Tampilkan postingan dengan label Tri Winarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tri Winarno. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Maret 2018

Mengalkulasi Perang Dagang Trump

Mengalkulasi Perang Dagang Trump
Tri Winarno  ;   Peneliti Ekonomi Senior Bank Indonesia
                                              MEDIA INDONESIA, 27 Maret 2018



                                                           
KEBIJAKAN perdagangan Presiden Trump dengan menaikkan tarif impor baja dan aluminium baru-baru ini merupakan awal genderang perang dagang global. Perang dagang akan segera menjadi kenyataan. Uni Eropa merespons dengan keras bahwa mereka akan melakukan pembalasan terhadap produk AS yang masuk ke Uni Eropa. Tiongkok mengancam akan merespons dengan ukuran dan waktu yang tepat. Ternyata, para gajah telah saling mengasah gading mereka dan pelanduk hanya bisa menunggu deritanya.

Ekonom, politikus, dan pemangku kebijakan global sangat prihatin dengan perkembangan perdagangan yang semakin mengarah pada meningkatnya hambatan perdagangan internasional. Dampaknya ialah penyusutan kesejahteraan global. Hambatan terhadap perdagangan bebas tersebut jelas akan membawa arah yang salah. Mengikis kesempatan pengentasan rakyat dari kemiskinan jutaan penduduk bumi dan berdampak pada lenyapnya keuntungan yang tercipta dari perdagangan setiap tahunnya.

Memang benar bahwa perdagangan bebas ada biayanya. Sentimen yang dikemukakan Trump dan pemimpin populis lainnya sama dengan sentimen era 1990-an yang menentang perdagangan bebas karena perdagangan bebas akan menyebabkan hilangnya pekerjaan bagi yang kalah berkompetisi. Tidak mudah mencari pekerjaan pengganti bagi mereka yang terdampak akibat perdagangan bebas.

Dampak negatif dari perdagangan bebas sering terkonsentrasi di industri tertentu dan di wilayah tertentu, seperti di industrial Rust Belt di AS karena manufaktur di sana kalah efisien dari negara-negara lain. Berdasarkan hasil riset oleh Depdag AS biaya dari dampak perdagangan bebas akan mengurangi seperlima dari keuntungan yang ditimbulkan perdagangan bebas.

Manfaat perdagangan bebas

Namun, keuntungan global dari perdagangan bebas tak akan terbantahkan. Salah satu bukti keuntungan dari perdagangan bebas ialah harga jual barang di pasar dan supermarket dunia. Apakah itu di Nairobi, Shanghai, Pittsburgh, Lisabon, Melbourne, atau di Jakarta, konsumen akan memperoleh berbagai jenis barang dengan harga yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan barang yang sama hanya diproduksi di satu negara.

Barang impor yang lebih murah berdampak pada penurunan tekanan inflasi.

Di AS saja berdasarkan hasil studi Mckensey, setiap tambahan 1% pangsa impor dari produsen yang harganya lebih murah berdampak pada penurunan harga sekitar 2%. Harga barang yang lebih murah berarti peningkatan daya beli, atau secara riil terjadi kenaikan pendapatan dan kekayaan.

Berdasarkan laporan Gedung Putih pada 2015, kelas menengah AS dapat membeli 30% lebih banyak jika dibandingkan dengan tidak adanya perdagangan bebas. Peningkatan daya beli lebih terasa pada masyarakat AS 10% terbawah, yaitu mereka dapat membeli barang 60% lebih banyak dengan adanya perdagangan bebas. Kelompok pekerja AS akan mengalami derita yang paling besar akibat dari kebijakan perang dagang Trump.

Manfaat perdagangan bebas tidak berhenti pada peningkatan daya beli barang dan jasa yang lebih murah. Secara global perdagangan bebas ialah merupakan instrumen pembangunan paling dahsyat yang pernah ada di jagat ini. Perdagangan lintas negara mampu memperkecil kesenjangan pendapatan. Misalnya, berdasarkan laporan Gedung Putih 2015 menyatakan bahwa setiap penurunan tarif 10% berakibat pada penurunan 1% kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan. Penurunan tarif juga berdampak pada penurunan kesenjangan upah berdasarkan ras dan status imigrasi.

Di samping itu, peningkatan keterbukaan perdagangan berkaitan erat dengan penurunan tingkat kematian bayi dan meningkatkan harapan hidup, khususnya di negara berkembang. Sepanjang waktu, perdagangan bebas dapat menggerakkan pekerja ke industri yang lebih efisien sehingga terjadi peningkatan upah, kenaikan investasi di infrastruktur dan mendorong gerak ekonomi lebih dinamis. Yang paling dahsyat ialah perdagangan bebas menjadi sumber peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berarti jutaan umat manusia di planet ini terbebas dari kemiskinan.
Bahkan beberapa pihak menuduh bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi hanya pada segelintir oligarki. Namun, berdasarkan riset dari Bank Dunia menunjukkan bahwa ketika ekonomi tumbuh, pendapatan masyarakat miskin meningkat proporsional dengan pertumbuhan pendapatan nasional. Bahkan sejarah menunjukkan manfaat dari keterbukaan ekonomi akibat dari perdagangan bebas.

Menakjubkan memang, yang pada 20 tahun yang lampau proporsi penduduk dunia yang hidup di bawah garis kemiskinan hampir separuh dari total penduduk dunia. Berdasarkan penelitian dari ekonom Oxford University, Max Roser, mass media menerbitkan berita utama bahwa penduduk dunia yang terbebas dari kemiskinan absolut turun 137,000 sejak kemarin. Berita tersebut hampir setiap hari muncul selama 25 tahun.

