Tampilkan postingan dengan label Trias Kuncahyono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trias Kuncahyono. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Agustus 2021

 

Afghanistan, Neo-Taliban, Indonesia

Trias Kuncahyono ;  Wartawan Senior

KOMPAS, 20 Agustus 2021

 

 

                                                           

Sejarah berulang di Afghanistan. Ibu kota Kabul, untuk kedua kalinya, jatuh ke tangan kelompok Taliban, hari Jumat (13/8/2021).

 

Pada 26 September 1996, kelompok oposisi bersenjata ini, merebut Kabul. Ketika itu, mereka menyingkirkan Presiden Burhanuddin Rabbani; sebelumnya mereka menggantung Presiden Mohammad Najibullah yang dicap sebagai bonekanya Uni Soviet.

 

Proses kejatuhan Kabul, beberapa hari lalu seperti mengulang yang terjadi pada 1996. Sebelum merebut Kabul, kelompok fundamentalis ini menguasai Kandahar. Dari Kandahar mereka bergerak ke utara merebut Kabul. Sekarang pun demikian. Jatuhnya Kabul, memaksa Presiden Ashraf Ghani meninggalkan Afghanistan mencari selamat. Dulu setelah merebut Kabul mereka memberi nama baru Afghanistan yakni Emirat Islam Afganistan. Demikian pula kini.

 

Setidaknya ada empat hal yang “mempermudah” Taliban merebut kembali Kabul. Pertama, pemerintah Karzai dan kemudian juga Ashraf Ghani dianggap tak efektif, tak mampu meningkatkan kualitas hidup, tak mampu menjamin keamanan bila tanpa bantuan AS dan NATO. Pemerintah Afghanistan digerogoti korupsi akut. Dalam Corruption Perceptions Index 2020, Afghanistan peringkat 165 dari 180 negara dengan skor 19.

 

Kedua, keputusan AS dan NATO penopang utama keamanan, menarik pasukan dari Afganistan. Pasukan AS secara penuh akan ditarik pada 11 September 2021. Ketiga, digelarnya perundingan perdamaian dengan AS, menjadi semacam alasan bagi Taliban memandang diri mereka sendiri dan AS sebagai pemegang kekuasaan riil di Afganistan. Apalagi, Taliban selalu mempertanyakan legitimasi dan kredibilitas pemerintah Kabul yang dibentuk dan dikontrol kekuatan asing (Felix Kuehn, 2018). Dengan kata lain, Taliban tidak menganggap pemerintah Kabul.

 

Keempat, lahirnya “generasi baru” Taliban atau yang sering disebut “neo-Taliban” pada 2002, yang berbeda dengan “Taliban lama” (1994-2001). Mereka melakukan adaptasi taktis dan strategis. Ideologi mereka pun mengalami evolusi. Mereka berusaha memoderasi kebijakannya dan menjadikan diri mereka sebagai gerakan kemerdekaan arus utama (Alia Brahimi; 2010).

 

Pertanyaannya, apa setelah menguasai Kabul dan mendirikan pemerintahan baru, mereka akan menerapkan kebijakan berdasarkan agama dengan sangat keras, kaku, dan ketat serta bertekad menyebarkan ideologinya ke seluruh Timur Tengah dan kawasan lain?

 

Dulu ketika berkuasa, Taliban melarang musik, televisi, radio, games, bentuk-bentuk hiburan lain. Mereka melarang wanita bekerja di luar rumah, melarang anak-anak perempuan bersekolah dan menutup sekolah, melarang kaum wanita keluar rumah kecuali ditemani oleh suami, ayah, saudara laki-laki, atau anak laki-laki. Di depan umum, wanita harus menutup seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki. Ini pengaruh Wahabisme, bukan adat Afganistan (Barfield, Thomas, 2008).

 

Para lelaki harus mengenakan turban, berjanggut panjang, rambut pendek, dan mengenakan pakaian tradisional shalwar kameez. Bila tak menaati dihukum. Taliban mengklaim bisa memulihkan perdamaian dan keamanan di Afghanistan setelah pendudukan Uni Soviet dan perang saudara, melalui penerapan hukum syariah yang ketat.

 

 “Neo-Taliban”

 

Taliban—bahasa Pashto, yang berarti murid atau siswa—muncul tahun 1980-an dalam bentuk front gerilyawan Taliban. Mereka bergabung dengan partai Mujahidin, Harakat-i Enqelab-i Islami (Gerakan Revolusi Islam) melawan pasukan pendudukan Uni Soviet (1979-1989). Tahun 1992 terlibat perang saudara (Antonio Giustozzi, 2011).

 

Dengan menggunakan nama Taliban (jamak dari talib) mereka ingin mengambil jarak dari politik Mujahidin dan mengisyaratkan mereka adalah gerakan untuk membersihkan masyarakat dan bukannya partai yang hanya mencari kekuasaan. Maka, tujuan didirikannya Taliban adalah untuk memulihkan perdamaian, menegakkan hukum syariah, dan mempertahankan karakter Islam Afganistan (Andrew R Smith, 2011).

