Tampilkan postingan dengan label Sinetron Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sinetron Kita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2012

Sinetron yang Tidak Mendidik


Sinetron yang Tidak Mendidik
  Th Rosid Ahmad, ALUMNUS PENDIDIKAN JURUSAN BAHASA INGGRIS IKIP NEGERI SEMARANG (KINI UNNES) 1984, MANTAN GURU BAHASA INGGRIS SMK NEGERI 9 SEMARANG
SUMBER : SUARA MERDEKA, 24 Maret 2012



"Sebagai wakil pemerintah, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seyogianya lebih berperan melindungi pemirsa sinetron yang tidak berdaya"


PERNAHKAH terbayangkan begitu banyak anggota masyarakat kita, terutama ibu-ibu  rumah tangga dan anak-anak, menghabiskan sebagian besar waktunya di depan televisi? Padahal berbagai tayangan, khususnya sinetron, sarat dengan sajian penuh intrik, tindak kekerasan, dan hal lain yang kurang mendidik.

Di negeri tercinta ini, tiap hari pemirsa televisi dicekoki sinetron kejar tayang yang digarap dengan jadwal terburu-buru dan menguras waktu. Bagaimana ide yang bernas bisa dihasilkan di tengah tuntutan rutinitas kerja yang padat? Skenario pun kadang baru siap beberapa jam sebelum syuting. Pun, sering berubah di tengah jalan lantaran salah seorang pemain sakit dan tidak datang ke lokasi. Akibatnya, alur cerita jadi tidak karuan.

Hebatnya, cerita sinetron bisa diulur-ulur hingga lebih dari 300 episode per putaran dan ceritanya melebar ke mana-mana. Meski begitu, tampaknya penonton tetap menikmati. Diakui, sinetron Indonesia mungkin paling hebat di dunia. Hasil produksi kejar tayang dan minim kualitas, tapi mampu meraup jumlah penonton luar biasa banyak. Inilah potret masyarakat kita, tak pernah protes meski disuguhi tayangan minim kualitas.

Di lain pihak, film mancanegara umumnya tampil dengan kualitas gambar prima dan alur cerita runtut. Isi cerita pun menarik, dan sangat mendidik. Lihat saja film Home Alone yang hampir tiap musim liburan sekolah di tayang ulang di layar kaca. Di sana diperlihatkan bagaimana anak kecil mampu mengalahkan penjahat dewasa. Sebaliknya, di Indonesia, ditayangkan seorang ibu yang sudah cukup umur begitu mudah diperdaya wanita muda yang berpura-pura hamil. Itu berlangsung sekian lama tanpa terbongkar. Teramat konyol.

Contoh tindakan sadis lain, seorang pemain dengan semena-mena menendang, menampar, bahkan dengan membakar wanita lawan mainnya di dalam mobil. Di mata anak-anak, apa yang mereka tonton sehari-hari terekam di otak, seakan satu pembenaran bahwa hal itu normal dan layak ditiru. Masuk akal jika akhirnya ada anak tumbuh liar dan brutal.

Hiburan Murah

Harus diakui, banyak cerita sinetron cenderung merusak dan tidak patut diteladani. Dari segi pendidikan, ini benar-benar memprihatinkan. Anehnya, meski berisiko bagi pertumbuhan jiwa anak, nyaris tak pernah terdengar ada protes, apalagi dari wakil rakyat kita di Senayan.

Semestinya, masyarakat bukannya tidak menyadari alur cerita yang tidak keruan itu. Tapi karena tak ada pilihan lain, kualitas seperti apa pun tetap lahap disantap. Boleh saja berkilah, ’’Cerita sinetron itu cermin realitas yang ada di sekitar kita.’’ Tetapi, bukankah lewat tayangan bisa diberikan sajian yang cerdas dan lebih mendidik? Bahkan kita bisa menjual tempat-tempat wisata andalan bila syuting dilakukan di lokasi pelesiran yang bagus.