Membahayakan kesejahteraan global

Sederhananya, perdagangan bebas telah mampu memberikan makanan lebih banyak bagi penduduk Planet Bumi dari pada kebijakan lainnya. Sekarang planet ini sedang menghadapi tragedi riil dengan semakin menjauhnya kebijakan perdagangan bebas.

Berdasarkan riset dari tim Copenhagen Consensus, menunjukkan Pertemuan Doha akan perdagangan bebas (Doha Round of global free-trade talks) akan berdampak pada penurunan jumlah orang miskin sebanyak 145 juta selama 15 tahun dan membuat dunia lebih kaya US$11 triliun.

Tiga per lima dari kekayaan tersebut akan jatuh pada negara berkembang setara dengan tambahan pendapatan per orang sebesar US$1.000 setiap tahun hingga 2030. Bahkan jika seperlima dari manfaat ini tergerus untuk pembiayaan redistribusi, masih menyisakan tambahan pendapatan bagi umat manusia sebesar US$9 triliun.

Dengan demikian, seharusnya pemerintahan Trump membelanjakan anggaran yang memadai untuk mengompensasi bagi pekerja yang kalah bersaing akibat perdagangan bebas dengan memberikan pelatihan dan kebijakan bantuan kesejahteraan sosial transisional, bukan dengan cara mereduksi perdagangan global. Dengan mengabaikan keuntungan perdagangan bebas sebesar US$9 triliun karena kerugian US$2 triliun adalah suatu kebijakan yang tidak bijak.

Sejarah memang mencatat fenomena perdagangan bebas, yang di antaranya disampaikan pada 1824, oleh sejarawan Inggris Thomas B Macaulay bahwa perdagangan bebas ialah salah satu kebijakan publik yang paling besar meningkatkan kesejahteraan penduduk suatu bangsa. Namun, hampir di seluruh negeri kebijakan tersebut tidak populer. Sejak 1820 kemiskinan global turun dari 94% tinggal hanya 10% dari total populasi global, yang sebagian besar dikarenakan kebijakan perdagangan bebas.

Sampai sekarang kebijakan yang mereduksi perdagangan bebas ialah masih merupakan kebijakan populer sehingga figur seperti Trump dapat menjadi presiden, dan ini tentu membahayakan kesejahteraan global. Ini harus dihentikan. Hanya karena adanya kerugian yang kecil akibat dari perdagangan bebas, tidak serta-merta menghilangkan kebijakan perdagangan bebas yang banyak membawa manfaat bagi kemanusiaan.
Perlu diingat bahwa kebijakan perdagangan bebas adalah merupakan salah satu kebijakan pembangunan yang terbaik yang pernah ada di planet ini. ●

Perang Dagang Trump dengan Cina

Perang Dagang Trump dengan Cina
Tri Winarno  ;   Ekonom Senior Bank Indonesia
                                                      TEMPO.CO, 26 Maret 2018



                                                           
Ekonom dan analis kebijakan publik pada umumnya lebih menyukai tarif yang lebih rendah, bahkan tanpa tarif sekalian, guna meningkatkan kesejahteraan global. Lantas, bagaimana cara memaknai keputusan Presiden Donald Trump menaikkan tarif impor baja dan aluminium baru-baru ini?

Trump dengan lihai meraup keuntungan politik potensial di daerah produsen baja dan aluminium dan sedang meningkatkan tekanan kepada Kanada dan Meksiko ketika sedang berlangsung renegosiasi NAFTA (North American Free Trade Agreement). Adapun Uni Eropa, yang berencana untuk membalas ekspor Amerika ke kawasan itu dengan tarif yang lebih tinggi, seperti produk Levi’s dan Harley Davidson, pada akhirnya setuju melakukan negosiasi dengan Amerika dengan mengurangi tarif produk Amerika yang disesuaikan dengan tarif produk Uni Eropa yang masuk ke Amerika.

Namun target utama kebijakan kenaikan tarif impor baja dan aluminium Amerika adalah Cina. Pemerintah Cina telah berjanji untuk mengurangi kelebihan kapasitas produksi baja dan aluminium sehingga dapat memotong surplus produksi yang dijual ke Amerika dengan harga subsidi. Pemangku kebijakan Cina telah menunda berkali-kali untuk menjalankan kebijakan itu karena tekanan domestik untuk melindungi tenaga kerja Cina di sektor tersebut. Kebijakan tarif Amerika akan menyeimbangkan tekanan domestik di Cina dan meningkatkan rencana Cina mempercepat pengurangan kelebihan kapasitas produksi.

Karena kebijakan tarif Trump demi keamanan nasional, bukan dumping, dan peningkatan impor, maka dimungkinkan untuk mengecualikan pengenaan tarif dari sekutu Amerika, seperti NATO, Jepang, dan Korea Selatan, serta menargetkan kenaikan tarif hanya pada Cina. Hal ini akan menghindari risiko perang dagang yang lebih luas.

Di balik isu tarif tersebut, bagi Amerika, isu terpenting dalam perdagangan dengan Cina adalah keprihatinan Amerika terhadap kebijakan alih teknologi yang diterapkan oleh Cina, bukan pada isu ekspor baja dan aluminium bersubsidi. Walaupun subsidi tersebut merugikan produsen baja dan aluminium Amerika, harga yang lebih rendah juga membantu perusahaan Amerika menggunakan baja dan aluminium itu serta menguntungkan konsumen yang membeli produk tersebut. Namun Cina benar-benar merugikan kepentingan Amerika ketika dia mencuri teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan Amerika.

