Tampilkan postingan dengan label Kalis Mardiasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalis Mardiasih. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2019

Merebut Tafsir Muslimah

Jumat 12 Juli 2019, 18:20 WIB

Merebut Tafsir Muslimah

Kalis Mardiasih - detikNews

Ketika meminta jasa ilustrasi sampul buku saya, Muslimah Yang Diperdebatkan, dua ilustrator secara tak sengaja menyetor hasil gambar yang sejenis. Muslimah, digambarkan lewat visualisasi perempuan dengan jilbab besar tanpa wajah. Hasil lainnya, bahkan perempuan berjilbab menutup seluruh tubuhnya dengan pakaian longgar berwarna hitam, cadar serta jaring mata.

Minggu, 01 April 2018

Menengok Kembali Album Keluarga Harmonis Indonesia

Menengok Kembali
Album Keluarga Harmonis Indonesia
Kalis Mardiasih  ;   Menulis opini dan menerjemah;
Aktif sebagai Periset dan Tim Media Kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama
                                                    DETIKNEWS, 16 Maret 2018



                                                           
Akun-akun pribadi para tokoh politik seringkali adalah sebuah album keluarga. Album itu tidak hanya sekadar berisi potret, namun juga menyampaikan pesan. Seorang pemimpin, jika ia laki-laki, adalah seseorang yang baik dalam memperlakukan istri. Terkadang, narasi yang dibangun harus tampak berlebihan, sehingga kita tak bisa membedakan apakah ia seorang pemimpin kota atau seorang motivator berumah tangga. Sebut saja cara Ridwan Kamil memoles persona pribadi dalam relasinya dengan pasangan.

Akun keluarga Yudhoyono, terpotret dalam jumlah personel lebih luas. Keluarga Yudhoyono meliputi SBY, yang punya daya tarik kuat sebagai mantan Presiden RI dua periode, Bu Ani, anak-anak mereka beserta pasangan, dan tak ketinggalan cucu-cucu. Pesan dalam album keluarga ini adalah sebuah keluarga besar yang penuh visi: orangtua yang mewariskan kepemimpinan dan peluang kepada anak, dan istri-istri yang menguatkan kiprah suami.

Soeharto dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya menceritakan keterikatan emosionalnya dengan sebuah rumah di Jalan Cendana No.8 kawasan Menteng. Di samping segala kontroversi anak-anaknya, Soeharto juga sosok laki-laki yang tidak dapat dipisahkan dari pasangannya. Membicarakan Soeharto tanpa membawa serta nama Raden Ayu Siti Hartinah (Tien Soeharto) rasanya kurang elok.

Banyak riwayat menyebut, beberapa kebijakan kontroversial Soeharto adalah juga buah pikir Ibu Tien. Soeharto bahkan harus memerintah dengan doktrin Ibuisme Negara. Melalui kerja-kerja Dharma Wanita dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), perempuan dikembalikan dalam kerja-kerja domestik sebagai pendamping suami yang menyandang status sosial dalam masyarakat. Proyek pencerabutan kekuatan politik dan ekonomi perempuan dari ruang publik tersebut juga dibungkus dengan selubung yang terkesan indah, yakni keharmonisan keluarga.

Kisah cinta paling monumental pemimpin bangsa yang paling popular masih dipegang oleh Presiden Habibie. Film Habibie dan Ainun masuk dalam kategori film laris, memuat cerita perjalanan seorang paling genius asal Indonesia yang berhasil menjadi presiden, dengan faktor pendukung pentingnya tentu saja adalah kehadiran pendamping hampir sempurna, yakni Ainun.

Sampai hari ini, potret presiden yang berjalan berdampingan dengan ibu negara masih cukup kuat untuk membuat masyarakat, utamanya kaum ibu histeris. Sosok Presiden Jokowi sedari awal memasuki panggung politik dengan jargon Revolusi Mental menyatakan bahwa membangun perubahan mental harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat dan terkecil, yakni keluarga. Episode Jokowi mampir pulang ke Solo di tengah-tengah perjalanan dinas pun dikenal publik luas dengan baik, yakni: Jokowi kangen keluarga.

Salah satu dilema yang pernah dialami masyarakat adalah ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akhirnya menggugat istrinya, Veronica Tan. Masyarakat bingung karena menghadapi kenyataan bahwa ternyata pemimpin yang selama ini mereka kenal cekatan, ternyata juga memiliki masalah keluarga yang pelik, sama seperti masyarakat biasa. Masyarakat kaget karena mereka biasa terhipnotis dengan album keluarga harmonis. Album keluarga yang sering berjarak dari realita keseharian.

Dalam kehidupan sehari-hari, potret keluarga memang tidak melulu utuh dan harmonis seperti mitos yang disajikan oleh narasi para pemimpin itu. Dalam kehidupan sekolah, seringkali beberapa anak berkepribadian murung sebab kedua orangtua sedang bermasalah. Dalam kehidupan bertetangga, sering kita dengar kisah pilu dan nelangsa rumah tangga yang hancur bubrah, entah sebab faktor ekonomi, perselingkuhan, dan latar belakang lain.

Potret keluarga penduduk kampung adalah narasi yang jauh dari warna-warni. Pagi sekali, para ibu sudah menanak nasi dan membuat sajian sayur atau lauk yang menunya tidak berbeda untuk dimakan sejak sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Dalam Ekspresi Seni Orang Miskin karya Prof Tjetjep Rohendi Rohidi, fungsi lauk pauk dalam makan lengkap, agaknya lebih sebagai penyedap rasa atau penambah kegairahan makan daripada sebagai sumber protein.

Selepas makan pagi itu, para orangtua mulai bekerja dan para anak mulai bersekolah. Beberapa anak muda melewati keterasingan dengan mabuk-mabukan atau berjudi karena putus sekolah, menganggur, atau tidak mau bekerja. Keadaan semacam itu biasanya akan menjadi pembangkit masalah sosial, baik dalam keluarga maupun bermasyarakat.

Dalam novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia, Mahfud Ikhwan menulis sebuah paragraf: Setelah kedatangan Tarmidi dari empat tahun kepergiannya, Ulid harus melepas kembali bapaknya. Usai lima bulan perjumpaan kembali yang penuh warna, nyaris indah, puasa yang sempurna, Hari Raya Idul Fitri yang sempurna, Hari Raya Kurban yang lebih sempurna lagi, juga sebuah rumah baru yang mesti tidak sangat bagus tapi amat lega, keluarga itu harus kembali dipisahkan. Oleh sebuah pilihan, oleh sebuah harapan, oleh sebuah cita-cita. Oleh dua negara.

