Tampilkan postingan dengan label Puspita Zorawar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puspita Zorawar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Januari 2012

Resolusi 2012 dan “Countinuous Self Improvement”


Resolusi 2012
dan “Countinuous Self Improvement”
Puspita Zorawar, EXPERTISE PERSONAL DEVELOPMENT INDONESIA
Sumber : SINAR HARAPAN, 7 Januari 2012


Ketika artikel ini sampai di tangan para pembaca sekalian, kita semua baru saja merayakan saat–saat pergantian tahun dari 2011 ke 2012. Setiap kita tentu saja punya cara sendiri merayakan saat-saat pergantian tahun.

Beberapa keluarga berbelanja dan mempersiapkan masakan-masakan spesial untuk malam Tahun Baru 2012 bersama seluruh keluarga, namun tentu saja ada beberapa di antara kita yang di malam pergantian tahun tidak memiliki kesempatan berkumpul bersama keluarga karena satu dan lain hal.

Tak terasa tahun 2011 sudah berakhir. Waktu terus berjalan, time is always clocking, never stop. Untuk seseorang yang memiliki kesibukan, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Namun untuk seseorang yang tidak memiliki kesibukan, malah akan merasa sebaliknya, yaitu waktu serasa berjalan begitu lambat.

Artikel minggu lalu saya mengajak pembaca sekalian untuk bersama-sama melaksanakan evaluasi diri 2011 dan selalu belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Selanjutnya melalui tulisan ini, marilah kita sama-sama melaksanakan resolusi diri 2012 yang merupakan sesuatu yang sangat penting dalam managemen diri.

Kata resolusi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diterjemahkan sebagai re·so·lu·si /résolusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu -- yang akan diajukan kepada pemerintah.

Pengertian sederhana dari kata resolusi diri 2012 berarti sebuah harapan, cita-cita, aktivitas-aktivitas yang riil dan aplikatif dapat kita capai di sepanjang tahun 2012. Poin-poin yang kita canangkan dalam resolusi diri 2012 bukan hanya sebuah kata yang kita susun, tapi akan dilupakan setelah momentun Tahun Baru 2012.

Menyusun resolusi diri 2012 harus kita mulai dari sebuah kesadaran bahwa setiap kita harus selalu melaksanakan self improvement secara terus-menerus dalam membangun kompetensi diri sesuai peran dan tanggung jawab kita masing-masing, termasuk peran dan tanggung jawab kita sebagai orang tua dan anggota keluarga, sebagai bagian dari organisasi kita bekerja, dan sebagai seseorang yang memiliki visi dalam karya pekerjaan dan profesi kita sehari-hari.

Setiap kita memilki potensi yang harus terus-menerus digali dan marilah kita kontribusikan lebih baik dalam setiap karya kita di tahun 2012.

Sebagai acuan kita membuat poin-poin dalam resolusi diri 2012. Ada beberapa poin penting seperti yang sering digunakan dalam pencapaian sebuah goals (tujuan), yaitu harus SMART: Spesific, Measurable, Achievable, Reasonable, dan Timeline.

·         Spesific (jelas dan realistis), seorang Ibu yang bekerja membuat poin yang spesifik dalam resolusi diri 2012, misalnya, harus lebih bisa meningkatkan komunikasi yang efektif dengan anak-anaknya.

·         Measurable (terukur), marilah kita menulis target-target apa yang dapat kita capai di tahun 2012. Misalnya, sebagai orang tua yang ingin anak-anaknya lebih berhasil lagi atau sebagai profesional yang dapat mencapai achievement yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

·         Acheivable (dapat dicapai), marilah kita membuat poin-poin aktivitas apa agar seluruh potensi kita dapat dimaksimalkan dan akhirnya dapat mencapai sebuah tujuan.

·         Reasonable (beralasan), apakah kita memahami setiap makna dari setiap usaha self improvement kita di tahun 2012.

·         Timeline (batas waktu), setiap kita membuat target, marilah kita sadari bahwa sebuah target harus memilki deadline (batasan waktu), bisa satu bulan, dua bulan atau satu semester. Marilah kita mengatur (me-manage) waktu kita agar kita dapat memenuhi deadline dari target-target kita.

Losers make promises they often break, and winners make commitments they always keep (Denis Waitley). Marilah kita membuat komitmen dari setiap janji-janji kita dalam Resolusi Diri 2012.

