Tampilkan postingan dengan label Impian Nopitasari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Impian Nopitasari. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Agustus 2021

 

Jangan Mengatur Barang Orang Lain

Impian Nopitasari ;  Penulis, Tinggal di Solo

DETIKNEWS, 29 Agustus 2021

 

 

                                                           

Ketika sedang iseng melihat-lihat story WhatsApp --aktivitas yang sebenarnya jarang saya lakukan-- saya menemukan story teman yang membuat saya membalasnya. Di story-nya tersebut, dia mem-posting tangkapan layar sebuah status dari teman Facebook yang saya kenal. Seorang penulis yang membagikan percakapan pribadinya dengan seseorang. Dalam percakapan tersebut ada orang yang memintanya untuk menyumbangkan koleksi bukunya. Tentu saja permintaan tersebut dia tolak.

 

"Ya ampun, aku kok sering ya bernasib sama seperti beliau, dipaksa orang untuk mendonasikan buku koleksi," saya membalas story WhatsApp teman saya tersebut.

 

Saya sepakat dengan mas penulis yang tersinggung ketika diminta untuk menyumbangkan koleksi bukunya. Ya, bayangkan itu adalah harta yang ia kumpulkan bertahun-tahun. Ada yang perjuangan mendapatkannya dengan menabung, mencari di tempat yang susah karena bukunya langka, atau ada yang berupa hadiah atau pemberian orang lain, sesuatu yang sentimentil dan tidak bisa dinilai dengan uang.

 

Bisa juga itu tabungan masa depan untuk anak-anaknya. Lalu tiba-tiba ada yang seenaknya ngomong, "Mbok disumbangkan saja bukunya."

 

Saya sendiri juga sering mendapat komentar seperti itu ketika mengunggah foto tumpukan buku saya yang sebenarnya tidak beraturan. Komentar seperti, "Mbak, nggak ada niatan buat hibahin bukunya?" selalu saya jawab dengan satu kata, "Nggak!" Dalam hati sih nggerundel, "Lah siapa elu minta-minta, enak wae!"

 

Orang-orang ini kok pada percaya diri sekali ya berkomentar seperti itu. Mereka tidak paham sekali sejarahnya mendapatkan buku-buku tersebut. Kalau memang takjub dengan koleksi buku-buku saya yang katanya banyak itu ya dari dulu kumpulkan sendiri. Jangan paksa orang lain untuk menyumbangkan koleksinya. Lucunya, komentar tersebut tidak hanya berasal dari orang-orang yang kita anggap tidak mengerti hal seperti ini.

 

Saya pernah bertengkar dengan salah satu guru saya di sekolah dulu karena tidak mengembalikan buku yang dia pinjam dari saya. Malah bilang kalau buku ya sudah seharusnya disumbangkan. Ya kenapa bukan buku dia sendiri? Setelah dewasa ini saya baru paham, ya mau disumbangkan apanya wong dia sendiri tidak punya koleksi buku.

 

Minta donasi itu ada caranya, yang sopan. Banyak kok orang-orang yang memang bergerak di bidang donasi buku. Hubungi saja mereka. Ada tautan yang bisa diklik untuk prosedurnya. Tanya teman yang lebih paham juga bisa. Daripada meminta orang untuk menyumbangkan koleksi bukunya. Saya yakin orang-orang yang dipaksa menyumbangkan bukunya ini sudah punya waktu sendiri untuk berdonasi.

 

Berdonasi dengan diumumkan itu bagus kalau tujuannya memang membuat orang-orang tergerak melakukannya. Tapi tidak semua kegiatan donasi harus dipublikasikan. Mungkin kita yang tidak tahu.

 

Kemarin saya juga menemukan komen senada di sebuah grup klub baca di Telegram. Ada seorang anggota grup yang menawarkan buku-bukunya untuk dijual. Herannya, ada beberapa komentar yang ajaib sekali. Yang pertama, ada yang mengejek jenis buku yang ditawarkan tersebut, yang kedua ada yang komentar dengan tanpa bersalah, "Kak, apa tidak disumbangkan saja bukunya?"

 

Yang punya lapak menjawab, "Hehe sedang butuh uang, Kak."

 

Meski bukan saya yang sedang menawarkan buku, kok saya yang malah tersinggung. Lepas dari boleh-tidaknya berjualan di grup tersebut, rasanya tidak sopan ketika ada yang berjualan tapi malah disuruh menyumbangkan barangnya. Orang menjual barangnya itu ya karena butuh uang, atau ya memang niatnya untuk dijual, bukan untuk disumbangkan. Hal seperti ini kok ya tidak peka. Kenapa kalau koleksi buku itu tabu sekali untuk dijual? Kenapa koleksi buku harus selalu disumbangkan?

 

Saya pun membalas komentar tersebut dengan panjang kali lebar kali tinggi alias meluas ke mana-mana. Orang seperti ini memang harus selalu digertak biar tidak tuman. Sebenarnya ini berlaku untuk semua barang, bukan terbatas buku saja. Ketika kita melihat teman kita menjual barangnya apapun itu, artinya dia butuh uang. Kalau kita tidak mau membeli atau menyebarkan, cukup dengan tidak berkata sesuatu yang menyinggung perasaannya. Selama jualannya sopan dan tidak mengganggu kita, ya sudah biarkan mereka berjualan.

 

Saya sendiri malas kalau diceramahi tentang sumbang menyumbang. Kalau hanya donasi buku ya sering. Tidak semua saya publikasikan karena saya tipenya mudah riya, sombong, dan takut membuat orang lain minder ha-ha-ha. Soalnya buku yang saya sumbangkan tidak pernah jelek. Buku bagus semua baik isi maupun kemasan. Banyak yang anyar gres masih segelan. Kalau bekas pun buku bekas yang bagus. Saya mendonasikannya sesuai kebutuhan target donasi. Menyortir itu juga butuh waktu.

