Tampilkan postingan dengan label Sultani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sultani. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2017

Peta Dukungan Pemilih Berubah

Peta Dukungan Pemilih Berubah
Sultani ;  Litbang Kompas
                                                     KOMPAS, 09 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Menjelang pemungutan suara, 15 Februari 2017, peta persaingan tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dalam meraih dukungan pemilih semakin dinamis. Dua bulan terakhir, terjadi perubahan signifikan preferensi pemilih yang tidak hanya berdampak pada tingkatan keterpilihan, tetapi juga pada posisi keunggulan setiap pasangan calon.

Survei Litbang Kompas tentang kepemimpinan di Jakarta berhasil merekam dinamika politik yang terjadi pada publik Jakarta selama masa penyelenggaraan pilkada. Dalam dua bulan terakhir, sikap responden terhadap para kandidat menunjukkan perubahan yang drastis. Para pemilih yang sebelumnya sudah menentukan pilihan sebagian mengalihkan dukungan mereka kepada kandidat lain. Pemilih yang sebelumnya masih bimbang (undecided voters), kali ini semakin yakin dalam menentukan siapa kandidat pilihannya.

Hasilnya, survei kali ini pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni meraih dukungan 28,2 persen responden pemilih. Proporsi demikian menurun hingga 8,9 persen jika dibandingkan dengan survei Desember 2016. Analisis terhadap penurunan yang dialami pasangan ini mengungkapkan, terdapat sekitar 25 persen responden yang mengalihkan dukungannya kepada pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, 9 persen memilih Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan 4 persen berubah menjadi pemilih bimbang (lihat grafik). Meskipun tergerus, pasangan ini tetap didukung 62 persen responden yang pada survei Desember 2016 lalu memilih pasangan ini.

Kondisi sebaliknya justru terjadi pada pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang berhasil meningkatkan proporsi dukungan secara signifikan. Apabila pada Desember 2016 pasangan ini hanya meraih dukungan 19,5 persen, kali ini melonjak menjadi 28,5 persen. Penelusuran terhadap semua responden yang memilih pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Desember 2016, 77 persen di antaranya menyatakan tetap loyal memilih pasangan ini pada survei terakhir. Tercatat hanya 8 persen pendukung pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang beralih kepada pasangan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni dan tidak kurang 12 persen yang beralih kepada pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Para pemilih pasangan ini yang berubah menjadi bimbang 3 persen.

Kenaikan dukungan juga dialami pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Apabila pada survei Desember 2016 pasangan calon ini meraih dukungan 33 persen, kali ini menjadi 36,2 persen. Dibandingkan dengan kedua pasangan lain, responden yang memilih pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat relatif terjaga loyalitasnya. Membandingkan dengan survei sebelumnya, 85 persen responden pemilih Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat tetap loyal memilih pasangan ini. Keinginan mengganti pilihan tetap ada meski proporsinya sangat kecil. Calon alternatif pemilih pasangan ini, 6 persen ke Agus Yudhoyono-Sylviana Murni dan 7 persen memilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Pemilih pasangan ini yang kemudian berubah bimbang hanya 2 persen.

Perubahan pola dukungan tidak lepas dari situasi politik yang berkembang di masyarakat dan berbagai aksi kampanye yang semakin memperjelas sosok dan komitmen mereka dalam memimpin Jakarta. Hasil survei menunjukkan, preferensi responden terhadap para kandidat terpolarisasi pada kutub sentimen primordialisme yang menggugah sisi emosional pemilih dan kutub rasionalitas yang bersandar pada hasil penilaian kinerja setiap pasangan kandidat.

Sejak penyelenggaraan Pilkada DKI dimulai sampai sekarang, sentimen primordialitas keagamaan menjadi isu dominan yang menguasai wacana publik Jakarta. Persoalan demikian cenderung memilah warga Jakarta ke dalam dua kelompok dukungan, pendukung kandidat yang memiliki kesamaan identitas keagamaan dengan pendukung kandidat yang mengusung pluralitas kebangsaan.

Semakin menguat

Hasil survei ini juga mengungkapkan penguatan sikap responden dalam memilih pasangan calon. Penguatan ini dilihat dari tren jawaban responden yang mulai bergerak pada pilihan yang semakin jelas dan kuat. Ekspresi yang dimaksud adalah keberanian responden menyatakan kemantapan hati mereka memilih pasangan kandidat. Penguatan ini merupakan pergeseran pilihan dari sikap "kemungkinan masih bisa berubah pilihan" dan "masih ragu untuk memilih paslon" menjadi "tidak akan berubah pilihan" atau semakin mantap memilih.

