Tampilkan postingan dengan label Hizkia Yosie Polimpung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hizkia Yosie Polimpung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2016

Koperasi dan Pleonasme Ekonomi Berbagi

Koperasi dan Pleonasme Ekonomi Berbagi

Hizkia Yosie Polimpung ;  Peneliti dan Ketua Koperasi Riset Purusha;
Mahasiswa Program Doktoral Filsafat UI
                                                   KORAN SINDO, 02 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

KORAN SINDO memuat beberapa ulasan dan refleksi mengenai kontroversi kehadiran bisnis berbasis aplikasi daring (online) dalam kaitannya dengan ekonomi berbagi (sharing economy).

Pertama dari Rhenald Kasali (17/3) yang menekankan pentingnya untuk berdamai dengan perubahan yaitu khususnya dari ekonomi memiliki (owning) ke ekonomi berbagi (sharing). Kedua dari Dinna Wisnu (23/3) yang melihat peluang positif dari ekonomi berbagi di tengah kelesuan ekonomi sehingga pemerintah harus sigap merespons dan mengawalnya demi kemaslahatan rakyat.

Tulisan ketiga ditulis oleh Yuswohady (27/3) yang menandaskan pentingnya untuk membelokkan ekonomi berbagi ini jauh-jauh dari, bahasanya, ”organisasi kapitalis” dan membawanya ke arah bentuk koperasi dengan spirit kerakyatan sebagaimana dicita-citakan Bung Hatta. Tulisan Airlangga Pribadi (31/3) menunjukkan relasi kerja yang timpang dan eksploitatif dari model bisnis taksi daring, yang karenanya masih jauh dari ide luhur ekonomi berbagi.

Sebagai seorang peneliti yang mengkaji dan sekaligus mengampanyekan koperasi yang menekankan aspek berbagi, saya merasa tergerak untuk menyampaikan apresiasi dan respons reflektif. Terutama terkait tulisan ketiga yang eksplisit menyebut koperasi, saya akan berikan catatan kritis.

Empat tulisan ini, sekalipun ada perbedaan di dalamnya, berbagi satu kesamaan yang menjadi poin refleksi saya di sini. Memang keempatnya sama-sama mengoperkan bola ke pemerintah untuk turun tangan. Namun, kesamaan lain yang lebih krusial adalah keempatnya bersepakat mengasumsikan bahwa ekonomi berbagi adalah suatu hal yang sama sekali baru, berbeda, dan lebih baik dari bentuk ekonomi lain—antara lain ekonomi memiliki (Kasali) atau kapitalisme (Yuswohady). Asumi ini penting untuk diklarifikasi menimbang keempatnya sama-sama meng-endorse ekonomi berbagi walau dengan caranya masing-masing.

Pleonasme

Apakah ”berbagi” adalah aspek kebaruan dari ekonomi berbagi? Apakah ekonomi memiliki dan kapitalisme tidak memiliki sifat ”berbagi” ini? Di sini penting bagi kita untuk melihat sejarah. Giorgio Agamben, sejarawan ekonomi dan filolog Italia, dalam bukunya, The Kingdom and The Glory (2011), menyajikan eksposisi mendetail mengenai kemunculan pertama kali istilah ”oikonomia”, berikut kondisi historis dan praktik kesehariannya pada zaman Yunani kuno.

Salah satu poin menariknya adalah ekonomi pada dasarnya suatu modus penataan kehidupan (administration of life) di dalam suatu ruang yang terbatas. Penataan tersebut dilakukan untuk melestarikan kehidupan itu sendiri. Lalu, apa tepatnya yang ditata? Tidak lain adalah relasi sosial di dalam ruang tersebut yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, penguasa, alam, juga Tuhan.

Dengan relasi sosial yang tertata ini, semua orang bisa bekerja sesuai peran masing-masing dan melestarikan kehidupannya. Dalam konteks tulisan ini, paparan Agamben mengingatkan kita bahwa tatanan dan relasi sosial adalah primer dan mendahului segala bentuk upaya manusia untuk bekerja, yaitu untuk melestarikan hidupnya masing-masing.

Artinya, pertama, semua orang harus berbagi relasi sosial ini untuk bisa bekerja. Dengan demikian, ”ekonomi” yang kita umumnya bayangkan tidak akan berjalan apabila kita tidak sepakat, rela ataupun tidak, untuk berbagi relasi sosial ini. Ekonomi hanya dimungkinkan dalam kondisi keberbagian demikian.

Kedua, meskipun kondisi keberbagian adalah suatu syarat umum bagi ekonomi, ia tidak serta-merta menspesifikasi apa yang dibagi dalam kondisi tersebut. ”Apa yang dibagi” inilah yang kemudian melahirkan sistem ekonomi yang bermacammacam di antaranya yang dibahas di sini adalah ekonomi memiliki atau kapitalisme juga koperasi. Poin kita di sini adalah ekonomi, apa pun bentuknya, sudah pasti berbagi. ”Ekonomi berbagi” dengan demikian adalah suatu pleonasme—menambahkan istilah pada suatu hal yang sudah jelas.

