Tampilkan postingan dengan label In Memoriam Mandela. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label In Memoriam Mandela. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Desember 2013

Selamat Jalan, Madiba

Selamat Jalan, Madiba

Iqra Anugrah  ;   Mahasiswa Doktoral Ilmu Politik di Northern Illinois University, AS
INDOPROGRESS,  14 Desember 2013
  


MARI memulai obituari ini dengan sebuah cerita yang mungkin terdengar tidak begitu nyambung. Suatu saat, John Sidel, salah satu pengkaji politik Asia Tenggara terkemuka, bercerita dalam kuliahnya,
Dalam pemilihan walikota London kemarin saya begitu terkejut mendengar bahwa semua kandidat, dari berbagai partai politik yang berbeda aliran, mengidolakan Nelson Mandela, seakan-akan Mandela hanyalah seorang kakek tua yang bijak dan murah senyum. Mereka semua lupa bahwa Mandela adalah seorang komunis.’

Sidel benar. Semenjak Nelson Mandela menang pemilu demokratis pertama di Afrika Selatan dan menjadi presiden di tahun 1994 hingga kepulangannya baru-baru ini, citranya lebih mirip sebagai seorang negosiator daripada pejuang, yang siap berkompromi daripada melawan. Dengan kata lain, citra Mandela menjadi lebih ‘liberal’ dan ‘jinak.’ Citra inilah yang melekat di banyak bayangan orang, terutama di Barat, mengenai Mandela. Namun Madiba, panggilan kehormatan dari sukunya, suku Xhosa, menolak pencitraan itu. Bahkan, berkali-kali ia menegaskan dirinya sebagai bagian dari politik progresif-revolusioner dan gerakan pembebasan nasional di berbagai belahan Dunia Ketiga.

Di tengah-tengah suasana berkabung atas berpulangnya Mandela, penghormatan yang paling pantas atas kepergiannya adalah mengupas sisi revolusioner dari seorang pejuang anti-apartheid paling terkemuka di Afrika Selatan.

Lahirnya seorang revolusioner

Mandela, lahir 18 Juli 1918, adalah seorang keturunan bangsawan Xhosa. Ia bagian dari segelintir kalangan kulit hitam Afrika Selatan yang dapat mengenyam pendidikan di sebuah masyarakat yang tersegregasi secara rasial. Awalnya, ia tidak serta merta ‘tergerak’ untuk meruntuhkan sistem proto-apartheid tersebut. 

Generasi pribumi Afrika terdidik di masanya, yang dikenal dengan sebutan ‘orang-orang Inggris berkulit hitam’ (black Englishmen), lebih tertarik untuk mempromosikan status quo yang lebih ‘inklusif.’ Bahkan, Kongres Nasional Afrika (African National Congress, ANC), partai nasionalis yang nantinya akan dipimpin Mandela, berangkat dengan pedoman ‘reformis’ tersebut.

Tentu sudah ada bibit-bibit ‘pemberontak’ dalam diri Mandela muda. Sebagai contoh, alih-alih menyetujui perjodohan yang diusulkan oleh kepala suku sekaligus ayah angkatnya, ia dan saudara angkatnya memilih kabur ke Johannesburg. Tetapi, selain dari aksi minggat tersebut, Mandela lebih mirip dengan kebanyakan anak muda pribumi terdidik di generasinya. Sebagaimanaia ungkapkan dalam otobiografinya, Long Walk to Freedom (1994), ketika ia bercerita mengenai masa mudanya:

‘Aku percaya gelar sarjana bukan hanya paspor untuk kepemimpinan di masyarakat namun juga kesuksesan finansial…Sebagai seorang sarjana, akhirnya aku bisa membantu ibuku meringankan beban keuangannya setelah ayahku meninggal. Aku akan membangun sebuah rumah yang pantas di Qunu, dengan sebuah taman dan berbagai perabotan rumah modern.’ (hlm. 43).

Sesederhana itu cita-cita awal Mandela: menjadi sarjana agar bisa membantu ibu dan membuat rumah untuknya. Hati siapa yang tidak terenyuh membaca cerita seperti ini?

Tapi kita tahu, gelombang sejarah menarik Mandela ke arah kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di Johannesburg, sebuah kota yang kosmopolitan, Mandela menyelesaikan studi sarjananya, menjadi kolumnis, menjalani gaya hidup dengan nilai-nilai Victorian dan Edwardian Inggris, dan bekerja sebagai seorang pengacara muda. Awalnya, dia lebih mengidentifikasi diri sebagai seorang nasionalis ketimbang seorang Kiri. Bahkan, awalnya ia menentang hal-hal yang berbau Kiri – Marxisme, Sosialisme dan Komunisme – yang dianggapnya sebagai ‘ideologi asing’ yang kurang cocok dengan tanah Afrika. Namun, ia selalu kagum dengan dedikasi para kader gerakan Kiri di Afrika Selatan dengan perjuangan anti-kapitalisme dan anti-apartheid.

Sebagai seorang kulit hitam, Madiba menyadari bahwa ‘Menjadi seorang Afrika pribumi di Afrika Selatan berarti menjadi politis sedari lahir, terlepas dari kita menyadarinya atau tidak.’ (hlm. 83). Terpengaruh mentor politiknya, Walter Sisulu, Mandela kemudian bergabung dengan ANC, dan dengan segera menjadi salah satu pengurus utamanya. Awalnya, ia enggan menyambut orang-orang keturunan Asia Selatan dan kulit berwarna lainnya dalam ANC dan gerakan anti-apartheid, karena ia takut mereka akan mengungguli para pribumi kulit hitam. 

