Tampilkan postingan dengan label Imam Shamsi Ali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imam Shamsi Ali. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Gubernur-Gubernur Luar Biasa

Gubernur-Gubernur Luar Biasa
Imam Shamsi Ali   ;   Presiden Nusantara Foundation
                                                     REPUBLIKA, 06 Maret 2018



                                                           
Saya telah diberikan kesempatan bertemu dengan banyak gubernur. Dari gubernur negara bagian New York yang lalu, George Pataki, Gubernur New York saat ini, Andrew Cuomo, hingga ke banyak gubernur di Indonesia.

Semua tentunya memiliki kelebihan-kelebihannya masing-masing. Baik itu terekspos mau tidak. Ada terekspos dari memang pencitraan, dan itu juga kelebihan bagi sebagian gubernur yang ahli pencitraan. Tapi ada juga yang memang terekspos dengan sendirinya oleh media.

Kehebatan gubernur-gubernur yang akan saya sebutkan ini sangat eksepsional (luar biasa). Semakin mengenal mereka akan semakin terasa keistimewaan itu. Allah Yang Maha Penyayang memberikan “tafdhiil” (kelebihan) kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih.

1. Gubernur yang ustadz. Ustaz yang gubernur.

Saya sudah pertama kali menginjakkan kaki di Bandung disaat masih duduk di bangku kelas 2 SMU (kelas 5 pondok pesantren). Ketika itu saya mewakili Sul-Sel pada kejuaraan silat nasional di Unisba tahun 1986. Saya sempat merebut juara dua kejuaraan nasional Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) ketika itu.

Memori masa itu terulang ketika tiga empat tahun lalu saya mendapat kesempatan berkunjung kembali ke kota bunga itu. Sebuah kunjungan yang istimewa karena salah satunya dberikan penghargaan menyampaikan sharing pengalaman dakwah di Amerika di masjid gubernuran, Gedung Sate.

Sebelum itu kami diterima oleh Gubernur Jawa Barat, Al-Ustadz Dr. Ahmad Herawan. Gubernur yang lebih nyaman disapa dengan Kang Aher ini menerima kami dengan penuh keramahan dan persahabatan. Ikatan hati yang dihiasi keindahan iman itu begitu kuat, sehingga seolah kami sudah sangat lama saling kenal dan bersahabat.

Tulisan ini tidak akan mampu mendeskripsi siapa beliau. Terlalu naif, dan rasanya zholim, jika tulisan sesingkat ini diakui mewakili karakterstik Kang Aher. Beliau adalah sosok yang luar biasa dalam kehidupan yang biasa. Beliau istimewa dalam kesederhanaan. Mungkin jika ketemu dan belum mengenal sebelumnya, akan ada yang kurang percaya kalau beliau seorang pejabat.

Ketawadhuan, kesederhanaan, keramahan, keterbukaan, semuanya menjadi penghias intelektualitas yang terbangun di atas fondari religiositas yang tinggi. Dalam masa sekitar 2-3 tahun ini setiap kali saya hadir di kota Bandung, beliau selalu mengacarakan kuliah subuh bagi jamaah gubernuran.

Yang menarik adalah ketika sang gubernur menyampaikan ceramah, pasti mengalir bagaikan air segar dari mulut beliau ayat-ayat dan hadits. Juga penguasaan beliau tentang sejarah peradaban dunia sangat luas. Dibarengi pula oleh soliditas intelektualitas yang mumpuni. Hal ini menjadikan beliau lebih nampak sebagai da’i ketimbang seorang gubernur yang berhasil.

Walhasil, bagi beliau posisi sebagai gubernur bukan tujuan. Tapi sebagaimana motto hidup seorang aktifis: “nahnu du’aat qabla kulli syae” (kita adalah da’i-da’i dalam segala hal). Maka jabatan bagi seorang Kang Aher adalah hanya satu dari seribu jembatan menuju kemenangan itu.

Satu hal yang istimewa bahwa setiap kali saya ingin mampir ke Jawa Barat, saya langsung mengomunikasikan dengan beliau. Seingat saya beliau selalu saja memberikan jawaban positif: “baik ustadz. Akan saya sesuaikan jadwalnya”.

Beberapa hari lalu saya kembali diberikan kesempatan untuk bersilaturrahim dengan beliau. Kunjungan saya kali ini membawa misi besar bagi kelangsungan dakwah di Amerika Serikat. Yaitu membangun pondok pesantren pertama di Amerika Serikat. Beliau menyambut sangat positif, bahkan tanpa pikir panjang mengambil bahagian penting dari perjuangan itu.

Terima kasih Kang Aher. Terima kasih Jawa Barat. Semoga Kang Aher dan Jawa Barat diberikan kemuliaan yang lebih tinggi lagi, dunia dan akhirat. Amin!

2. Sang hafiz, gubernur termuda negeri ini.

Saya sudah cukup lama mendengar nama beliau.  Bahkan sejak mengenal beliau, baik melalui tulisan atau berita di luar alam sadar saya menumbuhkan kekaguman tersendiri.

Betapa tidak, TGB (Tuan Guru Bajang), demikian beliau digelari, adalah sosok yang multi-dimensi yang membanggakan. Konon juga arti Tuan Guru Bajang itu berarti Tuan Guru Muda. Sebuah penyebutan atau gelar yang memang sesuai dengan realitanya. Beliau muda tapi tidak diragukan lagi akan keilmuan beliau dalam agama. Dan ini menjadikan beliau berada pada posisi Tuan guru.

Sebagaimana Gubernur Jawa Barat, TGB yang terpilih sebagai gubernur NTB ini di saat sangat muda menjadikannya tercatat di MURI sebagai gubernur termuda di Indonesia ketika itu.