Kemunculan Ekonomi Berbagi

Lalu, apa yang sebenarnya dibagi dalam ekonomi berbagi yang berpotensi menjadikannya jelmaan ekonomi memiliki/kapitalis? Menjawab ini, ada baiknya kita mencermati kemunculan model bisnis ekonomi berbagi via aplikasi daring secara umum. Ekonomi berbagi pada dasarnya muncul saat tindakan berbagi/bertukar secara peer-to-peer (P2P) menjadi suatu bentuk ekonomi secara umum; ia tersistematisasi secara massal.

Artinya, poin terpenting dalam ekonomi berbagi adalah koordinasi. Adalah platform daring yang memungkinkan tindakan berbagi ini menjadi terkoordinasi. Akhirnya, melalui platform ini pula, koordinasi menjadi ceruk bisnis. Sejatinya, ekonomi berbagi adalah ekonomi platform. Problemnya, ide untuk mengoordinasikan tindakan berbagi ini tidak muncul begitu saja.

Syarat utamanya adalah harus ada terdapat suatu tindakan berbagi dalam jumlah yang besar. Atau, dengan kata lain, harus ada kondisi keberbagian tertentu yang menjadi salah satu corak umum masyarakat. Dalam hal berbagi kendara (ridesharing) misalnya kebutuhan akan transportasi yang efisien dan ekonomis.

Dalam kondisi ini, masyarakat melibatkan diri dalam bisnis transportasi konvensional maupun transportasi- berbagi P2P (misalnya ojek pangkalan dan omprengan). Ekonomi berbagai ini sebenarnya juga berdagang; jasa koordinasi praktik P2P ini yang jadi dagangannya. Hanya, kita membayar pemilik platform secara tidak langsung, melainkan lewat mereka-mereka yang secara langsung kita minta untuk berbagi dengan kita (pengemudi, penyedia rumah, dan seterusnya).

Demikianlah dengan aplikasi platform daring model bisnis berbagi menciptakan suatu bentuk modalitas ekonomi baru, yaitu ruang terkoordinasi (coordinated space). Sedangkan komoditas yang diproduksinya tidak lain adalah peluang dan akses di dalam ruang terkoordinasi tersebut. Lalu, apakah lantas karena ia virtual, ia tidak membutuhkan pekerja? Tentu saja butuh.

Selain pekerja kantor yang bertugas mengurus administrasi dan mengoperasikan infrastruktur pencipta ruang terkoordinasi tersebut, modal ruang terkoordinasi perlu dipekerjakan oleh pekerja untuk memutar modal tersebut. Siapa lagi pekerjanya jika bukan buruh-buruh sopir yang disebutnya ”mitra” berikut kendaraan/rumahnya. Dalam skema ini, pekerja dengan alat kerjanya dianggap sebagai satu paket dan diberi label ”mitra.”

Mitra inilah yang mengaplikasikan tenaga kerjanya di modal yang adalah ruang terkoordinasi: inilah proses kerja kapitalistik di dalam model bisnis berbagi. Mengapa kapitalistik? Jawabannya bukan pada apa yang dibagi, melainkan pada apa yang tidak mungkin untuk dibagi di dalamnya.

Adalah akses dan peluang kepada ruang terkoordinasi yang selamanya tertutup sebagai suatu kepemilikan privat, suatu ownership. Selama para ”mitra” tidak memiliki akses ke situ, kesetaraan yang konon dikedepankan dalam sistem kemitraan bisnis berbagi ini tidak lebih dari sekadar alibi untuk menutupi ugly truth ketidakmungkinan-terbaginya kendali ruang terkoordinasi tadi.

Di sini tulisan Airlangga Pribadi sangat penting untuk dipertimbangkan. Ekonomi berbagi Rhenald Kasali dengan demikian sudah selalu diam-diam mensyaratkan ekonomi memiliki. Hikmahnya saya kira jelas bahwa kondisi keberbagian yang sifatnya sosial masyarakat adalah prasyarat mutlak bagi kapitalisme untuk masuk dan berbisnis di dalamnya.

Saat kita berbagi suatu hal bersama, kapitalisme mengoordinasikan dan mensistematisasi keberbagian itu dan kemudian menjualnya kembali pada kita. Ironis memang, selama ada kondisi keberbagian, kapitalisme akan selalu menghantui dan mencari peluang untuk menyerobot keberbagian tersebut, dan kemudian menjadikannya modal privat.