Keluarga Ulid adalah gambaran keluarga yang melintasi kota-kota urban untuk pergi ke negara pusat kerja upahan domestik (buruh migran domestik). Anak-anak yang lahir dari keluarga buruh migran seringkali kehilangan interaksi dengan salah satu anggota atau kedua orangtua sejak mereka balita atau remaja sehingga nuansa psikologis mereka tentu saja berbeda dari cerita-cerita keluarga yang dulu digambarkan dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia terbitan Balai P&K.

Tipikal keluarga ini bekerja pada rumah tangga kaum pekerja kaya di Malaysia, Hong Kong, Taiwan, Singapura dengan masa kontrak tertentu. Upah mereka dibayarkan lebih dulu kepada agen tenaga kerja, lalu remitansi baru dapat mereka kirimkan kepada keluarga di kampung setelah pelunasan.

Keluarga-keluarga miskin ini tidak lagi dapat memenuhi harapan tentang keluarga (family) yang juga sekaligus rumah tangga (household) yang memiliki jalinan keakraban satu sama lain sebab berkumpulnya bapak, ibu dan anak-anak dalam satu rumah sepanjang tahun. Sebetulnya, potret idealis keluarga "utuh" semacam itu telah luntur sejak awal abad ke-19, seiring dengan perubahan corak produksi di Indonesia yang kemudian menggiring laki-laki maupun perempuan sebagai agensi kapitalisme global, semata demi pemenuhan kebutuhan ekonomi.

Bagaimana pun bentuk keluarga dalam masyarakat hari ini, Indonesia diberkati dengan budaya pulang yang sering disebut mudik. Seorang anak muda pekerja industri di perkotaan, biasanya mengambil cuti panjang khusus jika ada acara pernikahan atau hajat keluarga di kampung halaman.

Sesulit apa pun dinamika kebutuhan ekonomi, akhirnya pada rasa juga mereka bertaut. Ya, meskipun tidak sesempurna album Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie yang melewatkan waktu dengan piknik keluarga ke negara-negara Eropa, paling tidak keluarga-keluarga masyarakat yang paling mewakili Indonesia saat ini masih bisa melewatkan waktu bersama menonton televisi di malam hari, sebelum esok yang melelahkan kembali menghampiri. ●

Minggu, 04 Maret 2018

Pelajaran Menulis dari Rusdi Mathari

Pelajaran Menulis dari Rusdi Mathari
Kalis Mardiasih  ;   Menulis opini dan menerjemah;
Aktif sebagai Periset dan Tim Media Kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama
                                                    DETIKNEWS, 02 Maret 2018



                                                           
Buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura adalah magnum opus-nya. "Kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil Pak Salat? Orang yang puasa tidak dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat, Pak Zakat?" demikian Cak Dlahom, protagonis sentral dalam buku itu berpetuah.

Pada 12 Oktober 2017 lalu, tepat pada usianya yang ke-50 tahun, kawan-kawan membuat hajatan kecil bertajuk Sore Bersama Rusdi. Rumah yang terletak di pojokan sebuah gang di Srengseng Sawah itu ramai hingga malam. Wajahnya sumringah. Di sisi ranjangnya adalah Pemred Koran Tempo Wahyu Dhyatmika, rekan dari Majalah Trust, dan banyak jurnalis senior lain. Di tengah obrolan yang bertema seputar misi kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang digelar di Solo pada November 2017, Cak Rusdi masih pula berkelakar dan tertawa dengan cerita humor Madura yang ia dongengkan.

Dulu, setiap pagi di beranda Facebook adalah keriaan yang disajikan oleh Rusdi Mathari. Selain di blog-nya yang punya semboyan "Karena Jurnalistik Bukan Monopoli Wartawan", ia rutin menulis status setiap pagi-pagi sekali. Pukul delapan atau pukul sembilan pagi, tulisan panjangnya dipastikan telah mendapat like dari ratusan atau bahkan ribuan akun lainnya. Ia pernah bilang, tulisannya setiap pagi adalah sekaligus kabar kepada semua temannya kalau ia masih sehat dan menyongsong dunia dengan semangat.

Cak Rusdi menulis apa saja: aktivitas lari paginya di Setu Babakan bersama putra semata wayangnya Voja, menyoroti penulisan berita media-media digital yang ngawur, mengenang masa muda ketika menonton konser God Bless di Malang, sakit ambeien yang ia derita justru ketika dua bulan pertama menjadi pengantin baru, pengalaman singgah di beberapa tempat ketika sempat mampir dari sebuah liputan, feature biografi singkat tokoh atau guru jurnalistiknya, merekonstruksi kisah wayang atau epos zaman kerajaan dengan mengkontekstualkan dengan masa kini, dan tentu saja komentar-komentarnya untuk tokoh-tokoh dan nalar politik yang makin kacau. Pada musim politik 2014, pandangan-pandangannya menjadi ekstase bagi jurnalis lain yang bahkan juga ikut terseret arus polarisasi kubu Jokowi versus kubu Prabowo.

Kadang-kadang, ia juga mengajak kita seolah pergi ke tempat-tempat imajinatif, dengan tokoh manusia, jenis tanaman tak lumrah, beserta fragmen kisah fiktif yang mengajak kita membenci pertikaian dan menegakkan kemanusiaan. Soal terakhir itu, akhirnya saya menemukan formulanya. Cak Rusdi senang menonton National Geographic, terutama ketika menyiarkan suku-suku di berbagai pedalaman dunia yang masih begitu dekat kehidupannya dengan alam.

"Setiap bangun tidur selepas Salat Subuh, aku membaca minimal 15 tulisan panjang. Bukan status pendek ya, tapi tulisan panjang yang punya tema. Tulisan siapa saja. Kadang juga penulis-penulis baru yang bermunculan."

Malam itu, sekitar Juli atau Agustus 2016, ia baru saja meluncurkan buku berisi kumpulan tulisannya yang berjudul Aleppo di Yogyakarta.

"Aku juga membaca tulisan-tulisanmu. Aku tahu betul posisi yang kau ambil, siapa yang kau bela, dan siapa yang kau konfrontasi. Itu boleh saja, tapi karena kamu masih muda, jangan dulu membela atau membenci sesuatu dengan berlebihan, ya."

Asmara Art & Coffee Shop yang terletak di Mantrijeron, Yogyakarta makin meriuh menuju tengah malam. Nasihat itu disampaikannya di sela-sela bercanda tawa dengan kawan-kawan perbukuan indie Yogyakarta.

"Kau harus bergaul dengan siapa saja. Bergaul, berteman, itu tidak sama artinya dengan mengubah diri atau terseret arus. Tetapi untuk menjadi penulis yang baik, kau mesti punya banyak teman dari semua kalangan. Dekat, tetapi sekaligus berjarak."