Namun Mandela di kemudian hari sadar akan pentingnya sebuah koalisi ‘front bersama’ yang bersifat multirasial dalam melawan apartheid, terutama dalam aksi-aksi massa yang terbuka. Di saat yang bersamaan, ia juga sadar bahwa perjuangan pembebasan orang-orang Afrika di tanah airnya berkaitan erat dengan perjuangan kelasyang lebih universal. Cerita selanjutnya kita tahu: Mandela dan ANC-nya bersama-sama dengan Kongres Serikat Buruh Afrika Selatan (Congress of South African Trade Unions, COSATU) dan Partai Komunis Afrika Selatan (South African Communist Party, SACP) memantapkan diri sebagai kekuatan politik Kiri terdepan di Afrika Selatan. Mandela sendiri adalah anggota ANC sekaligus SACP.

Dalam pengakuannya, segera setelah Mandela sadar akan pentingnya perjuangan kelas multirasial, ia segera

‘…membaca karya-karya Marx dan Engels, Lenin, Mao Tse-Tung, dan lain-lain dan mendalami filsafat materialisme dialektis dan historis…Aku segera tertarik dengan ide masyarakat tanpa kelas, yang dalam pandanganku, mirip dengan kebudayaan tradisional Afrika yang menekankan kehidupan bersama yang komunal. Aku mengamini prinsip dasar Marx…”Dari masing-masing sesuai kemampuannya; untuk masing-masing sesuai kebutuhannya.’’’ (hlm. 105).

Fase perjuangan

Awalnya, ANC dan rekan-rekan koalisinya berjuang dalam kerangka gerakan non-kekerasan. Wajar saja, Mahatma Gandhi, pejuang anti-kolonialisme dari India sekaligus salah satu pelopor gerakan non-kekerasan terkemuka, pernah tinggal lama di Afrika Selatan. Tetapi, semakin lama rejim apartheid makin represif dan menindas. Tatkala keadaan mulai berubah, maka taktik dan strategi perjuangan juga harus berubah. Apa yang cocok di tanah India belum tentu cocok di tanah Afrika Selatan. Mandela sadar betul akan hal itu. Ia menyadari bahwa,

‘…jika protes damai dibalas dengan kekerasan, maka kegunannya telah berakhir. Bagiku, non-kekerasan bukanlah prinsip moral melainkan sebuah strategi; tidak ada kebaikan moral dalam memakai senjata yang tidak efektif. ‘ (hlm. 137).

Mandela amat mengagumi Gandhi dan keteguhan moralnya. Namun dia tahu, senjata yang tumpul tidak berguna untuk melawan musuh yang menyerang dengan membabi-buta. Di tahun 1961, terinspirasi oleh Fidel Castro dan Revolusi Kuba, Mandela membentuk Umkhonto we Sizwe (MK), sayap bersenjata ANC yang kira-kira berarti ‘Tombak Bangsa.’ Bagi banyak kalangan di Barat, MK adalah justifikasi untuk melabeli Mandela dan perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan sebagai ‘komunis’ dan ‘ekstremis’ – sebuah label yang mematikan dalam konteks Perang Dingin. ‘Nah, gua bilang juga apa, tuh Mandela dan pasukannya cuman teroris komunis yang menyerang para sekutu kita, kapitalis kulit putih di Afrika Selatan!’  Kira-kira begitulah tanggapan para penguasa di Barat yang terus menjalin kerja sama dengan rejim apartheid, seperti perdana menteri Margaret Thatcher yang dengan keblingernya mengecap Mandela sebagai ‘teroris’ dan memuji diktator militer Augusto Pinochet karena membangun ‘demokrasi’ di Chile.

Berlawanan dengan fitnah Barat, serangan-serangan MK adalah strategi yang terukur dengan tujuan yang jelas. Mandela, meskipun tidak memiliki latar belakang militer, mempelajari berbagai sejarah perjuangan dan taktik gerilya dari berbagai gerakan pembebasan nasional di banyak penjuru dunia secara seksama, sebagaimana diakuinya:

‘Aku membaca laporan Blas Roca, sekretaris jenderal Partai Komunis Kuba, mengenai masa-masa mereka sebagai organisasi illegal di bawah rejim Batista…Aku membaca taktik-taktik gerilya yang tak lazim a la para jenderal Boer di masa Perang Inggris-Boer. Aku membaca karya-karya oleh dan tentang Che Guevara, Mao Tse-tung, Fidel Castro.’ (hlm, 237).

Saya jadi teringat kata-kata Frantz Fanon dan Jean-Paul Sartre dalam bukunya Fanon yang terkenal itu, The Wretched of the Earth. Bagi Fanon dan Sartre, aksi kekerasan yang dilakukan mereka yang terjajah terhadap sang penjajah adalah sebuah aksi pembebasan; matinya sang penjajah adalah kelahiran bagi manusia merdeka yang dulunya terjajah. Mandela sepertinya memang tidak pernah membaca Fanon secara langsung. Namun menurut Elleke Boehmer (2008), strategi Mandela adalah ‘jalan tengah’ antara militansi non-kekerasan Gandhi dan kekerasan revolusioner Fanon. Dinamika India dan Algeria tentu berbeda dengan Afrika Selatan. Mandela bekerja dengan menyerap inspirasi dari banyak tempat dan menyesuaikannya dengan kondisi Afrika Selatan.

Tahun 1962, Mandela ditangkap oleh rejim apartheid, untuk dijebloskan ke dalam penjara selama kurang lebih 27 tahun, dan baru dibebaskan sekitar tahun 1990. Baik Mandela maupun ANC dan rekan-rekan koalisinya tidak tinggal diam. Di Penjara, Mandela memupuk harapan dengan berbagai cara, mulai dari mengikuti perkembangan perjuangan koalisi ANC, menyelenggarakan program pendidikan bagi para tahanan politik melalui kuliah bersama dan pementasan drama, merintis proses rekonsiliasi dengan mendekatkan diri dengan para sipir kulit putih, hingga bercocok tanam. Di luar sana, ANC dan koalisinya terus bergerak, melalui gabungan antara aksi-aksi massa, lobi-lobi internasional, serangan bersenjata terhadap rejim apartheid oleh MK dan pembentukan Front Persatuan Demokratik (United Democratic Front, UDF). Perlahan-lahan, hasilnya mulai terlihat. Mandela dibebaskan, ANC berjaya dan di pemilu presiden multirasial dan demokratis yang pertama di tahun 1994, ANC memperoleh suara terbanyak dan Mandela menjadi presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan hingga 1999.

