Tampilkan postingan dengan label Hilmi Amin Sobari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hilmi Amin Sobari. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 September 2018

Hijrah, Hijriyah, dan Ingatan Bulan September

Hijrah, Hijriyah, dan Ingatan Bulan September
Hilmi Amin Sobari ;  Esais;  
Alumni Ponpes MWI Kebarongan, Banyumas, Jawa Tengah
                                                DETIKNEWS, 10 September 2018



                                                           
September 622 M. Setelah kurang lebih berdakwah selama 13 tahun di Makkah, Nabi Muhammad memutuskan untuk berhijrah setelah menerima perintah langsung dari Tuhan. Selama tinggal di kota kelahirannya itu, ia berkali-kali menerima tekanan baik fisik maupun mental dari kaumnya, Quraisy. Tekanan yang sama dirasakan oleh para sahabatnya yang memutuskan menerima ajakan beliau untuk bertauhid. Beberapa di antaranya bahkan harus merelakan nyawanya seperti kedua orangtua Ammar bin Yassir, Sumayyah dan Yasir.

Beratnya tekanan demi tekanan itu dicatat di dalam Alquran QS Al-Anfal (8):30. "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya."

Dan, pada puncaknya adalah upaya pembunuhan kepada beliau pada bulan itu. Nabi Muhammad sebelumnya sudah memerintahkan para sahabat berhijrah terlebih dahulu. Di Makkah hanya tersisa beliau, sahabat Abu Bakar dan saudara sepupunya Ali bin Abi Thalib. Tempat yang ditujunya terletak di sebelah utara kota Makkah, berjarak sekitar 600 km. Kota itu dulunya dikenal sebagai sebuah oasis di tengah padang pasir yang lebih akrab disebut dengan nama Yatsrib. Yang kemudian diganti namanya menjadi Madinatun Nabi, kotanya Nabi. Lebih populer dengan sebutan Kota Madinah.

Terdapat kisah bahwa para tetua suku di Makkah berkumpul merencanakan pembunuhan itu. Karena adat tuntut-balas yang berlaku, maka setiap suku memutuskan untuk mengirimkan pemuda terbaiknya sebagai algojo. Dengan begitu jika keluarga Nabi hendak menuntut balas atas darah yang tertumpah maka mereka harus berhadapan dengan semua suku. Yang tentu saja hal itu sulit dilakukan.

Mereka merencanakan tapi Tuhan sebaik-baiknya pembuat rencana. Tuhan menyelamatkan Nabi dari upaya pembunuhan itu. Bersama dengan Abu Bakar, sahabatnya yang paling jujur dan setia dan kelak selalu menjadi wakilnya hingga menggantikannya sebagai khalifah pertama umat Islam, mereka berjalan kaki menembus gelapnya malam. Pengejaran pun dilakukan oleh para eksekutor itu. Namun, keduanya selamat sampai ke Madinah dan disambut meriah oleh para sahabat yang lebih dulu berhijrah dan juga penduduk Madinah yang telah berikrar menjadi pelindung dan pendukung Nabi.

Bertahun-tahun kemudian. Nabi telah wafat meninggalkan kegemilangan sejarah Islam. Khalifah Abu Bakar pun telah wafat dan digantikan oleh sahabat utama yang lain, Umar bin Khattab. Khalifah kedua dalam sejarah Islam dari 4 khalifah yang termasuk khulafa-ul-rasyidin itu dikenal sebagai pemimpin yang meletakkan fondasi administrasi modern. Salah satunya adalah pembuatan kalender Islam atau yang saat ini dikenal dengan kalender hijriyah.

Suatu kali Khalifah Umar bin Khattab mengirimkan surat kepada Abu Musa Al-As'ari, gubernur Basrah, bawahannya. Sang gubernur mengeluh kepada Umar karena surat-surat itu tidak bertanggal. "Telah sampai kepada kami surat-surat dari Anda, tanpa tanggal." Abu Musa kebingungan karena tanpa adanya penanggalan ia kesulitan mengadministrasi surat-surat itu sekaligus memverifikasi waktunya.

Mendengar hal itu Umar bin Khattab segera mengumpulkan para sahabat Nabi yang masih hidup dan meminta saran. Berbagai usul mengemuka. Paling tidak dicatat ada 4, yaitu penanggalan dimulai sejak kelahiran atau kematian Nabi, pengangkatan kenabian yaitu ketika Nabi berusia 40 tahun, menggunakan kalender yang saat itu sudah ada yaitu kalender Romawi, atau berpatokan pada hijrah Nabi. Akhirnya, musyawarah itu menghasilkan kesepakatan bahwa awal mula kalender Islam dimulai sejak Nabi hijrah dan awal tahun ditetapkan setiap 1 Muharram.

1 Muharram Tahun 1 H bertepatan dengan 16 Juli 622 M. Peristiwa penetapan kalender hijriyah ini terjadi pada tahun 638 M atau tahun ke 17 H.

                                                       ***

Ada yang menarik pada 1 Muharram 1440 H tahun ini. Tanggal 1 bertepatan dengan bulan September. Bulan yang sama ketika Nabi berhijrah. Sebagaimana diketahui, 1 Muharram tahun 1 H bertepatan dengan 16 Juli 662 M, atau maju sekitar 2 bulan di kalender masehi karena Nabi berhijrah di bulan September 662 M. Maka menyelami apa yang terjadi pada bulan September pun menjadi hal menarik lainnya. Terutama peristiwa-peristiwa yang terjadi pada umat Islam.

Tapi, sebelum itu mari kita tengok dulu sejarah bulan September itu sendiri. September adalah bulan ketujuh dalam penanggalan Romawi awal. Namun, karena terjadi perubahan awal tahun dari bulan Maret ke Januari maka September menjadi bulan kesembilan meskipun arti dari September itu sendiri adalah ketujuh.

Beberapa peristiwa menarik yang menghiasi ingatan umat di bulan September di antaranya adalah Peristiwa G 30 S/1965 dan pemboman menara kembar WTC pada 11 September 2001 yang dampaknya mengubah peta politik dunia Islam hingga hari ini.

Kembali ke masa saya sekolah dasar di medio 90-an. Saya mendapati doktrin sejarah bahwa G 30 S adalah pengkhianatan. Masa itu Soeharto masih menjadi presiden. Narasi yang dijejalkan ke ingatan publik dapat dinikmati setiap 30 September dengan adanya kewajiban pemutaran film Pengkhianatan Gerakan G30S/PKI di televisi. Ingatan publik diindoktrinasi bahwa Soeharto adalah pahlawan yang menumpas para pengkhianat. Film yang diproduksi pada 1984 dan disutradari Arifin C. Noer itu adalah satu-satunya narasi yang ada saat itu, hingga muncul narasi lain saat Soeharto memutuskan berhenti dari jabatannya sebagai presiden setelah berkuasa selama 32 tahun, pada 1998.

Saya juga mendapati di pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) yang diajarkan di madrasah-madrasah saat itu bahwa komunisme adalah musuh Islam. Salah satu kehebatan umat Islam Indonesia, sebagaimana dinyatakan dalam pelajaran SKI, adalah kemampuan menumpas gerakan komunisme. Kita tidak diajari berpikir kritis bagaimana membaca peristiwa sejarah. Tentang korban-korban yang kemudian berjatuhan di banyak tempat sebagai akibat dari propaganda pengkhianatan "G30S/PKI" yang dilancarkan pemerintah saat itu. Tentang peran pemuda-pemuda Islam yang dijadikan senjata menumpas saudaranya sesama anak bangsa karena perbedaan ideologi yang itu diulang dan terus diulang menjadi kebenaran yang sulit dibantah.

