Tampilkan postingan dengan label Santri dan Nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri dan Nasionalisme. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Oktober 2017

Nasionalisme Kaum Sarungan

Nasionalisme Kaum Sarungan
A Helmy Faishal Zaini ;   Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
                                                      KOMPAS, 21 Oktober 2017



                                                           
Baru-baru ini, sejarawan dan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama Kiai Ng Agus Sunyoto menulis sebuah buku bertajuk Fatwa dan Resolusi Jihad.

Buku itu dalam hemat saya sangat otoritatif jadi rujukan guna menelisik lebih jauh apa dan bagaimana sesungguhnya peran santri dalam memerdekakan republik ini. Hal ini sangat penting karena selama ini—meminjam istilah para akademisi—ada semacam usaha untuk memandang sebelah mata, mengesampingkan, atau bahkan menegasikan peran santri. Padahal, fakta sejarah berbicara bahwa peran santri cukup besar dalam perjuangan kemerdekaan. Bukti konkretnya salah satunya bisa dirujuk dalam opus As’ad Sihab berjudul Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari Wadhiu Labinati Istiqlalai Indonesia.

Dalam buku biografis tersebut, jurnalis produktif itu memaparkan fakta bahwa sesungguhnya peletak dasar kemerdekaan bagi Indonesia adalah KH Hasyim Asy’ari. Semangat, strategi, dan motivasinya dalam usaha-usaha memerdekakan bangsa ini dari penjajah terbukti membangkitkan ”ruhul jihad”, terutama bagi kalangan pesantren kala itu.

Nasionalisme kaum santri

Banyak arsip sejarah dan dokumen penting serta laporan dari pelbagai sumber yang melukiskan betapa perlawanan kiai dan santri terhadap para penjajah adalah perlawanan yang memang benar-benar bersumber dari rasa cinta kepada Tanah Air. Salah satu bukti betapa heroiknya perlawanan kiai dan santri pada November 1945 dilukiskan dalam berita Kedaulatan Rakjat edisi 26 November 1945 seperti ini: ”Kesaktian kijai2 di medan pertempoeran, ternyata boekan hanja berita lagi, tapi kita saksikan sendiri. Banjak mortier jang melempem, bom tidak meledak dsbnja lagi.”

Di lain pihak, sosok KH Abdul Wahab Hasbullah juga memiliki peran yang sangat signifikan, terutama dalam memupuk dan menumbuhkembangkan semangat rasa cinta Tanah Air. Pascaperang kemerdekaan, hal penting yang harus dibangun adalah membangun rasa cinta Tanah Air. Rasa cinta Tanah Air tersebut tidak boleh luntur. Maka, ia harus terus dirawat, ditumbuhkan, jika perlu terus diproklamasikan dan dipropagandakan.

Pada titik inilah Kiai Wahab memandang penting menggubah sebuah syair atau lagu bertajuk ”Syubbanul Wathan”. Lirik lagu ini sangat patriotis, sarat dengan muatan cinta Tanah Air. Dalam lirik itu disebutkan, ”Pusaka Hati wahai tanah airku/Cintaku dalam Imanku/Jangan halangkan Nasibku/Bangkitlah hai Bangsaku/Indonesia Negeriku/Engkau Panji Martabatku/Siapa datang mengancammu kan binasa berdarah-berdarah”.

Lagu ”Syubbanul Wathan” menjadi instrumen menggelorakan semangat rasa cinta Tanah Air. Bahkan, sebagai tindak lanjut dan usaha merawat nasionalisme Kiai Wahab atas bimbingan Kiai Hasyim Asy’ari membuat jargon dan adagium hubbul wathan minal iman.

Dalam pandangan KH Said Aqil Siroj (2017), penerjemahan hubbul wathan minal iman yang selama ini sering diartikan dengan cinta Tanah Air sebagian dari iman adalah terjemahan yang kurang akurat. Terjemahan akurat—meminjam Kiai Said—adalah nasionalisme bagian dari iman. Lagu ”Syubbanul Wathan” menjadi semacam resonansi yang terus menggemakan semangat nasionalisme kalangan santri. Ia juga menjadi bahan bakar ampuh untuk menumbuhkembangkan semangat rasa cinta Tanah Air bagi generasi muda usia anak sekolah, bahkan hingga saat ini.

