Tampilkan postingan dengan label Rhenald Kasali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rhenald Kasali. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Maret 2021

 

Game Changer

 Rhenald Kasali  ; Pendiri Rumah Perubahan

                                                      JAWA POS, 06 Maret 2021

 

 

                                                           

NECESSITY is a mother of invention.” Plato menyatakan konsep itu sekitar 25 abad yang lalu. Sampai saat ini, apa yang dinyatakan filsuf Yunani tersebut masih relevan. Dalam sejarah peradaban manusia, berbagai penemuan dipicu oleh munculnya tantangan baru kehidupan dan alam yang terus berubah. Apalagi, jumlah penduduk yang mendiami bumi ini terus berkembang.

 

Mulai penemuan kapak batu, api, aktivitas berburu, pertanian, mesin uap yang memicu revolusi industri, listrik, komputer, hingga teknologi informasi di era 4.0. Berbagai penemuan itu telah mengubah wajah dunia dari masa ke masa.

 

Ketika teknologi berkembang kian pesat, siklus perubahan juga bergerak lebih cepat. Disrupsi pun muncul, memantik peralihan besar (great shifting) dalam kehidupan manusia.

 

Disrupsi teknologi memunculkan game changer yang sudah berhasil mengubah maupun berpotensi mengubah banyak hal, mulai peta bisnis, ekonomi, cara menjalani kehidupan, sampai kepemimpinan dan demokrasi. Dipicu kesadaran bahwa disrupsi bukan hanya soal teknologi, tapi juga business process dan business model, kita mengenal pendekatan telemedicine, ride sharing, online shopping, financial technology (fintech), mobil listrik, virtual wedding, serta berbagai platform digital lainnya. Bank pun merespons fintech dengan menjadi digibank, supply chain menjadi ecosystem, dan korporasi kelak beralih menjadi platform.

 

Teknologi memang memegang peran kunci. Namun, saat pandemi Covid-19 melanda, kita menyadari inilah game changer dengan kekuatan luar biasa yang memaksa perubahan. Di masa pandemi, kebutuhan aktivitas apa pun secara online melonjak untuk menggantikan aktivitas offline. Sehingga korporasi pun harus mengubah business process dan business model-nya agar tetap bisa sejalan dengan kebutuhan yang digerakkan angin perubahan pandemi Covid-19.

 

Aktivitas work from home yang masif telah menyadarkan manusia bahwa kita sesungguhnya sudah tak perlu terikat dengan tempat dan waktu dalam beraktivitas. Semua bisa dikerjakan dan dikendalikan dari jarak jauh.

 

Namun, transisinya mungkin adalah konsep hybrid yang mengombinasikan work from home dengan work from office. Tapi, kini kita mulai mempertanyakan beragam konsep yang menyangkut efisiensi dari sebuah kapasitas, apakah itu skala ekonomis, titik impas, kuantitas order yang ekonomis, dan seterusnya. Apalagi ketika social distancing menjadi lebih penting ketimbang skala ekonomis. Segala infrastruktur yang tetap mulai dibuat lebih fleksibel dan segala prosedur yang rigidity digantikan agility.

 

Lalu, pendekatan ambidexterity dalam bisnis mulai menjadi fenomena, yaitu memisahkan mana usaha lama yang masih harus dieksploitasi (karena sudah kadung besar kendati diproyeksikan akan terus menurun) dan mana yang mulai dieksplorasi (karena masih kecil). Jangan heran kalau BUMN dan usaha-usaha milik beragam grup besar dalam waktu dekat akan banyak berubah dan mulai mengadopsi teknologi dan cara baru. Pun cara-cara tumbuh secara anorganik akan makin banyak kita saksikan.

 

Dari munculnya konsep work from home saja, dampaknya sangat besar. Tidak hanya dalam proses adopsi teknologi oleh para pekerja dan manajemen, tapi juga pada berbagai sektor bisnis yang terkait secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya industri hiburan dan wisata, properti komersial, transportasi, otomotif, office appliance, listrik, serta telekomunikasi.

 

Dalam skala negara, pandemi juga menjadi game changer dan meniupkan angin perubahan di bidang layanan, tata kelola, dan kebijakan anggaran negara. Mulai percepatan proses penganggaran, pelebaran ruang defisit APBN, hingga skema restrukturisasi dan recovery ekonomi, termasuk berbagai insentif untuk individu maupun pelaku usaha.

 

Angin perubahan ini bertiup begitu kencang hingga menembus sekat-sekat rumah kita. Orang tua maupun anak-anak yang belum pernah mendengar virtual meeting atau video conference kini sudah akrab dengan Zoom, Weebex, Google Meet, CloudX, serta berbagai aplikasi lainnya. Tanpa pandemi, sulit bagi kita membayangkan adopsi teknologi virtual class bisa dijalankan bahkan hingga level pendidikan usia dini atau anak-anak TK.

 

Pandemi Covid-19 benar-benar menjadi game changer dalam kehidupan ini. Nanti, begitu semua ini berakhir, kita akan menyaksikan siapa saja yang menghilang dan siapa saja pemain-pemain baru. Akan ada banyak lagi peristiwa merger dan akuisisi. Juga masih akan banyak drama perubahan, di samping inovasi baru yang memudahkan dan memurahkan.

 

Generasi Entrepreneur

 

Disrupsi teknologi menjadi media tanam bagi tumbuh suburnya generasi entrepreneur. Kekuatan digitalisasi membuat sebuah bisnis bisa dilakukan dengan modal yang jauh lebih efisien sehingga barrier akses modal menjadi lebih ringan. Kuncinya adalah resources orchestration, bukan resources control seperti yang dikenal dalam konsep mata rantai nilai.

 

Karena itu, ketika pandemi Covid-19 menyeret berbagai negara ke jurang resesi, tren entrepreneurship justru merangkak naik dalam kecepatan yang mengagumkan. Laporan McKinsey, The Next Normal Arrives menunjukkan, di negara-negara maju di mana digitalisasinya sudah matang, jumlah entrepreneur yang bekerja dari kertas putih nan polos naik signifikan.