Konon, jarak membuat kita mampu mengamati fenomena dengan lebih jernih. Seperti ketika manusia mengambil jarak di depan cermin. Penulis, peneliti, apalagi jurnalis yang menyampaikan fakta memang wajib mengambil jarak karena menyadari bahwa hasrat subjektif manusia lebih sering bercampur dengan nafsu, ambisi pribadi, kepentingan-kepentingan. Ia bercerita bahwa Bapak Mathari, ayahandanya, adalah seorang Muhammadiyah asal Situbondo yang bersahabat baik dengan almarhum Kiai As'ad yang Nahdlatul Ulama.

Dalam Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme, Cak Rusdi menulis prosa ihwal kasus pembakaran rumah-rumah dan pengusiran orang-orang Syiah dari Omben, Sampang. Dari wawancara dengan keluarga besar Tajul Muluk dan adiknya Rois, pejabat teras pemkab, petinggi ormas, dan sejumlah kiai, Cak Rusdi mengulas bahwa akar konflik di Sampang bukan karena sesat atau tidaknya Syiah, sebab kecurigaan perihal ritual ibadah ternyata lebih banyak yang bersifat sentimen tendensius. Akar konflik mula-mula berasal dari kecemburuan yang sangat biasa, soal murid-murid pengajian sebuah masjid yang berpindah guru atau kiai. Satu kutipan dari seorang Kiai Madura yang ditulis Cak Rusdi adalah "emok ngetong jhelenna ajem, kaloppae sokona dhibhik niddhek tamaccok", yang artinya mereka (orang-orang yang berkonflik) hanya sibuk menghitung langkah ayam, tapi lupa kaki mereka justru menginjak tahinya.

Suatu pagi ketika perpolitikan Jakarta sedang kedodoran, ia tiba-tiba mengirim pesan di Facebook Messenger. "Kalis, apa benar ada ajaran Islam yang menghina agama lain, seperti kata statusmu?"

Rupanya, ia menyimak status yang saya tulis. Saat itu saya lelah dengan orang Islam yang mudah sekali tersulut dan merasa tersinggung karena agamanya dihina. Saya memberi fakta bahwa di ruang-ruang tertutup saat mengkaji agama sejak kecil, anak-anak juga diwarisi metode menghina sesembahan lain demi menguatkan akidah atau keberimanan pada agama.

"Kalau begitu kalimatmu keliru. Baca lagi. Kamu jelas menulis "kayak Islam nggak pernah menghina agama lain saja..." Hati-hati menulis. Beda antara Islam dengan orang Islam."

Kehati-hatian. Verifikasi. Hari ini, sikap awas dan macam itu menjadi mahal. Kabar yang tersiar belakangan ini adalah seorang dosen yang harusnya memiliki laku dan menjaga tradisi ilmiah, tetapi menjadi tersangka penyebar kabar hoax.

Seminggu lalu, ketika menengok Cak Rusdi terakhir kali, ia pun masih memberi pesan yang sama. "Berhati-hatilah, Nduk dalam menulis dan berbicara. Segala kemampuanmu itu bukan benar-benar kamu. Tanganmu dapat bergerak menulis itu bukan kamu. Sunnatullah, jangan dilupa."

Ia lalu meminta tolong untuk memasang dua guling sebagai sandaran kedua kakinya. Bibirnya berzikir, lalu pelan-pelan tertidur dengan tenang.

Setiap hari sebelum hari ini, saya masih terus berharap bahwa masih akan ada pagi-pagi bersama Rusdi yang meriangkan beranda dengan tulisan yang bagai oase. Tetapi, kabar duka datang, yang sekaligus berarti bahwa pagi-pagi selama bertahun lalu kini menjadi monumen yang akan terus kita rindukan. Seorang jurnalis idealis yang senantiasa menjaga nalar kritis. Selamat jalan, Cak Rusdi Mathari! Sembilan bulan telah melawan dengan penuh kekuatan pada virus kanker di leher kirimu. Jumat baik untuk manusia baik. ●

Senin, 26 Februari 2018

Paradigma Pemimpin Anti Kekerasan

Paradigma Pemimpin Anti Kekerasan
Kalis Mardiasih  ;   Menulis opini dan menerjemah;
Aktif sebagai Periset dan Tim Media Kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama
                                                  DETIKNEWS, 23 Februari 2018



                                                           
Jika cerita tragedi besar akibat peperangan tak cukup membuat manusia berhenti coba-coba bermain-main dengan kekerasan, maka mari mencoba mengajukan cerita kecil berkaitan dengan pengalaman paling personal yang lirih. Nun di Jambi, pada tahun 2000, ada seorang anak perempuan usia delapan tahun yang akhirnya bisa melewati hari dengan menonton televisi bersama bapaknya, lalu bermain sepakbola bersama pada sore hari. Hal sesederhana itu tidak biasa untuk anak dari salah seorang panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Bapaknya akhirnya bisa pulang sebab Gus Dur, yang kala itu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, menerbitkan kebijakan gencatan sementara. Anak itu mengenang, kira-kira dua bulan lamanya ia bisa merasakan kehangatan keluarga, sebelum akhirnya Gus Dur diberhentikan dari jabatan Presiden dan ketegangan meletus kembali. Sang bapak harus kembali lagi ke Aceh, lalu menjadi tahanan politik pada 2003 dengan vonis hukuman penjara terlama. Beruntung, pada 2005 terselenggara penandatanganan MoU Helsinki, sang bapak pun bebas dan pulang.

"Siapa saja tak akan bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi anak yang membayangkan baru bisa bertemu bapak setelah beranjak dewasa, tapi tiba-tiba bapaknya dibebaskan dari tahanan karena ada nota kesepakatan damai dari daerah yang telah berkonflik sepanjang 30 tahun," begitu ia mengenang.

Awal 2018 yang disebut-sebut sebagai tahun politik jelang pesta demokrasi lima tahunan pada 2019 disambut dengan rangkaian teror di berbagai daerah. Modus penyerangan pada sejumlah rumah ibadah dan tokoh agama mengingatkan korban penyerangan Operasi Naga Hijau jelang Reformasi 1998 ketika isu pembantaian dukun santet diembuskan dan sejumlah ulama diserang dengan tujuan memobilisasi massa dan membuat chaos.

Selain narasi orang gila, isu kebangkitan PKI selalu berhasil untuk memicu keributan. Bisnis ketakutan ini efektif, sebab sepanjang 32 tahun rezim Orde Baru mengindoktrinasi masyarakat dengan imajinasi PKI sebagai pembunuh yang kejam dan anti agama. Hingga hari ini, kata komunis menjadi momok, padahal komunisme sesungguhnya adalah paham antikapitalisme yang dalam posisinya sebagai filsafat pengetahuan memiliki hasrat untuk memperjuangkan kesejahteraan ekonomi. PKI serupa pemburu yang cocok diperlawankan dengan jiwa nasionalisme sekaligus mengincar orang-orang beragama, meskipun sesungguhnya ia adalah hantu tanpa tubuh dan jiwa sebab telah dimatikan sejak setengah abad lebih lalu.