Siapa sejatinya santri dan bagaimanakah kiprah mereka dalam kerangka bangun berbangsa dan bernegara? Dua pertanyaan itu kerap dan sering disampaikan kepada saya. Hal ini penting untuk saya sampaikan agar definisi siapa sejatinya santri itu tuntas dan terdefinisikan. Lagi pula, sebagian dari kita ternyata masih banyak yang terjebak dalam kerangka trikotomisasi yang pernah dibuat Clifford Geertz: abangan, santri, dan priayi.

Saya sepakat dengan definisi konseptual KH A Mustofa Bisri (2016). Dalam pandangan Gus Mus, santri adalah siapa pun yang berakhlak, yang tawaduk kepada Allah, tawaduk kepada orang alim, dan melihat Tanah Air Indonesia ini sebagai rumah.

Konsep santri

Ada dua titik poin penting dalam tawaran definisi tersebut. Pertama, santri memiliki perilaku dan akhlak ritual serta sosial yang baik. Dalam bahasa yang lebih mudah, santri memiliki apa yang disebut sebagai kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Dua istilah ini tidak bisa dinegasikan satu dengan yang lainnya. Keduanya harus berjalan seiring seirama.

Sesungguhnya istilah ini merupakan istilah yang sudah sangat klise, tetapi penting untuk dikemukakan lagi mengingat semakin banyak dan merebaknya praktik-praktik keagamaan yang cenderung memutus mata rantai konektivitas di antara keduanya. Misalnya saja, ada semacam paham-paham yang mempropagandakan dan mengajarkan bahwa yang penting adalah kesalehan ritual. Dalam konteks Indonesia, kesalehan sosial tak begitu diperlukan karena hal itu sifatnya relatif karena berbuat saleh dan baik kepada non-Muslim—dalam konteks negara Indonesia yang majemuk—menurut pandangan mereka itu tidak diwajibkan.

Terhadap pandangan semacam ini, saya menegaskan menolak keras. Saya memandang bahwa kesalehan yang berdimensi sosiologis sangat penting dan wajib dalam konteks berbangsa dan bernegara, apalagi yang bineka seperti Indonesia ini. Untuk membangun kesalehan sosial, konsep etika yang digunakan adalah etika yang transendental, bukan etika yang resiprokal.

Etika transendental adalah sebuah kerangka etika yang sumber kerangka berpikir dan tindakannya didasarkan pada konsep ”wabidzalika umirtu”. Konsep beretika bukan karena alasan dan pamrih apa-apa. Kita berbuat baik memang karena kita diperintahkan untuk itu. Tidak ada pamrih dan alasan apa-apa yang menjadi latar belakangnya. Kita berbuat baik memang karena harus berbuat baik kepada siapa saja. Sebaliknya, etika resiprokal adalah sebuah etika yang kerangkanya adalah karena dasar timbal balik. Kita berbuat baik kepada seseorang karena seseorang tersebut pernah berbuat baik kepada kita. Jenis etika semacam ini sangat transaksional. Maka, dalam hemat saya, etika jenis kedua ini harus kita negasikan jauh-jauh dari kehidupan kita, apa pun itu konteksnya, terutama jika hal itu menyangkut konteks berbangsa dan bernegara.

Kedua, santri adalah mereka yang melihat Tanah Air Indonesia sebagai rumah. Dalam bahasa yang ringkas, santri adalah mereka yang memiliki jiwa dan semangat nasionalisme. Santri adalah mereka yang memandang Tanah Air ini sebagai—barangkali meminjam istilah D Zawawi Imron—sajadah.

Maka, jelas pada fase ini saya ingin mengatakan bahwa konsep santri tidaklah sekaku dan sesaklek konsep yang selama ini kita bayangkan: bersarung, pernah mukim di pesantren, berpeci, mengkaji ilmu agama, dan sebagainya. Santri bukan pula sebagaimana yang dikonsepsikan dan ditrikotomisasikan oleh Clifford Geertz. Santri adalah mereka yang berakhlak, saleh ritual sosial, dan mencintai Tanah Air. 