Orang-orang yang tadinya berbagi kondisi tersebut, kini ”diundang kembali”, namun kali ini dengan tiket masuk. Sekali lagi, modus operandi ini bukanlah hal baru. EP Thompson (1991 [1966]) mencatat bagaimana kapitalisme secara besar-besaran mengubah (secara koersif) kondisi keberbagian lahan bercocok-tanam oleh masyarakat di Inggris Utara pada rentang 1760 dan 1820 menjadi kepemilikan privat.

Lebih kontemporer, Christian Fuchs (2008) menunjukkan bagaimana kemunculan Web 2.0 menandai masuknya bisnis kapitalisme dalam menyerobot dan kemudian memagar-magari internet yang saat itu aksesnya dibagi bersama secara gratis. Alhasil, dengan Web 2.0, kita mulai harus membiasakan untuk menjumpai situs yang akses login-nya berbayar.

Koperasi

Dengan mengasosiasikan ekonomi berbagi sebagai masih kapitalisme, Yuswohady berisiko mengabaikan sifat, asal-usul, dan prasyarat keberbagian dari kapitalisme, dan bahkan ekonomi pada umumnya. Inilah sebabnya, penting bagi kita untuk melihat betapa kapitalisme pun memiliki asal-usulnya di kondisi saling berbagi, kondisi keberbagian.

Sehingga, apabila kita hendak menandingi kapitalisme, tidak cukup dengan mengoperasikan ekonomi platform. Karena, memang pokok permasalahannya bukan di platform; melainkan apa dampak platform tersebut pada kondisi keberbagian di masyarakat. Jawabannya tidak lain adalah ia berhasil mengerdilkan praktikpraktik ekonomi lain yang keberadaannya ditopang oleh relasi sosial/kondisi keberbagian di masyarakat yang kini telah diubahnya menjadi suatu modalitas tertentu untuk kemudian dimonopolinya secara privat.

Dengan sekadar berbagi saja tidak akan menyelesaikan masalah. Karena, yang menjadi masalah justru adalah apakah yang kita lakukan bisa balik mengerdilkan ekonomi berbagi ala kapitalisme atau tidak. Berkoperasi itu satu hal, namun berkoperasi yang mampu mentransformasikan kapitalisme itu jelas hal yang sama sekali berbeda.

Selama koperasi tidak mampu menjawab tantangan transformatif ini, ia hanya akan menjadi salah satu menu santapan kapitalisme. Kolektivitaskoperasi, layaknya kondisi keberbagian, adalah hal yang sangat digemari kapitalisme. Bukankah ini juga yang kita saksikan dengan fakta bahwa ”solusi” bagi kericuhan demo taksi kemarin adalah menjadikan Uber dan Grab sebagai koperasi? Itulah nasib koperasi di tangan kapitalisme: jika bukan sebagai alibi, ia adalah ban serep.

Jadi, mungkinkah ekonomi koperasibisaberbagi suatuhalyang akan menandingi balik ekonomi berbagi kapitalisme? Ini tantangan bagi kita yang masih optimistis dengan koperasi untuk menemukan jawabannya.

Selasa, 14 Januari 2014

Tuhan di Bumi

Tentang Teologi Materialis

Tuhan di Bumi

Hizkia Yosie Polimpung  ;   Peneliti Jaringan Riset Kolektif (JeRK);
Mahasiswa Program Doktoral Filsafat, UI
INDOPROGRESS,  10 Januari 2014
                                                                                                                        


MENYAMBUNG renungan Natal dari Martin Suryajaya, tulisan ini hendak menawarkan rute lain dalam meretas jalan menuju suatu teologi yang punya daya emansipasi, bahkan daya konfrontasi—hal-hal yang kita butuhkan saat ini untuk melakukan perlawanan terhadap sistem eksploitatif kapitalisme hari ini. Keberatan saya terhadap Martin hanya pada caranya dalam memperlakukan teologi. Ibarat seorang pemandu bakat, ia mengaudisi teologi dalam standar-standar yang ia tentukan sendiri sebelumnya. Tidak heran, pertanyaan yang diajukannya adalah ‘[b]agaimana mungkin materialisme historis dan materialisme dialektis mengakomodasi teologi?’  Akibatnya, kita seakan diperlihatkan pada suatu panorama abad pertengahan dengan versi terbalik: teologi harus tunduk pada gada logika.

Keberatan ini bukan muncul dari suatu aspirasi konyol akan kesetaraan dan keseimbangan di antara keduanya. Sama sekali bukan ini. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa tidak hanya potensi emansipatoris, namun bahkan potensi konfrontatif sistemik telah terdapat secara inheren dalam teologi itu sendiri. Sehingga, tidaklah perlu kita mengaudisinya sesuai dengan rambu-rambu revolusioner kita. Inilah yang juga akan saya coba tunjukkan melalui tulisan ini: memunculkan watak revolusioner dari teologi itu sendiri. Karena tulisan ini masih berada di sekitar perayaan Natal, maka saya akan pakai teologi Kristen untuk ini.

