|
Kuasa Rakyat
Menentukan Pemimpinnya
Puti Guntur Soekarno ; Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI
Perjuangan
|
MEDIA
INDONESIA, 30 Oktober 2012
|
BANYAK hikmah dan kebijaksanaan bisa dipetik
dari perjalan an proses demokrasi di Indonesia. Terutama, demokrasi
memberikan ruang belajar bagi rakyat. Negara demokratis menjadi kuat jika ada
kemampuan mengambil pelajaran hikmah dan kebijaksanaan dari apa yang terjadi.
Itulah fungsi pendidikan politik yang terbuka bagi kuasa rakyat. Itulah
bagian dari kedewasaan politik yang dibutuhkan dalam proses demokratisasi.
Kedewasaan politik semacam itu yang saya nilai sebagai sebuah kecerdasan
publik.
Kedewasaan publik dalam berdemokrasi, salah
satunya, tampak dalam kesadaran rakyat untuk menentukan pemimpinnya.
Kemampuan memilih pemimpin publik berdasarkan pertimbangan adanya karya
politik pemimpin sangat menunjukkan itu semua. Kuasa dalam memilih pemimpin
didasarkan pada karya politik yang bervisi kerakyatan dan kebangsaan. Itu
tentu baik untuk demokratisasi di Indonesia ke depan.
Karya Politik
Karya bagi seorang pelukis adalah lukisan,
karya bagi seorang arsitek adalah lanskap dan bangunan, karya bagi seorang penari
adalah kreasi tari, karya bagi seorang musikus adalah mementaskan musik atau
mencipta tembang dan lagu. Bangsa Indonesia sejak dahulu memiliki karya yang
bagus. Para empu menghasilkan keris yang hingga saat ini pun keberadaannya
diakui sebagai warisan budaya dunia oleh PBB.
Bagi seorang pemimpin politik, tentunya karya
politiknya adalah tindakan dan kebijakan yang juga sangat dibutuhkan.
Patut disyukuri, demokrasi kita hari ini dalam
politik masih menyisakan ruang dialog bagi masyarakat untuk dapat memilah
siapa pemimpin yang akan dipilihnya. Siapakah pemimpin yang memiliki karya.
Siapakah pemimpin yang memang memihak kepentingan rakyat banyak. Itulah
kedewasaan politik yang berharga.
Kita saksikan bagaimana peranan pers nasional
menjadi bagian yang sangat penting dalam memublikasikan karya p politik
seorang pemimpin. Mis salnya saja yang ramai akhirakhir ini ialah pemberitaan
mengenai Gubernur DKI Jakarta yang baru, yaitu Joko Widodo. Ada pernyataannya
yang saya catat, “Saya ingin tahu kesulitannya menyelesaikan masalah itu
(penggusuran), ternyata tidak ada kesulitannya. Masalahnya hanya komunikasi
dengan warga saja, melakukan pendekatan individu. Ini sudah berpuluh-puluh
tahun tidak diselesaikan.“
Pendekatan pribadi Jokowi yang persuasif mampu
menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan kebijakan pemerintah dengan dukungan
dari warganya. Itulah hikmah yang bisa diambil. Dalam era demokrasi, ketika
watak partisipatoris dikerjakan dan musyawarah untuk mufakat benar-benar
diterapkan, ternyata respons masyarakat Indonesia begitu besar. Itulah hal
positif yang dapat kita ambil sebagai hikmah kebijaksanaan. Karya politik
dalam kebijakan dan tindakan pemimpin politik sangatlah penting, terutama
jika semua itu didasarkan pada visi kerakyatan yang kuat.
Visi Kerakyatan
Watak `kerakyatan' sesungguhnya menjadi dasar
penting yang menjadi bintang penunjuk arah bagi seorang pemimpin. Pemerintah
ialah alat kekuasaan dan dasar negaralah yang menyedia kan seperangkat nilai
dasar yang menjadi kewajiban bagi pemimpin untuk menjalankannya agar
pemerintahan berjalan sesuai dengan amanat penderitaan rakyat. Tidak hanya
secara moral dan etika.