Action dan action, terus-menerus memperbaiki diri kita dalam setiap peran kita (continuos self improvement), termasuk dalam menghadapi setiap tantangan perubahan yang akan terjadi di tahun 2012.

A pessimist sees the difficulty in every opportunity; an optimist sees the opportunity in every difficulty (Winston Churchill). Selamat Tahun Baru 2012, selamat meraih peluang-peluang baru di sepanjang 2012. Selamat menjadi bagian dari perubahan Indonesia yang lebih baik. ●

Minggu, 25 Desember 2011

Evaluasi Diri 2011 dan “Learning by Mistakes”


Evaluasi Diri 2011 dan “Learning by Mistakes”
Puspita Zorawar, EXPERTISE PERSONAL DEVELOPMENT INDONESIA
Sumber : SINAR HARAPAN, 24 Desember 2011


Memasuki saat-saat akhir tahun seperti ini, sudah menjadi fenomena yang biasa terjadi di sekitar kita dari tahun ke tahun, para profesional memutuskan mengambil cuti agar dapat melaksanakan program liburan bersama keluarga.

Ya... suasana liburan yang pasti dinanti-nantikan setiap orang. Banyak orang sudah mempersiapkan acara liburan di akhir tahun, me-match-kan jadwal cuti antara suami dan istri yang bekerja, agar dapat berlibur bersama dengan putra-putri mereka yang sudah tidak sabar akan acara liburan bersama keluarga.

Fenomena ini ditangkap oleh biro-biro travel, bisnis hotel, dan tempat hiburan sebagai peluang emas. Mereka sudah mulai melakukan promo di bulan-bulan sebelum Desember untuk menawarkan paket acara liburan akhir tahun dengan menjamu para keluarga yang melepaskan kepenatan bekerja selama hampir satu tahun.

Fenomena menarik lainnya yang selalu terjadi dari tahun ke tahun adalah suasana Natal. Kita bisa menyaksikan di hotel-hotel, di seluruh pusat perbelanjaan, di public area lainnya, telah dipasang hiasan dan dekorasi Natal. Di kantor-kantor, karyawan juga sibuk merayakan Natal.

Organisasi-organisasi nonformal pun merayakan Natal bersama untuk membangun ikatan kasih di antara anggota organisasi tersebut, termasuk mempererat ikatan persaudaraan antarumat beragama.

Keluarga kita atau saudara, tetangga kita juga ada yang sedang mempersiapkan Natal, termasuk menjadi salah satu agendanya adalah tukar-menukar kado sebagai simbolisasi dari giving (memberi). Namun, marilah jangan hanya berhenti di hal-hal tersebut.

Marilah kita saling mengingatkan agar di akhir tahun seperti ini ada suasana yang tidak kalah penting yang juga harus kita prioritaskan dalam kesibukan kita di akhir tahun, yaitu evaluasi diri 2011. Bahkan, evaluasi diri 2011 ini sangat penting untuk memasuki langkah-langkah baru di tahun depan, yaitu 2012.

Semua perusahaan dan organisasi di akhir tahun telah melakukan evaluasi pencapaiannya di tahun 2011 melalui raker (rapat kerja), rakor (rapat koordinasi), rapim (rapat pimpinan).

Dalam acara tersebut dibahas atau di-review semua kegiatan dan program-program yang telah terjadi dan apa saja yang telah dicapai setiap tim kerja yang ada dalam perusahaan tersebut. Evaluasi 2011 tersebut untuk melihat kemajuan apa yang sudah terjadi dan apa yang belum terjadi, atau apakah malah ada kemunduran.

Yang tidak kalah penting dalam pembahasan evaluasi 2011 adalah apakah yang menjadi hambatan untuk mencapai suatu pencapaian yang ditargetkan. Dengan mengetahui hambatan dan permasalahan intinya, tim kerja yang ditugaskan akan dapat mencari solusinya agar pencapaian yang ditargetkan tidak terhambat lagi di masa yang akan datang.

Bagaimana dengan evaluasi diri 2011 bagi kita dan keluarga? Pertanyaan-pertanyaan di atas masih relevan untuk kita pakai dalam melaksanakan evaluasi diri 2011.

Peristiwa apa saja yang telah terjadi di bulan Januari– Desember 2011? Apakah diri kita dan keluarga berhasil melewati masa-masa sulit dan tantangan hidup dengan baik? Tentu saja banyak hal penting dan krusial yang harus kita perbaiki.