Bagi saya pribadi, jabatan adalah karunia yang Allah berikan kepaa siapa yang dipilihnya. “Engkau memberi kerajaan siapa yang Engkau kehendaki”. Dan karenanya posisi beliau sebagai gubernur bukan penilaian pertama dan terutama.

Bagi saya, justeru yang paling menarik adalah bagaimana beliau merupakan personifikasi antara seorang ulama dan umara. Kepemimpinan beliau sangat diilhami oleh jiwa keulamaan. Dan keulamaan beliau terpantul dalam gaya kepemimpinan beliau.

Sosok Gubernur NTB ini sesungguhnya merupakan jawaban terhadap asumsi bahwa agama ketika bersentuhan dengan politik menumbuhkan kediktatoran dalam dua sisi. Kediktatoran politik dan kediktatoran pemikiran.

Ternyata TGB membuktikan bahwa seorang politisi yang beragama akan lebih hebat dan bertanggung jawab. Karena pertanggung jawabannya tidak saja karena alasan demokrasi kepada rakyat. Tapi yang terpenting adalah pertanggung jawaban imani kepada Pencipta alam semesta.

Kepribadian yang tak banyak bicara menggambarkan kedalaman ilmu beliau. Sosok intelektual yang “cool” (menarik), luas, rasional di satu sisi. Tapi sangat tegas dalam memegan kebenaran di sisi lain. Dan kesemua itu dibalut oleh keindahan karakter dan komunikasi yang lembut.

Ketegasan atas kebenaran dan kejujuran itu menjadikan beliau dengan terbuka mengeritik kebijakan pemerintah pusat, khususnya kementerian yang terkait dengan perdaganan dan pertanian, dihadapan presiden negeri ini. Akan tetapi kritikan tajam dan terbuka itu tidak menyakitkan telinga pendengar, tidak juga menjadikan hati manusia mengerang. Karena sekali lagi disampaikan dalam bahasa yang santun, dan dari hati yang ikhlas “lillah” demi kepentingan rakyat.

Bulan Desember lalu Tuan Guru Bajang hadir di Amerika untuk menjadi pembicara di Muktamar IMSA (Indonesian Muslim Society in America). Kehadirannya diterima dengan kegembiraan dan kebahagiaan oleh muktamirin. Maklum, beliau seorang ulama besar, pemegang gelar Doktor di bidang ilmu Alquran.

Tapi tidak kalah pentingnya beliau banyak disebut sebagai wajah pemimpin bangsa ke depan. Apapun tafsiran kata “pemimpin” itu, hanya Allah yang akan membuktikannya. Beliau bukan tipe orang ambisius. Tapi beliau juga bukan tipe orang yang akan melarikan diri dari tanggung jawab itu.

Hanya doa yang kupanjatkan semoga sang gubernur yang tahun ini mengakhiri tugas dua term akan memasuki babak baru dalam tugas dan perjuangannya. Apapun itu, semoga Allah memberikan kemuliaan yang lebih tinggi kepada beliau. Amin!

3. Ahli politik yang santri.

Pada diri seorang Anies Baswedan terdapat ragam keunikan. Saya mengenal beliau sejak menjadi ketua senat mahasiswa di UGM. Tulisan-tulisan beliau, kalau tidak salah, di Panjimas ketika itu menjadi bacaan rutin saya. Dan sejak itu pula saya mengagumi beliau sebagai aktifis yang intelektual dan intelektual yang aktifis.

Pertemuan antara saya dengan beliau kemudian terjadi, bahkan berkali-kali, ketika beliau mengambil studi pasca sarjana di Amerika Serikat. Menyelesaikan Master beliau di salah satu universitas di Washington DC dan PhD beliau di Urbana Illinois. Pertemuan-pertemuan itu semakin memperbesar kekaguman saya kepada beliau.

Kalau di masa lalu saya mengagumi beliau karena pemikiran dan analisanya yang tajam dan cerdik, kini kekaguman itu karena kepribadian dan karakter nyata di depan mata. Kecerdikan dan pemikiran seringkali menjadi hambar dan kurang menarik ketika dibarengi oleh karakter busung dada. Anies Baswedan terbentuk oleh ketajaman akal dan hati. Sosok yang digambarkan dan dipuji sebagai “ulul albab” dalam Alquran.

Sekembali dari Amerika tidaklah mengejutkan jika Anies menempati posisi akademis yang bergengsi. Menjadi rektor Universitas Paramadina di Jakarta. Selanjutnya di masa awal pemerintahan Jokowi, Anies terpilih menjadi salah seorang menterinya. Sayang, kekuatan arus politik internal pemerintahan Jokowi menjadikan beliau diberhentikan.

Kemapanan jiwa dan kedewasaan politiknya menjadikan Anies tidak sama sekal merasa kehilangan dengan pemberhentian itu. Keyakinannya kepada Dia yang mengatur langit dam bumi membawanya kepada kesimpulan bahwa tiada peristiwa yang terjadi, besar atau kecil, kecuali punya makna tersendiri.

Beliau jalani hidup mengikut hempasan ombat taqdir Ilahi. Dan di tengah suasana panas di ibukota itu beliau tampil sebagai alternatif. Kehadiran beliau seolah kiriman kado bagi warga Jakarta yang sudah mulai merasakan kepenatan birokrasi yang kaku dan menyesakkan.

Ketika beliau maju menjadi calon gubernur DKI, tanpa pikir panjang saya pribad mendukung beliau. Beliau sebenarnya diserang dari dua arah; kiri dan kanan. Oleh arah kanan beliau difitnah sebagai syiah. Dari arah kiri sudah pasti beliau dianggap calon gubernur radikal.

Ternyata ketika Allah telah memutuskan sesuatu tak siapapun uang menghalaginya. Beliau terpilih sebagai gubernur untuk semua warga Jakarta. Terpilih dengan hasil di atas rata-rata perkiraan banyak kalangan.

