Tampilkan postingan dengan label Jokowi dan Capres 2014. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jokowi dan Capres 2014. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2013

Jokowi Cambuk Bagi Elite Politik Menuju Pencapresan 2014

Jokowi Cambuk Bagi Elite Politik
Menuju Pencapresan 2014
Zulhilmi ;  Pemerhati Masalah Politik
OKEZONENEWS, 29 Juli 2013

  

Elektabilitas tentunya itu yang diperlukan oleh para calon Presiden 2014. Berbagai Iklan di media massa menampilkan figur pemimpin masa depan Indonesia. fenomena calon presiden dan wakil presiden semakin bermunculan baik itu para politisi senior maupun wajah-wajah baru. Muncul tokoh-tokoh politisi yang sudah sangat popular seperti Wiranto, Prabowo, Megawati, Jusuf Kalla, Surya Paloh, dan Aburizal Bakrie. 

Calon tersebut merupakan wajah lama yang gencar mempromosikan diri di media. Bursa Capres kali ini juga memunculkan wajah-wajah baru seperti Gita Wirjawan, Mahfud MD, Dahlan Iskan, Sri Mulyani, dan Joko Widodo. Namun, Akhir-akhir ini media selalu melirik seorang sosok yang fenomenal Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi. Mantan Walikota Surakarta ini menang pada Pilkada DKI Jakarta dan banyak melakukan gebrakan melalui metode “blusukan” ketika menjabat Gubernur. Segala Janji politik saat kampanye mulai diwujudkan hanya untuk seluruh warga Jakarta.

Ektabilitas seorang Jokowi memang sangat dikagumi oleh masyarakat Jakarta. Gaya kepemimpinan yang patut ditiru oleh seluruh pemimpin di Indonesia. Gaya kepemimpinan Jokowi yang sederhana serta apa adanya menjadikan nilai tersendiri bagi masyarakat maupun kalangan politik. Survei Pusat Data Bersatu (PDB) menyatakan elektabilitas Jokowi mencapai puncak  melampaui calon Prabowo Subianto dan pimpinan partainya Megawati Soekarno Putri. Survei BPD per Juni 2013 yaitu: Jokowi 29,57 persen, Prabowo 19,83 persen, Megawati SP 13,08 persen, Aburizal Bakrie 11,62 persen, Jusuf Kalla 5,47 persen, Wiranto 3,59 persen, Hatta Radjasa 1,2 persen, Mahfud MD 1,2 persen, Dahlan Iskan 1,11 persen, Chairul Tanjung 0,43 persen, Marzuki Alie 0,26 persen, Joko Suyanto 0,09 persen, Pramono Edhi 0,09 persen, Calon lainnya 1,11 persen, Golput 0,85 persen, Belum Menentukan 10,51 persen (Sumber PDB). Posisi Jokowi sangat signifikan dalam elektabilitas yang diinginkan oleh responden di seluruh Indonesia. 

Jokowi Effect

Figur Jokowi memang diinginkan oleh publik seperti survei PDB. Hal ini terbukti dengan dilakukan survei  Jokowi  yang dipasangkan dengan Capres yang muncul. Hasilnya Prabowo-Jokowi memiliki porsi pasangan yang diinginkan. Hal ini terbukti ketika survei PDB juga memasangkan Jokowi dengan Jusuf Kalla yang memperoleh 17,13 persen, kemudian Aburizal Bakrie-Jokowi 12,52 persen, dan Megawati-Jokowi 12,34 persen (Okezone.com, 18 Juni 2013). Survei tersebut membuktikan bahwa fenomena Jokowi menjadi magnet terbesar bagi para elite dalam bursa pencapresan 2014. Siapapun pasangan Jokowi pasti akan memenangkan Pemilu Presiden pada 2014 mendatang.

Rekam jejak sang Gubernur  DKI Jakarta ini sangat subtansial. Pengalaman memimpin Kota Surakarta selama Tujuh Tahun menjadikan beliau mampu menduduki posisi DKI 1. Sebelumnya  di Solo beliau terpilih hingga dua periode tanpa menggunakan dana kampanye alias nihil. Hal ini, dibuktikan dengan kerja nyata sesuai janji-janji politiknya saat kampanye. Jokowi seorang pemimpin yang partisipatif serta negosiator yang ulung dalam menyelesaikan masalah secara baik. Program kerja pemerintahan berjalan dengan solusi yang tidak merugikan Masyarakat. Masyarakat selama ini mencari sosok pemimpin yang berfikir dan berbuat tulus dan mengunakan nurani. Masyarakat terlalu lama menanti semenjak reformasi berjalan  selama 14 tahun. Sosok tersebut ada pada Jokowi yang memiliki jiwa merakyat. Jokowi hadir di tengah kegamangan politik yang makin memuncak. Mungkin ini jawaban dari tuhan bagi masyarakat Indonesia yang menginginkan perubahan. Jokowi sosok yang fenomenal itu menjadikan masyarakat Indonesia menginginkan dia menjadi pemimpin Nasional.