Ketika berkuasa

Mandela kemudian berkuasa, di tengah-tengah sebuah masyarakat dengan ‘tradisi’ segregasi berpuluh-puluh tahun dan ketidakpercayaan di antara berbagai kelompok, terutama antara para warga kulit putih dan kulit hitam. Karenanya, rekonsiliasi dan persatuan nasional segera menjadi prioritas utamanya.

Awalnya, tidak mudah bagi ANC dan dua rekan koalisinya, COSATU dan SACP, untuk segera menjalankan agenda-agenda progresif pasca-apartheid. Frederik de Klerk, presiden terakhir dari era apartheid yang juga seorang kulit putih, ditariknya sebagai wakil presiden, sebagai simbol persatuan nasional dan rekan pemerintahan yang berpengalaman  bagi koalisi ANC. Perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, sipil dan politik, termasuk hak-hak kaum minoritas seksual, direstorasi. Kemudian, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi didirikan untuk mengusut berbagai kejahatan rejim apartheid. Singkat kata, rekonsiliasi nasional dan toleransi multirasial berhasil dibangun.

Tentu, Mandela bukan nabi dan Afrika Selatan bukan surga. Para rekan dan pendukungnya mulai mengritik abainya Mandela terhadap korupsi dan kapitalisme kroni yang dilakukan oleh para orang terdekatnya. Tak hanya itu, agenda-agenda ekonomi redistribusionis yang dicanangkan oleh Mandela tak kunjung dilaksanakan. Kawan-kawan Kiri-nya mulai kecewa dengan Mandela yang seakan-akan ‘menerima’ ekspansi kapitalisme neoliberal di Afrika Selatan. 

Penggantinya, Tabo Mbeki, terkenal sebagai presiden yang korup. Pertumbuhan ekonomi meningkat, namun begitu juga tingkat kesenjangan ekonomi, dan hanya segelintir elit Afrika Selatan yang dapat menikmati ‘pertumbuhan’ tersebut. Generasi muda kulit hitam di Afrika Selatan mulai kecewa dengan ANC yang dianggap ‘mengkhiatanati’ kepentingan mayoritas rakyat Afrika Selatan.

Terlepas dari segala kekurangannya, Madiba telah berbuat banyak. Selepas masa kepresidenannya, Madiba terus berjuang. Isu-isu kesehatan publik, terutama kesejahteraan anak dan penanggulangan HIV/AIDS, menjadi perhatian utamanya setelah masa jabatannya habis, hingga ia berpulang.

Penutup: Madiba dan warisannya

Kini, Madiba berpulang. Seluruh dunia berkabung. Barat dan media arus-utama mencitrakannya sebagai seorang sesepuh bangsa dengan orientasi humanitarian. Mereka lupa, atau sengaja melupakannya, bahwa Mandela pertama-tama adalah seorang revolusioner, yang berpedoman pada aksi massa, pemahaman teoretik dan solidaritas internasional.

Madiba tidak pernah lupa dengan Nat Bregman, seorang komunis yang selalu berbagi makan siang dengannya. Juga dengan Fidel Castro dan Olof Palme, yang membantunya dan rakyat Afrika Selatan sedari awal dalam perjuangan melawan apartheid. Meskipun sulit, ia selalu membela rakyat pekerja dan memperjuangkan keadilan ekonomi. Tak lupa, ia juga memperjuangkan solidaritas antara bangsa-bangsa dunia ketiga yang semakin meredup akhir-akhir ini. Garis politik anti-imperialismenya jelas, sebagaimana terlihat dalam kritiknya atas invasi Amerika Serikat ke Iraq dan aksi-aksi jingoisme lainnya. 

Tentu, keberhasilan perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan bukan karya Mandela seorang. Ada gerakan massa yang sadar di sana. ‘Aku cuman bagian dari massa,’ ujar Mandela. Benar, Mandela selalu dekat dengan massa. Namun, kita tahu, tanpa kepemimpinan dan jasa Mandela, tidak ada Afrika Selatan yang seperti sekarang.

Kaum liberal ‘demokrat,’ yang dukungannya terhadap gerakan rakyat selalu suam-suam kuku dan ini kagak itu kagak, tentu enggan mengupas sisi revolusioner seorang Mandela. Tetapi, dari refleksi kita atas perjuangan Mandela dan rakyat Afrika Selatan, maka teranglah bahwa rejim apartheid di Afrika Selatan tumbang bukan hanya karena keberhasilan ‘negosiasi,’ namun terutama karena gerakan massa yang konsisten dan berkesinambungan.

Berpulangnya Mandela mengingatkan saya akan kalimat terkenal dari Joe Hill, aktivis buruh militan dari Amerika Serikat, yang berkata, ‘jangan berkabung, berhimpunlah!’ Kepergian Mandela bukan untuk dijadikan ratapan, namun justru menjadi momentum untuk meningkatkan militansi gerakan rakyat. Ingatlah, penindasan dan kapitalisme sekedar berganti baju, dari epos kolonialisme dan apartheid menuju epos neoliberalisme. Oleh karena itu, militansi menjadi jauh lebih penting disaat sekarang.

Sebagaimana ada banyak jalan menuju Roma, ada juga banyak jalan menuju pembebasan dan sosialisme. Mandela menunjukkan, inspirasi yang mengilhami perlawanan bisa datang dari mana saja, dari Shakespeare maupun Marx, dari Gandhi maupun Mao, dari Barat maupun Timur. Semuanya bermuara pada tujuan yang sama. Madiba, dengan usahanya, telah menunjukkan jalannya bagi kita. Adalah kewajiban kita, anak-anaknya, untuk melanjutkan jalannya, jalan demokrasi popular, pembebasan rakyat dan solidaritas internasional.