Hal pertama yang penting untuk diklarifikasi terlebih dahulu adalah pertanyaan mendasar seperti: apa itu materi dalam materialisme? Pandangan standar mengenai filsafat materialisme biasanya berkisar pada keyakinan naif bahwa tidak ada segala sesuatu yang berada di luar determinasi materi. Ide, misalnya, tidak lebih dari mimpi di siang bolong. Pandangan seperti ini juga menjalar ke ekonomi politik, bahwa basis material, yaitu relasi sosial produksi, adalah yang menentukan segalanya—regulasi, negara, ideologi, institusi, dst. Begitu pula bagi ilmu kebudayaan, yaitu bahwa seluruh sistem kebudayaan terdeterminasi oleh basis materialnya, yaitu ideologi borjuis/kapitalis. Agama dan ajarannya, misalkan, akan dilihat sebagai manifestasi sekaligus konstitutif bagi langgengnya struktur dominan di masyarakat. Epistemologi demikian—yaitu terdapat suatu struktur material yang serba menentukan dan mengatur segala sesuatunya—akhirnya mendudukkan yang material sebagai semata-mata manifestasi dari strukturnya. Akhirnya, tidak akan ada suatu apa pun yang lepas dari jeratan struktur material ini.

Tulisan ini merupakan ungkapan keberatan saya terhadap pandangan materialisme yang demikian ini.  Beberapa alasan akan dikemukakan pada bagian berikutnya. Terlebih, penekanan akan diberikan pada implikasi-implikasi filosofis (dan teologis) dan politis dari keberatan tersebut.

Materialisme mesianik

Dari penjabaran di atas, setidaknya terdapat tiga keberatan sentral yang saya ajukan: pertama,asumsi tentang totalitas yang inheren. Struktur material diasumsikan utuh pada dirinya sendiri. Masalahnya, bukankah dengan mengasumsikan totalitas yang demikian ini materialisme justru jatuh pada transendensi versi lain? Hal ini lantas membawa saya pada keberatan kedua, bahwa telah terjadi re-transendentalisasi materialitas. Dengan kata lain, saat para materialis ini menolak transendensi, mereka malah memindahkan kualitas-kualitas transenden, yang entah dari mana asal-usulnya (thus,ahistoris), ke dalam materi. Materi, akhirnya memiliki sifat-sifat transenden. Mirip animisme.

Keberatan ketiga saya adalah sifat keter-mediasi-an dari materi yang seakan-akan disepakati oleh keseluruhan pendukung materialisme ini, sekalipun terdapat perbedaan trivial di antara mereka. Manifestasi material dilihat sebagai suatu sistem obyek yang diproduksi secara sosial yang, tentu saja, produksinya dihegemoni oleh segelintir orang (kelas dominan?). Namun tetap saja, memahami materialitas seperti ini harus dimediasi oleh manusia sebagai penghuni ‘segelintir orang’ ini. Kubu relativis/pascastrukturalis, juga sama, hanya saja ia memberikan kesempatan privilese hegemonik tersebut tidak pada segelintir orang saja, tapi pada kita semua sepanjang kita bertindak sebagai produsen narasi sejarah. Akhirnya, kita akan selamanya menantikan ‘orang’ atau ‘segelintir orang’ tertentu (baca: pemimpin, partai, ratu adil, mesias) yang dapat memproduksi sistem obyek material yang revolusioner.

Keberatan ini sebenarnya bukan disebabkan karena kesirikan saya atas gestur ‘kembali ke tuhan/transendensi’ per se, melainkan lebih kepada kepasrahan milenarian yang memotivasi gestur tersebut. Materialisme akhirnya menjadi tidak lebih dari ritual asketis menunggu kedatangan sang mesias. Untuk keluar dari deadlock ini, nampaknya kita perlu merumuskan semacam ‘materialisme kultural pasca-konstruktivis.’[1] Upaya untuk mempertimbangkan keberatan-keberatan di atas, dan tentu juga  mencarikannya jalan keluar, tersebut mendapatkan momennya pada era saat ini di mana perubahan dan alternatif radikal mendesak diperlukan saat umat manusia, di satu sisi dihadapkan pada kegagalan seluruh korelat modernitas (sekulerisme, rasio, negara bangsa, kapitalisme, demokrasi), namun di sisi lain, sudah tidak tersisa lagi aspek-aspek material yang tidak terjamah (baca: termediasi, terkonstruki, terdeterminasi) korelat modernitas tadi (terutama kapitalisme dan negara bangsa)—membuat semua tak lebih dari sekedar faktor produksi dan/atau komoditas. 

Urgensi untuk merangsek keluar dari belenggu ini tidak cukup dengan senantiasa tawakal dan menunggu kehadiran sang penyelamat agung. Perlu upaya yang lebih proaktif dan militan dari sekedar menanti-nanti.