 

Tidak hanya donasi dalam jumlah besar, kadang saya hanya ingin seru-seruan membuat giveaway buku untuk teman-teman di media sosial. Tentu saja buku-buku bagus yang saya bagi-bagikan. Saya itu pada dasarnya nyah-nyoh orangnya alias gampang memberi, tapi kalau dengan orang yang njalukan atau minta-minta, saya malah malas. Apalagi tidak terlalu kenal dan tidak dengan cara yang sopan.

 

Dulu awal-awal menerbitkan buku juga begitu. Saya masih menemui orang-orang yang minta buku gratisan. Iki karepe piye sih wong saya bikin buku butuh modal kok malah diminta-minta. Kalau memang mengaku teman ya malah seharusnya didukung dong dengan membeli bukunya. Kecuali memang kita sendiri yang diberi hadiah, itu lain cerita. Sesungguhnya kata "selamat" dari teman yang sesungguhnya itu adalah dengan membeli bukunya, bukan hanya dengan kata-kata. Haha.

 

Tapi jangan salah paham, ini bukan berarti saya memaksa orang harus suka dan membeli buku saya, bukan itu. Saya juga tidak membeli semua buku orang yang saya kenal, tapi setidaknya kita tahu diri, jangan meminta buku gratis atau memaksa orang untuk mendonasikan bukunya dengan tidak sopan.

 

Buku koleksi saya itu harta saya. Saya kumpulkan dari dulu. Ada yang belinya setelah menabung dan puasa, ada yang diberi orang sebagai kenang-kenangan. Saya orangnya sentimentil dan suka sesuatu yang berbau kenangan bersejarah. Kalau saya ingin mengurangi buku saya, pasti saya kurangi. Dan kalau ada yang mau saya jual, ya memang itu mau saya jual, bukan untuk disumbangkan.

 

Saya sering diceramahi karena katanya tidak menerapkan metode minimalis Marie Kondo. Tapi orang yang menceramahi itu tidak sadar bahwa pikiran mereka yang sebenarnya tidak minimalis. Terbukti dari cerewetnya mengatur barang orang lain. Mungkin secara fisik mereka tidak sumpek karena tidak kebanyakan barang, tapi komentarnya membuat orang lain sumpek saking "minimalisnya".

 

Sumber :  https://news.detik.com/kolom/d-5700841/jangan-mengatur-barang-orang-lain

 

Senin, 23 Agustus 2021

 

Bahkan Gading pun Bisa Retak

Impian Nopitasari ;  Penulis, Tinggal di Solo

DETIKNEWS, 22 Agustus 2021

 

 

                                                           

Aktivitas pagi saya setelah beres-beres dan membuat teh untuk orang rumah adalah berbelanja. Nah, di tempat tukang sayur ini saya memang tidak ikut ngerumpi apalagi sejak pandemi melanda. Tapi waktu yang singkat itu selalu saya gunakan sebaik-baiknya untuk mencari informasi. Ya, menguping gosip ibu-ibu adalah nama tengah saya.

 

Kemarin saya mendengar obrolan ibu-ibu yang menceritakan bahwa ada teman sekolah anaknya yang meninggal dunia. Sebenarnya sejak covid mengganas, berita duka sudah seperti rutinitas meski tetap menyakitkan. Sebab meninggal teman sekolah anak ibu itu tidak kalah nggrantes, yaitu dihajar bapaknya karena tidak memperoleh nilai sempurna. Anak itu mendapat nilai 98. Iya, 98. Dan 98 memang belum mencapai 100. Tapi kenapa sampai memukul anak sampai meninggal?

 

Saya paling sedih dan ingin marah semarah-marahnya kalau ada orangtua yang selalu menuntut kesempurnaan terhadap anaknya. Saya bisa paham ketika masa sekolah daring itu memang melelahkan dan membuat stres baik anak maupun orangtua. Saya bisa paham ketika orangtua ngomel-ngomel karena kesusahan mengajari anaknya apalagi orangtua yang bekerja di luar rumah. Sampai rumah capek, masih harus mengajari anak. Tapi sampai batas anak yang penting paham sudah cukup kan? Maksud saya, itu hal normal dan wajar.

 

Menurut hasil menguping saya, dalam kondisi normal, bapak yang mengajar anaknya tersebut memang tidak pernah menoleransi kegagalan anaknya. Segalanya harus sempurna. Lha dikiranya lagunya Andra and The Backbone apa?

 

Saya jadi ingat anime yang pernah saya tonton. Di situ ada adegan orangtua yang tidak menoleransi kegagalan. Di salah satu anime favorit saya yang berjudul Kuroko No Basuke ada tokoh yang namanya Akashi Seijuro, kapten tim basket Kiseki No Sedai (Generasi Keajaiban) SMP Teiko. Akashi Seijuro berasal dari keluarga kaya dan terpandang bak keluarga raja-raja.

 

Dia dituntut bisa menguasai semua hal. Akademik harus bagus (semua nilainya memang selalu 100), bermain musik harus jago (ada scene ketika Akashi bermain biola), ketika bermain basket dia juga harus selalu menang. Bahkan ketika masih kelas 2 SMP, dia sudah menggantikan Nijimura sebagai kapten tim. Ketika lulus dari SMP Teiko dan masuk SMA Rakuzan, dia langsung mendapat nomor punggung 4 di tim basket barunya, artinya dia langsung menjadi kapten. Padahal dia masih anak baru.

 

Semua orang harus menurut padanya. Kata-kata yang terkenal darinya adalah "My order is absolute!" Dia tidak pernah tertawa dan punya dua kepribadian yang membuat orang takut kepadanya.

