Tampilkan postingan dengan label Leak Kustiya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leak Kustiya. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 September 2013

Jokowi dan Mobil Murah

Jokowi dan Mobil Murah
Leak Kustiya  ;  Pemimpin Redaksi Jawa Pos
JAWA POS, 30 September 2013



Pada 2014 kita dibanjiri pilihan. Pilih partai apa dan wakil yang mana? Pilih presiden siapa? Pilih nyoblos apa golput? Pilih beli mobil murah ramah lingkungan (LCGC) yang harga Rp 90 jutaan atau yang Rp 50 jutaan? Semua akan menjadi pilihan tahun depan.

Memilih secara bebas dan beramai-ramai pada dasarnya selalu menyenangkan. Begitulah pesta, seperti itulah alamiahnya demokrasi. Pesta memilih presiden -seru atau tidak- mari kita tunggu seperti apa model capres-capresnya. 

Menyambut kehadiran mobil-mobil murah ramah lingkungan jelas sangat menghebohkan industri otomotif dan pesta jalan raya. Semua pabrikan mobil menawarkan jagoan masing-masing dengan desain, fitur, warna, dan keunggulan yang berbeda. 

Yang kurang menyenangkan adalah ketika kita ingat problem kemacetan. Semakin absurd gambaran masa depan jalan raya. Di Jakarta, misalnya, program untuk mengatasi kemacetan selalu mangkrak ketika jabatan seorang gubernur berakhir. Lalu siapa sebenarnya yang harus betul-betul peduli untuk mengatasi problem kemacetan? 

Gubernur Jokowi kelihatannya sangat peduli. Tapi, sungguh-sungguh pedulikah dia? Kurang tahu. Kita masih harus menunggu agak lama karena tahun depan pasti belum bisa membuktikannya. Kemacetan Jakarta sudah stadium empat! 

Pertanyaannya, bukankah gubernur DKI asal Solo itu juga harus berpikir keras untuk menghadapi pesta pemilihan presiden tahun depan? 

Hingga hari ini Jokowi memang tak menunjukkan minat untuk mencalonkan diri sebagai presiden 2014. Tapi, ketidakminatan itu bisa jadi hanya strategi politik dan soal gaya. Orang Solo dan sekitarnya: Klaten, Sragen, Purwodadi, Sumberlawang, Wonogiri, Karanganyar, Boyolali, rata-rata punya bakat bergaya seperti Jokowi. Kelihatannya mengalah, tapi maju terus. Kurang berminat dengan logika yang rumit, kalau diserang dengan argumen yang muluk-muluk akan cenderung pasrah. Sak karepmu wis... Lha wis piye... Ojo ngono to... Ora dadi presiden yo ora opo-opo. Ah, tenane? 

Kemacetan Jakarta lama-lama menjadi hal biasa. Ketika kian hari kemacetan kian parah, para pengguna jalan di ibu kota juga kian tabah. Bila sedang naik taksi dan diburu waktu, sementara taksinya terjebak kemacetan parah, penumpang akan turun dari taksi lalu berlari mencari tukang ojek tanpa menggerutu. 

Suara klakson di jalanan Jakarta juga sudah tak seberingas kira-kira 4 atau 5 tahun lalu. Diimpit kemacetan terus-menerus, grade kesabaran warga Jakarta jadi membaik secara kultural. Pengemudi tak lagi sering-sering memencet klakson bila mobil di depannya tak kunjung bergerak. Mereka sadar: emosi sudah tak ada gunanya. 

Tahun depan mobil murah yang bagus-bagus modelnya pasti membanjiri jalanan. Tentu ini akan makin menambah kemacetan. Siapa yang sanggup menahan keinginan seseorang untuk memiliki mobil baru bila kemampuan ekonomi ada? 

Kalau Anda belum pernah memiliki mobil dan sekarang terbuka kesempatan untuk membelinya, rasanya tak mungkin bisa ditahan. Memiliki mobil pertama -mobil baru, jok masih terbungkus plastik- sulit dicarikan padanan kebahagiaannya. 

Mobil pertama akan disayang seperti halnya pacar pertama. Karena itu, akan dicintai dengan segala cara. Kalau catnya tergores, goresan itu juga seperti menggores kening kepala. Luka di bodi mobil itu akan terbawa terus ke mana pun, bahkan dalam mimpi. Kalau si mobil sedang kotor karena jalanan becek, dia akan dicuci hingga rongga tersulit di sela-sela roda, seolah tak akan dikendarai di jalan yang becek lagi. 