Lagi-lagi Gus Dur, sebagai Presiden, pernah mengusulkan pencabutan Tap MPRS XXV/1966 namun ditolak oleh MPR/DPR. Meskipun begitu, Gus Dur menunjukkan langkah konkret dengan mencabut label tahanan politik, memperbolehkan mereka memilih dalam pemilu sebagai simbol kembalinya hak-hak sebagai warga negara, dan yang paling paripurna adalah meminta maaf kepada korban, meskipun ketika itu ia harus berpolemik dengan kaum santri, asal identitas kulturalnya sendiri. Teladan semacam itu menunjukkan paradigma Gus Dur sebagai pemimpin anti kekerasan.

Selain PKI, satu ideologi yang jiwanya hidup bersama negara ini adalah Islam. Cherian George dalam buku Pelintiran Kebencian (2017) menjelaskan bahwa di masa pasca-Soeharto, berbagai kelompok berlomba-lomba memperebutkan kekuasaan dan pengaruh melalui sesuatu yang dapat disebut ruang publik Islam. Demokratisasi membawa konsekuensi yang sangat penting bagi kelompok beragama garis-keras, yakni barisan kekuatan politik yang memimpikan berdirinya negara Islam, sesuatu yang bertentangan dengan civil Islam. Pada praktiknya, basis massa yang menonjolkan eksklusivitasnya ini juga sering menimbulkan gelombang, dan sering juga disikapi secara kurang tepat oleh negara. George menggambarkan, beberapa kepentingan memanfaatkan dengan menghidupinya, beberapa yang lain juga menstigma mereka dengan sebutan kaum radikal, kaum makar, dan lain-lain.

Generasi yang lahir dekade 90-an, sesungguhnya adalah generasi milenial sekaligus generasi ketiga yang tidak berpretensi menjadi pendendam. Tragedi besar dekade 60-an, lalu berbagai peristiwa kekerasan HAM dalam kurun rezim Orde Baru, dialami nyata oleh kakek atau nenek dalam struktur sebuah keluarga yang kemudian mewariskan cerita menakutkan kepada bapak atau ibu. Tetapi, pada generasi milenial, tensi ketakutan itu sudah berkurang bahkan hilang sama sekali sebab mereka tidak hidup bersama pengalaman berdarah tersebut.

Merujuk beberapa peristiwa teror dan kekerasan yang terjadi beberapa waktu ini, sepertinya Presiden Jokowi perlu lebih berhati-hati dan mengevaluasi beberapa sikap. Ada beberapa catatan terkait, seperti seruan "gebuk PKI" yang telah dilontarkan Presiden Jokowi sebanyak dua kali antara lain ketika menjamu redaksi media massa di Istana pada 17/5/2017 dan Simposium Nasional Kebudayaan pada 20/11/2017. Ujaran Jokowi sebetulnya memberikan penegasan pada PKI yang telah dilarang sehingga tidak mungkin bangkit lagi, tetapi pemilihan kata "gebuk" ternyata memiliki muatan psikologis kekerasan dan justru mendelegitimasi sejumlah massa untuk bertindak brutal.

Contoh, pada pertengahan September, kantor LBH Jakarta yang mengadakan serangkaian diskusi dan kegiatan berkesenian didatangi massa "tak dikenal". Ratusan orang melempari bangunan dengan batu, berteriak sangat provokatif dan menuding acara digerakkan oleh PKI.

Kebijakan Presiden Jokowi mengizinkan nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI yang kebenaran sejarahnya diragukan pada September 2017 lalu sesungguhnya adalah langkah mundur. Generasi ketiga yang lebih apresiatif kepada semua pemikiran, juga mudah mengakses segala informasi di internet memiliki kemampuan mencari kebenaran secara mandiri. Tetapi, tentu saja dampak buruk tidak bisa dihindari. Banyak berita beredar mengenai massa yang menangkap, mempersekusi dan menganiaya orang hanya karena mengenakan kaos atau atribut yang sebetulnya tidak berpreferensi PKI. Massa yang melakukan aksi kekerasan itu digerakkan oleh ketakutan buta sebab percaya pada berita bohong (hoax) yang menyebar lewat media sosial.

Pada situasi genting tahun politik ini, pemimpin dengan paradigma anti kekerasan harus menunjukkan komitmen dengan cara menekan ketakutan dan meredakan ketegangan antarkelompok. Paradigma anti kekerasan pada masa kini harus berangkat dari pola pikir adil dalam melihat sejarah masa lalu dan menegaskan prinsip-prinsip demokrasi yang mendukung kemerdekaan tiap-tiap warga negara untuk menyatakan pendapat dan pilihan politiknya.

Generasi masa kini adalah generasi jernih yang ingin bergerak ke depan dalam skema demokrasi yang sehat. Alat negara yang menindak tegas pihak-pihak mana yang menjadi pemicu ketidakseimbangan dan ketidaksetaraan, sebaiknya tidak hanya memberikan tontonan kekerasan versus kekerasan, melainkan memberikan pendidikan lanjut kepada publik dengan memberikan informasi yang seluas-luasnya perihal identitas kelompok pelaku kekerasan dan motif apa yang mendorong pergerakannya. Generasi ketiga anti kekerasan adalah generasi yang tidak percaya lagi pada rumor ninja, narasi orang gila, atau orang-orang tak dikenal yang menghilang begitu saja setelah teror berhasil dijalankan.  ●

Sabtu, 17 Februari 2018

Tidak Cukup Seorang Buya Ahmad Syafii Maarif

Tidak Cukup Seorang Buya Ahmad Syafii Maarif
Kalis Mardiasih ;    Menulis opini dan menerjemah;
Aktif sebagai Periset dan Tim Media Kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama
                                                  DETIKNEWS, 16 Februari 2018



                                                           
Yogyakarta adalah juga Jalan Kaliurang yang masih lengang di subuh hari. Ia jadi saksi jamaah muslim selepas salat yang berpapasan dengan para suster biarawati yang berangkat ke seminari tinggi St. Paulus mengayuh sepeda atau berjalan kaki bersama-sama. Di Yogya, Alm. Gus Dur bersahabat dengan Alm. Romo Mangun, menjadi juru selamat tak hanya di kota ini, tapi untuk semua yang dilukai.

Pagi ketika tersiar kabar penyerangan di Gereja St. Lidwina pada Minggu (11/2) adalah pagi pengecualian yang begitu kelabu. Teman-teman dari Jaringan Gusdurian saling bertukar informasi via aplikasi pesan instan.