 

Tetapi, kenyataannya pada November 1994, mereka menjadi gerakan fundamentalis dan muncul sebagai kekuatan politik dan militer. Mereka tak lagi menggunakan taktik gerilya, melainkan menjadi pasukan semi-reguler untuk melakukan pertempuran konvensional.

 

Gerakan ini beranggotakan para siswa, pemuda pedesaan etnis Pashtun (di Afghanistan Selatan dan Barat), berpendidikan rendah, miskin, yang sebagian besar direkrut dari kamp-kamp pengungsi dan sekolah agama, madrasah di Pakistan (Maryam Jami, 2020). Kelahiran kelompok ini mendapat dukungan Pakistan, yang berusaha mengamankan rute perdagangan ke Asia Tengah.

 

Setelah merebut Kabul (1996) mereka berkuasa hingga disingkirkan AS pada 2001. Meski kekuasaannya diruntuhkan AS, lewat Operation Enduring Freedom, mereka tak mati, hanya kehilangan kekuasaan. Mereka yang sebagian besar berasal dari suku Pashtun, dengan mudah menyelamatkan diri, karena mendiami dua wilayah sekaligus: Afghanistan dan wilayah barat-laut Pakistan.

 

Maka, ketika tersingkir dari Afghanistan, kelompok militan garis keras Taliban masuk ke kawasan Pegunungan Hindu Kush dan wilayah suku-suku di North Western Frontier Province (NWFP) Pakistan; sementara yang moderat bergabung dengan masyarakat hanya dengan memotong janggut dan tak lagi berjubah panjang (Shehzad H Qazi, 2011). Tetapi, pelan-pelan mereka berkumpul kembali dan mengonsolidasikan kekuatan di perbatasan Pakistan.

 

Mereka benar-benar menjadi “musuh dalam selimut.” Gerakan Taliban yang dimulai di Pakistan pada 2002 inilah, yang menjelma menjadi “neo-Taliban.” Mereka banyak berasal dari kelompok dan suku lokal Pakistan dari Federally Administered Tribal Areas (FATA).

 

Dengan pengecualian beberapa pemimpin kunci, sebagian besar “Taliban lama” awalnya tak bergabung dengan gerakan ini. Namun, kemudian bergabung kembali setelah usaha mereka bergabung dengan pemerintah Karzai tak dipedulikan.

 

Yang membedakan dengan “Taliban lama” adalah kelompok baru ini berasal dari unsur yang beragam, tak hanya “sisa-sisa laskar Taliban.” Mereka merekrut sekutu secara nasional. Dengan demikian, mereka menerima siapa saja yang memiliki pandangan sama terhadap pasukan pendudukan, pemerintah Kabul, dan mematuhi aturan yang telah ditetapkan, tanpa memandang etnis dan suku, tak harus etnis Pashtun.

 

Karena itu, anggota “neo-Taliban” ini berasal dari grup-grup lokal, partai-partai politik, grup-grup jihad, komponen-komponen suku berbeda-beda. Maka Thomas Ruttig (2010) menyebut “secara organisasi, Taliban adalah jaringan dari jaringan.” Dalam rumusan lain, dapat dikatakan, “neo-Taliban” tidak lain adalah gerakan monolitik dan bersatu. Mereka bukanlah kelompok yang bersatu dengan satu visi untuk Afghanistan, tidak seperti Taliban tahun 1990-an.

 

Strategi perjuangan “neo-Taliban” pun meninggalkan strategi lama yang hanya mengandalkan pada kekuatan senjata. Mereka telah mengembangkan apa yang disebut sebagai “perang generasi keempat.” “Peperangan generasi keempat 'menggunakan semua jaringan yang tersedia—politik, ekonomi, sosial, dan militer. Itulah mengapa mereka mau, antara lain, berunding dengan AS.

 

Mereka memperbaharui taktik dan strategi perjuangan. Misalnya, membuat “outlet media yang canggih, yang memproduksi ribuan DVD dan rekaman-rekaman inspirasi. Taliban juga menggunakan situs web, stasiun radio FM dan email, serta para juru bicara mereka pun melayani wawancara dengan wartawan di Pakistan” (Andrew R Smith, 2011). Suatu hal yang ditabukan di masa lalu.

 

Yang juga membedakan dengan “Taliban lama” adalah sifat ideologis “neo-Taliban” dualistik, menampilkan struktur organisasi vertikal dalam bentuk supra-tribal dan supraetnik, Islamis, dan nasionalis. Namun, struktur horizontalnya tetap ditentukan oleh jaringan yang berakar pada masyarakat suku Pashtun. Mereka, “neo-Taliban” inilah yang beberapa hari silam merebut Kabul dan mendepak pemerintah lama dan mendirikan Emirat Islam Afghanistan.

 

Perlu diwaspadai

 

Keluwesannya—termasuk memperbaharui taktik dan strategi, serta memperluas komponen organisasi—menjadi faktor keberhasilan mereka merebut Kabul. Karena itu, perubahan taktik dan strategi dalam perjuangannya—menggunakan segala cara dan sarana termasuk teknologi komunikasi dan informasi modern— mesti diwaspadai termasuk oleh Pemerintah Indonesia. Sebab, seperti NIIS dulu yang menggunakan teknologi komunikasi dan informasi modern untuk menyebarkan ajaran, ideologi, propaganda, juga rekrutmennya.

