Tampilkan postingan dengan label In Memorium Ustadz Jeffrie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label In Memorium Ustadz Jeffrie. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Mei 2013

Uje, Agama, dan Industri Budaya


Uje, Agama, dan Industri Budaya
Triyono Lukmantoro ;  Dosen Sosiologi Komunikasi FISIP
Universitas Diponegoro Semarang
SUARA MERDEKA, 04 Mei 2013


Kabar meninggalnya Ustadz Jeffry Al Buchori, yang lebih terkenal dengan panggilan Uje, mengejutkan khalayak. Ia berpulang dalam usia yang sangat produktif dan berada pada puncak popularitas. Bukti keterkenalan itu dapat disimak ketika banyak orang melayat ke rumah duka, ikut menshalatkan di Masjid Istiqlal, dan mengantarkan ke pemakaman terakhir. Media massa pun bahkan menyajikan liputan khusus.

Perhatian istimewa dari masyarakat dan media massa karena Uje merupakan salah satu ikon budaya pop. Jika selama ini budaya pop selalu diidentikkan dengan ekspresi dan selera serbadangkal dan sekuler maka Uje mampu memberikan sentuhan tersendiri. Budaya pop yang dia sajikan memuat cita rasa religius yang menjadi pembeda dari produk kultural massa yang cenderung seragam. 

Keseragaman itulah yang menjadikan budaya pop dituding berselera rendah. Tidak ada karakter eksklusif yang sangat menonjol. Misalnya ketika musik pop Korea menguasai industri hiburan kita, justru banyak kelompok penyanyi Indonesia menjadi peniru. Begitulah watak epigonisme itu diwujudkan.

Uje, tentu tidak sebanding dan tidak dapat dikomparasikan dengan gejala budaya pop sejenis itu. Dia membawa dan menyampaikan misi nilai-nilai keagamaan. Ceramah, lagu, perbincangan, dan bahkan iklan yang melibatkannya menunjukkan peran penting pesan-pesan agama yang dikemas secara lebih akrab dan egaliter. Massa yang mengonsumsi tampilan dan pidato Uje merasa nyaman. Kaum muda memandang dia sebagai figur yang pantas menjadi anutan. Selain itu, kaum tua menempatkannya sebagai sesosok guru yang gampang dipahami berbagai ajarannya. Misi keagamaan yang disodorkannya pun menyajikan ketenteraman.

Budaya pop dapat juga dilihat sebagai realisasi dari industri budaya (culture industry). Itu adalah konsep pemikiran Theodor W Adorno (1903-1969) dan Max Horkeimer (1895-1973) untuk merujuk pada fenomena budaya yang telah dikomodifikasikan dan diindustrialisasikan. Budaya, dalam hal ini adalah ekspresi seni dan juga informasi, sekadar dijadikan barang dagangan dan diproduksi secara massal demi memenuhi cita-rasa banyak orang. 

Lebih buruk lagi adalah industri budaya itu dikendalikan oleh pemilik modal dan semata-mata diciptakan untuk meraup sebanyak-banyaknya keuntungan. Massa yang menikmati industri budaya itu bagaikan tersihir dan tidak mampu bertanggung jawab dengan apa yang telah dikonsumsi. Realitas yang jauh lebih tragis adalah industri budaya itu mampu menggantikan peran penting keluarga, komunitas, dan agama.

Pemikiran Adorno dan Horkheimer mengungkap sisi negatif industri budaya. Aspek positif dikemukakan oleh Walter Benjamin yang menyatakan aura seni tinggi, estetika yang serbaadiluhung, telah dihancurkan industri budaya. Aura, jenis kewibawaan karismatis yang terdapat dalam karya estetis, telah diremukkan oleh kekuatan produksi mekanis. Hasilnya adalah demokratisasi terhadap keangkuhan seni. Karya yang selama ini hanya bisa dinikmati segelintir elite budaya justru berkat industrialisasi itu mampu menimbulkan kesenangan populer bagi massa di mana saja.