"Sedih sekali. Kita kecolongan, justru di rumah sendiri."

Pesan dari Rifqi Fairuz, salah satu pegiat jaringan sangat dimaklumi. Belum ada satu pekan acara puncak Haul Sewindu Gus Dur digelar di Yogyakarta yang dihadiri oleh tak kurang tiga ribu hadirin lintas iman. Pengisi acara adalah para tokoh dan remaja lintas iman, yang membawa pesan bahwa keberagaman adalah kekayaan bangsa, yang dapat diperas nilai-nilai luhurnya untuk kebaikan bersama. Selama tiga bulan, sejak Desember, rangkaian acara Haul Gus Dur digelar di berbagai kota, mulai dalam bentuk tahlilan keliling pesantren, pemberdayaan masyarakat, lomba antarsekolah, seminar dan diskusi ilmiah, hingga pengajian budaya.

Tak lama, foto Buya Syafii Maarif yang menengok lokasi gereja, lalu dilanjutkan dengan menjenguk pelaku dan korban di RS Panti Rapih beredar di media dan linimasa. Rupanya, jika kepedulian spontan dilakukan oleh seorang Buya Ahmad Syafii Maarif, manusia Indonesia merasa memiliki harapan. Ketakutan akan bayangan senjata tajam yang melukai korban dan menghancurkan patung di dalam gereja, seakan sirna begitu saja, berubah menjadi kepercayaan kolektif bahwa "kami tak takut teror".

Pesan solidaritas mulai muncul, bahwa semua pihak diharapkan untuk mengendalikan diri dan komunitasnya. Bahkan, situasi linimasa sangat terkendali. Pesan-pesan marah berlebihan yang berpotensi membangkitkan kemarahan lainnya hampir tak ada. Sebentar kemudian, beredar foto viral milik Dr Ahmad Muttaqin Alim, memotret istrinya yang berjilbab sedang menyapu di sisi patung Bunda Maria. Masyarakat sekitar juga berbondong-bondong datang ikut membersihkan gereja dan mengirim simpati.

Belakangan, diketahui bahwa pelaku yang berusia sangat muda, yakni 22 tahun mengakui motif penyerangannya adalah pemahaman yang eksklusif dan sempit dalam menginterpretasikan agama. Pertama-tama, kondisi ekonominya lemah. Selanjutnya, ia belajar agama pada kelompok yang ingin menukar nyawa manusia dengan bidadari surga. Faktor keterbatasan ekonomi yang mempertemukan faktor keyakinan akan eksklusivitas agama, konon adalah paduan paling berbahaya yang melahirkan seorang ekstremis.

Keyakinan seseorang, sekalipun ia adalah seorang penyembah lampu gantung adalah hak pribadi, tapi ketika ia mencederai hak-hak orang lain yang dilindungi konstitusi dalam sebuah negara sesungguhnya adalah tanggung jawab hukum. Sayangnya, jejak kasus kekerasan Hak Asasi Manusia di Indonesia tidak cukup baik.

Beberapa peristiwa terakhir, seperti kekerasan yang dialami pemimpin Pondok Pesantren di Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri hingga Komando Brigade PP Persis, Ustaz Prawoto yang meninggal dunia akibat mengalami penganiayaan oleh seorang pria. Menarik bagaimana narasi orang gila selalu dimunculkan untuk menutup kasus. Awal Februari 2018, muncul video seorang biksu Budha yang dipaksa meninggalkan kediamannya di Tangerang. Alih-alih dilakukan penyelidikan mendalam terhadap kelompok mana yang terlibat atau menggerakkan aksi persekusi, berita hilang seiring terbit rilis berita yang mengabarkan semua telah selesai dengan baik-baik.

Menurut Sidney Jones dalam Pelintiran Kebencian karya Cherian George (2017), masalah terbesar bagi demokrasi Indonesia bukanlah terorisme, tetapi intoleransi yang menjalar dari kelompok radikal yang pinggiran ke arah arus utama (mainstream).

Tahun 2018 dan 2019 masih cukup panjang. Tetapi, baru saja kita berharap berbagai kebaikan, awal tahun langsung disambut dengan gegap gempita teror di berbagai daerah. Entah itu peristiwa yang terjadi begitu saja secara organik atau rekayasa kebencian yang sengaja dioperasikan penguasa dalam dinamika tahun politik, sebagaimana analisis George, adalah alarm tanda bahaya.

Kemarin, kehadiran Buya Ahmad Syafii Maarif yang menyimbolkan potret toleransi mungkin cukup membuat kita mampu menekan kecemasan, mengendalikan emosi dan membangun solidaritas swa-rekonsiliasi. Hari esok, jaminan bukan lagi ada pada sosok Buya. Kita perlu menjadi Buya. Kita harus membangun kesadaran bahwa sejarah kekerasan atas nama politik, agama maupun sentimen ras, tak pernah menyenangkan melainkan mewariskan dendam dan trauma yang sulit dicari obatnya meskipun puluhan tahun telah terlewati. Sehingga, yang utama adalah prinsip membela harmoni kebangsaan dibanding membela hak-hak pribadi maupun kelompok kecil.

Mohamad Sobary dalam Spiritualitas Baru, Agama dan Aspirasi Rakyat (2004) memunculkan istilah kepemimpinan kultural. Ini adalah sebuah konsep kesepakatan bahwa agama apa pun bersetuju pada nilai yang membangun kehidupan yang damai. Tanggung jawab berikutnya adalah bagaimana masing-masing agama memunculkan tokoh atau sosok yang tidak hanya menjalankan visi misi teologis, namun juga misi sosial. Orang Islam punya sosok kiai rakyat, yakni tokoh pemimpin muslim yang selama ini dinilai dapat mendampingi masyarakat dalam menghadapi konflik sosial yang bersifat horisontal maupun vertikal.

Ada baiknya jika semakin banyak muncul romo rakyat, biksu rakyat, suster rakyat dan lain-lain sebagai simbolisasi mengakarnya kepemimpinan kultural pada level grassroots. Tidak cukup seorang Buya Ahmad Syafii Maarif. Oleh karenanya, jika terjadi teror, kabarkan kepada keluarga, tetangga, jamaah tempat ibadah, teman kantor, dan siapa saja orang yang Anda temui di jalanan, bahwa kita semua tak pernah takut. Alih-alih keberagaman ini dikoyak, ikatan justru akan semakin rekat dan padat. ●

Kamis, 15 Februari 2018

Dari Tenda Angkringan yang Sempit dan Tempias

Dari Tenda Angkringan yang Sempit dan Tempias
Kalis Mardiasih ;   Menulis opini dan menerjemah;   Aktif sebagai Periset dan Tim Media Kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama
                                                  DETIKNEWS, 09 Februari 2018



                                                           
Sebuah kota bernama Yogyakarta diabadikan oleh penyair Joko Pinurbo (Jokpin) dalam tiga kata: rindu, pulang dan angkringan. Jokpin benar. Tetapi, suara-suara dari angkringan seringkali tidak bernada romantik seperti manisnya syair. Dari tenda angkringan yang sempit dan tempias, rerasan tentang para pengutang yang pergi tanpa bayar lebih sering jadi objek pembicaraan.