Pasca terpilihnya menjadi gubernur, saya mendapat kehormatan bersilaturrahim dengan beliau di balaikota. Saya sebenarnya tidak ingin mengganggu jadwal beliau. Tapi beliau malah meluangkan waktu bersama kami, selain jumatan juga santap siang bersama.

Saya mengikuti dari dekat langkah-langkah publik beliau. Kebesaran jiwa menghadapi tantangan-tantangan politik menjadikannya semakin dicintai rakyat. Kekuatan iman pula menjadi modal keberanian beliau mengambil kebijakan yang mungkin di mata sebagian kurang populer. Tapi demi agama, DKI dan warganya beliau berani menutup tempat-tempat maksiat.

Mungkin yang paling mengesankan dan membuka mata semua orang adalah ketegasan beliau menentang reklamasi Jakarta. Sebuah proyek besar yang sarat kepentingan dan sangat politis. Tapi yang terpenting tidak berpihak ke rakyat banyak.

Inilah yang menjadikan beliau pastinya dibenci oleh sebagian yang punya kepentingan. Insiden aneh terjadi misalnya di lapangan Bung Karno beberapa waktu lalu. Seorang gubernur, tuan rumah, pemenang pula, tidak perkenankan mendampingi Presiden RI menyerahkan piala di panggung. Hal kecil, tapi dengannya Allah buka tabir kebencian itu.

Doa saya untuk pak Gubernur, semoga dikuatkan, dijaga dan dimudahkan dalam menjalankan amanah warga Jakarta. Maju kotanya, bahagia warganya. Keberhasilan beliau dalam beberapa bulan saja, menjadikan ada pihak-pihak yang dag dig dug...khawatir, dan mungkin merasa terancam.

Akhirnya, pemimpin masa depan bangsa dan negara ini memang masanya dari kalangan muda, cerdik, berwawasan dan visioner, dan tak kalah pentingnya memiliki kepedulian kepada nilai-nilai agama dan moralitas. Dan saya sangat yakin, tiga gubernur yang luar biasa ini menjadi harapan kita semua. Amin!

Rabu, 07 Maret 2018

Blessings in Disguise

Blessings in Disguise
Imam Shamsi Ali  ;   Presiden Nusantara Foundation
                                                  KORAN SINDO, 05 Maret 2018



                                                           
“Mereka berencana, dan Allah berencana. Tapi Allah adalah sebaik-baik perencana” (Al-Quran).

Dalam mengarungi samudra luas perjuangan menghadirkan cahaya Ilahi ke sudut-sudut penjuru  dunia, berbagai gelombang ombak menghalang di tengah samudra luas itu. Gelombang samudra yang menggunung itu kerap kali menjadikan jiwa-jiwa kerdil membangun pesimisme dan putus harapan.

Masih terbayang di hadapan mata, terngiang di telinga suara-suara pesimisme dan kekerdilan itu ketika terjadi 9/11 beberapa tahun silam. Banyak yang beranggapan bahwa peristiwa itu akan menjadi “kuburan” bagi dakwah dan Islam di Amerika dan dunia Barat umumnya. Bahwa Islam telah mati, dan tidak mungkin lagi akan diterima di belahan bumi Allah yang bernama Amerika itu.

Manusia rupanya gagal paham jikalau yang memegang kendali bumi dan langit adalah Pencipta keduanya. Kontrol pergerakan urat nadi alam semesta terkendali ketat di antara jari jemari Yang Maha Qadiir (Kuat, Penentu). Maka persangkaan pesimis itu di balik oleh Yang Maha Kuasa menjadi bangunan optimisme dan harapan setinggi langit.

Peristiwa yang disebut-sebut sebagai kuburan Islam, justeru berbalik menjadi momentum awal kebangkitan dakwah di bumi Amerika. 9/11 dinilai puncak atau klimaks tumbuhnya kesalah pahaman terhadapat Islam, yang mengantar kepada kematian pergerakan dakwah di bumi ini.

Ternyata sangkaan itu berbalik menjadi awal kebangkitan warga Amerika untuk memahami Islam yang sesungguhnya.

Warga Amerika berbondong-bondong mencari tahu apa sesungguhnya Islam itu. Alquran dan buku-buku menjadi bacaan terlaris saat itu. Masjid-masjid dan pusat-pusat agama Islam (Islamic centers) menjadi destinasi kunjungan yang laris. Pemimpin Muslim (imam) menjadi obyek undangan ke mana-mana, termasuk kantor-kantor pemerintahan, rumah-rumah ibadah agama lain, hingga media massa menjelaskan Islam yang sejati.

Mereka mencari, mendalami, memahami dan menghayati, dan akhirnya menemukan Islam yang sejati. Bahkan banyak di antara mereka yang awalnya mencari Islam untuk tujuan negatif.

Masih teringat cerita suzan, warga Philadelphia yang pernah mengambil S2 (Master Degree) di Oxford University Inggris di bidang International Security beberapa tahun silam. Salah satu subjek di bawah departemen itu adalah studi agama-agama dalam hubungannya dengan international terrorism (terorisme internasional).

Suzan saat itu memiliki pemahaman yang sangat buruk mengenai Islam. Bahkan dia benar-benar yakin jika Islam adalah sumber terorisme dunia modern. Maka di kelas agama-agama dunia dan terorisme internasional itu, dia betul-betul menaruh perhatian secara khusus tentang di mana dasar dan arah Islam dalam menyebarkan terorisme dunia.

Diam-diam dia membeli Alquran dan membacanya untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam tentang relasi antara terorisme dan Islam. Ternyata di luar bayangan dia, semakin dia mencari keburukan Alquran, tanpa dia sadari hatinya semakin tersentuh dan tertarik untuk mendalaminya.