Bintang Dakwah

Kehadiran dan popularitas Uje dapat dilihat dari aspek positif industri budaya itu. Apabila selama ini agama hanya boleh dibicarakan dan didakwahkan sekelompok ulama maka kehadiran media massa sebagai alat produksi mekanis bisa menjadikan agama lebih demokratis. Ajaran-ajaran keagamaan menjadi gampang dimengerti oleh massa. Berbagai dalil dan istilah keagamaan yang rumit dapat dicairkan dan dialirkan kepada massa yang membutuhkan. Pada posisi itulah Uje hadir mengisi berbagai kompleksitas ajaran religi menjadi lebih sederhana namun tetap kaya makna.

Agama, sebagaimana dikemukakan Emile Durkheim (1858-1917), mempunyai pesona yang tinggi. Agama bisa dirasakan ketika pemisahan antara yang suci (sakral) dan yang biasa (profan) ditegaskan. Agama berada dalam wilayah yang sakral karena menghadirkan ketakjuban dan penuh penghormatan bagi para penganut. Tapi, kesakralan yang terlalu angkuh untuk ditegakkan justru mempersempit ruang gerak agama itu sendiri bagi pemeluknya dan orang yang hendak memahami.

Industri budaya mampu memecahkan kebekuan jalinan dikotomis yang sakral dan yang profan dalam agama. Kekuatan suci agama mampu menerobos batas-batas yang dianggap profan oleh masyarakat. Bahkan, industri budaya yang selalu dituding sebagai biang kemeredupan  nilai-nilai religiositas justru secara jitu bisa menghidupkan agama sesuai dengan pemahaman dan selera banyak orang. 

Itulah era ketika agama juga dihadirkan media sebagai salah satu produk dalam wilayah budaya pop. Untuk melakukan hal itu diperlukan sosok bintang yang juga memiliki pesona tinggi. Domain persilangan sakral-profan dan nilai keagamaan yang serbatinggi versus tampilan keseharian yang bersahaja melahirkan Uje sebagai bintang dalam dakwah.

Bintang merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan agama ketika dikemas sebagai industri budaya. Tampilan fisik, busana yang menunjukkan identitas, dan kisah masa silam yang kelam adalah kekuatan yang dimiliki Uje. Terlebih ketika ia dikenal pula sebagai penggemar motor gede maka lengkap sudah figur sebagai ustadz penuh karisma namun tetap disukai karena memiliki sisi manusiawi yang dapat dipermaklumkan.  

Kamis, 02 Mei 2013

Uje dan Dakwah Kultural


Uje dan Dakwah Kultural
M Bambang Pranowo ;  Guru Besar UIN Jakarta, 
Rektor Universitas Matla’ul Anwar, Pandeglang, Banten
KORAN SINDO, 02 Mei 2013

  
“Kepergian” dai populer Ustad Jefry Al Buchory, Jumat (26/4) dini hari menyentak kita semua. Umat Islam, baik kalangan muda, tua, selebritas, narapidana, ataupun anak-anak kecil ikut sedih atas kepergian “sang ustad gaul” tersebut. 

Maklumlah, Ustad Jefry seorang dai yang bisa memasuki semua kalangan dengan “cara”-nya yang indah, penuh humor, namun tidak kehilangan sentuhan dan ajakan untuk mendekat kepada Allah. Itulah sebabnya, begitu banyak masyarakat yang ikut takziah dan mengiringi kepergiannya ke haribaan Ilahi Rabbi. Apa yang menarik dari Uji— panggilan Ustad Jefry Al Buchori—adalah julukannya sebagai ustad gaul. Julukan ini mempunyai makna yang dalam dari aspek kultural. 

Ini karena gaul mempunyai makna akrab, toleran, dan mempunyai empati kepada siapa pun. Menurut pengakuan teman-temannya, Uje memang seorang yang tidak pernah mau menyakiti temantemannya. Dia selalu menghibur orang-orang di sekitarnya, baik dalam kondisi suka maupun duka. Dia bahkan sering minta doa kepada orang-orang awam yang secara kasatmata jauh di bawah level dirinya. 

Ini berbeda dengan tradisi minta doa yang umum yang biasanya minta kepada orangorang tertentu yang dianggap alim atau ulama. Dengan pendekatan inilah, Uje memperluas akses sasaran dakwahnya. Ini strategi dakwah kultural yang emansipatoris. Uje, sadar atau tidak, telah melakukannya dengan sangat baik. 

