Tampilkan postingan dengan label Azrul Ananda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Azrul Ananda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Agustus 2015

Dengarkan Kata Taylor Swift…

Dengarkan Kata Taylor Swift…

Azrul Ananda  ;  Dirut Jawa Pos Koran
                                                      JAWA POS, 05 Agustus 2015     

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Di belakang setiap orang sukses ada…

                                                          ***

Di belakang laki-laki yang sukses ada… Perempuan yang kuat.

Hmmm… Agak klise. Mungkin benar, tapi agak klise…

Di belakang setiap orang sukses ada… Tim yang kuat.

Hmmm… Rasanya akurat. Dan rasanya akan lebih sukses kalau dia membuat sendiri tim yang kuat itu…

Di belakang orang sukses ada… Haters!

Nah, yang ini rasanya tak terelakkan, tapi mungkin paling harus dinikmati. Semakin sukses seseorang, semakin banyak pembencinya. Dan itu seharusnya tidak apa-apa, malah semakin bikin seru!

Ketika kuliah kelas public relations (PR) dulu, kalimat pertama di buku teks saya berbunyi begini: ”One-hundred percent objectivity is impossible to attain.” Artinya, Seratus persen objektif itu tidak mungkin dicapai.

Apa pun yang diputuskan, pasti tidak bisa menyenangkan semua orang. Apa pun yang disampaikan, pasti tidak bisa memuaskan semua orang. Tidak mungkin 100 persen.

Secara logika demikian.

Makanya, lain kali kalau ada yang bilang ”Kamu harus objektif!”, balas saja: ”Pakai logika dong! Objektif itu tidak mungkin 100 persen!”

Kalau dia marah, ya biarin. Berarti logikanya gak sempurna. Wkwkwkwk…

Kecuali dia ngomong: ”Kamu harus seobjektif mungkin!”

Nah, itu baru lebih logis…

Anyway, hukum PR ini juga berlaku untuk lovers and haters, bukan? Tidak mungkin kita membuat semua orang mencintai kita. Dan sejahat apa pun kita, tidak mungkin bisa membuat semua orang membenci kita.

Pembunuh berdarah dingin pun mungkin masih punya pencinta, bukan?

Ketika belum banyak yang kenal, hidup saya dulu rasanya tenaaang sekali. Semakin banyak yang kenal, memang semakin banyak rasanya yang mengapresiasi segala hal yang saya lakukan. Di sisi lain, selalu saja ada yang sirik, mengkritik, bahkan terang-terangan menghujat.

Nah, itu yang kategori terkenalnya tanggung seperti saya. Apalagi yang dikenalnya masuk kategori superkondang. Karena pertumbuhan prestasi, penggemar, dan haters rasanya kok berbanding segaris…

Menanggapinya pun macam-macam. Ada yang lebay, sedikit-sedikit ditanggapi. Bahkan sampai menangis-nangis di TV. Ada yang saking tidak kuatnya mencari pelarian yang enggak-enggak…

Ada yang saking kondangnya dan saking tinggi jabatannya, sampai berniat mengeluarkan aturan untuk melarang segala penghinaan terhadap dirinya…

Haruskah sampai segitunya?

Untuk urusan ini, saya harus angkat topi paling tinggi buat Abah saya sendiri. Buanyak orang yang menghujat, buanyak orang yang membenci, buanyak orang yang sirik, dianya tetap cuek-cuek dan do his business.

Dia pernah bilang sama saya: ”Apa pun yang saya lakukan, orang pasti tidak 100 persen percaya. Saya bilang saya tidak korupsi, pasti ada yang tidak percaya. Saya bilang tidak mengambil gaji, pasti ada yang tidak percaya. Ya sudah. Itulah hidup.”

Kalau mau nggoogle, ada banyak sekali kutipan menyikapi para hater ini.

Ada yang bilang:

”Someone who hates you normally hates you for one of three reasons. They either see you as a threat. They hate themselves. Or they want to be you.”