Kurang dari dua tahun dia membaca Alquran, bahkan sekembali ke US dan kerja di kota New York, Suzan masih melanjurkan mencari hakikat Alquran itu. Dan menurutnya, yang saya temukan “nothing but jewels” (semuanya mutiara-mutiara).

Suzan akhirnya memeluk Islam di Islamic Center New York, lalu bekerja sebagai sebagai Executive Director di sebuah organisasi nirlaba MCN (Muslim Community Networking) di Kota New York.

Cerita Suzan hanya satu dari sekian fakta terbalik dari logika manusia. Bahwa sebuah peristiwa kelam, bukan berarti selamanya membawa hasil kelam. Justru kobaran api menjadi “penyelamat” (salaaman) bagi Ibrahim AS. Maka 9/11 juga yang dianggap kuburan Islam itu berbalik menjadi momentum kebangkitan Islam di negara ini.

Salah satu pemain (aktor) terpenting dalam proses ini adalah media massa. Tentu bukan sesuatu yang mengejutkan. Dunia kita adalah dunia informasi dan komunikasi. Karenanya media kerap kali menentukan warna dunia. Hitam bisa diputihkan. Dan putih bisa dihitamkan dengan bantuan media.

Banyak kalangan juga yang ternyata ingin menggunakan media untuk semakin menggali (apa yang dianggap) kuburan Islam itu. Islam ditampilkan sebagai “sumber” segala permasalahan dunia. Kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan, pelanggaran HAM dan hak-hak wanita, hingga kepada kekerasan-kekerasan dan terorisme dunia. Di mana ada kekerasan dan teror, di situ Islam berperan. Di mana ada Islam, akan timbul kekerasan dan terorisme.

Media massa, termasuk film-film Hollywood, penuh dengan nuansa itu. Di mana ada pemandangan terorisme dalam sebuah film, atau kekerasan kepada minoritas dan wanita, Islam yang yang ditampilkan. Jelas pengaruhnya nyata dan luar biasa. Warga Amerika menjadikan media, termasuk film-film itu seolah sumber kebenaran. Sementara kitab-kitab suci hanya bacaan seremonial di rumah-rumah ibadah.

Tapi sekali lagi, Allah membolak-balik realita. Berbagai propaganda negatif itu berbalik menjadi positif dengan kuasa Allah.

Beberapa waktu lalu, atas undangan teman saya Russell Simmons, saya memberikan presentasi Islam di Hollywood. Hadir banyak bintang untuk menghormati undangan Russell Simmons, yang lebih dikenal sebagai “hip hop mogul” (raja hip hop).

Ternyata sambutannya luar biasa. Mereka berjanji untuk memainkan peranan mereka secara lebih positif dalam membangun imej positif Islam di dunia perfilman.

Dulu di Amerika untuk menampilkan Islam di media massa begitu berat. Mereka tidak peduli dengan agama, apalagi dengan Islam. Yang mereka akan tampilkan adalah hal-hal sensasi yang mudah dijual (sellable) dan meraut keuntungan (profit).

Kini media memburu komunitas Muslim ingin mencari tahu sumber-sumber Islam yang sesungguhnya.Saya sendiri dengan segala keterbatasan kerap menjadi buruan itu. Bahkan media yang sangat kental anti Islamnya, Fox News misalnya, selalu ingin mengundang saya sebagai narasumber. Hanya saja saya yang membatasi diri karena sadar terkadang media ingin sekadar mencari justifikasi (pembenaran) dari sebuah isu yang disampaikan ke publik.

Tapi intinya adalah Islam menjadi magnet dengan daya tarik tinggi di media massa saat ini. Bagi saya hal ini merupakan “blessing in disguise” di tengah terpaan imej negatif itu. Saya justru ingin media memburu umat ini. Biarkan mereka mengekspose apa dan bagaimana sesungguhnya kehidupan umat ini.

Saya ingin media itu; tv, radio, surat kabar dan majalah, maupun berita online mendatangi rumah-rumah Muslim, kampung Muslim, negara-negara Muslim, dan melaporkan apa dan bagaimana ketika Islam menjadi petunjuk hidup manusia. Dengan Islam itu bagaimana kehidupan pribadi, keluarga, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara umatnya?

Tantangannya kemudian adalah siapkah dan mampukan umat ini menjadi representasi Islam sesungguhnya dengan eksposur media itu? Jangan-jangan kita yang akan menjadi “misrepresentasi” dari  Islam yang sesungguhnya. Pada akhirnya, seperti kata seorang ulama, Islam tersembunyi oleh prilaku umatnya. Semoga tidak!  

Selasa, 20 Februari 2018

Sang Jenderal

Sang Jenderal
Imam Shamsi Ali  ;    Presiden Nusantara Foundation
                                                  REPUBLIKA, 17 Februari 2018



                                                           
Hampir selama sebulan Januari lalu, saya mendapat kesempatan untuk kembali ke Tanah Air tercinta. Sebagai putra bangsa yang telah hidup di luar negeri lebih 31 tahun, sejak memulai kuliah di Pakistan sekitar tahun 1988 hingga saat ini, pulang kampung adalah momen yang selalu menarik dan manis.

Sering saya sampaikan ke teman-teman di Tanah Air bahwa sejauh kaki berjalan, sejauh mata memandang, merah putih tetap eksis di dada ini. Hubbul wathon (cinta Tanah Air)  itu memang bagian dari tabiat (nature) manusia. Nabi pun mengungkapkan itu ke kota kelahirannya: “kalau saja mereka tidak mengusirku keluar darimu, tak bakal kutinggalkan engkau (Makkah)”.