 

Ada lagi tokoh bernama Maria Inomata di anime Gakuen Babysitter. Inomata adalah siswi unggulan yang kerjanya belajar terus. Dia selalu mendapat ranking satu paralel. Teman-teman sekolahnya tidak ada yang mau berteman dengannya karena takut. Ada scene ketika dia menangis karena dibilang jutek dan seram sampai menakuti dan membuat menangis bayi-bayi di penitipan anak.

 

Saya masih ingat kata-katanya ketika menangis, "Ya mana aku paham ginian, kerjaanku cuma belajar. Terlalu banyak belajar membuatku kesepian!" Jadi sebenarnya Inomata ini ingin juga berteman dengan yang lain tapi tidak tahu caranya. Sejak kecil dia selalu dituntut belajar dan belajar oleh orangtuanya. Dia tidak paham bagaimana caranya beinteraksi dengan orang lain. Jatuhnya dia menjadi judes dan menyeramkan.

 

Di dunia nyata saya juga punya teman seperti itu. Ketika nilanya tidak sempurna, sudah pasti besok dia memakai jaket terus sepanjang hari untuk menutupi kulitnya yang biru-biru bekas pukulan oleh bapaknya. Dia iri ketika saya cerita bahwa ketika SMA, saya pernah mendapat nilai -25 (iya, minus, lebih parah dari 0) untuk nilai matematika. Ya, bagaimana wong dulu memang kadang ada kuis yang kalau salah dikurangi nilainya. Lha saya kan sungguh nggak mudheng mapel eksak, apalagi kalau gurunya tidak jelas menerangkannya. Ya sudah pasrah saja. Saya masih tertawa-tawa karena ada teman yang lebih parah dari saya, nilainya -35.

 

Bagi teman saya, itu lucu sekali. Kok bisa banding-bandingan nilai jelek, tapi masih bahagia saja; itu kalau dia pasti sudah milih bunuh diri. Teman saya mengatakannya dengan serius tentu saja.

 

Jujur saja saya memang tidak pernah disuruh belajar oleh orangtua saya. Saya memang tipenya tidak mau disuruh-suruh. Karena sejak SD sampai SMP saya selalu mendapat ranking satu. Sebenarnya yang mendongkrak adalah nilai-nilai non eksak seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jawa (saya memang suka belajar bahasa dan membaca fiksi), sejarah, pendidikan agama (karena ada bahasa Arab dan shirah nabawiyah).

 

Untuk matematika dan fisika, selama gurunya cocok saya bisa mengikuti, tapi ketika tidak, sudah dipastikan zonk. Sampai sekarang ketika mimpi buruk, sering sekali yang muncul adalah saya yang menangis di depan kelas karena tidak bisa mengerjakan soal matematika dan dimarahi guru.

 

Saya memang bukan tipe yang kompetitif. Belajar ya karena sudah sewajarnya tugas pelajar seperti itu. Tidak pernah ada target harus lebih baik dari si A dan si B. Kalau mereka lebih baik dari saya ya saya bodo amat. Ketika dewasa juga begitu. Memang saya pernah juara satu lomba menulis dua kali dan beberapa juara lomba menulis lainnya, tapi itu karena ada stok tulisan yang cocok saja jadi ikut kirim. Kalau tidak ada stok dan sedang tidak mood ya tidak bakalan ikut meski hadiahnya banyak.

 

Saya ditolak masuk PTN dan CPNS yang entah berapa kali itu ya sudah. Melamar kerja juga selalu ditolak. Ketika ada teman yang ketrima ya tidak iri, tapi juga tidak ikut bahagia juga sih. Haha. Biasa aja. Flat banget ya. Memang parah jiwa kompetitif saya yang zero ini. Tapi sebenarnya sifat tidak kompetitif saya ini jangan ditiru. Kompetitif kalau wajar bagus kok. Bisa menambah semangat hidup.

 

Seperti dalam anime Shokugeki No Soma, Yukihira Soma itu kompetitif sekali sampai berkali-kali membuat takjub teman, guru dan saingannya di Akademi Kuliner Totsuki. Tapi ada kalanya dia gagal atau tidak menjadi yang terbaik seperti ketika bertanding melawan ayahnya dan seorang seniornya. Meski rivalnya, Nakiri Erina, mengatakan bahwa memaklumi kegagalan adalah alasan yang dibuat-buat para pecundang, Yukihira Soma bisa menjadikan kegagalan sebagai sesuatu yang kreatif dan solutif. Gagal satu dua kali itu biasa, kalau berkali-kali ya nasib.

 

Kembali lagi ke kasus orangtua yang menghajar anaknya tadi, entah apa yang dipikirkannya sampai menuntut anak seperti itu. Kasus seperti itu tidak hanya satu atau dua kali, ketika anak menjadi mesin ambisi orangtua. Kalau saya lebih baik childfree saja daripada tidak bisa menjadi orangtua yang baik. Saya sudah pernah membahas tentang childfree di kolom saya jadi tidak saya bahas lagi, intinya adalah tanggung jawab.

 

Gita Savitri bagus dengan alasannya untuk childfree, Zaskia Mecca juga bagus dengan parenting 5 anaknya, Zaskia Sungkar juga berhak bahagia dengan kehadiran anak yang sudah ditunggu lama. Yang penting adalah tanggung jawab atas pilihan mereka, tidak menjadi orangtua yang toksik.

 

Kalau memang harus "memaksa" anak, untuk saya pribadi, bukan dia harus sempurna di segala bidang. Tidak harus menjadi orang yang luar biasa. Jadi orang yang bener, pener, dan tidak jahat sama orang lain saja sudah cukup. Menjadi biasa saja itu tidak apa-apa. Paling untuk skill tambahan, yang penting dia mau membaca buku dan menabung pertemanan yang baik. Menabung pertemanan ini bukan ikut geng atau sirkel-sirkel tertentu biar terlihat keren, tapi berinteraksi yang baik. Tidak harus banyak-banyakan teman tapi lebih ke kualitas pertemanan.