Beberapa tahun yang lalu pemerintah Cina menggunakan keahlian Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) untuk menginfiltrasi perusahaan Amerika dan mencuri teknologinya. Pemerintah Cina membantah tuduhan tersebut hingga Presiden Amerika Barack Obama dan Presiden Cina Xi Jinping bertemu di California pada Juni 2013. Obama menunjukkan kepada Xi bukti-bukti rinci dari mata-mata cyber-nya. Akhirnya, Xi setuju bahwa pemerintah Cina tidak lagi menggunakan PLA atau institusi pemerintah lainnya untuk mencuri teknologi Amerika. Sejak itu pencurian teknologi Amerika oleh perusahaan Cina melalui cyber turun drastis.

Namun teknik pencurian itu kini berubah. Perusahaan Amerika yang ingin berbisnis di Cina diwajibkan melakukan alih teknologi. Perusahaan itu dengan terpaksa melakukannya agar dapat masuk ke pasar dengan 1,3 miliar penduduk dan skala ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Namun para pengusaha Amerika mengeluhkan bahwa syarat tersebut merupakan bentuk lain dari pemerasan. Bahkan mereka khawatir pemerintah Cina sengaja menunda persetujuan sedemikian rupa sehingga perusahaan domestik dapat menggunakan teknologi itu untuk menguasai pasar terlebih dulu.

Pemerintah Amerika tidak dapat memakai cara tradisional atau menggunakan prosedur Organisasi Perdagangan Dunia untuk menghentikan praktik culas Cina tersebut. Amerika juga tidak dapat melakukan cara Cina, yaitu mewajibkan perusahaan Cina yang beroperasi di Amerika melakukan alih teknologi karena Cina tidak memiliki keunggulan teknologi.

Amerika lantas menggunakan kebijakan tarif untuk menekan Cina agar patuh pada praktik bisnis yang sehat. Juru runding Amerika akan menggunakan ancaman tarif lainnya kepada Cina untuk menekan Cina agar kebijakan alih teknologi itu dihapuskan. Kalau itu berhasil, ancaman tarif akan menjadi kebijakan perdagangan internasional yang sangat mujarab.

Tentu kebijakan ini akan berdampak pada perekonomian Indonesia. Produk-produk Cina yang tidak dapat masuk ke Amerika akan mengalir ke negara lain, termasuk ke Indonesia. Karena itu, perumus kebijakan publik harus memperhatikan kepentingan industri nasional agar tidak gulung tikar. Jika industri nasional bankrut, bukan hanya ketahanan industri nasional yang akan semakin lemah, tapi juga masalah tambahan pengangguran akan semakin berat di tengah situasi ekonomi yang kembang-kempis. ●

Rabu, 25 Oktober 2017

Membaca Arah Perekonomian

Membaca Arah Perekonomian
Tri Winarno ;   Peneliti Senior Bank Indonesia
                                                      KOMPAS, 25 Oktober 2017



                                                           
Selama beberapa tahun silam, perekonomian global telah mengalami pasang surut di antara periode akselerasi (ketika tumbuh positif dan menguat) dan periode deselerasi (tumbuh positif tetapi melemah). Setelah lebih dari setahun mengalami akselerasi, apakah perekonomian global mengarah pada perlambatan atau menuju pada pemulihan yang berkelanjutan?

Artikel ini mencoba mengeksplorasinya. Pertumbuhan ekonomi dan pasar modal mengalami penguatan sejak musim panas 2016. Walaupun sempat tersendat setelah referendum Brexit, akselerasi perekonomian global tertahan, tidak hanya karena terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS ke-45, tetapi juga oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekacauan geopolitik yang dipicu oleh gaya kepemimpinannya.

Dalam rangka merespons resiliensi ekonomi global saat ini, Dana Moneter Internasional (IMF) yang sebelumnya telah melabel perekonomian global berada pada kondisi new mediocre, baru-baru ini merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan tahun 2017 dan 2018 lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa perekonomian global mengarah pada pemantapan pemulihan.

Benarkah perekonomian mengarah pada penguatan pemulihan, sebagaimana dinyatakan oleh IMF dalam pertemuannya di Washington pada 11-14 Oktober 2017? Kalau memang menunjukkan arah demikian, seberapa kuat arah pemulihan itu? Ataukah tanda-tanda penguatan pemulihan ini hanya temporer, sebagaimana dialami oleh perekonomian dunia pada musim panas 2015 dan awal 2016?

Ketika itu, atmosfer perekonomian dunia diliputi bayang-bayang ketakpastian. Pertama, waktu itu investor ketakutan akan terjadi perlambatan yang semakin tajam pada perekonomian China. Kedua, pada awal 2016 dimungkinkan adanya percepatan kebijakan pengetatan tingkat bunga di AS. Ketiga, adanya tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi AS, serta lemahnya harga minyak dunia. Semua hal itu masih membayangi arah perekonomian ke depan.

Tiga skenario

Ada tiga skenario yang menyertai cerita pertumbuhan ekonomi ke depan. Pertama, skenario optimistis. Dalam skenario ini, keempat perekonomian terbesar dunia— China, Uni Eropa, AS, dan Jepang—melakukan reformasi struktural dengan target meningkatkan pertumbuhan potensial dan memastikan resiliensi sistem keuangan global.

Dengan memastikan bahwa siklus pertumbuhan ekonomi yang menguat terkait dengan pertumbuhan ekonomi potensial dan aktual yang semakin menguat, siklus akselerasi tersebut akan berujung pada pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang berkelanjutan, laju inflasi yang moderat, dan stabilitas keuangan global. Dengan demikian, pasar modal global termasuk pasar modal AS akan mencapai keseimbangan baru (harganya semakin meningkat) karena penguatan fundamental.

Kedua, skenario pesimistis, yang merupakan kebalikan dari skenario optimistis. Dalam skenario ini, keempat negara utama tersebut gagal mengimplementasikan reformasi struktural guna meningkatkan pertumbuhan potensial. China gagal menjadikan kongres Partai Komunis China, Oktober 2017, sebagai katalisator reformasi sehingga perekonomian China terjebak pada overleverage dan over kapasitas.