Tidak kurang dari tiga perempat responden pemilih Agus Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno merasa semakin yakin tetap memilih kedua pasangan ini. Sementara pada responden pemilih Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat tercatat 81 persen yang menyatakan tidak akan mengalihkan dukungannya (lihat grafik).

Hasil survei ini juga mengungkapkan pertimbangan responden memilih kandidat. Dari sejumlah kriteria yang disebutkan, kriteria yang populer disebutkan responden antara lain pengalaman memimpin daerah/instansi pemerintah, latar belakang pendidikan, serta reputasi dan perjalanan karier.

Semua kriteria yang disebutkan responden akhirnya tervisualisasi melalui penampilan terbuka ketika kampanye atau debat publik. Bagi responden yang hadir dalam kampanye atau menyaksikan debat, preferensi mereka untuk memilih pasangan calon semakin kuat. Penampilan kandidat secara terbuka menjadi penting bagi publik untuk menilai dan mempertebal keyakinan pada sosok yang diidealkan menjadi pemimpin. ●

Kamis, 22 Desember 2016

Survei Pilkada DKI Memperebutkan Pemilih Bimbang

Survei Pilkada DKI
Memperebutkan Pemilih Bimbang
Sultani  ;   Litbang KOMPAS
                                                    KOMPAS, 22 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Suara para pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters) dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 berpotensi diperebutkan kandidat gubernur dan wakil gubernur. Relatif kecilnya selisih elektabilitas para kandidat terekam di tengah loyalitas setiap pemilih terhadap pasangan calon dan menguatnya identitas sosial berbasis primordialitas.

Berdasarkan hasil Survei Pra Pilkada DKI Jakarta yang dilakukan Litbang Kompas 7-15 Desember 2016, angka pemilih yang belum menentukan pilihan atau masih bimbang (undecided voters) sebesar 10,4 persen. Secara proporsi, angka tersebut kecil ketimbang responden yang sudah menentukan pilihan calon kepala daerah Jakarta, yaitu 89,6 persen.

Meski demikian, proporsi kecil ini menarik ditelisik mengingat rentang elektabilitas dan popularitas antarcalon tidak terpaut jauh. Hingga saat ini, tidak ada satu pun pasangan calon memiliki tingkat elektabilitas yang memadai (di atas 50 persen) sebagai syarat memenangi Pilkada DKI Jakarta.

Dari hasil survei tersebut terungkap profil undecided voters pada Pilkada DKI kali ini. Dari segi usia, undecided voters terbesar berada pada rentang usia 35-50 tahun, yaitu sebesar 38,6 persen. Dari aspek pendidikan, mereka terkonsentrasi pada berpendidikan SMA (59 persen).

Secara sosial, proporsi terbesar undecided voters di Jakarta berasal dari suku Jawa dan beragama Islam (39,8 persen responden). Sementara dari aspek tempat tinggal, dua dari tiga undecided voters berasal dari perkampungan.

Untuk responden pemilih partai-partai pengusung Agus-Sylvi tercatat 9,4 persen belum menentukan pilihan. Sementara responden pemilih partai pengusung Basuki-Djarot ada 5,9 persen belum menunjukkan calon gubernur pilihan, dan dari pemilih partai pengusung Anies-Sandi ada 6,4 persen responden belum menentukan pilihan.

Hasil survei mengungkapkan tiga motif utama yang mendasari sikap politik para undecided voters ini. Motif tersebut mencerminkan potensi mereka untuk memilih salah satu kandidat pada saat pilkada nanti.

Motif pertama adalah pesimisme terhadap para kandidat yang bertarung dalam Pilkada Jakarta sekarang. Para responden yang pesimistis ini pada dasarnya menyatakan tidak peduli dengan pilkada ini dan menilai, ketiga pasangan calon kali ini semuanya pembohong. Sebanyak 34,1 persen responden mengungkapkan keraguan mereka terhadap tiga pasang calon sebagai landasan keengganan mereka untuk menyatakan secara tegas pilihan calon kepala daerah.

