Tampilkan postingan dengan label Atika Walujani Moedjiono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Atika Walujani Moedjiono. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Agustus 2021

 

Anosmia Penanda Covid-19 Ringan

Atika Walujani Moedjiono ;  Wartawan Kompas

KOMPAS, 4 Agustus 2021

 

 

                                                           

Anosmia atau hilangnya sementara kemampuan menghidu menjadi salah satu gejala Covid-19 yang paling umum. Hal ini dinyatakan Organisasi Kesehatan Dunia pada Mei 2020. Disfungsi indra penciuman diperkirakan dialami 40 persen pasien Covid-19 rawat jalan.

 

Menurut WHO, kebanyakan orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 akan mengalami gangguan pernapasan. Sekitar 80 persen bisa sembuh tanpa perawatan khusus, 15 persen sakit parah sehingga perlu dirawat di rumah sakit dan membutuhkan oksigen. Sisanya kritis dan membutuhkan perawatan intensif. Gejala berat umumnya dialami orang lanjut usia atau memiliki masalah kesehatan, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan kanker.

 

Gejala Covid-19 yang paling umum adalah demam, batuk kering, kelelahan. Gejala lain, kehilangan kemampuan menghidu (anosmia), kehilangan indra pengecap (ageusia), hidung tersumbat, konjungtivitis (mata merah), sakit tenggorokan, pusing, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, ruam kulit, mual, muntah, diare. Gejala parah meliputi sesak napas, nyeri atau ada tekanan di dada, kebingungan, serta demam tinggi.

 

Untuk memahami lebih jauh tentang anosmia, tim peneliti internasional yang dipimpin David H Brann dari Fakultas Kedokteran Universitas Harvard, Amerika Serikat (AS), mengidentifikasi jenis sel penghidu di rongga hidung bagian atas yang paling rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2.

 

Tim peneliti dari AS, Inggris, dan Belgia tersebut menganalisis data pengurutan RNA massal dan sel tunggal di rongga hidung bagian atas manusia, tikus, dan primata lain. Fokusnya pada gen ACE2 yang mengode protein reseptor yang menjadi target SARS-CoV-2 untuk masuk ke sel manusia. Mereka juga meneliti gen lain, TMPRSS2, yang mengode enzim penting untuk masuknya SARS-CoV-2 ke dalam sel.

 

Di jurnal Science Advances, 24 Juli 2020, tim peneliti melaporkan, sel saraf sensorik penghidu ternyata tidak mengekspresikan gen yang mengode protein reseptor ACE2. Sebaliknya, ACE2 diekspresikan sel yang memberikan dukungan metabolik dan struktural pada sel saraf sensorik penghidu, populasi sel punca dan sel pembuluh darah tertentu.

 

ACE2 dan TMPRSS2 diekspresikan oleh sel-sel di epitel (permukaan) penghidu, yakni jaringan di atap rongga hidung yang menampung sel saraf sensorik penghidu dan berbagai sel pendukung. Disimpulkan, virus korona baru mengganggu indra penciuman tidak dengan menginfeksi sel saraf secara langsung, tetapi memengaruhi fungsi sel pendukung.

 

Prognosis baik

 

Kabar baiknya, sejumlah penelitian mengaitkan anosmia dengan gejala dan perjalanan penyakit lebih ringan. Juga tingkat kematian ataupun kebutuhan dirawat di unit perawatan intensif (ICU) lebih rendah.

 

Hal itu antara lain dari penelitian Blanca Talavera dan kolega dari Universitas Valladolid, Spanyol, terhadap 576 pasien Covid-19, rata-rata berusia 67 tahun, yang dirawat di Rumah Sakit Universitas Valladolid sepanjang 8 Maret hingga 11 April 2020. Dalam laporan di Journal of the Neurological Sciences, 1 Oktober 2020, disebutkan, kebanyakan pasien dengan anosmia berjenis kelamin perempuan, berusia lebih muda, masih mandiri, dan lebih jarang menderita hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, dan tidak merokok. Memiliki kadar hemoglobin dan limfosit lebih baik, serta kadar D-dimer lebih rendah (risiko pembekuan darah lebih rendah). Namun, pasien anosmia lebih sering batuk, sakit kepala, nyeri otot serta sendi.

 

Cindy Vitalino Mendonca dan kolega dari Departemen Otorhinolaringologi Rumah Sakit Umum Francisco Morato de Oliveira, São Paulo, Brasil, di Brazilian Journal of Otorhinolaryngology, 1 Januari 2021, melaporkan penelitian terhadap 261 pasien yang didiagnosis Covid-19 sepanjang Maret hingga Juni 2020.

