Tampilkan postingan dengan label Iwan Pranoto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iwan Pranoto. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Juli 2021

 

Belajar Memanusia

Iwan Pranoto ;  Guru Besar Institut Teknologi Bandung

KOMPAS, 15 Juli 2021

 

 

                                                           

Jika diketikkan ‘mencetak SDM’ di Google, akan berderet lebih dari satu juta rujukan terkait frasa ini. Penggunaan kata ‘mencetak’ dengan diimbuhi kata 'SDM’ seperti paket kombo lengkap dalam mendehumanisasi. Kata mencetak sudah mengeksploitasi, apalagi ini dieksplisitkan lagi dengan SDM.

 

Sumber daya manusia (SDM) dalam KBBI diartikan sebagai “potensi manusia yang dapat dikembangkan untuk proses produksi.” Istilah aslinya human resource, populer di abad ke-20.

 

Awalnya, istilah ini dicetuskan sebagai sebuah kiasan guna menghargai kapasitas manusia. Namun, seperti banyak istilah, harapan dan kenyataan kerap bertolak belakang. Dalam berjalannya waktu, yang terjadi justru esensi kemanusiaan dalam istilah itu semakin memudar. Ini yang dikritisi dengan tajam melalui makalah "A Human is not a Resource" (McGaughey, 2020). McGaughey menegaskan bahwa dengan istilah itu, manusia telah diturunkan derajatnya dan menjadi sumber, suplai, atau modal.

 

Dampaknya, tanpa direncanakan, “pembendaan” pekerja ini menyusupi akal dan menyebar di masyarakat. Istilah ini, lanjutnya, sekarang melumrah, bertebaran di judul buku teks, papan nama, istilah keseharian, dan menjadi penghela utama gig economy: gagasan keliru bahwa manusia merupakan sebuah sumber daya.

 

Penggunaan kata SDM tersebut sama sekali bukan urusan sepele. Menurut McGaughey, “Kata itu berpengaruh. Kata membawa makna.” Konyolnya, data menunjukkan, setiap kali prinsip utama dari teori 'sumber daya manusia' diterapkan sepenuhnya, hasilnya di capaian kemakmuran pekerja malah memburuk (Idem, 2020).

 

Rasanya tak mungkin ada ibu yang rela anaknya kelak menjadi sumber daya, sejajar dengan batubara atau bensin. Demikian pula seorang guru ataupun pemimpin institusi pendidikan sudah seharusnya gusar jika ada yang menginstruksikan siswa dicetak menjadi SDM.

 

Namun, pada sisi lainnya, sudah semestinya seseorang menjalani pendidikan untuk menerampilkan dirinya agar dapat bekerja dan mencukupi dirinya sendiri secara material dan finansial. Jadi, usaha mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja dan mencari nafkah merupakan hal sesuatu yang lumrah dan mulia.

 

Memanusia

 

Begawan pendidikan konstruktif Mochtar Buchori di masa hidupnya berkali-kali mengingatkan, pendidikan harus memfasilitasi pelajar untuk belajar menafkahi dirinya dan juga memuliakan kehidupannya.

 

Sekitar setengah abad sebelumnya, pemikir pendidikan dan Rektor IKIP Sanata Dharma, Pater N Driyarkara, memanggungkan istilah hominisasi dan humanisasi dalam pendidikan. Beliau menekankan perbedaan antara usaha seseorang menjadi hominid dan menjadi human. Menurut KBBI, hominid diartikan sebagai “suku yang mencakupi manusia dan makhluk mirip manusia yang telah punah.”

 

Tidak seperti hominid lain, manusia harus menjadi hominid dan manusia sekaligus. Seorang manusia harus mampu menghidupi dirinya secara badani dan sekaligus menumbuhkan dirinya menjadi manusia yang berperangai halus dan berbudi. Pendidikan (melalui keluarga, masyarakat, atau sekolah) sebagai sebuah kreasi peradaban bertugas memfasilitasi dua sasaran tersebut sekaligus.

 

Melalui perspektif kecerdasan, guru manajemen Stephen Covey merumuskan model manusia utuh secara lebih eksplisit dan operasional (Covey, 2004).

 

Menurutnya, seorang manusia dalam hidupnya harus dapat memenuhi empat kebutuhan pertumbuhan: badan, akal, hati, dan jiwa. Khususnya, seorang manusia perlu mampu menyediakan dirinya pangan, papan, sandang, dan juga menjaga kesehatan tubuhnya.

 

Kemudian, dia harus mampu serta tetap berhasrat untuk belajar dan mengasah akalnya. Dia juga perlu cakap merawat hubungan emosional serta sosial dengan masyarakat dan dengan dirinya sendiri. Yang terakhir, dia perlu merawat kesadaran agungnya untuk mewariskan dunia yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.

 

Namun, dengan semakin dahsyatnya pragmatisme, sasaran hominisasi dan humanisasi tadi tidak berjalan harmonis dalam pendidikan. “Di zaman teknologi ini,” kata Rama Driyarkara, “bisa saja orang hanya memburu kecakapan kerja dan bukan perkembangan manusia” (Driyarkara, 2006, hlm. 363).

 

Perlu dicatat, kalimat itu sama sekali bukan berarti bahwa menjadi hominid tak penting, bahkan kurang penting dibanding menjadi manusia, tetapi setiap manusia perlu mengembangkan keduanya berbarengan. Pendidikan dari tataran paling dasar sampai paling tinggi perlu menjaga kemajuan, keterpaduan, dan keharmonisan dua sasaran tadi.

 

Pengajaran "dua rel"

 

Masalah yang muncul dalam praktik pendidikan bukan karena kedua sasaran tadi tak berkembang beriringan, tetapi justru pendidikan berjalan beriringan tetapi di dua jalur rel yang berbeda. Sekelompok siswa melalui satu jalur menyiapkan diri untuk segera masuk dunia kerja dan kelompok lainnya melalui jalur lainnya meneruskan mempelajari keilmuan lebih dalam dan lebih lama.

 

Akibatnya, segregasi dan pengkastaan melalui pendidikan, mau diakui atau tidak diaku, telah terjadi.

 

Di masa revolusi industri pertama, kedua, sampai ketiga yang dicirikan berturut-turut sebagai langkah memesinkan, memproduksi massal, dan mengotomasi; dunia industri dan perdagangan menganggap sistem pengajaran dua rel itu cocok dengan keperluan industri. Sampai abad lalu sejumlah kantor dagang, institusi komersial, bahkan organisasi buruh di beberapa negara industri, menyokong sistem pengajaran dual-track atau rel ganda tadi.