Saat itu tidak pernah ada narasi-narasi lain yang berani menyelisihi versi resmi pemerintah Orde Baru bikinan Soeharto. Tidak pernah misalnya saya mendapati cerita tentang seorang ajudan Sukarno yang ditangkap, dipenjarakan tanpa proses pengadilan yang layak, dan berbagai kisah serupa. Yang kemudian setelah dibebaskan ia bertrafnsformasi menjadi tokoh pendidikan yang sangat berkontribusi bagi sekolah-sekolah Islam. Bahwa banyak hal yang dulunya dicap hitam-putih ternyata tidak sepenuhnya benar karena ternyata masih ada warna-warna lain yang bisa digunakan untuk mengisi lembar kehidupan seseorang.

Atau, tentang peristiwa 11 September 2001. Peristiwa yang kemudian dijadikan alasan bagi proyek "Perang Melawan Teror" yang ternyata dimaksudkan untuk melegitimasi kebijakan Amerika Serikat untuk menyerang negara-negara berpenduduk Islam seperti Irak dan Afghanistan. Sampai saat ini bahkan kita tidak pernah yakin bahwa senjata pemusnah massal yang dituduhkan kepada Irak benar-benar ada. Yang tersisa kemudian adalah kehancuran total wilayah itu yang kemudian konfliknya menyebar ke negara di sekitarnya seperti Libia, Mesir, Syria, dan lain-lain. Iran dan Turki bahkan saat ini sedang mengalami gejolak ekonomi yang luar biasa. Tentunya semua itu tidak bisa dilepaskan dari peristiwa 11 September 2001 sebagai pemicunya.

                                                   ***

Hijrah sejatinya adalah berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Bisa diartikan tempat atau perilaku, atau keyakinan. Hijrah sangat bergantung kepada niat atau tujuan di baliknya. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad menjelaskan tentang hubungan antara amal dan hijrah. Bahwa setiap amal perbuatan ditentukan dari niatnya. Barangsiapa berhijrah secara ikhlas karena Allah maka baginya pahala. Sebaliknya, jika hijrahnya karena tujuan dunia maka ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya di dunia sedangkan di akhirat tidak akan mendapatkan apapun.

Belakangan ini kata hijrah mengalami penyempitan makna. Hijrah kini diasosiasikan dengan perubahan penampilan. Para artis yang semula hidup glamor dan membuka aurat tiba-tiba mengubah gaya hidupnya menjadi lebih islami dan menutup auratnya. Mereka mengaku telah berhijrah. Hijrah direduksi menjadi tampilan jasadiyah semata. Tentu saja ini bukan hal buruk. Hijrah maknawiyah seringkali didahului oleh perubahan-perubahan fisik. Tentu perlu waktu bagi seseorang yang mengaku berhijrah agar bisa sampai ke tahapan hijrah maknawiyah.

Yang selanjutnya perlu dilakukan adalah istiqamah atau konsisten di atas nilai-nilai hijrah sebagaimana diperjuangkan oleh Nabi saat memutuskan menetap di Madinah 14 abad yang lalu. Niat hijrah hanyalah mengharap keridaan Tuhan semata, bukan karena dipicu oleh kepentingan duniawi.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 H. ●

Jumat, 31 Agustus 2018

Meiliana dan Martir Kordoba

Meiliana dan Martir Kordoba
Hilmi Amin Sobari ;  Esais, bermukim di Kota Bekasi, Jawa Barat
                                                   DETIKNEWS, 23 Agustus 2018



                                                           
Titimangsa 850 Masehi. Saat itu di tengah musim panas yang hangat. Seorang biarawan alim sedang menikmati hiruk-pikuk kehidupan urban di kota Kordoba (Cordova), Andalusia. Kota yang saat ini merupakan bagian dari Spanyol modern itu adalah pusat kerajaan Islam dari Dinasti Umayyah di negeri barat lama. Kerajaan ini diinisiasi oleh Abdurrahman Ad-Dakhil, sang pewaris takhta terakhir Dinasti Umayyah di timur yang ambruk karena digerogoti oleh Keluarga Abbasiyah.

Biarawan itu bernama Perfectus. Ketika sedang berada di pusat perdagangan dan menikmati aktivitas belanjanya, ia didekati sekelompok anak muda bertampang Arab. Entah iseng atau memang serius, anak-anak muda itu menggoda Perfectus dengan sebuah pertanyaan provokatif. Siapakah di antara dua Nabi yang statusnya terbesar, mana lebih mulia: Yesus atau Muhammad?

Untuk diketahui, sebagai pusat kerajaan Islam, Kordoba menerapkan kebijakan terbuka mengenai heterogenitas agama. Pemeluk Kristen dan Yahudi bebas menganut keyakinan. Aktivitas beribadahnya dilindungi. Kemajemukan merupakan bagian dari karakter Kordoba dan kota-kota lain di bawah Kerajaan Umayyah di barat lama itu. Sangat mengherankan pertanyaan provokatif seperti itu bisa menyeruak ke permukaan.

Sayang nasi sudah menjadi bubur. Pertanyaan sudah diajukan. Harga diri dan keimanan tak bisa lagi ditawar. Sebagai seorang biarawan alim, Perfectus seorang yang jujur. Tapi, ia menyadari posisinya. Maka disampaikan keyakinannya secara sangat berhati-hati. Sayang seribu kali sayang kisah ini tak berakhir bahagia. Entah karena tak mampu menahan amarah atau bisa jadi karena pemicu lain, Perfectus meledak. Ia tiba-tiba membentak dan berteriak-teriak sambil menyebut Nabi Muhammad sebagai dukun klenik, orang sesat dan anti-Kristus.

Karuan saja perkara ini menarik atensi khalayak. Aturannya jelas. Menghina Nabi Muhammad di wilayah kerajaan Islam adalah kejahatan kriminal saat itu. Segera Perfectus dibawa aparat dan dijebloskan ke dalam gaol (penjara). Awalnya hakim memutus bebas. Hakim berpendapat, ucapannya itu bukan timbul dari kesadaran melainkan buah provokasi. Kata-kata dari bibir seringkali tak terkendali saat seseorang diselimuti amarah tidak dapat dijadikan landasan vonis. Sebuah keputusan hukum yang sangat bijak dan berhati-hati.

Namun, entah kenapa Perfectus malah berulah. Setelah bebas ia mengulangi lagi perbuatannya. Kali ini tanpa provokasi. Perfectus dengan sadar dan tanpa tedeng aling-aling menyebut Nabi Muhammad dengan istilah-istilah yang sangat kasar. Akibatnya, hakim tidak punya pilihan selain menghukumnya. Perfectus dieksekusi mati.

Ishaq, biarawan lain tersulut. Ia memprotes keras eksekusi itu. Di depan hakim ia menyerang Nabi Muhammad dan Islam sedemikian rupa. Hakim menamparnya karena mengira Ishaq sedang mabuk. Tapi, Ishaq bergeming. Ia terus-menerus melakukan penghinaan itu sehingga hakim tak punya pilihan selain mengeksekusinya juga. Ishaq menjadi korban kedua.

