Tampilkan postingan dengan label Hari Raya Nyepi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari Raya Nyepi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

Nyepi dan Sepi dari Korupsi


Nyepi dan Sepi dari Korupsi
Made Ayu Nita Trisna Dewi  ;   Alumnus Program Master Psikologi Agama National Chengchi University, Taipei 
SINDO, 12 Maret 2013


Pada Nyepi tahun ini, yang jatuh pada hari Selasa (12/3), umat Hindu memasuki Tahun Baru Saka 1935. Namun, Nyepi bukan sekadar pergantian tahun Saka, tapi juga hari raya yang disucikan, khususnya bagi hampir tiga juta penganut Hindu Bali dan di berbagai kawasan di Tanah Air. 

Ada beberapa ritual dalam menyambut Nyepi. Beberapa hari sebelum Nyepi digelar ritual Melasti, yakni menyucikan arca serta simbol-simbol agama Hindu Dharma guna mendekatkan diri kepada Tuhan. Ritual ini dimaksudkan untuk menyucikan seluruh isi dunia dan khususnya untuk mengambil Amerta atau air suci kehidupan dari laut dan sumber air lainnya. Lalu sehari sebelum Nyepi digelar ritual Tawur Kesanga, terdiri atas upacara Bhuta Yadnya dan Ngrupuk. 

Bhuta Yadnya adalah ritual memberi persembahan pada Sang Bhuta Kala agar tidak mengganggu umat manusia. Dalam ritual ini umat Hindu membuat ogoh-ogohatau patung raksasa dari bambu yang merupakan simbol roh jahat di sekitar kita sehingga perlu disingkirkan. Cara penyingkiran adalah dengan ritual ngrupuk yakni mengarak ogoh-ogoh lalu membakarnya. 

Dengan demikian, roh jahat bisa diusir dan tidak jadi menguasai dunia. Nah, jika kita hendak mencari relevansi pesan suci Nyepi dengan masalah di negeri ini, tentu saja ada. Misalnya jika kita bicara tentang roh jahat atau kejahatan terbesar yang paling menjadi masalah bagi kita harihari ini, jelas bisa kita lihat pada maraknya praktik korupsi di sini. 

Ketua Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD menyebut, korupsilah masalah terbesar bangsa kita saat ini. Memang, bila kita bicara korupsi dan kaitkan dengan agama, kita menjadi malu. Sungguh menyayat hati manakala perintah Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa agar tidak mencuri, mengambil milik orang lain, atau korupsi—seperti tertulis di Kitab Suci semua agama—kini seperti tak punya pengaruh lagi. 

Buktinya, para koruptor baru justru terus bermunculan. Padahal di negara-negara sekuler, bahkan mayoritas warganya tidak peduli pada agama, seperti Denmark, korupsinya justru nihil. Apalagi, jika kita membincangkan korupsi di Departemen Agama yang konon justru menjadi sarang korupsi, jelas tambah malu hati ini. Sayang, justru mungkin kita sudah kehilangan hati alias sudah mati rasa, sehingga korupsi seolah sudah sulit dihentikan. 

Kemunafikan 

Kenyataan korupsi yang kian marak ini jelas bisa membuat sebagian dari kita apatis. Mungkin benar tudingan budayawan dan wartawan senior Mochtar Lubis (almarhum), betapa munafiknya bangsa ini. Pencucian uang hasil korupsi lewat tindakan ritual keagamaan, seperti pernah dibeber Profesor Komaruddin Hidayat, jelas merupakan bentuk kemunafikan. 

Pelaksanaan ritual keagamaan idealnya membuahkan perilaku yang terpuji, bukan perilaku tidak terpuji seperti korupsi. Sayangnya, ritual keagamaan yang terjadi tidak menghasilkan buah perubahan hidup secara konkret. Banyak yang melakukannya hanya untuk mencari pujian dari orang lain sehingga citranya terdongkrak serta korupsi yang dilakukan jadi tidak ketahuan. 

Padahal kita tidak bisa berpura- pura, apalagi di hadapan Sang Pencipta yang sudah pasti amat membenci kepura-puraan. Segala topeng yang coba kita pasang tidak akan bisa menutupi segala perilaku yang tak terpuji. Sebagaimana arti kata korupsi dari bahasa Latin “corrumpere” yang berarti merusak atau membusukkan, maka jika tidak hati-hati, kita semua, tak terkecuali tokoh agama atau institusi agama, juga bisa dibusukkan oleh uang haram hasil korupsi. 

Teten Masduki, aktivis antikorupsi kawakan, pernah berkisah, betapa dia tak habis mengerti dengan beberapa tokoh agama dan pengikutnya yang justru membela mati-matian tersangka korupsi di pengadilan, padahal korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa. Korupsi memang luar biasa jahat karena jelas menyakiti dan menganiaya banyak pihak, khususnya kaum miskin. 

Dengan uang negara yang terus dirampok dan masuk kantong pribadi, kesempatan menjadi hilang bagi anak- anak miskin yang menderita gizi buruk untuk mendapatkan asupan gizi cukup. Akibat dirampok koruptor, banyak anak miskin tidak bisa masuk ke perguruan tinggi yang biayanya kian mahal. 

Jalan-jalan tambah rusak, karena anggaran pembangunannya sudah disunat dan dibelikan material yang murah sehingga jalan menjadi cepat rusak, berlubang, dan rawan kecelakaan. Ada rangkaian dampak buruk dari tindakan para koruptor sehingga para koruptor sebenarnya harus dihukum seberat-beratnya. 

Agama dan Hukum 

Namun bila kita mengaitkan agama dan korupsi, kita harus hati-hati. Jangan sampai kesimpulan akhirnya menyalahkan agama, untuk tindakan korupsi ini. Karena untuk mengatasi korupsi, memang bukan tanggung jawab agama saja. Penegakan hukum, seperti penguatan KPK agar para koruptor dihukum seberat-beratnya, merupakan solusi utama. 

Maka KPK, yang menjadi tumpuan harapan terakhir, harus terus mendapat dukungan. Apalagi kabarnya sedang terjadi serangan balik dari para koruptor yang bekerja dengan mafia hukum di tahun politik kali ini (2013), agar KPK lemah menjelang 2014 mendatang. Dengan demikian, mereka yang merampok uang negara bisa terus berpesta-pora di atas kebangkrutan negara dan penderitaan rakyat, khususnya wong cilik. 

Jadi dalam upaya mengatasi korupsi, upaya ini bukan tanggung jawab agama saja. Agama hanya berperan sebagai “early warning sistem“ agar orang jangan korupsi. Tapi bila orang sudah melakukan tindak pidana korupsi, hukum positif kita yang harus bertindak tegas. Jadi kunci utamanya tetap pada penegakan hukum. Bagaimanapun, kita tidak boleh apatis atau putus asa. 