 

Sejumlah pendidik dan pebisnis pragmatis juga mengompori dengan pertanyaan apa gunanya siswa sekolah menengah, yang akhirnya akan memasuki jenis pekerjaan bergaji-rendah, perlu belajar lebih tinggi dari jenjang SMA?

 

Lebih jauh, mengapa mereka perlu belajar filsafat, sejarah, dan sastra? Ini rangkaian pertanyaan retorika yang sudah akrab di dunia pendidikan.

 

Dermawan Peter Thiel menyeriusi pertanyaan atau tantangan tadi dengan menawarkan “beasiswa” bagi para remaja cerdas yang mau meninggalkan pendidikan tinggi dan langsung berlatih mengembangkan usaha rintisan (start-up) berbasis web (Clynes, 2017). Ada yang mengritisi Thiel, tetapi cetusan idenya berhasil mengusik kemapanan pendidikan.

 

Menurut Presiden Universitas Harvard, Larry Summers, pendidikan tinggi memang perlu berubah, tetapi menggunakan dana filantrofi guna membujuk para pelajar untuk meninggalkan perguruan tinggi merupakan gagasan yang “sangat berbahaya.”

 

Di abad silam, pemikir dan pereformasi pendidikan paling berpengaruh AS, John Dewey, sudah menentang keras ide sistem pendidikan rel ganda ini. Pendidikan yang sekadar memuaskan permintaan “end user” akan memandang siswa sebagai konsumen playlist pengetahuan (Roth, 2012). Menurut Dewey, pengajaran rel ganda ini hanya akan memperparah ketimpangan.

 

Di dekade ketiga di abad ke-21 ini, sistem pengajaran dua rel itu semakin meragukan. Dunia hari ini dicirikan dengan laju perkembangan pengetahuan dan difusinya yang super pesat. Konsekuensinya, menurut teknolog John S Brown, waktu paruh pengetahuan dan keterampilan di zaman ini hanya lima tahun.

 

Brown menambahkan, di masa lalu, siklus mengadopsi pengetahuan/teknologi baru mengikuti tahap inovasi (penemuan), sindikasi (litbang), dan periode panjang difusi (masuk pasar) yang stabil dapat digambarkan seperti sebuah huruf ‘S’ besar. Itu zaman saat pengetahuan mencair lambat, tetapi sekarang pengetahuan mencurah deras.

 

Akibatnya, sekarang kurvanya terdiri dari rangkaian banyak kurva ‘S’ berukuran kecil. Jarak dari inovasi sampai difusi dan munculnya inovasi baru lain (substitusi) terjadi semakin singkat dan sering.

 

Periode grafik ‘S’ itu pada zaman inovasi TV berwarna lebih dari 70 tahun, tetapi sekarang komputer dengan ratusan peranti lunaknya sudah berkali-kali berganti hanya dalam 10 tahun. Dengan laju perubahan seperti itu, siswa dan pekerja dituntut menguasai pengetahuan baru seperti berenang di jeram yang aliran airnya kuat, cepat, dan berubah terus-menerus. Maka, seorang pekerja di zaman ini butuh terus belajar keahlian baru.

 

Bahkan, seseorang yang secara sengaja berlatih dengan kecakapan tertentu untuk sebuah pekerjaan spesifik pula tidak mungkin mampu bertahan di kariernya, yang sekarang lebih dari 60 tahun, tanpa belajar pengetahuan lain serta memutakhirkan keterampilannya.

Ini berarti pelajar yang mengikuti rel yang semula diarahkan untuk segera bekerja juga perlu mengembangkan dirinya dalam berpikir dan kecakapan umum lainnya, sama seperti temannya yang di rel pendidikan umum. Tak beda.

 

Sebaliknya, pendidikan tinggi umum seperti universitas semakin menginginkan lulusannya memiliki pengalaman praktik di dunia kerja sebelum lulus. Pelajar di institusi pendidikan umum juga diarahkan memahami praktik dunia industri secara nyata.

 

Tampak bahwa dua jalur di sistem pengajaran rel ganda itu sudah konvergen mendekat. Zaman pengetahuan-mencurah-deras ini telah membuat segregasi pengajaran dua rel tadi tidak sekontras di abad silam. Gairah dan terampil belajar untuk mengembangkan diri relevan bagi pelajar di jalur mana saja. Siswa di kedua rel sama-sama perlu belajar memanusia.

 

Akhirnya, apa pun strategi pembangunan yang digagas, manusia tidak boleh dijadikan sumber daya. Bahkan seorang manusia yang mungkin terlahir dengan kemampuan berbeda yang mungkin dianggap tidak cukup sebagai komponen “produktif” untuk industri, dirinya tetap seorang manusia yang sedang memanusia. ●

 

 

Selasa, 03 April 2018

Kemandirian Masyarakat Bernalar

Kemandirian Masyarakat Bernalar
Iwan Pranoto  ;   Pengajar Matematika di ITB
                                                         KOMPAS, 03 April 2018



                                                           
Revolusi Industri sekaligus secara umum kemajuan sains dan teknologi hari ini tak dapat dilepaskan dari buah keberhasilan gerakan pelibatan masyarakat dalam proses bernalar, yang dikenal sebagai Age of Reason atau Pencerahan.

Ini keberanian manusia meremukkan pasung mental yang diciptakan sendiri: bahwa dirinya masih ingusan sehingga tak layak berpikir mandiri (Kant, 1784).

Kemandirian bernalar

Yang sebelumnya kegiatan belajar dan bernalar dikuasai kalangan agamawan dan ningrat, kemudian Pencerahan menyadarkan manusia bahwa dirinya, bahkan yang dari kalangan pinggiran, berhak dan perlu mengetengahkan buah olahan benaknya sendiri. Ini alasannya Zaman Pencerahan bermoto: ”Berani menggunakan pemahaman hasil pemikiran sendiri”.

Anggapan dirinya ingusan tadi, menurut Kant, bukan karena masyarakat kurang pandai, melainkan karena mereka belum memiliki keberanian dan sudah nyaman mematuhi manusia lain yang dianggap lebih tinggi. Kecuali itu, masyarakat awam juga sudah nyaman ”nerimo” jika urusan dirinya dipikirkan pihak lain. Maka, menurut Kant lagi, agar masyarakat luas berani menggunakan pemahaman hasil bernalar sendiri perlu digaungkan kebebasan. Ringkasnya, kebebasan bernalar mandiri merupakan cara menggelorakan Pencerahan.

Dalam hal penebaran kebebasan, sistem pendidikan memiliki peran paling strategis di masyarakat. Namun, untuk itu, sistem pendidikan perlu mentransformasi dirinya sendiri dahulu. Sistem pendidikan yang sudah berabad-abad terbiasa turut menebarkan kepatuhan sekaligus mengamini perasaan ketakberdayaan perlu berganti haluan nilai. Yang sebelumnya mengedepankan nilai mematuhi pikiran pihak yang ditinggikan berganti menjadi berani mengutamakan pernalaran sendiri.