Kedua peristiwa itu menyulut amarah besar dari umat Kristiani dan menginspirasi mereka untuk melawan. Perfectus dan Ishaq disemati gelar pahlawan atau martir. Berturut-turut, para martir baru hadir. Sejarah mencatat, hanya di musim panas itu saja paling tidak terdapat 50 martir mati dieksekusi. Mereka dalam sejarah dikenal sebagai Martir Kordoba. Peristiwa yang kemudian menggerogoti kerajaan dan menjadi cikal bakal runtuhnya Dinasti Umayyah di Andalusia.

                                                      ***

Titimangsa 1888 Masehi. Indonesia belum lahir. Banten masa itu masih hidup di bawah kekangan dan penjajahan kolonial Belanda. Satu waktu tersiar kabar di bawah tanah bahwa pejabat pemerintah Belanda bertindak zalim kepada umat Islam. Larangan mengumandangkan azan yang diperbincangkan dengan riuh. Penyebabnya karena istri Johan Hendrik Hubbert Gubbels bernama Anna Elizabeth van Zutphen menderita sakit kepala kronis.

Suara azan yang dikumandangkan dari masjid yang terletak di tanah pribumi tak jauh dari tempat tinggalnya semakin mengusik sakitnya. Gubbels adalah asisten residen di Anyer, pejabat yang berwenang. Tapi, larangan azan ternyata hanya awalan. Desas-desus lain muncul. Kabarnya selain azan juga muncul larangan untuk jenis ibadah lain yang aktivitasnya bersuara keras seperti zikir, pesta perkawinan dan khitanan dengan arak-arakan, hingga takbiran.

Sontak saja hal itu membakar amarah umat Islam. Emosi yang selama ini terpendam akibat larangan azan kini semakin menguat dan dampaknya meluas. Ketegangan yang dimotori oleh ketidaksepahaman keyakinan pribumi dengan pejabat kolonial yang berkuasa itu kemudian meletus menjadi pemberontakan yang dikenal sebagai Geger 1888. Pada peristiwa itu, Gubbels dan anak-istrinya terbunuh. Jumlah korban jiwa dari pribumi jauh lebih banyak.

                                                        ***

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dikenai pasal penistaan agama karena kalimat sensitif dalam pidatonya di Kepulauan Seribu saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta. Peristiwa "Al Maidah 51" yang kemudian melahirkan gelombang protes hingga demo yang dikenal dengan "212". Hal itu mengejutkan banyak pihak. Para pendemo berasal dari lintas kalangan dan ormas. Harga diri umat tercolek. Ahok kemudian divonis bersalah. Hingga saat ini Ahok masih menjalani hukumannya.

Berbeda dengan Ahok, Meiliana bukanlah seorang pejabat. Bila Ahok diyakini terkena efek politisasi menjelang pilgub, Meiliana dianggap korban dari ketidakadilan sistem hukum di negara ini. Persoalan lama yang masih belum terpecahkan. Meiliana, seperti Gubbels dan Ahok, menjadi korban konfrontasi yang lahir dari isu primordial antara "pribumi" versus "orang yang dianggap liyan".

Meiliana sebagai penganut Buddha dan warga negara keturunan China, seperti ungkapan para saksi di pengadilannya, dianggap telah melecehkan azan yang merupakan bagian dari ajaran Islam. Meiliana pada satu siang mendatangi tetangganya yang muslim dan memprotes, "Kak, tolong bilang sama uwak itu, kecilkan suara masjid itu, Kak sakit kupingku, ribut." Meiliana divonis 18 bulan penjara oleh hakim, melengkapi 147 vonis penistaan agama sejak 2004.

Meiliana bukan Perfectus yang hidup di bawah naungan kerajaan Islam. Meiliana juga bukan Gubbels yang diperangi karena melarang azan dikumandangkan. Kasus Meiliana mirip Ahok. Terjadi karena kesalahpahaman yang tidak bisa diselesaikan secara damai. Lalu dibawa ke pengadilan. Sayangnya, aturan hukum yang menangani persoalan seperti ini masih gagal menghadirkan solusi yang adil bagi para pihak yang bersengketa.

Persoalan ini bukanlah remeh-temeh seperti dianggap beberapa pihak. Menuding lemahnya rasionalitas jamaah masjid dalam menerima kritik agama dan juga arogansi mayoritas sebagai dalang di balik kasus-kasus serupa tidak akan membawa kasus ini ke arah yang lebih baik. Yang semestinya perlu dihadirkan adalah saling pengertian di antara para pihak.

Kasus Perfectus menggambarkan suasana kebatinan umat Islam. Menghina ajaran berkonsekuensi berat. Hal ini bisa jadi tidak terdapat di agama lain. Sehingga kasus Meiliana menjadi masuk akal. Meiliana yang merasa tidak sedang menghina ajaran agama tetapi sedang mengkritik perilaku penganut itu dipahami berbeda karena sejarahnya yang berbeda. Ucapan Meiliana yang sebenarnya rasional itu menjadi tak lagi bisa diterima karena suasana kebatinan yang sifatnya sakral itu.

Di internal umat Islam perlu ada otokritik. Doktrin keagamaan harus dipisahkan dengan realitas. Kritik terhadap perilaku umatnya tidaklah sama dengan kritik terhadap agama itu sendiri. Tak kalah pentingnya adalah peneladanan atas sikap hakim yang memilih membebaskan Perfectus pada peristiwa provokasi itu. Kebijaksanaan dan kehati-hatian perlu dikedepankan.

Memahami bahwa mereka yang berbeda keyakinan memiliki pengalaman yang tidak sama terhadap ajaran agama juga penting untuk dilakukan. Namun, yang terpenting persoalan seperti ini sebaiknya diselesaikan lewat jalur damai, bukan melalui jalur pengadilan. Kehidupan saling bersinergi antarumat beragama harus menjadi tujuan bersama. Saya berharap pihak-pihak terkait mau duduk bersama membahas mekanismenya.

Jika pun harus lewat pengadilan maka pasal-pasalnya perlu direvisi agar pengenaan pidana hanya diterapkan pada penghinaan yang sifatnya tafsir-tunggal. Kita bisa ambil contoh yaitu sengaja membakar atau menginjak kitab suci dengan maksud melecehkan. Atau, perilaku lain yang serupa.

Semoga tidak ada Meiliana lain esok hari, lusa, atau kapan pun nanti. Itu demi masa depan bangsa ini agar tidak runtuh seperti halnya Dinasti Umayyah di Andalusia. ●

Sabtu, 24 Februari 2018

Doktrin Kekerasan dan Rapuhnya Ruang Kelas

Doktrin Kekerasan dan Rapuhnya Ruang Kelas
Hilmi Amin Sobari ;  Pemerhati Isu-isu Keagamaan;  Tinggal di Bekasi
                                                  DETIKNEWS, 22 Februari 2018



                                                           
Peristiwa kekerasan yang membawa-bawa agama dalam aksinya kembali terjadi. Di Tangerang, dalam sebuah video yang viral, seorang biksu dengan dikelilingi beberapa orang diminta membuat surat pernyataan, diharuskan membacanya, dan kemudian disuruh menandatanganinya. Biksu itu dalam keadaan "sadar dan tanpa tekanan dari siapapun" dengan suaranya yang berat diharuskan berjanji tidak akan menggunakan rumahnya sebagai tempat peribadatan.

Di Yogyakarta, entah apa yang merasuki benaknya, seorang pemuda yang masih berstatus mahasiswa diberitakan memaksa masuk ke dalam sebuah gereja, mengacungkan senjata tajam yang dibawanya, dan mengancam melukai orang-orang. Itu benar dilakukannya. Korbannya tercatat beberapa orang. Mereka jemaat yang sedang beribadah di sana. Aksinya berakhir setelah aparat keamanan datang dan melumpuhkannya karena melakukan perlawanan ketika hendak ditangkap.