Gerakan masyarakat sipil untuk antikorupsi jelas perlu terus didorong, terlebih di tahun politik, yang jelas akan diwarnai banyak politik uang dan korupsi. Umat Hindu, meski minoritas, perlu menggelar sinergi dengan semua umat beragama lain. 

Sinergi ini perlu digalakkan agar kelak negeri ini sungguh bersih dari korupsi. Mari, Nyepi tahun ini kita jadikan momentum untuk menyepi, membersihkan diri dan berani mengalahkan roh jahat serta godaan untuk korupsi sehingga Indonesia menjadi lebih baik. ● 

Damai dan Harmonis dalam Keberagaman


Damai dan Harmonis dalam Keberagaman
I Nyoman Widia  ;   Ketua Badan Penyiaran Hindu Pusat
SINDO, 12 Maret 2013
  

Hari ini selama 24 jam, umat Hindu merayakan pergantian Tahun Saka. Dalam kalender Hindu, hari ini disebut Tanggal Apisan Sasih Kadasa. Menariknya, kedatangan tahun baru tidak disambut dengan gegap gempita, apalagi pesta fora. 

Sebaliknya, umat Hindu menyambutnya dengan suasana hening nan sepi. Itulah sebabnya pergantian Tahun Saka ini lebih dikenal dengan Hari Raya Nyepi. Dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian yaitu tidak bepergian (amati lelungan), tidak bekerja (amati karya), tidak menyalakanapi(amatigeni), dan tidak mengumbar kesenangan (amati lelanguan), terciptalah suasana sepi dan hening di dalam keluarga. 

Di-tambah lagi dengan mona brata (tidak berbicara) dan upawasa (puasa makan dan minum), semakin khidmatlah suasana penyambutan tahun baru tersebut. Suasana yang hening, sepi, dan penuh kedamaian adalah momen yang sangat istimewa untuk melakukan perenungan. Dalam perenungan kita dapat melakukan kilas balik dan reviu terhadap perjalanan satu tahun yang lewat. 

Dengan merenung kita dapat menyusun rencanarencana perjalanan satu tahun ke depan. Dari berita media massa kita mengetahui bahwa bangsa Indonesia saat ini tengah mengalami disorientasi nilai-nilai. Beberapa elite politik korup, masyarakat gampang marah, serta aparat negara kerap bertindak brutal. Rasa damai di hati seakanakan telah menjadi barang langka. 

Di panggung politik sering terjadi kegaduhan. Politisi kurang memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Di masyarakat pun sering terjadi gesekan antaretnis yang kadang dipicu oleh ihwal yang sepele. Perayaan datangnya Tahun Baru Saka dapat menjadi salah satu pelajaran penting dalam menjaga kerukunan hidup di tengah keberagaman itu. Tahun Saka ditetapkan menjadi kalender resmi kerajaan di India pada 79 Masehi oleh Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi. 

Dinasti yang berkuasa sejak 125 SM ini terinspirasi oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka dari perjuangan bersenjata untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan untuk mempersatukan berbagai suku bangsa dengan latar belakang budaya yang beragam di India. Suku-suku bangsa di India pada masa itu seperti Pahlawa, Yuehchi, Saka, Malawa, dan Yuwana silih berganti, saling menjatuhkan, dan merebut kekuasaan. Mereka tak banyak memperhatikan perkembangan budaya dan kesejahteraan rakyatnya. 

Kondisi ini berubah drastis ketika suku bangsa Saka merebut kekuasaan dan mengubah arah perjuangan mereka menjadi perjuangan mempersatukan puncak-puncak kebudayaan dan membangun kesejahteraan bersama atau disebut dengan Dharma Siddhi Yatra. Keberhasilan membangun solidaritas untuk kesejahteraan ini menjadikan perkembangan Hindu dan penggunaan tahun Saka merambah ke berbagai negara termasuk kerajaan Majapahit. 

Kakawin Negara Kertagama yang ditulis Rakawi Prapanca mengisahkan perayaan datangnya Tahun Baru Saka pada bulan Caitra atau Maret di Majapahit. Perayaan ini selalu diisi dengan upacara keagamaan di alun-alun Majapahit dengan pembahasan pokok mengenai peningkatan kualitas moral masyarakat.

Lalu, bagaimana cara menumbuhkan, memelihara, dan mengembangkan harmoni di tengah-tengah keberagaman bangsa Indonesia saat ini? Dalam Kitab Suci Weda terdapat satu ajaran yang disebut Tat Twam Asi. Konsep ini mengajarkan kepada kita bahwa antara Anda dan saya adalah sama. Dalam bahasa sederhana ajaran ini memberi tahu kita untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. 

Mengapa? Karena sejatinya kita adalah sama. Jika kita ingin diperlakukan secara sopan, berlakulah sopan terhadap orang lain. Jika kita ingin dihormati orang lain, hormatilah orang tersebut. Apabila pendapat kita ingin dihargai, biasakan untuk menghargai pendapat orang lain terlebih dahulu. Penjabaran lebih lanjut dari ajaran Tat Twam Asi adalah ajaran Catur Paramitha yaitu empat perilaku yang utama yang hendaknya dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. 

Pertama, sebagai umat Hindu, kita diajarkan untuk memandang setiap orang sebagai seorang sahabat (Maitri). Siapa pun orang itu, perlakukanlah sebagai seorang sahabat. Layaknya seorang sahabat, kita akan memberikan sesuatu yang terbaik untuk mereka. 

Yang kedua disebut Karuna, hendaknya kita senantiasa mengasihi setiap orang. Jika kita sudah memperlakukan orang lain sebagai seorang sahabat, sifat mengasihi sangat diperlukan untuk memelihara jalinan persahabatan tersebut.Energi kasih yang kita pancarkan mampu menyapu bersih energi-energi negatif yang muncul. 

Bagian ketiga dari ajaran ini adalah Muditayaitu berperilaku riang gembira dan mampu menyenangkan orang lain. Perasaan riang gembira dalam diri diyakini dapat membuat orang lain menjadi senang. Kegembiraan diri kita dapat menular kepada orang lain. Bagian terakhir dari Catur Paramitha adalah Upeksa yang artinya menghargai dan menghormati orang lain. 

Di samping kita diajarkan untuk menghargai pendapat-pendapat orang lain dan menaruh rasa hormat kepada orang lain, kita juga hendaknya sering-sering memberikan penghargaan berupa pujian kepada orang lain. Dengan pujian, orang akan lebih terpacu untuk meningkatkan prestasi yang pernah diraihnya. 

Apabila ajaran luhur ini kita implementasikan pada kehidupan sehari-hari, kita menjadi terbiasa memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya. Kita selalu menghormati orang lain, menyayangi, dan memberikan sesuatu yang terbaik. Akibatnya, orang-orang di sekitar kita menjadi senang, menyayangi, menghormati, dan memberikan sesuatu yang terbaik juga. 