Di luar sistem pendidikan formal terdapat dua inovasi mendasar yang turut menghela Pencerahan sekaligus mengubah kehidupan. Inovasi bersifat teknis ini secara langsung menumbuhkan makna perebutan hak belajar dan bernalar tadi dalam wujud nyata, yaitu mesin cetak dan ensiklopedia.

Sampai sebelum abad ke-15, buku harus disalin dengan ditulis tangan satu per satu. Akibatnya, buku menjadi mahal dan langka. Akhirnya, pengetahuan hanya dikuasai kelompok beruntung. Alat cetak yang ada juga tidak praktis karena cetakannya harus diukir dari papan kayu halaman per halaman.

Dengan berpikir bahwa usaha penerbitan buku berpotensi menghasilkan uang banyak, pebisnis dan pandai besi Jerman, Johannes Gutenberg, merancang alat cetak yang terdiri atas cetakan alfabet per alfabet dan terbuat dari logam. Ini membuat percetakan lebih sederhana serta tahan lama sehingga dapat digunakan untuk menghasilkan cetakan yang bagus, relatif murah, dan bahkan indah.

Sebenarnya, di Korea pada tahun 1400-an sudah dibuat alat cetak sejenis, tetapi karena bahasa tulis di Korea (dan juga rumpun bahasa Sino-Tibet) memerlukan 10.000-an karakter, ide ini mandek. Sementara Gutenberg beruntung karena bahasa tulis di Eropa memerlukan kurang dari 70 aksara (termasuk huruf kecil dan besar, serta tanda baca).

Produksi berskala besar pertama Gutenberg berupa 200 kitab suci pada tahun 1455. Produk pertama ini laku keras, bahkan habis dipesan sebelum diluncurkan. Dapat dibayangkan guncangannya, kitab suci yang sebelumnya ditulis tangan satu per satu dan akibatnya hanya dapat dibaca kalangan agamawan, terobosan Gutenberg memungkinkan masyarakat turut memahami serta nantinya menafsirkan sendiri. Terobosan ini menyulut keberanian masyarakat untuk berpendapat menggunakan benaknya sendiri.

Sebelum ada mesin cetak Gutenberg, di seluruh Eropa hanya ada 30.000 buku, tetapi pada tahun 1500 sudah ada 9 juta buku (Kaku, 2011). Ini Revolusi Informasi yang sesungguhnya.

Pada akhir abad ke-19, dengan tenaga mesin uap, industri penerbitan buku berskala industri semakin berkembang. Kemajuan penerbitan buku ini mempercepat penyebaran pengetahuan dan merombak dunia melalui revolusi radikal di sains, politik, agama, dan seni. Pesan pentingnya, kemajuan ini menyadarkan manusia bahwa ada pengembangan pengetahuan di luar keyakinan.

Setaraf dengan makna penting inovasi Gutenberg dalam peradaban manusia, filsuf Denis Diderot bersama  matematikawan Jean le Rond d’Alembert menggagas ensiklopedia, yang diartikan sebagai kamus sistematis dalam sains, seni, dan kriya. Kumpulan pengetahuan mutakhir yang ditulis oleh 125 cendekiawan terkemuka Eropa dan diterbitkan tahun 1772 itu menjelmakan semangat Pencerahan dengan mengajak masyarakat mempertanyakan kepastian serta kebenaran mutlak dari masa sebelumnya berlandaskan nalar dan sains. Ensiklopedia diimpikan agar dapat menyemarakkan kasmaran belajar dan keberanian bernalar di masyarakat.

Dengan menyebarnya percetakan dan ensiklopedia itu, keran pengetahuan terbuka dan masyarakat asyik mencecap gelontoran informasi kemajuan sains dan pengetahuan lainnya. 

Pemahaman bahwa pengetahuan sebagai milik publik serta bernalar sebagai hak tiap manusia terus berlanjut dan melintas rentetan gelombang zaman. Bahkan, pemahaman itu semakin terawat baik di era digital ini.

Era digital

Sekarang, penulis, percetakan, dengan pembaca sudah nyaris berada pada satu titik di ruang dan waktu. Teknologi digital memungkinkan penulis langsung berhubungan dengan calon pembaca dan mencetak tulisan di rumah pembaca, yang boleh jadi ada di pulau terpencil di tengah laut, nyaris dalam waktu sekejap. Semangat perebutan hak belajar oleh masyarakat beriringan dengan kemajuan teknologi digital.

Demikian pula dengan ensiklopedia. Walau ensiklopedia tradisional dalam wujud puluhan jilid buku tebal sudah jadi kenangan masa lalu, teknologi digital memungkinkan masyarakat hari ini mengakses pengetahuan dengan mudah dan murah. Bahkan ”ensiklopedia” terlengkap dan termutakhir (baca: Wikipedia)  sekarang terselip di dalam saku. Pencarian informasi dapat dilakukan dengan telepon seluler (ponsel) di mana saja dan hanya butuh waktu sekian detik. Juga, sekarang masyarakat awam dapat berkontribusi turut mengisi, melengkapi, dan memvalidasi isi ensiklopedia.

Sayangnya, kemajuan di bidang pendidikan hari ini belum selaju percetakan dan ensiklopedia. Praktik pendidikan di dunia hari ini hampir masih sama seperti Zaman Pencerahan atau sebelumnya. Kemajuan pesat sains dan teknologi ternyata belum membuahkan kesepakatan bahwa kemerdekaan bernalar mandiri adalah sasaran utama sistem pendidikan. Kecakapan bernalar juga belum dibelajarkan di kelas secara sistematis.

Karena itu, institusi pendidikan perlu menggaungkan terus pembelajaran kecakapan bernalar. Masyarakat yang mandiri bernalar merupakan prasyarat pemijahan bibit toleransi sejati dalam bernegara, bermasyarakat, dan berkeyakinan di generasi mendatang. ●

Jumat, 26 Januari 2018

Kesertaan dalam Tes Internasional

Kesertaan dalam Tes Internasional
Iwan Pranoto  ;  Guru Besar Matematika ITB;
Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI New Delhi, India
                                                      KOMPAS, 26 Januari 2018



                                                           
Sudah hampir dua dekade, tiap empat atau tiga tahun sekali, Indonesia ikut serta dalam tes internasional, seperti TIMSS dan PISA. Karena itu, masuk akal mempertanyakan apakah pendidikan Indonesia telah memperoleh manfaat secara berarti dari kesertaan pada tes-tes tersebut.