Dengan kata lain, Uje telah menerapkan prinsip-prinsip toleransi dan saling menghormati dengan mengembangkan pendekatan kemanusiaan (humanis) dan kebudayaan (kultural) dalam dakwah seperti dilakukan Rasulullah. Metode dakwah ini pula yang telah dipraktikkan oleh penyebar Islam di Pulau Jawa abad XV. 

Sunan Kudus yang bernama asli Syekh Ja’far Shodiq, seorang Wali Sangha (Wali Suci, biasa dikenal Wali Sanga atau Wali Sembilan, yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa) mengajarkan metode dakwah dengan pendekatan kebudayaan yang toleran. Metode dakwah Sunan Kudus ini juga telah dilakukan sebelumnya oleh Sunan Kalijaga. 

Sunan Kalijaga dalam menjalankan dakwahnya selalu mengadopsi kearifan budaya lokal di mana “murid-murid dan pengikut-pengikut”-nya berada. Salah satu nilai toleransi yang diperlihatkan Sunan Kudus terhadap pengikutnya dalam dakwah adalah melarang menyembelih sapi kepada para pengikutnya saat Idul Qurban. Hal itu dilakukan Sunan Kudus untuk menghormati pengikut agama Hindu yang saat itu mayoritas dan menjadi sasaran dakwahnya. 

Di zaman Sunan Kudus, sapi juga sering ditempatkan di dekat masjid. Ini pun sebuah cara untuk memberitahukan kepada umat Hindu bahwa Islam juga menghargai sapi. Menghargai sapi (binatang) bukan untuk disembah, melainkan menghargai sesama makhluk Allah seperti yang diajarkan Islam. Sebagai gantinya, Sunan Kudus meminta murid-muridnya untuk menyembelih kerbau di hari Idul Qurban. 

Sampai hari ini pun kita lihat, daging kerbau masih lebih merakyat di Kudus ketimbang daging sapi. Langkah Sunan Kudus tersebut mengundang rasa simpati masyarakat yang waktu itu menganggap sapi sebagai hewan suci. Mereka kemudian berduyun-duyun mendatangi Sunan Kudus untuk bertanya banyak hal dan dari sanalah pintu dakwah Islam terbuka lebar. Mungkin akan menjadi lain ceritanya jika Sunan Kudus melawan arus mayoritas saat itu dengan menyembelih sapi. 

Selain berdakwah lewat “sapi”—bentuk toleransi sekaligus akulturasi Sunan Kudus juga bisa dilihat pada pancuran atau padasan yang berjumlah delapan yang sekarang difungsikan sebagai tempat berwudu di masjid Kudus. Tiap-tiap pancurannya dihiasi dengan relief arca sebagai ornamen penambah estetika. 

Jumlah delapan pada pancuran mengadopsi dari ajaran Buddha yakni Asta Sanghika Marga atau Delapan Jalan Utama yang menjadi pegangan masyarakat Hindu saat itu. Pola akulturasi budaya lokal Hindu-Buddha dengan Islam juga bisa dilihat dari peninggalan Sunan Kudus berupa menara di masjid tersebut. Menara Kudus bukanlah menara yang berarsitektur bangunan Timur Tengah, melainkan lebih mirip dengan bangunan Candi Jago atau serupa juga dengan bangunan pura di Bali. 

Menara tersebut difungsikan oleh Sunan Kudus sebagai tempat azan dan tempat untuk memukul beduk setiap kali datang bulan Ramadan. Kini menara yang konon merupakan menara masjid tertua di wilayah Jawa tersebut dijadikan sebagai landmark Kabupaten Kudus. Strategi dakwah Sunan Kudus dengan pendekatan budaya tersebut jelas amat efektif dalam mengislamkan orang Jawa yang beragama Hindu. Apalagi kemudian Sunan Bonang menciptakan wayang berikut gendingnya yang kemudian ditransformasikan ke dalam Islam. 