Kedua peristiwa itu mengingatkan saya pada satu cerita. Cerita ini tidak ada hubungan langsung dengan kedua peristiwa itu tetapi saya ingin membaginya karena ini menurut saya penting. Ini cerita yang kurang menyenangkan mengenai seorang guru di sekolah dasar berlabel Islam yang mengajarkan kekerasan atas nama agama kepada para siswanya. Cerita itu mulai terkuak saat salah seorang siswa, yang ibunya kebetulan saya kenal, menolak untuk pergi dan makan di restoran cepat saji asal Amerika. Hal itu dirasa mencurigakan karena anak itu biasanya sangat bersemangat jika diajak pergi ke sana. Selama ini dia menyukai menunya.

Penolakan itu, setelah diselidiki, ternyata berasal dari pengajaran yang diterima di sekolahnya. Menurut anak tersebut, ia diajarkan oleh salah seorang gurunya bahwa restoran itu dimiliki oleh orang kafir. Seorang muslim tidak boleh makan di sana. Seorang muslim yang makan di sana berarti sedang memberi uang pada orang kafir. Dan, karena orang kafir itu memiliki uang maka mereka bisa membeli senjata. Karena memiliki senjata maka mereka akan menggunakannya untuk membunuhi orang Islam. Kepala saya terasa sangat berat waktu pertama kali mendengarnya.

                                                 ***

Belasan tahun yang lalu saya berkenalan dengan seseorang di masjid dekat saya tinggal. Kami cepat akrab. Dia pria yang baik. Kami sering berbincang-bincang seusai shaat berjamaah. Dia juga sering mengundang saya ke rumahnya yang letaknya tidak jauh dari masjid. Suatu ketika dia bercerita bahwa ia tidak ingin menyelesaikan pendidikannya di sebuah universitas karena menurutnya semua itu hanya kesia-siaan. Saya hanya mendengarkan.

Di lain waktu ia mengajak saya mengaji bersamanya. Saya iyakan. Maka saya mengikuti pengajiannya. Kegiatan itu diadakan di sebuah masjid di bilangan Jakarta Selatan. Masjid itu cukup terkenal. Dikelola secara profesional. Pengurusnya memiliki banyak program: pencetakan buletin Jumat, penyebaran buku agama yang dicetak sendiri, pembekalan dakwah, dan lain sebagainya. Lokasinya berdekatan dengan sebuah kampus swasta yang terkenal dengan jurusan jurnalistiknya.

Pada mulanya semua berjalan baik-baik saja, hingga pada satu ketika saya menemukan keganjilan. Suatu malam, ketika sedang mengkaji kitab tauhid, ustaz dari kawan saya itu menjabarkan bahwa pemerintah adalah thagut, undang-undang yang digunakan karena buatan manusia juga thagut, dan yang semisal. Saya mulai gelisah. Sebelumnya, saya yang pernah belajar kitab tauhid berlabel wahabi di pesantren tidak pernah sekalipun diajarkan hal seperti ini. Yang membuat saya heran adalah fakta bahwa sang ustaz bukanlah orang sembarangan: ia seorang hafiz al-Quran, juga menghapal banyak hadits.

Kegelisahan dan ketidaksetujuan pada pendapatnya soal thagut itu membuat saya menjauh. Dan, akhirnya saya tidak pernah mengikuti kajiannya lagi karena saya lebih fokus belajar dan kuliah di kampus yang terletak di Jakarta Timur. Saya tidak pernah bertemu lagi dengan kawan saya itu, maupun ustaznya, hingga sekarang.

Belakangan saya dikejutkan oleh berita yang cukup heboh. Kawan saya itu dan ustaznya, serta beberapa orang yang ikut kajiannya, yang saya tidak kenal, ditangkap oleh aparat keamanan. Mereka disergap di sebuah rumah di Depok. Pemicunya karena sebuah bom meledak saat sedang dirakit. Kasus itu kemudian dikenal dengan peristiwa Bom Cimanggis 2004.

Sebelum kejadian, ustaz itu ternyata sudah dikeluarkan dari kepengurusan masjid yang tadi saya sebutkan karena pemahamannya yang radikal itu. Dan selanjutnya, dalam setiap aksi teror yang terjadi di negeri ini, nama ustaz itu sering dikait-kaitkan. Saya bersyukur karena saya pernah nyantri dan bekal pengetahuan yang saya dapatkan dari pesantren telah menyelamatkan saya dari pemahaman yang melegitimasi kekerasan atas nama agama itu.

                                                      ***

Peristiwa di Tangerang mungkin tidak ada hubungannya dengan kejadian di Yogyakarta. Juga dengan cerita si anak, atau bahkan cerita saya sendiri. Namun, dari semua itu ada benang merah yang ingin saya tarik: bahwa kekerasan atas nama agama itu nyata ada di sekitar kita, dan pada kelompok tertentu, ajaran yang melegitimasi kekerasan itu benar-benar ada.

Kejadian dengan modus seperti di Tangerang lebih sering terjadi karena ia tidak khusus dilakukan oleh kelompok tertentu. Ia bisa dilakukan siapa saja, dari kalangan mana pun. Masyarakat awam apabila diprovokasi sedikit saja dapat dengan mudah terpancing emosinya. Bahkan kadang karena alasan yang sebenarnya remeh temeh seperti anggapan bahwa ibadah harus dilakukan di tempat ibadah, tidak boleh di rumah tinggal. Kejadian seperti ini seringkali karena prasangka dan tidak didasari ideologi tertentu yang melegitimasi kekerasan, dan pelakunya lebih mudah disadarkan.

Yang lebih mengkhawatirkan tentu peristiwa di Yogyakarta. Hingga saat saya menulis ini aparat keamanan belum mengungkap motifnya karena pelaku sendiri masih dalam perawatan usai dilumpuhkan akibat melakukan perlawanan saat hendak ditangkap. Karena pelakunya individual dan dalam aksinya menunjukkan ketidaksetujuan pada peribadatan di sana, kemungkinan besar terkait dengan keyakinan yang dianutnya --atau singkatnya didasari ideologi tertentu, meskipun harus diselidiki ideologi apa yang mempengaruhinya hingga melakukan tindakan itu.

Namun bagi saya yang paling mengkhawatirkan adalah cerita terakhir, tentang siswa sekolah dasar yang didoktrin gurunya. Para orangtua tentu tidak akan menduga kejadian seperti itu dapat terjadi di sebuah institusi pendidikan yang idealnya mentransfer nilai-nilai yang agung dan luhur. Dalam benak kita, sekolah yang melabeli dirinya dengan sekolah agama tentunya menjadi benteng yang melindungi kita dari ideologi kekerasan. Walaupun peristiwa itu kasuistik, hal ini menimbulkan pertanyaan, jangan-jangan tanpa kita sadari doktrin itu telah merasuki pikiran anak-anak kita, saudara kita, atau siapapun yang kita kenal di sekitar kita.

Saya tidak mampu membayangkan, seandainya hal itu tidak terkuak, lalu anak itu menyaksikan peristiwa Tangerang, Yogyakarta, atau berbagai kekerasan atas nama agama lainnya yang belakangan ini marak, kemudian ia tidak menerima pendampingan yang cukup, entah apa yang akan terjadi padanya.