Tes-tes internasional bermanfaat untuk keperluan diagnosis. Khususnya, dari tes tersebut dapat dikenali kecakapan mana yang masih kurang dikuasai para pelajar. Lalu, apakah tak mungkin didiagnosis dengan tes yang dibuat sekolah atau guru sendiri? Tentu saja mungkin, tetapi ada baiknya juga tes internasional itu menjadi bahan rujukan walau bukan satu-satunya.

Biang masalah dan dasar kritik pendidik tradisional terhadap tes terstandardisasi itu muncul karena hasil tes-tes ini digunakan dengan tak semestinya. Hasil tes diungkap media sebagai pemeringkatan pendidikan sejumlah negara berdasarkan rata-rata nilai. Lalu, hasil pemeringkatan antarnegara ini dibuat jadi berita heboh berbagai media dan jadi ”bahan bakar” perdebatan politik. 

Padahal, secara umum, hampir mustahil membandingkan pendidikan dua negara karena faktor dan keadaan dua negara tak memungkinkan disamakan. Apalagi untuk membandingkan 70-an negara di dunia. Misalnya, bagaimana mungkin membuat peringkat pendidikan negara Finlandia atau Singapura dengan Indonesia yang memiliki jumlah populasi pelajar, keadaan ekonomi, serta skala geografi sangat berbeda?

Lebih mustahil lagi memberikan satu angka tertentu untuk melabelkan atau menggambarkan mutu pendidikan suatu negara. Karena pendidikan memiliki dimensi yang luar biasa banyak, menyimpulkan sesuatu berdasarkan satu angka tertentu yang mewakili ratusan dimensi tentunya berisiko.

Yang juga jamak, hasil yang tak baik sering kali ditanggapi dengan sikap defensif atau pembelaan yang berlebihan. Memang mudah mencari-cari kecacatan metodologi suatu tes. Karena itu, mungkin dipikir kecacatan atau kelemahan itu dapat menawarkan permakluman mengapa hasil suatu negara buruk.

Tes kecakapan bernalar

Sudah hampir pasti metodologi tes-tes internasional tersebut tak sempurna, pasti ada banyak kekurangannya. Namun, bagi pendidikan dasar sampai tinggi di Indonesia seharusnya tak pernah terlalu terkejut dengan hasil tes- tes internasional selama ini. Hasilnya kurang lebih seperti gambaran kenyataan di kelas. Pengamatan kualitatif pada kecakapan membaca, menulis, bicara, dan apalagi bernalar dari lulusan SMA yang menjadi mahasiswa tahun pertama di perguruan tinggi juga tak terlalu jauh dari gambaran hasil tes-tes internasional itu.

Harus jujur dan diakui pula konsep dan pelaksanaan tes internasional seperti TIMSS dan PISA tersebut masih lebih baik dan terbuka dibanding ujian nasional (UN) Indonesia. Soal-soal yang akan digunakan, disiapkan melalui prosedur standar saksama, termasuk dilakukan uji pendahuluan. Kemudian, setelah pelaksanaan tes, sejumlah soal yang digunakan dipublikasikan dan dilaporkan pengkajian terhadap jawaban para pelajar. Praktik baik seperti ketaatan prosedur standar dan keterbukaan ini sejatinya dapat dirujuk oleh pengelola penilaian pendidikan di Indonesia. Dari kajian mendalam, para pendidik dan penentu kebijakan dapat mengenali kecakapan apa yang belum dikuasai pelajar. Lalu, dapat dirancang langkah perbaikan dalam pembelajaran di kelas, bahkan di buku, kurikulum, sampai pelatihan guru.

Sudah sering disampaikan bahwa tes-tes internasional itu secara umum cenderung menekankan penilaian kecakapan yang bersifat bernalar, karena perancangnya bervisi bahwa pelajar hari ini akan memasuki dunia kerja yang sarat teknologi. Kecakapan berpikir canggih akibatnya ditekankan. Kecakapan menyelesaikan masalah yang benar- benar baru yang menuntut kecakapan berpikir tinggi sekaligus berpikir kreatif justru yang menjadi perhatian utama. Pelajar dituntut menerapkan kecakapan yang diperoleh di kelas pada permasalahan nyata hari ini yang mungkin belum ditemui sebelumnya, tak peduli kurikulum yang digunakan di sekolahnya seperti apa.

Berdasarkan rangkaian hasil tes hampir dua dekade yang diikuti Indonesia, dilaporkan belum ada tanda kecenderungan peningkatan berarti. Namun, sudah dikenali dan banyak dilaporkan bahwa kurangnya pembelajaran kecapakan berpikir tingkat tinggi merupakan satu kelemahan sistem pendidikan kita.

Sesungguhnya, jika tak dilakukan perubahan berarti pada sistem pembelajaran di kelas, khususnya pengasahan kecakapan bernalar, tak boleh berharap akan muncul perbaikan pendidikan yang berarti. Tak boleh juga berharap banyak akan terjadi peningkatan nilai secara berkelanjutan dan berarti di tes-tes internasional tersebut. Tak boleh berangan-angan akan ada peningkatan hasil secara berarti jika memang praktik pembelajaran nyaris sama selama ini.

Keberhasilan pendidikan nasional butuh perbaikan tepat pada sasaran proses pembelajaran bernalar. Seperti pengobatan yang baik, penanganan harus tepat pada bagian yang memang sakit. Bukankah kritik akan rendahnya nilai kebangsaan, integritas dan moral merupakan buah tak langsung dari tak suburnya budaya bernalar di pendidikan?

Guru dan bahan ajar

Guna membenahi pendidikan, pelatihan guru dan perbaikan bahan ajar merupakan dua hal yang paling strategis untuk ditindaklanjuti.

Pada saat yang sama, dua upaya tersebut membutuhkan dana yang besar sekaligus waktu yang lama. Sementara Indonesia tak memiliki kemewahan dengan dana yang besar. Kecuali itu, untuk mengumpulkan guru dari daerah terpencil ke ibu kota terdekat untuk ikut pelatihan, juga bukan urusan sepele. Belum lagi kepergian para guru itu ke pelatihan akan mengganggu jadwal belajar para murid. Para pelajar Indonesia pun tak memiliki kemewahan untuk menunggu waktu yang lama guna memperoleh pendidikan yang baik.

Untuk mengatasi kendala ini, pemanfaatan teknologi modern dapat dipertimbangkan. Upaya sederhana seperti penyebaran video pendek (5 menit) berisi inovasi pendekatan pembelajaran dan bahan ajar bermutu melalui telepon seluler langsung ke guru dapat menjadi solusi perbaikan pendidikan yang mungkin, langsung berdampak, dan murah.

