Tampilkan postingan dengan label Membunuh Petani Tembakau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Membunuh Petani Tembakau. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Oktober 2012

Harga Tembakau Turun, Tanggung Jawab Siapa?


Harga Tembakau Turun, Tanggung Jawab Siapa?
M Sobary ;  Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
SINDO, 01 Oktober 2012


Pada suatu pagi, Muawiyah tidur lelap. Jika dibiarkan, dia akan melewatkan waktu subuh. Seseorang membangunkannya dan dia pun salat subuh.Tapi betapa terkejutnya, yang membangunkannya tadi setan.

Apa perlunya membangunkan aku? Biasanya kau mencegah orang salat? Setan menjawab,“ Kalau kudiamkan, kau kehilangan kesempatan untuk salat subuh, maka kau akan beristigfar sepanjang hari, sedang tiap satu istigfarmu bernilai satu subuh sendiri. Aku dengki melihat itu,” jawab setan. Di suatu media terkemuka di Jakarta muncul artikel, ditulis oleh orang terkemuka di bidang kesehatan, yang dengan panjang lebar disertai klaim-klaim kelengkapan data berbicara tentang turunnya harga tembakau yang membuat petani tembakau sekarang menderita.

Ditulis pula bahwa turunnya harga tersebut disebabkan besarnya impor tembakau asing dan bahwa pabrik keretek pun tak peduli terhadap peristiwa tersebut. Di sana juga disebutkan, para pembela petani tembakau diam saja dan dipertanyakan, siapa sebenarnya yang mereka bela? Terutama pertanyaan terakhir ini yang tekanannya terasa lebih berat, dengan satu klaim dan satu tuduhan tersembunyi, simbolis, dan tak terlihat atau tak terasakan oleh mereka yang tak mengerti di mana posisi si penulis dalam diskursus tentang tembakau yang ruwet akhirakhir ini.

Penulis seorang tokoh antitembakau, antikeretek, yang dengan datar menyamakan uang asing yang disumbangkan kepada para tokoh antirokok oleh suatu organisasi yang memakai nama Bloomberg di suatu negeri yang jauh dari sini. Baginya, uang ini sama dengan dana pembangunan yang diterima negara, sama dengan uang yang diterima LSM untuk kegiatan mereka,dan sama dengan uang asing yang mana pun.

Aneh, seorang sesenior dan secerdas beliau—cerdas politik, cerdas ekonomi—dan waspada akan begitu banyak hal yang tersembunyi, tapi mengapa begitu sederhana memahami makna duit asing yang ditaburkan ke mana-mana dan diterima di kalangan pejabat, aktivis, ilmuwan, tokoh rohani, dan kaum profesional? Duit asing ini jauh bedanya dan tak mungkin sama dengan dana pembangunan. Duit ini juga beda dan tak mungkin mendekati kesamaan dengan uang yang diterima LSM.

Kita tahu, pada mulanya duit asing ini diterima dengan nikmat tapi diam-diam. Tak ada yang mengakuinya.Bahkan seorang wartawan besar menulis di media besar, telah menghardik siapa saja yang menyadari adanya uang sensitif itu. Dia bilang: adanya uang asing itu absurd. Tapi, di dalam suatu acara televisi, uang yang ditutup-tutupi itu terbuka. Sepandai-pandai orang membungkus, barang busuk berbau juga.

Dengan rasa malu yang tak terbayangkan, mereka berusaha membuat de-finisi dan menyamakan uang asing yang khusus untuk membunuh tembakau dan keretek itu dengan uang asing yang lain-lain, termasuk disamakan dengan loan dari suatu negara untuk negara lain macam negara kita ini. Dana pembangunan dan dana untuk LSM itu diterima melalui kesepakatan dan mekanisme yang disebut “G to G” dan di negeri donor, parlemennya tahu berapa jumlah dan untuk program apa.

Programnya buat kebaikan bagi kedua negara dan rakyat kedua negara tersebut. Hal itu tiba-tiba disamakan dengan uang asing, dari pengusaha asing, yang bermaksud merebut bisnis keretek kita, dengan cara-cara menghancurkan keretek kita lebih dulu. Dan mereka mau saja menjadi kepanjangan tangan kepentingan asing tersebut. Tokoh yang sama kemudian mengingatkan kita perlunya membela petani tembakau? Tokoh ini pula yang beberapa bulan lampau menulis dalam tanya jawab di media online agar kemarahan petani ditujukan pada kebijakan pemerintah yang mengimpor tembakau dan bukan hanya terhadap RPP yang sedang dalam proses penyelesaian.