 

Menjadi pintar itu bagus, tapi bukan segalanya. Punya teman-teman yang suportif akan membantu kita dalam kondisi yang tidak kita duga. Saya banyak mendapat rezeki dari lantaran pertemanan, bisa menyusun buku yang bagus dan laku banyak juga lantaran pertemanan, jika sedih juga dihibur teman.

 

Akashi Seijuro yang selalu memerintah rekan setimnya karena dia merasa sempurna di segala hal, giliran dia yang berbuat kesalahan, tidak ada rekan setimnya yang menghibur karena dia juga tidak pernah menghibur atau memuji temannya. Tidak bisa membayangkan betapa hampa dan menyedihkan hidup seperti itu. Gading gajah saja retak kok, apalagi hati manusia. ●

 

Sumber :  https://news.detik.com/kolom/d-5691549/bahkan-gading-pun-bisa-retak

 

 

 

Rabu, 18 Agustus 2021

 

Belajar untuk Tidak Mudah Menghakimi Orang Lain

Impian Nopitasari ;  Penulis, tinggal di Solo

DETIKNEWS, 15 Agustus 2021

 

 

                                                           

Saya tidak sengaja menemukan akun teman saya yang lama lost contact di Twitter. Kami dipertemukan di sebuah posting-an tentang kucing. Saya meyakinkan diri untuk mengiriminya pesan. Kami pun heboh karena berhasil terhubung kembali setelah sekian tahun kehilangan kontak.

 

"Piye kabare mamahmu?" tanya saya.

 

"Masih ngurus warga terdampak covid sekaligus marah-marahin warga yang nggak segera masang bendera dan umbul-umbul. Biasalah, asisten Bu RT," jawaban teman saya melegakan karena berarti ibunya sehat.

 

Saya langsung tanya kabar ibu teman saya ini memang bukan hanya basa-basi belaka. Sosok ibunya memang masih melekat dalam ingatan saya. Dulu pertama kali diajak ke rumahnya, saya sudah diperingatkan untuk tidak kaget. Saya mengerti kenapa teman saya berpesan seperti itu setelah saya bertemu langsung dengan ibunya.

 

Ibu teman saya yang dipanggil mamah ini adalah seorang waria atau transpuan. Saya malah jadi ingat film yang saya tonton ketika SMP dulu yang berjudul Realita, Cinta dan Rock n Roll. Di situ ada tokoh yang ayahnya menjadi waria. Jadi sebenarnya saya juga tidak kaget. Tapi saya paham kenapa teman saya berhati-hati. Sudah berkali-kali dia diejek "anak banci" oleh teman-temannya.

 

Teman saya ini cerita hidupnya sinetron banget, tapi herannya dia bisa mengisahkan dengan biasa saja. Cenderung santai malah. Ketika dulu pada masa kecil kita sering ditakut-takuti bahwa kita sebenarnya anak pungut yang dibuang di tempat sampah, teman saya justru mengalaminya. Dia ditemukan oleh ibunya di tempat sampah ketika masih berwujud bayi merah. Ibunya ini yang merawatnya dari bayi sampai dia sudah mandiri seperti sekarang. Saya tidak kaget karena ibunya seorang waria; saya malah kaget karena dia menceritakan kisah hidupnya yang tragis itu dengan tertawa-tawa.

 

Ibu teman saya ini membantu di rumah Bu RT yang punya usaha katering. Beruntung warga sekitar menerimanya dengan baik. Kata Bu RT, yang penting berbuat baik pada warga sekitar, warga sini juga akan baik. Sesederhana itu. Ibu teman saya dikenal ulet dalam bekerja dan yang paling saya ingat adalah dia gigih belajar mengaji. Memang belajar ketika sudah berumur itu lebih sulit, tapi lebih baik terlambat daripada tidak, katanya. Masih saya ingat ketika dia mengeja huruf hijaiyyah di buku Iqra dengan terbata-bata tapi tetap semangat.

 

"Dulu saya tidak mendapat pelajaran agama yang cukup, Nak. Makanya (menyebut nama teman saya) tak-suruh ngaji yang bener, supaya bisa gentian ngajari mamahnya. Saya kan tidak yakin ada guru ngaji yang mau ngajari saya," begitu ceritanya pada saya.

 

Menjadi waria, baginya, bukan maunya. Sudah digariskan seperti itu, tapi dia tetap hambanya Gusti Allah yang wajib "sowan" kepada-Nya.

 

Bulan puasa kemarin saya berkesempatan hadir dalam salah satu kajian di Ponpes Kaliopak, Yogya. Setelah selesai mengikuti kajian, teman saya memberi satu buku karya Mbak Masthuriyah Sa'dan berujudul Santri Waria: Kisah Kehidupan Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta. Walau berwujud laporan tentang kehidupan santri waria, saya bisa membacanya sampai tuntas karena bahasanya mengalir, tidak kaku. Buku ini seperti melengkapi dua buku yang saya baca sebelumnya tentang waria yaitu Waria, Bahasa, dan Dunia Malam karya Stanislaus Yangni dan sebuah novel karya A. Mustafa berjudul Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman.

 

Ketika saya membaca buku Waria, Bahasa, dan Dunia Malam, sebenarnya saya hanya ingin mencari informasi tentang bahasa binan yang digunakan teman-teman waria. Tapi ternyata saya malah mendapat banyak informasi tentang kehidupan mereka yang sungguh keras dan tidak mudah. Waria selalu diidentikkan dengan kehidupan malam dan prostitusi seperti yang digambarkan dalam novel Anak Gembala yang tertidur Panjang di Akhir Zaman. Yang saya perhatikan, tokoh utama, Rara Wilis si ratu waria ini pada akhirnya kembali ke jalan Tuhan walau dengan cara yang sulit dan berdarah-darah. Pergulatan batin tokoh ini bisa saya rasakan ketika membaca buku Santri Waria dan obrolan dengan ibu teman saya. Saya merasakan bahwa novel itu tidak sekadar cerita fiksi, tapi penggambaran sisi lain waria di dunia nyata.