Belum lagi bila yang mengidamkan mobil baru itu pasangan keluarga muda. Belum lama menikah, punya anak satu yang masih dalam gendongan istri. Membahagiakan keluarga dengan mengajak anak istri berjalan-jalan dengan mobil pribadi yang baru adalah keindahan dan kebanggaan tiada tara sebagai suami. 

Dalam konteks ini dalil pejabat untuk menolak mobil murah pasti diabaikan pasar. Menghalau konsumen dengan paparan efek buruk LCGC penyebab kemacetan, pembengkakan subsidi BBM, pencemaran, merusak lapisan ozone, dan lain-lain akan kurang manjur. 

Dalam kebingungan mencari solusi kemacetan, masyarakat sebenarnya punya hak bertanya: mampu atau tidak sebenarnya pemerintah daerah di kota-kota besar itu menyediakan sarana transportasi umum yang memadai secepatnya? 

Sebenarnya masyarakat akan sangat senang bila setiap hari bisa pergi ke tempat kerja dengan nyaman dan tepat waktu dengan menggunakan transportasi umum. Dengan begitu, mobil murah ramah lingkungan yang segera booming tahun depan nanti hanya dikendarai bersama anak-istri di saat-saat tertentu. 

Rabu, 31 Juli 2013

New York, Shanghai, Surabaya

New York, Shanghai, Surabaya
Leak Kustiya ;  Wartawan Ekonomi Jawa Pos
JAWA POS, 30 Juli 2013



SETELAH New York bertengger di puncak tertinggi deretan kota besar dunia, Shanghai dengan cepat mencuat sebagai megapolitan baru di daratan Tiongkok. Baik New York maupun Shanghai, keduanya adalah kota yang indah, pencakar langitnya modern, dan layout kotanya terkonsep. Tidak punya banyak gang buntu.

Kesamaan berikutnya: New York bukan ibu kota Amerika dan Shanghai juga bukan ibu kota Tiongkok.

Pertanyaannya, siapa bakal menyusul jadi Shanghai baru Asia? Apakah ia Singapura? Pasti bukan. Singapura memang sudah lebih dulu maju, tapi kemajuannya akan jalan di tempat seperti sekarang. Untuk jauh lebih maju lagi, caranya sudah tak ada karena lahan sudah tak punya. Untuk membangun mal Vivo City yang menjorok ke laut di sebelah Harbour Front, Singapura harus menguruk sebagian lautnya. Untuk mempercantik bibir pantai di Pulau Sentosa, negeri tetangga kita itu harus membeli pasir dari perairan sekitar Pulau Sumatera secara sembunyi-sembunyi. Menyedot pasir dari bawah laut, lalu ditimbun di bibir-bibir pantai agar daratannya terasa sedikit agak luas.

Bagaimana Tokyo? Kodrat Tokyo kurang lebih sama dengan Singapura: Lahan cuma secuil dan sudah habis.

Manila? Ia mirip-mirip dengan Jakarta, terutama keruwetannya. Sudah ruwet, langganan banjir pula. Dan tak kunjung ada langkah konkret, misalnya bagaimana mengatasi kemacetannya yang begitu akut. Banjir Jakarta kian tahun kian kronis dan bikin gila. Ganti-ganti gubernur, yang ramai cuma wacananya.

Terus, bagaimana kalau Surabaya? Ia persis New York dan Shanghai. Surabaya bukan ibu kota Indonesia seperti halnya dengan New York yang bukan ibu kota AS. Shanghai juga bukan ibu kota Tiongkok.

Selain Soerabaya itu terlahir indah sejak doeloe kala, kota ini berada di tengah-tengah deretan kepulauan Indonesia. Surabaya juga punya bakat tertib dan tertata hingga hari ini. Masyarakatnya lurus, sopan, dan cita-citanya sehat. Jauh dari sifat jorok dan ngawur. Wali kotanya gigih menambah ruang terbuka hijau (RTH), warganya punya kepedulian lebih dalam menjaga kebersihan kota. Kalau Anda cari banjir di Surabaya sepanjang tahun, dijamin tak akan ketemu. Apalagi di musim kemarau seperti sekarang.