 

Di Amerika Serikat, pada triwulan III 2020 saja, ada lebih dari 1,5 juta aplikasi pendaftaran bisnis baru. Jumlah itu hampir dua kali lipat dari periode yang sama di tahun 2019. Kebanyakan adalah bisnis skala kecil. Misalnya chef restoran yang mengembangkan usaha katering dengan jalur penjualan online yang lalu berkembang menjadi kitchen cloud maupun bisnis di bidang digital oleh para fresh graduate.

 

Di Eropa, meskipun strategi recovery ekonominya lebih menitikberatkan pada perlindungan lapangan kerja, tren pertumbuhan entrepreneur juga muncul. Misalnya, di Inggris, jumlah pendaftaran bisnis baru sepanjang triwulan III 2020 naik 30 persen dibanding periode yang sama 2019. Kenaikan ini adalah yang terbesar sejak 2012. Di Prancis, pendaftaran bisnis baru pada Oktober 2020 mencapai 84 ribu, rekor tertinggi yang pernah ada.

 

Di Indonesia, tren serupa bisa kita lihat dari salah satu indikator pertumbuhan jumlah seller atau penjual di marketplace. Misalnya, di Tokopedia, pada akhir 2019, jumlah seller-nya ada di kisaran 6,5 juta. Hingga akhir 2020, jumlahnya sudah melonjak hingga mencapai 10 juta. Di bidang kosmetika dan perawatan kulit, muncul ratusan pemain baru dengan ratusan influencer serta ribuan reseller dan drop shipper. Padahal, pada saat yang sama, pemain-pemain lama yang populer sepuluh tahun lalu justru dilanda ”penyakit penuaan dan kemunduran”.

 

Sebagian pendatang baru di marketplace itu adalah pelaku usaha yang sebelumnya berjualan offline. Sebagian lagi dulunya adalah pekerja atau ibu rumah tangga biasa, kemudian terjun ke bisnis online di masa pandemi. Menangkap peluang bisnis dari peralihan pola belanja konsumen dari offline ke online. Karena itu, tak mengherankan jika jumlah transaksi perdagangan online naik signifikan. Data Indonesia E-Commerce Association (IdEA) menunjukkan, belanja online selama pandemi mencatat pertumbuhan hingga 30 persen.

 

Digitalisasi tampaknya menjadi backbone bagi munculnya pelaku-pelaku usaha baru. Bukan hanya itu, digitalisasi juga menjadi perisai sekaligus senjata bagi UMKM untuk menghadapi pandemi. Data survei Mandiri Institute menunjukkan, 9 persen UMKM dengan akses digital mencatat kenaikan omzet di masa pandemi. Angka ini lebih tinggi dibanding UMKM tanpa akses digital yang hanya 4 persen.

 

Ini tentu menjadi angin segar bagi perekonomian Indonesia. Ketika jumlah entrepreneur naik signifikan dan adopsi teknologi sudah makin matang, rebound berpotensi lebih cepat ketika momentum recovery ekonomi sudah didapat.

 

Otomasi Industri

 

Ada fakta menarik. Data United Nation World Tourism Organization (UNWTO) menyebutkan, sepanjang paro pertama 2020, pandemi mengakibatkan perjalanan internasional anjlok hingga 65 persen. Penurunan ini lima kali lipat lebih besar dibanding periode 2009 saat dunia dihantam krisis finansial.

 

Jika lalu lintas manusia merosot begitu dalam, lalu kira-kira berapa penurunan lalu lintas barang via laut (global maritime trade)? Jawabannya 4,1 persen. Ya, hanya 4,1 persen. Ini berdasar estimasi UN Conference on Trade and Development (UNCTAD). Alasannya, karena manusia rentan terhadap serangan virus, sehingga perjalanan internasional yang memicu risiko terpapar Covid-19 turun signifikan. Adapun risiko lalu lintas kargo barang terhadap paparan Covid-19 tak sebesar manusia.

 

Tapi, jika dicermati lebih dalam, salah satu kata kuncinya adalah otomasi. Global maritime trade bisa terus berjalan di tengah pandemi karena optimalisasi teknologi shipping atau armada kargo membuat keterlibatan manusia bisa diefisienkan.

 

Sebagai gambaran, pada tahun 1582, seluruh armada kapal dagang Inggris hanya memiliki kapasitas angkut 68.000 ton dan membutuhkan 16 ribu awak kapal. Bandingkan dengan satu kapal kargo OOCL Hongkong yang beroperasi pada 2017. Kapal sepanjang 399 meter bikinan Samsung Heavy Industries itu mampu mengangkut kargo 210.000 ton. Berapa kru kapal yang dibutuhkan? Hanya 22 orang.

 

Demikian pula sektor manufaktur saat ini. Sebagai salah satu sektor terbesar dalam penggunaan tenaga kerja, otomasi adalah kunci. Karena itu, pelaku usaha di sektor manufaktur harus mengambil momentum dari perkembangan teknologi 5G.

 

Instrumennya adalah cobot atau collaborative robot. Kehadiran robot yang diperkuat teknologi artificial intelligence ini mungkin bisa menggantikan tenaga manusia dalam jumlah cukup signifikan untuk menjawab tantangan ”lockdown” akibat pandemi. Namun, inti dari pengoperasian 5G terletak pada kemampuan digerakkan dari jarak jauh.

 

Robot bisa bekerja berdekatan tanpa khawatir terjangkit virus, juga bisa bekerja tanpa batasan waktu seperti manusia. Tambahan pula, tingkat kecerdasan robot hari ini sudah kian melebihi kemampuan manusia dalam berpikir dan membuat keputusan.

 

Jadi, bukan hal baru lagi bahwa manusia sebagai operator bisa bekerja di ruangan terpisah yang jauh sekalipun sehingga aman dari persebaran virus. Semua hal itu dimungkinkan terjadi lebih cepat dengan hadirnya jaringan 5G.