 

Ibu teman saya itu seperti orang-orang yang diceritakan di buku Santri Waria. Seseorang yang ingin dekat dengan Tuhannya, tapi terhalang oleh kondisi. Saya salut dengan perjuangan almarhumah Ibu Maryani, Ibu Shinta Ratri, Bunda Rully Malay, dan lain-lain ketika mendirikan dan menghidupi ponpes waria dengan segala keterbatasan. Dari mereka saya melihat sisi lain waria yang tidak melulu berkaitan dengan kehidupan malam. Mereka juga manusia, punya kebutuhan spiritual yang harus dipenuhi.

 

Tentunya hal tersebut lebih sulit mereka lakukan karena stereotip miring dari kebanyakan masyarakat. Kegiatan pesantren yang seharusnya bukan kegiatan maksiat saja bisa dipersekusi oleh kelompok lain yang mengatasnamakan agama. Ibu teman saya memilih belajar mengaji dari anaknya sekadarnya karena malu jika belajar ke guru ngaji langsung. Waktu itu pernah dia ingin belajar privat, tapi guru ngaji tersebut dilarang keluarganya karena malu jika nanti dikatakan ustaz kok ngajar banci. Saya mengapresiasi pengajar-pengajar di ponpes waria yang masih mau mengajar teman-teman waria di sana.

 

Sebelum dikomentari panjang tentang ini saya bilang dulu, saya bukan sok-sokan membela kaum LGBTQ biar dikira keren. Tidak. Saya hanya teringat ibu teman saya yang memungutnya ketika bayi dari tempat sampah. Dia adalah manusia, sama dengan kita yang punya kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, termasuk kebutuhan spiritual. Kita tidak bisa menyangkal kalau kaum waria itu ada di sekitar kita. Di lingkungan masa kecil saya saja hal itu sudah biasa. Saya hanya ingin menghargai mereka dengan cara yang sederhana, misal dengan memanggil dengan panggilan yang mereka inginkan dan tidak memanggil dengan nama mati (dead name) mereka.

 

Di lingkungan saya saat ini pun masih menganggap waria yang memakai jilbab dan mengaji adalah sesuatu yang aneh. Tapi bagi saya waria muslim itu biasa. Ya, memang tidak menampik kalau ingin membantu mereka, tidak semudah ketika menggalang donasi umum. Saya punya teman-teman yang hobinya berdonasi. Tiap bulan pasti tanya mana saja yang butuh donasi. Tapi ketika saya ingin menyumbang sesuatu untuk ponpes waria, saya hanya membuka kepada teman-teman dekat yang sepaham saja.

 

Saya pernah dikomentari soal busana yang teman-teman waria kenakan. "Masa sih laki-laki pakai jilbab? Apa kita tidak ikut berdosa jika malah mendukung mereka?"

 

Saya tidak mikir soal dosa mereka. Jika mereka ingin difasilitasi untuk mengaji, ya sudah biarkan saja mereka mengaji. Yang penting tidak maksiat sudah cukup. Soal ibadah mereka diterima Tuhan atau tidak, tentu saja itu bukan ranah saya. Biarkan menjadi urusan Tuhan. Mereka juga umatnya Kanjeng Nabi. Soal sisi gelap dan dosa-dosa mereka, ya memangnya kita tidak punya sisi gelap dan dosa? Siapalah kita kok mudah menghakimi orang lain yang kita anggap berbeda.

 

Sumber :  https://news.detik.com/kolom/d-5682679/belajar-untuk-tidak-mudah-menghakimi-orang-lain

 

 

Senin, 09 Agustus 2021

 

Ada Saat Memberi, Ada Saat Menerima

Impian Nopitasari ;  Penulis, tinggal di Solo

DETIKNEWS, 8 Agustus 2021

 

 

                                                           

Kemarin teman saya pamer kalau dia bisa memotong rambutnya sendiri. Virus Covid-19 varian delta yang masih meneror membuatnya paranoid untuk pergi ke salon. Seperti biasa dia meminta pendapat saya tentang potongan rambutnya itu. "Gimana menurutmu?"

 

"Bagus kok, cuma kok rasanya aku familier ya sama potongan rambut itu. Sebentar aku ingat-ingat," kata saya menanggapinya. Saya pun akhirnya mengingat-ngingat sebenarnya mirip siapa sih potongan rambut teman saya ini.

 

"Oh, ya aku ingat. Sorry ya, tapi kok model rambutmu itu mirip (saya menyebutkan seorang influencer yang sedang ramai "dirujak" netizen) hahaha,"

 

"Oh, iya ya. Asem tenan! Hih." Dia misuh-misuh, tapi akhirnya kami tertawa bersamaan.

 

Jangan salah paham, kami tidak sedang "potongan rambut shaming". Teman saya sejak dulu memang sebal dengan mbak-mbak influencer itu. Potongan rambut teman saya itu memang mirip dengan influencer yang sedang ramai dihujat netizen. Alasannya, dia menulis tweet yang mengabarkan bahwa dia ulang tahun, disertai unggahan foto selfie dan kode QRIS yang terhubung ke rekeningnya. Kode tersebut dia unggah agar orang yang mau mengado dirinya bisa lebih mudah, yaitu mentransfer sejumlah uang.

 

Tentu saja kelakuannya yang dianggap "mengemis online" itu membuat kaum julid-ers berkumpul. Apalagi ternyata diketahui kalau dia bermasalah karena tidak segera mengembalikan uang pesanan tote bag yang setahun belum dibuat. Jadilah para korban berkumpul. Mereka menuntut uang mereka dikembalikan karena efek dari posting-an influencer tersebut pastilah banyak yang mentransfer.