 

Didapatkan, anosmia secara signifikan lebih banyak terjadi pada pasien gejala ringan. Gangguan indra penciuman berlangsung dari 9 hari hingga 2 bulan.

 

Temuan itu diperkuat dengan hasil penelitian multicenter internasional dari Health Outcome Predictive Evaluation for Covid-19 (HOPE) Registry. Penelitian dipimpin Jesús Porta-Etessam, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Complutense Madrid, Spanyol, yang juga Kepala Bagian Neurologi Rumah Sakit San Carlos, melibatkan banyak ahli dari 20 rumah sakit di berbagai wilayah di Spanyol, Italia, China, Cuba, dan Ekuador, kepada 5.868 pasien Covid-19.

 

Hasil penelitian yang dimuat di jurnal Infection, 1 Maret 2021, menyimpulkan, anosmia merupakan faktor prognosis yang baik. Pasien yang melaporkan kehilangan indra penciuman mengalami penurunan risiko kematian lima kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak anosmia.

 

Penderita Covid-19 yang mengalami anosmia kini bisa bernapas lega. Dengan menjaga asupan gizi, tetap bersemangat, berjemur di pagi hari, bergerak serta minum obat yang diperlukan, virus akan segera luruh dan sehat kembali. ●

 

Jumat, 16 Juli 2021

Gen Penyebab Obesitas

Atika Walujani Moedjiono ;  Wartawan Kompas

KOMPAS, 14 Juli 2021

 

 

                                                           

Obesitas menjadi salah satu faktor risiko gejala berat pada Covid-19. Juga memicu masalah kesehatan seperti diabetes, penyakit jantung, hipertensi, stroke, serta kanker.

 

Obesitas biasanya diukur lewat indeks massa tubuh (BMI), yakni berat badan dalam kilogram (kg) dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter persegi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rata-rata BMI normal pada orang dewasa di Asia dan Afrika adalah 22-23 kg per meter persegi. Pada 23-27,5 kg per meter persegi disebut kelebihan berat badan, dan lebih dari 27,5 kg per m2 adalah obesitas.

 

Adapun BMI 25-27 kg per meter persegi lazim di Amerika Utara, Eropa, beberapa negara Amerika Latin, Afrika Utara, serta Kepulauan Pasifik. Lebih dari itu berarti kelebihan berat badan, dan obesitas jika lebih dari 29,9 kg per meter persegi.

 

Adakalanya orang berotot memiliki BMI tinggi tanpa kelebihan lemak. Karena itu, Layanan Kesehatan Nasional (NHS) Inggris menggunakan lingkar pinggang sebagai patokan. Laki-laki dengan lingkar pinggang 94 cm atau lebih dan perempuan dengan lingkar pinggang di atas 80 cm cenderung mengalami masalah kesehatan terkait obesitas.

 

Estimasi WHO pada 2016, sekitar 1,9 miliar orang dewasa di dunia kelebihan berat badan, 650 juta di antaranya mengalami obesitas. Indonesia memiliki beban ganda. Di satu sisi masih berupaya mengatasi kekurangan gizi, di sisi lain menghadapi peningkatan kasus obesitas. Riset Kesehatan Dasar 2018 mendapatkan, satu dari tiga penduduk dewasa (35,4 persen) menderita obesitas.

 

Obesitas disebabkan asupan kalori lebih banyak ketimbang yang dibakar lewat aktivitas fisik. Kelebihan kalori disimpan dalam bentuk lemak. Kasus obesitas meningkat karena saat ini makanan berkalori tinggi mudah didapat, sementara aktivitas fisik jauh berkurang.

 

Faktor lingkungan sejak dalam kandungan, demikian laman kesehatan Universitas Harvard, Amerika Serikat (AS), berpengaruh. Bayi dari ibu yang merokok selama hamil rentan mengalami kelebihan berat badan dibanding bayi ibu tidak merokok. Hal sama terjadi pada bayi dari ibu diabetes. Bayi yang mendapat air susu ibu (ASI) lebih dari tiga bulan lebih kecil risikonya mengalami obesitas saat remaja dibandingkan bayi dengan ASI kurang dari tiga bulan.