 

Dengan teknologi komunikasi dan informasi modern sekarang ini, mereka bisa dengan mudah menyebarkan fundamentalisme, ekstremisme dan talibanismenya ke mana saja, termasuk ke Indonesia yang sebagian masyarakatnya masih mudah terpukau oleh hal-hal yang berbau atau dibungkus agama. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/baca/opini/2021/08/20/afganistan-neo-taliban-indonesia/

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 16 Juli 2021

 

Semua Jalan Menuju ke Roma

Trias Kuncahyono ;  Penikmat Sepak Bola

KOMPAS, 14 Juli 2021

 

 

                                                           

Benar apa yang dikatakan Karl Marx, sejarah selalu mengulang dirinya sendiri, baik itu sebagai tragedi maupun lelucon. Kekalahan Inggris dari Italia pada adu penalti, Senin (12/7/2021) dini hari WIB adalah pengulangan tragedi bersejarah di Stadion Wembley, London, Inggris.

 

Di Wembley, 55 tahun silam, Inggris memenangi Piala Dunia 1966 dengan mengalahkan Jerman. Sejak saat itu, Inggris berusaha keras untuk mengulangi sejarah gemilang di Wembley. Kesempatan itu terjadi pada final Piala Eropa 2020. Namun, seperti kata Marx, sejarah itu berulang sebagai tragedi. Inggris lagi-lagi kalah lewat adu penalti. Hal itu mengulangi semifinal Piala Eropa 1996 di Wembley. Saat itu, Inggris kalah dalam adu penalti melawan Jerman.

 

Sejarah itu berulang tidak hanya sebagai tragedi, tetapi juga lelucon. Semboyan dan nyanyian mereka, ”It's Coming Home” dan ”Football’s Coming Home”, yang merujuk pada sejarah awal sepak bola, yakni di Inggris, pun diplesetkan Leonardo Bonucci. Di depan kamera televisi, bek tengah Italia itu berteriak, ”It's coming to Rome! It's coming to Rome!". Bahkan, koran Jerman, Süddeutsche Zeitung, mengamplifikasi pernyataan Bonucci itu.

 

Sejarah memang selalu bertindak sesuai logikanya sendiri : tidak mau diatur-atur. Meski demikian, historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan. Sejarah jadi guru kehidupan bagi Bukayo Saka (19), penyerang Inggris yang menangis setelah bola tendangan penaltinya ditepis kiper Italia, Gianluigi Donnarumma (22). Padahal, penalti itu semestinya menjadi penyelamat Inggris.

 

Sejarah juga menjadi pelajaran bagi Jadon Sancho (21) dan Marcus Rashford (23) yang juga gagal mengeksekusi penalti dengan sempurna. Mereka pun dihibur Gareth Southgate, pelatih Inggris yang tahu betul rasanya kekecewaan gagal menendang penalti pada Piala Eropa 1996 silam.

 

Pelita dari kegelapan

 

Sebaliknya, bagi rakyat Italia, kemenangan itu bagaikan pelita yang membawa negerinya keluar dari kegelapan malam setelah selama 18 bulan dikuasai pandemi Covid-19. Mereka seperti melihat cahaya yang begitu indah, cermerlang, meskipun pandemi belum sepenuhnya berlalu. Sejak awal 2020 lalu hingga Selasa (13/7), total kasus positif Covid-19 di Italia mencapai 4,27 juta jiwa. Mengacu Worldometers, jumlah yang tewas mencapai 127.788 jiwa.

 

Mereka merasa kemenangan di Piala Eropa 2020 lebih dari sekadar kejayaan tim sepak bola. Kemenangan itu adalah mimpi yang menjadi kenyataan, setelah tahun mimpi buruk dan penantian panjang, 53 tahun, akan trofi Piala Eropa kedua mereka.

 

Roberto Mancini, pelatih kesebelasan Italia, disebut-sebut sebagai pembawa pelita di tengah kegelapan dunia sepak bola Italia di tataran internasional. Ia telah membawa sepak bola Italia memasuki zaman renaisans. Mancini lah yang telah melahirkan kembali sepak bola Italia.

 

Negara yang sudah memenangi empat trofi Piala Dunia itu tersingkir di fase grup Piala Dunia 2010 dan 2014. Di antara dua kegagalan itu, Italia juga kalah dalam final Piala Eropa 2012. Dan, titik nadir persepakbolaan Italia terjadi pada November 2017, yaitu pada playoff kualifikasi Piala Dunia 2018.

 

Karena dikalahkan Swedia saat itu, ”Gli Azzurri” tidak ikut merasakan pesta Piala Dunia di Rusia 2018. Kegagalan itu kali pertama terjadi sejak 1958. Karena itu, keberhasilan mereka memboyong Piala Eropa benar-benar dirasakan sebagai kemenangan yang luar biasa.

 

Mancini lah yang ”mengangkat” tim Italia dari lembah penderitaan. Ia dengan cepat memulihkan reputasi Azzurri. Perjalanan ke Wembley, puncak Piala Eropa, lancar. Dari laga awal, mereka tak pernah kalah. Bahkan, mereka tidak terkalahkan di 34 laga beruntun sejak 2018.