Lalu, kapan Surabaya bakal menyusul Shanghai? Secepatnya! Asal, pemerintah pusat segera mengevaluasi aturan lawas yang menyangkut kawasan keselamatan operasional penerbangan (KKOP) sesuai dengan tuntutan perkembangan Kota Surabaya. Radius terlarang untuk bangunan pencakar langit tak perlu sampai 15 kilometer dari titik landasan Bandara Juanda. Tapi, cukup 5 kilometer dari bandara seperti di bandara modern Jeddah yang juga dikelilingi pencakar langit atau kota-kota lain di negara maju. Dengan KKOP yang sekarang, gedung-gedung di Kota Pahlawan tak akan bisa mencakar langit, namun hanya bisa menengadah melihat langit.

Masyarakat, para pengembang, Pemerintah Kota Surabaya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, semua dalam satu semangat menuju Surabaya Megapolitan. Mengembangkan bangunan vertikal adalah cara paling efektif untuk memaksimalkan lahan yang ada sekaligus tetap menjaga keutuhan ruang terbuka hijau. Persoalannya, mampukah pemerintah pusat melihat bahwa kota kedua setelah Jakarta ini bisa jauh lebih maju ketimbang ibu kota Indonesia? ●

Kamis, 04 Juli 2013

Teater di Antara Kebutuhan Makan dan Filsafat

Teater di Antara Kebutuhan Makan dan Filsafat
Leak Kustiya ;  Pemimpin Redaksi Jawa Pos 
JAWA POS, 04 Juli 2013



KEBUTUHAN manusia yang elementer, yang instingtif, yang sangat primitif, adalah makan dan minum. Kebutuhan manusia yang tertinggi, yang harus dipelajari di atas segala-galanya, adalah filsafat. Kebutuhan lain berada di antara makan dan filsafat.

Begitulah pandangan Prof Dr dr Djohansjah Marzoeki. Arek Suroboyo guru besar Universitas Airlangga lulusan Groningen, Belanda, yang juga dicatat sebagai ahli bedah plastik pertama yang dimiliki Indonesia. 

Mengenali kebutuhan-kebutuhan lain, yaitu kebutuhan di antara makan dan filsafat seperti yang dimaksud Prof Djo, bisa dilakukan lewat inventarisasi jenis-jenis kebutuhan itu secara pelan-pelan. Didaftar dulu, lalu tempatkan secara berurutan sesuai dengan tingkat kepentingannya. Kualitas hidup kita akan sangat ditentukan oleh urutan penempatan aneka kebutuhan itu tadi. 

Sebagai panduan, sedikit di bawah kebutuhan tertinggi, yaitu kebutuhan filsafat, silakan menempatkan kebutuhan akan seni. Disusul kebutuhan estetika, baru setelah itu Anda bebas memprioritaskan kebutuhan lain berikutnya yang berjuta jumlahnya. Kalau Anda ingin baik hati seperti Ahmad Fathanah atau ingin perkasa seperti Hercules, tinggal setel saja sesuai keinginan. 

Kita bisa bayangkan, betapa bahayanya jika seorang ahli bedah plastik seperti Prof Djo, misalnya, tidak menempatkan estetika dan seni sebagai kebutuhan yang diprioritaskan dalam hidupnya. Sementara pekerjaannya adalah memermak wajah orang. 

Berikut ini sekadar gambaran betapa krusialnya urusan estetika untuk urusan sepele dalam hidup keseharian. Karena ukuran badan saya pendek, ketika membeli celana baru, seringkali saya harus ke tukang permak guna merombak ukuran celana biar fit. Problemnya, sangat tidak gampang menemukan tukang permak celana yang menjunjung tinggi estetika. 

Para tukang jahit yang sering menyebut dirinya sebagai dokter jins itu cenderung tidak cermat ketika memilih warna benang. Kainnya berwarna krem, dipasang benang warna cokelat. Serampangan ketika memegang gunting dan asal hajar ketika menginjak pedal mesin jahit. Apalagi saat banyak order seperti pada hari-hari menjelang Lebaran. Hasilnya, motongnya tidak lurus, jahitannya kayak cacing teler pula. Oh, Prof Djo... Bagaimana kita tidak merana?

Lagi, soal tata kota, misalnya. Tidak mudah untuk menemukan wali kota seperti Tri Rismaharini, wali Kota Surabaya yang begitu baik pemahaman estetikanya. Tapi, menyangkut kebutuhan fungsional dan visi masa depan kota, kita perlu meragukan kekuatan lapangan semua wali kota. Soalnya, selalu ada tuntutan pemenuhan kebutuhan politik dan kepartaian di atas kebutuhan estetika, seni, apalagi filsafat. 

Kalau urusan paling primitif menyangkut makan dan minum belum tercukupi, memang sebaiknya kita tidak terlalu banyak berfilsafat. Selain potensial membuat gila, juga bisa membuat hidup terbalik-balik. Rambut bisa gondrong, kurus, lapar, kerjanya melamun melulu. Betapa mantapnya!