Kepulangan saya kali ini punya makna dan nilai tersendiri. Selain karena saya membawa misi dan mungkin juga sebuah ambisi besar, yaitu rencana membangun pesantren pertama di Amerika, juga berekesempatan bersilaturrahim dengan orang-orang hebat. Mereka adalah anak-anak bangsa yang mungkin tidak salah kalau saya menyebut “pilihan” (the chosen).

Pada kepulangan tiga bulan lalu, saya berkesempatan ketemu dengan orang-orang hebat, di antaranya Wapres Jusuf Kalla, mantan presiden RI Bambang Susilo Yudhoyono, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Komisaris BPK Agus Joko, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, dan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang.

Mereka semua adalah putra-putri terbaik bangsa ini. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, mereka telah menempatkan diri di garda terdepan melakukan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini.

Dalam tulisan bersambung ini akan saya tuliskan pengalaman bertemu dengan sebagain tokoh-tokoh pilihan itu. Tujuannya, hanya agar membiasakan diri mengapresiasi kelebihan dan kontribusi putra putri terbaik bangsa, tanpa tendensi politik apapun.

Sang jenderal, sang pemimpin

 Jenderal Gatot Nurmantyo saya kenal sebagai panglima TNI RI yang merakyat, tawadhu dan intelektual.  Di bawah kepemimpinan beliau TNI menjadi lebih solid dan dekat dengan rakyat. Saya diingatkan masa-masa seorang putra Bone, Sulsel, Jenderal Jusuf memimpin tentara nasional kita saat itu.  Kedekatan antara rakyat dan TNI menjadikan bangsa dan negara semakin kuat.

Keinginan saya untuk bersilaturrahim dengan beliau berawal ketika mendengar bahwa beliau tiba-tiba mengalami “insiden” pelarangan masuk Amerika. Padahal saat itu beliau adalah Panglima TNI dan diundang oleh Panglima militer Amerika Serikat.

Ketika saya mendengar bahwa itu adalah kesalahan administrasi dan keprotokolan Amerika, saya bertanya pada diri sendiri. Sedemikian kacaukah kerja-kerja administrasi dan keprotokoleran Amerika? Sejujurnya kata hati saya menolak jika insiden itu disebabkan oleh kesalahan administrasi.

Saya bahkan curiga jika ada faktor yang lebih besar di balik dari itu. Melalui kebaikan hati seorang teman baik terjadilah pertemuan itu. Awalnya saya merasa kaku, maklum akan ketemu dengan seorang jenderal bintang empat dan menjadi pucuk pimpinan di TNI kita. Seorang tentara apalagi seorang jenderal dengan posisi puncak di TNI pasti sangat disiplin dan berwibawa.

Dalam benak saya suasana pasti akan kaku dan menegangkan. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Saya bersama tiga orang lainnya diterima dengan suasana cair dan akrab. Bahkan suasana keakraban itu semakin terasa dalam diskusi terbuka tentang banyak hal sambil menikmati makan siang dengan masakan Mandi (ala Yaman). Tidak canggung-canggung beliau  sendiri menuangkan makanan di piring kami.

Berbagai tema pun mengalir dalam diskusi kita di siang hari itu. Dari sejarah Nusantara dan Islam, hingga peranan ulama dalam menjaga NKRI, dan banyak lagi.

Tapi, dari semua itu yang paling saya rasakan dari beliau adalah komitmen dan loyalitas yang tinggi kepada bangsa dan negara. Dan uniknya loyalitas itu terbangun di atas komitmen dan kebanggan beliau sebagai seorang Muslim. Sehingga saya menilai jika pada diri beliau ada “melting pot” (titik temu) antara komitmen keagamaan dan loyalitas kebangsaan sekaligus.

Mengenal beliau lebih dekat menjadikan kita semakin tersadarkan betapa bangsa ini memerlukan sosok “pemersatu” dalam keragamannya. Apalagi belakangan ini, terjadi ketegangan-ketegangan antar elemen masyarakat akibat memanasnya suhu politik di tanah air.

Anak-anak bangsa memerlukan sosok yang bisa merangkul semua elemen bangsa dengan hati dan jiwa besar. Dan tampaknya beliau inilah sosok tokoh yang memiliki karakter itu.

Kesimpulan ini tentunya bukan tanpa alasan. Ambillah sebagai misal, di saat-saat tensi meninggi pasca pernyataan Gubernur Ahok yang dianggap melecehkan Alquran. 

Berbeda dengan pejabat lain di negara ini. Pendekatan beliau adalah pendekatan yang merangkul. Pernyataan-penyataan beliau saat itu jelas merangkul pihak-pihak yang kecewa, bahkan pada tingkatan tertentu marah. Pendekatan ini adalah sikap bijak dari seorang jenderal, yang sekaligus menampakkan karakter seorang pemimpin sejati.

Kebijakan-kebijakan beliau selaku panglima TNI itu menjadikan beliau semakin dikenal oleh khalayak ramai. Sehingga banyak yang mengharapkan beliau menyiapkan diri untuk memainkan peranan yang lebih besar di negara ini.

Hal itu pula yang saya tanyakan pada saat pertemuan terakhir. Bahkan saya termasuk salah seorang yang mengharapkan dan mendorong beliau untuk memainkan“peranan lebih besar” itu.

Sungguh mengejutkan jawaban beliau kepada saya: “saya khawatir jika hal itu saya lakukan bukan karena ridho Tuhan, atau bukan untuk kepentingan negara. Tapi karena ambisi dan ego saya”.

Beliau kemudian melanjutkan: “biarkan saya membenahi hati terlebih dahulu. Saya mau nyantri dulu ustaz”.

Belakangan beliau intensif melakukan kunjungan ke tokoh-tokoh agama, khususnya ke pesantren-pesantren. Saya melihat keinginan beliau untuk nyantri bukan basa basi. Tapi sebuah komitmen untuk menata diri, mempersiapkan peranan yang lebih besar itu.

