literasi India sesungguhnya tidak sebaik Indonesia. Pada 2011, tingkat kemelekhurufan negara ini hanya sebesar 74%, jauh di bawah tingkat rata-rata dunia yang mencapai 84% (pada tahun yang sama, Indonesia sudah di atas 90%). Dalam sorotan diskriminasi gender dan perkosaan yang marak akhir-akhir ini di India, kesenjangan tingkat kemelekhurufan antara laki-laki dan perempuan menjadi isu yang serius. Itu tentu menambah kerumitan masalah fasilitas pendidikan yang tidak merata, rasio guru dan murid yang tidak memadai, kekerasan terhadap murid di sekolah, juga kurikulum yang dianggap kuno karena masih menitikberatkan pada rote learning (teknik menghafalkan materi dengan pengulangan). Dengan semua kompleksitas itu, saya melihat dua elemen akan dapat mengentaskan rakyat dari masalah pendidikan di negara ini dengan segera. Dua elemen itu ialah murahnya harga buku--yang terwujud karena intervensi pemerintah--dan peran aktif kelas menengah India dalam gerakan literasi. Dua upaya itu mampu menjadikan kecintaan terhadap buku dan pengetahuan sebagai spirit gerakan reformasi pendidikan di India.

Beberapa tahun belakangan, India menjadi pasar potensial penerbit-penerbit di negara Barat. Sekitar 60% outsourcing internasional penerbit-penerbit di negara Barat dilakukan di India. Penerbit-penerbit besar seperti Penguin dan Putnam memiliki rekanan di negara itu. Outsourcing itu tentunya tidak dilakukan tanpa alasan. Hingga 2011, statistik mencatat bahwa pembelian buku melonjak secara eksponensial, dengan lonjakan tertinggi dialami genre fiksi (49%), nonfiksi (36%), dan buku anak (27%). Kegemaran membaca terjadi di semua umur. 

Sebanyak seperempat dari populasi remaja di bawah usia 17 tahun mengidentifikasi diri mereka sebagai `kutu buku'. Kemampuan berbahasa Inggris orang India mungkin ditengarai sebagai salah satu faktor yang memudahkan mereka untuk menyerap buku-buku berkualitas yang diterbitkan negara-negara Barat. Namun, sesungguhnya, persentase penduduk yang bisa berbahasa Inggris hanya mencapai sekitar 10% dari seluruh populasi. Selain itu, upaya penerjemahan buku ke bahasa Hindi pun terjadi secara intensif. Jadi, penguasaan bahasa Inggris tidak selalu relevan dengan kegemaran membaca.

Harga murah

Upaya kelas menengah India dalam gerakan literasi terasa menonjol dengan kehadiran penerbit seperti Pratham Books dan Tara Books.

Pratham Books memproduksi buku anak berbahasa Inggris dengan kualitas bagus dan mendistribusikannya dengan harga murah (seharga sekitar 25 Rs atau sekitar Rp5 ribu) ke daerah-daerah terpencil di India.

Tara Books memproduksi buku-buku anak dengan cita rasa seni yang tinggi dengan mengakomodasi kekayaan budaya lokal. Penerbit itu dikenal telah menjadi langganan kompetisi sastra anak internasional. Dua penerbit ini tentu `layak' dipersandingkan dengan kebanyakan penerbit di Indonesia yang cenderung menerbitkan buku-buku yang cepat diserap pasar untuk bisa bertahan.

Kegemaran membaca tidak mungkin tumbuh tanpa upaya. Kelas menengah di India tampaknya paham sepenuhnya bahwa literasi tidak hanya terkait dengan kemampuan membaca dan memahami teks. Literasi, dalam upaya menciptakan keterkaitan antara diri dan teks, dan usaha membangun analisis kritis dalam proses memahami teks, telah berhasil dihidupkan festival sastra seperti Bookaroo dan Jaipur Litfest yang terkenal itu. Dalam festival-festival ini, buku tidak hanya dipamerkan, dipajang di rak-rak kaku, atau ditimbun dalam kotak besar bertuliskan `obral'. Buku tidak hanya dipromosikan lewat acara jumpa penulis dan diskusi buku.

Di festival seperti ini, penulis tidak hanya menceritakan proses kreatif dan semua hal baik hanya untuk membuat buku yang ditulisnya layak dibeli. Dalam kegiatan literasi yang dialogis, buku adalah teks yang tidak pernah final. Penulis harus memiliki kebesaran hati untuk menyajikan karakter, kisah yang ditulisnya, dan membiarkan pembaca menginterpretasi, mengkritisi, dan menuntaskannya. 

Penulis menyempurnakan kemampuan menulisnya dengan berinteraksi dan mendapatkan masukan dari pembaca, bahkan mereka yang masih sangat muda, seperti di Bookaroo ini. Dengan kompleksitas masalah pendidikan, kurikulum yang dianggap terlalu membebani, dan kemiskinan yang mendera, setidaknya anak-anak India memiliki buku-buku bermutu yang begitu dekat dan menjadi sahabat yang mengasah daya kritis serta menghibur mereka.