 

Wind of Change, Buritan vs Haluan

 

Meminjam istilah pakar sejarah Noah Harari, jika pandemi Covid-19 tak bisa ditangani dengan baik dan terus menyebar serta merenggut nyawa manusia pada 2021 ini, atau pada 2030 nanti manusia masih belum bisa menangani serangan pandemi mematikan, hal itu bukan karena bencana alam atau hukuman dari Tuhan. Melainkan kegagalan umat manusia.

 

Demikian juga dalam dunia bisnis. Pandemi selama 2020 harus menjadi periode krusial dalam transisi perusahaan. Angin perubahan harus bisa mendorong layar transformasi dalam business model maupun business process terus terkembang. Sehingga kapal bisnis bisa melaju di tengah gelombang.

 

Artinya, angin perubahan yang ditiupkan pandemi Covid-19 ini harus bisa dikelola agar menjadi angin buritan (tailwind) yang justru bermanfaat untuk mendorong laju kapal agar melesat lebih cepat. Memang dibutuhkan strategi inovasi dan adaptasi agar pandemi ini tidak menjadi angin haluan (headwind) yang menghambat laju perusahaan. Inilah challenge besar yang harus dihadapi pelaku usaha.

 

Karena itu, jangan sampai pada 2021 ini masih ada perusahaan yang belum tergerak oleh dorongan angin perubahan dan tetap terjebak dalam pusaran gelombang gagal paham. Jika hal itu terjadi, ketika nanti kondisi kesehatan perusahaan makin buruk, penyebab utamanya bukan lagi pandemi, melainkan kegagalan beradaptasi dan merespons perubahan. ●

 

Rabu, 05 September 2018

Orang-orang Kaya yang Mengaku Hidupnya Makin Sulit

Orang-orang Kaya
yang Mengaku Hidupnya Makin Sulit
Rhenald Kasali  ;  Pendiri Rumah Perubahan;
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
                                                      KOMPAS, 31 Agustus 2018



                                                           
Sambil senyum-senyum saya membaca keluh kesah kawan-kawan saya. Meski hidupnya enak, rumah besar, ada mobil, pesta pernikahan anaknya wah, bahkan ada yang memelihara hewan-hewan mahal, tetapi tak semua merasa makin kaya. Perhatian saya justru pada teman-teman yang “merasa makin miskin.”

Well, tak ada yang mengatakan kini kehidupan jauh lebih enak. Namun, ada konsekuensi dari keinginan kita yang menuntut perubahan, apalagi ini era disrupsi.

Di sisi lain, saat tatanan ekonomi dunia chaos, selalu ada energi besar yang memicu kreativitas, bahkan mencuri kemenangan. Persis seperti tim Indonesia dalam Asian Games 2018 ini. Sometimes you win and sometimes you learn.

Kembali ke kawan-kawan tadi. Dalam WA grup. Sama seperti Anda, kami juga membahas segala “kesulitan." Tapi belakangan saya sering bertanya, orang kaya, kok merasa hidupnya susah?

Suka Mengatasnamakan Rakyat

Akhirnya saya mulai sungguhan melakukan riset. Persis seperti waktu kuliah S-3. Saya kelompokkan mereka berdasarkan tempat tinggal dan simbol-simbol kekayaan yang mereka pamerkan.

Saya juga menelisik apakah mereka punya "calling" sosial atau tidak, semisal kontribusi dalam pendidikan, kesehatan, atau pembinaan anak-anak muda yang motifnya bukan kekuasaan atau kelompok identitas, melainkan yang altruistik, dengan ketulusan.

Saya lakukan analytics kata-kata kunci yang sering sekali mereka ucapkan. Memakai semacam big data.

Ternyata kata-kata negatif, benci pada keadaan, justru banyak dikeluarkan oleh mereka yang hidupnya, maaf, kering-kerontang atau yang terbiasa mengedepankan identitas kelompok. Padahal, sekali lagi, mereka tidak miskin.

Sayangnya, mereka juga mudah dihasut kebencian, padahal Tuhan sudah pernah memberi kesempatan sebagian mereka untuk berkuasa menjadi pejabat atau pemimpin.

Dan yang lebih menarik lagi, mereka yang merasa hidupnya tambah susah itu, selalu terkait dengan kata “rakyat.”

Maksud saya, mereka sering sekali mengatasnamakan rakyat. “Rakyat hidup semakin sulit,” “harga-harga yang harus dibayar rakyat terus melambung,” “daya beli turun.” Dan akhirnya “Rakyat di desa hidup merana, pekerjaan sulit.”

Mereka membuat rakyat merasa lebih susah, padahal rakyat yang dimaksud itu harus diajarkan keluar dari perangkap kepindahan (the great shifting), supaya usahanya kembali pulih dan ekonomi tumbuh lebih tinggi lagi.

Setiap kali melihat "rakyat susah" mereka ikut susah, tetapi hatinya tak tergerak sama sekali untuk mengulurkan bantuan, selain kata-kata.

Sementara teman-teman saya yang justru berjiwa sosial, tidak sekalipun mengatasnamakan rakyat.

Hartanya Naik

Pergunjingan pun beralih ke soal harta. Sebab sewaktu nilai rupiah terdesak, kawan-kawan saya yang merasa susah itu menawarkan asetnya untuk dijual. Ya rumah, apartemen, tanah, bahkan barang-barang tertentu.

Sama seperti Anda, saya berpikir mereka sedang butuh uang (BU), "pasti harganya turun." Ternyata mereka berkata lain. “Tidak dong. dollar naik, harga tanah dan bangunan juga naik dong.” Ternyata mereka tidak sedang BU, tetapi mencari keuntungan juga.

Saya semakin terkesima saat membaca Twitter yang dikirim seorang anak muda tentang besarnya kekayaan calon-calon presiden dan wakil presiden. Ternyata sama saja. Besar harta mereka setahun terakhir ini naik fantastis. Tetapi dalam pernyataannya, mereka selalu mengatasnamakan rakyat dan merasa hidup di sini semakin susah.