 

Lantas, ketika akhirnya anak asuhan Mancini membawa Piala Eropa kembali ke Roma, koran olah raga terkemuka di Italia, Corriere dello Sport, mengirim pesan khusus lewat Twitter kepada tim Italia. ”Non tutte le stelle vengono dal cielo. Grazie Azzurri! (Tidak semua bintang datang dari langit. Terima kasih Azzurri),” bunyi pesan itu.

 

La Repubblica, harian terkemuka lainnya di Italia, menggambarkan Mancini sebagai orang yang menghidupkan kembali Azzurri. Ia disebut sebagai ”pemenang sesungguhnya” dan arsitek ”cerita dongeng” Italia. Koran ini juga menyebut tim Italia ”ditakdirkan dan ditebus” Mancini serta keterampilan dan keberanian Gianluigi Donnarumma, sang kiper Italia.

 

Tak heran, ada yang menyandingkan Mancini dengan nama-nama besar dalam dunia filsafat dan sastra pada abad Renaisans, seperti Petrarch (1304-1374), Lorenzo Valla (1407-1457), dan Giordano Bruno (1548-1600).

 

Benar yang pernah dikatakan legenda Belanda, Johan Cruyff, ”Italia tidak bisa mengalahkan Anda, tetapi Anda pasti bisa kalah dari mereka.” Inggris kali ini menjadi korban Italia. Seperti dikatakan Mancini, bermain sepak bola luar biasa sama sekali tidak berarti apa-apa jika tidak berhasil merebut piala.

 

Bersama Mancini dan kehebatan Donnarumma, kesebelasan Italia telah menjadi ”seekor serigala” yang mampu mengalahkan ”Tiga Singa.” Bahkan, menurut La Gazzetta dello Sport, Italia mengubah Tiga Singa jadi puppies alias anak-anak anjing nan jinak.

 

Namun, Silvio Berlusconi, mantan Perdana Menteri Italia dan pemilik AC Milan, pernah mengatakan, sepak bola itu seperti politik, yaitu bisa berubah setiap saat.

 

Ketika Luke Saw menjebol gawang Italia pada menit ke-2, Inggris seakan mengulang sejarah manis 1966 di Wembley. Realitasnya, takdir berbalik arah, seolah-olah ”semua jalan menuju Roma.” ●

 

 

Sabtu, 10 Juli 2021

 

Mussolini, Franco, dan Sepak Bola

Trias Kuncahyono ;  Penikmat Sepak Bola

KOMPAS, 6 Juli 2021

 

 

                                                           

I

 

Benito Mussolini dan Francisco Franco sama-sama tidak suka sepak bola.  Mussolini,  pemimpin fasis Italia (1922-1943) tidak tertarik. Jenderal fasis Spanyol, Franco, lebih suka nonton film di istana El Pardo  ketimbang nonton sepak bola. Tetapi, kata penulis biografinya, Paul Preston,  Franco pernah dua kali memasang taruhan sepak bola dengan nama samaran Francisco Cofran. Dan, menang.

 

Kata Preston, Franco lebih suka menandatangani hukuman mati daripada bermain sepak bola atau menonton laga. Meskipun tidak menyukai sepak bola, Il Duce, sebutan untuk Mussolini, dan El Caudillo, sapaan Franco—kedua kata itu berarti pemimpin—tahu persis kekuatan sepak bola. Sepak bola dapat memberikan pengaruh yang luar biasa.

 

Mereka paham betul kekuatan sepak bola bagi kepentingan politik. Sepak bola punya kekuatan menyatukan orang-orang dari beragam komunitas, latar belakang, dan kepercayaan  berbeda—baik melalui kecintaan terhadap olahraga itu sendiri maupun budaya yang muncul darinya. Namun, saat yang sama, sejarah sepak bola adalah sejarah persaingan dan oposisi.

 

Mussolini dan Franco, memahami benar bahwa sepak bola adalah olahraga massa. Tidak hanya melibatkan para pemain di tengah lapangan, juga pendukung di tribune—sering disebut sebagai orang ke-12 dalam permainan—dan kedua pemimpin fasis itu dengan cepat memahami hal ini.

 

II

 

Kata Bill Murray dalam The World’s Game: A History of Soccer (1996), Mussolini bukanlah pemimpin pertama yang mengenali potensi politik olahraga. Tetapi, Mussolini-lah yang pertama memanfaatkannya. ”Rezim Fasis Mussolini adalah yang pertama menggunakan olahraga sebagai bagian integral dari pemerintahan.” Hal ini lalu ditiru Franco, juga Hitler.

 

Maka itu, pada tahun 1934, Italia menyediakan diri menjadi tuan rumah Piala  Dunia. Inilah kesempatan bagi Mussolini untuk menunjukkan kebesaran bangsanya. Dia yakin, hasil akhir pertandingan bukan ditentukan di tengah lapangan. Tetapi,  di tangannya. Italia berhasil melaju sampai ke final.