Akhirnya terjadilah jalinan persahabatan, persaudaraan, saling menghargai, dan saling mengasihi. Jalinan kasih ini mampu menembus sekat-sekat agama, etnis, maupun golongan. Agar bisa menjalin persahabatan dengan orang lain, pertama- tama kita mesti bersahabat dengan diri sendiri, mengasihidirisendiri, danberdamai dengan diri sendiri. Tanpa semua itu, rasanya tidak mudah untuk harmonis dengan orang lain. 

Apabila relasi dengan diri sendiri mengalami gangguan, hubungan dengan orang lain pun menjadi terganggu. Pendek kata, syarat utama untuk bisa harmonis dengan orang lain adalah harmonis dengan diri sendiri. Marilah pergantian Tahun Baru Saka 1935 ini kita jadikan momen untuk memperbaiki relasi dengan diri sendiri. Jika selama ini kita sering menyalahkan diri sendiri, marah, kesal, maupun kecewa dengan diri kita sendiri, marilah kita maafkan diri kita. 

Mari kita berdamai dan meningkatkan jalinan persahabatan dengan diri kita sendiri. Dengan demikian, kita bisa meningkatkan kualitas relasi dengan orang lain, tanpa membeda-bedakan suku, agama, etnis, maupun golongan. 

Di tengah-tengah keberagaman bangsa Indonesia, kita bisa hidup berdampingan secara damai dan harmonis. Selamat Hari Raya Nyepi – Tahun Baru Saka 1935. ● 

Selasa, 12 Maret 2013

Nyepi Menuju Pribadi Dharma


Nyepi Menuju Pribadi Dharma
I Wayan Dendra  ;   Umat Hindu, Anggota DPRD Sidoarjo dari Partai Hanura
JAWA POS, 12 Maret 2013

  
ADA keunikan di kalangan umat Hindu dalam merayakan hari rayanya. Umat lain merayakan hari raya penuh dengan keramaian dan kegembiraan. Namun, umat Hindu merayakannya dengan penuh keheningan. Atau yang biasa disebut Nyepi. 

Ada empat hal yang mereka lakukan selama Nyepi berlangsung. Empat hal yang juga disebut Catur Berata itu meliputi Amati Karya, Amati Geni, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan. Masing-masing memiliki makna yang mendalam.

Amati Karya diartikan tidak melakukan kegiatan apa pun. Lalu, Amati Geni diwujudkan dengan tidak adanya penerangan di sekelilingnya. Suasana dipastikan alami tanpa ada sinar api ataupun listrik. Selanjutnya, Amati Lelungan yang berarti tidak bepergian. Mereka hanya berdiam diri sambil merenungkan semua tindakan yang sudah dilakukan. Terakhir, Amati Lelanguan, yakni tidak adanya hiburan sama sekali. Hanya suara alam dan sekitarnya yang mereka dengar. 

Empat hal itu membuat suasana tenang. Mereka tidak terusik peristiwa di sekelilingnya. Konsentrasi hanya tertuju pada perenungan pribadi dan kehidupannya. Lalu, melakukan koreksi sambil menilai pelaksanaan trikarya dalam ajaran Hindu.

Trikarya merupakan tiga hal yang ditekankan dalam Hindu. Yakni, Kayukan atau perbuatan, Wacika yang berarti perkataan, serta Manacika yang bermakna pikiran. Tiga hal itu merupakan liku-liku yang mengelilingi manusia. Bisa jadi, tersesatnya manusia bisa berawal dari pelaksanaan trikarya yang tidak baik. 

Setelah merenungi dan mengevaluasi pelaksanaan tiga hal itu, mereka diminta mempersiapkan diri Trikarya Parisudha (trikarya yang suci) pada masa depan. Dengan begitu, keteladanan hidup akan tertata. Baik secara pribadi maupun dengan masyarakat lainnya.

Selain merenungkan trikarya, umat Hindu dituntut melakukan evaluasi diri tentang pendakian rohani yang telah dicapai. Di antaranya mengenai hakikat dan tujuan hidup di dunia, sehingga menjadi manusia yang berarti dan membawa manfaat bagi sekelilingnya.

Hal-hal tersebut bisa dilakukan dengan baik. Sebab, suasana selama Catur Berata berlangsung membantu perenungan bisa berjalan baik. Pikiran terkonsentrasi pada semua aspek perilaku hidup yang bisa dijalani. Hasilnya pun luar biasa, setiap pribadi merasakan arti hidup yang sebenarnya. Lalu, membikin langkah yang harus dilakukan untuk menyempurnakan hidup bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. 

Namun, persoalannya, esensi ajaran itu sering tidak maksimal. Apalagi, tantangan umat semakin kompleks. Tidak hanya dari dalam diri, lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. Wajar jika akhirnya ritual yang dijalani umat saat Nyepi berlangsung tidak berpengaruh pada kepriadiannya.

Ibadah dan kekhusyukan selama Nyepi hanya menjadi seremoni atau rutinitas setiap tahun. Proses dan tahap dilaksanakan seluruh umat dengan penuh keyakinan, tapi tidak bermakna secara mendalam. Karena itu, perilaku tetap sama dan kesalahan masa lalu masih terulang. Patut disayangkan.

Nyepi tahun ini merupakan tantangan semua umat. Esensi ibadah harus lebih ditekankan dan bukan sekadar rutinitas. Pelaksanaan ibadah perlu ditambah. Salah satunya dengan puasa. Baik puasa tidak makan dan minum selama 24 jam. Atau, hanya puasa ringan, yakni memakan nasi putih dan air kelapa gading muda. Ibadah tersebut secara naluri memberikan pembelajaran hati kepada umat.

Selain ibadah ringan, tanggung jawab menjadi elemen terpenting yang harus dijunjung tinggi. Melaksanakan tanggung jawab sangat berat. Perenungan selama Nyepi, lalu Trikarya Parisudha, harus dilaksanakan baik. Jika itu tidak terlaksana, tanggung jawab manusia langsung tertuju pada Sang Pencipta.

Dengan begitu, Nyepi akan menjadi momen bagi umat Hindu untuk menjadi yang lebih baik. Sebab, saat itu umat merenungi semua kesalahan dan kekurangan. Kemudian, berniat memperbaiki dengan tanggung jawab yang tinggi. Secara otomatis, pribadi umat akan semakin mengerti hakikat kehidupan di dunia. Pada waktunya nanti, umat tertuju pada pribadi yang dharma dan menjauhi sifat-sifat adharma.

Sangat jarang umat memaknai Nyepi sebagai tonggak penyadaran dharma. Lebih banyak sekadar perayaan dengan penuh kekeluargaan tanpa mengedepankan esensi ibadah. Sudah seharusnya kebiasaan yang terjadi tahun ke tahun itu diubah. Menjadikan Nyepi dengan motivasi menjadi pribadi yang dharma sesuai dengan ajaran agama.