Apa saja hal-hal penting yang harus kita perbaiki agar diri kita, keluarga kita, tim kita lebih berhasil di masa yang akan datang? Bagaimana agar diri kita, keluarga kita, tim kita tidak menyia-nyiakan waktu hidup yang kita miliki, bakat dan potensi diri yang dianugerahkan Tuhan kepada kita?

Bagaimana agar pada akhirnya diri kita, keluarga kita, dan tim kita dapat memberikan sesuatu yang bernilai tambah bagi kehidupan di dunia melalui bidang profesi dan pekerjaan kita?

Learning by mistakes yaitu suatu nilai yang sangat baik kita miliki. Kita harus selalu belajar dari kesalahan-kesalahan kita yang telah terjadi. Tidak ada seorang pun yang ingin membuat kesalahan. Tantangan kita adalah apakah kita dapat benar-benar mempelajari kesalahan kita atau kita telah mengabaikan kesalahan-kesalahan tersebut?

Marilah kita bersama-sama mengambil waktu untuk melihat ke dalam diri, apakah ada kesalahan yang telah terjadi dalam cara berpikir (the way of thinking) kita? Apakah ada kesalahan yang telah terjadi dalam kita berkata-kata (choice of words)?

Apakah kesalahan yang telah terjadi dalam tindakan-tindakan (actions) kita? Apakah ada kesalahan dalam kebiasaan-kebiasaan (habits) kita, sehingga ada kebiasaan-kebiasaan buruk yang sulit dihindari?

Bagaimana dengan karakter dan nilai-nilai kita ketika berhubungan dengan anggota keluarga dan orang lain? Apakah segala sesuatunya sudah sesuai dan sejalan dengan tujuan hidup kita?

“Keep your thoughts positive, because your thoughts become your words.
Keep your words positive, because your words become your behaviours.
Keep your behaviours positive, because your behaviours become your habits.
Keep your habits positive, because your habits become your values.
Keep your values positive, because your values become your destiny.” (Mahatma Gandhi)

Marilah kita terus-menerus mengevaluasi diri dan melaksanakan learning by mistakes. Mari kita tetap bersemangat menghadapi tantangan di tahun 2012. Selamat Hari Natal bagi yang merayakannya dan Selamat Tahun Baru 2012. ●

Minggu, 18 Desember 2011

“Time Management” dan “Self Management”


“Time Management” dan  “Self Management”
Puspita Zorawar, EXPERTISE PERSONAL DEVELOPMENT INDONESIA
Sumber : SINAR HARAPAN, 17 Desember 2011


Dalam perjalanan profesi saya beberapa tahun ini, saya sering sekali bertemu dengan orang-orang baru dan terus berbeda-beda, baik berbeda dalam hal level pendidikan, level posisi di perusahaan, maupun level generasi usia.
Melalui diskusi dengan mereka, baik diskusi secara formal maupun informal, saya mendapatkan banyak hal sebagai pembelajaran baru bagi saya. Tentu saja hal tersebut merupakan salah satu hal yang positif dan sangat menarik dari pekerjaan saya selama ini.

Satu di antara pembelajaran yang saya dapatkan dan menjadi pembelajaran yang penting untuk saya bagikan kepada para pembaca adalah bahwa ada sebagian kita dapat menjadi pribadi yang efektif, karena dapat menghargai waktu yang mereka miliki dalam hidupnya dan dapat secara bertahap mencapai keberhasilan mereka.

Namun, tidak semua orang mendapatkan hal tersebut karena mereka telah terperangkap dalam kecepatan waktu dan merasa tidak mendapatkan apa yang mereka dambakan di dalam hidup mereka.

Kira-kira bulan lalu, saya bertemu dengan seseorang yang sudah senior di sebuah perusahaan yang merupakan salah satu perusahaan ternama di Indonesia, Pak Jason.
Pak Jason menyampaikan perasaannya dan mengatakan kepada saya, “Wah... seharusnya pelajaran yang saya dapatkan hari ini sudah saya dapatkan 20 tahun lalu. Jika saya sudah mendapatkan hal–hal seperti ini, saya percaya bahwa saya akan lebih menghargai setiap kesempatan yang saya peroleh dalam hidup saya.”

Pak Jason merasa waktu sudah terlambat untuk melaksanakan beberapa self improvement. Pak Jason selama ini merasa rutinitas sehari-hari telah menyita waktunya.
Waktu yang dimiliki Pak Jason yaitu 24 jam sehari rasanya sangat tidak cukup untuk melaksanakan beberapa poin penting dalam rangka mengembangkan potensi dan kompetensi dirinya yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas tanggung jawabnya, tidak saja sebagai profesional di sebuah perusahaan, namun juga sebagai kepala keluarga.