Sunan Bonang menciptakan dongeng kesaktian jimat Kalimososo (kalimat Syahadat) yang dipakai Arjuna untuk menghadapi lawan-lawannya. Jimat Kalimosodo adalah senjata pamungkas Pandawa untuk mengalahkan Kurawa. Dalam bahasa Dakwahnya: Kalimat Syahadat adalah kata kunci masuk Islamnya seseorang— yang awalnya jahat (Kurawa) menjadi baik (Pandawa). Sayangnya, dakwah kultural itu sekarang mengalami degradasi. 

Toleransi beragama misalnya kini berada di tebing jurang. Toleransi beragama kini dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Toleransi beragama tak cuma menjadi barang mahal, tetapi sudah menjadi sesuatu yang nyaris langka. Kondisinya bahkan makin menyempit lagi. Sebagian umat Islam tidak hanya merusak gereja, tapi juga merusak masjid-masjid yang pengajiannya dianggap tidak sejalan dengan umat Islam mayoritas. 

Ada sekelompok umat Islam bahkan mau bunuh diri dan membunuh orang lain atas nama dakwah. Kondisi ini jelas memprihatinkan. Untuk mengatasi hal itu, umat Islam harus segera mengubah strategi dakwahnya. Umat Islam tampaknya harus merevitalisasi dakwah Wali Sanga untuk menghidupkan spirit dan esensi Islam sesuai yang diajarkan Nabi Muhammad. 

Di masa depan, ketika hak asasi manusia (HAM) dan humanisme menjadi isu sentral kemanusiaan di seluruh dunia (global), dakwah dengan pendekatan kemanusiaan dan kebudayaan seperti diajarkan Wali Sanga dan telah dipraktikkan Uje perlu dihidupkan kembali. Alquran menyatakan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku untuk saling menghormati. 

Sedangkan orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa (Al-Hujarat 13). Dalam konteks inilah seharusnya dakwah di masa depan harus berpijak! Berpijak pada basis kultural seperti yang telah dipraktikkan Uje dengan gayanya yang gaul dan humanis!

Selasa, 30 April 2013

Dakwah Kontemporer Uje


Dakwah Kontemporer Uje
Syamsul Hidayat  ;  Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Dosen FAI-UMS Solo 
REPUBLIKA, 29 April 2013


Jumat, 26 April 2013, umat Islam Indonesia ditinggalkan salah seorang dai yang memiliki penampilan khas dengan dakwah melalui potensi budaya masyarakatnya. Dakwah yang begitu santun sekaligus mengakar pada umat dan jamaahnya. Dialah al-Ustaz Jefri al-Buchori.

Berpulangnya ustaz yang akrab disapa Uje, insya Allah tidak akan meredupkan tumbuh dan kembang dakwah gaya baru yang sering disebut "dakwatainment", yakni dakwah yang menghibur, mendamaikan hati, dan meringankan beban hidup. Setelah ini, diharapkan akan terus lahir "Uje-Uje" dengan lahirnya fikih dakwah baru.

Sejak era 2000-an Uje memang menjadi fenomena, khususnya di dunia dakwah. Dakwah santun serta menghibur membuatnya digemari oleh generasi muda. Beliau menggandeng artis-artis Muslim untuk ikut serta membumikan Islam di kalangan muda dengan bahasa anak muda.

Pada era 2000-an, tepatnya pada akhir 2000 dan awal 2001, Muhammadiyah melalui Sidang Tanwir di Denpasar Bali melahirkan gagasan dan konsep dakwah kultural. Metode ini menjadi upaya mengembangkan jaringan dan pendekatan dakwah yang akan menjadi langkah dakwah Muhammadiyah. Sebenarnya, di era itu pula lahir sosok dai yang bisa dikatakan sebagai the real dakwah kultural.

Muhammadiyah menyadari bahwa perkembangan masyarakat dengan segala potensi budaya dan kulturalnya, terlebih pada era multikultural, memerlukan berbagai pendekatan dakwah Islam. Artinya, dakwah Islam di samping harus selalu berpegang teguh kepada Alquran dan sunah, diorganisasikan dengan organisasi yang rapi dan tertib, juga harus disertai usaha yang sungguh-sungguh untuk mengenal masyarakat dakwah. Karena, dengan mengenal karakter dan potensi yang ada pada masyarakat dakwah Muhammadiyah akan dapat menyentuh semua lapisan umat dan masyarakat.