"Rada ngga nyambung," sergah anak muda yang menulis itu di Twiter.

The Empty Raincoat

Hampir 20 tahun lalu, saat dunia mulai mengenal internet, Prof Charles Handy mengajak kita “making sense of the future.” Ya, mengendus masa depan. Ia menyebut fenomena ini sebagai the empty raincoat. Sebuah perasaan yang berbeda dengan realitas yang ada.

Wajar bahwa orang-orang bingung, selalu membuat kebingungan. Kalau mereka tak kontrol mulutnya dan kebijaksanaan tak datang menemui hari tuanya, maka kesusahan akan menjadi sahabat teman-teman dan bangsanya. Sesungguhnya, orang yang banyak mengeluh adalah orang yang dikeluhkan teman-temannya.

Ini disindir Handy dalam Paradox of Riches. Tentu orang yang semakin kaya (secara ekonomi) merasa lebih punya kontrol dan maunya lebih dan lebih banyak lagi. Tetapi celakanya, ada semakin banyak harta yang tak bisa dimiliki orang berada pada harga berapa pun.

Ekonom menyebut hal itu sebagai public goods, dan untuk menikmatinya kita harus berbagi tempat (sharing space) dengan orang lain. Anda bisa membeli mobil, tapi jalanannya harus berbagi dengan orang lain.

Ketika perekonomian membaik dan daya beli naik, semua orang bisa memilikinya. Kini Anda harus berbagi kemacetan, bahkan ada kalanya tak bisa dipakai karena aturan ganjil-genap. Anda tak bisa membeli kelancaran lalu lintas berapa pun besarnya uang Anda selain berbagi hari dan mau diatur.

Udara dan air bersih, lingkungan yang aman, politik yang menenteramkan, masyarakat yang tidak pemarah, dan seterusnya juga sama saja.

Paradox of Poverty

Kini teknologi semakin memudahkan. Bekerja dari rumah misalnya. Dulu keduanya dibentangkan oleh jarak dan waktu. Jadi banyak yang bisa diselesaikan dengan waktu yang lebih sedikit (working less time). Tetapi, kini ada tuntutan untuk bekerja serba cepat. Bekerja dari rumah berarti tak punya waktu juga karena begitu banyak yang harus dan bisa dikerjakan. Pusing, bukan?

Tetapi, masih ada yang lebih paradox. Ini soal bagaimana kaum superkaya memaknai arti kemiskinan? Maksud saya, kalau tak pernah hidup melarat lalu ujug-ujug bisa menjadi presiden atau wakilnya, benarkah mampu membuat program yang meaningful untuk memberantas kemiskinan?

Saya beri contoh saja Donald Trump yang superkaya itu. Sama seperti politisi-politisi kaya Indonesia yang menjual kemelaratan (poverty) dan “penderitaan rakyat” sewaktu kampanye, Trump membekukan Obama Care yang pro poor. Tetapi di lain pihak, Trump justru mengusir para imigran miskin dan menurunkan pajak perusahaan-perusahaan besar dari 35 persen menjadi 21 persen.

Saya semakin tertegun ketika membaca buku Homo Deus yang ditulis profesor Yuval Noah Harari: A Brief History of Tomorrow. Ia mengingatkan:

“Saat negara-negara terfokus mengentaskan kemiskinan, kita menemukan pembunuh terbesar umat manusia. Bukan lagi kurang gizi, penyakit menular atau terorisme, melainkan gula.”

Ada paradoks antara eating too little (yang mengakibatkan kurang gizi) vs eating too much (yang mengakibatkan diabetes dan obesitas).

Science telah turut mengatasi banyak masalah kaum papa. Di Indonesia, dengan program dana desa yang generous kita menyaksikan telah ada lebih dari 100.000 km jalan desa. Penyakit-penyakit menular pun cepat diberantas.

Tetapi, tiga pembunuh terbesar manusia Indonesia menurut survei yang dilakukan oleh Balitbangkes (Sample Registration Survey) adalah diabetes, stroke, dan penyakit jantung. Ketiganya, konon banyak diderita kelompok kaya. Bukan kaum miskin.

Di sisi lain, ditemukan realitas bahwa komplain besar terhadap layanan BPJS Kesehatan, ternyata bukan dari kaum miskin, melainkan kelas menengah yang malas bayar iuran. Mereka lebih mengedepankan hak ketimbang kewajibannya. Bisa dibayangkan, masa depan layanan yang generous ini kalau kelak negara dipimpin orang kaya seperti Trump.

Begitulah kita menyaksikan sebagian orang-orang kaya yang merasa hidupnya semakin sulit. Mereka komplain apa saja, mulai dari ganjil-genap, jalan yang jauh di bandara, parkir yang padat, demo yang dilarang, sampai tadi itu: kok hidup jadi lebih susah? ●

Kamis, 03 Mei 2018

Efek Disrupsi, Mungkinkah Kembali ke Desa?

Efek Disrupsi, Mungkinkah Kembali ke Desa?
Rhenald Kasali  ;  Pendiri Rumah Perubahan;
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
                                                    KOMPAS.COM, 30 April 2018



                                                           
Saya baru saja meninggalkan kawasan pedesaan yang dipenuhi kebun-kebun anggur yang indah di Tuscany, Italia. Kawasan seperti ini tiba-tiba menjadi lapangan kerja baru, menyusul upaya Uni Eropa untuk kembali ke desa.

Menyeberang ke Porto, guide saya, calon dokter dari Lisbon bercerita tentang mundurnya perekonomian dan lapangan pekerjaan di Portugal. Sambil menarik nafas dalam, ia menyampaikan, kekasihnya harus pindah ke Brazil untuk mendapatkan pekerjaan.

“Di Portugal..” ujarnya. “Lebih dari 40 persen kaum muda sudah pindah untuk bekerja ke luar negeri,” tambahnya. Itu sebabnya, Uni Eropa sudah berkomitmen menyalurkan 100 miliar Euro dana desa selama 6 tahun (2014-2020) untuk membangun pertanian dan ekologi.