Butet, Djaduk, Susilo, Hasmi, dan Goenawan Mohamad adalah orang-orang yang boleh disebut khusus. Dulu, saat kebutuhan makan dan minumnya belum tercukupi dengan baik, mereka sudah sanggup dan kuat mengurus kebutuhan filsafat dan seni. Hasmi bahkan sampai lupa kawin karena terlalu banyak menggambar komik. 

Pertanyaannya, apakah saat ini kebutuhan primitif Anda sudah terpenuhi? Kalau sudah, tonton Gundala Gawat. Menteri BUMN Dahlan Iskan bahkan memaksa seluruh Dirut perusahaan BUMN untuk nonton pentas teater jenaka dari Jogja ini. ''Biar hati mereka baik dan tidak korupsi. Daripada saya yang ceramah, mulut capek. Saya suruh mereka nonton teater saja biar Butet dan kawan-kawan yang ceramah,'' kata Dahlan.

Untuk pentas Gundala Gawat yang berdurasi dua jam, Goenawan Mohamad dan awak Gandrik harus menyiapkan naskah, berlatih, kira-kira setengah tahun lamanya. Selama setengah tahun para pekerja seni itu pekerjaannya hanya berlatih. Padahal, tidak ada orang yang sudi menggaji pemain teater yang sedang latihan. 

Nilai-nilai estetis, filsafat, budaya-budaya baik banyak disisipkan di panggung teater. Karena itu, mari budayakan untuk mengonsumsi pertunjukannya. Kalau enggak, kasihan diri kita. Kasihan Goenawan Mohamad, juga Butet dan kawan-kawan. 

Senin, 01 Juli 2013

Terus Berubah Bersama Pembaca

Terus Berubah Bersama Pembaca
Leak Kustiya ;   Pemimpin Redaksi Jawa Pos
JAWA POS, 01 Juli 2013



Selain bersyukur, sesungguhnya tak ada niat yang besar guna merayakan ulang tahun kami yang ke-64. Meski tak sedikit kegiatan yang dihelat di seputar 1 Juli, tanggal lahir Jawa Pos.

Mensyukuri sekaligus menandai bahwa sudah 64 tahun berjalan bersama pembaca, kami mengundang dua mantan bintang NBA Rafer Alston dan Horace Grant untuk beraksi sekaligus menghibur para pencinta bola basket tanah air di Speedy NBL Indonesia All-Star 2013. Mengadakan DBL Camp di DBL Arena yang mengundang 247 siswa dari berbagai kota di tanah air, lalu memilih 24 siswa terbaik untuk diberi kesempatan bertanding di Seattle, AS. 

Kami juga menyelenggarakan Jawa Pos Cycling Audax East Java 2013 kerja bareng dengan Polda Jatim yang kebetulan juga merayakan Hari Bhayangkara pada tanggal yang sama. Tak kurang dari 300 peserta datang dari berbagai negara ikut ambil bagian untuk bersepeda menempuh jarak 232 km. Kemarin Jawa Pos Cycling Audax East Java dan DBL Camp digelar bersama-sama.

Pada 4 dan 5 Juli mendatang kami masih akan nanggap Gandrik, teater peka perubahan dan awet kreatif dari Jogja. Selama dua hari Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan konco-konconya bakal pentas dengan lakon Gundala Gawat yang naskahnya dibuat Goenawan Mohamad. 

Seperti event-event kami yang terselenggara sepanjang tahun, baik yang level kampung ke kampung hingga yang besar berskala internasional, memang selalu kami maksudkan untuk banyak tujuan: sosial, edukasi, kekeluargaan, lingkungan, hobi, religi, prestasi, hingga kesenangan. 

Karena ultah Jawa Pos kali ini kebetulan berbarengan dengan musim liburan sekolah, heboh kenaikan harga BBM, dan segera memasuki bulan suci Ramadan, tak urung gawe di seputar 1 Juli pun kami padatkan. Dan hasilnya: kemeriahan! 

Di antara banyak kegiatan itu, pentas Gandrik kami harap bisa menjadi medium guna becermin diri. Sebab, 64 tahun berjalan bersama pembaca dengan segenap dinamikanya sungguh sebuah perjalanan panjang yang menorehkan banyak catatan. Pembaca sangat cepat berubah, Jawa Pos harus gaul arah zaman. Pembaca bosan dengan rubrik-rubrik lama, Jawa Pos harus siap dengan sodoran halaman baru. Masyarakat jenuh dengan pertikaian, koran harus punya rasa humor. Pembaca tidak bisa menerima ketidakadilan, pers harus fair dalam memberitakan. 