Ada juga yang bilang:

”When people hate on you, it’s because you’ve got something they want.”

Semuanya klise, hanya ada yang puitis, puitis medium, dan puitis soro. Tinggal suka yang mana, itu saja. Pada intinya ya sudah, biarin aja.

Yang paling saya suka? Yang dipakai Taylor Swift di lagunya, Shake It Off.

Bunyinya:

”And the haters gonna hate, hate, hate…

Baby I’m just gonna shake, shake, shake…

Shake it off. Shake it off!”

Kenapa suka yang ini? Karena sambil mengucapkannya kita bisa bergoyang! Wkwkwkwkwk…


Sabtu, 01 Agustus 2015

Perbuatan versus Perbuatan

Perbuatan versus Perbuatan

Azrul Ananda ;  Dirut Jawa Pos Koran
                                                         JAWA POS, 29 Juli 2015        

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

DIA orang baik! Dia orang jahat! Dia lebih banyak baiknya! Dia lebih banyak jahatnya!

                                                             *****

Mengikuti Tour de France 2015, sulit menghindari pembicaraan soal doping. Khususnya soal Lance Armstrong.

Penggemar balap sepeda atau tidak, kebanyakan orang kenal Lance Armstrong. Selamat dari kanker testis, dia berlatih serius dan menciptakan ”keajaiban”. Memenangi Tour de France sebanyak tujuh kali berturut-turut, antara 1999 hingga 2005.

Cerita Armstrong begitu luar biasa sehingga masuk kategori ”too good to be true” alias terlalu ajaib.

Dan prestasi itu ternyata memang terlalu ajaib. Setelah bertahun-tahun melawan tuduhan doping, akhirnya kebenaran mencuat ke permukaan, disusul pengakuan.

Lance Armstrong melakukan doping untuk meraih prestasi itu. Menggunakan EPO, human growth hormone, testosteron, untuk meningkatkan performa.

Semua itu akan ditampilkan di layar lebar dalam waktu dekat, dalam sebuah film berjudul The Program. Aktor Ben Foster, yang pernah main di X-Men, tampil memerankan pembalap asal Texas tersebut.

Tujuh gelar Tour de France-nya pun dicabut.

Uniknya, sekarang Tour de France 2000 hingga 2006 dinyatakan tak punya pemenang. Mengapa demikian? Sebab, sudah menjadi rahasia umum, mereka yang finis di belakang Armstrong pun melakukan ”program” yang sama!

Sampai hari ini, perdebatan soal Armstrong itu terus berjalan.

Apakah dia orang jahat? Karena menggunakan doping untuk meraih prestasi begitu luar biasa.

Apakah dia kompetitor normal? Sebab, dia bertarung melawan pesaing yang melakukan hal sama.

Apakah dia tetap bisa dibilang sebagai orang baik?

Sebab, bagaimanapun, kisah hidupnya melawan kanker telah menginspirasi jutaan orang untuk mengejar keajaiban. Menginspirasi mereka yang juga punya kanker untuk berjuang mengejar kesembuhan, menginspirasi lainnya untuk hidup lebih sehat lewat olahraga.

Dan bagaimanapun, prestasinya telah membantu memopulerkan olahraga cycling ke level yang begitu tinggi. Dia telah memperkaya banyak perusahaan yang mensponsorinya. Dia bahkan memperkaya perusahaan-perusahaan yang tidak mensponsorinya, tapi berada di industri yang bersaing dengan sponsor-sponsor Armstrong!

Sampai hari ini, sikap yang mungkin paling dianggap benar, yang paling politically correct, adalah menghujatnya.

Tapi, sampai kapan? Ada ungkapan, ”Time heals all wound.” Waktu akan menyembuhkan segala luka.

Mungkin dalam beberapa tahun ke depan akan ada kesadaran baru, yang memaafkan Armstrong, dan mengembalikan gelar-gelarnya secara resmi. Sebab, bagaimanapun, dia bersaing melawan orang-orang yang sangat mungkin juga doping (tidak sedikit yang terbukti juga doping).