Kembali ke Desa

Tetapi Indonesia lebih serius. Memang bukan karena ancaman disrupsi, tapi hampir pasti disruption akan memasuki tahap transisi sehingga ada banyak pekerjaan di kota yang hilang. Bila EU hanya fokus pada 118 titik, Indonesia membidik 77.000 desa.

Tetapi eforia terhadap kota memang tak dapat dihindari. Sebanyak tiga perempat penduduk Asia diketahui akan berpindah ke kota. Dan sebanyak 8 dari 10 kota yang berpenduduk diatas 23 juta orang berada di Asia. Dua teratasnya adalah Tokyo dan Jakarta.

China memiliki lima belas dari total 46 megacity di dunia sedangkan Amerika Serikat hanya 2, yaitu New York dan Los Angeles.

Tetapi kini dunia sepertinya tengah disadarkan untuk kembali ke desa, sebab hanya di sanalah ada pangan dan udara segar. Dan Indonesia, dengan dana desa dan BUMDES-nya berada di garis depan. Tidak mengherankan bila saat ini sejumlah negara sudah disarankan badan-badan dunia melakukan studi banding ke sini.

Walaupun kita sendiri masih merasa banyak yang belum. Masih banyak jalan di desa yang belum terhubung meski sudah 121.000 kilometer yang dibangun. Lalu 82.000 lebih MCK dan 5.000 tambatan perahu.

Indonesia konsisten membangun desa dan membawa kaum muda yang masih produktif untuk berkarya di desa.

Berkarya apa? Bisnis online yang kini jadi andalan kaum muda perkotaan itu tentu ada batasnya. Ketika internet memotret gaya hidup baru dan mendekatkan manusia, maka ribuan produk konsumsi yang kita kenal pun akan menjadi barang inferior. Artinya, peningkatan pendapatan justru bisa membuat permintaan produk-produk tertentu menjadi barang inferior dan turun.

Artinya terjadi shifting besar-besaran yang berakibat banyak pekerjaan hilang. Tak pernah terbayangkan cokelat buatan Mayora bisa menjadi inferior goods karena konsumen yang pendapatannya naik malah memilih menabung lebih banyak supaya bisa berkunjung ke Umbul Ponggok di Klaten, menjalankan ibadah umroh atau melihat tembok raksaksa di Tiongkok.

Bisa dibayangkan bila pekerjaan-pekerjaan yang biasa “menarik” kaum muda itu terdisrupsi.

Beruntung di sini, semenjak Undang-Undang Desa disahkan pada (2014), pemerintah Indonesia menggenjot pembangunan di desa. Lihat saja, dana desa yang didistribusikan sejak 2015 sudah mencapai sekitar Rp 120 triliun. Memang sampai tahun lalu dana desa itu sulit dipakai untuk pengentasan kemiskinan karena ada ketentuan pengadaan yang melaras swakelola.

Tetapi, saya senang bahwa Presiden dan menterinya bekerja cepat. Melalui SKB 4 menteri, 30 persen dari dana desa itu kini bisa dipakai untuk program padat karya tunai. Jadi kini tak perlu lagi menggunakan kontraktor dari luar desa. Artinya dana dipakai oleh orang desa dengan tenaga masyarakat desa. Artinya perputaran uang akan lebih banyak lagi terjadi di desa.

Peran Offtaker

Beberapa waktu yang lalu saya diundang Eko Putro Sandjojo, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi juga untuk melihat desa-desa di Sumba Timur.

Dari bandara Halim Perdana Kusuma, saya ditemui oleh CEO PT Muria Sumber Manis, Iwan Suhardjo yang menjadi lokomotifnya

Kebetulan Sdr. Iwan pernah menjadi mahasiswa saya. “Dari akuntansi ke marketing lalu ke pertanian” ujarnya.

Iwan bukanlah orang pertama yang saya temui dan bisa belajar hal-hal baru. Makanya para pendidik perlu melakukan shifting, dari mengajar “what to learn” menjadi “how to learn”. Dan itulah yang dari dulu saya lakukan.

“Saya belajar kembali dari nol, dan kami berkesimpulan tanah-tanah tandus di Sumba Timur bisa kembali disuburkan.” Iwan mengakui belajar dari Google dan Youtube. Ia mengajukan pertanyaan kritis: “Bagaimana mungkin Israel yang tanahnya tandus bisa menghasilkan jeruk dan anggur yang manis-manis?”

Setelah melihat topografi dan curah hujan, dipilihlah desa Wanga di Sumba Timur. Mulanya mereka membuat 18 buah embung sedalam 6 meter ke bawah dengan sistem membran untuk menampung sekitar 200.000 meter kubik air hujan.

Gayung pun bersambut. Menteri Desa mempercepat kemajuan desa dan mengentaskan desa tertinggal dengan melibatkan CEO perusahan-perusahaan besar. Bulan lalu, sekitar 200 orang CEO menandatangani kesepakatan dengan 102 Bupati di Jakarta.

Tiba-tiba saja banyak CEO terhentak. Jambu klutuk yang diimpor dari India untuk bahan baku jus seperti Buavita, ternyata ada di desa Sukorejo Kabupaten Kendal (791 hektar). Jadi buat apa harus impor?

Di Sumba Timur, Menteri Desa membagikan tanah negara seluas 10.000 hektar kepada rakyat untuk menanam tebu dengan teknologi yang saya sebutkan tadi. Masing-masing petani mendapat 3 hektar. Dengan model ini, kalau tak ada aral melintang, setiap kepala keluarga bisa mendapatkan penghasilan baru sebesar Rp 85 juta.

Dengan modal sosial masyarakat yang bagus, PT Muria Sumba Manis (Kelompok usaha Djarum), minggu lalu melakukan peletakkan pertama bangunan pabrik gula dengan kapasitas 12.000 tcd (ton of cane per day). Artinya, Indonesia bisa segera nengurangi impor gula (saat ini 4 juta ton).