Semua pasti menginginkan terwujudnya tiga hal konsep masyarakat. Yaitu, masyarakat Satyam yang berarti kesungguhan dalam menerapkan aturan yang benar. Lalu, Sivam yang berarti ketulusan yang mengutamakan kesucian. Serta, Siwam yang bermakna keharmonisan, keindahan, serta keseimbangan antara unsur fisik dan nonfisik.

Tiga hal itu sangat mudah dicapai. Syaratnya, ada kemauan dan ketekunan dari pribadi umat dalam menjalankan ibadah. Sangat diyakini, jika esensi ibadah Nyepi terlaksana dengan baik dan penuh tanggung jawab, tiga konsep masyarakat itu akan terwujud. Dampak nyata dirasakan umat di dunia, kebahagiaan, ketenteraman, dan kedamaian.

Negeri ini butuh konsep itu. Umat Hindu di Indonesia juga memiliki tanggung jawab untuk mewujudkannya. Artinya, ketekunan melaksanakan ibadah pada momen Nyepi menjadi aspek penting untuk mewujudkan kedamaian serta kebahagiaan di masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia.

Sudah saatnya umat bangkit bersama. Menjunjung tinggi ajaran agama, melaksanakan, untuk mencapai pribadi yang dharma. Dari pribadi dharma, terwujud kehidupan sosial yang baik untuk mewujudkan konsep Satyam, Sivam, dan Siwam. 

Hindu bukan sekadar agama yang membawa kedamaian untuk umatnya. Melainkan, agama yang mampu mewujudkan kedamaian untuk semua manusia. Sebab, Hindu bukan agama egois yang menganggap kebahagiaan untuk kelompok tertentu, tapi lebih pada seluruh manusia di dunia. ● 

Nyepi dan Environmentalisme Hindu


Nyepi dan Environmentalisme Hindu
Satrio Wahono  ;   Magister Filsafat UI dan Pengajar FE Universitas Pancasila
SINAR HARAPAN, 11 Maret 2013


Umat Hindu merayakan Nyepi, 12 April ini. Pada Hari Raya Nyepi, suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan seperti biasa. Umat Hindu melaksanakan Catur Brata, penyepian yang terdiri dari amati geni (tidak menggunakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Secara sekilas, filosofi Nyepi terlihat seperti ajaran yang sekadar mengajak manusia mengambil jeda sejenak dari dunia atau bahkan menganggap dunia sebagai buruk.

Padahal, jika ditelaah, ajaran Nyepi sejatinya punya makna yang luar biasa konkret lagi positif bagi 
kehidupan duniawi kita; yaitu ia mampu mencetuskan environmentalisme Hindu yang bisa bermanfaat bagi pelestarian lingkungan di tengah geliat dahsyat ekonomi industri yang tinggi karbon.

Dalam konteks penggunaan energi, hasrat ekonomi industri yang rakus melahap energi dan gemar melepaskan karbon lewat cerobong pabrik itu memang sangat berbahaya.

Bayangkan saja, data National Geographic (2011) menunjukkan penggunaan bahan bakar minyak tinggi karbon telah melepaskan 16.000 kilometer kubik karbon dioksida ke atmosfer per tahun! Karbon inilah yang lalu menumpuk sebagai selubung di atmosfer sehingga alih-alih membiarkan panas terlepas ke udara, selubung itu justru memantulkan panas kembali ke Bumi dan menyebabkan pemanasan global.

Pada titik inilah, semangat Nyepi yang mematikan semua aktivitas selama satu hari penuh bisa berujung pada penekanan emisi karbon. Artinya, salah satu esensi Nyepi adalah upaya merawat alam supaya lebih seimbang dan terpelihara. Singkat kata, spirit Nyepi sekaligus menjadi ilham deras bagi munculnya environmentalisme Hindu.

Chipko dan Gandhiisme

Ruh Nyepi yang ramah lingkungan memang menginspirasi gerakan-gerakan besar bercorak Hindu yang bertujuan melestarikan alam. Setidaknya ada dua gerakan terpenting semacam itu. Pertama, gerakan Chipko.

Memiliki arti “merangkul”, Chipko adalah sebuah gerakan yang berdiri tahun 1913 dengan tujuan melindungi tanah-tanah hutan (Tucker dan Grim, Agama, Filsafat, dan Lingkungan Hidup, Kanisius, 2003:147).

Setelah sempat vakum, gerakan ini dihidupkan kembali pada 1977 oleh sebuah kelompok perempuan di daerah Himalaya yang mengikat benang-benang suci dan membentuk rantai mengelilingi pohon-pohon—persis seperti gerakan memeluk—supaya tidak terkena aksi penebangan besar-besaran oleh perusahaan penambangan.

Kaum perempuan yang tinggal di daerah-daerah berhutan selama beberapa milenium memang memiliki ketergantungan hidup kepada pohon. Hutan menyediakan makanan ternak, pupuk, makanan, air, dan bahan bakar. Oleh karena itu, penebangan hutan mengganggu keseimbangan ekologis dan menyebabkan kerusakan besar di pelbagai belahan India.

Kedua, Gandhiisme. Berpijak pada ajaran tanpa kekerasan (ahimsa) dan tanpa kepemilikan (aparigraha), Gandhi tegas mengampanyekan pentingnya bagi perekonomian India untuk membuat desa-desa mandiri yang giat melakukan swasembada kebutuhan demi meniadakan impor barang (Gandhi, The Village Reconstruction, 1966:43).

Menurut Gandhi, ekonomi industri yang rakus energi dan gemar berpolusi pasti akan melahirkan kompetisi, keserakahan, dan eksploitasi terhadap desa-desa. Dengan demikian, industrialisasi cuma akan melahirkan keinginan tak kunjung henti dari manusia yang hanya bisa dipuaskan oleh aktivitas buas mesin industri yang, lagi-lagi, mengepulkan karbon hitam perusak lingkungan.

Oleh karena itu, melakukan swasembada di tingkat desa, khususnya makanan dan pakaian, akan meminimalkan kebutuhan manusia sekaligus menekan keperluan akan sarana-sarana yang digunakan untuk menghasilkan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Ini bisa mengerem laju industri dan tingkat perusakan lingkungan akibat ekonomi modern yang mendewakan teknologi pengeksploitasi alam.

Kearifan Lingkungan

Dari sini, kita bisa lihat bagaimana ajaran Nyepi mampu menjadi aset kultural andal bagi umat manusia untuk menghalau bahaya lingkungan, yang salah satunya disebabkan pemanasan global akibat limbah karbon dari kegiatan ekonomi industri modern berbasiskan teknologi.

Gerakan Chipko dan swasembada ajaran Gandhi adalah bukti betapa semangat Nyepi mampu mewariskan sejumlah kearifan lingkungan luar biasa yang sangat relevan dan aktual bagi kehidupan kontemporer.