Mungkin seiring pertumbuhannya ia akan mengetahui bahwa kekerasan atas agama tidak dapat dibenarkan, atau mungkin yang terjadi malahan sebaliknya, sesuatu yang tidak kita harapkan: ia akan terus mengingatnya, mungkin suatu saat bersinggungan dengan penyebar doktrin kekerasan, menempuh jalur itu secara diam-diam dan pada saatnya menjadi seperti pemuda di Yogyakarta itu. Kemudian kita hanya bisa menyesalinya. ●

Rabu, 20 Desember 2017

Putusan MK dan Azab Tuhan di Balik Gempa

Putusan MK dan Azab Tuhan di Balik Gempa
Hilmi Amin Sobari ;   Esais; Pernah nyantri di PPMWI Kebarongan,
Banyumas, Jawa Tengah
                                                 DETIKNEWS, 18 Desember 2017



                                                           
Lagi-lagi linimasa media sosial riuh. Keriuhan kali ini dipicu oleh gempa dengan magnitudo 6.9 Skala Richter sebagaimana pernyataan resmi BMKG di situsnya, yang terjadi pada Jumat (15/12) hampir tengah malam. Gempa dengan pusat epicentrum di Tasikmalaya itu membuat bumi bergetar yang terasa hingga ke kota Bekasi tempat saya tinggal.

Tak berapa lama, status di medsos ramai membahasnya. Saya perhatikan, mereka yang terkena goncangan cukup keras berasal dari kawasan pesisir selatan Pulau Jawa, dari Tasik ke arah timur sampai ke Jogja. Lalu naik agak ke kota/wilayah sebelah utaranya.

Dua jam setelah gempa atau sekitar pukul 2 saya menerima pesan dari orangtua; mereka tinggal di Ciamis, dekat dengan pusat gempa. Mereka mengabarkan getaran gempa cukup besar, bingkai foto yang terbuat dari kaca pecah berantakan. Sebagian warga kampung yang ketakutan lari berhamburan ke luar rumah. Alhamdulillah, di sana tidak ada korban jiwa atau kerusakan berat pada material fisik atau bangunan.

Namun, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengabarkan lain. Dari data Pusdalops BNPB berdasarkan laporan BPBD, saat tulisan ini dibuat dilaporkan gempa tersebut mengakibatkan 2 orang meninggal dunia, 7 orang luka, 43 rumah rusak berat dan roboh, 65 rumah rusak sedang, 10 rumah rusak ringan, dan beberapa bangunan publik mengalami kerusakan.

Adapun daerah-daerah yang paling terdampak gempa yang merusak itu terdapat di Kabupaten Pangandaran, Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, Garut, Cilacap, Kebumen, Kota Pekalongan, Banyumas, Brebes, dan Banjarnegara. Daerah tersebut kebanyakan ada di arah timur Tasik. Belum ada kabar kerusakan dari daerah sebelah barat seperti Bandung atau Sukabumi. Mudah-mudahan tidak ada kerusakan di sana.

Penyebab gempa kemudian dianalisis. Bagi pendukung sains, gempa merupakan efek dari gerak tumbukan lempeng atau kerak bumi yang bergeser dan kemudian menghasilkan energi besar yang terasa sampai ke permukaan. Orang dengan pemikiran ini tentunya akan menerimanya sebagai fenomena alam biasa. Apalagi sudah jamak diketahui, wilayah Indonesia rawan bencana gempa.

Namun hal itu rupanya tidak berlaku bagi sebagian orang beragama yang karena kitab sucinya mengatakan bencana alam merupakan akibat dari perbuatan maksiat, maka mereka meyakini gempa itu pun akibat ulah buruk manusia. Itulah yang terjadi, medsos kemudian dibanjiri oleh status dari netizen yang berkeyakinan gempa itu karena Tuhan sedang marah, lalu mengazab hamba-Nya.

Masih menurut mereka, kemarahan Tuhan itu dipicu oleh putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak secara keseluruhan permohonan uji materi pasal 284, 285, dan 292 KUHP yang diajukan oleh ALIA (Aliansi Cinta Keluarga). Putusan itu dihasilkan melalui diskusi yang cukup alot. Dari 9 hakim, 5 menolak, 4 memberikan dissenting opinion alias pendapat yang berbeda dari amar putusan.

Sebagaimana diberitakan oleh banyak media, ALIA mengajukan permohonan untuk memperluas cakupan atau mengubah undang-undang tentang perzinahan, pemerkosaan, dan pencabulan anak yang mereka nilai sudah tidak sesuai dengan konteks kekinian dan kedisinian.

MK menolak dengan alasan pasal-pasal tersebut tidak bertentangan dengan UUD 1945; yang merupakan tolok ukur MK dalam menilai uji materi. Sebaliknya, jika menerima, MK akan dianggap melanggar kewenangan karena pembuatan norma hukum hanya boleh dilakukan oleh lembaga legislatif. MK adalah lembaga yudikatif. Sebagai solusi, MK menyarankan materi permohonan diajukan ke DPR yang sedang menggodok RUU KUHP.

Penolakan ini lalu dipahami sebagai persetujuan atau pengesahan zina dan LGBT, simplikasi yang sangat keliru. Sayangnya kekeliruan itu malahan dijadikan dasar untuk mengaitkan putusan tersebut dengan azab Tuhan. Tuhan diimajinasikan sedang marah karena di negeri yang mayoritas muslim, zina dan LGBT dilegalkan. Tak ketinggalan, berbagai meme menyeruak dengan data ribuan anggota LGBT yang ada di Tasik sebagai justifikasinya.

Pemahaman ini bukan tanpa dasar. Agama punya bahan yang cukup. Islam misalnya membawa berbagai cerita tentang bencana alam yang diazabkan Tuhan bagi kaum pembangkang dan pelaku maksiat, yang mudah ditemukan di Al-Quran. Ingatan kita sejak kecil seolah dipatri dengan kisah banjir besar bagi kaum Nabi Nuh karena menolak beriman; badai besar 8 hari bagi orang 'Ad kaum Nabi Hud; gempa bumi dan petir yang keras dan menyambar orang Tsamud, kaum Nabi Saleh.

Kota Sodom yang merupakan wilayah dakwah Nabi Luth tak luput dari azab. Para penghuninya, suku yang dikenal dengan perilaku homoseksual itu diganjar bencana berupa tanah yang diputarbalikkan, bagian atas jadi bawah, bawah jadi atas, dibumihanguskan semua yang ada di atasnya.

"Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim." (QS. Hud, 11: 82-83)

Pertanyaannya, apakah tepat jika amar putusan MK dikaitkan dengan gempa bumi yang terjadi Jumat lalu? Saya kira itu tindakan yang tidak tepat dan tampak ceroboh. Menuduh gempa sebagai azab adalah sebuah kekeliruan. Logikanya, putusan MK bukan pengesahan zina dan LGBT, bagaimana bisa diklaim jadi penyebab bencana jika putusan itu bukan pengesahan. Sebaliknya, MK menyarankan untuk membawa aspirasi ke DPR.

Secara tidak langsung, MK seolah-olah hendak mengatakan bahwa mereka memberikan sinyal persetujuan jika perkara ini diatur dengan undang-undang yang pasalnya lebih spesifik seperti tuntutan pemohon. Artinya, landasan berpikir tuduhan itu sudah salah sejak awal dan sebagai konsekuensi pendapatnya sudah cacat logika, tak bisa dikontestasikan.