Uni Eropa gagal memperkuat integrasinya karena hambatan politis yang menghalangi reformasi struktural guna memperkuat implementasi kebijakan yang mampu memacu pertumbuhan ekonomi. Jepang masih terjebak pada arah pertumbuhan rendah karena strategi ekonomi Perdana Menteri Shinzo Abe gagal mereformasi sisi suplai dan liberalisasi perdagangan Jepang.

Untuk AS, pemerintahan Trump dalam skenario ini masih berkutat dengan kebijakan yang berpotensi mengerdilkan pertumbuhan potensialnya; yakni kebijakan pemotongan pajak (yang lebih pro pada kelompok paling makmur/the most have), proteksi perdagangan, dan pembatasan migrasi.

Stimulus fiskal yang berlebihan berakibat pada pembengkakan defisit dan penumpukan utang sehingga memacu kenaikan tingkat bunga dan penguatan dollar AS yang berujung pada semakin melemahnya pertumbuhan ekonomi AS. Akan kian melemahkan prospek ekonomi AS jika Trump memilih opsi konflik militer dengan Korea Utara dan Iran.

Dalam skenario pesimistis ini, tidak adanya reformasi di negara-negara utama tersebut akan menyebabkan siklus ekonomi yang sedang menguat terkendala oleh kecenderungan pertumbuhan yang rendah. Kalau pertumbuhan potensial tetap rendah, kebijakan moneter dan kredit yang longgar akan berujung pada inflasi harga barang dan aset, yang akhirnya akan berakhir dengan perlambatan ekonomi yang semakin memprihatinkan. Dan, kalau kondisi tersebut disertai dengan harga saham yang menukik dan akselerasi inflasi, resesi ekonomi beserta krisis keuangan adalah akhir cerita dari skenario tersebut.

Skenario ketiga adalah skenario moderat, yaitu di antara optimistis dan pesimistis. Skenario ini di rasa paling mungkin mengingat perkembangan global akhir-akhir ini. Karena ada dorongan pertumbuhan temporer, siklus ekonomi dan pasar modal mengalami penguatan; temporer pula. Walaupun negara-negara utama itu melakukan reformasi struktural, langkahnya lambat dengan skala perubahan yang moderat, tak cukup untuk memaksimalkan potensinya.

China hanya mampu menghindari penurunan tajam perekonomiannya, tetapi tidak optimal sehingga pasar keuangannya masih rentan terhadap guncangan dan tekanan pada ekonominya semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Di Uni Eropa, integrasi ekonomi terjadi, tetapi juga berjalan lamban. Jerman tetap menolak skema berbagi risiko atau penggabungan fiskal sehingga memperlemah insentif bagi negara anggota lainnya yang sedang berjuang melakukan reformasi.

Di Jepang, pemerintah Abe yang semakin tidak efektif hanya mampu melakukan reformasi yang minimal sehingga pertumbuhan potensialnya tertahan di kisaran kurang dari 1 persen.

Di AS, kepemimpinan Trump masih tetap tak tentu serta kurang efektif, dan warga Amerika semakin terjebak dalam nasionalisme sempit yang mengagung-agungkan supremasi kulit putih. Kebijakan Trump kental pro kelompok atas. Ketimpangan semakin meningkat, kelas menengah mengalami stagnasi, upah hampir tidak meningkat. Konsumsi dan pertumbuhan tetap anemik, hanya di kisaran kurang dari 2 persen.

Risiko skenario medioker

Akan tetapi, risiko skenario moderat ini melebihi risiko kinerja ekonomi ”medioker”. Dalam skenario ini, tidak terjadi ekuilibrium ekonomi yang stabil, tetapi perekonomian berada pada ketidakseimbangan yang labil; rentan terhadap guncangan ekonomi, keuangan, dan geopolitik. Ketika terjadi guncangan, ekonomi akan melambat atau kalau guncangan semakin membesar, akan terjadi resesi yang disertai dengan krisis keuangan global.

Dengan kata lain, kalau skenario moderat benar-benar mengemuka, perekonomian global ke depan akan semakin memprihatinkan, seperti kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.

Untuk keluar dari jebakan tersebut, baik pimpinan politik maupun pengampu kebijakan harus mampu menunjukkan kepemimpinan yang mumpuni, yang dibutuhkan untuk menjamin kinerja perekonomian kedepan yang lebih menjanjikan. Kalau tidak, penguatan pertumbuhan ekonomi yang sudah semakin nyata akan memudar sehingga risiko pemburukan kinerja perekonomian akan semakin nyata dan berujung pada petaka ekonomi, yang akan merambat hingga ke dimensi lain, seperti sosial, keamanan, dan politik. ●

Jumat, 21 April 2017

Arah Pemulihan Ekonomi

Arah Pemulihan Ekonomi
Tri Winarno  ;   Peneliti Senior Bank Indonesia
                                                        KOMPAS, 20 April 2017


                                                                                                                                                           

Setelah referendum di Inggris yang memutuskan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) dan dilantiknya Donald Trump sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat (Usxit), perekonomian global menghadapi tantangan yang sangat signifikan. Berbagai pemangku kepentingan, seperti pelaku pasar , merasa sangat cemas terhadap prospek perekonomian global  ke depan, yang imbasnya dipastikan menjalar ke kinerja perekonomian nasional.

Akan tetapi, setelah melewati triwulan I-2017, siklus ekonomi mengindikasikan arah pemulihan ekonomi global terlihat kian nyata dan membangkitkan optimisme yang membuncah, terutama bagi perumus dan pembuat kebijakan publik.