Menuju Materialisme Transendental

Salah satu upaya teoritik yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah cara pandang terhadap materialisme itu sendiri. Determinasi aspek material tidak selamanya harus berwajah milenarian, melainkan ia tetap dapat berwajah materialis. 

Materialisme ini, dengan demikian, melihat tuhan bukan dari atas sana, melainkan tuhan yang secara imanen telah selalu ada di dalam materi itu sendiri. Inilah tugas utama materialisme, atau untuk tujuan pembeda, saya akan menyebutnya ‘materialisme transcendental:’ memikirkan transendensi dalam  imanensi material; suatu ketak-terhinggaan dalam keterhinggan; suatu tuhan di bumi—dan bukan di surga.[2] Dengan definisi seperti ini, para pembelajar teologi akan segera teringat akan definisi umum dari teologi. Itulah mengapa saya tekankan di awal bahwa materialisme sebenarnya sudah inheren di dalam teologi itu sendiri.

Setidaknya ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk mengemban tugas tersebut. Salah satu yang terpenting adalah memecahkan apa yang dapat disebut ‘misteri materialitas,’ yaitu berkaitan dengan pertanyaan ‘mengapa materialitas yang seperti itu, dan bukan yang lainnya?’ Menerapkan model pertanyaan seperti ini ke problem materialisme, maka pertanyaanya bisa menjadi: mengapa ideologi dominan memanifestasi dalam suatu sistem obyek yang partikular tersebut, dan bukan lainnya? Pertanyaan ini akan mengarahkan analisis untuk memahami spesifisitas materialisasi tersebut, dan bukan prinsip struktural general yang melandasinya. 

Spesifisitas ini berlaku temporal dan spasial. Analisis spesifisitas yang dimaksud sama seperti, di antaranya, Roland Barthes memahami penari telanjang,[3] Adrian Mackenzie mempelajari sintaks sistem operasi Linux,[4] dan Alex Galloway mempelajari algoritma perangkat lunak video game.[5] Hal ini penting karena seperti juga telah ditandaskan Freud tentang mimpi, yaitu bahwa misteri ketidaksadaran bukan pada ‘makna’ (isi laten) mimpi tersebut, melainkan justru pada bentuk tampilannya, yaitu materialitasnya, demikian pula misteri materialitas bukan terletak pada makna sosio-kultural atau siapa yang berkepentingan di baliknya, melainkan justru pada bentuk material/kongkritnya.

Langkah di atas berikutnya membuka jalan bagi langkah berikutnya. Memahami bahwa misteri telah selalu terkandung dalam materi, sama saja melihat materi tersebut sebagai sesuatu yang berkekurangan. Terdapat lubang abadi yang akan selalu mencegah materi tersebut menjadi absolut. Memahami lubang keabadian dalam suatu materialitas ini agaknya mustahil tanpa berputar pada psikoanalisis Jacques Lacan. 
Lacan menunjukkan bagaimana logika ketak-terhinggaan dalam keterhinggaan ini adalah logika beroperasinya hasrat manusia: tak pernah cukup terpuaskan.[6]Hasrat manusia bak lubang hitam yang menyedot segala sesuatu demi suatu kepuasan yang mustahil. Bagaimanapun juga, hal ini menunjuk pada kemungkinan untuk memahami suatu ketak-terhinggaan dalam keterhinggan.

Keberadaan ketak-terhinggaan ini memiliki dua konsekuensi yang sifatnya ambigu: pertama, ia akan membuat kontainer materialnya, yang serba terhingga, senantiasa berada pada kondisi tak menentu; seketika saja saat ketak-terhinggaan ini mencuat keluar, kontainer itu akan menderita krisis. (Bayangkan, misalnya, saat keseharian kita diganggu oleh perasaan cinta yang absurd—dalam artian ketak-terhinggaan dan ketak-terjelaskanan—maka semuanya akan berantakan!). Kedua, sekaligus sebaliknya, ia merupakan sumber segala kemungkinan yang dapat mengubah materialitas tadi. Inilah tuhan[7] materialis: di satu sisi ia sumber bencana dan deviasi, tapi di sisi lain, ia sumber potensialitas.[8] (Bukankah potensialitas ilahi ini yang hari-hari ini diperlukan untuk mendatangkanbencana bagi mesin raksasa kapitalisme dan Goliath negara-bangsa?). Dengan konsepsi tuhan seperti ini, maka perlu pula dilakukan revisi bagi gagasan teologi yang notabene merupakan ‘bidang studi’ yang mengkaji ‘Tuhan.’