"Yu Nah utang makan seminggu di sini 24 ribu tidak kutagih. Biar sajalah. Biar sadar sendiri."

Penjual angkringan mengadu kepada seorang tukang becak yang juga ngutang "udud" di warungnya. Yang dimaksud Yu Nah itu konon seorang janda dengan penghasilan tak menentu yang berasal dari rupa-rupa pekerjaan seperti buruh laundry, memijat, dan lainnya. Yu Nah punya dua anak yang masih bersekolah.

Gerimis rapat. Tenda angkringan yang sempit tetap hangat bersama empat ceret berisi rebusan air yang sewaktu-waktu dituang untuk membuat teh hangat, jeruk hangat dan krampul hangat. Minuman jenis terakhir itu nikmat sekali, terbuat dari teh tubruk yang dicampur dengan perasan air jeruk. Orang kota biasa menyebut dengan lemon tea, tapi lemon tea sudah pasti hanya tersaji di kedai, kafe atau restauran, bukan pada sebuah gerobak dengan atap terpal di pinggir jalan atau di sudut jalanan kampung dengan penerangan lampu minyak ketika malam menjelang.

Ketika mengenang angkringan, Jokpin barangkali sedang mengenang teman-temannya. Para penulis dan penyair yang bersama dengannya memasak kata, berita dan fenomena dalam Basis, Gatra atau Sadhar. Tetapi, angkringan sesungguhnya juga milik para sales yang kejar setoran, tukang ojek pangkalan, pegawai kantor dan pegawai pabrikan dengan upahan rendah, pekerja seks komersial (PSK) dan pencopet. Soal PSK, tentu bisa kau jumpai mereka di angkringan-angkringan yang ada di sudut lokalisasi. Dari profesi terakhir itu, kau bisa dengan mudah mendengar rencana konspirasi mereka di angkringan-angkringan seputaran kampus atau tempat wisata. Mereka sungguh berbicara dengan blaka suta, blak-blakan alias tanpa malu-malu ketika bercerita tentang pengalamannya terpeleset ketika mencuri laptop di sebuah kosan atau berbagi cerita perihal keluar-masuk bui karena aktivitasnya.

Namun, yang ngangeni dari angkringan sesungguhnya adalah sego kucing dan segala macam penganan pelengkapnya. Sego isi sambel bandeng, sambel teri, dan orek tempe adalah primadona, bersama tempe mendoan, tahu isi, sate telor sunduk, pisang goreng, dan kerupuk rantang. Yogyakarta dan Surakarta, dua kota yang justru mengapit Cawas, Klaten sebagai kota yang menurut cerita gethok tular menjadi sejarah asal muasal angkringan adalah potret unik. Di kota ini, manusia di angkringan tidak bisa ditebak latar belakang sosialnya. Manusia dengan penghasilan 15 ribu rupiah per hari hingga mereka yang menghasilkan puluhan juta dalam hitungan jam, memiliki kualitas perut yang sama dalam mencerna hidangan yang murah meriah. Dari tenda yang suk-sukan ini, manusia disatukan dalam bahasa kesederhanaan.

Sementara itu, di televisi, narasi orang-orang kelas bawah disajikan dengan begitu memuakkan. Orang miskin di televisi adalah objek tayangan reality show dengan konsep pelunasan utang, pemberian hadiah atau tukar nasib. Untuk rating, mereka dijual dengan tayangan mengumbar kesedihan yang membangkitkan rasa emosional dan iba. Tak jarang, mereka juga dijual sebab wajah ndeso, keluguan, kelucuan dan kekonyolannya. Potret wajah orang miskin di televisi adalah kepedulian yang naif pada realitas ketimpangan ekonomi yang dihasilkan oleh tindak korupsi, penyalahgunaan wewenang dan hukum yang tidak berpihak.

Wajah orang miskin di angkringan adalah wajah nyata dan suara-suara tentang hidup yang berjuang. Perihal utang makan yang seminggu tak dibayar adalah kearifan khas masyarakat kita yang jiwanya teruji lapang dan besar. Dulu sekali, angkringan malah tidak tersaji pada gerobak. Hidangan Istimewa Kampung itu dipikul dengan angkring, semacam pikulan yang dikombinasikan dari bahan kayu, rotan dan bambu. Penjual yang berkeliling itu melahirkan tradisi mengobrol, melanggan, hingga persaudaraan.

Belakangan ini, kata angkringan mulai dikooptasi dalam wajah baru. Ia tak lagi dipikul angkring atau berupa gerobak beratap tenda terpal. Angkringan masa kini adalah angkringan yang bertempat pada kedai, kafe bahkan resto eksklusif. Sajiannya memang masih berupa ragam sego kucing, berbagai gorengan dan minuman wedangan. Akan tetapi, harganya tentu saja tidak dapat dijangkau oleh tukang becak, buruh pabrikan dan tukang copet. Beragam merek mobil mewah pun memadati halaman parkir angkringan wajah baru ini. Makanan kampung rupa-rupanya sudah naik kelas. Aplikasi makanan pesan-antar memungkinkan sajian dapat dipesan cukup lewat gawai, sehingga tradisi berbincang pun tereduksi dengan banal.

Di Jakarta, hidangan-hidangan kampung ini memang sering laris sebab mewakili sebuah rasa rindu pulang dibanding substansinya sebagai makanan sederhana. Sehingga kehadiran angkringan modern di Jakarta pun ramai dikunjungi pelanggan.