 

Sebelum final, Mussolini mengundang wasit Ivan Eklind dari Swedia. Hasil akhir Italia mengalahkan Cekoslovakia 2-1. Italia juara dunia. Yang lebih penting, mereka memenangi Piala Dunia di negeri sendiri. Popularitas Mussolini dan fasisme terdongkrak, tidak hanya di Italia tetapi juga dunia.

 

Empat tahun kemudian, pada Piala Dunia 1938 di Perancis, Italia kembali memenanginya. Dua tahun sebelumnya, tim sepak bola Italia memenangi Olimpiade Berlin 1936. Tak pelak lagi, ini kemenangan politik Mussolini. Sepak bola pendorong risorgimento (penyatuan) bangsa Italia, baik yang di dalam maupun di luar ngeri. Mereka bergerak mewujudkan persatuan Italia di bawah kepemimpinan Mussolini, yang telah menyiasati sepak bola sebagai pemersatu.

 

Pada Piala  Dunia 1938, Spanyol absen karena negeri itu dilanda perang saudara. Perang antara Kaum Republiken Kiri dan Pasukan Nasionalis pimpinan Jenderal Franco. Mussolini dan Hitler mengirim bantuan membantu Franco.  Kaum Republiken Kiri berpusat di Catalonia, tempat klub Barcelona berada. Dari sinilah, nantinya permusuhan antara Real Madrid dan Barcelona bermula dan menjadi-jadi.

 

Franco seperti Mussolini menggunakan sepak bola sebagai kekuatan mendapatkan kembali perhatian global. Sepak bola juga digunakan untuk membantu mengonsolidasikan kekuasaan. Franco juga menggunakan sepak bola untuk mengalihkan perhatian rakyatnya dari kebobrokan rezimnya serta kemerosotan ekonomi.

 

Dia lalu menjadikan Real Madrid sebagai  personifikasi sempurna dari kepemimpinan fasisnya. Dia dengan cerdik melihat, dengan mendukung Real Madrid, akan mampu menekan Barcelona, simbol kebanggaan Catalan yang dianggap memberontak. Permusuhan Real Madrid dan Barcelona dijadikan sarana meningkatkan kekuasaannya.

 

III

 

Sekarang zaman sudah berubah. Tetapi, sepak bola tetap menjadi bahasa universal yang digunakan oleh politisi untuk berkomunikasi dengan massa penggemar. Juga di Italia dan Spanyol.

 

Sepak bola bagi orang Italia adalah segala-galanya. Maka hari Minggu adalah hari sepak bola. Sepak bola adalah kebanggaan nasional. Kekalahan bagi mereka berarti runtuhnya kebanggaan mereka.

 

Maka pertemuan mereka melawan Spanyol, yang sering disebut sebagai “Derby Mediterania”  nanti, adalah sebuah pertaruhan nasional. Apalagi, Italia tak terkalahkan dalam 32 pertandingan sejak terakhir kali kalah dari Portugal pada laga Liga Nasional, 11 September 2018. Karena itu, kekalahan dari Spanyol adalah tragedi negeri yang baru bangkit dari pandemi Covid-19 yang demikian dahsyat.

 

Bagi Spanyol, kemenangan atas Italia adalah harga mati. Sebab, kata Vicente Del Bosque, mantan pelatih  tim nasional, sepak bola adalah lokomotif semua hal, kehidupan di Spanyol. Orang Spanyol selalu mengatakan, sepak bola adalah  olahraga yang menyatukan, karena penggemar dari tim yang sama bisa kaya atau miskin, bos atau karyawan, konservatif atau liberal…

 

Dan,  di negara yang penuh dengan individualis hebat, sepak bola adalah satu-satunya hal yang bisa di sepakati.

 

Hal itu pula yang disepakati oleh Mussolini dan Franco, dulu. ●

 

Jumat, 18 Juni 2021

 

Permainan Rakyat

Trias Kuncahyono ;  Penonton sepak bola

KOMPAS, 18 Juni 2021

 

 

                                                           

I

 

Sepak bola adalah permainan rakyat. Begitu kata sejarawan sepak bola Inggris James Walvin. Sebagai the people’s game, sepak bola begitu sukses karena telah menjadi simbol kesamaan kesempatan dan perubahan. Dan, kemudian kata R Giulianotti dan R Robertson, dalam Globalization and Sport (2007), dipadu secara sempurna dengan karakteristik utama masyarakat industri Barat modern—kerja tim dan kompetisi—menjadi sangat berhasil.

 

Maka itu, sepak bola menjelma menjadi kerajaan besar: jangkauan kekuasaannya lebih luas dari demokrasi, ekonomi pasar, bahkan internet. FIFA, yang didirikan tahun 1904 sebagai induk organisasi ini, anggotanya lebih banyak daripada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saat ini anggota FIFA, 211 bangsa; anggota PBB, 193 negara.

 

Hong Kong dan Makau, yang bukan anggota PBB, adalah  anggota FIFA. Palestina—yang statusnya di PBB sebagai non-member states, seperti Takhta Suci Vatikan—adalah anggota FIFA. Kata Giulianotti, sepak bola adalah permainan tanpa batas. Sepak bola mengatasi dominasi politik, hingga identitas nasional diakui melalui tim nasional sepak bola,  mendahului pengakuannya sebagai negara.