Dalam event yang berbeda, ketika saya berkesempatan memberikan sharing session di sebuah seminar mahasiswa, Andre - seorang peserta yang tentu saja seorang mahasiswa, bertanya kepada kami para narasumber dalam seminar tersebut, “Ibu dan Bapak narasumber, bagaimana saya mendapatkan me time saya ya, jika ternyata saya terus sibuk setiap hari mengerjakan banyak hal untuk mempersiapkan diri mencapai cita-cita saya?”

Bukan saja seorang eksekutif senior seperti Pak Jason, Andre yang masih mahasiswa juga merasa “terjebak” dalam rutinitas sehari-hari sehingga tidak memiliki waktu untuk “me time”.

Banyak di antara kita merasa terbelenggu oleh rutinitas pekerjaan dan beberapa aktivitas pendukung serta aktivitas lainnya dalam keseharian kita. Waktu terus berlari cepat, detik ke detik, tidak akan pernah menunggu apakah kita sudah siap atau belum.

Siapa pun kita, memiliki persamaan, yaitu memiliki waktu 24 jam sehari atau 168 jam dalam satu minggu. Namun, yang sering berbeda antara pribadi yang efektif dan yang tidak efektif adalah dalam cara mengelola waktu.

Kemampuan mengelola waktu (time management) sangatlah penting dalam manajemen hidup kita. Mengelola waktu kita berarti mengelola hidup kita. Time is life. To waste your time is to waste your life (Merrill Douglass).

Mengapa waktu kita rasanya sangat sedikit? Karena semakin berjalannya waktu, semakin bertambahnya tanggung jawab, baik tanggung jawab kita di dalam keluarga, tanggung jawab kita di dalam pekerjaan, serta tanggung jawab kita di bidang–bidang yang lain, menjadikan waktu sangat terbatas.

Belum lagi harus diperhitungkan waktu-waktu yang harus dilalui ketika kita menuju suatu tempat dengan perjalanan yang macet misalnya di Kota Jakarta. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kita semua.

Time management dimulai dengan suatu hal yang sangat sederhana, yaitu bagaimana kita menggunakan waktu untuk hal-hal yang kita hargai, sedemikian kita menyadari bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita.

Apakah setiap aktivitas kita adalah aktivitas yang berharga menuju pencapaian tujuan hidup atau goals hidup kita, bukan saja sebagai profesional di pekerjaan kita, namun juga goals kita sebagai bagian dari sebuah keluarga dan juga bagian dari masyarakat?

Apakah kita sudah dapat merencanakan aktivitas-aktivitas yang mendukung agar potensi diri kita dapat kita gunakan secara efektif untuk mencapai tujuan hidup kita atau goals kita? Poin-poin inilah, yang sebenarnya merupakan poin yang sangat penting, namun sering terlupakan, karena kita sering hanya terfokus pada rutinitas hidup sehari–hari.

Mengapa perlu tujuan hidup (goals) dalam mengelola waktu yang kita miliki? Karena dengan tujuan hidup, kita dapat mengarahkan segala sesuatunya lebih fokus. Bagaimana jika seseorang tidak memiliki goals dalam hidupnya? Seluruh aktivitasnya tidaklah efektif terfokus untuk mencapai sesuatu.

Aktivitasnya akan bergerak seputar pekerjaan rutin yang pada suatu ketika akan menjadi kebosanan yang tidak berujung. Ketika kebosanan terjadi, sering kali akan diikuti dengan motivasi yang menurun dan motivasi yang menurun akan mengurangi produktivitas kita dalam menggunakan waktu yang terbatas. Sayang sekali, bukan?

Dalam hal goals ini, tentu saja kita sering terinspirasi oleh orang-orang yang luar biasa dalam menjalankan pekerjaaannya, dengan memiliki statement: “Saya harus berhasil dalam pekerjaan saya karena saya ingin pekerjaan saya bermanfaat bagi orang lain... karena saya ingin menolong keluarga saya... atau karena saya ingin menolong banyak orang.”

Waktu adalah aset yang terbatas, tidak bisa lagi untuk ditambah, yaitu 24 jam sehari selalu terjadi sepanjang waktu, namun tidak dengan self management yang tidak terbatas. Self management adalah kemampuan kita dalam me-manage diri sendiri (manajemen diri) dalam menghadapi segala tantangan dalam hidup kita.