 

Pola makan tidak teratur dapat mengganggu efektivitas jam biologis yang mengatur sinyal rasa lapar dan kenyang sehingga memicu obesitas. Penelitian juga menunjukkan kurang tidur mengganggu hormon pengontrol rasa lapar serta nafsu makan. Penelitian tahun 2004 pada lebih dari 1.000 sukarelawan mendapatkan, orang yang tidur kurang dari delapan jam semalam memiliki tingkat lemak tubuh lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidur lebih lama.

 

Gen FTO

 

Memanfaatkan data Framingham Heart Study, penelitian yang melibatkan lebih dari 10.000 orang untuk mengisi kuesioner dan pemeriksaan medis setiap beberapa tahun termasuk pemeriksaan DNA, pada 2007, para peneliti mendapatkan gen pemicu obesitas. Namun, gen fat mass and obesity-associated (FTO) hanya aktif pada mereka yang lahir setelah tahun 1942.

 

”Orang yang lahir pada awal 1940-an tidak memiliki peningkatan risiko BMI atau obesitas meski memiliki varian FTO pemicu obesitas,” kata pemimpin penelitian, James Niels Rosenquist dari Rumah Sakit Umum Massachusetts, kepada NBC News, 30 Desember 2014.

 

Penelitian yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences, tidak menjelaskan apa yang berubah setelah 1942 sehingga mengaktifkan gen. Diduga, seusai Perang Dunia II, orang-orang menjalani gaya hidup modern. Kemana-mana naik mobil, banyak duduk nonton TV, dan makan makanan cepat saji.

 

Peneliti Jerman, Martin E Hess dan Jens C Brüning, dalam Biochimica et Biophysica Acta, terbit daring 8 Februari 2014, menyatakan, ekspresi gen FTO dilaporkan pada seluruh sistem saraf pusat, terutama di inti hipotalamus yang bertanggung jawab atas kontrol keseimbangan perilaku makan.

 

Dalam kajian di jurnal Current Genomics, Mei 2011, Hélène Choquet dari Universitas California, AS, dan David Meyre dari Universitas McMaster, Kanada, memaparkan, tahun 2008, penelitian terkait genom mendapatkan delapan gen monogenik dan empat gen poligenik (FTO, PCSK1, MC4R, CTNNBL1) pemicu obesitas.

 

Pengaruh gen reseptor melanocortin-4 (MC4R), pengatur homeostasis energi, asupan makanan, dan berat badan, dilaporkan Manpreet Doulla dan kolega dari Universitas Western, Kanada, pada anak perempuan usia delapan tahun dengan obesitas berat. Dalam makalah di jurnal Paediatrics & Child Health, Desember 2014 disebutkan, mutasi gen ini diidentifikasi menyebabkan hingga 6 persen kasus obesitas dini.

 

Sejauh ini, FTO masih menjadi perhatian utama karena sangat umum, memiliki varian dan efek paling besar pada populasi keturunan Eropa, demikian Ruth JF Loos dari The Icahn School of Medicine at Mount Sinai, New York, AS, dan Giles SH Yeo dari Laboratorium Riset Metabolik Universitas Cambridge, Inggris, dalam kajian di Nature Reviews Endocrinology, Januari 2014.

 

Setiap alel (pasangan gen dalam lokus yang bersesuaian) minor tambahan dikaitkan dengan peningkatan BMI 0,39 kg/meter persegi (setara 1.130 g berat badan pada orang setinggi 1,7 m) dan risiko obesitas 1,2 kali lipat. Sementara pengaruh FTO pada populasi keturunan Asia dan Afrika lebih kecil, yakni peningkatan BMI 0,26 kg/meter persegi (setara 750 g pada orang setinggi 1,7m).

 

Pada individu yang aktif secara fisik, efek FTO turun sekitar 30 persen. Karena itu, aktivitas fisik menjadi penting dalam pengaturan berat badan, selain pengaturan makanan sehat dan rendah kalori. Aktivitas fisik seperti olahraga harus dilakukan secara teratur 2,5-5 jam per minggu. Pengurangan berat badan 3 persen atau lebih dari berat awal, signifikan mengurangi risiko komplikasi terkait obesitas seperti diabetes dan penyakit jantung. ●

 

  

Rabu, 03 Maret 2021

 

Vaksin Ampuh untuk Covid-19

 Atika Walujani Moedjiono ; Wartawan Kompas

                                                        KOMPAS, 02 Maret 2021

 

 

                                                           

Vaksinasi yang dimulai akhir tahun lalu berhasil menurunkan kasus Covid-19 di sejumlah  negara, bahkan di Indonesia. Bukan berarti upaya mengatasi pandemi Covid-19 berjalan mulus.