Pertama, gerakan melindungi pohon ala Chipko kini digalakkan secara intens oleh masyarakat global. Ini karena komunitas dunia kini mulai menyadari betapa pentingnya pohon sebagai penyerap emisi karbon.

Lebih jauh lagi, karenanya, perekonomian mondial kini mengenal konsep perdagangan karbon (carbon trading), di mana negara yang masih memiliki banyak pohon penyerap karbon bisa menjual potensi serapan mereka itu—berupa janji tidak menebang pohon—dengan harga mahal kepada negara industri yang masih ingin mengepulkan emisi karbon.

Kedua, gerakan mengurangi impor ala Gandhiisme juga mulai diadopsi banyak warga dunia. Munculnya slogan-slogan berbau proteksionisme seperti Buy America (beli produk-produk buatan Amerika sendiri) yang didengung-dengungkan Presiden Obama adalah contoh telak betapa ajaran Gandhi yang diilhami spirit Nyepi telah mampu merambah ke belahan dunia Barat—bahkan kiblatnya langsung, AS—sana.

Terbukti ajaran mengurangi impor mampu menumbuhkan kemandirian bangsa, memperkuat perekonomian lokal di tengah krisis finansial global, sekaligus mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

Akhirulkalam, Hari Raya Nyepi seyogianya jangan ditafsirkan sebagai laku spiritual semata, melainkan sebagai bentuk ibadah dari salah satu agama tertua di dunia yang ternyata memiliki dampak nyata bagi kehidupan umat manusia; baik dari segi perekonomian maupun lingkungan. Selamat Hari Raya Nyepi!

Senin, 11 Maret 2013

Nyepi sebagai Introspeksi


Nyepi sebagai Introspeksi
Putu Adhi Sutrisna  ;   Pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) 
Provinsi Jawa Tengah
SUARA MERDEKA, 11 Maret 2013

  
HARI Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1935 yang dirayakan umat Hindu se-Indonesia tahun ini jatuh pada Selasa, 12 Maret 2013. Rangkaian perayaan meliputi melasti, tawur agung, dan catur brata penyepian merupakan momen reflektif bagi umat Hindu dalam menjaga keseimbangan alam dan diri sendiri sehingga tercipta kehidupan yang mendamaikan jiwa. 

Umat Hindu meyakini bahwa kebahagiaan dan kedamaian dalam menjalani kehidupan di dunia dapat dicapai dengan melaksanakan ajaran Tri Hita Karana. Ajaran itu bermakna tiga hubungan harmonis, menyangkut hubungan antara manusia dan Tuhan Sang Pencipta, antara manusia dan lingkungan/ alam semesta, serta antara manusia satu dan lainnya. 

Kealpaan manusia menjaga harmonisasi dengan alam, seperti penggundulan hutan atau menghilangkan kawasan hijau dapat memicu terjadinya banjir atau tanah longsor. Bencana alam yang tidak kita kehendaki itu, acap menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda tidak sedikit. 

Demikian juga bila kita abai menjaga harmonisasi hubungan antarmanusia maka yang terjadi adalah kondisi seperti saat ini yang disesaki oleh gejolak dalam berbagai bidang, seperti kegaduhan situasi politik menjelang Pemilu 2014, pertengkaran dan perang opini antarpartai dan antarpolitikus tiap saat kita saksikan lewat berbagai media massa.
Juga yang tidak kalah menyedihkan begitu banyak konflik kepentingan yang terjadi pada masyarakat yang kemudian berujung pada kekerasan, kekerasan antarkelompok,bahkan akhir-akhir ini begitu banyak terjadi kekerasan terhadap anak.

Salah satu makna pelaksanaan Hari Raya Nyepi, yakni momentum untuk introspeksi, saya kira  sangat relevan bila kita kaitkan dengan situasi kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini. Introspeksi dapat dikatakan sebagai perjalanan ke dalam diri untuk mengetahui secara jernih dan jujur semua pikiran, perkataan, dan perbuatan yang kita lakukan selama ini. 

Sudahkah semua itu memenuhi berbagai norma yang sepatutnya kita pedomani, seperti norma agama, kepatutan dan kesantunan, serta norma hukum? Introspeksi dapat kita ibaratkan bercermin dengan jujur dan cerdas dan upaya itu bukan perkara mudah. Pasalnya, menemukan kekurangan, kelemahan, dan kesalahan diri, butuh sikap arif dan bijak serta tingkat spiritual yang memadai.

Tanpa kearifan maka yang hadir malah ketidakjujuran sebagai pembelaan diri atau berbagai alasan pembenar dan pemaaf bagi diri sendiri. Pada akhirnya kita tidak akan pernah dapat menemukan langkah tepat untuk memperbaiki diri, sebaliknya membiarkan untuk terus terjebak pada kesalahan dan kekeliruan  berkepanjangan.

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi mewajibkan umat Hindu melaksanakan catur brata, yang bisa diartikan empat pantangan selama 24 jam, yakni tidak menyalakan api atau penerangan (amati geni), tidak melakukan aktivitas kerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak diperkenankan bersenang-senang/ menikmati hiburan (amati lelanguan). 
Melaksanakan brata penyepian ini dimaksudkan untuk memberikan ruang dan waktu yang berkualitas utama guna melakukan perenungan dan intorspeksi diri secara baik serta sekaligus sebagai sarana kontemplasi, refleksi dan merumuskan proyeksi serta  prioritas yang hendak diwujudkan kedepan.

Keunggulan Rohani

Musuh dalam diri yang acap menggoda dan berusaha menguasai hati dan pikiran kita, sebenarnya dapat kita taklukkan atau kendalikan, tidak saja dengan kecerdasan intelektual tetapi juga dengan meningkatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Musuh itu antara lain sifat tamak, sombong, rasa ingin selalu marah, iri hati, selalu berprasangka buruk serta mau menang sendiri. 

Terkait dengan rutinitas keseharian kita yang dipenuhi ingar-bingar keramaian, adakalanya butuh suasana sepi dan sunyi untuk melihat seberkas cahaya terang dalam diri yang akan membasuh dan membersihkan hati kita sehingga mampu menangkal berbagai godaan yang dapat menjerumuskan ke jurang derita panjang. 
Hal ini selaras dengan ucapan Adi Sankarcarya, filsuf besar India pada abad ke-8, yakni, sepi adalah pintu pertama menuju keunggulan rohani.


Tentu saja Nyepi hanyalah momentum untuk introspeksi karena sesungguhnya sebagai manusia yang dikaruniai akal budi, kita wajib memiliki kesadaran untuk terus-menerus mencerahkan batin. Upaya itu bertujuan supaya langkah kita pada esok hari lebih baik dibandingkan dengan hari ini. 