Tenda angkringan yang sempit dan tempias di sudut jalan kampung sesungguhnya adalah wajah sosial sebuah masyarakat. Betapa di sudut-sudut jalan kampung ada orang-orang kecil yang tak pernah merengek meminta keadilan meskipun hidup terhimpit kesulitan. Modal sosial mereka bukanlah kekayaan, tetapi kehangatan percakapan sepanjang hari dan kehangatan persaudaraan. Mereka hidup terhormat dengan cara menyenangkan, meskipun sejarah seringkali luput mendokumentasikan. ●

Sabtu, 03 Februari 2018

Mendidik Lantip yang Bukan Priyayi

Mendidik Lantip yang Bukan Priyayi
Kalis Mardiasih ;  Menulis opini dan menerjemah;
Aktif sebagai Periset dan Tim Media Kreatif Jaringan Nasional Gusdurian
dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama
                                                  DETIKNEWS, 02 Februari 2018



                                                           
"Bapakmu, Le, pergi jauh. Jaaauuuh sekali. Dia pergi untuk mengumpulkan banyak uang supaya nanti kita bisa bikin rumah baru, punya sawah yang luas dan subur dan sapi dan kerbau dan lain-lainnya. Kamu pasti senang kalau nanti Bapak pulang." (2012:12)

Kalimat itu diucapkan Mbok kepada Lantip tiap kali bertanya perihal bapaknya yang kabur tanpa jejak sejak ia kecil. Pernyataan Mbok sekaligus mewakili imajinasi penjual tempe pada nilai paripurna dalam hidup yang terwujud pada rumah, sawah, hewan ternak, dan aset lainnya. Dalam novel Para Priyayi, Umar Kayam mengubah nasib Lantip menjadi seorang guru priyayi. Lantip meninggalkan kampungnya di Wanalawas, pergi ke "kota" Wanagalih untuk disekolahkan oleh Ndoro Guru Sastrodarsono.

Dalam karya monumental yang menggambarkan batin Jawa pada masa kolonial itu, Wanalawas yang terpencil adalah simbol serba ketidakmajuan, sedangkan bersekolah di Wanagalih adalah simbol kemoderenan karena kelak orang-orang bersekolah di HIS, MULO atau AMS dapat bekerja menjadi mantri guru atau pegawai-pegawai kantor pemerintahan Belanda.

Seabad berlalu, pada 2017 kali ini, mari menjadi Pak Ryan yang pagi ini kembali menemukan surat undangan pernikahan di meja kerjanya. Sepucuk surat itu bertuliskan nama mantan siswi yang baru saja lulus dari Sekolah Dasar tempatnya mengajar dua tahun lalu. Bukan kali pertama terjadi, tapi tiap menemukan kabar sejenis, ia lagi-lagi tersadar jika ia kini adalah seorang guru PNS yang ditugaskan mengajar pada sekolah yang berjarak 40 kilometer dari pusat kota kabupaten di pinggiran Jawa Tengah.

Kampung letak sekolah itu berada di antara kepungan beratus hektar hutan jati dengan akses jalanan yang buruk. Total siswa di sekolah berjumlah 45 anak, rata-rata berjumlah 7 bocah dari kelas satu sampai kelas enam. Sekolah tetangga terdekat siswanya berjumlah 25 bocah saja, tapi tetap saja tidak bisa digabung karena hutan luas yang memisahkan mereka pun terlalu jauh. Akan tak cukup adil untuk bocah yang datang dari satu kampung yang dikorbankan.

Selepas Sekolah Dasar, sedikit sekali siswa yang melanjutkan ke jenjang sekolah menengah. Jarak sekolah jauh, tak ada akses transportasi umum. Jika memiliki kendaraan, perlu bensin dua liter untuk pulang-pergi tiap hari. Satu atau dua keluarga awalnya bertekad menyekolahkan anaknya, tapi kemudian berujung ke pertanyaan: "Sekolah buat apa?" Mereka lalu berhenti berangkat sekolah; anak gadis akan segera menikah, yang laki-laki lazimnya pergi meninggalkan tanahnya.

Awal waktu ketika baru hangat-hangatnya jadi sarjana, Pak Ryan bertekad betul mengaplikasikan semua teori yang ia pelajari dalam buku Filsafat Pendidikan. Tetapi, fakta lapangan jauh dengan teori muluk UU tujuan Pendidikan Nasional. Kini, ia lebih sering jadi relijius untuk menenangkan diri. Suatu ketika ia membaca pesan grafis seorang kiai di Instagram, katanya, "Jangan berharap siswa-siswamu menjadi pintar hanya gara-gara kau ajar. Pintar atau tak pintar itu urusan Allah, tugasmu adalah mengajar dengan baik dan mendoakannya." Pak Ryan tahu, tindakan menghafal kutipan itu adalah wujud apologi menenangkan diri. Tak apa, toh, sinyal internet kemudian hilang kembali setibanya ia di hutan.

Cah alas alias bocah hutan lalu ramai-ramai jadi kuli di Jakarta. Para pemangku jabatan di hutan bukan orang kampung mereka, melainkan orang-orang asing yang berasal dari kota. Para mafia kayu yang hilir mudik juga orang kota. Lahan perhutani yang bisa disewa untuk ditanami tanaman palawija hanya terjangkau oleh orang kaya dari kota. Lagi-lagi kota. Upah sebagai buruh tani dari menggarap lahan sewa orang kota tak seberapa, jika pun panen, akses distribusi mahal dan harga hasil panen juga ditentukan oleh tengkulak.

Di sekolah, pandangan peran manusia dianggap sebagai sumber daya pembangunan. Buku-buku diktat dengan harga mahal, seragam, sepatu, sering diharapkan akan berubah menjadi meja kerja, dasi, dan lingkungan pergaulan eksklusif sebagai simbolisasi kesuksesan. Pada jenjang sekolah menengah, anak-anak harus menghafal rumus kimia, rumus fisika dan rumus matematika yang rumit. Rumus itu harus terus dipelajari hingga perguruan tinggi agar dapat menuntaskan kerja mesin-mesin dan piranti teknologi yang berguna untuk membangun gedung-gedung tinggi yang entah sekadar mempercantik atau menyesaki kota.

Di sekolah, anak-anak hutan tidak diperlakukan sebagai subjek pembangunan yang utuh yang membuat mereka lepas dari budayanya. Sekolah tidak mengajak mereka berpikir bagaimana caranya agar di masa depan lahan sewa tanah hutan negara dapat dipergunakan oleh orang-orang kampung sendiri. Sekolah tidak mengajarkan mereka untuk membuat pertambahan nilai pada sedikit ladang yang mereka miliki. Sekolah tidak memberi tahu bagaimana cara mengendalikan harga pasar yang dikuasai oleh manusia yang tak pernah terlibat dalam proses menanam. Sekolah tidak mengajarkan mereka untuk bertanya mengapa hidup di masyarakat artinya berhadap-hadapan dengan pelapisan atau stratifikasi sosial yang bersumber dari adanya perbedaan ekonomi, pendidikan, agama, keturunan, kekuasaan.

Jika ada yang beruntung menjadi Lantip yang terus bersekolah, mereka terbentuk menjadi manusia siap kerja. Dahulu, angkatan siap kerja itu diperbantukan kolonial menjadi ambtenaar, mandor perkebunan, atau pamong praja.