 

Satu hal yang menarik—sesuatu yang khas—adalah, olahraga ini menyimpan ”semangat religius”. Misalnya, stadion ibarat kata sebagai altar tempat ”ritus” keagamaan itu dilakukan, yang tidak boleh dimasuki oleh orang lain; selain pemain dan wasit dan penjaga garis. Ritus itu dimulai dengan lagu, dan semua ”yang beribadah” mengenakan pakaian khusus dan warna khusus; sepanjang ”ritual” diiringi oleh lagu-lagu. Meski demikian, sepak bola tetap bukanlah agama.

 

Agama, dalam bahasa Karl Marx, ”adalah candu masyarakat”. Sepak bola pun memiliki kekuataan, daya hipnotis seperti itu. Sepak bola mampu mengalihkan perhatian orang, bahkan mendikte dan memengaruhi cara hidup dan perilaku orang.

 

Ada orang yang bisa mengalami perasaan transendental di lapangan (stadion) atau malah mungkin ”hanya” di depan televisi. Meski sepak bola bukan agama, tidak sedikit orang yang mau melakukan apa pun, banyak hal demi sepak bola (seperti demi agama).

 

Kerumunan penonton sepak bola adalah paduan suara, bukan sekadar penonton belaka. Mereka layaknya umat. Tidak aneh, kalau ada orang yang sangat fanatik memilih mendukung klub tertentu, ada yang dengan alasan rasional, ada pula yang tidak rasional. Ia memilih klub A, bukan B. Orang menjadi fanatik, militan, bahkan ekstrem.

 

II

 

Sekalipun sepak bola adalah ”permainan rakyat”, ia berkembang dan terus berubah mengikuti tuntutan kebutuhan geopolitik seturut tatanan dunia baru. Dan, menjadi simbol perubahan dan kesetaraan. Misalnya, dengan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, negara-negara di Benua Afrika mengambil kesempatan untuk menegaskan kehadiran di panggung dunia, baik di bidang politik, ekonomi, maupun olahraga.

 

Ada banyak pemain sepak bola di Eropa yang berasal (atau sekurang-kurangnya, nenek moyangnya) dari Afrika. Misalnya, penyerang muda Perancis Kylian Mbappe, ayahnya berdarah Kamerun, sedangkan ibunya dari Aljazair. Ia hanya satu dari sejumlah pemain Perancis berdarah Afrika, seperti Paul Pogba (Guinea), N’Golo Kante dan Moussa Sissoko (Mali), Ousmane Dembele (Pantai Gading), juga Karim Benzema (Aljazair)

 

Striker Belgia Romelu Lukaku, kedua orangtuanya dilahirkan di Republik Demokratik Kongo. Ada pemain berdarah Afrika lain di Belgia, misalnya Michy Batshuayi dan Christian Benteke (RDK), juga Jeremy Doku (Ghana). Di kesebelasan Jerman, orangtua Antonio Rüdiger berasal dari Sierra Leone, lalu ada Leroy Sane (Senegal), Serge Gnabry (Pantai Gading), dan Jamal Musiala (Nigeria).

 

Di kesebelasan Austria, ada David Alaba yang orangtuanya berasal dari Nigeria, Valentino Lazaro (ayah asal Angola), dan Karim Onisiwo (ayahnya dari Nigeria). Di skuad Swiss ada Breel Embolo yang lahir di Kamerun, Denis Zakaria (ayahnya dari RDK, ibu Sudan), serta Kevin Mbabu (ibu dari RDK).

 

Ayah pemain depan Belanda, Memphis Depay, berasal dari Ghana. Adapun, ayah Nathan Ake dari Pantai Gading. William Carvalho, pemain Portugal, lahir di Angola; dan Danilo Pereira lahir di Guinea-Bissau. Masih banyak lagi pemain Eropa berdarah Afrika, seperti Bukayo Saka yang main di Inggris.

 

Setelah Afrika Selatan, Qatar yang pada 2022 akan menjadi tuan rumah Piala Dunia punya kesempatan untuk mempromosikan Dunia Timur Tengah dan Islam. Apabila nanti Piala Dunia Qatar 2022 berhasil, sukses, tidak hanya citra Qatar yang naik, tetapi juga Timur Tengah yang selama ini dianggap sebagai pusaran konflik.

 

Pelaksanaan Piala Eropa kali ini saja—yang tersebar di 11 negara—terlepas dari karena adanya ancaman pandemi Covid-19, juga menunjukkan ”perubahan, kesetaraan, dan keadilan”. Dari contoh-contoh ini jelas bahwa berbicara tentang perbatasan sepak bola baru, berarti berbicara tentang bagaimana sepak bola telah berubah dan sedang mengubah aset politik dan ekonomi, yang melihat Eropa dan seluruh Barat kehilangan otoritas secara bertahap terhadap wilayah baru dunia ini. Terlebih dengan munculnya China dan India sebagai kekuatan besar di Timur.

 

Namun, apa pun perubahan yang terjadi, sepak bola tetap the people’s game. Kekuatannya ada di ”rakyat”, penonton. Bukankah kompetisi sepak bola entah di Italia, Inggris, Jerman, Spanyol, termasuk Indonesia, selama pandemi ini, ibarat pasar ilang kumandange, sepi, kurang menarik.