Sejujurnya, di tengah arus globalisasi yang semakin deras, dunia semakin terbuka, menjadikan hampir tiada batas antara manusia dan negara, hanya ada dua kemungkinan di hadapan kita.

Menjadi pemain dan menentukan wajah dunia. Atau menjadi korban-korban keganasan globalisasi dan keterbukaan itu. Dan untuk menjadi pemain dan ikut mewarnai dunia, bangsa dan negara ini memerlukan pemimpin yang berani dan kuat.

Pemimpin yang memiliki kharisma di mata dunia, didengar, dan memiliki kekuatan yang menentukan (decision power). Jika tidak, maka negara akan dilirik setengah hati dan kurang nilai (value). Akhirnya negara dan bangsa besar bagaikan buih yang bergerak mengikut arah hempasan ombak lautan.

Beberapa waktu terakhir ini, beliau menjadi sorotan luas karena pernyataan tentang pemberhentian dirinya dari jabatan tertinggi di TNI. Beliau menyatakan bahwa dirinya tidak dipecat, tapi justeru digantikan dengan orang lain. Beliau bahkan menyampaikan terima kasih kepada presiden, karena penggantian itu  memberikan kesempatan bagi dirinya untuk melakukan introspeksi diri.

Menata kembali hati dan jiwa pengabdiannya, bahwa semua itu beliau lakukan bukan untuk sebuah pamrih dan kepentingan pribadi. Tapi untuk Tuhan dan negara (for God and country).

Beliau dalam menyampaikan pernyataan itu teringat oleh sebuah peristiwa sejarah yang agung dalam perjalanan umat ini. Sejarah Khalifah Umar dan Panglimanya, Khalid bin Walid. Sebagai santri, saya tahu betul  bahwa penyebutan fakta sejarah itu sangat tepat pada tempatnya. Karena sejarah memang untuk ditauladani. Bukan untuk dihafal.

Pernyataan beliau itu ditanggapi sangat positif oleh banyak kalangan. Salah satunya dari seorang tokoh Jaya Supriyana yang menyebut dirinya sebagai pembelajar makna keluhuran budi pekerti. Beliau menuliskan kekaguman itu dalam sebuah tulisan dengan judul “Mencari Keridhoan Allah”. Penyebutan diri Jaya Supriyana sebagai pembelajar makna keluhuran budi pekerti menunjukkan keluhuran budi pekerti sang jenderal.

Yang pasti bagi saya pribadi pernyataan itu adalah ekspresi alami dari sebuah hati dan jiwa yang “down to earth” (tawadhu). Sebuah kejiwaan yang tegar, yang tidak terombang ambing oleh arus pergerakan dunia. Sebuah karakter patriotik sejati dari sang panglima, yang terayomi oleh rasa religiositas yang dalam.

Kalau ada pihak-pihak yang ngeyel, mencari-cari celah untuk menyalahkan, saya yakin hal itu tidak mengganggu kebesaran jiwa beliau. Lebih dari itu saya yakin jika hal ini akan diingat oleh bangsa ini, khususnya umat Islam, bahkan menjadi catatan indah dalam sejarah kebangsaan itu sendiri.

Saya hanya bisa mendoakan semoga sang jenderal diberikan kemuliaan lebih, di dunia dan di akhirat. Semoga dijaga dari berbagai serangan dan terpaan fitnah. Teringat kata-kata beliau: “Begini saja sudah diserang sana-sini. Apalagi kalau menyatakan keinginan untuk berbuat yang lebih besar bagi negara ini”.

Merespon itu saya menyampaikan kepada beliau:  “hidup itu hanya sekali. Dan hidup itu adalah asas manfaat. Bahwa yang terbaik di antara kita adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Setiap orang ada momentum yang tepat untuk memberikan manfaat terbaiknya bagi manusia dan dunia. Dan karenanya Bapak Jenderal, for god and country (untuk Tuhan dan negara) Bapak dituntut untuk melangkah lebih tinggi. Semoga Allah menguatkan”. Amin! ●

Minggu, 04 Februari 2018

Kegalauan itu!

Kegalauan itu!
Imam Shamsi Ali  ;  Presiden Nusantara Foundation
                                                  REPUBLIKA, 03 Februari 2018



                                                           
Akhir-akhir ini, khususnya setelah saya umumkan rencana pendirian pesantren di Amerika dan lumayan viral, banyak yang bertanya-tanya. Kira-kira apa yang sesungguhnya menjadi motivasi utama sehingga saya melakukan proyek yang cukup ambisius ini?

Apakah karena memang Muslim Amerika, khususnya New York, tidak memadai? Ataukah memang karena pesantren diperlukan untuk menghadapi meningginya Islamophobia di Amerika? Atau adakah motivasi atau alasan lain sehingga pendirian pesantren ini dicanangkan?

Jawabannya semua di atas adalah motivasi-motivasi penting dan mendasar. Di kota New York ada sekitar 800 ribu hingga sejuta orang Islam. Artinya ada sekitar 10% Muslim dari keseluruhan penduduk kota New York yang berjumlah sekitar 10 hingga 12 juta itu.

Di NYPD misalnya saat ini ada sekitar 12 ribu anggota kepolisian yang beragama Islam. Di sekolah-sekolah umum (public schools) ada sekitar 120 ribu muridnya yang beragama Islam. Artinya sekitar 13 persen dari keseluruhan murid sekolah-sekolah umum di kota Bew York itu beragama Islam. Wajar jika Idul Fitri dan Idul Adha telah resmi menjadi liburan sekolah di New York City.

Sekolah Islam full time di kota New York saat ini ada 12 sekolah. Belum lagi sekolah-sekolah penghafal Alquran yang meluluskan puluhan hafiz setiap tahunnya.