Teologi Materialis dan Iman Ateis

Tugas utama teologi materialis bukan hanya memahami tuhan materialis, namun terlebih ia juga menginvestigasi segala daya upaya untuk mengondisikan kehadirannya. Hal ini utamanya dilakukan dengan menetapkan dimensi ontologis dari materi, yaitu sebagai suatu totalitas yang sepaket dengan negativitasnya, lack-nya. Mengapa demikian? tuhan yang imanen dalam materi tidak akan pernah kompatibel dengan sifat keterhinggaan materi tersebut; ia akan selalu melubangi materi. Totalitas, dengan kata lain, bukanlah suatu absolusitas; ia selalu berkekurangan. Dalam materialitas Kapitalisme-Neoliberal, misalnya, Burger King yang lezat adalah sepaket dengan nasi aking yang dimakan orang di Yahukimo; pembangunan Disneyland di California sepaket dengan perampasan tanah di India, Nepal, Cina, Papua, dst.; sorak gembira ABG labil di konser Korean-Pop adalah sepaket dengan jeritan anak-anak saat tentara AS mendobrak pintu-pintu pemukiman di Baghdad, dst.; tawa menggemaskan SBY juga sepaket dengan jerit geram Sondang Hutagalung saat membakar dirinya di depan istana. ‘”Material reality is non-all” [...] is the true formula of materialism,’ tandas Žižek.[9]

Tanpa negativitas ini, materialitas hanyalah menjadi nama lain bagi transendensi. Kemustahilan (untuk menjadi utuh, dalam artian absolut) adalah fitur utama materialitas realitas semenjak negativitas, ketiadaan, atau kehampaan senantiasa menghantuinya. Lalu pertanyaannya kemudian, apabila realitas material yang kita jalani sehari-hari adalah suatu kemustahilan, bagaimana bisa ia (dan kita yang ada di dalamnya) bertahan? Di sinilah letak keajaiban materialisme transendental:realitas dapat berjalan tanpa dikendalikan oleh Tuhan transenden![10] Ketimbang pembacaan anarkis, yaitu bahwa semuanya berjalan secara acak, hal ini sebaiknya dibaca sebagai akibat dari suatu kenyataan bahwa terdapat agen lain (tersembunyi, namun sepenuhnya nyata) yang mengonstruksikan realitas kita sebagai suatu dunia yang tersimulasi.[11] Jadi jelas di sini bahwa agensi sebenarnya bukan pada Tuhan transenden, melainkan pada tuhan yang imanen pada realitas material.

Mencoba memformulasikan agensi tuhan materialis yang imanen pada realitas material ini, saya kira ada perlunya merefleksikan konsepsi realitas yang memungkinkan kehadiran agensi tersebut. Setidaknya ada tiga bentuk penampakkan realitas: jika realitas pertama adalah realitas obyek yang independen dari pemahaman manusia (ini umumnya merupakan bidang kajian filsafat realisme), dan realitas kedua adalah realitas pemahaman manusia akan obyek (bidang kajian fenomenologi), maka realitas ketiga, sekaligus yang paling kompleks, adalah realitas dimana sang obyek secara obyektif dan spesifik menampakkan dirinya kepada sang subyek. Žižek memformulasikannya dengan baik terkait petunjuk untuk memahami ini melalui suatu pertanyaan pemantik atas apa yang saya sebut ‘realitas ketiga:’ “[t]here is the way things really are. There is the way things appear to [our perception]. There is the way things objectively appear to us even if we do not know how they appear to us.’[12] Adalah bentuk ketiga ini di mana kita dapat saksikan agensi pada sisi materi itu sendiri, dan lepas dari seluruh kontruksi dan mediasi manusia. Untuk dapat melihat agensi ini, maka teologi materialis akan membantu kita untuk menolak dan menegasikan seluruh upaya-upaya pemaknaan transenden bagi realitas material.

Lalu bagaimana melihat agensi ini? Dengan iman tentunya. Namun, bukan iman dalam pengertian agama-agama konvensional. Iman yang dibutuhkan adalah iman ateis, karena hanya ateis saja yang bisa benar-benar percaya. Ateis yang dimaksud bukanlah suatu identitas yang fixed, yang dengan gagahnya memproklamirkan ‘tuhan tidak ada’ dengan argumen empirik naif—klaim konyol: ‘karena tuhan tidak terlihat maka tuhan tidak ada.’ Ateisme yang saya rujuk di sini adalah sebentuk mentalitas, etos. Mentalitas ateistik akan selalu menolak upaya-upaya untuk menjelaskan segala sesuatunya melalui narasi agung nan mulia Tuhan transenden—agama, moral, HAM, demokrasi, kebaikan, keadilan, kemanusiaan, ke-Timur-an, dst. Ateis selalu berkeras bahwa realitas bukanlah dikendalikan oleh Tuhan-Tuhan transenden ini. Bahkan, ateis memandang bahwa dunia ini tidak berarti apa-apa (meaningless)—dalam artian pascamodern, yaitu tidak ada makna, fondasi dan penjamin bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Ateisme adalah afirmasi tuhan materialis yang mewujud dalam bentuk negasi tanpa ampun terhadap narasi Tuhan transenden. Jelas di sini, ateisme bukan sebentuk selebrasi dan pasifitas; ateisme selalu berupa aktif-itas perlawanan.