 

Maka, Piala Eropa kali ini meski dengan jumlah yang terbatas, bisa dihadiri oleh para ”umatnya.” Dan, hidup kembali. ●

 

Selasa, 18 Mei 2021

 

Benang Kusut Konflik Israel Vs Palestina

Trias Kuncahyono ;  Wartawan Senior

KOMPAS, 17 Mei 2021

 

 

                                                           

Mengikuti konflik bersenjata Israel-Palestina yang pecah beberapa hari terakhir ibarat menonton film perang yang diputar ulang. Berulang kali keduanya terlibat konflik dengan pola yang sama, pun pula dengan korban jiwa banyak.

 

Bermula dari kebijakan diskriminatif, kolonialistik, dan represif Israel di Jerusalem dan sekitarnya yang dilawan oleh orang-orang Palestina, dijawab tindakan lebih represif oleh polisi Israel, lalu dibalas tembakan rudal oleh kelompok Hamas di Jalur Gaza, dan dijawab lagi dengan tindakan militer tentara Israel. Begitu yang tiap kali terjadi. Selalu berulang.

 

Konflik kali ini disebut yang terburuk sejak 2014. Pada 27 Desember 2008, pecah konflik antara keduanya setelah ambruknya gencatan senjata yang disepakati pada Juni 2008. Dengan operasi militer Operation Cast Lead, Israel melancarkan serangan darat ke Jalur Gaza sebagai balasan (dalih Israel) serangan rudal Hamas (Congresional Research Service, Israel and Hamas: Conflict in Gaza, 2008-2009).

 

Walau komunitas internasional menekan kedua pihak agar menghentikan perang—bahkan DK PBB menerbitkan Resolusi 1860 pada 8 Januari 2009—konflik berlanjut hingga 18 Januari. Akhirnya, masing-masing secara sepihak menyatakan gencatan senjata. Korban tewas di pihak Palestina 1.440 orang, Israel hanya kehilangan 13 orang! (Jalur Gaza, Tanah Terjanji, Intifada, dan Pembersihan Etnis, 2009).

 

Pada 2012, pecah lagi konflik yang dimulai 14 November, setelah Israel melancarkan serangkaian serangan udara di Gaza. Menurut Israel, tindakan itu dilakukan untuk menjawab serangan roket Hamas. Akhirnya, 21 November 2012, mereka sepakat gencatan senjata.

Dua tahun kemudian, 2014, muncul ketegangan baru yang disusul konflik bersenjata yang di akhir perang tercatat 2.100 orang Palestina tewas dan penghancuran wilayah Gaza. Perang dipicu oleh hilangnya tiga remaja Israel di Tepi Barat pada 12 Juni 2014. PM Benjamin Netanyahu menuduh Hamas penculiknya. Lalu, pasukan keamanan Israel melancarkan serangan besar-besaran di Tepi Barat untuk mencari anak laki-laki yang hilang dan untuk menindak anggota Hamas dan kelompok militan lainnya.

 

Tempat suci

 

Pola di atas berulang lagi kali ini. Nyala api konflik sebenarnya sudah mulai terlihat sejak pertengahan April lalu. Saat itu, terjadi bentrokan di jalan-jalan kota Jerusalem—kota yang diklaim kedua belah pihak sebagai ibu kota negara mereka—antara orang-orang Palestina dan pihak keamanan Israel.

 

Ketika bulan Ramadhan mulai, otoritas Israel memblokir Gerbang Damaskus, akses ke Temple Mount (orang Yahudi) atau Haram esh-Sharif (Muslim), Kota Lama Jerusalem. Hanya diizinkan 10.000 jemaah masuk ke sana. Tempat itu diyakini berada di bagian timur Gunung Moria, tempat di mana Abraham (Yahudi, Kristen) atau Ibrahim (Islam) mengorbankan anaknya, Iskak (Yahudi, Kristen) atau Ismail (Islam).

 

Di tempat seluas 144.000 itu berdiri Jami’ Al-Aqsha (bangunan berkubah biru) dan Qubbat As-Sakhrah atau Dome of the Rock atau Kubah Shakhrah (bangunan berkubah emas) dan berbagai situs lainnya. Orang sering pula menyebut Haram esh-Sharif sebagai Kompleks Masjid Al Aqsa.

 

Di Qubbat As-Sakhrah dulu terjadi peristiwa Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Mi'raj adalah perjalanan Nabi dari bumi menuju Sidratul Muntaha, langit ketujuh, yang merupakan tempat tertinggi. Karena itu, Jerusalem jadi kota tersuci ketiga setelah Mekkah dan Madinah. Jerusalem pernah jadi kiblat umat Islam pada periode awal sebelum dipindah ke Mekkah.

 

Sementara orang-orang Yahudi meyakini di kompleks itu pula dahulu dibangun Kenizah Allah Pertama (1000-576 SM) yang dihancurkan oleh Babilonia dan Kedua (586 SM-70 M) dan dihancurkan oleh Romawi. Mereka berkeyakinan bahwa nantinya di akhir zaman Yahwe Tuhan Allah mereka akan hadir kembali dalam kepenuhan-Nya.