Self management meliputi kemampuan kita menata prioritas dalam hidup kita, bagaimana kita mengembangkan kemampuan bekerja sama dengan orang lain dalam proses mencapai misi dan keberhasilan kita (tentu saja kita harus bekerja sama dengan orang lain dalam mencapai goals kita), kemampuan kita mengendalikan pola hidup sehingga kita selalu dalam kondisi kesehatan yang prima (healthy life), bagaimana kita terus-menerus mengembangkan skill (keterampilan) berkomunikasi efektif sehingga kita dapat berinteraksi dengan orang lain dengan optimal, bagaimana kita mengelola emosi menghadapi hal-hal yang tidak kita harapkan, bagaimana kita mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan rutin dan masih banyak lagi poin penting yang termasuk dalam self management.

Waktu akan terus berjalan, tidak akan pernah kembali lagi. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan kita.

Mari kita mengembangkan skill self management, agar dengan waktu yang terbatas kita terus-menerus bertahap dapat mencapai keberhasilan demi keberhasilan yang bermanfaat bagi keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan bagi bangsa kita. Time flies. It’s up to you to be the navigator (Robert Orben). ● 

Minggu, 11 Desember 2011

“Powerful Words by Heart”

“Powerful Words by Heart”
Puspita Zorawar, EXPERTISE PERSONAL DEVELOPMENT INDONESIA
Sumber : SINAR HARAPAN, 10 Desember 2011



Pada suatu kesempatan, saya pernah menjadi salah satu pembicara dalam seminar mahasiswa di Jakarta dengan judul “Wordsmart di Era Multimedia”.
Salah satu topik yang dibahas pada waktu itu adalah kemampuan menyampaikan gagasan melalui kata-kata atau tulisan merupakan salah satu potensi besar yang dapat menjadi alternatif profesi di masa kini.

Howard Gardner, penulis Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelligences (1983), berpendapat bahwa di antara ketujuh kecerdasan yang dimiliki manusia, salah satu di antaranya adalah kecerdasan bahasa.

Ini merupakan suatu kepekaan terhadap bahasa lisan atau bahasa tulis (baca: kata-kata). Seseorang dengan kecerdasan ini akan mampu mempelajari bahasa dengan cepat serta menggunakannya dengan tepat.

Rangkaian kata yang mengandung arti (lazim kita sebut kalimat) merupakan bagian yang sangat penting dalam proses berkomunikasi. Dengan demikian, tujuan berkomunikasi kita akan tercapai.

Walau dalam proses komunikasi sering ketika sender (komunikator) menyampaikan pesan kepada receiver (komunikan), terjadi banyak variabel yang sering menjadi penghalang pesan dapat diterima dengan baik, namun saya ingin menyampaikan bahwa hampir 80 persen proses berkomunikasi diwakili oleh rangkaian kata.

Seorang pengarang buku best seller menggunakan kata-kata yang tepat untuk menghibur, menginformasikan pengetahuan, atau memberi motivasi, memberi manfaat kepada orang lain (pembacanya), sehingga buku-buku mereka dapat laris dibeli orang.

Namun, di sisi lain, oleh pihak lain, rangkaian kata juga dapat digunakan untuk mengungkapkan emosi seseorang, untuk menuduh, memfitnah, memaki-maki orang lain, bahkan mengintimidasi seseorang.

Tidak lama setelah seminar tersebut, seorang senior saya, sebut saja Pak Adit, seorang direktur di sebuah perusahaan multinasional menelepon saya dari luar pulau dalam sebuah perjalanan dinasnya. Selain karena akan mengoordinasikan suatu hal, beliau juga menceritakan kegemasannya pada seseorang, sebut saja Pak Hiro.

Pak Adit bercerita bahwa Pak Hiro telah melakukan tindakan tidak terpuji sebagai seorang profesional, menelepon sekretarisnya dengan “penuh amarah”. Ia memaki-maki sang sekretaris karena permohonannya agar Pak Adit dapat menjadi pembicara dalam suatu sarasehan internal perusahaan tempat Pak Hiro bekerja tidak kunjung mendapat tanggapan.

Sementara itu, menurut sekretaris Pak Adit, hal tu terjadi karena jadwal Pak Adit padat sekali sehingga sekretaris Pak Adit belum dapat memberikan konfirmasi sebagai pembicara, seperti yang diminta oleh Pak Hiro.