Kisah dan perdebatan soal Armstrong itu membuat saya banyak berpikir tentang perbuatan versus perbuatan.

Secara pribadi, saya tidak berani menghujat Armstrong. Walau dia terbukti doping, apa yang dicapainya adalah sesuatu yang benar-benar menakjubkan.

Gampangnya begini: Seandainya saya doping dan berlatih keras, apakah saya mampu menjadi juara Tour de France? Mungkin tetap tidak mungkin! Tetap harus punya bakat, tetap harus bekerja keras.

Armstrong, yang jelas-jelas punya bakat hebat, tetap harus berlatih gila-gilaan. Armstrong tetap harus berjuang menyelesaikan perlombaan yang panjangnya tiga pekan, tetap harus jatuh bangun menaklukkan lawan-lawannya.

Dan dia memang pernah jatuh, lalu bangun lagi untuk mengalahkan lawan-lawannya.

Berapa banyak orang, doping atau tidak, punya tekad dan kemauan sebesar Armstrong?

Dan sekali lagi, entah berapa banyak orang yang selamat dari kanker karena terinspirasi oleh kisahnya.

Bukankah banyak orang selalu bilang, tidak ada manusia yang sempurna?

Ini bukan berarti saya mendukung Armstrong. Tapi, saya termasuk orang yang paling sebal melihat orang menuding orang lain buruk. Padahal, dia sendiri belum tentu baik.

Lebih parah lagi kalau dia sendiri ternyata juga tidak pernah bekerja keras mengejar sesuatu yang luar biasa, tidak pernah melakukan prestasi apa-apa…

Kamis, 16 Juli 2015

Alarm Ucapan Takut Miskin

Alarm Ucapan Takut Miskin

Azrul Ananda  ;  Dirut Jawa Pos Koran
                                                         JAWA POS, 14 Juli 2015        

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

HAMPIR semua orang punya rasa takut pada sesuatu. Anda takut apa?

Di kelas-kelas menulis, kami dibiasakan untuk tidak menyebut ’’semua’’ orang begini atau begitu. Misalnya, tidak boleh bilang ’’Semua orang punya rasa takut’’. Atau, ’’Semua orang merasakannya’’.

Karena ’’semua’’ tergolong generalisasi. Dan kita harus bisa berpikir bahwa belum tentu semua orang merasa atau suka pada hal yang sama.

Sebagai ganti, kami dibiasakan menggunakan kalimat ’’Hampir semua orang punya rasa takut’’. Atau, ’’Hampir semua orang merasakannya’’.

Mengacu pada pelajaran logika ini, bicara soal rasa takut, saya pun memakai kalimat ’’Hampir semua orang punya rasa takut’’.

Karena mungkin saja ada satu atau dua yang memang tidak punya rasa takut sama sekali. Entah karena alasan psikis (error di kepala? Wkwkwkwk), atau karena alasan kekurangan bagian tubuh (tidak punya udel. Ini meminjam guyonan sahabat saya, Mas Dewo. Wkwkwkwkwkwkwkwk...).

Coba perhatikan diri sendiri. Perhatikan orang-orang yang Anda kenal. Kadang rasa takutnya lucu-lucu. Ada yang begitu berani menghadapi gerombolan orang beringas, tapi lari ketakutan ketika melihat seekor anjing.

Ada pula yang berbadan tegap dan atletis, tapi bisa terkencing-kencing ketika dipaksa naik roller coaster. Saya sih tidak takut, cuman lebih baik menghindari roller coaster dan mengaku merasa tidak nyaman. Sama ya? Wkwkwkwk…

Di sekeliling saya, misalnya. Ada orang yang takut tanjakan, takut makan tahu, takut naik pesawat, dan –bagi teman-teman laki-laki– banyak yang takut kepada istri.