 

Seperti halnya HIV dan virus influenza, SARS-CoV-2 terus bermutasi. Hasil pengurutan kode genetik ribuan sampel virus dari pasien Covid-19 di basis data genetik virus (GISAID), sejauh ini ada sekitar 12.000 mutasi.

 

Pada umumnya mutasi SARS-CoV-2 tidak menimbulkan masalah, tetapi hasil mutasi virus galur Inggris ( B.1.1.7), galur Afrika Selatan (B.1.351), dan galur Brasil (P.1) menyedot perhatian karena berpotensi mengurangi efikasi (kemanjuran) vaksin yang ada.

 

Pengujian tim Moderna pada sampel darah delapan orang yang telah divaksinasi serta dua primata terkait respons antibodi terhadap varian baru dibandingkan dengan versi sebelumnya mendapati galur Inggris tidak memengaruhi kadar antibodi. Sementara galur Afrika Selatan menurunkan kadar antibodi hingga enam kali lipat dibandingkan varian lama. Namun, antibodi yang terbentuk cukup tinggi. Dua suntikan dengan dosis 100 µg diharapkan dapat melindungi terhadap galur baru.

 

Dalam siaran pers, 25 Januari 2021, Moderna sedang menguji dosis tambahan vaksin penguat yang ada (mRNA-1273) serta memformulasi ulang vaksin penguat (mRNA-1273.351). Keduanya diharapkan dapat meningkatkan kadar antibodi untuk menetralkan virus mutan.

 

Penelitian Xuping Xie dan kolega dari Universitas Texas, Amerika Serikat (AS), di Nature Medicine, 8 Februari 2021, menguji 20 sampel darah orang yang disuntik dua dosis vaksin Pfizer-BioNTech (BNT162b2) terhadap virus yang mengandung mutasi protein paku galur Inggris dan Afrika Selatan. Hasilnya, titer antibodi rata-rata terhadap virus mutan adalah 0,81-1,46 kali lipat dibandingkan titer antibodi terhadap virus asal. Artinya, antibodi yang ditimbulkan vaksin BNT162b2 mampu mengatasi mutasi.

 

Kalau mutasinya banyak, dengan teknologi yang ada, menurut Pfizer-BioNTech, hanya perlu sekitar enam minggu untuk mengganti informasi genetik antigen virus saat ini dengan antigen virus mutan.

 

Hal senada dikemukakan Antony Fauci, Direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular (NIAID), AS. ”Platform mRNA sangat fleksibel,” katanya seperti dikutip Time, 7 Januari 2021.

 

Bagaimana dengan pengembang vaksin lain? Peneliti dari Universitas Oxford dan para mitra di Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil, dalam laporan yang diunggah 1 Februari 2021 dan belum ditinjau sejawat, menyajikan data uji klinis tahap 3 vaksin Oxford-AstraZeneca (ChAdOx1 nCoV-19) di Inggris dan Brasil. Juga uji klinis tahap 1/2 di Inggris dan Afrika Selatan.

 

Terkait infeksi galur Afrika Selatan, para peneliti dari Universitas Witwatersrand dan universitas lain di Afrika Selatan serta Oxford mendapatkan vaksin mereka tidak dapat mencegah penyakit ringan hingga sedang, tetapi mampu mencegah Covid-19 parah. Sarah Gilbert, Guru Besar Vaksinasi di laman Universitas Oxford, 7 Februari 2021, menyatakan, pihaknya kini mengembangkan generasi baru vaksin yang efektif melawan galur baru.

 

Novavax, 28 Januari 2021, mengumumkan, kandidat vaksin Covid-19 (NVX-CoV2373) menunjukkan kemanjuran 89,3 persen dalam uji klinis tahap 3 di Inggris. Adapun hasil uji klinis tahap 2b di Afrika Selatan mendapatkan efikasi 60 persen.

 

Novavax juga mengembangkan konstruksi baru dan berencana memulai uji klinis vaksin baru pada kuartal kedua tahun ini.

 

Pada 29 Januari 2021, Johnson & Johnson melaporkan kemanjuran vaksin, 28 hari pasca-vaksinasi, sebesar 72 persen di AS, 66 persen di Amerika Latin, dan 57 persen di Afrika Selatan. Kandidat vaksin dosis tunggal berbasis vektor adenovirus itu diuji pada berbagai kelompok usia, termasuk di atas 60 tahun.