Memperbaiki kualitas diri, akan meningkatkan nilai-nilai untuk saling menghargai dan menghormati dalam kesetaraan, kebersamaan, dan keberagaman yang mendamaikan dan meningkatkan nilai luhur lainnya. 
Manakala bisa melakukan dengan baik, niscaya mengantarkan kita pada kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih damai dan lebih elok.  Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1935. Semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu.

Nyepi dan Kebudayaan Luhur


Nyepi dan Kebudayaan Luhur
Ade Sunarya  ;   Budayawan
SUARA KARYA, 11 Maret 2013
  

Perayaan Hari Raya Nyepi tahun ini jatuh pada Selasa, Sasih Kadasa, Tahun Baru Saka 1935 bertepatan dengan tanggal 12 Maret 2013 Masehi. Tema yang diusung Kanthi Luhuring Budi, Umat Hindu Memetri Budaya Ngudi Raharjaning Praja, yang berarti "Dengan Keluhuran Budi, Umat Hindu Melestarikan Kebudayaan Luhur Guna Pencapaian Kesejahteraan Bangsa dan Negara". Pada puncak perayaan Nyepi ini umat Hindu Indonesia khususnya di daerah "Pulau Dewata" Bali melakukan ritual Brata Penyepian yang dideskripsikan dengan empat larangan beraktivitas. Pertama, amati geni (tidak menyalakan api). Kedua, amati karya (tidak bekerja). Ketiga, amati lelungan (tidak bepergian). Keempat, amati lelanguan (tidak melakukan kegiatan hiburan).

Secara etimologis asal kata 'nyepi' berasal dari kata 'sepi' yang memiliki padanan kata sunyi, senyap, dan hening. Berdasar kata tersebut, kegiatan Nyepi dengan ritual Brata Penyepian ini menekankan pada prinsip keseimbangan. Yakni, suatu proses mengembalikan (dikembalikan) alam beserta isinya (microcosmos dan macrocosmos) ke dalam suatu keadaan titik/masa, sepi, (sunyi, hening, dan senyap). Tetapi, bukan berarti semua itu tanpa isi, rasa dan makna, ke"nihil"an atau "nol" pada tatanan sosial-kemasyarakatan yang hidup dan bernilai suci serta merupakan suatu tingkatan tertinggi dari sebuah ukuran manusia yang taat kepada ajaran suci Hindu.

Ritual Brata Penyepian ini juga merupakan suatu kegiatan pengekangan terhadap kecenderungan hawa nafsu yang mengajak kepada keburukan (instrospeksi) dengan disertai suatu keikhlasan dan penyerahan total kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam mencapai suatu keadaan ketenangan dan kedamaian serta kesucian lahir dan batin. Manusia sebagai makhluk ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa, wajib berdoa untuk menyucikan alam beserta isinya, yakni microcosmos (alam manusia) dan macrocosmos (alam semesta).

Umat Hindu diwajibkan untuk menjalankan upacara sembahyang keagamaan. Pertama, berupa tapa (latihan ketahanan menderita). Kedua, brata (mengekang nafsu). Ketiga, yoga (menghubungkan jiwa dengan Tuhan). Keempat, samadi (penyatuan dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa) untuk meraih kesucian lahir batin.

Praktis saja bandar udara, tempat-tempat publik pada tutup terkecuali rumah sakit dan klinik. Objek-objek wisata di kawasan Pulau Dewata pun diistirahatkan untuk sementara waktu selama perayaan Nyepi, seperti Batubulan, Bedugul, Goa Gajah, Jimbaran, , Mangrove, Nusa Lembongan, Pura Besakih, Tampaksiring, Tanah Lot, Tanjung Benoa, Tegalalang, Ubud dan Uluwatu. Para pecalang (polisi adat) melakukan penjagaan dan pemantauan ke seluruh daerah di Bali untuk memastikan tidak ada orang yang keluar dari tempat penyepian (pura atau rumah). Bilamana ada orang yang melanggar dan tertangkap, maka akan diberi sanksi adat.

Jika kita menangkap makna yang terkandung dari pesan-pesan Nyepi di atas, dan mengaplikasikannya dalam ranah kehidupan keseharian baik individu, masyarakat, bangsa maupun negara, maka banyak sekali faedah yang didapat yang pada intinya berupa pesan perdamaian dan toleransi di antara makhluk Tuhan dengan tidak memandang suku, agama dan ras antar golongan (SARA).

Menurut Emile Durkheim (1976), agama adalah suatu sistem kepercayaan beserta praktiknya, berkenaan dengan hal-hal yang sakral yang menyatukan pengikutnya dalam suatu komunitas moral. Agama merupakan bagian yang sangat mendalam dari kepribadian (privacy), karena agama selalu bersangkutan dengan kepekaan emosional. Agama merupakan hal yang sensitif dan sering menghambat proses integrasi sosial, terutama pada masyarakat majemuk yang memiliki bermacam-macam agama dengan doktrin yang berbeda-beda. Agama memiliki ajaran yang mengatur kehidupan bersama tanpa memandang ras, pangkat, derajat, jenis kelamin, dan unsur-unsur pembeda lainnya. Agama menganjurkan suatu kerja sama antar-pemeluk agama.

Di tengah carut marutnya tatanan bermasyarakat dan bernegara dewasa ini, yang dulu di mancanegara bangsa Indonesia dikenal dengan keramahannya, kini telah mengalami degradasi secara drastis. Seakan-akan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang pemarah, dan tidak cinta akan kerukunan dan kedamaian, setiap pemeluk agama saling serang dan terjadi kecurigaan. Sungguh ini merupakan hal yang sangat ironis. Sejarah peradaban bangsa Indonesia mencatat di era kejayaan kerajaan Nusantara, bangsa ini telah mendeklarasikan diri sebagai bangsa yang rukun. Hal ini tersurat dalam kitab Sutasoma dengan semboyan "Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa", yang bermakna meskipun berbeda-beda, namun satu jua tak ada hukum yang mendua. Ini merupakan fakta sejarah bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk serta cinta perdamaian.

Kiranya bangsa Indonesia perlu meneladani ajaran Hindu yang berkenaan dengan kepemimpinan dan tata negara. Untuk mendalami tentang kepemimpinan dan konsep negara menurut agama Hindu ini kita bisa merujuk buku karya Oka Mahendra berjudul "Ajaran Hindu tentang Kepemimpinan, Konsep Negara, dan Wiwaha" terbitan Pustaka Manikgeni. Buku ini memaparkan betapa agungnya ajaran Hindu berkenaan dengan kepemimpinan secara luas.