Ustaz Jefri lahir dari keluarga yang memiliki komitmen kuat terhadap agama. Neneknya seorang kiai, ibunya seorang mubaligah, begitupun kakaknya, seorang dai yang banyak memberikan tausiyah kepada umat Islam. Uje lahir menjadi sosok dai atau mubaligh yang ditempa tidak saja oleh ilmunya dari keluarga dan pesantren, tetapi juga oleh pengalaman dan dinamika hidup sebagai seorang praktisi seni peran, bahkan pernah terperosok ke dunia kelam narkoba.

Namun, Allah telah mengangkat semua dinamika dan lika-liku pengalaman hidup itu menjadi potensi yang luar biasa dalam dakwah untuk menebarkan Islam di semua kalangan. Pengalaman hidup Uje dengan segala dinamikanya seolah menjadi inspirator bagi Uje sendiri untuk melahirkan langkah konkret dakwah kultural dalam arti yang sebenarnya.

Gagasan organisasional dakwah kultural yang dilahirkan oleh Muhammadiyah agaknya memperoleh bentuk konkret dalam sosok Uje. Artinya, kalau dai-dai seperti Uje ini dihimpun dalam jaringan organisasi dan manajemen yang rapi, kemudian satu sama lain bahu-membahu, tentu akan menjadi kekuatan untuk menghadirkan Islam yang lebih kompatibel bagi bangsa Indonesia. Mungkin, praktiknya bisa dengan berbagi tugas dan peran sesuai dengan potensi masing-masing. Tapi, selalu ada komunikasi dan koordinasi sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dan konflik internal.

Fikih Dakwah Baru

Agaknya, perlu segera dilahirkan fikih dakwah dan tabligh baru yang sesuai dengan perkembangan masya rakat yang makin kompleks. Fikih baru itu bukan untuk mengubah manhaj (kaidah) dan mabda (prinsip) dakwah Islam, melainkan untuk mengembangkan pendekatan dan memperluas jaringan dakwah.
Uje bisa menjadi inspirator bagi pengembangan fikih dakwah baru, khususnya dalam dalam bidang tariqah (metode dan pendekatan) dan uslub (gaya dan model) dakwah, dengan lebih memperhatikan potensi dan budaya yang dimiliki oleh sasaran dakwah. disamping itu, diperlukan perluasan jaringan dakwah dan itulah yang disebut dengan dakwah kultural.

Dalam dakwah kultural ala Uje, seorang dai telah melihat potensi anak muda dengan segala minat dan bakat. Dengan menyelami minat, bakat, dan potensinya, Uje bisa melaksanakan dakwah dengan bergaul dan bergumul dengan mereka tanpa jarak, sehingga pesan-pesan Islam benar-benar dapat diterima mereka dengan hati terbuka. Ini tentu dapat diterapkan oleh para dai yang lain yang memiliki sasaran dakwah yang berbeda, misalnya, masyarakat petani di pedesaan atau anak jalanan dan sebagainya. Seorang dai dapat menyelami segala relung kehidupan dengan segala potensi, minat, dan bakat yang dimiliki masyarakat.

Kalau dalam riset ada sebutan riset aksi partisipatori, dakwah pun dapat dikembangkan menjadi dakwah partisipatori. Maka, dai sekaligus seorang peneliti yang hasil penelitiannya dapat digunakan untuk merancang tindakan nyata dakwah. Dan, ini sebenarnya telah menjadi istilah lama dalam dunia dakwah, yakni dakwah bil hal atau lebih tepatnya dakwah bi lisanil hal. Selamat jalan sang ma estro dakwah gaul. Meskipun jasadmu telah terkubur, gema dakwahmu akan tetap hidup. Nasrun minallah.