Dia mengabaikan kemampuan kita memahami persoalan tembakau. Kita tahu impor itu ada.Perjuangan kita bertahap. Kita hadapi dulu semua peraturan resmi pemerintah yang mengancam dan perlahanlahan menengok perkara impor, terutama oleh industri rokok milik asing yang tak pernah memakai tembakau hasil tanaman rakyat kita. Ketika dalam artikel tersebut dia berteriak,“Pembela tembakau diam saja, siapa sebenarnya yang dibela,”apakah berarti tokoh ini sedang menaruh empati kepada petani tembakau yang terjepit kebijakan?

Dia membela home industry keretek, tiga ratusan jumlahnya, yang mati karena dicekik pemerintah? Jawabannya, sudah jelas tidak. Tak ada yang percaya bahwa dia sebaik itu kepada petani tembakau dan pabrik kecilkecil yang mati karena kebijakan vandalistis yang didiktekan oleh kepentingan asing kepada pejabat kita. Dia sedang mengalihkan perhatian kita pada hal-hal lain. Solidaritas kita—para petani tembakau dan semua pihak yang ada hubungannya dengan pertanian dan pabrik,dengan semua pihak yang bekerja sama dengan mereka—hendak digoyahkan.

Tahun ini petani tembakau mengeluh berat karena harga tembakau turun dan pabrik sudah menutup buku pembelian. Apakah begitu yang sebenarnya terjadi? Pabrik,yang tahun lalu rela menjadi pemberi jaminan bagi petani yang meminjam uang di bank setempat untuk keperluan pertanian, tak mungkin menutup pintu dari keluhan.Pabrik siap menjadi pemberi jaminan. Maka kalau jumlah 18 miliar rupiah yang hendak dipinjam petani dan bank tak mau memberi pinjaman itu, maka pabriklah yang bersedia memberi mereka pinjaman.

Uang pabrik yang disiapkan justru lebih besar, 20 miliar rupiah, dan tak perlu pakai agunan. Dalam proses pinjam-meminjam ini, Asosiasi Petani Tembakau Jawa Tengah (APTI) ada di ujung tombak lobi ke pabrikan.Dan petani bahagia. Ini terjadi di Temanggung. Lagipula, beberapa tahun terakhir relasi mereka sudah berubah. Petani yang punya pinjaman, tapi hasil panen mereka buruk, boleh membayar tahun depan lagi setelah hasil panen bagus.

Ini sudah menjadi kebijakan pabrik untuk memperlihatkan partnership di antara mereka, yang makin hari terjalin kokoh. Pabrik yang lain bersedia memberikan beasiswa buat anak-anak petani dari tingkat SMP hingga tingkat perguruan tinggi. Diutamakan anak petani yang cerdas.Baru kemudian diutamakan lagi anak petani yang memang sangat membutuhkan beasiswa itu. Petani Temanggung juga sedang melakukan lobi dengan pemda setempat agar pemda turut membantu mereka keluar dari persoalan ruwet ini.

Lobi-lobi ditempuh. Lewat asosiasi petani tembakau atau lewat petani langsung, tindakan-tindakan penting sedang dan sudah dilakukan. Tak ada yang berpangku tangan. Relasi petani dan pabrikan yang sudah mapan dan terasa saling menguntungkan seperti itu tak bisa dirusak. Kita tak patut berteriak melalui suatu artikel di media yang justru merusak jalinan pengertian yang sudah terbentuk. Cara yang sudah ditempuh, dialog, lobi, dialog, lebih bijak.

Petani mungkin tak sepandai dokter. Apalagi dibandingkan dokter senior di kota besar, yang juga aktivis yang gigih hendak siap, tiap saat, menyingkirkan tembakau dan keretek dari kehidupan masyarakat. Bukankah beliau yang bersumpah hendak memuseumkan keretek kita agar keretek hanya dikenang dalam kebekuan? Petani memang tak sepandai dokter itu Tapi petani memiliki wisdom yang mungkin dokter itu tak memahaminya.