Diperkirakan akan ada 3.000-4.000 orang bekerja di pabrik, ribuan lainnya akan menjadi petani plasma. Bisa saya bayangkan bagaimana perputaran uang di desa Wanga dan desa-desa sekitarnya di Kabupaten Sumba Timur menyusul terbentuknya infrastruktur perdesaan yang jauh lebih baik.

Apa yang saya ceritakan ini sesungguhnya masih baru pada tahap awal dari ribuan inisiatif pembangunan desa yang mulai berbuah lainnya. Bersiap-siaplah kembali ke desa. ●   

Minggu, 07 Januari 2018

Arah Tranformasi dan "Digital Crisis" 2018

Arah Tranformasi dan "Digital Crisis" 2018
Rhenald Kasali  ;  Pendiri Rumah Perubahan;
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
                                               KOMPAS.COM, 28 Desember 2017



                                                           
Mendiang Presiden Kennedy pernah mengatakan, hati-hati menggunakan kata Crisis. Dan kata itu kembali menguat di akhir tahun ini, tatkala lembaga riset Forrester mengeluarkan outlook bisnis tahun 2018. Salah satu poin pentingnya, akan terjadinya digital crisis di tahun 2018.

Ini menjadi penting untuk anda yang tengah merumuskan visi 2018, sebab ekonomi digital benar-benar telah merasuki hampir seluruh kehidupan manusia.

Dan bagi Forrester, digitalisasi bukanlah sebuah elective surgery, melainkan mandatory. Sementara 60 persen CEO merasa mereka sangat tertinggal.

Di tanah air, bahkan lebih dari 80 persen CEO dan pengusaha lama merasa masih menjadi pemula (beginners) yang gaptek. Dan celakanya itu dialami perusahaan-perusahaan yang menjadi bintang bagi generasi X dan di atasnya.

Merek-merek besar yang selalu unggul dan menguasai pasar dengan jaringan distribusi yang selama ini solid, tetapi serba manual dan eye-contact.

Namun kalau kita mau kembali ke peringatan Kennedy, maka kata crises tidak boleh dibaca linear sebagai “keadaan yang berbahaya”, melainkan “ada kesempatan dalam bahaya.”

Kemana hilangnya kapal-kapal layar?

Supaya jelas kemana arah transformasi yang perlu dipersiapkan para pelaku usaha di tahun 2018, saya ajak anda membuka sedikit catatan sejarah ke belakang. Ya, ini soal kapal-kapal layar yang lenyap di era revolusi industri.

Anda mungkin masih ingat gambar di buku-buku sejarah yang mengesankan perdagangan global dengan kemunculan ribuan kapal layar pengangkut segala barang, termasuk rempah-rempah.

Kapal layar pernah berjaya merajut kesatuan nusantara dan penghubung perdagangan dunia. Entah itu kapal Pinisi, atau kapal VOC.

Kapal-kapal layar itu hilang sejalan dengan munculnya mesin uap. Bagi kaum muda saat itu, mesin uap adalah opportunity untuk mengganti pemain-pemain lama yang enggan berubah. Namun bagi pengusaha lama, mesin uap adalah bahaya. Maka yang terjadi, mereka memang mengambil jalan transformasi, tetapi separoh hati.

Ya, alih-alih melakukan transformasi yang penuh, para pemilik kapal hanya tergoda membeli mesin dan memasangnya di lambung kapal. Di atasnya tetap layar yang ditiup angin, namun di bawahnya ada mesin yang bisa memicu kecepatan.

Sementara kapal-kapal baru bermunculan yang didesain tanpa layar sama sekali. Ukuran kapal pun berubah. Jumlah muatan yang diangkat terus diperbesar. Dan dermaga-dermaga baru di manca negara terus dibangun menyesuaikan diri dengan bentuk kapal-kapal baru.

Kedalaman laut di tepian dermaga juga diperdalam karena bobot kapal lebih besar. Sementara di sini, dermaga-dermaga kita hingga tahun 2000 masih sama dengan keadaan 30-40 tahun sebelumnya.

Pemilik kapal-kapal mesin baru itu adalah pengusaha-pengusaha baru. Sementara mesin-mesin kapal dibeli oleh para pemilik kapal layar yang masih menggunakan angin sebagai kekuatan dengan dimensi kapal yang tak berubah.

Begitu terusan Suez dan terusan Panama dibuka, kapal-kapal layar perlahan-lahan mulai berguguran. Para pemiliknya bergumam, “Kami mati karena daya beli menurun, orang tak lagi melakukan perdagangan karena resesi ekonomi.”

Padahal pemilik barang memilih berdagang dengan kapal-kapal baru yang jauh lebih cepat, dan biayanya jauh lebih murah.

Kapal uap mulai dikenal pada tahun 1813. Menurut catatan Gale & Aarons (2017), kapal-kapal layar itu mulai kehilangan pasar pada tahun 1849 setelah dibangun terusan Panama yang membutuhkan kapal yang dimensinya lebih besar. Kecepatannya lebih tinggi dan daya angkut yang lebih, menyambut dunia yang lebih terbuka.

Transformasi separoh hati

Kisah tentang kapal-kapal layar yang dipasangi mesin-mesin uap itu kini tengah kita hadapi dalam perekonomian Indonesia. Khususnya ketika kita tengah memasuki perdagangan digital yang sangat disruptif.

Perusahaan-perusahaan berlomba membeli teknologi dan menguasainya, tetapi bentuk kapalnya tetap sama. Demikian pula leadership, business capabilities, customer engagement, mindset pegawai dan corporate culture-nya. Semua masih hidup di atas “kapal layar,” yang kini diberi “mesin uap” (teknologi).

Perusahaan-perusahaan demikian seperti tengah berkelahi melawan fakta-fakta baru bahwa bisnis mereka tengah berada dalam ancaman kematian. Semakin dekat kita memasuki perdagangan digital, maka semakin besar desakan kematian itu.