Ada juga survei di Amerika yang menyatakan bahwa orang lebih takut bicara di depan publik daripada takut mati. Dan itu berarti mereka lebih siap terjun di medan perang daripada disuruh pidato!

Kebanyakan rasa takut itu bisa ditanggapi dengan tawa, dengan cibiran, atau cukup dengan perasaan heran. Namun, ada pula yang ketika disampaikan mampu membuat sensor di kepala kita bereaksi lebih kuat.

Sekian tahun yang lalu, ketika makan lewat tengah malam –setelah deadline pengerjaan koran– dengan beberapa manajer dan staf, saya pernah ditanyai soal rasa takut.

Seorang manajer senior itu bertanya, saya takut apa?

Waktu itu, saya tidak menanggapinya terlalu serius. Saya jawab saja: ’’Takut ikan hiu.’’

Penyebabnya? Menonton film Jaws benar-benar membuat saya merinding setiap kali melihat ikan hiu. Walau di sisi lain, menonton film itu juga menjadikan great white shark sebagai binatang favorit saya (begitu streamlined dan efisien!).

Belakangan, film Jurassic World juga membuat saya kagum pada Mosasaurus. Bagaimana tidak, dia dengan mudah makan ikan hiu!

Selain itu, saya tidak nyaman dengan ruangan sempit (claustrophobia) dan takut pada tikus (mungkin jijik lebih tepatnya).

Jawaban saya itu jujur, tapi juga sambil lalu. Yang tidak saya sangka adalah ucapan yang muncul dari mulut manajer tersebut.

’’Saya takut miskin.’’ Begitu dia berucap.

Glodak! Prang! Tet-tet-tet-tet! Niiiiuuuu, niiiiuuuu, niiiiiuuuuu…

Berbagai bunyi-bunyian bersahut-sahutan di dalam kepala saya (yang waktu itu sebenarnya sedang cuek santai, sedang recovery mode setelah selesai deadline koran).

Terus terang, saya tidak ingat lagi apa percakapan selanjutnya. Yang jelas, berbagai mekanisme saringan dan pengolahan bekerja aktif di dalam kepala saya.

Entah mengapa, saya sangat terhenyak dengan ucapan tersebut, yang sedikit banyak mungkin mencerminkan pola pikir dan sikap sang manajer.

Saya mencoba berpikir positif, karena orang yang ’’takut miskin’’ akan berusaha dan bekerja keras supaya tidak jatuh miskin. Dan itu mungkin baik.

Hanya, ada perasaan khusus yang mengingatkan saya juga, bahwa orang itu juga berpotensi rela melakukan apa saja agar tidak jatuh miskin. Dan itu belum tentu baik.

Pada akhirnya, sang manajer senior itu memang tidak lagi bersama kami. Saya tidak akan bercerita lebih jauh, dan ini sudah terjadi sangat lama.

Yang jelas, saya juga jadi mengevaluasi diri sendiri. Apakah saya takut miskin? Entahlah. Wong dulu waktu kecil keluarga saya juga termasuk tidak kaya.

Saya mungkin pernah menulis sebelumnya, bahwa waktu kecil saat minta dibelikan mainan kereta, saya hanya dikasih sapu lidi dan sejumlah karet, lalu disuruh merakit sendiri relnya…

Dan orang tua selalu mengingatkan saya: Uang selalu bisa dicari. Kalau kerja jangan terlalu banyak berpikir, asal serius, hasil akan datang dengan sendirinya.

Lebih dari itu, banyak hal lain dalam hidup ini yang tidak selalu bisa dibeli dengan uang. Misalnya, reputasi, pertemanan, dan –apa pun bentuk dan definisinya– kebahagiaan…

Nah, Anda takut apa?