Dan apa arti teriakannya bahwa para pembela petani tembakau diam saja dan siapa yang sebenarnya dibela? Mereka— para pembela petani tembakau itu pun—tak sepandai dokter ini. Tapi,seperti para petani tembakau, mereka pun punya wisdom perjuangan sendiri dan tak perlu dilaporkan kepada orang-orang niatnya menghancurkan tembakau.

Sebaliknya, di sana ada nada memecah-belah kesatuan antara para pembela tembakau pada satu pihak dan pembela keretek dan industri di pihak lain. Sifat mengadu domba itu terasa di dalam tulisannya. Jadi, benar sudah, bahwa sejauh ini tak ada yang menaruh peduli pada tulisan itu. Ketika dia berteriak agar kita marah pada kebijakan impor beberapa bulan lalu, pun tak ada yang menanggapinya.
●

Senin, 14 Mei 2012

Petani Tembakau sebagai “The Opressed”


Petani Tembakau sebagai “The Opressed”
M Sobary ;  Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia
SUMBER :  SINDO, 14 Mei 2012



Ketika di tingkat internasional perdagangan keretek dipersoalkan dan kemudian ada tekanan— atau bujukan menggiurkan— pada tingkat nasional agar keretek juga dipersoalkan,maka apa alasan dasarnya yang dianggap sah,dengan keabsahan yang paling kuat dan karena itu bisa diterima dengan baik oleh segenap pihak? 

Alasan kesehatan masyarakat, alasan ekonomi, dan kemudian alasan keagamaan, tentang halal-haram. Inilah puncaknya dan di masyarakat berpenduduk muslim terbesar ini, alasan halal-haram dianggap dan diharapkan menjadi kekuatan pemungkas untuk membungkam bisnis keretek yang di Amerika sana mengalahkan telak perdagangan rokok putih. Alasan demi alasan—juga yang bersumber pada agama— tak begitu manjur.

Ketika Bloomberg Initiative mengumumkan lewat website tentang gerakan bertawaf dunia untuk “membungkam” bisnis keretek, di sana diumumkan berapa besar dana yang telah dikeluarkan untuk mendukung langkah bisnis global yang memakai tedeng alingaling dan berpura-pura berbicara tentang kesehatan manusia dan masyarakat pada tingkat dunia. Demikian manusiawi, demikian “care” dan meyakinkan langkah ini sehingga dunia pun guncang. Sangat banyak pihak tergopohgopoh untuk ikut menyingsingkan lengan baju.Kita maklum, ini bukan sekadar kerja bakti. Maka, di negeri kita, para pejuang yang menyebut diri mereka “gagah berani”, sebagaimana tampak pada saat mereka berdiskusi untuk saling memberi stimulasi,mulai mendesak. Ada suasana “dengki” pada keretek lebih dari masamasa sebelumnya.

Teriakan mereka: tak ada warisan budaya segala.Warisan apa? Tak ada tradisi-tradisian. Banyak tradisi yang mati,jadi tak perlu risau. Tunggu dulu. Mati dan “dimatikan” atau “direncanakan untuk dimatikan” itu beda. Suatu tradisi penting mati, itu lumrah. Biar saja kalau memang mati. Usahakan menghidupkannya kembali kalau hal itu mungkin.Tapi kalau “dimatikan”, pemiliknya jelas tidak rela. Lebih-lebih lagi teriakan penuh permusuhan untuk dengan bersemangat “memuseumkan” keretek. Selain langkah-langkah strategis yang disumbangkan para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini dan itu,para aktivis, para profesional di bidang medis,muncul lagi langkah birokrasi yang lebih fandalistis.

Tapi patut dicatat: langkah itu “disokong” dari pihak luar sana atau “ditekan” dengan target capaian yang ditentukan. Maka para politikus pun membantu dengan dukungan perundang-undangan,bekerja sama dengan pemerintah.Kemudian pemerintah—juga pemerintah daerah—menyusun perda-perda yang mematikan. Perumusan perda sifatnya bukan hanya tidak transparan dan tidak akuntabel secara sosial, melainkan juga sudah jelas sangat sengaja mematikan bisnis keretek. Aturan sangat mematikan diberlakukan,tapi bisnis itu tetap hidup.