Pada momen Hari Santri 22 Oktober, spirit untuk menjaga dan memupuk nasionalisme bisa kita teladani dari para santri. ●

Jumat, 11 Januari 2013

Santri dan Semangat Nasionalisme


Santri dan Semangat Nasionalisme
Said Aqil Siradj ;  Ketua umum PB NU
JAWA POS,  11 Januari 2013



MEMBICARAKAN perihal memupuk jiwa nasionalis dan membentuk karakter bangsa (nation character building) yang saat ini tengah digundahkan, benak saya langsung teringat pada kisah tentang nadzar. Nadzardalam kajian fikih merupakan suatu janji atau ikrar untuk menjalankan kebaikan secara khusus dan diamalkan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. 

Tersebutlah Mbah Lim -panggilan populer KH Muslim Imampuro-, sosok kiai karismatis yang tinggal di sebuah desa kecil di Sumberrejo, Kelurahan Troso, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jateng. Di desanya itu, Mbah Lim sudah lama memangku ''Pesantren Pancasila Sakti''. Pesantren tersebut merupakan salah satu pesantren tertua di Indonesia. Mbah Lim juga mendirikan sekolah formal hingga tingkat aliyah (SMA). Nama yang dilabelkan pun ''keren'', yaitu Kader Kampus Bangsa Indonesia (KKBI). Setiap ada kegiatan-kegiatan di pesantren, Mbah Lim selalu mengawali dengan menyanyikan Indonesia Raya. Mbah Lim wafat pada Mei 2012.

Lalu, apa nazarnya? Mbah Lim pernah bernazar, dirinya siap diberi azab oleh Allah hingga terwujudnya Indonesia bersatu, adil, dan makmur. Aneh bin ajaib. Tiba-tiba, Mbah Lim tidak bisa berak sampai beberapa bulan, meski makan kenyang. 

Orang pasti superkaget. Siapa yang mau diazab oleh Allah ''hanya'' karena demi negara yang menyangkut kepentingan banyak orang. Kalau toh bernazar, lebih enak untuk kepentingan pribadi. Umpamanya, demi jabatan, proyek, rezeki, atau jodoh. Apalagi, keadaan negara tengah karut-marut, ada opera perseteruan antarelite, leletnya ekonomi, atau maraknya kekerasan, kejahatan, pengeboman, dan terorisme. Lalu, bikin orang menjadi cuek. Yang penting dirinya sendiri tercukupi, biarpun orang lain semaput.

Kita pun jadi ingat Sumpah Palapa-nya Patih Gadjah Mada pada zaman Majapahit. Yakni, sumpah untuk menaklukkan segenap wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Apa kesamaannya dengan nazar Mbah Lim? Keduanya, tampaknya, punya substansi semangat yang sama. Yakni, tekad untuk mewujudkan nasionalisme yang kukuh serta impian agar negeri ini adil dan makmur. 

Hanya, Mbah Lim bukanlah seorang patih atau birokrat yang mempunyai wewenang untuk melakukan tindakan kenegaraan. Mbah Lim hanya seorang ''kiai kampung'', figur asali civil society yang dekat dengan masyarakat bawah. Apa yang bisa diperbuatnya demi negara ini hanyalah nazar, doa atau permohonan seorang hamba kepada Sang Khalik. Doa sendiri memiliki maqam (tingkatan). Yang tertinggi adalah, seperti yang dipilah sufi besar Andalusia Muhyiddin Ibn Al-Arabi, yang dinamai su'al al-isti'dad. Yakni, doa hamba yang dibarengi sikap pasrah dengan menerima (qana'ah) segala risiko yang diberikan Sang Khalik. Doa itu sudah tentu harus dilalui dengan ketulusan hati tanpa mengharap imbalan yang serbainstan.

