Tampilkan postingan dengan label Islam Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Nusantara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Januari 2018

Islam Nusantara

Islam Nusantara
Komaruddin Hidayat ;  Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                 KORAN SINDO, 05 Januari 2018



                                                           
Peringatan malam Tahun Baru di Indonesia mungkin paling unik karena tidak ditemukan di negara lain. Apa itu? Di berbagai masjid diadakan zikir dan ceramah keagamaan Islam.

Pada hal peralihan tahun baru Masehi itu merupakan tradisi Barat yang Kristiani, masih menjadi bagian dari perayaan Natal atau milad Yesus. Tentu oleh umat Islam diyakini milad Nabi Isa, meskipun menyangkut tanggal menjadi perdebatan di kalangan sejarawan dan hal ini jugadisadariolehkalangangereja.

Tetapi bagi mereka yang penting adalah pemaknaan iman, bukan lagi perdebatan kalender. Lalu, apa alasan umat Islam ikut merayakanTahun Baru, namun diisi dengan zikir dan ceramah agama, padahal tahun baru Masehi merupakan tradisi Kristiani? Ada sekelompok ulama yang menganggap bidah menyelenggarakan peringatan tahun baru itu.

Jangankan pergantian tahun Masehi, milad atau maulud Nabi Muhammad saja tidak disetujui sebagian ulama itu, dengan alasan Rasulullah tidak pernah memperingati hari kelahirannya. Makanya, mereka ini juga menganggap bidah terhadap pe rayaan tahun kelahiran atau ulang tahun, ditambah lagi dengan meniup lilin.

Biasanya mereka menyebut sebuah hadis, “Siapa yang meniru-niru peri laku satu kaum (kafir) maka akan masuk pada golongan mereka.” Tetapi, ada juga yang me lihatnya dari sisi budaya dan pendidikan. Pada malam Tahun Baru, daripada diisi hura-hura yang tidak bermutu, bahkan cenderung mendekatkan pada tin dak an maksiat, bukankah lebih baik diisi zikir dan peng ajian di masjid? Adapun pergantian tahun itu adalah produk sejarah.

Produk budaya. Semasa Nabi Isa ataupun Yesus hidup juga tak dikenal nyanyian gereja dan perayaan Tahun Baru seperti seka rang ini. Itu semua adalah ijtihad budaya, bukan soal keimanan. Jadi, selama dari sisi akidah dan iman tidak mengganggu, perayaan tahun baru Masehi tidak apa-apa. Bahkan yang namanya tahun baru Hijriah ketika masa hidup Rasulullah Muhammad juga belum dikenal.

Nabi Muhammad sendiri dikenal hari kelahirannya dengan dikaitkan dengan kedatangan tentara gajah di bawah Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Kakbah. Kreasi atau bidah budaya keagamaan itu adalah khas kekayaan Islam Nusantara.

Tentu saja di berbagai dunia Islam lain juga terjadi bidah budaya. Tetapi mungkin Indonesia pa ling kaya ragamnya, meng ingat masyarakat Nusantara ini sangat ma je muk, plural, dan sangat kental diwarnai oleh tradisi Hindu-Budha sebelum Islam datang.

Misalnya saja, di daerah pesisir utara Jawa Tengah umat Islam sudah terbiasa menyembelih kerbau sebagai hewan kurban, bukannya sapi. Dipilih kerbau agar tidak melukai perasaan umat Hindu yang memuliakan sapi. Ini suatu sikap toleran yang sangat bijak, tanpa menghilangkan esensi dan fungsi kurban.

Misalnya lagi, pemaknaan baru terhadap tumpengan yang semula sebagai sesajen. Diubah maknanya sebagai rasa syukur kepada Allah, makan an nya lalu dimakan ramai-ramai dan bangunan gunungan tum peng serta makanan di kaki gunung an diberi makna baru.

Orang yang beriman, yang tertuju ke pada Allah, hendaknya senan tiasa bersyukur dan senang ber bagi kepada orang-orang di sekitar. Maka nya, di kaki gunungan tum peng itu terdapat berbagai ragam makanan untuk di nik mati ramai-ramai.

Perilaku orang beriman itu senantiasa melimpah, tidak mengancam orang-orang di sekitarnya, me lainkan membawa rahmat dan damai. Dakwah seperti itulah yang dulu disampaikan Wali Sanga sehingga dalam sejarah Islam, masuknya Islam ke Nusantara ini berlangsung damai, bukan dengan penak luk an senjata.