Gundala Gawat mengingatkan betapa di segala zaman -zaman enak maupun zaman ruwet- kita dituntut cekatan dan senantiasa awas dalam melihat hal-hal yang bertren buruk. Eddy Nugroho, direktur Jawa Pos Koran yang sekarang sedang di Amerika, sangat risau dalam berkirim kabar ke redaksi menyangkut perubahan dunia perkoranan di sana. 

"Heran, koran-koran di Amerika kok jadi makin kecil ukurannya dan makin sedikit jumlah halamannya. Ada apa ini?" 

"Kalau soal ukuran yang berubah itu bisa jadi hanya sebuah tren desain. Tapi, kalau jumlah halaman makin berkurang dan kian tipis, itu jelas Gundala Gawat!" jawab saya lewat BBM. 

Hingga beberapa bulan ke depan, teman-teman di PT Temprina Media Grafika, anak perusahaan Jawa Pos, harus bekerja ekstrakeras guna merampungkan peremajaan dan penambahan unit mesin cetak baru yang tersebar di delapan kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Jakarta. Ini harus segera kami lakukan karena jumlah pembaca Jawa Pos yang terus tumbuh di berbagai daerah. 

Masyarakat kita makin sibuk -meski mobil dan motor bergerak pelan karena jalanan makin macet. Maka, mereka sekarang cenderung berangkat kerja lebih pagi. Artinya, koran tidak boleh datang kesiangan. 

Tuntutan kreatif dunia periklanan juga makin aneh-aneh. Kalau sebuah iklan kurang aneh, itu bisa diartikan kurang kreatif. Kurang kreatif bisa dianggap kurang menarik. Koran tidak boleh menjadi penyebab ketidakkreatifan itu. 

Tuntutan-tuntutan baru seperti itu bagi kami sangat menggairahkan. Pasalnya, di tengah kencangnya gerak perubahan tersebut, masyarakat pembaca terus mendorong kami untuk senantiasa maju dan berubah bersama. Ini jelas tren baik. Bukan pertanda Gundala Gawat. 

Terima kasih yang sebesar-besarnya buat semua pembaca. 

Salam...  ●

Minggu, 09 September 2012

Ayo Golf Bareng Jawa Pos


Ayo Golf Bareng Jawa Pos
Leak Kustiya ;  Pemimpin Redaksi Jawa Pos
JAWA POS, 08 September 2012


SANGAT menyenangkan bila Surabaya dilihat dengan view yang sedikit agak menanjak. Ia sungguh kota yang indah luar-dalam. Yang untuk memahami keasyikan hidup di dalamnya secara utuh, kita harus punya niat tersendiri.

Selain sekian banyak keunikan dan kenyamanan, Surabaya juga memiliki sebentuk aset berupa 90 green indah yang tersebar di Citraland Golf Club & Hotel Surabaya, Bukit Darmo Golf, Golf Graha Famili & Country Club, Pakuwon Golf & Famili Club, dan Yani Golf Club.

Lima lapangan golf itu punya tantangan tingkat kesulitan yang kalau ditotal mencapai 351 par. Itu bahkan masih akan bertambah kalau pembangunan 9 hole baru di Pakuwon Golf & Famili Club rampung dalam waktu dekat ini. Masih kurang? Cukup bergeser sedikit ke arah selatan, ada Finna Golf & Country Club dan Taman Dayu Golf Club & Resort. 

Minus Yani Golf Club, seluruh lapangan golf itu ada karena komitmen yang tidak main-main dari para pengembang: menggaris tegas beratus hektare luas kavlingnya untuk tidak dipenuhi bangunan rumah lalu dijual. Lapangan golf, selain lapangan olahraga, adalah ruang terbuka hijau, resapan, pepohonan yang menjadi paru-paru kota, juga sanctuary untuk burung-burung, selain lapangan pekerjaan, tentu. Karena dibuat dengan dasar sikap kemandirian para pengusaha, kita tak pernah mendengar kasus-kasus mark-up pembangunan lapangan golf seperti yang terjadi pada pembangunan stadion dan wisma atlet yang melibatkan para pejabat serta politisi. Padahal, merawat lapangan golf yang begitu luas butuh biaya sangat besar.