Doa terasa menjadi kekuatan spiritual dan moral bagi mereka yang tak punya kuasa dan berjiwa jernih. Di tengah situasi baur, doa atau nazar Mbah Lim terasa mencacah-cacah jiwa. Itulah doa seorang pencinta dan nasionalis sejati yang senantiasa peduli serta cinta terhadap tanah airnya tanpa harus berteriak-teriak (bil lisan), mencari kesempatan dalam situasi krisis demi kepentingan pribadi atau kelompok (bil hal), atau ramai-ramai berdemo, mendirikan forum-forum atau partai, sembari membuat pernyataan serta deklarasi yang malah kerap membingungkan dan meminggirkan rakyat. 

Sikap cinta tanah air yang bersesambung dengan empati kemanusiaan ternyata bisa diungkapkan dalam suatu ''gerakan diam'' (silence movement). Simaklah pula kata-kata seorang sufi, Abu Hasan al-Kharaqani, yang secara heroik berkata lantang, ''Ya Allah, seandainya aku dapat mati demi semua umat manusia sehingga aku tak perlu menunggu kematian.''

Nyentrik tapi Tunggal Ika 

Lingkungan santri memang menyimpan, katakanlah, sejenis ''life style'' yang bisa dipandang nyentrik. Model kiai-kiai ataupun santri seperti itu akan mudah divonis ngawur. Cermati saja, kiai dengan ''Pesantren Metal''-nya, kiai bergelar ''Kiai al-Hamdulillah'', kiai yang hobi bermuhibah, kiai ''liberal'', kiai yang penampilannya selalu berserban tapi hobi main musik klasik dan rock, hingga kiai yang suka kelayapan di dunia malam. 

Para santri di pesantren pun tak kalah nyentrik. Misalnya, santri berambut gondrong tapi ke mana-mana bersarung, berkopiah, dan bawa kitab kuning serta santri yang demen menghafal syair lagu-lagu rock, pop, atau dangdut. Ada pula istilah ''santri kalong'', ''santri hobi ziarah kubur'', hingga santri berjuluk abdul buthun dan abdul qafa alias santri yang hobi tidur dan makan melulu. 

Dalam beragamnya polah tingkah para kiai dan santri tersebut ternyata tersimpuh ''kalimatun sawa''' (common platform) yang menautkan keragaman tersebut dalam bingkai ''Bhineka Tunggal Ika''. Maksudnya, keragaman itu ternyata bisa menyatu dalam satu ''ayat'' bahwa mereka meresapi keislamannya bersaturaga dengan kecintaan terhadap tanah air.

Selama ini, kurikulum di pesantren-pesantren NU terutama searah dengan semangat keindonesiaan. Salah satu kitab kuning yang biasa diajarkan di pesantren NU adalah kitab I'anah al-Thalibin yang memaknai jihad tidak dalam arti kekerasan, melainkan memberi makan orang miskin dan menggelar pengobatan gratis. Begitulah, kurikulum di pesantren NU menjamin seseorang menjadi al-washathiyah, bersikap moderat. 

Itulah yang membedakan dari fenomena kekinian ketika arus baru ideologi keagamaan mulai merasuki negeri kita. Misalnya, munculnya kelompok keagamaan yang menolak untuk menghormati bendera merah-putih karena hal itu dipandang ''musyrik''. Dalam beberapa kasus, ada pelajar SMA yang menolak menghormati bendera merah-putih saat upacara bendera di sekolahnya. Atau, menolak menyanyikan lagu Indonesia Raya. Begitu pula, ada kelompok-kelompok puritan-radikal yang menolak memperingati hari kemerdekaan RI. Kelompok-kelompok keagamaan itu sesungguhnya hendak berjihad menolak segala rupa ''tradisi Nusantara''.

Tandasnya, pemikiran itu hendak menyumpahi nasionalisme modern sebagai ''bid'ah dan musyrik''. Itu jelas-jelas bisa mengganggu roh demokrasi dan kebinekaan NKRI. Terlebih, jika negara tidak mampu menyejahterakan rakyatnya, ancaman terhadap eksistensi kebangsaan kita akan semakin menganga di tengah masyarakat luas yang dilanda gejala distrust.

Akhirnya, semua elemen negeri ini perlu sigap berpikir dan bertindak bersama dalam rangka membangun bangsa serta negara dalam semangat persatuan perjuangan serta mewujudkan program nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. ●