Sabtu, 14 Desember 2013

Pemimpin Legendaris

Pemimpin Legendaris
Toeti Prahas Adhitama  ;   Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA,  13 Desember 2013
  


WAFATNYA Nelson Mandela (1918-2013) meninggalkan kesan haru bagi mereka yang mengenal perjuangannya. Tokoh legendaris itu berjuang seumur hidup demi penghapusan diskriminasi rasial di negerinya, Afrika Selatan. Politik segregasi yang dikenal dengan istilah apartheid, yang berlaku sejak 1948 sampai 1990, menetapkan negara tersebut ada di bawah kekuasaan minoritas kulit putih. Namun, dalam pemerintahan Presiden De Klerk (1989-1994) akhirnya apartheid dihapuskan setelah berjalan 42 tahun. Desakan masyarakat internasional tentu berpengaruh besar. De Klerk bersama Mandela, yang menggantikan jabatannya sebagai presiden setelah pemilihan umum multirasial, kemudian secara bersama-sama memenangi hadiah Nobel Perdamaian 1993.

Perjuangan Mandela yang diawali di African National Congress (ANC/Partai Kongres Nasional) Afrika Selatan akhirnya mencemplungkannya ke penjara selama 27 tahun. Namun, bukan hanya kegigihan perjuangannya yang lama yang membuat masyarakat politik sedunia terpesona. Sikap dan perilakunya dalam kepemimpinan pun dikagumi. Dalam artikel majalah Reader's Digest tentang Mandela pada Juli 2013, beberapa pesannya dimuat, antara lain, 

`...Tidak ada yang dilahirkan untuk membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang, atau agamanya....Jangan lupa bahwa orang suci pun berbuat dosa, tetapi dia terus-menerus berusaha mengenali sisi-sisi negatif dirinya....Pendidikan adalah senjata paling ampuh bagi kita untuk mengubah dunia....'

Nelson Mandela, keturunan bangsawan dari suku Thembu, kuliah di University of South Africa dan University of Witwaterstrand, mengambil jurusan hukum. Testimoni tentang kehebatan Mandela antara lain diungkapkan Kofi Annan, mantan Sekretaris Jenderal PBB, “Orang sering bertanya pada saya, perbedaan apa yang bisa dibuat seseorang ketika menghadapi ketidakadilan, konflik, kemiskinan dan penyakit yang diderita orang banyak? Saya menjawabnya dengan menyebutkan kegigihan, kewibawaan dan kebesaran Nelson Mandela.“

Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat, mengatakan, “Setiap kali Nelson Mandela memasuki ruangan, kami semua merasa sedikit lebih besar, kami semua ingin berdiri, kami semua ingin bertepuk tangan, karena kami ingin seperti dia pada suatu hari.“

Pemimpin diusung parpol

Tidak semua terpanggil dan diberkahi menjadi pemimpin. Sebagian memang berhasil meraih jabatan itu karena keterampilan dan kemampuan. Sebagian lainnya karena kepiawaian melobi untuk masuk lingkaran kekuasaan, sekalipun mungkin tidak memenuhi syarat menjadi pemimpin. Tetapi seperti kata Mandela, orang suci pun pernah berbuat dosa. Yang penting, mampukah dia mengenali kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya dan berusaha mengatasinya? Itulah inti persoalannya.

Artinya, siapa pun yang menjadi pemimpin, bagaimana pun caranya, hendaknya menyadari apa yang diharapkan dari orang-orang sekitarnya.
Jangan malahan menggunakan jabatan kepemimpinan untuk memanfaatkan kesempatan memenuhi ambisi dan keserakahan pribadi, dan/atau kelompok.
Kurang dari empat bulan menjelang pemilu, harapan itu tentu ada dalam hati para konstituen Indonesia. Walaupun kenyataannya, sementara ini yang menjadi fokus perhatian partai-partai politik adalah bagaimana mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya demi meraup kekuasaan. Mungkin baru kemudian akan terpikirkan platform yang tepat. Semua partai politik (parpol) mengikuti koridor berpikir ini karena sikap modern dan pragmatis memaksanya berpikir dengan cara ini.

Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, partai-partai politik pastinya tidak lupa akan panggilannya bahwa dia di sana untuk menjaga jalannya demokrasi dalam pemerintahan. Sayangnya, sebagian oknum pimpinannya malahan memelopori maraknya bencana terbesar yang merongrong negeri ini sekarang, yakni korupsi. Tiada hari tanpa berita tentang korupsi. Banyak yang malah an menyalahkan penyiaran berita-berita korupsi karena mengacau ketenangan publik. Dan memang, itu membuat kepercayaan rakyat terhadap partai-partai politik menipis.

Pemimpin mandiri

Perkembangan politik sejauh ini menimbulkan pertanyaan, apakah para pemimpin yang dicalonkan mampu mandiri, ataukah mereka refleksi dari kemauan partai-partai politik yang mengusungnya? Besar kemungkinan ada kekuatan simbiotis di antara keduanya. Namun, dengan berkurangnya kepercayaan konstituen pada partai-partai politik, caloncalon yang akan maju pun kena getahnya. Apakah fakta itu yang membuat politik uang tidak mungkin ditinggalkan? Semakin besar uang yang diedarkan, semakin besar kemungkinannya untuk menang. Sebab sebagian besar konstituen menganggap manfaat uang lebih besar daripada politik.

Itu mungkin akibat kurangnya kampanye penerangan politik oleh partai-partai politik. Pikiran serbainstan tidak menganggap pendidikan politik, yang membutuhkan dana besar, perlu terus-menerus diadakan untuk membuat para konstituen mengerti arti politik dan demokrasi. Padahal dalam kebijakan serbainstan, kemenangan para calon menjadi tidak murni karena lebih diusung oleh `suap' daripada kesadaran berpolitik.