Permasalahan pendidikan yang dihadapi Indonesia sangat besar dan pelik. Namun, sangat mungkin dibenahi dan butuh waktu sekitar satu dekade untuk dilihat buahnya, seperti yang dibuktikan China, asalkan segera berbenah tepat sasaran hari ini. ●

Selasa, 28 November 2017

Pemutakhiran Jejak Nol

Pemutakhiran Jejak Nol
Iwan Pranoto ;  Guru Besar Matematika ITB;
Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI New Delhi, India
                                                    KOMPAS, 28 November 2017



                                                           
Walau sudah diketahui bahwa bilangan nol dengan sistem nilai tempat yang biasa digunakan hari ini bersumber dari India, tetapi nol tertua yang ditemukan di India sampai saat ini berasal dari abad ke-9, yakni di Candi Chaturbhuja di Gwalior. Yang ada di Candi Parshwanatha, Khajuraho, malah berasal dari abad ke-10.

Karena dari abad ke-9 dan 10, nol tadi tidak dapat digunakan untuk memastikan bahwa nol dari India, mengingat saat itu pedagang Arab sudah memasuki India. Baca Aczel (2016) dan Coedes (1931) untuk argumen lebih rinci. Karena itu, pencarian nol dengan sistem nilai tempat berbasis-10 di India yang lebih tua selalu menjadi perhatian pakar sejarah sains.

Prasasti “Nol”

Yang mungkin belum cukup diberitakan, nol tertua di dunia dengan sistem nilai tempat berbasis-10 terpahat pada Prasasti Kedukan Bukit dan ini dua abad lebih tua dari yang di Gwalior. Prasasti peninggalan era Sriwijaya ini ditemukan di dekat Palembang dan sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta, dengan tanda pengenal D 146. Nol tua lain dari abad ke-7 berasal dari situs arkeologi Trapang Prei, Kamboja. Hari ini, prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Kamboja, dengan tanda pengenal K-127.

Dua prasasti D 146 dan K-127 itu dulu diterjemahkan sekitar tahun 1930-an oleh sejarawan dan arkeolog ternama Perancis, George Coedes. Dari pahatan pada prasasti itu, dia mengungkap tahun Saka 604 untuk asal Prasasti Kedukan Bukit dan tahun Saka 605 untuk asal prasasti dari Trapang Prei tersebut.

Namun, pada 2008 dan 2009, Dominique Soutif meralat pernyataan Coedes. Dalam disertasi dan makalahnya “DÉnombrer les biens du dieu: Étude de la numÉration du vieux khmer? (VIe-XIIe siÈcles ?aka)” yang diterbitkan di Journal of Cambodia Research tahun 2008 dan juga melalui komunikasi dengan penulis, Soutif menegaskan telah terjadi kesalahan (konsisten) pembacaan angka terakhir dalam penulisan tahun oleh Coedes. Menurut dia, Coedes juga sebenarnya sudah ragu saat itu.

Soutif menjelaskan, Prasasti Kedukan Bukit dari Sumatera (Sriwijaya) dengan Trapang Prei dari Kamboja (Pre-Ankor) bertahun Saka yang sama, 604. Ini dalam penanggalan Gregorian 682/683 M. Ini berarti, nol di kedua prasasti sama tuanya. Kecuali Prasasti Kedukan Bukit, Museum Nasional Indonesia juga memuat prasasti lain yang memuat nol, yakni Prasasti Talang Tuwo (606 Saka) dan Kota Kapur (608 Saka).

Kumpulan prasasti abad 7 di atas bernilai tinggi bagi sejarah matematika dunia dan juga bagi kebudayaan Indonesia. Karena dari abad ke-7, kumpulan prasasti “Nol” ini membenarkan bahwa nol dari India.  Khususnya, pada dua prasasti D 146 dan K-127 tersebut terpahat nol awal dengan sistem nilai tempat berbasis 10 tertua di dunia. Paling tidak, nol tersebut “dipercaya tertua” sampai September 2017 lalu.

Naskah Bakhshali

Pada 14 September 2017, harian dan media elektronik The Guardian menurunkan liputan berjudul “Much ado about nothing: ancient Indian text contains earliest zero symbol” yang memberitakan usia sebuah naskah kuno. Naskah ini ditemukan tahun 1881 di Desa Bakhshali, yang saat itu bagian dari India dan dikuasai Inggris. Sekarang Bakhshali termasuk Pakistan.

Naskah yang dikenal sebagai Naskah Bakhshali dan sudah sangat rapuh ini kini disimpan di Perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford. Naskah ini berupa catatan matematika kuno yang ditulis pada 70 lembar kulit pohon dan berisi petunjuk cara melakukan berbagai perhitungan matematika serta penerapannya di kehidupan sehari-hari. Seperti buku teks matematika yang digunakan murid sekolah hari ini, naskah kuno yang mungkin diperuntukkan bagi pelajar/pedagang Buddha masa itu juga disertai contoh perhitungan.

Di naskah ini digunakan bilangan nol dengan sistem nilai tempat berbasis 10. Ini membuat Naskah Bakhshali menjadi perhatian dunia. Namun, masalahnya, tak seperti prasasti “Nol” di Asia Tenggara sebelumnya yang jelas menyebutkan tahunnya, naskah ini tak diketahui pasti waktu penulisannya.

Sekitar 1990-an melalui kajian terhadap gaya bahasa yang digunakan serta matematikanya, pakar yang mendalami Naskah Bakhshali, Dr Hayashi Takao, memperkirakan naskah kuno ini dari abad ke-8 sampai ke-12. Karena itu, liputan eksklusif The Guardian yang memberitakan hasil pengukuran usia radiasi karbon dari Naskah Bakhshali ini sangat dinantikan. Dilaporkan, tim peneliti mengambil cuplikan dari lima lembar kulit kayu berbeda di naskah tersebut, kemudian mengukur usia tiga cuplikan melalui analisis C-14.

Tulisan paling lengkap tentang hasil penelitian ini baru ada di laporan pracetak “Carbon dating reveals Bakhshali manuscript is centuries older than scholars believed and is formed of multiple leaves nearly 500 years different in age” yang ditulis David Howell (Kepala Heritage Science, di Perpustakaan Bodleian) 3 Juli 2017.

Dilaporkan, tim peneliti mendapati bahwa tiga lembar kulit kayu yang diuji itu berasal dari beberapa abad yang berjauhan.  Di situ dilaporkan, cuplikan pertama (Folio 16) dari 224-383 M, cuplikan kedua (Folio 17) dari 680-779 M, dan yang ketiga (Folio 33) dari 885-993 M.

Tim peneliti kemudian membuat beberapa pernyataan. Pertama, naskah pada keadaan sekarang ini terdiri dari paling sedikit tiga naskah berbeda dengan waktu penulisan yang berbeda. Kedua, disebutkan ada bagian dari naskah yang berusia “sekitar 500 tahun lebih tua daripada yang sebelumnya dipercaya para ahli. Hasil pengukuran usia radiasi karbon membuat nol di naskah ini sebagai asal dari lambang nol yang kita gunakan hari ini.”