Peperangan Rohani dan Teladan Paradigmatik Yesus

Menutup tulisan ini, saya akan menyajikan dua cerita: yang pertama pembacaan kisah Ayub dengan pembacaan teologi materialis, kedua tentang tuhan yang menderita bersama kita. Sebagaimana diketahui, Ayub adalah seorang abdi Tuhan.[13] Suatu saat Tuhan bertaruh dengan Iblis tentang apakah Ayub akan tetap menjadi abdi yang setia apabila berkat-berkat Tuhan dicabut darinya. Tuhan pun sepakat, maka dicabutlah kekayaan, keluarga dan kesehatannya. Sawahnya dirampok, rumahnya hancur terkena bencana, yang juga merenggut ketiga anaknya. Ayub sendiri terkena kusta yang menjijikan. … tapi Ayub masih bertahan.

Lalu masuklah sang istri Ayub dalam cerita. Ia menyuruh Ayub untuk meninggalkan Tuhan; tapi Ayub menolak sembari menekankan bahwa ia tidak bersalah. Akhirnya istri Ayub meninggalkannya untuk menikahi pria lain. Lalu datanglah tiga orang kawan Ayub. Ketiganya mencoba menasehati Ayub: ‘mungkin kamu kena tulah’—Ayub menolak; “mungkin kamu melakukan kesalahan pada Tuhan”—Ayub menolak; ‘mungkin ini dosa turunan’—Ayub menolak; bahkan, Ayub mengusir mereka. Ayub berbalik pada Tuhan dan melayangkan protesnya! Ayub marah! Ayub bersikeras bahwa tidak ada penjelasan bagi penderitaannya. Ayub meminta pertanggungan-jawab Tuhan atasnya, dan bukan pemaknaan! (Andai saja Ayub tahu bahwa penjelasannya adalah keisengan Tuhan dan Iblis, ia pasti akan balas mengumpat ‘sekarang aku, nanti rasakan saat anakmu Yesus harus di-bully di kayu salib. ’[14]) Inilah iman Ayub, suatu iman ateistik, yang karena militansinya, ia mendapatkan ganjaran setimpal: kekayaannya dilipat-gandakan, dikarunia keluarga baru, dst.

Cerita kedua, dalam film Shooting Dogs,[15] saat orang-orang Hutu di Rwanda memburu orang-orang Tutsi, scene diarahkan pada suatu pembicaraan sekelompok Tutsi yang bersembunyi di sebuah sekolah. Tahu bahwa tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk lari lagi, seorang guru muda bertanya kepada pendetanya: Bapa, dimana Tuhan saat ia kita butuhkan untuk mencegah pembantaian ini semua? Jawab sang pendeta, ‘God is now present here more than ever, He is suffering here with us.’Iman ateistik Ayub dan tuhan yang menderita dan berjuang bersama kita seperti inilah yang kita butuhkan saat ini, dan bukan tuhan di atas sana yang dengan isengnya mengontrol segala sesuatu dengan remote sembari duduk di kursi malasnya. Tuhan materialis adalah tuhan yang memimpin manusia yang percaya padanya dalam suatu peperangan rohani.

Peperangan rohani, menggunakan terminologi Paulus, bukanlah menumpas habis orang-orang yang berbeda (secara suku, agama, ras, golongan, kepentingan politik, kelas, dst.).

 ‘[K]arena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.’[16]

Dengan demikian, peperangan rohani, secara materialis adalah peperangan untuk mengonfrontasi seluruh proses-proses di luar manusia (‘darah dan daging’)/ nir-manusia yang mengarahkan dunia ini ke jurang krisis dan bencana. Ketimpangan, diskriminasi, ketidak-setaraan yang kerap menghiasi pelataran media informasi-komunikasi cetak, digital, visual dan jejaring kita hari-hari ini bukanlahsekedar akibat dari problem ‘darah dan daging’—misal: keserakahan, kurangnya kepemimpinan, kendornya supremasi hukum, degradasi moral, dst. Lebih dari itu, semuanya merupakan efek dari pengkondisian sistemik yang deviasional. Pengkondisian sistemik inilah yang semestinya diperangi. Bukankah ini yang dimaksud Paulus saat menyebut musuh kita sebagai ‘roh-roh jahat di udara.’