 

Meski ketika saya lihat banyak juga yang iseng dengan mentransfer sejumlah uang dengan nominal yang menggelikan, atau sekadar mengedit bukti transfer untuk lucu-lucuan. Tentu saja saya paham kegemasan mereka kepada orang yang suka meminta-minta padahal bukan untuk kebutuhan yang darurat.

 

Jujur, sebenarnya saya sendiri juga pernah membuat posting-an semacam itu ketika ulang tahun. Tapi tentu saja hanya bercanda. Tidak berani lah saya mengunggah kode QRIS terang-terangan. Bisa-bisa bukan transferan dari teman-teman, tapi malah transferan dari pinjaman online. Lak ya remuk, Jum.

 

Belum selesai saya menyimak kegaduhan mbak influencer, saya dibuat penasaran lagi dengan kegaduhan berikutnya. Kegaduhan itu bernama tren ikoy-ikoy-an. Saya lihat beberapa tweet membicarakan tentang beberapa selebgram yang kesal dengan tren ini. Saya sampai googling apa itu ikoy-ikoy dan menemukan jawabannya. Jadi ikoy-ikoy sebuah kegiatan berbagi yang tengah ngetren di Instagram. Intinya para pesohor seperti selebgram atau selebritis berbagi dalam bentuk apapun kepada para pengikutnya yang dipilih secara acak. Kata ikoy sendiri berasal dari nama salah satu staf selebgram Arief Muhammad yang mempopulerkan tren ini.

 

Jadi teknisnya ini adalah kegiatan berbagi atau giveaway dari selebgram kepada follower-nya. Follower terserah ingin minta barang apa yang sedang dibagikan. Mereka bisa mengirim pesan pribadi kepada selebgram yang mengadakan ikoy-ikoy. Yang membuat selebgram lain kesal adalah jadi banyak follower yang memaksa selebgram lain untuk mengadakan kegiatan serupa. Nah, hal tersebut menjadi sorotan karena jadinya malah seperti mengemis.

 

Saya sendiri juga sering mengadakan giveaway, tapi ya untuk seru-seruan saja. Yang ikut juga yang tertarik barangnya dan tentu saja mereka tidak merasa mengemis. Saya tidak maido kalau banyak orang yang kesal dengan orang yang suka meminta-minta sesuatu untuk hal yang kurang penting atau bukan untuk kebutuhan primer. Tidak juga darurat atau kepepet. Tapi apakah menerima pemberian selalu berkonotasi negatif? Belum tentu.

 

Saya paham, ada orang yang tipenya tidak mau menerima pemberian orang lain. Tidak ingin merepotkan orang lain. Tapi dalam kondisi tertentu, tidak bisa selamanya begitu. Saya punya cerita, ada teman yang sedang mengalami kasus terinfeksi kembali (reinfected) Covid. Dia banyak cerita di grup WhatsApp tentang kondisinya yang tentu saja membutuhkan bantuan. Sambat begini-begitu. Saya dan beberapa teman ingin memberinya bantuan sesuai yang dibutuhkan.

 

Tentu saja kami minta alamatnya melalui pesan pribadi. Tapi ternyata kami tidak diberi alamatnya. Bahkan pesan saya diabaikan, tapi di grup dia masih ngoceh terus. Seorang teman yang pesannya dibalas mengadu kepada saya, katanya si teman tadi gengsi menerima pemberian.

 

Saya pun semakin kesal. Terus saya harus bagaimana? Jadi serba salah. Kalau dia butuhnya hanya cerita dan mencari dukungan moral saja, tapi kok ceritanya mengatakan kalau memang butuh bantuan. Dalam kasus seperti ini mbok ya dibuang dulu egonya. Tidak usah pekewuh. Sudah saatnya menerima bantuan. Bukankah itu kondisi darurat? Mau pilih gengsi atau mati?

 

Saya kesal ketika kami yang memang sedang khawatir dan peduli sekali malah ditolak ketika ingin membantu. Kami jadi suuzon bantuan yang ingin kami berikan diterjemahkan sebagai urusan uang belaka. Tentu saja hal tersebut membuat kami tersinggung dan bisa jadi malas untuk peduli lagi.

 

Kalau kita mampu, ada, dan tulus untuk memberi sesuatu yang dibutuhkan itu ya mbok diterima. Selama itu bukan pemberian yang bermasalah seperti suap, gratifikasi, atau dari seseorang yang membuat kita trauma dan diberikan dengan cara yang baik ya diterima saja. Bisa jadi itu sebenarnya jawaban doa kita.

 

Orang yang membantu sebenarnya adalah wasilah atau perpanjangan tangan dari Tuhan. Kita sedang butuh pertolongan kan? Lha ya tidak mungkin kan tiba-tiba ada uang, sembako atau vitamin yang jatuh dari langit? Seharusnya masa-masa seperti ini bisa jadi ajang belajar untuk menerima.

 

Saya ketika isoman sangat terbantu sekali karena bantuan teman-teman. Karena saya sadar saya sedang tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Dari yang mengirimi kebutuhan sehari-hari sampai mentransfer uang. Mungkin uang saya masih cukup, tapi itu bukan perkara saya hanya mau uangnya. Selain itu juga melegakan hati orang yang memberi karena bisa menyalurkan kasih sayang dan kepedulian mereka.

 

Kita tidak menjadi hina karena meminta pertolongan ketika memang kita butuh ditolong. Memang, bagi mereka yang terlalu biasa mandiri, meminta pertolongan adalah sesuatu yang berat. Saya dulu juga begitu. Apa-apa harus saya kerjakan sendiri. Bahkan banyak teman yang menganggap saya terlalu mandiri. Saya paling tidak suka merepotkan orang lain. Selama bisa saya kerjakan sendiri, ya akan saya kerjakan sendiri.