Ketiga, tim peneliti juga mempertanyakan kajian Takao tahun 1995 yang dikatakan berdasar asumsi bahwa “semua bagian naskah dituliskan pada masa yang sama-pernyataan yang kini digugurkan oleh hasil pengujian usia karbon terakhir ini.”

Perdebatan lanjutan

Tiga pernyataan di atas memiliki celah karena yang diukur ialah usia kulit kayunya, bukan tulisannya. Jika kulit kayu berasal dari abad ke-3, bukan berarti tulisannya dari abad ke-3 juga. Biasa di era itu, tulisan dihapus dan ditimpa dengan tulisan baru di atasnya. Jadi, pernyataan pertama belum tentu benar. Bisa jadi kulit kayunya dari tiga waktu berbeda, tetapi penulisannya dari waktu yang sama.

Adapun pernyataan kedua menunjukkan bahwa tim peneliti itu menggunakan usia kulit kayu tertua untuk menyatakan usia naskah. Padahal, justru seharusnya secara nalar, penentuan usia naskah ditentukan dari tulisan terakhir, yakni abad ke-9-10, bukan abad ke-3. Pernyataan ketiga juga memiliki celah. Hasil pengukuran usia radiasi karbon ini hanya menunjukkan usia bahan kulit kayu yang ditulisi dari waktu yang berbeda-beda. Ini belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa naskah ditulis pada waktu berbeda-beda.

Kemudian, setelah liputan The Guardian itu tersebar, sejumlah ahli sejarah sains, Kim Plofker dkk termasuk Takao, menanggapi dengan tulisan “The Bakhshali Manuscript: A Response to the Bodleian Library’s Radiocarbon Dating” yang dipublikasikan lewat jurnal History of Science in South Asia, 5.1 (2017): 134-150.

Di situ, mereka menelaah penelitian dan menyesalkan kebijakan Perpustakaan Bodleian yang telah merahasiakan hasil pengukuran usia radiasi karbon untuk beberapa bulan, dan malah memilih siaran pers ke koran dan Youtube guna mengomunikasikan suatu urusan yang sifatnya teknis dan bersejarah. Mereka berkata, Perpustakaan Bodleian telah menerabas standar kanal akademik yang seharusnya memungkinkan diskusi serius pakar sejawat sebelum penyebaran ke masyarakat.

Upaya pengukuran canggih usia karbon Naskah Bakhshali ternyata tetap menyisakan banyak keraguan tentang jejak nol tertua. Khususnya, pernyataan bahwa nol di Naskah Bakhshali dari abad ke-3 belum meyakinkan. Karena itu, prasasti D 146 di Museum Nasional Indonesia dan prasasti K-127 di Museum Nasional Kamboja masih merupakan awal nol dengan nilai tempat berbasis-10 tertua.

Berdasar pentingnya prasasti-prasasti “Nol” di Museum Nasional Indonesia sebagai tonggak matematika dunia sekaligus tonggak sejarah sains Indonesia, koleksi tersebut perlu dilengkapi dengan narasi bilangan nol. Ini akan membangkitkan suasana ilmiah segar di permuseuman serta ilmu kemanusiaan. Pelajar Indonesia hari ini dapat melihat langsung sekaligus menghargai nol kuno tersebut yang merupakan salah satu tonggak penting peradaban manusia. ●

Rabu, 18 Oktober 2017

Seputar Karakter Pendidikan

Seputar Karakter Pendidikan
Iwan Pranoto ;   Guru Besar Matematika ITB;
Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI New Delhi, India
                                                      KOMPAS, 18 Oktober 2017



                                                           
Sebutan ”binaragawan berotot” pastinya tak perlu. Tentu saja seorang binaragawan harus berotot. Jika tidak berotot menonjol, yang bersangkutan mungkin orang yang gagal menjadi binaragawan.

Demikian pula istilah ”pendidikan karakter” juga tak perlu. Ini istilah yang redundant atau berlebihan. Pendidikan di mana saja sejatinya memperhatikan pertumbuhan karakter muridnya. Ini tentu saja. Seperti tak pernah ada istilah ”binaragawan tak berotot”, demikian pula tak pernah ada istilah ”pendidikan bukan karakter”. Pendidikan yang baik sudah pasti menekankan pertumbuhan karakter anak didik.

Sifat baik

Seperti diketahui, pakar pendidikan belum satu kata dengan apa yang disebut ”pendidikan karakter”, tetapi mereka umumnya sepakat bahwa ini upaya sengaja dari keluarga, masyarakat, dan sekolah untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak berdasar nilai-nilai universal. Karena itu, sekarang lebih perlu merancang program pendidikan yang secara sistematis menyokong pertumbuhan karakter pelajar. Karakter yang mana dan karakter versi siapa? Penetapan karakter ini yang akan membedakan program pendidikan tiap negara dan membedakannya dengan era terdahulu.

Karakter atau sifat baik warga seperti apa yang dibutuhkan negara perlu dikaji dengan saksama, dirembukkan, dan didaftar. Lalu karakter-karakter tersebut dipilih yang sesuai jenjang pendidikan. Kemudian dirancang program pendidikan dengan strategi pemupukan pertumbuhannya. Ringkasnya, seharusnya fokus pembahasan lebih perlu pada karakter pendidikan ketimbang pendidikan karakter.

Daftar karakter tadi perlu dirumuskan dengan bahasa lugas dan gamblang, bermakna tunggal, sekaligus dengan frasa yang operasional. Rumusan karakter yang tidak operasional hanya akan membuat guru kesulitan mendesain pembelajaran, dan akibatnya pembelajaran tidak akan berfungsi secara sistematis dan terstruktur.

Rumusan karakter juga perlu yang wajar sehingga memang masuk akal dapat dicapai para murid. Yang tak kalah penting, rumusan karakter harus universal, tak condong pada keyakinan atau kesukuan tertentu. Ini faktor penting yang akan memastikan penerimaannya di masyarakat. Karakter terdiri dari banyak virtue atau sifat baik. Guna pengkajian, sifat-sifat baik itu dapat dikelompokkan sedikitnya ke dalam empat kategori yang sesungguhnya tak saling lepas, yakni: moral, prestasi, kewarganegaraan, dan intelektualitas.

Dalam kategori moral: kejujuran, integritas, toleran, dan sebagainya. Dalam kategori prestasi contohnya: kegigihan, percaya diri, motivasi, dan sebagainya. Dalam kategori kewarganegaraan: kebernegaraan, keberbangsaan, kebertetanggaan, kebersamaan, dan sebagainya. Dalam kategori intelektualitas contohnya: keingintahuan, kesadaran diri, fokus, dan sebagainya.