Lebih dari itu, harus dikerjakan dalam praktik
kekuasaan di mana pun tingkatannya. Kita sebagai bagian dari bangsa dan
negara Indonesia dapat memberikan sumbangsih yang dapat kita berikan kepada
negara. Sekecil apa pun, ketika itu membawa manfaat bagi rakyat, tidak akan
ada kesiasiaan dalam perjuangan.
Kedewasaan politik rakyat akan terlihat dalam
kemampuannya menentukan siapa pemimpinnya. Sering kali pemimpin adalah
cerminan dari kehendak dan apa yang terjadi pada masyarakatnya. Untuk itu,
pentingnya pendidikan politik terus dilakukan haruslah disadari agar
masyarakat mendapatkan pemimpin yang bisa mengemban amanah penderitaannya.
Banyak yang dapat diteladani dari para
pemimpin rakyat. Panglima Besar Jenderal Soedirman, misalnya, harus
bergerilya dalam keadaan sakit-sakitan. Bung Karno membuat kebijakan reforma
agraria dan peraturan bagi hasil untuk pertambangan demi melindungi ekonomi
nasional. Di negara lain, Aung San Suu Kyi berjuang gigih bersama anak-anak
muda dan rakyat Burma (Myanmar) untuk menolak junta militer dan
memperjuangkan kehidupan demokratis bagi rakyat.
Evo Morales di Bolivia menggugat hegemoni
liberalisme. Watak kerakyatan itu sangatlah penting, sebab dapat menyatukan
banyak orang dengan asal usul, keyakinan, dan agama berbeda untuk menjadi
bagian dari kekuatan baru. Rakyat bukan hanya menjadi sebuah konsep abstrak
yang sering dilontarkan para elite di panggung tanpa persentuhan dan
kehadiran jiwa mereka di dalam perbuatan pemimpin. Rakyat Indonesia dari
ujung paling barat sampai timur kepulauan Indonesia dapat dipastikan sangat
merindukan seorang pemimpin yang mau mendengar kehidupan mereka. Mengerti,
dan sekaligus merasakan jiwa mereka yang semakin terpinggirkan dalam
kehidupan demokrasi yang menempatkan uang di atas segalanya saat ini.
Sebuah harapan lama tentang keadilan yang
hilang dalam arus demokrasi di Indonesia saat ini menjadi lahan yang menanti
bagi keterlibatan anak-anak muda dan generasi masa depan Indonesia untuk
terjun di dalam kancah perjuangan. Setiap manusia dilahirkan untuk menjadi
pemimpin. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar dan bangsa pemimpin.
Suara dan antusiasme rakyat menjadi harapan
tersendiri bagi perubahan. Rakyat mem butuhkan keadilan dan seorang pemimpin
yang mampu mewujudkan visi kerakyatan dalam karya politiknya akan mampu
menciptakan keadilan itu. Kemenangan perjuangan rakyat merupakan kristalisasi
perjuangan rakyat itu sendiri. Kuasa rakyat menentukan pemimpin dapat menjadi
peluang bagi anak-anak muda bangsa Indonesia yang sanggup melangkah maju dan
berbuat layaknya seorang pemimpin.
Menjadi penting tentunya untuk melembagakan
hal itu dalam kebijakan dan sistem rekrutmen kepemimpinan ke depan demi
kemajuan dan kejayaan bangsa Indonesia. Bangsa kita perlu mengader
sebanyak-banyaknya calon pemimpin masa depan. Sudah cukup lama kita terpuruk.
Bangkitlah sebagai satu bangsa yang kuat. Berdirilah di atas kedua kaki
sendiri. Bersatu dan berjuang
bersama rakyat rasanya harus dikerjakan putra-putri bangsa Indonesia. Think
and rethinking juga shape and reshaping, ambillah hikmah dari apa yang
terjadi. Jangan sampai dosa sejarah terbebankan kepada generasi kita karena
ketidakmampuan menyelamatkan dan meneruskan perjuangan untuk kejayaan bangsa
Indonesia. Kembali kepada rakyat, sebab kuasa rakyatlah yang menentukan
pemimpinnya. ●
|