Indikator utama

Setidaknya terdapat beberapa indikator utama yang mendukung optimisme perkembangan perekonomian global ke depan. Indikator pertama adalah pemulihan kinerja perekonomian AS. Setelah pemulihan yang lama dan lambat akibat resesi yang berawal pada 2008, ekonomi AS mengalami masa booming. Pasar tenaga kerja berada pada batas pemakaian tenaga kerja penuh (full employment), laju inflasi mulai meningkat, dan optimisme rumah tangga kian menggeliat.

Tingkat pengangguran total menyentuh batas terendah, yaitu 4,7 persen, dan tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi hanya 2,4 persen. Rata-rata pendapatan pekerja per jam lebih tinggi 2,8 persen dibandingkan dengan pendapatan tahun lalu. Pasar tenaga kerja yang ketat dan peningkatan upah mendorong tenaga kerja yang telah berhenti mencari kerja masuk pasar tenaga kerja lagi sehingga terjadi kenaikan tingkat partisipasi pekerja.

Sebagai indikasi nyata bahwa perekonomian AS berada pada batas pemakaian tenaga kerja penuh adalah adanya peningkatan laju inflasi yang signifikan. Inflasi inti telah mencapai 2,2 persen, secara substansial lebih tinggi dari rata-rata inflasi tiga tahun sebelumnya yang berada pada 1,8 persen. Selama tiga bulan terkini bahkan inflasi inti meningkat 2,8 persen per tahun, jauh melebihi target inflasi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang hanya 2 persen.

Kekayaan rumah tangga masyarakat juga sedang mengalami peningkatan. Harga rumah sebagai aset penting warga AS meningkat 5 persen selama 12 bulan terakhir.  Peningkatan harga saham bahkan telah kian memperkuat dan memperbesar peningkatan kekayaan warga AS.

Survei kepercayaan konsumen AS pada kondisi perekonomiannya sangat positif. The University of Michigan Consumer Sentiment Index  baru-baru ini mencapai angka tertinggi sejak 17 tahun terakhir. Begitu pula pada Februari 2017, the Conference Board Consumer Confidence Index menyentuh angka tertinggi 15 tahun terakhir.

Industri pengolahan telah meningkatkan produksinya setiap bulan selama enam bulan terakhir. Produksi perumahan berpacu dengan naiknya permintaan, yang terefleksikan oleh peningkatan sebesar 6 persen pembuatan rumah baru untuk tipe keluarga tunggal sejak 12 bulan terakhir.

Ini semua menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada 2017 dipastikan akan meningkat lebih cepat dibandingkan dengan empat tahun sebelumnya. Tatkala data perdagangan dan angka inventori berubah-ubah sehingga tidak bisa digunakan sebagai indikator awal kinerja PDB, maka data  penjualan akhir pada swasta yang secara riil meningkat 2,5 persen per tahun  dapat dijadikan penanda awal kekuatan pertumbuhan ekonomi AS. Dengan demikian, dapat diperkirakan, secara keseluruhan PDB AS pada 2017 akan tumbuh sekitar 2,5 persen.

Indikator kedua adalah perkembangan perekonomian China. Di antaranya ditunjukkan oleh rasio belanja eceren terhadap produksi industri di China. Angka ini dapat digunakan sebagai penanda siklus kecenderungan perekonomian dan indikator perubahan struktural perekonomian China dari ekspor ke konsumsi domestik, dari outward looking ke inward looking economy. Ini salah satu indikator penting bagi perekonomian China maupun bagi perekonomian global ke depan. Walaupun data rasio belanja eceran terhadap produksi industri terlihat naik turun, kecenderungannya semakin meningkat  sejak krisis keuangan global tahun 2008. Ini menunjukkan bahwa belanja konsumsi masyarakat China semakin menguat.

Fakta itu menunjukkan struktur perekonomian China sedang mengalami transformasi struktural yang dramatis. Di antaranya diperkuat oleh data pangsa sektor sekunder (pengolahan dan konstruksi) terhadap total PDB yang anjlok dari  47 persen  pada 2007 menjadi 40 persen pada 2016. Padahal, sektor tersier (jasa) mengalami peningkatan yang signifikan dari 43 persen  menjadi hampir 52 persen. Pergeseran struktural sebesar itu adalah suatu tanda keseriusan Pemerintah China dalam melakukan reformasi ekonomi menuju proses rebalancing yang memadai.

Selain itu, dari data resmi yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional China, pada dua bulan pertama tahun 2017 terjadi peningkatan yang meyakinkan terhadap penjualan eceran, output industri, konsumsi listrik, produksi besi baja, investasi fisik, dan aktivitas sektor jasa.

Sementara cadangan devisa China mengalami pemulihan (rebounded) pada Februari 2017 untuk pertama kalinya sejak delapan bulan berturut-turut, yang berarti tekanan aliran modal asing keluar dari China telah mereda. Dan, pada saat yang sama, untuk meminimalkan dampak kenaikan tingkat suku bunga Fed Fund Rate AS  terhadap arus dana asing, maka Bank Sentral China (People's Bank of China/PBOC) menaikkan tingkat suku bunga kebijakan sebesar 10 basis poin.

Di samping itu, ketahanan perekonomian China diperlihatkan oleh data perdagangan internasionalnya. Pada Januari dan Februari 2017, ekspor mengalami pertumbuhan 4 persen secara tahunan. Padahal, pada kuartal IV-2016 ekspor mengalami kontraksi sebesar 5,2 persen.