Di kantor-kantor pemerintahan, mulai dari kantor wali kota, DPRD New York, hingga ke agensi-agensi lainnya, termasuk kantor-kantor kecamatan, selamanya ada staf yang beragama Islam. Minimal staf itu bertugas sebagai “liaison” (penghubung) antara kantor-kantor pemerintahan dan komunitas Muslim.

Bahkan sejak zaman Michael Bloomberg wali kota New York ada dua “commissioner” (anggota kabinet wali kota) yang beragama Islam. Keduanya wanita muda yang pintar. Satu keturunan Palestina dan satu lagi keturunan Iran. Dua negara yang sesungguhnya dianggap tidak bersahabat dengan Amerika.

Kegalauan itu

Sejak saya tiba di kota New York sekitar 21 tahun silam, tepatnya di penghujung tahun 1997, saya sedikit banyaknya telah merasakan kegalauan itu. Di tengah pertumbuhan sekaligus tantangan Islam yang sangat besar, ternyata hampir tidak saya temukan anak bangsa yang berperan di Amerika, bahkan dunia global lainnya.

Di Amerika Serikat sendiri, khususnya kota New York, para pelaku dakwah dan pendidikan Islam didominasi oleh kalangan warga Timur Tengah, Asia Selatan atau IPB (India, Pakistan, Bangladesh), dan tentunya kalangan Africans khususnya Afro American Muslims.

Namun, dalam dekade terakhir saya kemudian menjadi lebih galau ketika menemukan realita bahwa negara dan bangsa ini belum sepopuler, bahkan dengan sesama negara ASEAN saja, seperti Thailand, Singapura, Malaysia, Vietnam, bahkan Kamboja.

Ambillah sebagai misal di dunia kulinari. Setiap ada orang asing ke Indonesia akan jatuh hati dengan makanan-makanan Indonesia. Bukan satu dua macam. Tapi, dari sabang sampai marauke makanan-makanan itu dahsyat kelezatannya.

Tapi, dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia misanya, di luar negeri restoran-restoran Indonesia hampir tidak ada apa-apanya. Di kota New York misalnya restoran-restoran Vietnam bahkan jauh lebih banyak dan populer.

Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika Indonesia relatif tidak dikenal sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia. Seringkali justru yang disangka negara Muslim terbesar dunia adalah Mesir, Iran, bahkan Saudi Arabia.

Sebagai ilustrasi, saya sampaikan kejadian-kejadian lucu di beberapa kesempatan. Misalnya saya pernah diundang memberikan presentasi Islam di sebuah universitas Amerika. Ketika saya kenalkan diri bahwa saya datang dari Indonesia, tidak banyak yang antusias. Tapi ketika saya menyebut kata Bali, semua seolah bersemangat karena mengenal Bali dengan baik. Artinya, seolah Indonesia itu hanya bagian dari Bali.

Di sebuah kesempatan lain saya mengenalkan diri sebagai warga negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia. Tiba-tiba ada yang menyelah: “are you from Egypt” (kamu dari Mesir)? Ada pula yang pernah berkata: “oh are you a Saudi” (kamu orang Saudi)?

Bahkan suatu ketika saya mengenalkan negara Muslim terbesar itu ada di Asia Tenggara. Ada pula yang berkata: “are you from Malaysia” (kamu dari Malaysia)?

Kegalauan demi kegalauan itu terus menghantui selama kurang lebih dua dekade terakhir. Tapi, rasanya tidak mampu berbuat apa-apa untuk membuktikan bahwa Indonesia itu negara hebat, besar, dan seharusnya dikagumi oleh dunia. Bahwa Indonesia itu punya sejarah besar, memiliki luas daratan dan lautan yang luar biasa luas dan kaya. Negara berpenduduk terbesar keempat dan demokrasi ketiga dunia.

Tapi, dari semua itu Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia. Kalau saja seluruh saudara-saudara Arab kita satukan, Muslim Indonesia masihlah lebih besar jumlahnya dari mereka.

Di kalangan umat Islam sendiri memang masih ada stigma yang mengatakan bahwa menjadi Muslim dengan latar belakang tertentu, ambillah Arab misalnya, pasti lebih hebat. Sehingga jika ekspresi keislaman kita tidak sama dengan mereka maka keislaman itu kurang afdhol. Baju koko atau batik dan songkok tidak semulia dengan baju orang Arab juga atau “shalwar gamiz” orang India Pakistan.

Pekerjaan atau tugas saya sebagai Imam selama 21 tahun di Amerika juga belum mengurangi stigma seperti itu. Seolah bangsa ini kurang layak menjadi pemimpin di dunia global. Sebuah realita yang kontras dengan masa lalu bangsa ini.

Dulu bangsa ini mengekspor ulama-ulama ke luar negeri. Siapa yang tidak kenal dengan Syeikh Yusuf Al-Makassary misalnya? Atau ulama-ulama besar dari Palembang yang menjadi imam-imam di tanah Haram?

Dulu bangsa ini mengekspor guru-guru agama ke Malaysia. Kini bangsa ini banyak yang ke Malaysia untuk menuntut ilmu agama.

Semua bentuk kegalauan di atas itulah yang mendorong saya untuk mengambil langkah berambisi ini. Sebuah langkah yang betul-betul dimulai dengan mimpi, dibarengi oleh niat suci dan usaha maksimal.

Harapan saya memang semoga bangsa Indonesia, baik masyarakat luas maupun pemerintah menangkap peluang ini. Saya menyebutnya peluang sebab inilah kesempatan baik untuk mengenalkan Indonesia, tidak saja dengan keindahan alamnya. Tapi, tidak kalah pentingnya juga mengenalkan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dunia.

Dan bukan sekedar terbesar di dunia. Tapi, Muslim dengan karakter kemanusiaan yang kontra dengan stigma tentang Islam yang keras, antidemokrasi, anti HAM, terbelakang, serta mengedepankan permusuhan.