Kamis, 09 Juli 2015

Limit Kamu Ada di Sini

Limit Kamu Ada di Sini

   Azrul Ananda  ;  Dirut Jawa Pos Koran
                                                         JAWA POS, 08 Juli 2015        

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pernahkah Anda –dalam hal apa pun– mem-push diri sendiri hingga batas kemampuan? Lalu, berapa kali mengulanginya?

                                                        ***

John R. Mohn, ayah kedua saya yang tinggal di Amerika Serikat, mungkin adalah orang yang paling berjasa dalam membuka mata dan pikiran saya. Sekaligus menemukan cara untuk ’’unlock’’ potensi yang ada pada diri saya.

Ayah angkat saya saat SMA di Kansas itu memang tidak punya anak laki-laki, jadi setiap hari menemani saya, menunjukkan dan mengajari banyak hal.

Yang paling berguna buat saya sekarang tentu bagaimana menjadi fotografer yang baik untuk koran sekolah maupun koran lokal yang dia pimpin. Plus bagaimana menjadi lay-outer yang baik, serta prinsip-prinsip dasar jurnalistik.

Selain itu, bagaimana menjadi kicker yang baik dalam permainan American Football, serta mengajari bagaimana menembak menggunakan pistol dan shot gun (wkwkwkwk), juga bagaimana memotong kayu perapian memakai kapak (seperti dalam film The Avengers: Age of Ultron).

Dan lain sebagainya…

Karena saya tinggal di kota kecil yang penduduknya tidak sampai 3.000 orang, dia pula teman terdekat saya selama setahun menjadi peserta exchange student (pertukaran pelajar) di Kansas itu.

Ketika kali pertama datang di rumahnya, saya tidak tahu bahwa dia ternyata juga keluarga media. Mungkin garis tangan saya harus selalu tinggal bersama keluarga media.

Dan karena kemampuan bahasa Inggris saya belum jago, maka dia menjadikan saya fotografer di koran sekolah (yang dia bantu didik dan kelola), plus membantu jadi fotografer di koran yang dia pegang.

’’Kamera adalah alat yang baik supaya kamu bisa bertemu dengan orang, dan orang berbicara dengan kamu,’’ katanya waktu itu.

Sebuah kamera Nikon FM-2 pun selalu terkalung di leher saya selama bulan-bulan pertama SMA di Amerika…

Bagaimana hasil fotonya? Namanya anak superkurus umur 16 tahun, dengan kamera berat yang full manual, dan dengan mata yang minusnya terus mendekati angka 10, tentu saya bukanlah fotografer terbaik.

Masalah utama saya menurut John: Camera movement. Tangan tidak bisa tenang saat menge-klik. Ketajaman foto tidak bisa optimal.

Skill saya dalam memproses film dan mencetak foto di ruang gelap juga bukan yang terbaik.

Masalah utama saya menurut John: Tidak sabaran.

Meski demikian, kata John, saya ini termasuk yang tidak mau menyerah. Tidak pernah menghitung waktu. Tidak mau berhenti sampai pekerjaan tuntas.

Dan itu, kata dia, akan membuat saya lebih baik daripada fotografer sekolah lain saat itu.

’’Bakat kamu ada di sini,’’ kata John sambil memosisikan tangannya sejajar dengan dada. ’’Orang lain ada yang di sini,’’ tambahnya lagi sambil menempatkan tangan di atas kepala.

Walau level talenta saya tidak setinggi yang lain, John bilang tidak perlu khawatir. Asal kita terus bekerja di batas kemampuan, maka upaya kita itu akan terus membentur atap batas kemampuan tersebut. Ketika terus dibentur-benturkan, atap batas kemampuan itu pun terdorong ke atas terus-menerus.

John lantas menempatkan lagi tangan kanannya sejajar dengan dada, lalu tangan kirinya memukul-mukul telapak tangan kanan itu pelan-pelan ke atas.

                                                            ***

John pun berbicara hal yang sama kepada seluruh staf Ellinwood Eagles, koran sekolah saya yang juga punya kewajiban mengerjakan buku tahunan sekolah.