Apakah belum saatnya kita mendapatkan pemimpinpemimpin mandiri yang dipercaya rakyat? Tentu para konstituen perlu tahu tentang kecanggihan para calon pemimpin, antara lain melalui rekam jejak mereka. Semoga partai-partai politik pun mempertimbangkan fakta ini. Bila menyimak sejarah politik bangsa ini, selalu saja muncul tokoh-tokoh yang mendapat panggilan dan berkah ketika rakyat memerlukan. Mudah-mudahan 2014 membuka kesempatan bagi tokoh-tokoh macam itu; pemimpin-pemimpin legendaris yang rendah hati, amanah dan peduli pada rakyat demi kemaslahatan bersama; mirip-mirip jejak Nelson Mandela.

Secangkir Teh Mandela

Secangkir Teh Mandela
Purwanto Setiadi  ;   Wartawan Tempo
TEMPO.CO,  13 Desember 2013

  

Setelah menuangkan secangkir teh untuk tamunya, Nelson Mandela bertanya, "Bagaimana kau mengilhami timmu untuk melakukan yang terbaik?" François Pienaar, kapten tim nasional rugbi yang tak punya sedikit pun tebakan kenapa diundang ke kantor presiden baru Afrika Selatan itu, menjawab, "Dengan contoh. Saya selalu berpikir memimpin dengan contoh, Pak."

Kelihatannya memang tak ada jawaban lain yang pas. Tapi Mandela tahu lebih dari itu pun bukan mustahil. Katanya, "Well, itu benar. Itu sangat tepat. Tapi bagaimana kita membuat mereka menjadi lebih baik ketimbang anggapan mereka? Itu sangat sulit, menurutku. Inspirasi, barangkali. Bagaimana kita mengilhami diri kita dengan kejayaan manakala tak ada hal lain yang bisa? Aku kadang-kadang berpikir itu bisa dilakukan dengan memanfaatkan karya orang lain."

Kita tak tahu apakah persis seperti itu dialog di antara mereka. Buku Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Made a Nation, yang menceritakannya kembali juga semata merekonstruksi dari ingatan para pelakunya. Meski demikian, dari adegan film Invictus garapan Clint Eastwood berdasarkan buku itu, kita paham kenapa François mengaku terkesan bersua dengan pribadi yang tak seperti orang-orang yang pernah dia temui: bahwa Mandela telah membuatnya merenungi tujuan-tujuan hidupnya, sekaligus membukakan cakrawala baru dalam melihat Afrika Selatan.

Mandela menyebut puisi sebagai sumber ilham. Dia bahkan kemudian, dalam kesempatan lain, menyerahkan selembar kertas berisi sajak Invictus karya William Ernest Henley yang ditulisnya dengan tangan-sebuah susunan kata-kata yang meneguhkan tekad perjuangannya ketika masih meringkuk di penjara penguasa apartheid. Di antara larik-lariknya, ada bagian yang sulit untuk tak menabuhkan genderang di dalam diri pembacanya: I am the master of my fate/ I am the captain of my soul.

Tapi sebenarnya karya hanyalah wujud, sesuatu yang bisa dilihat dan dirasakan. Kita tahu ada hal lain yang memungkinkan wujud itu dicapai. Orang mungkin menyebutnya proses kreatif, atau "pengerahan kemampuan" jika wujud itu merupakan hasil dari satu usaha spontan, sekurang-kurangnya performa langsung. Bagaimana proses/pengerahan kemampuan ini dilalui/dilakukan, itulah yang menentukan kualitas "ekspresi diri" atau "dedikasi" penciptanya.

Dalam hal itu ada cerita tentang penyanyi Judy Garland, yang diriwayatkan oleh Nelle Harper Lee. Dalam adegan penutup film Infamous, penulis To Kill a Mockingbird ini bertutur, "Aku membaca wawancara Frank Sinatra yang berkata tentang Judy Garland, 'Setiap kali dia menyanyi, nyawanya berkurang sedikit. Sebesar itulah yang dia berikan.'" Menurut Lee, begitulah pula penulis, yang berharap bisa menciptakan sesuatu yang lestari. "Nyawa mereka berkurang sedikit demi sebuah karya yang benar," katanya.

Rasanya sulit dibantah ilham yang disebut Mandela adalah paduan antara karya yang "benar" dan cara menghasilkannya yang tergolong "mengurangi nyawa" itu. Yang juga pasti, dalam kaitan ini: Mandela secara sadar kemudian menjadikan dirinya sebagai teladan. Sepanjang hidupnya, terutama setelah dibebaskan dari penjara, dia berusaha menegakkan sebuah "negara pelangi"-yang menyatukan dalam damai berbagai suku, ras, dan golongan-dengan sepenuh jiwa, sebagaimana Judy Garland menyanyikan lagunya.

Dia berhasil mencapai tujuan tersebut. Afrika Selatan bisa memaafkan masa lalu yang getir. Pencapaiannya ini adalah karya yang terlalu berharga untuk diabaikan, yang mestinya menggerakkan orang lain, siapa saja, termasuk para politikus, untuk mengikuti jejaknya. 

Kamis, 12 Desember 2013

Inspirasi Mandela

Inspirasi Mandela
Benny Susetyo  ;   Pemerhati Sosial
KORAN JAKARTA,  11 Desember 2013

  

Dunia berduka karena karena kehilangan seorang pemimpin besar, Nelson Mandela. Tidak banyak pemimpin dunia yang bisa menjadi inpirasi dan teladan manusia untuk perdamaian dan mengajarkan untuk tidak saling benci. Mandela adalah salah satunya.

Mandela dengan segenap kehidupan dan perjuangannya banyak memberi inspirasi tentang kekuatan, martabat, kepemimpinan, dan keberanian. Mandela mengajarkan tentang kebebasan, persamaan, dan anti penindasan. Pemimpin dunia seperti ini selayaknya menjadi acuan cara membangun dunia yang lebih bermartabat tanpa harus membedakan suku, ras, dan antargolongan.

Semua orang berhak untuk mendapat kebebasan. Ketidakadilan dan penjajahan harus dilawan untuk menegakkan kembali harkat dan martabat. Kekerasan harus dihentikan demi menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Banyak pelajaran lain yang bisa dipetik dari seorang Mandela yang begitu gigih berjuang melawan pembedaan di tengah tekanan dari berbagai sisi. 