Tengok saja saat manusia mulai mengeksplorasi dunia digital 50 tahun lalu, rata-rata perusahaan terkemuka di dunia bisa bertahan lebih dari 50 tahun dalam daftar Fortune 500. Tetapi kini, di tahun 2018 diperkirakan mereka hanya bisa ada dalam daftar itu sekitar 15 tahun saja.

Raksasa-raksasa yang branded dan innovative itu begitu cepat digantikan pemain-pemain baru yang rata-rata CEOnya jauh lebih muda dan perusahan-perusahaannya sama sekali tidak dikenal di masa lalu.

Mau berlindung pada pemerintah lewat aturan-aturan lama ternyata juga tak bisa karena netizen berkata lain lewat customer enggagement yang lebih intim.

Mengapa raksasa-raksasa itu berguguran? Jawabannya adalah transformasi yang mereka lakukan benar-benar separuh hati, mereka membeli teknologi sekedar ikut-ikutan. Orang-orang lama tidak dilatih ulang, cara berpikirnya tidak diperbaiki, supply-chain management-nya tetap sama, sehingga cost structure-nya tidak berubah.

Sepenuh hati

Maka di tahun 2018, menurut catatan saya, akan bertambah banyak perusahaan-perusahaan besar lama, lintas kategori, yang akan semakin tegang memandang perubahan ini dan menyalahkan keadaan.

Apakah itu sektor keuangan, industri pengolahan, perdagangan dan retail, media, transportasi, farmasi, hospital, otomotif, dan masih banyak lagi yang akan memasuki masa-masa yang sulit.

Saya tentu tak bermaksud menakut-nakuti, melainkan menuntut perhatian agar eksekutif lebih berani mengambil langkah-langkah yang lebih mendasar.

Ibarat kapal layar yang telah memberi kesempatan ekonomi yang besar di masa lalu, maka kehadiran mesin uap di awal abad 18 perlu disambut dengan kapal yang benar-benar baru, baik bentuk, dimensi, dan cara-cara kerja baru.

Demikian pula kehadiran teknologi digital di abad 21, tak dapat dihadapi semata-mata dengan menambah kapabilitas teknis.

Harap diingat, 75 persen software-software baru yang powerful yang dibeli perusahaan dalam lima tahun belakangan ini pun kurang berhasil mengantarkan kemajuan perusahaan.

Masalahnya, perusahaan hanya mengandalkan orang-orang IT saja untuk menginstalasi software, sementara cara berpikir dan leadership capabilities manajemen tidak berubah.

Hanya dengan transformasi “sepenuh hati” perusahaan-perusahaan Indonesia bisa berlayar lebih cepat.

Untuk itu, cara para pemimpin dan pengamat ekonomi dalam mengkontekstualisasi dunia ini, pun harus berubah. Sebab mereka juga mengantarkan cara berpikir para CEO dan pemimpin.

Selamat berselancar dalam gelombang besar perubahan yang penuh kesempatan, bagi mereka yang sepenuh hati. ●

Sabtu, 25 November 2017

Holding BUMN: Antara Hoaks dan Fakta

Holding BUMN: Antara Hoaks dan Fakta
Rhenald Kasali ;  Pendiri Rumah Perubahan;
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
                                                    KOMPAS, 23 November 2017



                                                           
Dalam sebuah iklan yang hari-hari ini tengah ditayangkan oleh CNN, muncul buah apel. “Ini adalah apel,” begitu narasinya. “Tetapi, beberapa gelintir orang akan berkata: itu pisang!”

Lalu teman-temannya akan berteriak, “Ya betul. Itu pisang. Pisang! Pisang! Pisang!” Terus menerus berulang-ulang.

Pikiran saya mengatakan, cara bicara orang yang "memaksa" kita menerima bahwa apel itu adalah pisang  bisa berbeda-beda, “Benar itu pisang!” “Salah yang bilang itu apel.” “Berani taruhan berapa?  Itu apel!” “Kalau warnanya kemerah-merahan begitu, ya itu pisang.”

Iklan layanan masyarakat buatan jaringan televisi berita terkenal itu lalu ditutup dengan kalimat, “Mereka terus mengatakan sampai Anda akhirnya mulai percaya: jangan-jangan itu benar pisang. Tetapi bukan! Itu adalah apel.”

Dahulukan fakta

Akhirnya CNN menulis dalam teks iklannya: Dahulukanlah fakta!

Hari-hari ini saya dan Anda terus dibombardir oleh pesan-pesan seperti itu. Seakan kita tengah dipaksa untuk mengakui segala yang benar itu salah, berkorban itu tidak perlu, pembangunan itu jahat, bangsa kita bodoh, dan sebaliknya segala yang salah itu benar. Dan lama-lama kita pikir benar semua hoaks itu...

Sebagai akademisi, pekerjaan saya dari dulu ya menguji validitas dan reliabilitas. Dan kini orang-orang yang kurang kuat mentalnya pun, sekalipun berpendidikan tinggi, bisa saja ketakutan dan mulai meracau bahwa apel itu adalah pisang.

Kita lihat saja kasus-kasusnya. Tahun lalu,  "pisang"-nya adalah PKI, tapi tahun ini akan ditutup dengan isue BUMN.

Anda masih ingat, bukan? Tahun lalu itu uang rupiah cetakan baru yang akan keluar (dan kini pasti sudah ada di saku para penyebar hoax), diisukan mengandung logo "palu-arit," simbolnya partai komunis. Lalu presiden pun dituding PKI. Bahkan pertemuan biasa pun diisukan sebagai rapatnya PKI. Isue itu lalu meredup.

Nah, bersiap-siap menyambut akhir tahun sepertinya para penyebar hoax sudah punya daftar amunisi baru.

Mulanya digulirkan BUMN terlalu kuat, swasta tak punya tempat. Setelah direspon, lalu muncul lagi bahwa jumlah anak-cucu BUMN sudah kebanyakan. Presiden pun lalu merespon. Dikatakan jumlahnya akan dirampingkan.