 

Saya juga suka sekali memberi dan sungkan untuk menerima pemberian. Pekewuh. Tapi lama-lama saya sadar, saya harus menurunkan ego saya. Ada saatnya saya minta tolong, dan itu tidak apa-apa. Ada saatnya saya menerima pemberian, menerima bantuan, dan itu wajar.

 

Dalam kondisi biasa, saya dan teman-teman suka berkirim hadiah. Tidak menganggapnya sebagai utang yang harus segera dilunasi saat itu juga. Diterima saja, nanti giliran kita longgar, kita yang gentian mengirimi.

 

Teman saya pernah cerita, ketika Hari Raya Lebaran dia ingin memberi angpau kepada anak temannya, tapi langsung ditolak. Bahkan orangtua si anak ketika mengucap, "Nggak usah, nggak usah," seperti bernada marah. Tentu saja teman saya tersinggung karena merasa mereka tidak punya konflik. Apalagi setelah itu temannya itu menulis story WhatsApp bahwa tidak ingin mengajari anaknya untuk mengemis.

 

Saya pribadi tidak menganggap angpau itu seperti sarana anak untuk mengemis. Tidak sampai saya mikir jauh seperti itu. Perayaan seperti itu juga setahun sekali. Paling tidak diterima saja, jika tidak berkenan, nanti bisa diberikan ke yang lain. Yang penting melegakan yang memberi.

 

Sampai sekarang saya masih saja merenung, apa saya yang lebay? Bukankah selama ini saya selalu memastikan bahwa saya memberi sesuai kebutuhan agar tidak mubazir, saya memberi kepada orang yang jelas mau menerima pemberian saya karena memang butuh. Apa saya hanya kecewa karena pemberian saya ditolak?

 

Ya, memang sih ditolak itu pastinya kecewa. Sebelumnya juga begitu, ada teman yang mengirimi buku, tidak mau dibayar, giliran saya mau mengirimi tidak mau. Malah diarahkan untuk mengirim ke tempat lain. Kenapa dia tidak menerima saja sih pemberian saya? Terserah setelah itu mau diapakan. Kalau buku itu memang harus disumbangkan, saya sudah ada pos tersendiri sebenarnya. Rasanya kalau ditolak langsung kok menyebalkan.

 

Kalau dia alasannya tidak butuh, lha saya kan bisa bilang kalau saya juga tidak butuh. Padahal kalau dia memberi, orang lain harus menerima. Giliran orang mau memberi, kok dia tidak mau menerima. Kan tidak adil. Semua idealnya seimbang. Maunya menerima pemberian terus ya njelehi, tidak pernah memberi padahal mampu. Sebaliknya, maunya memberi saja juga menyebalkan, tidak memberi ruang kepada orang lain untuk bergantian memberi. Kita ini manusia, tidak bisa hidup sendiri. Saling-saling lah. ●

 

Senin, 02 Agustus 2021

 

Bahagia Secukupnya, Sedih Seperlunya, "Sambat" Sewajarnya

Impian Nopitasari ;  Penulis, tinggal di Solo

DETIKNEWS, 1 Agustus 2021

 

 

                                                           

Entah perasaan saya sendiri atau bukan, tapi saya merasa waktu seminggu ini kok cepat sekali. Ketika bangun tidur dan saya menyadari bahwa sudah sampai hari Jumat lagi, refleks saya mengirim pesan ke teman saya. "Kok wis Jumat maneh ya?"

 

Tentu saja itu bukan informasi dan teman saya pun langsung tanggap. "Pasti karena belum ada ide nulis. Sambat rutin tiap akhir pekan. Apal aku."

 

Sekian detik saya terdiam sampai kemudian, "Eureka!" saya berteriak dalam hati. Ya, kenapa tidak itu saja yang ditulis? Jenius sekali teman saya itu.

 

Saya pun langsung membuka Twitter, media sobat sambat untuk menambah ide. Ketika sedang berselancar di jagad Twitter, saya menemukan tweet teman saya yang menjadi obrolan panjang setelahnya. Begini bunyi tweet-nya: "Orang dewasa nggak boleh kebanyakan sambat katanya. Sambat itu bagian dari doa jelek katanya. Mohon maaf, gue areknya susah dibilangin kalau sebatas anekdotal."

 

Saya pun membalas tweet tersebut, "Loh kalau nggak sambat malah bukan manusia. Semua itu secukupnya. Terlalu ber-positive thinking itu tidak baik,"

 

Teman saya membalas lagi, "Begitulah semesta toxic positivity bahu-membahu mengerdilkan nyali kita yang sok ciut, sok bakoh, sok remuk."

 

Teman saya jengkel dengan toxic positivity. Lagi remuk disuruh bersyukur, lagi capek disuruh semangat. Kita harus begini, kita harus begitu. Emang "kudu" ini siapa kok wajib di-gugu? Saya setuju dengan teman saya. Terlalu berpikiran positif itu justru membuat kita denial dengan hal negatif, menumpulkan kepekaan kita terhadap bahaya.

 

Saya ingat status Facebook teman saya yang menjadi buruh migran di Hong Kong. Dia bercerita kalau majikannya kalau sedang bernegosiasi itu mbulet dan penuh muslihat. Teman saya punya prinsip untuk tidak selalu berpikiran positif, justru pikiran negatif harus digunakan dalam situasi seperti ini agar peka terhadap bahaya. Kalau tidak digunakan malah insting itu bisa tumpul. Tidak bisa menumpahkan emosi, merasa baik-baik saja, tidak peka kondisi, akhirnya bisa menjadi bebal.

 

Saya punya cerita lain. Pernah saya dicurhati teman yang sering di-KDRT suaminya. Saking seringnya sampai saya paham di mana lebam-lebam di tubuhnya. Sebenarnya menurut saya dia sudah wajib cerai dari suaminya. Apalagi keluarganya juga mendukung. Tapi ketika kami memberi tanggapan seperti itu, jawabnya selalu sama. "Aku masih ber-positive thinking kalau dia bakal berubah."