Dari sifat-sifat baik yang dipilih dan ditetapkan itu lalu penentu kebijakan pendidikan membuat rumusan yang operasional dan dapat ditindaki. Rumusan operasional berupa frasa dengan kata kerja akan membantu guru dan perancang pembelajaran mendesain pengalaman belajar bermakna dan sistematis bagi murid. Tak kalah penting, rumusan yang operasional akan memudahkan guru menyusun perangkat pengukuran pencapaian murid dan memungkinkan pihak pengawas mengaudit proses pembelajaran agar tepat sasaran.

Sebagai ilustrasi, sifat baik kebernegaraan diterjemahkan ke ragam rumusan nyata dan membumi, seperti menafsirkan makna dasar negara, melindungi fasilitas publik, menjaga bangunan warisan bangsa seperti candi, melestarikan hutan dan sungai, menghargai dan membela keberagaman budaya bangsa, dan sebagainya. Dari frasa operasional seperti itu, sekolah atau penentu kebijakan menurunkannya menjadi rumusan keterampilan atau kecakapan. Rangkaian kecakapan ini yang dapat diberlatihkan dan nantinya dapat dievaluasi.

Bertumbuh

Dari rumusan operasional tadi, pembelajaran kemudian dirancang melalui mata pelajaran yang sudah ada, seperti Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial, Pengenalan Ilmu Komputer, dan lainnya. Tak perlu menciptakan mata pelajaran khusus baru atau jam pelajaran tambahan.

Sejarah mencatat, upaya menyuburkan pertumbuhan sifat baik seperti patriotisme atau cinta tanah air kurang efektif melalui slogan, spanduk, lokakarya, atau ceramah. Pelajar perlu bernalar sendiri, merasakan sendiri, dan merenungkan sendiri. Hal ini dengan tepat diungkapkan Soe Hok Gie, ”Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.”

Karakter atau sifat baik bukan seperti pil ajaib  yang dapat ditelan langsung, lalu murid seketika berkarakter baik. Karakter juga bukan peranti lunak yang dapat dibeli dan diunduh dari toko daring lalu di-install ke benak murid. Karakter justru berupa benih yang sudah hidup di diri masing-masing orang. Karena itu, karakter tak diajarkan, tak pula diserap. Pendidikan berfungsi membuka semua pintu peluang dan menciptakan iklim mendukung agar benih baik tumbuh subur. Karena itu, guru bersama sekolah perlu mengenali setiap peluang dan mengupayakan semua dukungan agar tiap murid dapat menumbuhkan karakter baik yang diangankan bersama.

Agar berhasil, strategi pembelajaran harus sesederhana, sealamiah, dan semasuk akal mungkin. Misalnya, guna membuka peluang perkembangan sifat toleran dan sifat baik lain dalam pelajaran Bahasa Inggris dapat dimulai dengan role playing atau menayangkan film pendek menggambarkan situasi seorang anak Indonesia yang baru masuk sekolah di negara berbahasa Inggris. Kemudian setelahnya, para pelajar berdiskusi guna menyelami situasi sang anak tersebut, juga perasaan murid lainnya. Bagaimana perasaan anak di lingkungan baru dengan bahasa Inggris itu? Bagaimana cara anak itu memiliki teman baru? Bagaimana anak itu dapat mengikuti pelajaran di sekolah baru? Bagaimana teman-teman di kelas dapat membantu anak tak berbahasa Inggris itu dapat beradaptasi lebih mudah?

Dengan pendekatan semacam ini, sifat toleran, menghargai lian, kebersamaan, setia kawan, dan lainnya akan secara alami terangkat, tanpa perlu dikhotbahkan atau diposterkan. Pendekatan seperti ini juga menekankan prinsip utama bahwa karakter atau sifat baik merupakan benih yang sudah ada di diri masing-masing pelajar, bukan diimpor.

Karakter dapat bertumbuh melalui kegiatan di mana saja, tak terbatas hanya di institusi pendidikan formal. Sebagai ilustrasi, kegiatan di alam bebas membuka peluang seseorang menumbuhkan karakternya. Sifat baik seperti melestarikan sungai, gunung, hutan, dan membela negara akan secara alami bertumbuh. Kegiatan bersama di alam bebas seperti mengarungi jeram atau mendaki gunung akan membuka peluang remaja merawat sifat menghargai lian, gigih, percaya diri, kebersaudaraan, dan sekaligus berlatih menyelesaikan masalah secara kolaboratif.

Dari sistematika runutan pemikiran di atas serta dengan memahami situasi keindonesiaan hari ini, ketersediaan pendidikan yang baik sudah sangat mendesak, tetapi sekaligus juga tak mustahil dan tak begitu pelik mewujudkannya.

Senin, 19 Juni 2017

Memaknai Perjalanan Tagore ke Jawa

Memaknai Perjalanan Tagore ke Jawa
Iwan Pranoto  ;   Guru Besar Matematika, ITB;
Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI New Delhi, India
                                                         KOMPAS, 17 Juni 2017




                                                           
"Pada malam sebelum keberangkatan ke Jawa, saya berdoa agar pikiran saya dibebaskan dari semua rasa bangga dan bersahaja dengan pelajaran abadi dari kebenaran".   Rabindranath Tagore


Setelah mengunjungi Singapura dan Malaya hampir sebulan, penerima Nobel Sastra, Rabindranath Tagore, melakukan perjalanan ke Sumatera, Jawa, dan Bali, 17 Agustus hingga 30 September 1927.

Dalam kunjungan itu, Tagore berencana berziarah ke gagasan India di luar batasan geografi maupun politik. Pujangga sekaligus pelopor pendidikan nasional India ini menjumpai kelanjutan gagasan India dan juga beberapa tokoh kebangsaan Indonesia. Perlu dicatat, dalam tulisan ini, umumnya kata India diartikan sebagai gagasan, bukan negara ataupun bangsa, kecuali dinyatakan lain secara khusus.

Perjumpaan gagasan

"Sejarah India ialah sejarah gagasan, yang seperti buah masak merekah memencarkan biji benihnya beterbangan terserak ke berbagai tempat jauh, bertumbuh subur mencapai kemegahannya," ujar Tagore. Karena itu, katanya, jejak kelanjutan gagasan India yang sebenarnya akan ditemukan di luar subdaratan India.