 

Vaksin universal

 

Sebagian besar vaksin Covid-19 saat ini dibuat dengan teknik mRNA yang mengemas kode genetik protein paku SARS-CoV-2 dalam nanopartikel ataupun menggunakan vektor adenovirus yang dilemahkan. Idenya menginstruksikan sel tubuh untuk menghasilkan protein paku virus korona sehingga memicu respons imun. Tubuh memproduksi antibodi untuk menonaktifkan protein paku tersebut.

 

Dibandingkan metode tradisional, teknologi mRNA dinilai lebih aman karena tidak menyebabkan efek samping parah. Vaksin juga bisa sangat cepat dimodifikasi asalkan ada urutan genom virus mutasi dan protein target yang jelas. Kelemahannya, karena hanya menarget satu protein virus, yakni protein paku, maka efikasi vaksin rentan terpengaruh mutasi protein itu.

 

Sebagaimana diketahui, SARS-CoV-2 memiliki empat kelompok protein utama, yakni protein paku (protein S), nukleokapsid (protein N), membran (protein M), dan protein amplop (protein E). Idealnya, vaksin mampu memicu respons imun terhadap beberapa atau semua protein itu.

 

Teknik pembuatan vaksin tradisional dengan virus utuh yang dinonaktifkan dinilai menguntungkan. Dengan memaparkan sel tubuh pada virus utuh, maka vaksin akan memicu respons imun terhadap semua protein virus. Kalaupun protein S bermutasi, antibodi masih mengenali protein lain.

 

Sinovac yang membuat vaksin dari virus yang dinonaktifkan, menurut Fortune, 20 Februari 2021, mengklaim vaksinnya efektif melawan galur Afrika Selatan. Tapi belum menerbitkan data untuk mendukung klaim itu.

 

Agar mampu mengatasi mutasi virus di masa depan, dipandang perlu pengembangan vaksin Covid-19 universal. Yakni, vaksin yang mampu memicu sistem imun merespons semua kemungkinan epitop (bagian protein virus). Setidaknya menemukan epitop yang penting dalam siklus hidup virus, menimbulkan respons imun kuat dan menghambat replikasi virus.

 

Perusahaan rintisan Belgia, MyNeo, menggunakan mesin pintar untuk memprediksi epitop virus yang mampu memicu respons imun terkuat.

 

Secara teoritis, ada epitop yang sama di semua galur SARS-CoV-2 bahkan di seluruh virus korona, termasuk penyebab SARS dan MERS, serta pada cerpelai dan kelelawar. Epitop itu terkonservasi baik dan tidak banyak berubah karena penting untuk kelangsungan hidup virus.

 

Yang kini dieksplorasi adalah protein N yang membungkus kode genetik virus. Diperkirakan, protein N yang mirip di semua virus korona berperan penting dalam replikasi virus. Antibodi mampu mengenali protein N dalam sel, memecahnya, dan menjadikan penanda agar sel yang terinfeksi dihancurkan oleh sel T tubuh. Menurut Sarah Caddy, ahli imunologi dari Universitas Cambridge, Inggris, protein ini cukup stabil dan tidak sering bermutasi.

 

Osivax dari Perancis mengembangkan kandidat vaksin dari nanopartikel yang membawa salinan antigen nukleokapsid. Karena tingkat mutasinya rendah, respons sel T terhadap antigen ini mampu melindungi terhadap galur Covid-19 saat ini ataupun di masa depan. Hal serupa dilakukan eTheRNA dari Belgia yang membuat vaksin yang menginstruksikan sel tubuh mengenali protein S maupun protein N virus.

 

Pengembangan vaksin dengan berbagai teknologi dan target protein virus akan memberikan lebih banyak pilihan serta meningkatkan perlindungan terhadap virus korona baru yang mungkin akan terus bermutasi seperti virus influenza.

 

Percepat vaksinasi

 

Meski mengurangi risiko sakit dan kematian, vaksin masih memungkinkan orang tertular ataupun menularkan virus penyebab Covid-19. Virus masih bisa bereplikasi dan bermutasi dalam tubuh orang yang telah divaksinasi. Bahkan mutasi yang terjadi memungkinkan virus lolos dari hadangan antibodi.