Indikator ketiga adalah tanda-tanda kuat pemulihan ekonomi di UE. Sejak musim panas 2016, sebagian besar anggota UE telah menikmati pemulihan ekonomi yang meyakinkan di tengah-tengah kekhawatiran bayang-bayang disintegrasi UE yang dipicu oleh Brexit dan Usxit. Padahal, Brexit dan Trump telah menciptakan ekspektasi bahwa bubarnya UE hanya masalah waktu, yaitu menunggu kemenangan kelompok populis pada pemilu di Belanda, Perancis, Jerman, dan Italia.

Penanda kuat pemulihan ekonomi UE di antaranya diperlihatkan oleh indikator Ifo Business Climate Index bulanan untuk perekonomian Jerman. Data ini dapat digunakan sebagai penanda siklus perekonomian Eropa secara keseluruhan, mengingat Jerman adalah pusat dari perekonomian Eropa. Kalau indeks ini meningkat, maka dapat dimaknai perekonomian Eropa  secara keseluruhan menunjukkan perbaikan. Survei Ifo mencatat, sejak semester II-2016,  angka ini telah menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat, bahkan pada Februari 2017 menyentuh angka tertinggi setelah bangkit dari krisis sejak 2008.

Sebenarnya UE telah mengalami resesi ekonomi yang panjang dan mengkhawatirkan sejak krisis keuangan global 2008, terutama karena sikap Jerman yang menentang stimulus fiskal dan moneter untuk UE dalam upaya membantu AS keluar dari resesi 2010. Veto Jerman terhadap ekspansi kebijakan moneter UE dengan menggunakan instrumen semacam quantitative easing juga menjadi penyebab utama hampir bubarnya UE pada 2012.

Namun, perubahan dramatis terhadap kebijakan UE dan kondisi ekonominya terjadi pada Maret 2015 ketika Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) meluncurkan program pembelian obligasi seperti yang dilakukan AS dengan skala yang jauh lebih masif. Sejak saat itu ECB melakukan kebijakan moneter yang ultra-longgar dengan membeli surat berharga di pasar keuangan Eropa sekitar ?2,3 triliun euro.

Dengan pembelian hampir tiga kali dari total  obligasi yang diterbitkan UE, ECB secara efektif mematahkan aturan UE dan menyediakan pembiayaan untuk menutup defisit fiskal negara-negara anggota. Dengan demikian, terbangun kembali sistem yang saling memperkuat pemulihan ekonomi antara negara kuat seperti Jerman dan negara lemah seperti Italia dan Spanyol. Langkah ECB ini secara cepat mampu membalikkan fragmentasi sistem perbankan Eropa dan mengeliminasi bubarnya UE sehingga terjadi peningkatan signifikan kepercayaan dan optimisme investor, pelaku bisnis, dan konsumen di belahan Eropa.

Beberapa risiko

Mencermati indikator-indikator di atas, secara keseluruhan sebenarnya perekonomian global telah mengarah pada fase pemulihan walaupun di tengah-tengah proses tersebut dibayang-bayangi oleh menguatnya politik populis di belahan Eropa dan AS.  Berdasarkan pengalaman masa lampau, ketiga indikator tersebut telah mengirim sinyal bahwa perekonomian global ke depan akan mengalami peningkatan kinerja yang signifikan.

Arah pemulihan ekonomi global tersebut semakin menguat jika dalam pertemuan pemimpin G-7 yang akan diselenggarakan di Sisilia, Italia, pada Mei 2017 dan pertemuan pemimpin G-20 di Hamburg, Jerman, pada Juli 2017, berhasil merumuskan kesepakatan bersama untuk memacu pertumbuhan ekonomi global keluar dari stagnasi. Meski demikian, optimisme tersebut masih menghadapi beberapa risiko yang membahayakan. Risiko tersebut bisa menjadi batu sandungan laju ekonomi global yang sudah menguat. Risiko tersebut di antaranya adalah kondisi perbankan di Eropa yang masih lemah, over-leveraged pemerintah lokal di China dan  regulasi keuangan yang ruwet dan kompleks di AS.

Selain itu, agenda penting yang mengkhawatirkan adalah pemilihan presiden Perancis pada 7 Mei 2017. Kalau Marine Le Pen yang menang, maka arah pemulihan ekonomi akan terasa semakin berat. Namun, apabila yang menang Emmanuel Macron, yang merupakan kelompok garis tengah, dapat dipastikan perekonomian global akan semakin menguat menuju ke arah pemulihan.

Semoga arah pemulihan ekonomi global semakin pasti sehingga optimisme akan dunia yang semakin sejahtera dapat terwujud. ●

Kamis, 16 Maret 2017

Waspadai Pinjaman Cina

Waspadai Pinjaman Cina
Tri Winarno  ;   Peneliti Ekonomi Bank Indonesia
                                                     TEMPO.CO, 13 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Cina saat ini telah mencapai negeri dengan pendapatan menengah ke atas dan negara dengan perdagangan luar negeri terbesar di dunia. Cina juga menjadi negara dengan tingkat perekonomian terbesar di dunia. Pada 2014,  pendapatan domestik brutonya mencapai US$ 10,3 triliun, naik dari hanya US$ 2,3 triliun pada 2005. Dengan demikian, produk domestik bruto (PDB) per kapitanya telah mencapai lebih dari US$ 14 ribu.

Pada akhir 2015, Dana Moneter Internasional (IMF) menambahkan renminbi, mata uang Cina, ke keranjang mata uang yang menentukan nilai Special Drawing Rights, satuan mata uang yang dipakai IMF untuk bertransaksi dengan 188 negara anggotanya. Langkah tersebut menempatkan renminbi sejajar dengan mata uang global utama, seperti dolar AS, euro, pound, dan yen.