Dia bilang, secara bakat, tim jurnalistik saya waktu itu tidak sebaik tim tahun sebelumnya. Dan tim tahun sebelumnya memang sangat berbakat, sampai akhirnya menjadi juara negara bagian, dan menjadi salah satu yang terbaik di Amerika.

John blak-blakan di depan kami semua. Dia bilang, Pemred kami waktu itu tidak sehebat tahun sebelumnya dalam hal menulis dan meng-edit. Talenta staf yang lain juga dianggap pas-pasan. ’’Fotografernya saja belum fasih berbahasa Inggris,’’ tambahnya sambil melirik ke saya.

Tapi, dia menegaskan, tidak berarti tim ini tidak bisa berprestasi dan menghasilkan koran sekolah yang baik.

Dengan tim tahun saya itu, John benar-benar harus lebih sabar membina. Butuh waktu bagi tim itu untuk bisa bekerja dengan baik, dan bisa kompak bekerja.

Alhasil, kami pun sering bekerja sampai malam di ruang redaksi sekolah (rata-rata sampai pukul 9 malam). Demi memastikan standar setiap terbitan sebaik-baiknya (sesuai harapan John tentunya).

Kadang, kami pun harus bekerja saat weekend, saat anak-anak lain santai libur. Bayangkan, ini sebuah koran sekolah. Koran beneran saja belum tentu serajin ini!

’’Di kelas ini kita bisa banyak belajar. Tapi, memenuhi deadline dan harus masuk bekerja pada akhir pekan adalah yang terburuk,’’ komentar salah seorang rekan saya.

Walau sering mengomel, sering saling mengomeli, dan sering diomeli John, semua kerja keras itu ternyata ada hasilnya.

Kami mampu menjadi juara tingkat regional, lalu meraih juara kedua tingkat negara bagian. Memang tidak sehebat tim tahun sebelumnya. Tapi mengingat talenta dan potensi kami pada awal pembentukan, kami sudah melangkah jauh.

Dalam buku tahunan, John memberikan komentar yang merangkum tim kami dengan sangat pas:

’’Saya sering marah kepada tim koran dan Yearbook, karena mereka tidak selalu bekerja memaksimalkan potensinya. Di sisi lain, mereka tetap menghasilkan lebih banyak karya bila dibandingkan tim-tim sebelumnya. Serta menjadi juara kedua di tingkat negara bagian. Yearbook yang dihasilkan pun cukup bagus.’’

Lalu, ada komentar yang benar-benar dia simpan sampai akhir: ’’Saya akan bilang bahwa saya bangga pada mereka. Tapi, saya tak mau mereka mendengar ini sampai tahun ajaran ini selesai.’’

                                                              ***

Tulisan ini memang personal dan contohnya diambil dari tim anak SMA. Tapi, saya rasa relevan untuk kita semua. Ya, nggak?

Gara-gara John, saya paling sebal melihat orang tidak mau berusaha. Gara-gara John, saya paling sebal melihat orang mudah menyerah.

Ya, andai memaksa maksimal pun, kita mungkin tetap tidak punya cukup bakat untuk jadi juara atau jadi yang terbaik. Tapi, kita masih bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang berkesan.

Kalau tidak, lalu hidup ini untuk apa?

Kamis, 02 Juli 2015

Butuh Waktu Lama untuk Jadi Muda

Butuh Waktu Lama untuk Jadi Muda

   Azrul Ananda  ;   Dirut Jawa Pos Koran
JAWA POS, 01 Juli 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Hari ulang tahun bisa jadi hari terbaik, atau hari terburuk…

                                                         ***

Tidak setiap hari ulang tahun adalah hari istimewa. Ada yang benar-benar istimewa, ada yang biasa-biasa saja. Ya, nggak?

Ada yang habis-habisan merayakan ulang tahun pertama anaknya. Ada yang habis-habisan merayakan ulang tahun ke-17 anaknya. Ada juga yang habis-habisan merayakan ulang tahunnya yang ke-50.