Ini tak ada maksud untuk terlalu agresif mengajak Anda semua guna merasakan sisi istimewa Kota Surabaya itu. Namun, sekali lagi, semua lapangan golf tersebut adalah kekayaan Kota Surabaya yang tidak semua kota besar di mana pun mampu memiliki.

Secara serampangan dan iseng, saya pernah mencoba menelisik ke Gubernur Jawa Timur Pakde Karwo, Wagub Jatim Gus Ipul , Wawali Surabaya Bambang D.H., serta mantan Wawali Surabaya Arif Afandi dengan mengajukan sebuah pertanyaan: Pernahkah sesekali Bapak menyusuri lapangan golf di Surabaya yang hijau dan luxurious itu? Jawabnya adalah: Belum.

''Hobiku benthik...,'' jawab Gus Ipul lantas tertawa.

Benthik adalah permainan anak-anak kampung zaman dahulu kala -di Surabaya bernama patil lele- yang kini telah punah. Cara memainkannya, ada kemiripan dengan golf. Pemenang permainan benthik akan digendong sepanjang jarak pukulan sebagai hadiahnya.

Lantas, siapa saja kira-kira yang bermain di lapangan golf Surabaya yang luas menghampar-hampar itu? Banyak. Para pegolf, kebanyakan para pengusaha, lebih memilih turun lapangan untuk merumput sebelum pagi menjelang. Berjalan menyusuri fairway -jarak antara tee box tempat melakukan pukulan pertama hingga area hole- akan bersensasi dengan hamparan rumput berembun. Burung-burung masih bermalas-malasan di rerimbunan pohon, tapi kicaunya sudah seramai Pasar Bratang. Duhai amboi indahnya pagi di lapangan golf Surabaya...

Nah, selain sisi-sisi opsional itu, tentu banyak hal fundamental mengapa para pengembang tekun merawat lapangan dan banyak orang tertarik bermain golf:

Melatih Fokus, Kendalikan Emosi 

Untuk menghasilkan pukulan yang baik, kekuatan otot bukan faktor utama. Di driving range, tempat berlatih memukul bola, para pemula                                  mendemonstrasikan kenyataan itu dengan lugunya. Badannya kekar, lengannya kekar berotot. Karena merasa tenaganya kuat, pukulan berusaha diayun sekuat tenaga, dengan harapan bola akan melambung sejauh-jauhnya. Wesss... Ayunan stik golf menghasilkan suara seperti desing jet. Tapi  hasilnya, thos!                                                         Kluthuk... kluthuk... kluthuk... Bola segede telur ayam kampung itu hanya terlempar beberapa meter. Dalam bahasa komik Kho Ping Hoo: bolanya hanya meloncat seujung tombak. Itu terjadi karena impact dari benturan club stick dan permukaan bola yang tidak akurat, perhatian yang tidak fokus, terlalu emosional, dan swing yang buruk. Meski pukulannya kuat.

Harus Konsisten dan Semangat 

Untuk bisa bermain bagus, dibutuhkan konsistensi berlatih dan jangan mudah bosan. Banyak yang putus asa di tengah jalan lalu menjual murah stiknya karena tak tahan dengan hasil pukulan yang tak kunjung membaik. Padahal, sudah berlatih berbulan-bulan sampai pinggang kecethit, punggung soak, pundak salah urat, dan lengan terkilir, rasanya sakiiiit semua. Malah, tak jarang karena saking njarem-nya, ada yang ketika batuk, konon dadanya seperti ditusuk hingga tembus ke punggung. Maka, ketika seorang pemula (seperti saya) mencoba turun bermain di lapangan, caddy-caddy selalu menyemangati, ''Wow...good shot Pak!'' katanya. Padahal, arah bola melenceng tak sesuai kehendak hati.

Selalu Ada Yang Kurang 

Di lapangan golf Surabaya, ada beberapa komunitas pemain senior yang usianya sudah lebih dari 70 tahun. Mereka tetap sehat, gembira, dan terus berlatih. Dalam golf, selalu ada perasaan tertantang untuk bisa memperbaiki pukulan dan bermain lebih baik daripada hari kemarin. Tapi, kadang suasana hati dan tagihan credit card juga ikut memengaruhi kualitas permainan. Seperti guyonan Rinto Harno, ketua Persatuan Golf Surabaya: dalam golf memang selalu ada yang kurang. Pukulan kurang keras, pukulan kurang jauh, bola kurang ke kiri, kurang ke kanan, stiknya kurang bagus, dan seterusnya...

Ayo sekarang bermain golf bersama Jawa Pos.