Motif kedua adalah memanfaatkan waktu untuk mencerna atau internalisasi program dan janji-janji kampanye yang diucapkan oleh para calon. Seperempat bagian responden mengungkapkan belum memilih calon mereka karena masih memerlukan waktu untuk menyamakan aspirasi mereka dengan visi-misi para calon gubernur dan wakil gubernur tersebut. Karena itu, mereka baru akan menentukan pilihan setelah masa kampanye usai.

Adapun motif ketiga adalah semata merahasiakan pilihan sampai hari pilkada. Responden yang menjawab akan menentukan pilihan mereka mendekati hari pencoblosan sebanyak 41,5 persen.

Politik aliran

Selain fenomena undecided voters, survei kepemimpinan DKI Jakarta juga merekam naiknya kembali pilihan politik berdasarkan basis primordial agama atau sering disebut "politik aliran". Responden pemilih partai berbasis massa Islam cenderung memilih kepala daerah yang seakidah meskipun aspirasinya berbeda dengan dukungan yang diberikan oleh partai pilihan mereka.

Sebaliknya, fenomena demikian tidak terlihat pada responden pemilih partai berbasis massa nasionalis. Pilihan responden lebih dinamis sehingga terlihat lebih cair dalam konstelasi dukungan terhadap ketiga calon kepala daerah. Faktor agama bukan menjadi penentu utama dalam menentukan calon gubernur pilihan mereka.

Jika partai-partai pengusung dipetakan terhadap tiga pasang calon kandidat gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, akan menghasilkan dua motif utama, yaitu partai nasionalis plus Islam (partai berbasis massa Islam) dan partai nasionalis murni.

Partai kelompok pertama direpresentasikan melalui kandidat pertama, yaitu Agus-Sylvi (Partai Demokrat, PKB, PPP, dan PAN) dan kandidat ketiga Anies-Sandi (Gerindra, PKS). Sementara partai kelompok kedua direpresentasikan melalui kandidat Basuki-Djarot (PDI-P, Golkar, Nasdem, dan Hanura).

Dari konfigurasi tersebut, survei ini mengungkapkan tingkat konsistensi responden memilih calon gubernur berdasarkan pilihan partai. Responden yang tergabung dalam partai koalisi pengusung Agus-Sylvi terlihat paling konsisten dalam memilih calon gubernur, yaitu 61,3 persen.

Konsistensi ini tetap kuat ketika pilihan partai politik responden diurai secara individual. Responden pemilih PPP, PKB, dan PAN yang memilih pasangan Agus-Sylvi cenderung tinggi, yaitu berada dalam rentang 45 persen hingga 63 persen. Sementara pemilih Partai Demokrat-motor penggerak koalisi-yang mendukung Agus-Sylvi sebesar 63,7 persen.

Untuk partai koalisi pengusung Basuki-Djarot sedikit lebih cair karena tidak semua responden memilih secara konsisten sesuai dengan dukungan dari partai pilihan mereka. Konsistensi pemilih koalisi partai ini mencapai 56 persen. Artinya, proporsi responden yang memiliki perbedaan aspirasi dengan garis politik partai relatif sama besarnya.

Loyalitas partai

Jika pilihan responden diurai per partai politik akan terlihat spektrum dukungan yang bervariasi. Responden yang paling konsisten (loyal) dalam koalisi ini adalah pemilih PDI-P dan Nasdem. Sebanyak 61,8 persen responden pemilih PDI-P adalah pemilih Basuki-Djarot. Sementara pemilih Nasdem yang memilih pasangan petahana ini 77,8 persen.

Sebaliknya, responden yang paling cair dalam koalisi ini adalah pemilih Golkar dan Hanura. Tiga dari sepuluh responden pemilih Golkar menyatakan akan memilih Basuki-Djarot. Bagian terbesar dari sisa suara pemilih Golkar ini akan mendukung pasangan Agus-Sylvi (56,1 persen). Sementara pemilih Hanura yang akan memilih Basuki-Djarot sebesar 27,3 persen. Kandidat lain yang berpotensi dipilih oleh pemilih Hanura yang lain adalah Agus-Sylvi (36,4 persen).

Untuk koalisi kandidat Anies-Sandi konsistensinya relatif lebih kecil, yaitu 41,6 persen. Meski demikian, khusus konsistensi pemilih PKS dalam memilih calon gubernur yang menggambarkan kesamaan agama terbilang tinggi sehingga selain memilih Anies-Sandi, responden yang berbeda aspirasi dengan dukungan PKS lebih cenderung untuk memilih Agus-Sylvi.