Mereka tidak melawan, tapi tetap survive.Bahkan ketika senjata pemusnah diterapkan, yaitu memberi beban cukai seberat-beratnya, bisnis itu masih tetap tak tergoyahkan. Semua itu menjadi ancaman mengerikan bagi petani tembakau.Bila pabrik keretek bisa dianggap “sumber api”kehidupan petani, maka ketika “sumber api” itu dimatikan, tak usah banyak cingcong, semua orang yang berpikir tahu, petani tembakau pun dengan sendirinya ikut koit. Tapi seorang aktivis muda yang sangat dedikatif pada program itu berteriak: saya akan berada di garis depan membela petani jika seluruh langkah pengaturan dampak produk tembakau itu bermaksud membunuh petani tembakau.

Hei, ada yang percaya pada suara yang tak disertai ketulusan politik macam itu? Tidak ada. Dia mungkin mau menutupi sikap para politikus dan birokrat kita yang tak memiliki empati kerakyatan sama sekali. Dia ingin mengesankan memihak petani tembakau ketika tampak dan sangat terasa bahwa kebijakan pemerintah di bidang itu tak memperlihatkan semangat perlindungan pada petani tembakau. Pendeknya, ingin tampil “heroik” supaya makna aktivis itu terasa bedanya dari para birokrat dan para politikus. Tapi orang yang sama juga berteriak: naikkan terus ke tingkat maksimal beban cukai itu. Arahnya?

Kalau bebannya sangat berat, biarlah industri keretek mati dengan sendirinya. Dengan begitu mereka tak kentara bahwa mereka terlibat dalam pembunuhan.Tapi siapa yang tak tahu akal culas ini? Adakah pabrik tak merasakannya? Jangankan pabrik, petani pun tahu arti politik dari pernyataan itu. Dan perlu dicatat, orang yang berteriak paling keras ini harus bertanggung jawab atas matinya industri rumah tangga demi industri rumah tangga di bidang keretek yang gugur dalam jihad melawan kezaliman.

Banyak industri rumah tangga yang telah menjadi syuhada karena langkah ini. Apa sikap dan tanggung jawab aktivis muda itu pada kenyataan ini? Dia akan mengatakan bahwa hal itu tak dimaksudkan begitu, sama seperti dia mengatakan bahwa langkah ini semua tak dimaksudkan untuk membunuh petani tembakau? Kalau ya,kenapa ada langkah dari Kementerain Pertanian agar petani tembakau beralih ke tanaman lain? Dia akan menjawab bahwa dirinya tak tahumenahu? Dan mengapa Gubernur Jawa Tengah sudah dengan tegas memojokkan tembakau, dengan program yang menekankan barang siapa sudah beralih dari tanaman tembakau ke tanaman lain akan disubsidi?

Apakah dia juga akan menjawab bahwa dia tak tahu akan adanya kebijakan daerah ini? Semua kebijakan ini—sekali lagi dibantu dengan sikap all out oleh sebagian golongan intelektual kita—arahnya buat mematikan budi daya tanaman tembakau. Dengan kata lain,targetnya jelas: langkah demi langkah kebijakan itu ditujukan untuk membuat petani tembakau sebagai golongan tertindas di dalam negerinya sendiri. Para petani tembakau dibikin menjadi the oppressed, kelompok tertindas, di tengah para sahabatnya sendiri, di dalam masyarakatnya sendiri, yang dulu begitu ramah dan bersahabat.

Dan diamkah mereka semua? Tidak.Mereka bangkit dan siap mempertahankan diri di dalam garis “tempur” yang dibentangkan para penguasa, atas dukungan banyak pihak tadi, demi menuruti tekanan kepentingan asing.Tentu saja mereka boleh membuat aturan. Tapi petani tembakau meminta, buatlah aturan yang enak bagi semua kalangan, dengan ketulusan langkah kebijakan yang secara sosial dan politik akuntabel.