Awas Bias Psikis Pemoge


Awas Bias Psikis Pemoge
Reza Indragiri Amriel ;  Psikolog Forensik, Konsultan UNODC dan Indonesia Legal Roundtable, Penerima Asian Public Intellectual Fellowship
JAWA POS, 29 April 2013


"The new breakout!" Slogan itu terpampang di halaman utama situs sebuah perusahaan raksasa pembuat motor gede (moge). Pilihan kata breakout serta-merta berasosiasi dengan kebebasan, pemberontakan, keberanian, bahkan kenekatan. 

Teringat pula wajah Ustad Jefri Al Buchori (rahimakumullah) yang ternyata juga doyan mengendarai motor gede. Tak terbantahkan bahwa pemilik motor gede adalah mereka yang ber-"jiwa laki!" -moto minuman tonik yang iklannya juga dibintangi Uje, sapaan Ustad Jefri Al Buchori.

Tentu ada aksi-aksi luhur yang dilakukan para pemilik moge. Sayang, kendati saya pasti bias, motor gede kadung memunculkan gelembung-gelembung memori yang kurang sedap. Mulai kelakuan para pengendara motor gede (pemoge) yang arogan di jalan raya hingga peristiwa mengenaskan berupa sejumlah kecelakaan lalu lintas yang menimpa pengusaha, ada juga politisi, dan seorang guru agama (Uje). Termasuk berita di Jawa Pos kemarin, di Jogjakarta seorang dokter pemoge masuk rumah sakit setelah menabrak ambulans jenazah akibat menerobos lampu merah.

Jika benar bahwa pecandu motor gede adalah "jiwa laki!", barangkali kesukaan itu efek dari adrenalin dan endorfin. Adrenalin yang mengalir deras membangkitkan sensasi tegang, waspada. Sementara endorfin yang membanjiri tubuh mendatangkan perasaan gembira, suka ria.

Semua orang memiliki dua jenis hormon tersebut. Bedanya "hanya" di dompet. Bagi yang berkantong tipis, kombinasi adrenalin dan endorfin bisa dirasakan ketika melakukan demonstrasi anarkistis dan dikejar-kejar polisi. Bagi yang koceknya lumayan berisi, jejeritan namun asyik bisa dialami dengan menaiki roller coaster di Dunia Fantasi. Nah, yang pundi-pundinya tak lagi berbunyi lantaran penuh sesak oleh harta bisa menjajal tsunami adrenalin dan banjir bandang endorfin saban menunggangi motor gede.

Bagusnya, para pengguna motor gede di sini tampil bersih dan rapi. Mereka kalangan profesional kerah putih. Beda dengan komunitas yang sama di sejumlah negara Barat yang kebanyakan berpenampilan liar seperti tak terurus, menenggak minuman keras, dan melakukan seks bebas.

Tapi, saya tidak percaya bahwa Uje juga tengah tenggelam dalam sensasi hormonal pada kecelakaan malam itu. Uje dikabarkan baru sakit. Adrenalin dan endorfinnya mungkin sudah lebih dulu menyelinap ke balik kelambu, tak tahu-menahu perihal kejadian memilukan yang dialami Uje.

Hindsight Bias 

Uje juga bukan sosok semrawut. Justru Uje adalah guru agama idaman: Suara indah, banyak ayat dan hadis yang dihafalnya di luar kepala, gaya ceramahnya memang beda, tampilan lahiriah pun memesona. Dia figur panutan. Uje, bersama dengan ustad-ustad lain semisal Aa' Gym dan Yusuf Mansur, laksana antitesis dari ulama mestinya sudah lanjut usia. Ribuan umat yang membanjiri kediaman Uje, menyemut di Masjid Istiqlal, dan membeludak di tempat Uje dimakamkan adalah bukti tak terbantahkan bahwa betapa banyak orang yang hatinya tergerak oleh sang ustad.

Entah berapa kilometer per jam laju motor gede Uje saat membentur pohon. Pastinya, saya sempat terenyak betapa ukuran motor yang besar ternyata tidak lantas membuat pengendaranya lebih tahan cedera. Andai itu terjadi pada motor berukuran kecil, sepertinya lebih masuk akal. Apalagi, statistik menunjukkan bahwa jumlah kecelakaan motor jauh lebih banyak daripada kecelakaan mobil. Penyebabnya adalah motor lebih mudah oleng akibat tertiup angin atau terkena gaya dorong dari kendaraan besar yang berpapasan dengannya. Karena itu, dengan memperbesar ukuran motor, seperti bisa dijumpai pada motor di negara-negara Barat, menjadi solusi bagi pengemudi kendaraan roda dua agar lebih bisa mengendalikan tunggangannya.