Pemilih Gerindra terlihat sangat cair dalam memilih calon gubernur mereka. Meskipun 36,1 persen menyatakan memilih pasangan Anies-Sandi, proporsi ini lebih kecil ketimbang sisa suara yang akan memilih calon lain. Sebanyak 43,1 persen responden pemilih Gerindra akan memilih Agus-Sylvi. ●

Senin, 25 Juni 2012

Menanti Bara Api Padam di Papua


Menanti Bara Api Padam di Papua
Sultani ;  Litbang KOMPAS
Sumber :  KOMPAS, 25 Juni 2012


Meskipun otonomi khusus di Papua telah diberlakukan selama lebih dari satu dasawarsa, masalah keamanan merupakan persoalan yang cukup serius di ”Bumi Cenderawasih” ini. Gambaran tentang kondisi keamanan di Papua selama ini adalah ibarat bara dalam sekam.

Kerusuhan dan penembakan misterius bisa terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja tanpa kejelasan pengungkapan kasusnya. Jaminan keamanan terhadap warga di Papua masih jauh panggang dari api.

Hasil jajak pendapat Kompas menguatkan pandangan tersebut. Lebih dari separuh responden yang berdomisili di wilayah Papua menyatakan tidak puas dengan kondisi keamanan di daerahnya saat ini. Ketidakpuasan ini lahir dari kekhawatiran responden terkait sejumlah peristiwa kerusuhan dan penembakan misterius yang terjadi di Papua.

Menurut catatan Kompas, sejak April 2011 hingga Juni 2012 terjadi lima kerusuhan di Papua dengan korban tewas mencapai 27 orang. Kerusuhan itu terjadi di sejumlah wilayah, seperti Abepura di Jayapura, Ilaga di Puncak Jaya, dan Manokwari, Papua Barat.

Sejumlah kerusuhan ini dipicu konflik antar-pendukung politik kandidat kepala daerah dalam pemilihan kepala daerah ataupun penembakan terhadap aktivis organisasi massa oleh polisi. Selain korban jiwa, tak terhitung kerugian material yang harus ditanggung warga lokal.

Beberapa kasus penembakan yang meminta korban jiwa juga terjadi. Sasaran penembakan terkesan acak, mulai dari aparat keamanan, pekerja PT Freeport Indonesia (FI), warga biasa, hingga anggota kelompok separatis. Obyek lain yang juga dipilih sebagai sasaran penembakan adalah fasilitas publik dan alat transportasi, terutama pesawat terbang yang menjadi tulang punggung Papua.

Gambaran tersebut memperlihatkan dua hal, yakni, pertama, otonomi khusus yang diberlakukan di Papua lebih dari satu dasawarsa tak bisa menjamin dipenuhinya hak atas keamanan dan kesejahteraan bagi warga lokal. Kedua, kebijakan otonomi khusus tak bisa mengubah hubungan eksploitatif yang berlaku di Papua.

Dari aspek sumber daya alam, kue ekonomi yang diperebutkan memang luar biasa besar. Dalam situs resminya, PT FI menyatakan, Pemerintah Indonesia menerima manfaat langsung dari eksploitasi perusahaan ini sebesar 1,9 miliar dollar AS pada tahun 2010. Belum terhitung manfaat dari sumber daya alam hutan atau perikanan.

Di sisi lain, kesejahteraan masyarakat Papua tetap terpuruk. Tingkat kemiskinan di Papua mencapai 36,8 persen. Bahkan, Indeks Pembangunan Manusia provinsi ini terus berada di peringkat terendah secara nasional sejak 2005.

Corak hubungan eksploitatif seperti ini mengakibatkan tanah Papua menjadi arena pertarungan terus-menerus untuk memperebutkan kue ekonomi atau politik di antara sejumlah kelompok di dalam negara. Kelompok kepentingan itu mulai dari level pusat hingga lokal, korporasi besar, serta kelompok-kelompok kepentingan lain.

Dalam konteks inilah persoalan keamanan dan kesejahteraan masyarakat Papua seharusnya diletakkan. Jika corak hubungan eksploitatif tersebut tak diubah, bara api dalam sekam dikhawatirkan akan mudah tersulut dan menyala-nyala seperti terjadi selama ini. ●