 

Selain berkaitan dengan Kompleks Masjid Al Aqsa, api konflik juga muncul setelah terjadi pawai ribuan ultranasionalis Israel pada 6 Mei 2021. Pawai itu untuk merayakan ”Hari Jerusalem”, yang menandai direbutnya Jerusalem Timur dari tangan Jordania pada Perang Enam Hari (1967). Saat itu, terjadi insiden yang menyebabkan eskalasi yang melibatkan pasukan keamanan Israel. Mereka menembakkan peluru karet, gas air mata, dan granat setrum kepada jemaah yang berkumpul di Masjid Al Aqsa.

 

Paling sensitif

 

Tempat itu digambarkan sebagai ”situs paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina”. Tempat itu kerap kali dijadikan panggung aksi politik. Misalnya, Jenderal Ariel Sharon (yang kemudian jadi perdana menteri) pada 28 September 2000, bersama sejumlah pejabat dikawal ratusan polisi antihuru-hara dan tentara bersenjata lengkap memasuki kompleks itu dan mendudukinya. Tindakan itu dianggap penodaan tempat suci.

 

Sharon memprovokasi orang-orang Palestina dengan mengatakan, ”Temple Mount di tangan kami.” Ia mengulang pernyataan yang pada 1967 disiarkan Israel setelah merebut Jerusalem Timur dari Jordania. Tindakan Sharon membakar kemarahan orang-orang Palestina yang baru saja memperingati pembantaian Sabra dan Shatila (1982), Lebanon. Sharon dipersalahkan dan dianggap bertanggung jawab karena tidak dapat menghentikan pertumpahan darah itu setelah invasi Israel ke Lebanon.

 

Kemarahan orang-orang Palestina itu melahirkan Intifada Kedua (Intifada Pertama, Desember 1987-September 1993), yang juga disebut Intifada Al Aqsa. Namun, menurut Komite Mitchell—komite yang dipimpin mantan senator AS, George Mitchell, yang bertugas mencari fakta penyebab pecahnya Intifada Kedua—penyebab Intifada Kedua begitu kompleks.

 

Salah satu faktornya adalah tindakan Sharon. Penyebab lainnya adalah terus berlanjutnya pendudukan Israel atas wilayah Palestina. Orang-orang Palestina berpikir, setelah kesepakatan Oslo 1993, kehidupan akan menjadi lebih baik, kebebasan semakin besar, serta pengakhiran kontrol dan pendudukan oleh Israel. Dan, pada akhirnya, tahun 1998, Negara Palestina Merdeka berdiri.

 

Namun, kenyataanya tidaklah demikian. Pendudukan Israel terus berlanjut, bahkan semakin meluas. Perundingan Camp David 2000 pun tidak membuahkan hasil.

 

Intifada Kedua—mulai September 2000 hingga akhir 2005—menurut Palestinian Center for Human Rights menewaskan sedikitnya 4.973 orang Palestina dan sekitar 1.400 orang Israel. Meski Intifada Kedua sudah berakhir, kondisi orang-orang Palestina tidak membaik, justru sebaliknya karena pendudukan di Tepi Barat terus dilakukan dan diperluas wilayahnya.

 

Otoritas Palestina tidak berdaya. Ini yang mendorong rakyat Palestina menjatuhkan pilihannya kepada Hamas dalam Pemilu Legislatif 2000. Hamas kemudian pada 2007 menguasai Jalur Gaza. Dari sana mereka melakukan perlawanan terhadap Israel, seperti sekarang.

Semakin kusut

 

Jelaslah kiranya bahwa Al Aqsa yang memiliki arti penting dalam agama dan politik adalah salah satu penyumbang kekusutan konflik Israel versus Palestina. Ada, sekurang-kurangnya, lima sumber kekusutan konflik itu, yakni masalah perbatasan, pengungsi, keamanan, air, dan status Jerusalem.

 

Hal lain yang juga menambah kekusutan proses perdamaian adalah ketidakkompakan antara Fatah dan Hamas. Meski demikian, Februari lalu, difasilitasi Mesir, para pemimpin Fatah dan Hamas bersepakat menyelesaikan perpecahan lama di antara mereka. Mereka berencana mengadakan pemilu pada tahun ini.

 

Pada akhirnya, harus diakui, bahwa upaya menyelesaikan konflik melintas abad ini masih belum jelas. Yang pasti, ketidakadilan, ketidakamanan, dan kesengsaraan yang disandang orang-orang Palestina yang tinggal di wilayah antara Sungai Yordan dan Laut Tengah sudah demikian dalam. Semua itu menyatu dalam kehidupan keseharian mereka.

 

Sementara itu, Israel semakin memperdalam cengkeraman kuku kekuasaan dan penguasaannya atas wilayah Tepi Barat; dan juga kehidupan orang-orang Palestina. Apabila konflik sekarang ini berlanjut, dikhawatirkan akan melahirkan Intifada Ketiga, yang akan kian menambah penderitaan mereka, sementara yang namanya perdamaian entah di mana. ●