Dan itu sah-sah saja, hak masing-masing, karena memang umur tidak bisa di-rewind.

Ada juga yang ’’merayakan’’ ulang tahun angka tertentu dengan tawa, pesta, juga tangis. Dan bukan tangis haru bahagia…

Karena jarang merayakan ulang tahun, hanya ada beberapa kesempatan yang buat saya terkenang sampai sekarang.

Pertama, ulang tahun ke-21. Kalau di Amerika, itu penanda sudah boleh belanja minuman beralkohol.

Lalu, ulang tahun ke-27 pada 2004. Karena pada hari yang sama diselenggarakan technical meeting pertama DBL, liga basket pelajar yang sekarang menyebar di seluruh Indonesia.

Lalu, ulang tahun ke-30.

Kebetulan, pada tahun yang sama, banyak teman dekat saya yang merayakan ulang tahun ke-30 pula. Kebanyakan sudah menikah dan berkeluarga, walau ada juga teman yang ternyata masih single dan pacaran dengan yang jauh lebih muda.

Secara bergantian, kami mentraktir makan. Lalu berbagi cerita. Tentu saja, teman kami yang masih single itulah yang banyak dihujani pertanyaan.

’’Bagaimana rasanya, bro?’’ tanya teman saya yang lain, yang sudah berkeluarga.

’’Kalau dulu main fisik, sekarang main teknik,’’ begitu jawabnya santai, mengundang tawa yang lain.

’’Wah, kalau gue gimana, bro?’’ tanya teman saya yang lain itu lagi.

’’Kalau elu mah kaya Chelsea aja, main duit…’’ celetuknya, lagi-lagi mengundang tawa yang lain.

Ini kali pertama saya memakai kata ’’gue’’ dan ’’elu’’ di kolom Happy Wednesday. Sebab, dua teman saya itu memang orang Jakarta, dan kami makan-makannya waktu itu di Jakarta.

Dan waktu itu, Chelsea memang lagi rajin belanja pemain mahal…

Terus terang, saat ultah ke-30 itu, saya lebih banyak bengong, menyendiri, dan bahkan sempat menangis. Dan bukan menangis haru bahagia.

Kali pertama berusia kepala tiga, waktu itu saya merasa sudah tua. Tidak bisa lagi bilang umur ’’dua puluhan’’.

Saya yakin saya tidak sendirian menangis di ulang tahun usia tertentu. Liv Tyler, bintang film cantik, mengaku menangis saat ultah ke-18. ’’Karena saya merasa 17 tahun itu usia yang manis. Cukup muda untuk tidak disalahkan dalam banyak hal, tapi juga cukup dewasa…’’ ungkapnya.

Baru setelah satu dua tahun melewati usia 30, hati saya menjadi lebih tenang. Ternyata, ’’muda’’ itu relatif. ’’Muda’’ itu tergantung memandangnya dari mana. Kalau dilihat dari usia lebih ’’atas’’, ya masih muda.

Walau pada saat yang sama, sakit rasanya mendengar ada anak/remaja memanggil saya ’’Om’’.

Jleb! Jleb! Jleb!

Sakitnya tuh di mana-mana…

Tidak terasa, dalam beberapa tahun lagi saya sudah akan menginjak kepala empat. Banyak orang yang sudah merasakannya, dan setiap orang akan punya perasaan beda-beda.

Seperti apa rasanya buat saya nanti? Kalau masih ada kolom Happy Wednesday pada 2017 nanti, semoga saya bisa bercerita… Dan semoga bahagia…

Dan seperti kebanyakan orang, saya juga ingin merayakan ulang tahun ke-50, ke-60, dan seterusnya, dalam kondisi sehat dan masih bisa banyak berbuat…

                                                         ***

Hari ini Jawa Pos merayakan ulang tahun ke-66.