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai wadah bagi para pemuka agama Hindu Indonesia dan Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) sebagai perhimpunan keluarga besar mahasiswa Hindu Indonesia kiranya mesti menyampaikan rekomendasi melalui moment perayaan Nyepi sebagai tawaran solusi bagi permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia dengan cara melestarikan kebudayaan luhur guna pencapaian kesejahteraan bangsa dan negara.
Selamat menunaikan Brata Penyepian dan Tahun Baru Saka 1935. ●

Menegakkan Diri yang Agung


Menegakkan Diri yang Agung
Raka Santeri  ;   Wartawan; Tinggal di Bali
KOMPAS, 11 Maret 2013

  
Sejarah manusia tampaknya berlangsung dalam perjalanan waktu untuk menegakkan ”diri agung” yang tak terbatas, di tengah-tengah tarikan ”diri rendah” yang terbatas. Raka Santeri
Dalam jejak-jejaknya yang terasa dan teraba, diri agung menandakan kehadirannya dalam kebudayaan, peradaban, dan kejernihan logika. Sementara diri rendah menebarkan kekerasan, keserakahan, dan kekuasaan dalam tiang-tiang rapuh kesementaraan.
Perjuangan seperti itulah yang terjadi pada tahun 77 Masehi ketika Raja Kaniska I di India mencampakkan pedangnya ke tanah, lalu menggantikannya dengan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kekuasaan yang luas, harta berlimpah, dan kesenangan yang mudah ternyata tidak berarti apabila kecemasan selalu menghantui diri.
Perenungan dalam sepi, di tengah-tengah kemenangan melawan musuh-musuh kekuasaan, mengalirkan raja dari dinasti Kusana ini menuju kesadaran yang cerah: mengalahkan diri sendiri!
Lebih dari 1.935 tahun kemudian, dalam abad ini, kita masih menghadapi musuh ”diri agung” yang sama: kegaduhan batin, kekerasan, keserakahan, dan perebutan kekuasaan.
Dengan setia kita menghamba kepada diri rendah kita masing-masing, sambil menyusun daya upaya yang kita anggap sebagai kecerdasan ilmu pengetahuan. Tujuannya merangkul dan menguasai, atau menyingkirkan dan menjatuhkan, ketika saudara sendiri pun kita anggap sebagai lawan.
Dalam beberapa kesempatan, kita juga tidak segan-segan memainkan fakta menjadi fitnah, menegakkan setan di samping Tuhan, sehingga nafsu bisa dikobarkan menjadi api yang menghanguskan ratusan rumah dan menjadi pedang untuk membunuh manusia tanpa daya.
Kenapa kita, yang dalam setiap ”klik” mampu menembus dunia maya, berenang dalam lautan informasi dan pengetahuan, sangat sulit berubah dan memilih tetap tegak dalam kepentingan diri kita yang rendah?
Mungkin benar orang Indonesia termasuk jenis manusia hipokrit, berjiwa feodal, dan berwatak lemah, seperti dikemukakan Mochtar Lubis. Tetapi mungkin juga karena kita selalu melihat dan menganggap ”diri” hanya sebatas tubuh dengan segala kemampuan sementaranya. Sedangkan jiwa (roh) diabaikan meskipun sesungguhnya roh adalah ”percikan cahaya Ilahi” (Atman) yang abadi dalam ruang kehidupan tak terbatas.
Dalam ajaran Hindu, manusia adalah roh abadi yang tinggal di dalam tubuh yang sementara ini. Segala kemampuannya muncul dari hasil karma di masa lalu, masa sekarang, dan masa-masa yang akan datang.
Kama, Kroda, dan Lobha
Karena esensi utama manusia adalah roh, sudah seharusnya tujuan hidup mendekatkan kembali roh ke sumber asalnya, kepada Sang Pencipta (Tuhan). Kedekatan roh kepada Tuhan akan menghasilkan karma (perbuatan) yang baik, dan karma yang baik pada gilirannya akan mengangkat derajat manusia ke tataran yang lebih mulia, menjadi diri yang agung.
Sebaliknya kalau kita selalu mengutamakan tubuh, kita cenderung tak henti-hentinya mengejar keinginan tubuh. Akhirnya kita akan terjebak pada ”tiga pintu neraka” (Bhagawat Gita XVI-21), yaitu kama (keinginan yang tak ada akhirnya), kroda (kemarahan yang menyalakan anarkisme, permusuhan, dan peperangan), dan lobha (sifat tamak yang tidak mengenal kata cukup, selalu ingin lebih, lagi dan lagi, sehingga akhirnya menjadi ”gila”).
Bukankah gila orang-orang yang senang memamerkan kemewahan di tengah-tengah kesengsaraan rakyat yang kelaparan? Gila juga orang yang masih tersenyum bak pahlawan ketika dihujat dan dihukum karena korupsi. Itulah diri yang rendah. Agama Hindu menawarkan hidup seimbang, mencari kekayaan (artha) dan kesenangan (kama) berdasarkan kebenaran (dharma).
Kalau dharma tidak melandasi pencarian artha dan kama, bangsa ini akan terus terseret dalam pusaran korupsi, perebutan kekuasaan, kebencian, dan tipu daya memenuhi ruang-ruang publik yang masih tersisa. Semua akan tersandera oleh semua, dan ruang-ruang untuk maju terhambat sekat-sekat kesepakatan yang dibangun untuk ”keamanan” bersama pula.
Tercerahkan
Untuk keluar dari kemelut lingkaran setan ini, kita perlu seseorang yang tercerahkan, seseorang yang berani ”melempar pedang”-nya; dan dengan logika jernih membangun kembali peradaban bangsa. Orang seperti itu harus pula berani melawan dirinya yang rendah serta menggugah diri-diri rendah lainnya bangkit menjadi diri-diri yang agung. Ya, kita memerlukan ”Kaniska-Kaniska” Indonesia abad ke-21 untuk membangun kembali kejayaan bangsa, seperti pernah kita miliki pada zaman Sriwijaya dan Majapahit dahulu.
Mimpi? Semua yang besar dimulai dari mimpi! Kata-kata bijak menyebutkan: Once you meet your higher self, whatever its form, you will get shine, bright, open and awaken. You will feel the true joy, and happiness is everything….
Semoga kegaduhan politik dan keserakahan nafsu kebendaan yang merajalela sekarang ini memaksa kita bangkit dan berubah menjadi lebih bersih, terbuka, dan kuat di masa-masa yang akan datang. ●

Sabtu, 24 Maret 2012

Mentari dari Bali


Mentari dari Bali
  Gede Prama, Penulis Buku Simfoni di Dalam Diri: Mengolah Kemarahan Menjadi Keteduhan; Fasilitator Meditasi di Bali Utara
SUMBER : MEDIA INDONESIA, 24 Maret 2012



ENTAH mana yang benar, sejarah membuat tokoh atau tokoh membuat sejarah. Yang jelas, sulit mengingkari kita hidup di putaran waktu yang mengalami kelangkaan tokoh. Di negeri Barack Obama yang lama menjadi teladan demokrasi, sudah mulai ada orang yang berteriak ‘bohong’ saat presiden berpidato. Di Eropa, sejarah pemimpinnya mulai dinodai hal-hal tidak beradab seperti pemimpin dilempar dengan sepatu. Kita di Indonesia serupa, oleh media dan kritikus pemimpin senantiasa duduk di kursi yang disalahkan. 