Maka, insya Allah dengan pesantren ini kita akan kenalkan Islam yang dipahami, diyakini dan dipraktikkan di Indonesia. Yaitu Islam teduh, damai, bersahabat, menghormati kebebasan, HAM, merangkul demokrasi dan modernitas, serta mengedepankan dialog dan kerjasama dengan semua manusia.

Sebagai putra bangsa, saya bermimpi suatu saat pesantren ini akan dicatat sebagai kontribusi nyata Indonesia ke dakwah global dan dunia. Amin!

Jumat, 02 Februari 2018

Bahaya Pernyataan Divisive

Bahaya Pernyataan Divisive
Imam Shamsi Ali ;  Presiden Nusantara Foundation
                                                KORAN SINDO, 01 Februari 2018



                                                           
DALAM sebuah sabdanya, Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan: “Barangsiapa yang bisa mengontrol lidahnya surga dijamin baginya”. Pernyataan Baginda Rasulullah SAW itu sangat mendasar, khususnya dalam konteks hubungan antarmanusia, dan lebih khusus lagi ketika hubungan itu berkaitan dengan publik kemasyarakatan.

Kata pepatah: “lidahmu harimaumu”. Lidah bisa menjadi kunci perdamaian dunia. Tapi lidah juga bisa menjadi pemicu peperangan antarmanusia.

Peranan lidah yang krusial dalam kehidupan manusia itu menjadikannya salah satu objek yang dipakai sebagai sumpah Allah dalam Alquran. Sebagaimana difirmankan: “wa lisaanan wa syafataen” (demi lisan dan kedua bibir).

Oleh karenanya setiap kata yang terucap oleh lisan atau lidah terjaga ketat oleh dua malaikat. Sebagaimana firman-Nya: “dan tidaklah terucap sebuah kata kecuali ada malaikat Raqib dan Atid (mencatatnya)".

Sedemikian sensitifnya ucapan atau kata-kata sehingga mewakili seluruh perilaku manusia. Karena sesungguhnya yang dicatat oleh kedua malaikat Raqib dan Atid itu adalah seluruh perilaku manusia, baik dalam kata maupun dalam aksi.

Ucapan Tokoh

Di sinilah pentingnya kita saling mengingatkan untuk menjaga lisan atau kata. Apalagi jika kata itu dalam bentuk pernyataan seorang tokoh, baik tokoh agama maupun tokoh politik. Karena pernyataan seorang tokoh itu sangat sensitif dan akan berdampak luas kepada khalayak publik.

Seorang tokoh seharusnya bijak dalam berkata dan berperilaku. Sebab kata dan perilakunya akan menjadi panutan di satu sisi, dan akan cepat mendapat penilaian publik di sisi lain. Apakah itu positif atau sebaliknya negatif.

Yang paling berbahaya adalah ketika pernyataan publik itu terlontar dari seorang tokoh nasional, dan mengarah kepada pernyataan divisive.

Ambillah sebagai contoh ketika seorang tokoh mengatakan bahwa di negara Indonesia ini hanya orang-orang Islam yang tergabung dalam dua organisasi yang dianggap loyal kepada negara, yaitu warga Muhammadiyah dan warga NU. Dan karenanya kerja sama dan dukungan pemerintah hanya ditujukan kepada kedua organisasi ini.

Semakin runyam ketika ditambah dengan penekanan bahwa selain kedua organisasi ini tidak loyal dan cenderung melakukan makar kepada negara. Dan karenanya harus diamati dan diawasi.

Di negara ini ada 200 juta lebih umat Islam. Sementara yang tergabung dalam dua organisasi besar itu hanya sekitar 70 juta umat. Lalu apakah 130-an juta anggota umat di negara ini tidak loyal dan berbahaya kepada negara?

Jelas pernyataan ini sangat tidak sensitif dan tidak realistis. Bahkan boleh jadi menjadi pernyataan divisive yang membawa kepada perpecahan dan permusuhah di antara elemen-elemen bangsa.

Pernyataan seperti itu jelas membangkitkan kecurigaan di antara elemen-elemen bangsa, khususnya dalam tubuh umat Islam. Sebab selain Muhammadiyah dan NU, akan merasa dianaktirikan dan dikucilkan, bahkan dianggap berbahaya dan tidak loyal kepada negara.

Pernyataan ini juga sekaligus merendahkan nilai ukhuwah dan kesatuan umat. Seolah umat ini dalam menyikapi negara saling berlawanan. Ada yang loyal dan tidak sedikit pula yang berbahaya kepada negara.

Umat Islam sadar akan keragaman yang ada dalam tubuh umat. Baik itu keragaman pemikiran dan pemahaman keagamaan, maupun keragaman dalam organisasi sosial kemasyarakatan. Tapi satu hal yang secara mendasar dipahami oleh umat ini adalah bahwa semuanya bersatu dan ber-ukhuwah dalam membangun loyalitas kepada agama dan negara.

Loyalitas dan kecintaan umat Islam tidak terpilah-pilah dan tersekat-sekat di antara kompartmen agama dan negara. Sebab umat jugalah dalam sejarah merebut kemerdekaan, mempertahankannya, hingga kepada membangun dan mengisi kemerdekaan berada di garda terdepan.

Ambillah sebagai misal perumusan Pancasila dan UUD 45 melibatkan ulama-ulama besar, baik dari kalangan Muhammadiyah, NU dan elemen-elemen umat lainnya. Dan karenanya merupakan sebuah blunder jika menyatakan bahwa mayoritas umat ini tidak loyal kepada negara, Pancasila, UUD 45 dan NKRI. Khawatirnya pernyataan ini ditangkap oleh umat sebagai bentuk kriminalisasi umat. Semoga tidak!  ●