Disadari sepenuhnya, rakyat kita butuh hiburan murah. Sementara, fasilitas yang mereka punya amat terbatas. Kalau saja mampu, pasti memilih saluran televisi berbayar dengan iming-iming program penuh variasi dan berkualitas. Memang yang berbayar umumnya lebih bagus. Tapi uang langganan tiap akhir bulan pun bisa sepertiga upah minimum regional buruh di negeri ini.

Sejujurnya, tidak sedikit tayangan televisi yang cukup berbahaya bagi perkembangan jiwa anak-anak yang dalam masa pertumbuhan. Ingat, generasi muda adalah aset bangsa yang diharapkan menjadi pemimpin masa depan. Maka selayaknya semua pihak peduli. Sungguh berisiko bila hal itu dibiarkan. Agar tidak kebablasan, pemerintah mesti segera turun tangan. Tidak ada kata terlambat untuk langkah pembenahan. Sebagai wakil pemerintah, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seyogianya lebih berperan melindungi pemirsa sinetron yang tidak berdaya. ●

Jumat, 24 Februari 2012

Menegur Sinetron Kita


Menegur Sinetron Kita
Iva Wulandari, ANALIS PUSAKA (PUSAT KAJIAN DAN ADVOKASI) PENDIDIKAN, JOGJAKARTA DAN PEGIAT PENDIDIKAN KARAKTER
Sumber : JAWA POS, 24 Februari 2012



DUNIA penyiaran Indonesia terus berapor merah. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menerima ribuan pengaduan tayangan televisi selama periode Januari hingga September 2011. Anggota KPI Muhammad Riyanto memerinci, total pengaduan masyarakat mengenai isi siaran 2.540 kasus, perizinan 112 kasus, dan kelembagaan 22 kasus.

Seperti dilansir dari
www.kpi.go.id, program televisi yang paling banyak mendapat pengaduan masyarakat dan telah ditegur KPI adalah sinetron P y D, sebanyak 156 laporan. Riyanto mengungkapkan bahwa masyarakat melaporkan sinetron ini karena menampilkan kekerasan fisik dan tidak mendidik.

Ezki Suyanto, wakil ketua KPI Pusat menambahkan, RCTI paling banyak mendapat protes terkait dengan hal tersebut. Stasiun televisi itu memang paling banyak menayangkan program sinetron. Sedangkan TV lain adalah Trans TV 300 aduan, SCTV (279), Trans 7 (233), Anteve (225), Indosiar (205), MNC TV (181), Global TV (125), TV One (98), Metro Tv (97), TVRI (14), dan O Channel (10).

Seperti diketahui, ada beberapa kategori tayangan berbasis umur di dunia sensor dan pertelevisian di Indonesia. A (anak), R (remaja), D (dewasa), dan BO (bimbingan orang tua). Kita patut mempertanyakan akurasi lembaga sensor dan penyiaran dalam mengategorikan tayangan. Hampir seluruh sinetron yang tayang saat ini dikategorikan tayangan R/BO. Ini berarti tayangan tersebut dikhususkan bagi penonton kategori remaja dan label BO (bimbingan orang tua).

Ambil saja contoh sinetron Anugerah yang menjadi salah satu program top rating di RCTI. Sinetron ini dikategorikan tayangan berlabel R-BO. Sementara, cerita Anugerah didominasi konflik orang dewasa, konflik rumah tangga, dan perebutan anak. Karakter Nugi (Anugerah) dan Adek yang dimainkan anak-anak prasekolah pun menihilkan sinetron ini layak ditonton anak. Meskipun ada karakter anak-anak di sana, dialog yang disajikan membuat karakter anak ini dipaksakan berpikir dan berdialog secara dewasa. Muatan pendidikan bagi remaja nyaris tidak ada. Pengategorian sinetron ini sebagai R/BO tentu sangat tidak pas. Hal ini sangat berimbas terhadap psikologi penikmat sasarannya, remaja dengan bimbingan orang tua.