Bali yang ditulis sejumlah penulis Barat dengan bahasa puitis, seperti morning of the world, juga tidak ketinggalan. Pentas media dan politik berisi terlalu banyak perseteruan. Ciri dominannya cuma satu, semua mengaku benar, semua mau didengar.

Bila digabung menjadi satu, riuh sekaligus kisruhlah kehidupan. Itu tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk berpikir jernih, tanpa memberikan tempat bagi keheningan untuk lewat kendati hanya sebentar. Ciri khas zaman ini ialah sangat langka ada manusia yang menyediakan diri untuk menjadi listening warrior. Menyediakan diri untuk mendengar tidak saja dengan telinga, tetapi juga dengan cinta. Tidak saja sepi, tetapi juga penuh empati. Kemudian merangkai serpihan-serpihan kebenaran yang berantakan khususnya oleh politik, serta mewartakan ke publik bahwa apa yang kita ributkan membuat manusia menjauh dari kejernihan dan jalan keluar.

Lebih dari itu, di zaman yang marak dengan bunuh diri dan tsunami ini, berlaku rumus sederhana: listening is nourishing. Saat mendengar, kita ikut menghidupi dan menyembuhkan banyak jiwa.

Dalam konteks listening warrior itulah Hari Raya Nyepi jadi relevan. Bagi anak muda yang masih teramat lapar akan kesuksesan dan progress, keheningan kerap disebut membuang kesempatan. Namun, setiap jiwa yang sudah tumbuh dewasa secara spiritual berpelukan lembut dengan tubuh kosmis (baca: istirahat dalam keheningan) serupa menghirup udara segar. Itu tidak hanya memperpanjang umur, tetapi juga berjumpa dengan wajah kehidupan yang semakin menyatu dari hari ke hari. Menyatu dengan alam, menyatu dengan semua ciptaan, menyatu dengan Tuhan. Tetua Bali menyebutnya tri hita karana.

Siapa yang berani menyelam ke kedalaman kehidupan seperti ini, kolam kehidupan yang tadinya keruh kemudian terang-benderang terlihat. Ternyata dari zaman lahirnya nabi sampai zaman kini, kehidupan senantiasa dialektis. Itu serupa manusia yang membangun rumah kemudian dihancurkan rayap, di mana ada orang membangun, di sana ada kekuatan lain yang menghancurkan. Di mana lahir kesucian, di sana juga lahir kekotoran. 

Bila manusia biasa dibuat kisruh oleh pola dialektis kehidupan seperti ini, para suci duduk rapi di atas pertentangan dan dualitas, menyaksikannya kemudian memutar roda kasih sayang. Hadirnya rayap yang menghancurkan rumah (baca: hadirnya penggoda di setiap zaman) bukan alasan untuk menghentikan pembangunan. Sebaliknya, itu membuat kehidupan menjadi semakin halus dan semakin halus . Serupa Mahatma Gandhi yang halus karena hadirnya penjajah Inggris, mirip Nelson Mandela yang lembut karena dipenjara 27 tahun. Mirip Muhammad Junus yang peka karena tumbuh di tengah kemiskinan Bangladesh.

Amerika memang putaran waktunya sedang turun, Eropa memang sedang dibelit krisis, Indonesia memang sedang menata ulang dirinya. Semuanya hanya manifestasi dari hukum dialektis yang sama. Ke mana pun siklus kehidupan sedang berjalan, peradaban memerlukan listening warrior. Yang bisa hening di tengah keramaian, mendengar tidak saja dengan telinga, mengumpulkan dan merangkai serpihan-serpihan kebenaran, kemudian mewartakan kepada pemimpin khususnya.

Pemimpin bukan ditakdirkan sebagai bagian dari pertentangan, melainkan diharapkan duduk rapi di atas pertentangan, melihatnya secara jernih, kemudian memutar roda keputusan hanya dengan kasih sayang. Di samping itu, dengan keheningan yang sempurna, listening warrior juga ikut mengirim vibrasi kesembuhan ke tubuh kosmis yang banyak luka sebagaimana ditunjukkan banyaknya tsunami, banjir, dan bunuh diri.

Dengan demikian, Nyepi bukan hanya berwajah penghematan energi, pengurangan emisi, memperkecil kemungkinan pemanasan global, melainkan juga menjadi momen kontemplasi yang memungkinkan manusia keluar dari kolam kehidupan yang kisruh oleh kepentingan dan kekuasaan. Itu kemudian mengizinkan ketenangan, kesejukan, dan kedamaian memberikan ruang bagi lahirnya kejernihan.

Bila listening warrior lahir, benar seperti ditulis pemenang hadiah nobel sastra Rabindranath Tagore yang sepulang dari kunjungan ke Bali kemudian menyebut Bali sebagai morning of the world. Mentari pagi dari Bali untuk Bumi, mentari keheningan yang mengetuk pintu hati banyak manusia untuk mendengar karena teramat langka manusia di zaman ini yang mau mendengar. Kendati telinga manusia dua kali lebih banyak daripada mulut, manusia tetap memerlukan perjuangan keras di zaman ini untuk bisa mendengar. Padahal, hanya di kedalaman pendengaran manusia bisa terhubung dengan tubuh kosmis, mengalami kebersatuan, kemudian bisa merasakan tidak hanya setiap tempat menjadi rumah (home), setiap waktu menjadi home, tapi juga setiap keadaan batin juga home (every state of mind is home).

Coba perhatikan sebagian peninggalan tetua Bali. Di kepala Pulau Bali, nama desanya Kubutambahan. Kubu berarti rumah, tambah berarti positif. Artinya, rumah manusia-manusia yang berpikir positif.

Di kaki Pulau Bali, tempat matahari terbit indah sekali memeluk puncak Gunung Agung, desanya bernama Sanur. Sa artinya satu, nur artinya cahaya. Ringkasnya berarti cahaya yang satu. Sebuah tempat yang amat terkenal ke seluruh dunia bisa menyembuhkan banyak manusia bernama Ubud, berarti ubad alias obat. Lokasinya di Bali Tengah.

Bila digabung menjadi satu, isilah kepala dengan hal-hal positif, langkahkan kaki diterangi cahaya yang satu. Kesembuhan pun bisa muncul kemudian.

Caranya, selalu hindari hal-hal ekstrem, istirahatlah di jalan tengah. Dari situ mungkin tangan-tangan pemimpin yang bergandengan dengan semuanya baru bisa hadir, kemudian membuat gerak kehidupan sebagai perjalanan pulang. Sekaligus, bersamasama kita sembuhkan tubuh kosmis yang sedang luka di mana-mana. Besok pagi di Hari Nyepi, matahari pemahaman seperti inilah yang terbit dari Bali. Selamat Hari Raya Nyepi. Semoga semua makhluk berbahagia.