Lalu bagaimana dengan kisah-kisah dalam kitab suci itu; apakah harus diabaikan? Tentu saja tidak. Siapapun boleh meyakini apa yang termaktub dalam kitab suci, namun yang harus dipahami, tidak semuanya bisa ditelan secara bulat-bulat tanpa penelaahan, terutama jika bersinggungan dengan sains, apalagi jika sudah bisa dijelaskan secara ilmiah.

Masih segar dalam ingatan tentang perdebatan bumi datar dan bumi bulat. Keyakinan bumi datar berasal dari kitab suci. Bahkan, institusi agama pernah sangat represif terhadap penemuan yang bertentangan dengan keyakinan agama itu. Galileo dihukum mati karena meyakini dan menyebarkan paham heliosentris, matahari pusat tata surya, yang bertentangan dengan paham geosentris yang diimani gereja, bumi sebagai pusat tata surya.

Tapi, masa-masa itu seyogianya sudah berlalu. Saat ini berbagai fenomena alam sudah bisa dijelaskan dengan sains. Jika pada satu waktu sains kemudian dapat menembus sekat agama, maka yang harus dilakukan adalah penyediaan ekosistem yang mendukung kontestasi ide sehingga bisa diuji kebenarannya, walau terkadang hal itu membuat kedua ranah itu saling klaim bahwa kebenaran ada di pihaknya.

Perdebatan antara agama dan sains selalu menyisakan ruang abu-abu yang tidak bisa diklaim sebagai kebenaran mutlak. Walaupun sains unggul dalam pengujian dan pembuktian, sains juga memiliki kekurangan pada tahap tertentu. Pada kasus gempa bumi, hingga hari ini belum ada satu pun teknologi yang mampu secara akurat memprediksi kapan terjadinya gempa, hanya bisa diukur kekuatannya dan manajemen terhadap dampaknya.

Ruang-ruang abu-abu itu jika ditafsirkan dari sudut pandang agama bisa saja dijadikan sebagai alat introspeksi bahwa Tuhan bisa saja marah. Namun, menggunakan imajinasi bahwa Tuhan sedang marah lalu mengazab, saya kira itu perlu dibatasi, misal untuk muhasabah, bukan propaganda atas kepentingan pihak tertentu. Tujuannya agar tidak menimbulkan keriuhan seperti yang belakangan sering terjadi.

Sebagai penutup, kisah masyhur yang terjadi di Thaif saat Jibril menawari Nabi Muhammad SAW sebuah gunung yang akan ditimpakan untuk pemusnahan para penghina dakwahnya di sana, bisa diambil pelajaran. Alih-alih senang dengan dukungan itu, beliau justru menyambutnya dengan doa keselamatan bagi penduduk Thaif dan anak keturunannya. Saya yakin, sejak saat itu bukan bencana yang ditebar oleh kehadirannya (dan ajaran yang diwariskannya) tetapi rahmat bagi seluruh alam. ●

Memanusiakan Muhammad Sang Nabi

Memanusiakan Muhammad Sang Nabi
Hilmi Amin Sobari ;  Penganut Ajaran Muhammad
yang sedang bahagia merayakan sosoknya yang agung sekaligus manusiawi;
Pernah nyantri di PPMWI Kebarongan, Banyumas, Jawa Tengah
                                                 DETIKNEWS, 04 Desember 2017



                                                           
"None of the great figures of history is so poorly appreciated in the West as Muhammad." ~ W. Montgomerry Watt, Muhammad at Mecca, 1958.

Saat masih kecil saya kadang ditugasi untuk mengumandangkan azan ketika waktu salat telah tiba. Sambil menunggu imam, di sela-sela azan dan iqomah, saya dan para jamaah salat lainnya biasa mengisinya dengan ritual puja-puji kepada Nabi Muhammad SAW, tradisi khas santri yang jarang saya temui di kota-kota besar seperti di Jakarta.

Karena dilakukan berulang-ulang dengan berbagai lirik dan nada, maka sebagian liriknya saya hafal hingga hari ini. Salah satu yang paling saya suka berbunyi begini: "Muhammadun basyarullah kalbasyari, bal huwa kalyaquti bainal hajari --Muhammad adalah manusia, sama seperti yang lainnya, hanya saja ia bagaikan batu permata di antara berbagai jenis bebatuan."

Tentu saja, sebagai seorang anak kecil, waktu itu saya tidak mampu memahami apa arti sesungguhnya dari kalimat basyarullah kalbasyari itu --manusia yang sama dengan manusia lainnya. Justru kalimat kalyaquti bainal hajari --bagaikan batu permata di antara berbagai jenis bebatuan-- itulah yang paling menggetarkan saya karena sosoknya bagi saya penuh dengan metafora yang indah bak superhero.

Glorifikasi terhadap Muhammad seperti itu yang kemudian mengawali perkenalan saya dengan sosoknya, dan membentuk imajinasi tentangnya: ia sang Rasul yang suci dan tak tersentuh, manusia agung tanpa cela sedikit pun; ketika persoalan menghadang maka cukup dengan mengangkat kedua tangan, dan berdoa lalu secara ajaib turunlah wahyu pemberi solusi; pemimpin perang tanpa tanding karena dibantu oleh pasukan langit yang tak terkalahkan; dan, berbagai penggambaran yang sangat ideal lainnya.Bukankah tokoh superhero selalu dicitrakan sempurna seperti itu oleh pecintanya?

Glorifikasi seperti itu pada satu titik bisa menjadi mental block yang kontra-produktif bagi hubungan antara Muhammad dengan penganut ajarannya, terutama yang tak mengenalnya secara personal. Kesempurnaan imajinya menciptakan jarak yang mengganggu proses peneladanan, penganut ajarannya takut, dan rendah diri: merasa tak mungkin mampu mendekatinya karena hanya manusia biasa yang mahallul khatha wannisyan --makhluk yang lahir dengan kodrat alpa dan lupa.

Yang terjadi kemudian pada sebagian kasus, glorifikasi seperti ini menciptakan pengikut yang memaksakan dirinya untuk sesempurna Muhammad, dan pada tahap yang lebih buruk memaksa orang lain menerima dan mengikuti pola peneladanan yang diterapkannya. Gerakan purifikasi keagamaan yang miskin nalar dan kering imajinasi seperti itulah yang memunculkan para pelaku teror. Mereka mengimajinasikan seorang Muhammad yang keras dan kaku dalam menghadapi perbedaan dan keberagaman.

Beruntungnya, citra Muhammad yang sempurna itu perlahan memudar saat usia saya lebih dewasa, khususnya setelah saya belajar di pondok pesantren. Muhammad bisa saya dekati dengan pendekatan yang lebih rasional melalui kajian tarikh atau sejarah atau yang lebih populer disebut sirah nabawiyah. Keraguan berlanjut saat saya membaca karya-karya penulis barat yang kritis disertai temuan baru yang menambah wawasan tentang Muhammad.

Dari kajian kritis itu pula saya mulai menemukan versi baru tentang sosoknya yang selama ini luput dari jangkauan, versi membumi yang menegaskan posisinya sebagai manusia biasa (basyarullah kalbasyari). Ternyata, sebagai manusia biasa Muhammad pernah berbuat salah, dan kemudian mendapat surat teguran dari Tuhan; pernah kalah sewaktu Perang Uhud, dan bahkan diisukan telah mati ketika peperangan masih berlangsung padahal nyatanya masih hidup dengan luka di wajahnya, dan gigi tanggal.