Negeri tercinta ini membutuhkan sosok yang ulet dan gigih dalam memperjuangkan bangsa terbebas dari ragam kekerasan dan ketidakadilan. Sosok yang bisa menjadi inspirasi bagi para pemimpin bangsa bahwa harkat dan martabat bangsa merupakan anugerah yang tidak bisa diperjualbelikan.

Mandela adalah tokoh gigih yang memberi arti bagi perdamaian universal dengan selalu menegakkan kebenaran melalui upaya perdamaian sejati. Dia juga menjadi inspirasi makna damai sejati yang bisa ditempuh dengan mau memaafkan penindas.

Dari Mandela, manusia belajar tentang figur seorang pemimpin yang lebih mengutamakan gerakan perdamaian tanpa kekerasan. Mandela menjadi sosok pemimpin yang mampu memberi harapan masa depan bangsanya, dengan memutus tali kekerasan melalui rekonsiliasi.

Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan lagi, bahkan lebih besar jika rekonsiliasi tidak diutamakan sebagai wujud utama perdamaian. Rekonsiliasi adalah sebuah upaya untuk mewujudkan tata dunia yang lebih beradab bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang pasti dan seharusnya menjadi jalan kebersamaan. 

Upaya saling menghargai harkat dan martabat sesama di tengah perbedaan suku, agama, ras, dan kelompok menjadi kunci bagi terwujudnya perdamaian sejati. Tidak peduli telah berapa lama dia dipenjara, tapi Mandela tidak pernah mengajarkan dendam. Dalam soal kekuasaan, bangsa Indonesia bisa belajar bahwa kekuasaan tidak identik dengan "aji mumpung" dan keserakahan. Kekuasaan harus dimanfaatkan untuk menegakkan keadilan dan membangun cinta kasih.

Mata Rantai 

Kekerasan demi kekerasan dalam berbagai bentuk yang dipicu dari aneka macam alasan, haruslah diselesaikan secara tuntas dengan membangun rekonsiliasi. Sampai kapan pun perbedaan akan selalu ada, tapi bukan menjadi alasan untuk bertikai. Perbedaan seharusnya justru memperkaya sebuah bangsa demi terwujudnya kemandirian dan harkat martabat bangsa.

Kekerasan sangat dikhawatirkan akan semakin membudaya dan dijadikan sebagai contoh satu-satunya cara memecahkan masalah. Kondisi ini tentu saja amat berbahaya ketika masyarakat menilai bahwa hanya dengan cara kekerasan masalah bisa diatasi. Masyarakat menilai bahwa saluran hukum sudah tidak bisa lagi dipercaya menjadi jembatan mencari keadilan.

Hukum tak lagi memiliki kekuatan untuk menciptakan keadilan dan kemakmuran masyarakat. Hukum dipercaya berpihak hanya kepada mereka yang memiliki kekuasaan dan harta berlimpah. Hukum bisa dibeli dan diintervensi. Pasal-pasalnya mudah dibengkokkan untuk memihak. Keadilan digadaikan untuk kepentingan pribadi. Pemilik keadilan dalam hukum adalah gerombolan mafia.

Dari itu semua, kekerasan menjadi jalan pintas memecahkan masalah. Saluran komunikasi untuk mendapat keadilan sudah dikuasai mafioso. Budaya kekerasan pun berkembang semakin meluas, baik dalam kehidupan publik maupun privat. Akibatnya rasa aman menjadi barang langka di Nusantara ini. Segala kehidupan bangsa begitu dekat dengan aroma kekerasan.

Karena itulah mata rantai kekerasan harus diputus dengan mengutamakan solusi rekonsiliasi. Kekerasan, kini sudah menjadi motif sebagian perilaku budaya masyarakat hingga kini, merupakan mainstream yang mereduksi tata nilai kepribadian dan memberi kesan betapa iklim solidaritas manusia belum sepenuhnya mampu memiliki kepribadian saling mencintai.

Dalam konteks agama, walaupun wacana pluralisme dan toleransi sudah sering dikemukakan dalam berbagai kesempatan, namun tidak mudah dilaksanakan. Walaupun sudah terdapat kesadaran bahwa bangsa ini dibangun bukan atas dasar agama, melainkan kekuatan bersama, namun pandangan atas "agamaku", "keyakinanku" justru sering menjadi dasar dari berbagai perilaku sehari-hari yang bermuatan kekerasan.

Sekalipun masyarakat menyadari pentingnya slogan Bhinneka Tunggal Ika, praktik di lapangan sama sekali lain. Masih banyak persoalan keagamaan dan kemasyarakatan di Indonesia yang menghantui dan menghambat terwujudnya solidaritas, soliditas, dan toleransi antar-umat beragama.

Walau sudah sering dinyatakan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang sangat menghargai perbedaan dan tidak menggunakan jalan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, namun itu semua di lapangan kerap hanyalah merupakan sebuah kebohongan. Begitu mudahnya menistakan perbedaan dengan cara membakar tempat suci ibadah agama tertentu, menghakimi keyakinan lain sebagai sesat, dan seterusnya. 

Akar masalah dari semua ini adalah kebencian. Kebencian inilah awal mula sektarianisme. Di negeri Pancasila tidak diakui sektarianisme. Tapi kenyataan di lapangan justru semangat sektarianisme dan kebencian itulah yang selalu hidup dan mengobarkan aroma kekerasan.

Persis di titik inilah bangsa Indonesia bisa meneladani Mandela. Dia dengan tegas mengatakan bahwa cinta jauh lebih penting dan alami daripada kebencian. "Tidak ada orang yang lahir untuk membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang, atau agamanya. Orang harus belajar untuk membenci, dan jika mereka dapat belajar untuk membenci, mereka juga bisa belajar mencintai karena cinta datang lebih alami ke hati manusia dibanding kebalikannya."