 

Untuk mencegah mutasi, perlu menekan laju penularan virus. Richard Kuhn, Guru Besar Ilmu Biologi Universitas Purdue, Indiana, AS, menulis di The Conversation, 2 Februari 2021, penurunan tingkat penularan menjadi kunci. Lebih sedikit infeksi berarti lebih sedikit replikasi virus sehingga lebih sedikit peluang bagi virus untuk bermutasi.

 

Selain penerapan protokol kesehatan juga perlu vaksinasi orang sebanyak dan secepat mungkin. Vaksinasi yang lambat dikhawatirkan memberi waktu bagi virus untuk mengubah protein paku dan lolos dari vaksin.

 

Saat ini di Indonesia berlangsung vaksinasi massal. Dimulai dari tenaga kesehatan sejak pertengahan Januari, kini giliran petugas layanan publik serta orang lanjut usia (lansia). Untuk meningkatkan cakupan, vaksinasi dilaksanakan dengan menggandeng banyak pihak dan di banyak tempat.

 

Yang dilakukan Pemerintah India bisa dipertimbangkan untuk mempercepat vaksinasi. Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang pernah menjadi Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Regional Asia Tenggara 2015-2020 mengatakan, target vaksinasi India adalah 300 juta orang hingga Agustus 2021. Rinciannya, 30 juta tenaga kesehatan dan petugas pelayanan publik serta 270 juta orang lansia (60 tahun ke atas) dan kelompok usia 45-59 tahun dengan penyakit penyerta.

 

Vaksinasi dimulai 16 Januari 2021 menggunakan Covishield dari Serum Institute of India dan Covaxin dari Bharat Biotech International. Hingga 28 Februari sudah divaksinasi 14,3 juta orang.

 

Mulai 1 Maret, vaksinasi digenjot dengan melibatkan fasilitas kesehatan swasta di samping fasilitas pemerintah. Warga bisa memilih tempat terdekat, langsung datang dengan menunjukkan kartu identitas. Jika vaksinasi di fasilitas pemerintah gratis, di fasilitas swasta warga membayar 250 rupee (sekitar Rp 50.000).

 

Dengan mengambil pelajaran dari negara lain, bukan tidak mungkin vaksinasi di Indonesia bisa berlangsung lebih cepat. Setidaknya sesuai target, satu tahun.

 

Tjandra, yang juga anggota Independent Allocation of Vaccine Group (IAVG) dari Covid-19 Vaccine Global Access (Covax), koalisi lembaga internasional untuk mempercepat pengembangan vaksin Covid-19 serta memastikan akses vaksin yang adil dan merata di dunia, Sabtu (27/2/2021), menyatakan, Covax akan mengirimkan vaksin ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akhir Februari-awal Maret ini. ●

 

Selasa, 02 Juli 2013

Memenuhi Kebutuhan Dasar Rakyat

Memenuhi Kebutuhan Dasar Rakyat
Atika Walujani Moedjiono ;  Wartawan KOMPAS
KOMPAS, 28 Juni 2013


Salah satu ciri negara maju adalah seluruh penduduknya terjamin kebutuhan dasar hidup yang layak. Artinya cukup sandang, pangan, rumah, pendidikan, dan terjamin kesehatannya.

Selangkah lagi Indonesia akan mengawali jaminan bagi pelayanan kesehatan seluruh rakyat. Mulai 1 Januari 2014 Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diberlakukan. Skema yang merupakan salah satu amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN) itu akan menjamin pelayanan kesehatan paripurna, mulai dari mengobati batuk pilek hingga cuci darah dan kemoterapi bagi rakyat Indonesia. Tentu saja ada yang tidak dijamin, misalnya operasi plastik untuk tujuan kecantikan.

Selain jaminan kesehatan, UU SJSN juga mengamanatkan jaminan bagi kecelakaan kerja, pensiun, hari tua, dan kematian. Jaminan itu akan secara bertahap dilaksanakan. Rujukan sistem jaminan sosial adalah negara-negara Eropa, seperti Jerman dan Perancis, selain juga belajar dari negara tetangga yang sudah melaksanakan seperti Thailand dan Filipina.

Sebagaimana negara-negara rujukan biaya melaksanakan jaminan pelayanan kesehatan, yang secara generik disebut asuransi sosial kesehatan, didapat dari iuran penduduk. Artinya semua orang beriuran sesuai dengan kemampuan berupa persentase dari gaji. Adapun iuran orang miskin dibayar pemerintah. Imbalannya adalah setiap orang mendapatkan perawatan kesehatan sesuai dengan kebutuhan.