Alhasil, besar kemungkinan kali ini terbukti lagi bahwa kebanyakan kecelakaan lalu lintas melibatkan faktor majemuk. Kondisi kendaraan, satu hal. Hal lain adalah si pengemudi sendiri. Human error istilahnya.

Kesalahan pada faktor manusia (pengendara) berupa penyimpangan berpikir yang disebut hindsight bias. Bias itu ditandai oleh keyakinan individu bahwa dia tidak akan terkena bahaya. Andai risiko datang, individu tersebut juga percaya bahwa dirinya akan mampu menghadapi risiko sehingga lolos dari situasi yang tak diinginkan. Tatkala hindsight bias datang, muncul perilaku yang menyerempet-nyerempet bahaya alias vivere pericoloso.

Saya tidak tahu apakah Uje mengalami bias kognitif seperti itu. Tetapi, paling tidak, mengemudi saat kondisi badan sedang tidak bugar, saat tengah malam buta pula, jelas bukan keputusan ideal.

Apa pun itu, saya ingin mengingat Uje sembari mengenang lagi keasyikan batin setiap kali mendengar tausiah Uje. Sebagai orang yang pernah belok sana belok sini (tidak hanya menyerempet, tapi menerjang bahaya), lalu memperoleh hidayah untuk kembali ke titian lurus, ceramah-ceramah Uje terdengar otentik. 

Uje kiranya sudah menemukan kendaraan pengganti. Kendaraan bersahaja yang mengantarnya ke masa rehat yang sesungguhnya. Aamiin. Allahu a'lam.

Senin, 29 April 2013

Pelajaran Hidup Uje


Pelajaran Hidup Uje
Sumiati Anastasia ; Kolumnis Pembelajar Kehidupan, Warga Balikpapan
JAWA POS, 27 April 2013

  
Kita semua tentu terkejut dengan meninggalnya Ustad Jefri Al Buchori. Tasbih, takbir, dan tahmid terus menggema di rumah duka hingga jenazah dimakamkan di samping kuburan ayahnya di pemakaman Karet, Jakarta, kemarin. Uje, panggilan Ustad Jefri Al Buchori, meninggal dalam usia 40 tahun gara-gara kecelakaan tunggal. Motor yang dikendarai sang ustad menabrak pohon di Jalan Gedong Hijau Raya, Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada pukul 02.00 Jumat (26/4). 

Ustad yang lahir pada 12 April 1973 serta meninggalkan empat anak dan satu istri itu dikenal sebagai ustad gaul. Total sudah sebelas tahun Uje berdakwah. Namun, televisi telah menahbiskannya sebagai pendakwah terkenal yang banyak disukai kaum perempuan selama tujuh tahun terakhir. 

Mengamati beragam khotbahnya, saya yakin bahwa ustad yang satu itu punya pesan yang menyejukkan tentang betapa Islam cinta damai dan adaptif dengan modernitas atau perkembangan zaman. Bukan agama kolot yang antisegala hal baru.

Saya tertarik pada peristiwa kematiannya yang begitu mendadak. Saya langsung ingat pepatah Jawa, "Urip mung mampir ngombe (Hidup sekadar singgah minum)." Itu menunjukkan betapa fana dan kecilnya manusia serta betapa singkatnya perjalanan manusia di dunia ini. 

Dalam pandangan Islam tradisional, sebagaimana dikatakan Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimension of Islam, Tuhan merupakan realitas absolut yang tak terhingga. Kalau Tuhan diibaratkan samudra tak terhingga, manusia hanyalah percikan dari samudra Ilahi tersebut (Simuh, 1985). Maka, kematian ustad tersebut bisa dipakai sebagai sarana untuk menunjukkan kebesaran-Nya.