Capres Prematur  

Fenomena Jokowi ini tentunya memiliki kekuatan dan juga kelemahannya. Memang  beberapa survei memunculkan Jokowi selalu berada di posisi puncak.  Namun ini akan menjadi bumerang bagi Jokowi jika Partai PDIP jadi mencalonkannya sebagai Capres 2014. Hal ini dimanfaatkan oleh lawan-lawan politik untuk menghancurkan elektabilitasnya. Pondasi karier elektabilitas politik yang belum kuat menjadikan rapuh dan mudah runtuh. Momok yang paling harus dihindari, ketika kegagalan kepemimpinan menerpa sang fenomenal yang meniti karier dari lini bawah. Pertimbangan partai juga diperlukan agar tidak mengambil keputusan yang salah. Jangan hanya fenomena Jokowi tersebut menjadikan Partai memaksakan hasrat politiknya demi meraih kekuasaan secara mayoritas.

Rekam jejak Jokowi tersebut selama ini selalu menjadikan para elite politik harus ekstra berkerja agar capres yang diusung menang. Hal ini, merupakan sebuah tantangan bagi para calon-calon Presiden yang hanya mendompleng popularitas melalui media. Bagi masyarakat Capres yang ada hanya melakukan pencitraan semata. performa instan dengan figurisasi bukan track record yang baik menjadikan masyarakat lebih menyukai sosok Jokowi. walaupun banyaknya iklan-iklan yang menampilkan performa mereka sebagai calon pemimpin masa depan Indonesia. Pencalonan Jokowi sebagai Capres 2014 perlu dipertimbangkan lagi karena karier elektabilitas politik di DKI Jakarta belum tuntas. Namun, bila tetap dipaksakan maka kemungkinan terburuk akan terjadi dikemudian hari. Jangan sampai Elektabilitas Jokowi menurun drastis. 

Memilih Figur Politik

Selama ini partai politik selalu dapat dipatahkan oleh Figur politik. Masa 2004 saja Figur seorang Susilo Bambang Yudhoyono mampu menaikkan elektabilitas Partai Demokrat. Dan puncaknya pada Pemilu 2009 di mana SBY dan Partai Demokrat  menguasai mayoritas kursi di parlemen. Selanjutnya pada Pilkada DKI Jakarta sosok Jokowi mampu memenangkan Pilkada. Di sini adanya pergeseran normatif politik, hal ini karena masyarakat sudah kurang berkenan dengan partai politik. Figur merupakan pilihan alternatif agar adanya perubahan. Partai politik mestinya peka terhadap fenomena yang muncul. Figur politik harus diperkuat dengan rekam jejak yang baik oleh partai politik. Wajah partai politik mesti berubah dan mengembalikan fungsinya sebagai mesin politik. Partai politik harus menjadi jembatan penghubung antara masyarakat dan wakilnya di parlemen.

Partai politik perlu memperkuat pondasi politiknya dengan membangun tatanan Sistem kepartaian yang ideal dan kembali fungsi sebagai mesin politik. Partai politik harus menjadi patron kekuatan rakyat bukan hanya pada saat pemilu saja mereka hadir. Partai politik merakyat itu yang diinginkan oleh masyarakat. Proses demokrasi seharusnya berjalan agar tidak ada kepincangan secara politik akibat hasrat mendapatkan dukungan pad konstituen. Namun, setelah semua terwujud rakyat seolah dilupakan dan konsolidasi semakin merenggang dan mulai merapat kembali pada pemilu berikutnya. Masyarakat saat ini memiliki dua pilihan dalam menentukan pemimpinnya. Kecerdasan para pemilih dalam melihat figur bukan lagi partai. Karena buruknya figur menjadikan partai semakin memiliki elektabilitas yang semakin merosot tajam. Figur merupakan sebuah pilihan cerdas masyarakat dalam menentukan arah perubahan sebuah daerah maupun nasional. Jokowi menang karena pilihan politik masyarakat Jakarta yang cerdas. Sekali lagi ini cambuk bagi partai politik untuk sebagai motivasi untuk merubah wajah partai politik yang makin suram. Semoga partai politik mampu berbenah diri dan menjalankan fungsinya sebagai partai politik. ●

Selasa, 09 April 2013

Jokowi-Jokerwi


Jokowi-Jokerwi
Jeffrie Geovanie  ;  Founder The Indonesian Institute
KORAN SINDO, 09 April 2013

  
Dalam sejumlah survei nasional yang digelar antara Januari–Februari 2013, calon presiden yang menjadi pilihan responden mengerucut pada nama Joko Widodo alias Jokowi. 

Mantan Wali Kota Surakarta yang dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta pertengahan Oktober 2012 itu elektabilitasnya melampaui nama-nama capres yang sudah getol berkampanye seperti Prabowo Subiyanto, Aburizal Bakrie, dan Hatta Rajasa. Survei nasional Pusat Data Bersatu (PDB), 3-18 Januari 2013, menempatkan elektabilitas Jokowi di puncak dengan meraih 21,2%, disusul Prabowo 18,4%, dan Megawati Soekarnoputri 13,1%.