 

Saya kok tidak yakin suaminya bakalan berubah. Yang ada badan istrinya sudah jadi samsak tiap hari. Red flag sekali, tapi malah dia malah jadi matador. Tentu saja berpikiran positif yang seperti itu kurang tepat menurut saya.

 

Belum lama ini saya menyelesaikan membaca buku Agnosthesia karya Maria Frani Ayu. Di buku ini dijelaskan tentang bagaimana mengenali emosi. Salah satunya tentang berpikiran positif. Dia mengutip ilustrasi dari David Robson, seorang wartawan BBC, tentang bahayanya terlalu berpikiran positif. Gambarannya seperti kita mau menyeberang sungai dan di belakang kita ada yang menyoraki memberi semangat. Tapi kita abai dengan aliran sungai yang keras. Seberapa pun kita melawannya, tidak akan bisa. Kalau kita nekat ya bahaya yang akan menimpa. Bisa terseret arus atau tenggelam.

 

Memang betul kita berpikiran positif, tapi realitas jangan diabaikan. Maria Frani Ayu menambahkan, berpikir kelewat positif membentuk harapan palsu yang jauh dari keadaan sesungguhnya. Jadi seberat apapun beban hidup kita, jangan disangkal. Ya memang berat, tapi toh itu kenyataannya. Sepahit apapun kenyataan akan menjadi lebih pahit kalau ditutupi dengan harapan palsu.

 

Ini seperti kondisi sekarang dalam konteks pandemi. Memang kita boleh berpikiran positif agar imun naik. Boleh saja mengurangi membaca atau menonton berita yang mengerikan, tapi kita tidak bisa abai sekali terhadap kenyataan kalau memang kondisi di negara kita sedang koleps. Kita tidak bisa menyangkal kalau kondisi kita sedang tidak baik-baik saja. Kondisi sesak napas itu butuh oksigen, bukan hati yang dipaksa bahagia. Berpikiran positif bukan kok kongkow-kongkow dengan dalih menaikkan imun. Yang ada malah menaikkan kasus karena banyak yang positif.

 

Kita berada di masa banyak orang sambat. Ya sudah, biarkan saja mereka mengekspresikan perasaannya. Jangan buru-buru dihakimi kalau orang sambat ini adalah orang yang kurang bersyukur. Lha dikiranya sebelum sambat itu pastinya sudah ada hati yang remuk, ambyar, kalang kabut tak menentu. Kita mana tahu? Namanya manusia wajar dong ketika ada masa-masa buntu. Di Twitter saja sampai ada akun plesetan dari buku dan film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini menjadi "Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini." Tidak hanya akun, bahkan sudah ada bukunya juga. Terbukti sebenarnya banyak orang yang butuh wadah untuk mengekspresikan rasa sambat.

 

Meski juga ada yang menyindir, "Orang yang kuat itu bukannya sambat, tapi misuh." Halah coba tidak bisa kentut, paling juga sambat. Kalaupun misuh, itu sebenarnya juga bentuk sambat. Dan soal jadi orang yang kuat, tidak selamanya kita harus kuat. Ada masa-masanya kita harus mengakui kalau memang sedang tidak kuat.

 

Kawan saya pernah menulis di status Facebook-nya bahwa rasa bersyukur itu sudah otomatis seotomatis napas kita. Tidak perlu berkelimpahan dulu baru bersyukur. Tidak perlu diberkati dulu baru bersyukur. Tidak perlu membandingkan taraf hidup untuk bersyukur. Tidak perlu membandingkan masalah hidup dulu baru bersyukur.

 

Banyak alasan untuk bersyukur. Untuk saya pribadi, bangun tidur saja sudah otomatis berdoa alhamdulilahiladzi ahyana ba'dana amatana wailaihin nusyur alias masih bisa bangun sudah bersyukur. Nanti salat, bisa sujud, bersyukur. Bahkan kadang tidak perlu alasan untuk bersyukur. Tapi hanya beberapa alasan untuk sambat. Jadi ya tidak apa-apa jika diekspresikan daripada jadi penyakit.

 

Soal mau mengekspresikannya bagaimana, tergantung masing-masing orang, yang penting tetap diekspresikan kalau menurut saya. Saya ini dengan teman-teman di media sosial menganggap wajar kalau mereka kadang sambat, sedih, marah, dan tertawa. Ya berarti mereka benar-benar manusia. Kalau memang tidak suka mengumbar kesambatan secara umum (karena tidak semua teman di media sosial akan menanggapi sesuai mau kita, salah-salah malah kita jadi tambah tertekan), tetaplah punya teman sambat. Kalau memang belum bisa cocok dengan manusia, bicara dengan tumbuhan atau benda mati juga tidak apa-apa. Jangan dipendam sendiri.

 

Kalau saya sendiri punya akun alter di Twitter yang isinya hanya buat nyampah dan marah-marah saja. Tidak butuh follow dan di-follow, hanya sebagai tempat menumpahkan unek-unek. Kadang kalau sambatnya masih aman untuk dibaca secara umum, saya tulis di akun asli. Tentu saja tidak berlebihan. Tidak setiap hari. Ya apapun yang berlebihan memang tidak baik kan?

 

Saya ini memang golongan orang yang kurang cocok memberi motivasi. Saya tidak bisa memaksa orang untuk semangat terus menerus seperti semangat pagi para motivator. Optimis boleh tapi tidak usah berekspektasi berlebihan. Ketika banyak teman yang curhat tidak konsen menyimak materi dari dosen, tidak konsen presentasi atau bekerja karena kondisi memang sedang suram, saya tidak pernah menyalahkannya.

 

Saya sendiri tidak memaksa diri harus berkarya dan harus produktif di masa-masa sekarang. Yang penting adalah bertahan hidup dulu. Bahagia secukupnya, sedih seperlunya. Dan tentu saja, sambat sewajarnya.