Jika kita menengok ke belakang, sistem ini sebenarnya berurat akar pada bangsa Indonesia. Sistem gotong royong lazim dilakukan kakek nenek kita jika ada anggota keluarga yang kesusahan. Bedanya dalam sistem asuransi sosial kesehatan yang disebut JKN di Indonesia, kegotongroyongan itu diformalkan lewat undang-undang, iuran ditarik setiap bulan, dan dikelola suatu badan nirlaba. Badan ini tidak mengambil untung. Sisa hasil usaha digunakan untuk meningkatkan fasilitas dan pelayanan.

Cikal bakal

Pentingnya asuransi sosial kesehatan yang mencakup seluruh penduduk Indonesia didengungkan puluhan tahun lalu. Namun, baru Maret 2001 dibentuk Kelompok Kerja SJSN yang bertugas menyusun naskah akademik dan konsep RUU SJSN. Melalui proses panjang, akhirnya UU SJSN ditandatangani presiden (saat itu) Megawati dan terbit pada 19 Oktober 2004.

Undang-undang ini sempat mati suri walau telah dibentuk Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN). Pemerintah memilih membuat program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) bagi penduduk miskin dibanding segera melaksanakan UU SJSN. Tahun 2010, DPR mengajukan hak inisiatif RUU Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS). RUU ini dibahas tahun 2011 dan terbit November 2011. Sejak saat itu persiapan asuransi sosial kesehatan bergulir kembali dan berujung pada keputusan presiden untuk menerapkan JKN pada tahun 2014.

Sejauh mana persiapan jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat itu?
Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti yang menjadi Ketua Bidang Penyiapan BPJS Kesehatan, Jumat (21/6), menyatakan, persiapan JKN sudah 80 persen selesai. Sisa 20 persen yang sedang disiapkan, antara lain soal konsensus iuran non-Penerima Bantuan Iuran (PBI), yakni iuran untuk pekerja formal dan nonformal. Persentase gaji sebagai iuran untuk pekerja formal belum mencapai kesepakatan antara pemerintah, asosiasi pengusaha, dan serikat pekerja. Masih ada tarik-menarik antara pengusaha dan pekerja mengenai berapa persen dari gaji yang masing-masing harus mereka bayar.

Menurut Direktur Utama PT Askes Fachmi Idris, dalam draf diusulkan persentase dari gaji untuk iuran adalah 5 persen. Dalam hal ini 3 persen akan dibayar pengusaha/pemberi kerja dan 2 persen dibayar pekerja. PT Askes akan menjadi BPJS Kesehatan, yakni badan nirlaba pengelola dana JKN.
Premi PBI 2014 untuk 86,4 juta warga miskin yang diusulkan pun masih bervariasi. Usulan Kementerian Keuangan sebesar Rp 15.500 per orang per bulan dipermasalahkan banyak pihak, mulai dari para dokter dan pengelola rumah sakit sebagai pemberi pelayanan kesehatan, BPJS, hingga ahli ekonomi kesehatan. 
Angka ini dianggap jauh dari nilai keekonomian pelayanan kesehatan dan dikhawatirkan akan mengorbankan mutu pelayanan. Kementerian Kesehatan mengusulkan Rp 22.000 per bulan, Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Rp 27.000 per bulan, dan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia mengusulkan Rp 60.000 per orang per bulan.

Menurut Hasbullah Thabrany, ahli ekonomi kesehatan dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, belanja kesehatan Indonesia jauh di bawah Malaysia dan Thailand. Bahkan, lebih kecil daripada Timor Leste dan Vietnam. Sebagai gambaran, Pemerintah Thailand membayar iuran per orang per tahun 2.546 baht (Rp 720.518). Jika pemerintah benar-benar mengalokasikan Rp 15.500 per orang per bulan untuk PBI JKN, artinya dalam setahun hanya Rp 186.000 per penduduk miskin.

”Biaya kesehatan yang kecil membuat produktivitas penduduk rendah,” kata Hasbullah. Kondisi kesehatan yang buruk menurunkan produktivitas. Sebaliknya kesehatan yang baik membuat penduduk bisa bekerja lebih maksimal. Pembayaran kepada pemberi pelayanan kesehatan sesuai dengan nilai keekonomian juga menjadi kunci redistribusi fasilitas dan tenaga kesehatan.