Tetapi begitu satu persatu infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat  selesai dibangun, mulailah serangan-serangan berat berdatangan. Diberitakan bahwa Bandara Soeta dan 8 bandara lainnya akan dijual karena pemerintah nyaris bangkrut. Padahal kebandaraan kita baru saja bangkit.

Skytrax baru saja mengumumkan Bandara Soeta sebagai The Wold's Most Improve Airport. Lalu kereta bandara yang bergerak dari tengah-tengah kota Jakarta akan segera memasuki fase uji coba.

Di Soeta, sky train yang menghubungukan T1-T2-T3 pun sudah dioperasikan. Lalu Bandara Silangit yang berskala internasional minggu ini dibuka presiden. Pertumbuhan penumpangnya pun sebagai  yang tertinggi di dunia. Bagaimana mungkin mau dijual?

Tetapi, baiklah itu belum selesai!

Setelah isu bandara gagal, lalu isu jalan tol dan kini  lebih seram lagi: holding buat dijual. Bak pesan iklan CNN tadi, sejumlah orang bersama-sama berteriak: "Itu buah apel (maaf, mungkin maksudnya: kemajuan yang telah dicapai  tidak menyenangkan)."

Akses baru bagi masyarakat itu sumber kemiskinan. Segala yang diperbarui itu adalah untuk dijual. Bandara kita adalah yang terburuk, bukan menjadi lebih baik. Infrastruktur yang dibangun besar-besaran adalah penyebab kemiskinan dan merosotnya daya beli. Dan seterusnya.

Sayang kalau negara mendiamkan hal-hal begitu. Informasi harus dihadapi dengan infornasi yang sama deras dan jauh lebih berkualitas. Dan angka-angka saja tak pernah cukup. Sebab pangkalnya adalah paradigma, yaitu bagaimana manusia suatu bangsa melihat dan mempercayai angka. Jangan didiamkan.

Holding BUMN

Akhirnya, buah apel yang dibilang pisang itu adalah soal holding. Kita maklum, karena akhir tahun ini BUMN mulai menunjukkan hasil dari  kerja gesit dan keberaniannya mengambil alih proyek-proyek berisiko.  BUMN banyak membuka  akses  tersumbat dan proyek  yang mangkrak.

Setelah memenangkan gugatannya tentang holding BUMN di Mahkamah Agung, maka Kementrian BUMN mulai merampungkan holding pertambangan.

Model holding ini pun, dokumen-dokumen rencana strategi tertulisnya sudah beredar luas sejak setahun yang lalu. Jadi para pakar bisa mengkajinya secara terbuka. Sayapun sering membahasnya dalam berbagai kelas yang saya asuh di kampus.

Lagi pula holding BUMN bukan hal yang baru, baik di dunia maupun di Indonesia.

Di Singapura, BUMN-BUMN kecil itu di-holding-kan di bawah bendera Temasek. Di Malaysia namanya Khazanah Nasional.

Sedangkan di tanah air kita semua sudah lama melihat Astra dan Sinarmas sebagai holding.

Di BUMN sudah lama ada holding semen (Semen Indonesia yang membawahi Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa).

Lalu juga sudah  ada holding pupuk (PT Pupuk Indonesia Holding Company yang membawahi Pupuk Sriwidjaja, Petrokimia, Pupuk Kujang, Pupuk Kalimantan Timur, Pupuk Iskandar Muda, Rekayasa Industri, Mega Eltra, Asean Aceh Fertilizier, Hengam Petrochemical Company).

Holding itu, secara teoretis tujuannya adalah untuk membuat bangsa ini sejahtera melalui BUMN. Supaya kita tidak perlu belanja modal dan beli software-software mahal (untuk membentuk digital company) sendiri-sendiri. Belinya satu saja, lalu di-share beramai-ramai.

Holding itu juga kita perlukan untuk “menghadapi” lawan-lawan dari dunia global  yang sudah terlalu kuat di sini. Di zaman ini, suatu bangsa haram "mengusir" dominasi asing  dengan senjata atau nasionalisasi yang sempit.

Dominasi itu hanya bisa diatasi dengan cara-cara baru dan terhormat, yaitu keunggulan daya saing.

Kita tentu punya keinginan menguasai lumbung-lumbung emas besar yang dikuasai asing. Tapi kalau masing-masing perusahaan nasional bergerak sendiri-sendiri, mana mampu kita? Ini tentu beda kalau holding.

Kita juga tahu dari 70-an izin pengembangan smelter untuk mengolah tambang kekayaan nusantara di dalam negeri, baru 7 yang sudah mulai dibangun. Selama ini bahan-bahan mentah itu benar-benar mentah-mentah diangkut ke luar negeri. Indonesia dapat apa kalau BUMN-nya dibiarkan kecil-kecil dan tidak bersatu?

Dikabarkan pula BUMN itu di-holding-kan untuk memudahkan para oknum menjual anak-anak perusahaan kepada asing dan aseng tanpa pengawasan DPR!

Masya Allah, seperti itukah prasangka yang ditanamkan? Buah berwarna kemerah-merahan itu adalah apel, bukan pisang! Tak cukupkah kita melihat bahwa terbentuknya holding-holding terdahulu telah memperkuat industri kita?

Tak cukupkah kita menyaksikan bahwa tak ada satupun anak-anak perusahaan di lingkungan holding terdahulu (Semen dan Pupuk) yang dijual?

Kita perlu persatuan. Mempersatukan kekuatan BUMN-BUMN yang awalnya kecil-kecil sendiri-sendiri untuk membeli, bukan untuk menjual.  Untuk menguasai, bukan untuk dikuasai.

Sekali lagi, dahulukan fakta. Kalau ada yang salah, minta diperbaiki. Bukan ditertawakan atau dijadikan bahan kampanye bisnis atau politik. Kalau mereka melanggar,  tuntutlah lewat jalur hukum.