Dengan bermodalkan kekuatan ekonomi dan cadangan devisa yang besar tersebut, Cina memperluas kepentingan geostrategisnya melalui Prakarsa Jalan Sutra (Silk Road Initiative). Cina membentuk Dana Jalan Sutra untuk mendukung proyek infrastruktur yang dicanangkan Presiden Xi Jinping, yakni "Satu Sabuk, Satu Jalan". Untuk merealisasi ambisinya tersebut, Cina telah mengalokasikan dana US$ 1 triliun.

Dengan bermodalkan devisa yang besar tersebut, Cina memberikan pinjaman kepada pemerintah negara-negara berkembang untuk membantu pembangunan proyek infrastruktur. Akibatnya, negara-negara tersebut terjerat jebakan utang sehingga rentan terhadap pengaruh dan kontrol Cina.

Tentu saja, memberikan pinjaman untuk kepentingan pembangunan proyek infrastruktur pada hakikatnya bukanlah suatu yang buruk. Namun proyek yang dibantu Cina tersebut sering tidak dimaksudkan untuk kepentingan ekonomi domestik negara penerima pinjaman, melainkan membuka akses Cina ke sumber daya alam atau untuk membuka pasar produk murah dan berkualitas rendah dari Cina.

Beberapa proyek yang telah beroperasi tidak mendatangkan keuntungan sebagaimana diharapkan. Misalnya, Bandar Udara Internasional Mattala Rajapaksa di dekat Hambantota, Sri Lanka, yang dibuka pada 2013. Ini merupakan bandara internasional tersepi saat ini. Begitu juga Pelabuhan Magampura Mahinda Rajapaksa di Hambantota yang sebagian besar menganggur.

Ditengarai, Cina berharap proyek-proyek tersebut tidak beroperasi. Musababnya, semakin besar beban utang negara-negara kecil itu, maka kian besar daya tawar Cina ke negara tersebut. Bagi negara yang terbebani utang Cina, mereka dipaksa menjual sahamnya atau memindahkan pengelolaan proyeknya ke badan usaha milik negara Cina.

Cina makin memantapkan langkahnya untuk memastikan bahwa negara-negara peminjam tersebut tidak dapat lepas dari jeratan utangnya. Sebagai imbalan atas penjadwalan utang, Cina meminta negara-negara peminjam memberikan tambahan kontrak proyek-proyek baru, sehingga mereka semakin terjebak oleh jeratan utang yang menggurita. Pada Oktober 2016, Cina menghapus utang Kamboja sebesar US$ 90 juta agar memperoleh tambahan kontrak utang baru yang lebih besar.

Pemerintah baru di beberapa negara, dari Nigeria sampai Sri Lanka, telah memerintahkan investigasi atas dugaan penyuapan oleh Cina terhadap pemimpin-pemimpin sebelumnya. Misalnya, Sri Lanka sebagai negara yang sangat strategis bagi Cina. Posisi Sri Lanka berada di antara pelabuhan paling timur Cina dan Mediterania. Bahkan Presiden Xi Jinping menyebutnya sebagai proyek vital dalam mewujudkan jalur sutra maritimnya. Tak mengherankan jika Cina kemudian menginvestasikan dana yang cukup besar untuk ukuran ekonomi negara berskala kecil seperti Sri Lanka.

Lantaran proyeknya secara keuangan tidak menguntungkan, maka utang pemerintah Sri Lanka ke Cina mengalami default. Alhasil, Sri Lanka membutuhkan pinjaman segar untuk mengatasinya dengan kompensasi memberikan proyek baru kepada Cina. Ini di antaranya berupa pembangunan Kota Pelabuhan Colombo senilai US$ 1,4 miliar. Selain itu, pemerintah Sri Lanka menyetujui penjualan saham 80 persen pelabuhan laut Hambantota ke Cina senilai US$ 1,1 miliar. Menurut Duta Besar Cina di Sri Lanka, Yi Xianliang, penjualan saham di pro- yek-proyek lain sedang didiskusikan untuk membantu memecahkan problem keuangan pemerintah Sri Lanka.

Dengan mengintegrasikan kebijakan luar negeri, ekonomi, dan keamanan, Cina telah memantapkan hegemoninya dalam perdagangan, komunikasi, transportasi, dan keamanan regional. Melalui strategi pinjaman, Cina telah menancapkan kendalinya. Karena itu, negara-negara yang belum terperangkap sebaiknya pandai-pandai mengambil pelajaran dari beberapa kasus di atas.

Namun bukan berarti kita harus memusuhi Cina dan mendukung Donald Trump. Bukan berarti kita antimodal dari Cina dalam bentuk apa pun, seperti investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya. Kita bisa menerima dengan syarat modal-modal tersebut benar-benar bermanfaat untuk perkembangan ekonomi domestik, terutama untuk penyerapan tenaga kerja nasional. Cina untung kita untung. Bukan Cina untung kita buntung. ●

Selasa, 21 Februari 2017

Ketahanan Ekonomi Pasca Trump

Ketahanan Ekonomi Pasca Trump
Tri Winarno  ;    Peneliti Ekonomi Bank Indonesia
                                                     KOMPAS, 18 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Perekonomian global menghadapi tantangan yang sangat berat setelah Brexit dan setelah dilantiknya Donald Trump sebagai Presiden (ke-45) Amerika Serikat. Berbagai pemangku kepentingan, seperti pelaku pasar, merasa cemas terhadap prospek perekonomian global ke depan. Namun, masih ada tanda-tanda optimisme setelah memasuki awal tahun 2017 di mana siklus ekonomi dunia mengindikasikan bahwa selama satu semester ke depan perekonomian global masih menjanjikan.

Beberapa indikator

Setidak-tidaknya terdapat enam indikator utama yang mendukung optimisme perkembangan perekonomian global ke depan tersebut.