Tetapi tidak semua anak bisa disekolahkan ke kota seperti Lantip. Yang lebih parah, kita jarang berpikir mengapa sekolah tidak bisa menghasilkan Lantip-Lantip lain yang bukan priyayi? Soal akses jalan yang buruk dan infrastruktur yang memadai, kita selalu hanya bisa menunggu agar pemerintah pusat dan daerah ingat janji-janji kampanyenya. Tapi, sampai kapan jiwa pendidikan menjadi perpanjangan narasi pembangunan perkotaan yang gagal membuat Lantip menjadi tuan di tanahnya sendiri? Lantip harus pulang ke desa, sebab kota sudah semakin sesak dan mampat. ●

Sabtu, 27 Januari 2018

Tukang Becak di Jalan Raya Politik

Tukang Becak di Jalan Raya Politik
Kalis Mardiasih ;  Menulis opini dan menerjemah;
Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama
                                                   DETIKNEWS, 26 Januari 2018



                                                           
Di kota kelahiranku, Blora, seorang tukang becak bernama Muhaimin mengadu ke Dewan Pendidikan. Konon, Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) mensyaratkan fasilitas komputer pada tiap-tiap sekolah, dan untuk pengadaan itu, orangtua dikenakan bayaran iuran sebesar tigaratus ribu rupiah. Angka itu tentu saja membuat Pak Muhaimin keberatan. Di kota yang menjadi setting novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer itu, masih banyak gaji buruh penjaga toko yang bekerja dari pagi hingga malam dihargai beberapa ratus ribu saja. Penghasilan tukang becak lebih buruk dari gaji para buruh itu.

Ketika umur belasan dan masih bersekolah di SMP Negeri 1 Blora, saya sempat menjadi seorang ketua OSIS. Setiap bulan Ramadan, dibentuk Panitia Hari Besar Islam (PHBI). Saat pembagian zakat di penghujung Ramadan, yang menjadi pengantre hampir semuanya adalah tukang becak. Saya mengenal hampir semua wajah-wajah pengantre itu.

"Pak Muri mana, Lik?" tanya saya kepada Lik To ketika ia membubuhkan tanda tangan sebelum menerima jatah beras.

"Nggak tahu. Tadi kuajak nggak mau."

Pak Muri adalah Bapak saya. Dulu ia adalah seorang tukang becak yang mangkal di depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

"Malu, Ndhuk. Mosok anaknya Ketua OSIS tapi bapaknya ikut antri jatah beras," begitu jawab Bapak ketika saya tanya sesampainya di rumah.

Zaman terus berubah. Tukang becak yang berkerumun di terminal atau stasiun kini semakin tak laku. Kebanyakan orang yang turun dari bus atau kereta telah dijemput oleh kekasih atau saudara mereka. Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah mencari pelanggan dari anak sekolah atau para penjual di pasar. Zaman yang tak berpihak pada becak itu membuat Bapak kemudian sudah tidak lagi menarik becak hingga hari ini. Tetapi, Lik To dan teman-teman lainnya masih mangkal di RSUD hingga kini, sebab narasi masyarakat bawah kadangkala berujung kepada fakta bahwa tidak ada tumpuan ekonomi lain yang bisa diandalkan. Jika gambaran di kota kecil saja seperti itu, bagaimana di kota besar?

Di Solo dan Yogya, ada gerakan "Sarapan Untuk Pak Becak". Dari gerakan tersebut, kawan-kawan mendapat data bahwa tukang becak yang ada di Solo dan Yogya rupanya adalah pendatang dari kota-kota kecil di sekitarnya seperti Sukoharjo, Boyolali, Wonogiri, Sragen, dan Klaten. Para bapak becak itu pulang tiap dua minggu atau sebulan sekali, tergantung ada atau tidak pendapatan yang bisa mereka bawa pulang kepada keluarga di rumah. Setiap malam mereka tidur lebih awal untuk menahan lapar dan dingin, meringkuk di dalam becaknya atau menggelar alas kardus di emperan toko-toko di Jalan Slamet Riyadi atau Jalan Solo-Yogya.

Suatu ketika saya pernah menyimak sebuah perbincangan antara seorang tukang becak dan pedagang angkringan di dekat sebuah hotel bintang lima di Jalan Gajah Mada, Solo. Tukang becak itu membayar utang makan selama beberapa hari. Telah berhari-hari terlewati dengan sepi penumpang. Ia tak berani pulang sebab tak cukup uang yang bisa ia bawa untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Percakapan ironi namun hangat dalam narasi masyarakat kelas bawah yang penuh rasa tepa salira.

Beberapa waktu lalu selepas menonton film di bioskop di Yogyakarta, seorang tukang becak dengan penuh harap menantikan penumpang. Tetapi, tentu saja tak berhasil menggaet satu pun. Anak-anak muda yang datang bergerombol telah memesan mobil lewat aplikasi taksi online. Bapak becak itu mengayuh pulang dengan lesu.

Konon, janji politik Gubernur DKI Jakarta adalah memperbolehkan becak beroperasi di jalan-jalan lingkungan kampung atau pemukiman. Belum benar beroperasi, wacana itu tentu terlebih dahulu menjadi polemik di kalangan mereka yang kita sebut saja pro-kebijakan dan kontra-kebijakan. Mereka yang pro dengan kebijakan ini membawa narasi pro rakyat miskin alias keberpihakan, yang seolah tukang becak yang diizinkan beroperasi akan meningkat taraf hidupnya. Ada janji untuk memasang listrik pada becak, lalu memberi mereka pelatihan untuk peningkatan performa pelayanan. Sedangkan pihak kontra-kebijakan beropini bahwa jalanan kota Jakarta telah sangat semrawut tanpa becak, dan pasti akan lebih kacau jika becak beroperasi di jalan raya. Apalagi, ada bayangan suram soal migrasi tukang becak dari daerah seperti Indramayu, yang tentu akan makin merepotkan.

Pada akhirnya, tukang becak hanya menjadi subjek narasi dalam pusaran kekuasaan dan perbincangan elitis kelas menengah. Nasib mereka mungkin tidak berubah. Tetapi mereka keburu dianggap sebagai biang kerok dari semua riuh perdebatan di linimasa. Tak hanya tukang becak, ada isu-isu murahan lain seperti isu keturunan komunis, isu LGBT, atau isu anti-Cina, yang seringkali hanya muncul pada masa-masa jelang pilkada dan pilpres.

Para pemain politik itu seperti tak punya takut untuk bermain-main. Ketika di dunia nyata masyarakat bertetangga dengan rukun dan tenang-tenang saja, lalu tiba-tiba harus terkoyak dengan isu-isu musiman yang diembuskan hanya untuk mengetes gelombang ketegangan politik. Minoritas dan masyarakat kelas bawah sesungguhnya tidak pernah eksis, mereka selamanya adalah janji-janji kampanye yang tak pernah wujud. ●