Pernah mengelak saat pendapatnya soal pertanian yang setelah diujicoba justru gagal panen, dan beliau menjawab: kamu lebih tau urusan duniamu! Dan, menangisi kematian Khadijah dengan kesedihan sangat dalam hingga memutuskan hijrah ke Thaif, dan disambut dengan makian dan lemparan batu hingga beliau mengadu kepada Allah, dan kemudian mendapat penghiburan dari budak penolongnya yang mengenal Nabi Yunus yang beliau sebut sebagai saudara. Dan, berbagai sifat manusiawi lainnya.

                                                        ***

Seandainya saya lahir di Barat barangkali bukan sosok di atas yang menghuni benak saya tentang imaji Muhammad. Seperti kutipan yang saya letakkan sebagai pembuka paragraf di atas, Muhammad kurang mendapat perhatian yang layak, bahkan pada sebagian kasus justru dilecehkan dan dipenuhi nada permusuhan yang muncul karena ketidaktahuan.

Di Barat, Muhammad dikenal sebagai sosok gelap yang legendaris, Mahound: jahat dan musuh besar bagi mereka. Jika di sini anak kecil yang menangis ditakut-takuti dengan hantu atau setan agar terdiam, maka di Barat sosok untuk menakut-nakuti itu adalah Mahound Pada bagian yang lain ia digambarkan sebagai seorang pesulap palsu yang berhasil mengecoh bangsa Arab untuk tunduk dan mengikuti apapun kemauannya.

Sebuah kisah menceritakan tentang seekor banteng putih yang meneror masyarakat dan kemudian muncul membawa al-Quran, kitab suci yang dibawa untuk bangsa Arab, melayang dengan fantastis di kedua tanduknya. Juga dikisahkan ia melatih seekor merpati agar mematuk kacang yang ada di telinganya, agar tampak seolah-olah malaikat sedang berbicara padanya.

Pengalaman mistiknya digambarkan dengan buruk, seolah-olah dia adalah penderita epilepsi, yang pada zaman itu sama dengan mengatakan bahwa beliau dikuasai roh jahat. Kehidupan seksnya juga dicela karena menikah dengan banyak wanita, dan ketika sampai kepada pernikahan dengan Aisyah maka pandangannya adalah pelecehan terhadap anak di bawah umur, dan seterusnya.

Semua mitos salah-kaprah itu dikembangkan dari zaman pra-modern pada waktu Perang Salib sebagai metode pertahanan kultural karena ketakutan Barat atas kembalinya imperium Islam seperti yang pernah terjadi di Spanyol yaitu kolonisasi selama berabad-abad. Dan islamo-phobia itulah yang saat ini masih dirasakan walaupun kemudian setelah dunia riset sejarah lebih terbuka maka sosok Mahound yang jahat secara perlahan ditampilkan berbeda oleh sejarawan Barat yang menekuni kajian Islam dan Timur Tengah; sosoknya lebih netral, dan seringkali mendapat pujian atas keberhasilan Muhammad dalam berbagai bidang.

Di sini saya kutipkan satu pujian dari George Bernard Shaw (1936). Setelah mengkaji secara mendalam tentang Muhammad, ia mempercayai Nabi Muhammad adalah orang yang mampu memberikan solusi bagi masalah-masalah manusia modern seandainya dia masih ada saat ini, dan memegang kepemimpinan manusia modern. Bahkan Bernard juga mengusulkan agar Muhammad diberikan gelar sebagai "The Savior of Humanity" atau Penyelamat Kemanusiaan. "I have prophesied about the faith of Mohammad that it would be acceptable the Europe of tomorrow as it is beginning to be acceptable to the Europe of today."

Dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (1978) yang kontroversial, Michael H Hart menempatkan Muhammad di urutan pertama mengalahkan Newton, Yesus, dan Sidharta Gautama. Ketika terus didesak untuk merevisinya ia bergeming dengan pendapatnya, dan menyatakan dalihnya bahwa Muhammad adalah "the only man in history who was supremely successful on both the religious and secular level." (Satu-satunya tokoh sejarah yang mampu meraih keberhasilan puncak dalam bidang agama dan dunia.)

                                                         ***

Di internal umat Islam sendiri sosok Muhammad tidak dipersepsikan sama. Islam kultural --atau Islam Nusantara-- misalnya mengambil sosok yang santun, lemah lembut, penebar kasih sayang dan anti-kekerasan. Sedangkan Islam politik biasanya menggunakan jargon agama dengan membawa sosok Muhammad yang tegas, keras, dan meletakkan persaudaraan dan persatuan Islam sebagai prioritas; kepemimpinan politik harus ada di bawah komandonya, dan mereka senang meneriakkan kalimat thayyibah seolah-olah tengah didukung Tuhan secara langsung melalui glorifikasi sosok Muhammad versi mereka.

Sosok Muhammad yang manusiawi seyogianya yang terus dikenalkan ke umat muslim pada khususnya, dan manusia pada umumnya. Barangkali jika kita mau mengubah pandangan kita terhadap manusia agung ini menjadi sosok yang lebih manusiawi saya yakin dampak yang kita rasakan akan jauh lebih positif-natural. Mengenalnya secara personal, akrab, tanpa jarak, dan apa adanya sebagai seorang manusia biasa, ayah dari anak-anaknya, kakek dari cucunya, atau pemimpin yang memberi tauladan yang baik. Barangkali dengan cara seperti itu baru kita akan benar-benar mengenalinya sebagai manusia yang dipenuhi unsur kemanusiaan, dan karenanya jejaknya bisa diikuti siapapun.

Sebagai penutup saya kutipkan satu fragmen dari sirah Muhammad karya Karen Armstrong yang mengutip sejarawan sekaligus ahli tafsir Ibnu Jarir At-Thabari tentang kegalauan yang dihadapinya saat menerima wahyu pertama: sosok yang sangat manusiawi dan mudah ditemukan dalam kehidupan modern saat ini ketika tertimpa masalah berat dan di luar jangkauan kemampuan manusia pada umumnya.

"Muhammad mendapati dirinya dalam keadaan terteror dan mengalami perubahan mendadak. Berpikir bahwa dia, di luar kehendaknya, mungkin menjadi kahin (dukun) yang dikuasai jin dan merasa putus asa, kata ahli sejarah At-Thabari, dan membuatnya tidak ingin hidup terus. Keluar dari gua, Muhammad mendaki ke puncak gunung dan bermaksud menerjunkan dirinya supaya mati."

Mengenalmu sebagai manusia biasa membuatku rindu padamu, ya Rasul. Shalatullah wa salamuhu alaik ya habibana. Selamat merayakan Maulid!

Kamis, 09 November 2017

Thagut dan Monyet Berseragam Cokelat

Thagut dan Monyet Berseragam Cokelat
Hilmi Amin Sobari  ;   Pernah nyantri di Ponpes al-Wathoniyah al-Islamiyah Kebarongan Banyumas Jawa Tengah; Kini bekerja di Jakarta
                                                DETIKNEWS, 07 November 2017



                                                           
Beberapa hari lalu viral di media sosial tentang seorang penceramah "wahabi" yang menamai aparat sebagai monyet berseragam cokelat dan bagian dari sistem kafir thagut. Apakah yang dimaksud dengan thagut? Apa kaitannya dengan aparat negara; mengapa mereka disebut bagian dari thagut? Benarkah doktrin wahabi seperti itu? Lalu mengapa teror yang terjadi sering meninggalkan jejak yang mengarah ke doktrin thagut?

Untuk menjawab pertanyaan, dan juga memahami kaitan antara thagut dengan kejadian teror dimulai dengan memahami definisi. Menurut ar-Razi, thaghut terbatas pada peribadatan. "Thagut adalah perbuatan buruk yang mengalihkan manusia agar tidak menyembah dan beribadah kepada Allah."