Pembangunan karakter bangsa adalah upaya cita-cita bersama untuk mewujudkan kemanusiaan dan keadilan tanpa kekerasan sebagai alat pemersatu kebangsaan. Kondisi kesenjangan ekonomi, faktor kebijakan, peran dominan mayoritas yang tidak menghargai minoritas, pelecehan terhadap martabat kemanusiaan dan keadilan, membuat manusia mudah frustrasi. Bangsa Indonesia harus selalu ingat ungkapan Mandela "Kebencian itu seperti racun yang bisa menghancurkan diri sendiri."
 

Rabu, 11 Desember 2013

Kedekatan Batin Mandela dengan Indonesia

Kedekatan Batin Mandela dengan Indonesia
Iwan Fauzi  ;   Wakil Ketua Keluarga Besar Marhaen (KBM) Jawa Barat
SINAR HARAPAN,  09 Desember 2013
  


Seluruh dunia berduka. Seorang pejuang antirasialis, Nelson Mandela, wafat, Kamis (5/12) lalu. Hari itu juga Presiden Afrika Selatan (Afsel) Jacob Zuma mengabarkan kematian Mandela melalui siaran televisi nasional setempat. Ini dilansir media massa sedunia.

Beberapa bulan terakhir, Mandela memang sakit parah. Berulang kali ia keluar masuk rumah sakit untuk perawatan. Nasib berkata lain, di ujung usia tuanya, penyakit paru-paru kronis merenggut nyawanya.

Jika kita ingat kembali, kedekatan Madiba–panggilan akrab Nelson Mandela–dengan Indonesia memang panjang. Sekian puluh tahun silam, Madiba pernah hadir dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung. Waktu itu ia sebagai Ketua ANC (Kongres Nasional Afrika), sebuah organisasi yang memotori perjuangan Apartheid Afsel.

Madiba kagum pada Presiden Soekarno. KAA dianggap awal kebangkitan kutub dunia ketiga yang terdiri atas negara-negara miskin Asia-Afrika atau negara lain yang masih tertindas kolonialisme. Soekarno sebagai “juru bicara” dengan lantang berteriak “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”.

Sepulang dari KAA 1955 di Bandung, darah muda Madiba bergolak. Melalui organisasi ANC ia melancarkan unjuk rasa, boikot, mogok kerja, dan pembakaran puluhan ribu paspor Afrikaner. Perlawanan Madiba membuat pemerintah kolonial Inggris di Afesel berang. 

Segregasi di Afsel dikenal sebagai Apartheid. Dalam Apartheid, warga kulit hitam tidak bisa memilih atau memiliki pekerjaan tertentu. Terjadi diskrimatif ketat antara warga berkulit hitam dan berkulit putih. Warga kulit putih sebagai penguasa mengatur permukiman kulit hitam di kawasan terpisah. Kawasan itu dinamakan Homelands atau Bantustan. Pernikahan campur antara pasangan kulit hitam dan putih dilarang.

Jika ingin keluar kawasan Homelands, setiap warga kulit hitam harus membawa paspor. Kenyataan rasis ini membuat Nelson Mandela marah. Kisah perjuangan Nelson Mandela memang tragis. Akhirnya, pemerintahan kolonial Inggris menjebloskan Mandela selama 18 tahun di penjara Robben Island dari vonis penjara 27 tahun. 

Setelah menolak pembebasan bersyarat dengan menghentikan perjuangan bersenjata pada Februari 1985, akhirnya ia dibebaskan pada 11 Februari 1990 atas perintah Presiden Frederik Willem de Klerk. Saat itu ia berusia 74 tahun. Saat itu, Presiden Afsel mendapat tekanan dunia internasional. Inilah masa punahnya Apartheid sebagai sistem diskriminasi dan pemisahan rasis yang berkuasa di Afsel dari 1948 hingga akhirnya dihapuskan awal 1990-an.

Mandela langsung melakukan kunjungan politik ke beberapa negara. Tak lupa ia ke Indonesia. Itu sekaligus mengunjungi gedung bersejarah KAA 1955 di Bandung, tempat yang dulu pernah didatanginya.

Foto Soekarno
Seperti dikisahkan Sidarto Danusubroto (sekarang Ketua MPR RI) yang waktu itu Kapolda Jawa Barat (1988-1991), ia menemani Mandela ke Museum Asia Afrika. Mandela sempat bertanya, “Where is the picture of Soekarno. Every leaders from Asia Africa came to Bandung because of Soekarno. Where is his picture?

Itulah pertanyaan yang sulit terjawab ketika Mandela melihat tidak adanya foto Soekarno tergantung di dinding museum. Maklum saja, tahun 1990 adalah masa Orde Baru berkuasa. Segala sesuatu yang “berbau” Soekarno turut disingkirkan.

Keterkaitan Mandela dengan Indonesia cukup kental. Selain pengagum Soekarno, hampir tiap kesempatan ia sering mengenakan batik Indonesia. Salah satu sumber di Departemen Luar Negeri (Deplu) mengatakan, batik yang digunakannya umumnya hasil perancang Iwan Tirta. Mandela dapat dimasukkan sebagai duta batik dunia yang mempromosikan hasil karya Indonesia. Batik buatan Indonesia menjadi busana kesehariannya.

Satu keunikan lain, entah disengaja atau tidak, lambang Afsel hampir mirip lambang negara Indonesia, yaitu burung garuda. Semua itu mungkin karena kedekatan batin Mandela dengan Indonesia. 

Presiden Satu Periode
Tahun 1993, Mandela mendapat Nobel Perdamaian. Pada tahun yang sama dikeluarkan undang-undang baru Afsel yang mengakui persamaan hak warga kulit putih dan kulit hitam disahkan. 

Tahun 1994, diadakan pemilihan umum (pemilu) kepresidenan. Untuk pertama kalinya, warga kulit hitam berhasil menang. Nelson Mandela diangkat sebagai presiden. Menyadari keterbatasan usia, ia hanya menjabat satu periode, meski rakyat Afsel menginginkannya kembali menjadi presiden. "Biar yang muda menggantikanku. Itu karena dia lebih paham politik dan ekonomi saat ini," ujar Mandela. 