Lalu bagaimanakah berperang dengan berangkat dari telogi materialis ini? Untuk ini, Yesus, dengan memberi diri disalibkan, memberi contoh paradigmatik yang baik— dan bukan contoh mentah-mentah bahwa orang harus disalib untuk melawan! Yang dicontohkannya adalah dengan berperang dengan cara yang tak terpahami

Pelajaran paradigmatik perlawanan Yesus adalah bahwa Ia, dengan memberi diri disalibkan, tidak hanya melawan maut alias rezim penindasan sang Iblis. Lebih dari itu,dengan memberi diri disalibkan, Yesus melawan sistem pengondisian yang membatasi jangkauan kemungkinan cara perlawanan terhadap sistem itu dilakukan![17] Yesus masuk ke jantung sistem dan menghujamnya dengan telak. Yang dilakukan Yesus tidak hanya menumpas sistem perbudakan dosa, lebih dari itu, Ia juga menghajar sistem yang memungkinkan sistem perbudakan dosa tersebut. Yesus mampu keluar dari dan berbalik melawan anggapan umum tentang perlawanan yang mungkin, sebagaimana disediakan oleh sistem berpikir dominan seperti misalnya yang diolok-olokkan orang Yahudi kepadanya saat disalib: memanggil sebatalion malaikat, menggunakan kuasa Allah untuk turun dari salib, dst.[18].

Berpaling kepada ide-ide muluk nan melangit tentang hak asasi manusia dan kemanusiaan universal, atau pada ide-ide munafik (hipokrit) sehari-hari seperti ‘kasihan’, ‘iba’, dan kedermaan filantropis(charity), seperti yang kerap disuntikkan rangsangannya oleh berbagai rupa reality show dan film-film seperti Laskar Pelangi, adalah mengulangi kebodohan menyedihkan murid-murid Yesus yang hanya bisa menganga dungu sembari mengantar kenaikan gurunya dengan tatapan lugu.[19] (Penting: baca catatan kaki!)[20] Berharap ada orang di luar sana—pemimpin ideal yang berkarakteristik, bergelar lulusan ‘luar negeri,’ berpakaian dan beratribut relijius—sama saja mengingkari dan menolak kenyataan bahwa api Pentakosta telah dihinggapkan pada kita semua sehingga kita semua memiliki segala potensialitas yang dibutuhkan untuk memerangi seantero musuh.[21]

Mengikuti teladan Yesus bukanlah menjiplak mentah-mentah yang tertera dalam Alkitab. Namun yang lebih penting adalah memetik teladan paradigmatik darinya dan menerapkannya dalam kehidupan hari ini. Ke-hari-ini-an berbicara tentang aktualitas yang spesifik secara temporal. Konsekuensinya, ‘hari ini’ satu milenium lalu berbeda dengan ‘hari ini’ seabad yang lalu, atau sewindu yang lalu. “Hari ini” berbicara tentang suatu kondisi kekinian yang ‘aktual terjadi’ (actually existing).Tanpa pendasaran pemahaman obyektif (baca: riset!) tentang tentang apa yang secara aktual sedang terjadi—krisis, eksploitasi, penindasan—maka Alkitab tidaklah lebih sebagai skriptura antik yang tidak memiliki relevansi hari ini. Akibatnya, para pembaca Alkitab akan berakhir pada kesimpulan a la Dan Brown, yaitu Yesus berhubungan seksual dengan Maria. Memperlakukan teladan Yesus sebagai teladan paradigmatik, maka akan membuat orang untuk kembali ke pergumulan dan penderitaannya sehari-hari—Ya! Anda harus menderita!—dan berperang dari sana.

Penutup

Pembahasan mengenai Ayub, peperangan rohani, dan teladan salib Yesus ini sekiranya dapat menunjukkan bagaimana potensi konfrontatif sistemik yang kita butuhkan hari ini untuk melawan kapitalisme dan neoliberal, sebenarnya telah ada dan inheren dalam teologi itu sendiri. Dengan mengubah sedikit cara pandang kita terhadap teologi ke arah yang materialis, maka bisa kita lihat dan manfaatkan potensi revolusioner dari teologi tersebut. Yang saya lakukan barusan adalah menggali dari teologi Kristen. Tidak lantas berarti saya hendak mempromosikan agama ini. Yang hendak saya sampaikan adalah bahwa upaya serupa juga perlu dilakukan pada teologi dari agama lainnya secara spesifik. Bukankah ini konsekuensi berpikir secara materialis, yaitu dengan masuk dan mengkonfrontasi langsung ke spesifisitas doktrin teologi—sebagai materialitas—tersebut?  


Catatan : Versi terdahulu dari makalah ini pernah disajikan sebagai bahan diskusi pada panel ‘Agama dan Materialisme’ kelas Filsafat Religi, Program Doktoral Filsafat, Univ. Indonesia, Depok, 12 Desember 2012. Penulis menyampaikan terima kasih untuk segenap kritikan yang masuk dari para partisipan diskusi tersebut. Kritik dan komentar dapat disampaikan langsung atau melalui email : yosieprodigy@gmail.com