Definisi lain bisa diambil dari kisah Nabi Musa yang diutus ke Fir'aun karena telah melampau batas (thaga). Kata thaga merupakan variasi dari kata thagut. Fir'aun disebut thaga karena melampaui batas dengan mendeklarasikan dirinya Tuhan yang harus disembah. Definisi tersebut bisa dirangkum: "Thagut adalah segala yang dilampaui batasnya oleh hamba, baik itu yang diikuti atau ditaati (dalam hal kekuasaan politik) atau diibadati."

Apabila dirinci paling tidak saat ini ada lima bentuk thagut yaitu: (1) syaitan, (2) penguasa yang zalim, (3) orang yang memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan, (4) orang yang mengaku mengetahui hal yang ghaib selain Allah, dan yang terakhir (5) orang yang diibadati selain Allah dan dia ridha dengan peribadatan itu.

Doktrin nomor (2) dan (3) adalah kuncinya. Penguasa zalim yang tidak menerapkan hukum Allah, mengubah, menggantinya dengan hukum buatan manusia, atau mencampurkannya dengan hukum buatan manusia adalah thagut. Konsekuensinya, menurut doktrin ini, Republik Indonesia yang berdasarkan UUD 1945, dasar Negara Pancasila, menjadikan hukum positif warisan Belanda, dan adanya kewenangan pembuatan UU antara DPR dan pemerintah masuk dalam definisi thagut.

Demikian juga pengacara, jaksa, dan hakim yang menyandarkan aktivitas hukumnya bukan dengan hukum Islam, aparat negara seperti PNS karena bekerja kepada pemerintah, kepolisian dan tentara yang taat dan melindungi pemerintah, warga negara yang tidak melawan pemerintah: semuanya adalah thagut.

Itulah cikal bakal takfirisme (pengkafiran terhadap orang lain) yang menjadi doktrin utama kelompok teroris.

Doktrin Hakimiyah

Terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan oleh pemberontak dan kemudian dibaiatnya Ali ibn Abi Thalib sebagai pengganti memulai konflik. Muawiyah ibn Abi Sufyan yang terobsesi menjadi khalifah atau keluarga yang menuntut penegakan hukum atas darah Utsman memunculkan konflik dua peperangan sesama umat Islam yang oleh sejarawan Islam disebut dengan fitnah.

Pertama, perang Jamal antara Aisyah yang didukung oleh Talhah dan Zubair dengan Ali. Kedua, antara Ali dan Muawiyah. Fitnah pertama menandai adanya friksi tajam di antara umat yang kemudian menumbuhkan benih-benih permusuhan dan ketidakpercayaan satu dengan yang lain yang kemudian mencapai kulminasinya pada fitnah kedua, saat perang Shiffin antara Ali dan Muawiyah.

Saat peperangan memuncak dan Muawiyah terdesak, dia mengajukan tahkim atau perdamaian. Pendukung Muawiyah, Amr ibn Ash menggunakan al-Qur'an sebagai simbol. Ali menyetujui. Sejarah kemudian mencatat, dari sini muncul tiga kelompok besar: (1) Sunni yang menilai tahkim secara netral, (2) Syiah pendukung Ali, dan (3) Khawarij yang menuduh Ali dan Muawiyah telah menggunakan al-Qur'an sebagai alat politik, dan pada saat bersamaan menggunakan bukan hukum al-Qur'an.

Peristiwa yang selanjutnya lebih menyedihkan tercatat: Ali dibunuh dengan doktrin politik bahwa Ali telah berhukum dengan hukumnya sendiri saat menerima tahkim, dan tidak berhukum dengan hukum Allah. Dari sinilah doktrin hakimiyah bermula.

Jauh setelah peristiwa tersebut, di wilayah yang sekarang disebut Arab Saudi muncul gerakan pembaharuan yang kemudian berhasil merebut kekuasaan politik, mendirikan dinasti Saud dan sekarang memerintah Arab Saudi. Hukum Islam dijadikan dasar negara. Pelopornya, Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab dan pengikutnya disebut wahabi.

Doktrin wahabi berfokus pada pemurnian aqidah, memberantas bid'ah, khurafat dan tahayul, dan penggalian hukum fiqh yang berdasarkan madzhab Hambali. Walaupun sukses secara politik, pasca kesuksesan dinasti Saud gerakan ini tidak terlalu aktif, hingga sering diolok-olok sebagai kelompok yang tidak memahami fiqh waqi' (politik dan ekonomi kekinian).

Salah satu yang patut dicatat dari wahabi dalam memahami QS al-Maidah ayat 44, 45 dan 47 adalah kekafiran yang dimaksud ayat ini bukanlah kekafiran yang membuat seseorang keluar dari agama. Jadi, jika ada seorang muslim yang tinggal di negara yang menerapkan hukum selain Allah maka ia tetap muslim dan tidak kafir.

Lalu muncullah dari Mesir seorang Sayyid Qutb, ideolog pergerakan Ikhwanul Muslimin (IM). Ia mengembangkan ide yang identik. Hanya saja ia menganggap masyarakat yang tidak menerapkan hukum Islam sebagai jahiliyah, dan tipologi masyarakat yang seperti itu bertentangan dengan ciri masyarakat Islam dalam al-Qur'an. Konsekuensi lebih lanjut, masyarakat jenis itu belum sepenuhnya beriman.

Merujuk pada QS al-Maidah ayat 44, 45 dan 47, Qutb menyebut tipologi masyarat itu di antara tiga pilihan: kafir, dzalim, atau fasiq. Satu-satunya cara agar terbebas dari hal itu adalah dengan menerapkan hukum Islam secara kaffah.

Berbeda dengan Qutb, wahabi tidak menyebutnya jahiliyah, mereka tetap menyebutnya masyarakat muslim.

Kepemimpinan dunia Islam yang lemah pasca Khilafah Utsmani bubar membuat sekelompok orang kecewa dengan gerakan-gerakan ala Qutb dan wahabi karena tidak mampu menyatukan dunia Islam. Secara geopolitik, ekonomi, pengetahuan, dan sektor lainnya umat Islam kalah: menjadi objek penjajahan gaya baru (neo-colonialism). Maka mereka menyerukan jihad politik.

Osama ibn Laden tergerak membentuk al-Qaida: dalang terorisme dengan menggunakan Islam sebagai kedok. Dia terinspirasi oleh doktrin pemurnian ala wahabi dan konsep masyarakat Islam ala Qutb di mana masyarakat saat ini jahiliyah, kafir dan halal darahnya alias doktrin takfirisme seperti dijelaskan sebelumnya.

Setelahnya muncul banyak kelompok-kelompok lain namun dengan ideologi yang sama walau terkadang berbeda kepentingan politiknya, salah satunya adalah ISIS. Mereka inilah yang selama ini bergerak dan menyusun serangan brutal di berbagai tempat di seluruh dunia, khususnya terhadap kepentingan Barat.

Banyaknya perbedaan kelompok dakwah jika tidak dipahami bisa mengarah pada kesalahan generalisasi bahwa wahabi dan Ikhwanul Muslimin adalah gerakan teror yang mempelopori terorisme. Walaupun asal usul doktrinnya sama namun sejatinya kelompok itu adalah kelompok berbeda dengan "ceruk yang sempit", dan memanfaatkan kemiripan doktrin agar orang awam terkecoh. Mari berhati-hati.