Sementara Aburizal berada di urutan kelima dengan 9,3%. Hasil ini tak jauh berbeda dengan survei Lembaga Survei Nasional (LSN) yang juga menempatkan Jokowi di urutan teratas dengan 18,1%, disusul Prabowo 10,9%, Wiranto 9,8%, Jusuf Kalla 8,9%, dan Aburizal tetap di urutan kelima dengan 8,7%. Mengapa Jokowi lebih diminati publik menjadi presiden ketimbang capres-capres yang sudah lebih dulu muncul? 

Menurut analisis PDB, sikap, penampilan (gaya berbicara dan berpakaian), serta pemberitaan media membuat nama Jokowi melambung dan menjadi idola baru di tengah-tengah masyarakat. Dua kriteria utama capres yang dikehendaki publik yakni kejujuran dan keberpihakan pada rakyat dianggap terwakili dalam sosok Jokowi. Gaya bicara, penampilan, dan sikapnya saat berada di tengah-tengah kerumunan masyarakat dianggap mewakili sikap yang asli dan tidak dibuat-buat layaknya capres yang sedang berkampanye. 

Mengapa capres-capres yang gemar berkampanye antara lain dengan memasang baliho yang tersebar di seluruh Nusantara seperti Aburizal Bakrie dan Hatta Rajasa justru kurang mendapat respons positif (elektabilitasnya rendah)? Publik menganggap kampanye mewakili ketidakjujuran, dibuat- buat, dan semata-mata untuk pencitraan. Publik tampaknya tidak mau terperosok dalam lubang yang sama dua kali. Memiliki presiden yang mengandalkan citra sudah cukup pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

Ibarat Joker 

Dalam permainan kartu, Joker pada dasarnya bukan kartu utama, hanya dibutuhkan untuk membantu dan menguatkan posisi kartu-kartu lainnya. Seperti pemain cadangan dalam tim sepak bola, Joker tidak dimainkan sejak babak pertama dimulai. Joker dibutuhkan untuk meraih kemenangan. Joker dimanfaatkan untuk meraih keuntungan. Posisi kartu Joker memang tidak sehebat “As” atau ”King”. 

Tapi, ia memiliki keistimewaan bisa diterima dan bekerja sama dengan kartu apa pun. Saat bergabung dengan “Hati” ia menjadi “Hati”, saat bergabung dengan “Diamond” menjadi ”Diamond” dan seterusnya. Posisi Jokowi saat ini ibarat Joker karena ia sudah berkalikali menegaskan hanya fokus pada tugas-tugasnya memimpin Jakarta sampai tuntas. Artinya, ia tidak berniat maju menjadi capres dan selama ini memang tak pernah menunjukkan ambisinya untuk menjadi capres, apalagi berkampanye. 

Namun, dengan melihat fakta-fakta yang ditunjukkan sejumlah hasil survei, Jokowi tampaknya akan menjadi tokoh yang paling diminati untuk memenangkan capres atau cawapres yang nama-namanya sudah bermunculan. Maka patut diduga, tim sukses caprescapres seperti Prabowo, Aburizal, dan Hatta Rajasa ingin menggaet Jokowi sebagai pasangan mereka, baik sebagai capres atau cawapres, bergantung pada perolehan suara partainya masing-masing. 

Partai Demokrat yang kabarnya mau mengajukan capres muda seperti Gita Wirjawan pun diduga menginginkan Jokowi. Jika perolehan suara Partai Demokrat tetap signifikan, Jokowi bisa digaet menjadi cawapres. Jika suaranya jatuh di bawah PDIP, Jokowi capres dan Gita cawapres. 

Partai Hanura yang tengah bersemangat dengan bergabungnya Hari Tanoesudibyo (HT), jika berhasil memenangkan pemilu¸ diduga juga akan mengajukan cawapres Jokowi untuk berpasangan dengan capres Wiranto. Jika ternyata perolehan suaranya di bawah PDIP, pasangan Jokowi-HT bisa mereka ajukan sebagai alternatif capres-cawapres muda. 

Faktor Megawati 

Namun, akankah Jokowi bersedia menjadi capres atau cawapres? Untuk menjawab pertanyaan ini, posisi Megawati menjadi sangat penting. Dalam sejumlah survei, posisi putri pertama Bung Karno ini boleh saja statis, tidak menunjukkan kenaikan popularitas maupun elektabilitas, namun dalam menentukan ke mana arah Jokowi ke depan, dialah yang paling menentukan. Politik adalah seni dari serbakemungkinan (the art of possible), pada saat masih menjadi Wali Kota Surakarta, Jokowi pernah menegaskan tidak berminat memimpin Jakarta karena harus menyelesaikan tugas di Surakarta. 

Namun, setelah ada permintaan langsung dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputeri, Jokowi bersedia dengan dalih untuk mengemban tugas yang lebih besar yakni untuk bisa berkiprah lebih banyak membantu rakyat. Apakah Jokowi akhirnya mau maju menjadi capres atau cawapres, bukan tidak mungkin, Megawati pula yang mampu mengubah pendiriannya. Dengan demikian, Megawati akan menjadi king-maker, menjadi penentu siapa yang berhak menjadi capres atau cawapres berpasangan dengan Jokowi.  Wallahu a’lam!