Aturan hendaknya memihak rakyat, juga petani tembakau, dan bukan membuat petani tembakau merasa tersingkir serta terlunta- lunta sebagai the oppressed di kampung halaman sendiri.
●

Senin, 07 Mei 2012

Laskar sebagai Benteng Perlawanan


Laskar sebagai Benteng Perlawanan
Mohamad Sobary; Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga
Produk Indonesia
SUMBER :  SINDO, 07 Mei 2012


Petani tembakau merupakan sasaran tak langsung, tapi tetap harus dibunuh seperti mereka berusaha dengan penuh kedengkian membunuh pabrik keretek di negeri ini. Di zaman modern ini cara membunuh lawan harus modern pula.

Kemajuan di dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan diplomasi canggih, yang begitu lembut dan simbolik, harus memberi manfaat nyata sehingga persaingan yang kejam dalam dunia bisnis ini masih akan terasa halus. Duit, dalam jumlah besar, ditawarkan sebagai insentif, dan seolah duit itu wujud kemuliaan surgawi. Pesan utamanya harus merupakan langkah membunuh keretek, dengan banyak cara, yang kelihatan halus dan diplomatis.

Jika perlu, rumuskanlah suatu program, yang isinya melindungi manusia, orang per orang, dan warga masyarakat pada umumnya. Basis programnya boleh sosial, boleh ekonomi, boleh pula kebudayaan, boleh rohaniah. Kesehatan masyarakat akan kedengaran menarik sebagai program. Dan akan kelihatan simpatik secara sosial.

Urusan agama, dan hokum halal-haram, menjadi sangat penting karena ini negeri yang dihuni mayoritas warga negara yang menunjung tinggi agama. Pemikiran ini strategis–– jika dijadikan langkah-langkah atau program lapangan, akan menjadi sangat gemilang. Maka membunuh keretek demi kepentingan asing, pengusaha asing, bangsa asing, yang sudah sangat lama ingin menguasai bisnis itu, akan menjadi sangat mudah.

Membunuh keretek hanya tinggal perkara waktu. Itu tidak lama. Langkah asing—yang melibatkan WHO—ini didukung banyak kalangan di dalam negeri. Pemerintah merupakan pendukung resmi dan paling utama. Mencekik pabrik keretek dengan menaikkan terus menerus cukai, yang tak akan terpikul oleh mereka, merupakan jalan terdepan.Ini jalan tol untuk membunuh pesaing, yaitu pabrik keretek dalam negeri ini.

Tapi, cukai dinaikkan terus hingga jumlah penerimaan negara mengerikan sekali kedengarannya, tapi pabrik tetap lestari. Seorang tokoh aktivis muda yang bersemangat, meminta cukai harus naik, naik lagi, naik lagi, dan seterusnya. Dia tahu, sampai di suatu titik, pabrik akan tak mampu dan gulung tikar. Dalam benak aktivis ini sudah terjangkit naluri membunuh, yang semula hanya ada di dalam benak pengusaha asing yang ingin menguasai keretek kita itu.

Baginya, duit asing disamakan dengan dana pembangunan. Dia bilang: negara saja hidup dengan bantuan dana asing.Maka apa salahnya kita menerima uang asing? Para ilmuwan, kaum cendekiawan, para profesional di bidang medis, politisi, dan sejumlah aktivis lainnya sependapat. Uang itu tak mengusik rasa aman, sikap etis, dan kebebasan mereka sebagai tokoh dalam masyarakat. Mereka tahu, uang bukan sekadar uang. Di balik nilai uang ada ideologi.

Mungkin ideologi asing, yang beroperasi di bidang bisnis, mungkin ideologi politik, yang hendak memenangkan perjuangan politik asing. Kenapa kita bersedia membela mereka, tak dipersoalkan. Ramai-ramai mereka meneriakkan regulasi pengendalian dampak tembakau tak bermaksud membunuh petani tembakau. Sikap ini dijeritkan lewat forum-forum seminar, lewat pengadilan, dan lewat media.

Tapi para petani tembakau, yang hidup di ladang dan tak pernah bersentuhan dengan politik dan media, mencemooh. “Mereka itu menggunakan logika apa?” kata seorang petani yang kritis, dalam pertemuan persiapan untuk mendeklarasikan laskar keretek beberapa hari yang lalu. “Kalau tak bermaksud membunuh petani tembakau, mengapa pemerintah—bahkan pemerintah daerah Jawa Tengah sendiri— menyuruh petani beralih ke tanaman lain, selain tanaman tembakau?