Meski sudah dikenal sebagai selebriti, selama ini Uje tidak ikut larut dalam semangat para selebriti yang memuja hedonisme dan kenikmatan dunia. Coba simak, berapa banyak artis atau sosok terkenal yang harus berakhir tragis karena narkoba. Kesibukan mengejar popularitas dan uang menyebabkan hidup mereka kemrungsung dan jauh dari nuansa religius, meski mereka mengaku beragama.

Di tengah-tengah absurditas serta kegersangan spiritualitas, menarik bahwa beberapa hari sebelum meninggal Uje menolak didikte oleh modernitas yang diwakili motor maupun gadget yang dipakai. Menurut cerita adik almarhum, Uje mengaku bosan dengan BlackBerry dan motor Kawasaki ER-6n yang kemudian merenggut nyawanya.

Boleh jadi Uje sadar bahwa ternyata barang-barang yang menjadi simbol dari modernitas itu justru menyeret hidup manusia dalam keterasingan. Tak heran, bos Hyundai Korea yang kaya raya dan punya banyak barang mewah justru memilih jalan pintas dengan bunuh diri dari lantai atas sebuah hotel hingga akhirnya tewas. 

Uje juga mengaku sudah capek dan ingin istirahat sebagaimana tertulis dalam kicauan terakhirnya di Twitter. Padahal, popularitas, honorarium besar, serta jadwal padat ke depan sudah menunggunya.

Memang di tengah semangat zaman yang hanya memuja materi, seharusnya kita mau beristirahat. Mari menarik diri dari kerumunan dengan senantiasa mencoba menyucikan diri agar kedamaian atau ketenteraman hidup kita tidak dikorbankan.

Al Ghazali memberikan resep mengembalikan ketenteraman hidup dengan jalan membelakangi dunia. Sebab, selama masih ada dunia di tangannya, kekotoran hati dan kegelisahan akan tetap ada. Ibarat mustahil mandi madu tanpa dikerumuni lalat atau semut. Tak heran, Rasulullah SAW bergegas pulang ke rumahnya seusai salat karena mengingat masih ada potongan logam mulia yang belum tuntas disedekahkannya. 

Pencucian hati agar dapat mendatangkan ketenteraman batin amat sulit dijalani. Pertama, pengamalan maqam tobat. Tobat dalam pengertian tasawuf adalah pengalihan dari hidup yang terlena ke arah hidup yang selalu mengingat Tuhan. Terlena mengingat Tuhan adalah pangkal dari segala dosa dan kemaksiatan. Maka, laku mengingat Tuhan adalah langkah awal pembinaan budi luhur. Zikir lahir batin merupakan jalan pertama.

Kedua sesudah tobat adalah laku wara`, yakni satu laku rohani untuk menjauhi hal-hal yang syubhat (tidak jelas halal haramnya). Ketiga, laku hidup yang mencari sesuatu yang jelas halalnya. Jadi, laku itu 90 persen budi pekerti luhur. Keempat, laku zuhud, yakni menyedikitkan kebutuhan duniawi yang halal. Kelima, tawakal, yakni menyerahkan seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan, termasuk pemeliharaannya. Keenam, laku sabar, yakni tidak mengeluh apa pun penderitaan yang ada padanya karena yakin akan adanya jaminan pemeliharaan Tuhan. Lalu, ketujuh, laku rela atau ikhlas, bahkan penderitaan dianggapnya sebagai satu "kenikmatan". 

Segala kekotoran duniawi dia singkirkan. Menyedikitkan kebutuhan duniawi mengandung arti bahwa tidak dilarang untuk mencari harta, asal halal dan diambil secukupnya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membantu orang lain. Artinya menjadi "sufi". Jadi, tidak harus mengasingkan diri dari keramaian duniawi. Orang Jawa bilang topo ngrame dan Abu Yazid Al Busthami mengatakan, "Zuhud (sufisme) adalah tidak memiliki dunia dan tidak dimiliki dunia." Artinya silakan mencari harta sebanyak-banyaknya (yang halal tentunya), namun jangan menjadi budak dunia. 

Ingat, hidup begitu fana sebagaimana telah ditunjukkan oleh Uje. Sang maut menunggu di setiap kelokan hidup.