Pak Adit memang salah seorang ahli di Indonesia dalam materi yang diajukan Pak Hiro untuk sarasehan internal di perusahaannya.

Pak Hiro merasa memiliki kuasa dengan mengatasnamakan sebuah perusahaannya untuk “memaksa” Pak Adit memberikan konfirmasi segera, karena tentu saja event internal tersebut akan lebih menarik kehadiran para karyawan perusahaan tersebut jika dapat menghadirkan Pak Adit.

Namun, apa yang terjadi pada akhirnya? Karena kata-kata yang penuh amarah, ditambah dengan penyampaian dengan emosi tinggi dari Pak Hiro, tanpa berpikir panjang, tanpa melihat perusahaan apa yang mengundang, langsung saja Pak Adit memutuskan menolak permintaan tersebut.

Bahkan, Pak Adit menginstruksikan kepada sang sekretaris bahwa jika suatu ketika ada permintaan lagi dari Pak Hiro, sebaiknya langsung saja ditolak dengan cara yang profesional.
Pak Adit tidak tertarik lagi kepada content (isi pesan) yang disampaikan oleh Pak Hiro melalui sekretarisnya, namun hanya satu hal yang menjadi pertimbangan Pak Adit, yaitu context (situasi) bahwa seseorang telah meminta sesuatu dengan penuh amarah adalah tindakan yang tidak profesional.

The real art of conversation is not only to say the right thing at the right time, but also to leave unsaid the wrong thing at the tempting moment.

Kata-kata yang disampaikan pada saat kita berkomunikasi, dengan siapa pun, selalu keluar dari hati kita. Kata-kata yang penuh amarah justru berpotensi menggagalkan tujuan proses berkomunikasi. Kata-kata yang penuh amarah dari Pak Hiro, membuat Pak Adit tidak pernah merasa trust (percaya) lagi kepada Pak Hiro.

Kata-kata seperti pedang, seperti pedang bermata dua. Ketika kita berkomunikasi, setelah kita mendengarkan pihak lain, kemudian pada saat kita akan memberikan feedback, kata-kata yang kita rangkai dengan benar, kita sampaikan secara asertif, dalam waktu yang tepat akan membuahkan hasil luar biasa. Itulah the powerful word by heart, yang akan sangat berpengaruh apakah komunikasi kita dapat efektif atau tidak.

Kata-kata yang kita sampaikan dalam proses komunikasi kita, sudah seharusnya mewakili isi hati kita. Kata-kata yang telah kita sampaikan kepada orang lain, tidak akan lenyap diterbangkan angin dan hilang begitu saja. Setiap perkataan kita akan mempunyai makna tertentu bagi yang mendengarkannya.

Hati kitalah yang menentukan apakah kita berkata-kata untuk memberikan manfaat kepada orang lain atau tidak.

Ketika kita ingin membangun generasi muda untuk menjadi pemimpin yang lebih baik di masa yang akan datang, kata-kata yang kita sampaikan kepada mereka adalah kata-kata yang memercayakan sebuah tanggung jawab kepada mereka, misalnya “Kalian pasti bisa menyelesaikan ujian dengan baik, bahkan dapat berprestasi lebih baik lagi dari semester sebelumnya”. Sebaiknya kita tidak hanya menyampaikan kata-kata yang sekadarnya, misalnya “Kalau ujian, kalian jangan lupa belajar ya...”

Pernyataan pertama dan pernyataan yang kedua akan menghasilkan dampak yang berbeda. Pernyataan pertama mengandung arti: memercayakan tanggung jawab, mendukung perolehan prestasi yang meningkat dari sebelumnya, membuka diskusi (open communications) lebih jauh tentang bagaimana solusi untuk mencapai prestasi yang lebih baik lagi.

Namun, komunikasi dengan pernyataan yang kedua, hanyalah sekadar mengingatkan bahwa ketika ujian jangan lupa belajar, tidak mengandung makna lebih, bahkan kecil kemungkinan menghasilkan prestasi.

Kata-kata yang dirangkai dengan tujuan positif sesuai dengan isi hati kita yang positif, menjadikan kita menyampaikan powerful words by heart dalam berkomunikasi dengan orang lain. Berkomunikasi dengan efektif adalah tidak hanya menyampaikan kata-kata, namun menyampaikan powerful words by heart. Wise men speak because they have something to say; fools because they have to say something (Plato). ●