Kita juga perlu menyorot karakter yang dibangun dalam cerita-cerita sinetron di Indonesia. Sebagai orang awam, kita tentu dapat mengategorisasikan pemain, protagonis, antagonis, dan netral. Si jahat, si baik, dan si netral. Sangat menarik mengkaji soal ini. Manusia merupakan makhluk yang dinamis. Seseorang yang mempunyai sisi baik, tidak selamanya baik. Begitu pula sebaliknya.

Pada kebanyakan sinetron di Indonesia, perkembangan/perubahan karakter mungkin terjadi dari karakter si jahat yang berubah menjadi baik. Jarang sekali ditemukan karakter utama yang notabene baik, diceritakan bak berkarakter malaikat, dimunculkan dengan sisi-sisi manusiawi yang kadangkala memiliki sisi buruk.

Character development dalam suatu sinetron yang menjadi salah satu bentuk komunikasi kontemporer menjadi poin penting dalam sebuah cerita. Sinetron Indonesia sangat miskin dengan ini. Karakter yang nyaris tidak berubah sepanjang cerita tidak akan banyak memberikan pelajaran hidup bagi penontonnya. Hal ini sangat bertentangan dengan peran sinetron sebagai cermin/potret diri manusia yang dinamis, realitas sosial masyarakat, dan peradaban manusia yang dinamis pula. Tontonan berkembang menjadi "kemustahilan" dan utopia bagi kehidupan nyata sang penonton.

Semakin memprihatinkan, jam tayang sinetron-sinetron tersebut, yakni pukul 18.00-21.00, membuat tayangan ini mudah diakses anak-anak. Komisioner KPI Pusat Azimah Subagijo, saat berdiskusi di Semarang (22/11/2011) menyatakan, televisi menjadi tontonan yang menyita waktu belajar anak-anak. Sebanyak 1,4 juta anak menonton televisi pada pukul 18.00-21.00 WIB yang merupakan waktu belajar anak sekolah. Ironisnya, program yang banyak ditonton anak adalah sinetron dengan rata-rata 50 menit/hari. Jumlah ini lebih banyak daripada tayangan anak yang hanya ditonton 20 menit/hari.

Sarah Gamble dalam The Routledge Companion to Feminism and Postfeminism menyebut budaya mediasi kontemporer tidak lebih dari sekadar daur ulang konstan atas citra-citra yang semula diangkat media. Sinetron, sebagai bagian dari produk budaya populer, seperti dikatakan Gamble, akan mendominasi pengertian penontonnya tentang realitas dan cara penonton mendefinisikan diri mereka sendiri dan dunia sekitar. Sangat memiriskan bila tindak kriminalitas seperti pemerkosaan, pembunuhan, dan "tren" hamil di luar nikah menjadi hal yang berkembang dari tidak biasa dan amoral, menjadi hal yang biasa dan lumrah bagi masyarakat.

Dalam hal ini sinetron mengambil peran penting membentuk konstruk realitas masyarakat. Mencelakakan dan membunuh orang menjadi konflik dominan, terkesan mudah dan biasa untuk dilakukan. Kasus penusukan siswa SD, AMN, 13, kepada temannya yang ditanggapi pelaku dengan tanpa bersalah dan menyatakan lebih baik dia yang membunuh daripada dia yang terbunuh. Bahasanya sinetron banget. Anak mempunyai kecenderungan besar untuk meniru perilaku sosial di sekitarnya, termasuk dari tontonannya.

Sementara tidak semua orang tua benar-benar mendampingi anak-anak mereka. Orang tua cenderung larut dalam tayangan sinetron dan membiarkan anak-anaknya turut larut ke dalam cerita dan menyerap apa yang dilihatnya tanpa filter dari orang tua. Padahal, anak-anak membutuhkan arahan orang tua soal kekerasan.

Jelas sudah, sinetron Indonesia harus bersih-bersih dan berbenah. Sinetron mestinya bisa membangun karakter bangsa, tak sekadar mesin pencetak keuntungan, tapi menghancurkan moralitas. Sementara, KPI teruslah menindak stasiun televisi yang nakal. Jagalah frekuensi milik publik dari pencemaran budaya.