Pada tahun yang tidak dianggap enak oleh banyak orang ini, kami bersyukur masih bisa menjadi perusahaan yang solid, mantap melangkah ke depan. Dan kami sudah menjalani proses restrukturisasi serta regenerasi yang komprehensif, di hampir seluruh departemen dan lapisan manajemen.

Tidak semua perusahaan dengan usia setara sudah ’’lolos’’ dari proses yang berat itu. Bahkan ada yang baru akan memulainya…

Karena ini bukan tahun yang overall menyenangkan, kami pun menahan diri dalam merayakannya. Biasanya, setiap ulang tahun, karyawan bikin pesta seru di ruang redaksi di Graha Pena Surabaya, yang memang luas dan terbuka.

Ada dress code heboh, ada DJ, ada kompetisi yel-yel antardepartemen, dan sebagainya. Maklum, walau usia koran sudah 66 tahun, usia rata-rata karyawan kami masih di angka 30. Ya, 30 tahun! Kebanyakan manajer pun usianya masih di pertengahan 30-an.

Tahun ini, kami hanya akan bikin acara sederhana.

Dan kami berterima kasih kepada semua pembaca serta mitra bisnis Jawa Pos, yang setiap tahun selalu menjadikan ulang tahun kami sebagai event yang heboh.

Sudah dalam beberapa hari terakhir, dan biasanya sampai beberapa hari ke depan, bergantian dan berbondong-bondong kelompok pembaca serta mitra kerja Jawa Pos berkunjung ke kantor kami di Surabaya maupun Jakarta.

Dalam seminggu, bisa lebih dari 3.000 orang berkunjung dan mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung.

Betapa berterima kasihnya kami kepada mereka… Plus banyak kue dan makanan enak menumpuk di kantor selama seminggu… Hehehe…

                                                             ***

Tahun ini, kami juga meminta seluruh karyawan untuk menuliskan visi mereka untuk Jawa Pos ke depan. Seru juga membaca ratusan tulisan yang masuk tersebut. Dan ada hadiah seru untuk ide-ide atau saran-saran yang konkret serta menarik. Tidak harus visi besar, tapi bisa juga tentang hal-hal kecil yang bisa membantu perkembangan perusahaan ini ke depan.

Karena usia rata-rata karyawan masih muda, tentu saja ini sangat penting. Sebab, mereka pulalah yang akan menikmati/menanggung beban itu semua pada masa mendatang…

’’Jawa Pos harapan saya dapat senantiasa menjadi mata air, yang dapat selalu memberikan sumber kehidupan dan penghidupan bagi kita semua. Jawa Pos dalam mimpi saya adalah Jawa Pos yang dapat mengarahkan kita semua ke atas, untuk menjadi lebih baik. Seperti pohon rotan yang bisa membantu menjaga kelestarian hutan, maka Jawa Pos tidak hanya bermanfaat secara internal, tetapi harapan saya agar Jawa Pos bisa juga tetap selalu menjaga bangsa dan negara Indonesia ini.’’

Begitu penggalan salah satu tulisan yang masuk. Dan karena menginspirasi untuk saya kutip, maka yang menulisnya akan dapat Rp 10 juta.

Seperti apa Jawa Pos ke depan? Tentu tidak bisa ditulis di kolom ini. Juga belum tentu bisa di-sharing begitu saja ke semua pihak.

Yang pasti, dengan kekuatan tim muda yang mampu berlari maraton dengan pace cepat, masa depan kami bisa lincah ke mana saja.

Banyak plan dalam setahun, tiga tahun, dan lima tahun ke depan. Juga untuk tahun-tahun selanjutnya. Semua siap berlari mengeksekusinya, juga siap zig-zag dan ganti haluan dengan lincah kalau memang diharuskan.

Secara resmi usia Jawa Pos 66 tahun. Tapi, engine-nya masih 30-an tahun… Benar juga kata Pablo Picasso: ’’It takes a long time to become young.’’

Butuh waktu lama untuk menjadi muda…