Pikiran aktivis macam apa kalau semangatnya berbohong, dan tak merasa berdosa menodai kehidupan petani, yang seharusnya mereka bela?” “Apakah dia berbohong betul?” “Sampean mau membelanya? Apa Sampeanjuga aktivis, yang berpikiran serupa?” “Dia tak bicara alih tanaman.” Jawab saya. “Memang tidak.Tapi mustahil dia tak tahu rangkaian program membunuh keretek itu.

Jika pabrik keretek dimatikan, siapa yang peduli terhadap petani tembakau? Untuk apa tembakau ditanam kalau pabrik keretek dimatikan?” Orang Jakarta tak sensitif terhadap kapasitas kaum tani— apa lagi kaum tani zaman ini— yang tangkas memberikan reaksi kritis. Di Temanggung beredar tembakau-tembakau dari daerah lain, yang buruk kualitasnya, tapi dimasukkan ke Temanggung untuk mengacaukan pasaran tembakau Temanggung yang bagus.

Kualitas tembakau setempat tinggi, dan petani mempertahankan kualitas itu agar penghasilan mereka tetap tinggi. Datangnya subversi dagang untuk mengacaukan kualitas tembakau setempat tak mengganggu sama sekali. Kualitas tak bisa disulap. Maka, orang pun menyebut tembakau tersebut sebagai tembakau “Temanggungan”. Jadi bukan tembakau Temanggung sungguhan.

Orang pintar yang culas, tidak jujur, dan dalam tindakannya sebagai orang sekolahan sengaja menyembunyikan suatu fakta tertentu demi keuntungan pribadinya di zaman ini mudah ketahuan. Orang biasa, seperti petani dan buruh yang tak pernah memperoleh pelayanan pendidikan secukupnya, toh tahu bahwa mereka diperlakukan tak adil. Maka itu, berteriaklah seribu kali sehari bahwa langkah kalian tak bermaksud membunuh petani tembakau, niscaya para petani itu tak akan mempercayai Anda.

Komunikasi yang tak terbuka, yang menyembunyikan suatu corak keculasan, apa pun kepentingannya, tak akan membuahkan saling pengertian dan “trust” yang dicita-citakan. Semodern apa pun langkah untuk membunuh keretek, dan sebanyak apa pun jumlah pendukung di dalam birokrasi dan di lapangan, semua akan ketahuan. Sepandai apa pun para aktivis yang mendukungnya, jika kepandaian itu tak berlandaskan kebenaran,apa pun langkahnya akan terbentur-bentur.

Perlawanan tulus para petani, yang mempertahankan hidupnya, yang dijamin di dalam hak asasi manusia,merupakan kebenaran yang menyilaukan. Mereka tulus dalam arti sebenarnya. Tak ada keculasan. Tak ada tipu daya. Kebutuhan mereka hanya bertahan hidup: sesuatu yang begitu mendasar, sedangkan para tokoh hebathebat di Jakarta bicara tentang logika yang tak bisa dinalar oleh petani.

“Orang pandai yang tak jujur, tak dihormati. Rohaniwan yang tak tulus, tak mendapat tempat di hati”. Maka itu, pelan-pelan para petani membuat persiapan. Mereka mengorganisasi diri. Tokoh-tokohnya memberi pengarahan: Kita berhimpun dalam laskar bukan untuk menyerang, bukan untuk berperang. Laskar kita hanya ibarat benteng. Kita bertahan. Benteng harus kuat. “Jika diserang” “Kita sudah terbiasa diserang.

Tapi, kita tak perlu balas menyerang. Kita bertahan dalam benteng kebenaran. Kita diam di balik benteng keadilan yang kita perjuangkan. Kejahatan asing, dibantu bangsa kita sendiri, boleh menyerang. Tapi kejahatan akan kita kalahkan. Kebenaran akan unggul, jika kita tulus, setulus-tulusnya, dalam perjuangan ini. “Jika keadaan memaksa, kita bergerak dengan lascar kita, dan melawan, dengan segenap keluhuran jiwa, yang sudah teruji berabad- abad di dalam hidup kaum tani.”  Pengarahan berakhir dan massa bubar. Pelan-pelan benteng perlawanan diperkukuh.
●