Setelah menyeberangi daratan dan lautan, benih gagasan India bertumbuh bukan sebagai salinan, tetapi jadi kelanjutan gagasan baru yang mewujud berbeda serta megah. Hal ini diamati dan diungkapkan Tagore saat di Bali. Dalam satu suratnya, dia menulis bahwa Hindu dalam bentuk murninya tak ditemukan di Bali, tetapi dirasakan dalam wujud yang lain. Kemudian, walau memang sudah diketahui bahwa kisah Mahabharata memiliki banyak versi dan ditulis dalam waktu berabad- abad, Tagore mencatat Mahabharata yang ditemukannya bertumbuh di Jawa dan Bali berbeda dan belum pernah ia jumpai sebelumnya di subdaratan India. Demikian juga keagungan Borobudur dan Prambanan yang berada di luar daratan India.

Walau Tagore berhasil menemukan gagasan "kelanjutan India" di Jawa dan Bali, tetapi yang ditemui suatu "kelanjutan" yang berbeda dan tak selengkap dengan gambaran di pikirannya sebelumnya. Tagore memang merasakan gagasan India yang telah dengan indah berpadu, tumbuh berkembang, dan menyatu dengan kebudayaan Jawa dan Bali. Namun, dalam harapannya, peradaban Indonesia juga melibatkan dan menafsirkan dunia "lain", termasuk budaya Barat modern.

Dari situ, pandangannya seperti mengingatkan kesenadaan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Walau keduanya nasionalis, menjunjung budayanya, dan teguh memimpikan kemerdekaan bangsanya, tetapi keduanya bukan chauvinist, apalagi alergi bergaul dengan Barat. Keduanya membedakan Barat- penjajah dengan Barat yang mengembangkan pengetahuan modern. Keduanya menentang Barat penjajah, tetapi tak pernah ragu bersahabat dengan Barat pengembang budaya pengetahuan ilmiah.

Saat tiba di Bali, Tagore terkesima mengamati masyarakat Bali dengan keunikan rupa serta warna pakaiannya. Gambar-gambar di lukisan pada dinding Goa Ajanta seperti hidup kembali di depan mata, ungkapnya lewat surat tertanggal 30 Agustus 1927.

Pada satu sisi ia kagum dengan pelestarian budaya Bali yang seperti berhasil melambat dalam mesin waktu, tetapi pada sisi lain ia sesungguhnya berharap budaya masa depan juga bertumbuh berpadu. Tagore berpendapat bahwa budaya perlu dikembangkan ke depan, bukan diawetkan mandek di masa lalu. "Masa Lalu memang hebat, tetapi Masa Lalu harus dilewati dan tugasnya memang untuk tertinggal di belakang Masa Kini, tidak boleh Masa Lalu berhenti di depan Masa Kini dan menghalangi jalan untuk mewujudkan dirinya." Ungkapan ini dikutip di artikel "Rabindranath Tagore in Indonesia" (Das Gupta, 2002).

Perjumpaan manusia Asia

Perjumpaan Tagore dan Ki Hadjar di Yogyakarta amat penting. Keduanya, yang sama-sama nation builder atau pembangun bangsa, meyakini strategi kemerdekaan bangsa melalui pendidikan. Karena itu, keduanya sama- sama membangun institusi pendidikan, yakni Visva Bharati (di Santiniketan) dan Taman Siswa (di Yogyakarta).

Kedua institusi pendidikan ini sama-sama mendasari pada kemanusiaan dan kemerdekaan. Tagore menyisipkan keterkaitannya dengan dunia dalam moto institusinya: "Di mana dunia bertemu dalam satu sarang". India wajib membagikan budaya terbaiknya bagi dunia, katanya, tetapi India juga berhak menyerap budaya terbaik dari yang lain.

Setelah pertemuan dua pendidik tersebut, kerja sama pendidikan dan kebudayaan antara Visva Bharati dan Taman Siswa berlanjut beberapa kali dengan pertukaran pengajar, walau tidak seintensif yang didambakan Tagore dan Ki Hadjar. Yang perlu dicatat pula, seorang murid Taman Siswa cabang Jakarta, Kartika Affandi (putri pelukis Affandi), melanjutkan belajar seni ke institusi Tagore tersebut.

Kecuali ke Taman Siswa, saat di Yogyakarta, Tagore juga mengunjungi institusi pendidikan perempuan Muhammadiyah dan bertemu pengampunya, Nyai Ahmad Dahlan.

Namun, perlu disayangkan, isi pembicaraan saat perjumpaan Tagore dengan para pelaku sejarah Indonesia masih belum cukup tergali. Ke depan, amat perlu ditelusuri melalui berbagai catatan, rekaman, atau surat-surat anggota delegasi Tagore saat itu. Misalnya, skolar Belanda, Arnold Bake, dan skolar, India Suniti Kumar Chatterji. Lalu, juga perlu ditelaah catatan maupun ingatan guru dan murid Taman Siswa dan keturunannya.

Perjumpaan dua pelopor pendidikan pemerdekaan 90 tahun lalu tersebut berharga bagi pemahaman sejarah pendidikan nasional sekaligus sejarah kebangsaan Indonesia dan India. Pendalaman dan kajian filosofi pendidikan dari keduanya perlu ditelusuri hari ini. Keduanya telah memelopori "pendidikan Asia" yang diangankan saat itu dan menawarkan alternatif terhadap pendidikan yang mutlak Barat.

Tagore dan Ki Hadjar sama- sama memiliki visi ke masa depan. Ini, misalnya, ditunjukkan oleh keduanya yang tak ragu menerapkan terobosan pendidikan modern yang dibangun Maria Montessori. Karena itu, penting dan layak diteliti keterkaitan gagasan pendidikan, kemanusiaan, sampai keyakinan antara tiga tokoh pendidik besar-Ki Hadjar, Tagore, dan Montessori-ini.

Dalam kunjungan di beberapa kota, Tagore bertemu dengan sejumlah tokoh kebangsaan dan bangsawan. Yang layak dicatat, mendekati saat akhir perjalanan peradaban ini, di saat pengawasan agak lengah, Tagore berjumpa dengan pegiat politik muda dan penuh semangat di Bandung, yakni Soekarno pada 27 September 1927. Ini sekitar setahun sebelum peristiwa Sumpah Pemuda. Dari situ, Tagore menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan di subbenua India, seperti oleh Mahatma Gandhi dan Motilal Nehru (ayah PM Jawaharlal Nehru), ternyata diikuti dan disimak baik oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia. Tagore dan delegasinya sangat terkesan dengan Soekarno sebagai pemimpin muda yang menawan.

Secara nyata, perjalanan Tagore ini sebuah bentuk diplomasi ajakan pembangunan kembali persahabatan budaya Indonesia-India yang pernah sangat erat di awal sejarah. Kecuali itu, cara pandang kesetaraan budaya tanpa superioritas yang diteladankan Tagore layak direnungkan dalam perumusan diplomasi budaya di abad ke-21 ini.