Indikator pertama adalah data klaim jumlah penganggur setiap minggu di pasar tenaga kerja AS. Indikator tersebut merupakan penanda awal kekuatan ekonomi AS secara keseluruhan. Data pengangguran merupakan indikator jeda (lagging indicator) dari suatu perekonomian AS. Jika suatu perekonomian AS kuartal ini mengalami perlambatan, jumlah pengangguran AS akan meningkat pada kuartal berikutnya, yaitu ada jeda antara kinerja ekonomi dan jumlah pengangguran di AS. Selain itu, data pengangguran AS dapat dijadikan sebagai proyeksi perekonomian AS jangka pendek.

Data klaim pengangguran AS selalu terbarukan dan tersedia mingguan. Berdasarkan analisis, data klaim pengangguran AS merupakan leading indicator-indikator utama-harga saham AS. Secara keseluruhan data klaim pengangguran AS di bulan Januari relatif rendah dan mengindikasikan tren penurunan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Ini diperkuat oleh membaiknya harga saham AS, baik yang dicatat oleh Dow Jones maupun oleh Nasdaq.

Indikator kedua adalah Institute for Supply Management Manufacturing Index (ISM). Indeks ini merupakan penanda kuat proyeksi perekonomian AS 3-6 bulan ke depan walaupun pangsa sektor manufaktur AS terhadap produk domestik bruto (PDB) relatif kecil dibandingkan dengan sektor utama lainnya. Jika indeks ini meningkat, dapat dipastikan kinerja perekonomian AS kuartal depan akan membaik. Seiring dengan klaim jumlah pengangguran yang menurun, data ISM AS ikut memperkuat optimisme pemulihan ekonomi AS.

Indikator ketiga adalah data subkomponen dari survei ISM, yaitu data jumlah pesanan baru produk manufaktur beserta inventorinya. Pada Januari 2017 terjadi peningkatan jumlah pesanan baru untuk produk manufaktur di AS di tengah-tengah jumlah persediaan yang relatif rendah. Ini mengindikasikan akan terjadi tambahan produksi untuk masa-masa mendatang dalam memenuhi pesanan tersebut yang berarti akan terjadi akselerasi aktivitas ekonomi AS.

Indikator keempat adalah rasio belanja eceran terhadap produksi industri di China. Angka ini dapat digunakan sebagai penanda siklus kecenderungan perekonomian dan indikator perubahan struktural perekonomian China dari ekspor ke konsumsi domestik, dari outward looking ke inward looking economy. Ini merupakan salah satu indikator penting, baik bagi perekonomian China maupun bagi perekonomian global ke depan.

Walaupun rasio belanja eceran terhadap produksi industi terlihat tak menentu, kecenderungannya semakin meningkat sejak krisis keuangan global tahun 2008. Ini menunjukkan bahwa belanja konsumsi masyarakat China masih tetap kuat di tengah penurunan output industrinya.

Indikator kelima adalah data perdagangan internasional Korea Selatan yang secara konsisten dilaporkan pada hari pertama setiap awal bulan tercepat dibandingkan dengan negara-negara lain. Korea Selatan adalah suatu negara dengan perekonomian terbuka dan punya partner dagang dengan negara-negara di seluruh belahan dunia. Partner dagang utamanya terdiri dari AS, China, Jepang, dan Uni Eropa sehingga data perdagangan internasional Korea Selatan dapat digunakan sebagai indikator kinerja perdagangan global.

Setelah ada kecenderungan menurun beberapa tahun terakhir, data perdagangan Korea Selatan menunjukkan tandatanda pemulihan sejak November 2016, khususnya pertumbuhan ekspornya; dan pada Januari 2017 mengalami peningkatan sangat signifikan. Dengan memperhatikan data perdagangan Korea Selatan, optimisme kinerja perekonomian global dipastikan masih bertumbuh.

Mencermati data perdagangan Korea Selatan tersebut, bisa jadi perlambatan perdagangan global akhir-akhir ini adalah suatu fenomena temporer. Penyebabnya berbagai faktor yang di antaranya bersumber dari krisis Uni Eropa yang berkepanjangan, penurunan tajam harga komoditas, perlambatan tajam ekonomi Brasil, Rusia, dan emerging economies lainnya; serta regulasi yang ketat terhadap perbankan internasional yang menghambat pembiayaan transaksi perdagangan global. Jika fakta ini valid, sebenarnya ekonomi global sedang mengarah pada pemulihan seandainya tidak direcoki oleh Trumponomics.

Memasuki fase pemulihan

Indikator terakhir adalah Ifo Business Climate Index bulanan untuk perekonomian Jerman. Data ini dapat digunakan sebagai indikator siklus perekonomian Eropa secara keseluruhan, mengingat Jerman adalah pusat dari perekonomian Eropa. Jika indeks ini meningkat, dapat dimaknai perekonomian Uni Eropa secara keseluruhan mengalami peningkatan. Survei Ifo mencatat bahwa sejak semester II tahun 2016, angkanya telah menunjukkan kecenderungan yang meningkat.

Mencermati enam indikator utama di atas, secara keseluruhan sebenarnya perekonomian global telah mengarah pada fase pemulihan walaupun di tengah-tengah proses tersebut dibayang-bayangi oleh konsekuensi negatif dari Brexit dan Usxit. Dan, berdasarkan pengalaman masa lampau, keenam indikator tersebut telah mengirim sinyal bahwa satu semester ke depan perekonomian global akan mengalami peningkatan kinerja yang signifikan. Namun, kepastian proyeksi dan optimisme tersebut masih bergantung pada seberapa besar badai proteksionistik Trump, implementasi Brexit, dan pemilu presiden di Perancis pada Juni 2017 akan menghambat laju pemulihan perekonomian global. ●