Setelah masa jabatannya selesai, Nelson Mandela menjadi advokat untuk berbagai organisasi hak-hak sosial dan kemanusiaan. Kini ia telah pergi. Kisah pahit getir hak asasi yang diperjuangkannya telah menginsipirasi dunia. 

Minggu, 08 Desember 2013

Rantai Fantasi Mandela

Rantai Fantasi Mandela
Raymond Kaya  ;   Wartawan SCTV
TEMPO.CO,  07 Desember 2013

  

Nelson Mandela meninggal pada usia 95 tahun. Ia meninggalkan sebuah jejak penting bagi komunikasi politik di Afrika Selatan. Mendekam hampir 30 tahun di penjara akibat kekejaman rezim Apartheid, yang membedakan warna kulit pada era modern, tidak membuat Mandela menyimpan dendam terhadap warga kulit putih. Ia bahkan meminta mereka hidup berdampingan. Setelah keluar dari penjara pada Februari 1990, Mandela, melalui partainya, African National Congress (ANC), memenangi pemilihan umum langsung pertama bagi semua warga Afrika Selatan pada 1994.

Bagi Mandela, hal tersulit adalah meminta warga kulit hitam Afrika tidak memusuhi warga kulit putih, yang selama berabad-abad menjadikan mereka warga kelas dua di tanah kelahiran mereka sendiri. Mereka yang lahir sebelum era 1990-an akan terbiasa dengan tulisan "white only", baik di tempat perhentian bus, toilet umum, maupun pantai-pantai indah di Cape Town. Penduduk Afrika Selatan yang mayoritas berkulit hitam harus menuruti tuan-tuan tanah warga kulit putih yang banyak berasal dari Belanda dan Inggris. Tercatat, setelah berakhirnya Perang Dunia II, Afrika Selatan merupakan satu-satunya negara yang menerapkan perbedaan ras, yang menyebabkan negara ini dikecam dan dikucilkan dari pergaulan internasional. Hal ini berubah drastis setelah runtuhnya era Perang Dingin pada 1988. Jualan rezim Pretoria bahwa Mandela adalah pendukung komunis sudah tidak laku. 

Perdamaian

Ada sebuah fantasi baru yang terjadi saat Mandela kembali ke pangkuan rakyat Afrika Selatan, yaitu perdamaian. Tak mudah bagi Mandela meyakinkan sebagian besar rakyat Afrika Selatan untuk memberi maaf kepada orang kulit putih, yang selama ini melakukan diskriminasi. Bahkan, sebagian berharap inilah saatnya menuntaskan dendam yang lama terpendam. Namun Mandela paham bahwa rezim Apartheid menggunakan Mongosuthu Buthelezi untuk mendirikan Partai Inkatha guna memecah-belah rakyat Afrika Selatan. Buthelezi, yang berasal dari suku Zulu, adalah mantan Ketua Pemuda ANC pimpinan Mandela, seorang bangsawan dari suku Thembu. Mandela memilih jalan rekonsiliasi untuk mencegah terjadinya perang saudara di Afrika Selatan.
Mandela membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, sebuah Komisi yang dibentuk untuk menyelesaikan masalah pada era Apartheid. Setiap orang yang merasa telah menjadi korban kekerasan dipersilakan menghadap dan mengadu ke Komisi ini. Para pelanggar kekerasan juga dapat memberi kesaksian dan memohon amnesti atas tuntutan yang diajukan. Sesi dengar pendapat (hearing) dimuat dalam berita-berita nasional dan internasional. Banyak sesi yang disiarkan lewat stasiun televisi nasional. 

Komisi ini merupakan komponen penting dari transisi menuju demokrasi yang penuh dan bebas di Afrika Selatan. Meski terdapat sejumlah kekurangan, pada umumnya Komisi yang dipimpin oleh Uskup Agung Afrika Selatan Desmond Tutu ini dianggap sangat berhasil. Sejumlah film dibuat berdasarkan kisah-kisah nyata dari komisi ini. 

Salah satu film yang terkenal saat itu adalah Forgiveness (2004) yang disutradarai oleh Ian Gabriel. Film ini menampilkan Andre Vosloo, seorang mantan polisi yang memohon pengampunan dari keluarga aktivis yang dibunuhnya selama rezim Apartheid. Catatan lain mengenai hal ini terdapat dalam buku biografi berjudul Playing the Enemy : Nelson Mandela and The Game that Made a Nation karya John Carlin. Buku ini mengisahkan sebuah pertandingan bersejarah dalam kejuaraan dunia rugby pada 1995 yang berlangsung di Afrika Selatan. Mandela, dengan upaya yang sungguh-sungguh, menyatukan dukungan masyarakat Afrika Selatan-terutama masyarakat kulit hitam-untuk mendukung Springboks, tim rugby Afrika Selatan yang didominasi orang kulit putih. Kisah ini kemudian dijadikan film berjudul Invictus, dengan aktor peraih Oscar, Morgan Freeman, sebagai Nelson Mandela. 

Dalam teori konvergensi simbolik yang diperkenalkan Ernest Borman, simbol perdamaian dalam bentuk perkataan, perbuatan, dan kisah-kisah yang benar terjadi menjadi sebuah rantai fantasi. Dalam kasus di Afrika Selatan ini, tema fantasi yang "dijual" adalah "konsep perdamaian" yang kemudian diceritakan, dianalogikan, dipidatokan, dinarasikan pada karakter-karakter orang-orang yang menyukai perdamaian. Tokoh-tokoh seperti Mandela, Desmond Tutu, Oliver Tambo, bahkan Presiden Afrika Selatan pada waktu itu, F.W. De Klerk, muncul sebagai "tokoh fantasi" yang secara positif menggemakan perdamaian. Kita bisa belajar dari tema fantasi seorang Mandela: perdamaian.