Thailand memulai cakupan semesta jaminan kesehatan pada tahun 2002 saat pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita 1.870 dollar AS. Tahun 2007, GNI per kapita mereka melaju ke 5.990 dollar AS.
Tahun 2007, GNI per kapita Indonesia 3.830 dollar AS. Tahun 2014, saat JKN diterapkan, tentu GNI per kapita Indonesia jauh lebih besar daripada saat Thailand memulai cakupan semesta jaminan kesehatan.

Menurut Hasbullah, alasan pemerintah bahwa dana tidak cukup dinilai tidak tepat. Apalagi kini pemerintah memiliki dana lebih besar akibat pengurangan subsidi BBM.
Hal lain, menurut Ali Ghufron, pengalihan aset dari PT Askes menjadi badan nirlaba BPJS masih dalam proses. Sejumlah peraturan yang diperlukan untuk melaksanakan JKN masih dibahas dalam kelompok kerja regulasi. Diharapkan sebelum akhir tahun semua sudah selesai.

Sarana dan tenaga

Hal penting yang harus disiapkan tentunya fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan. Distribusi tenaga kesehatan merupakan masalah selain pembiayaan kesehatan, terutama setelah era reformasi dan desentralisasi. Dokter, perawat, dan bidan cenderung berkumpul di kota-kota besar.

Berdasarkan data Kemenkes 2012, sebanyak 25 persen dari 9.323 puskesmas di Indonesia tidak memiliki dokter. Artinya sekitar 2.330 puskesmas tidak ada dokter. Hal itu terutama terjadi di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan, serta pulau-pulau kecil terdepan dan terluar.

Menurut Ali Ghufron, Kementerian Kesehatan telah memetakan sarana kesehatan yang tersedia. Jumlah rumah sakit (pemerintah dan swasta) yang pada tahun 2009 masih sekitar 1.700, kini meningkat jadi 2.102 RS untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan sekunder dan tersier. Jumlah puskesmas untuk memenuhi pelayanan kesehatan primer dari sekitar 9.300 menjadi 9.520 unit.

Saat ini jumlah tenaga kesehatan sekitar 88.000 dokter umum dan 24.000 dokter spesialis. Ali Ghufron mengakui, penyebaran dokter spesialis masih menjadi masalah. Karena itu, pihaknya memberikan beasiswa pendidikan dokter spesialis bagi sekitar 3.500 dokter umum. Diharapkan sebagian besar sudah selesai menjalani pendidikan pada tahun 2014. Mereka akan ditempatkan di daerah tertinggal dan perbatasan.

Hal lain yang sedang dihitung adalah nilai kapitasi bagi pelayanan primer serta tarif layanan kesehatan dalam kerangka Indonesia Case Based Group (INA CBG) untuk pelayanan sekunder dan tersier. Tarif ini nantinya akan menerapkan regionalisasi, yakni terkait dengan jarak dan perbedaan harga antarwilayah, faktor kemahalan, inflasi, dan sebagainya.

Kapitasi adalah pembayaran di muka bagi pemberi pelayanan kesehatan untuk menjamin kesehatan sejumlah populasi orang. Adapun INA-CBG adalah aplikasi untuk pengajuan klaim oleh rumah sakit. Dalam aplikasi ini, penyakit dikelompokkan berdasarkan ciri klinis dan biaya yang sama. Tujuannya untuk meningkatkan mutu dan efektivitas pelayanan serta mengendalikan biaya.

Sebagai awal, menurut Ali Ghufron, target cakupan JKN tahun 2014 adalah 70 persen penduduk Indonesia. Secara terpisah Fachmi menyatakan, target peserta minimal 121,6 juta. Itu merupakan gabungan dari peserta Askes (PNS, pensiunan, veteran, dan perintis kemerdekaan), peserta Jamkesmas (masyarakat miskin dan tidak mampu), masyarakat umum, pejabat negara, peserta Jamsostek, serta TNI/Polri/PNS Hankam. Tahun 2019, seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 257,5 juta tercakup.

Ali Ghufron mengakui, upaya menjamin pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk tidak bisa langsung sempurna. ”Ada proses, ada evaluasi untuk menyempurnakan. Jerman saja perlu 100 tahun untuk mengimplementasikan secara sempurna undang-undang yang dibuat Von Bismarck pada tahun 1883. Korea Selatan yang dianggap cepat juga perlu waktu 15-20 tahun,” katanya.

Apa pun itu, dengan dukungan masyarakat, diharapkan rakyat Indonesia bisa mendapatkan keadilan sosial lewat pelayanan kesehatan dan jaminan sosial lain. ●