Jadi, ajaran dasar Islam itu sama. Isi rukun Islam dan rukun Iman itu sama. Tetapi penafsir an dan kontekstualisasi dalam ranah sosial dan budaya bisa berbeda-beda. Sejarah juga mencatat perkembangan sains dalam Islam pernah berkembang pesat ketika Islam berbaur dan tertantang oleh budaya baru di luar tanah kelahirannya, Mekkah dan Madinah.

Ilmu fikih, filsafat, dan tasawuf pun begitu juga halnya. Dalam hal budaya dan sains, inovasi dan kreasi atau bidah itu justru suatu kebutuhan. Tentang ekspresi keislaman Nusantara ini bisa dikembangkan lagi secara panjang lebar. ●

Senin, 10 Agustus 2015

Memahami Islam Nusantara

Memahami Islam Nusantara

Husein Ja'far Al Hadar  ;   Penulis
                                                 KORAN TEMPO, 06 Agustus 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Islam Nusantara yang sebenarnya secara praktis telah ada sejak Islam awal di Indonesia, kian harus muncul ke permukaan sebagai sebuah konsep untuk merespons besar dan kuatnya ancaman terhadap Islam di Indonesia, berupa kecenderungan keberislaman yang jumud (terbelakang) dan takfir (gemar mengkafirkan yang berbeda). Namun, di samping itu, ini juga peluang bagi Islam Nusantara untuk menjadi kiblat bagi Islam dunia yang tengah dirundung krisis ekstremisme, dengan tawaran keberislaman yang moderat, toleran, dan sadar kebudayaan. Itulah peran yang kian ingin dipegang oleh Nahdlatul Ulama (NU) dengan menjadikan Muktamar NU ke-33 pada 1 Agustus ini sebagai titik tolaknya.

Konseptualisasi Islam Nusantara itu harus berhadapan dengan tantangan besar. Sebab, pengonsepan secara rigid bisa justru menjebaknya dalam kekakuan, yang itu artinya paradoks dengan karakter dasarnya yang dinamis. Bahkan, ia adalah sebuah "proses" (becoming) yang tak pernah usai seiring dengan pergerakan ruang dan waktu yang melingkupinya dalam ke-Nusantara-annya. Atau bisa jadi upaya konseptualisasi itu mereduksinya, bahkan menjebaknya menjadi semacam mazhab atau golongan yang sebenarnya serta bertentangan dengan karakternya, yang justru menaungi seluruh wajah dalam Islam di Indonesia.

Terkait dengan hal itu, ada kesalahpahaman yang patut diluruskan karena rentan membuat Islam Nusantara seolah-seolah tercerabut dari nilai-nilai dasar Islam dan hanya mementingkan identitas kebudayaannya.

Pertama, kesalahpahaman yang menilai keberadaan Islam Nusantara berarti menyalahi prinsip "Islam yang satu". Padahal, sejatinya Islam Nusantara adalah Islam yang satu itu sendiri, sebagaimana Islam di Arab yang dibawa Nabi. Hanya, ketika ia dibawa ke Indonesia, budaya Arab yang melingkupinya digantikan dengan budaya Indonesia yang akan menjadi konteks barunya di sini.

Hal itu dilakukan tentu bukan karena kita anti-Arab, melainkan agar Islam bisa sesuai dengan konteks Indonesia, sebagaimana Nabi menyesuaikan Islam dengan budaya Arab saat pertama kali turun dulu. Nabi memberikan kita gandum dan kita olah menjadi roti agar sesuai dengan cita rasa Indonesia.

Islam Nusantara bahkan bukan hanya berangkat dari kesatuan, tapi juga bervisi persatuan. Ia hendak menegaskan bahwa Islam yang satu berarti persatuan (ukhuwah) di bawah bendera Islam dengan merangkul seluruh perbedaan pandangan, tafsiran, dan mazhab yang ada di dalam Islam itu sendiri.

Kedua, kesalahpahaman bahwa Islam Nusantara keluar dari konsep Islam yang murni sebagaimana diajarkan dan dipraktekkan Nabi. Tentu, jika yang dimaksud Islam murni sebagaimana kesalahpahaman itu, Islam murni merupakan sebuah gagasan yang bukan hanya utopis, tapi juga salah kaprah. Pasalnya, hal itu bertentangan dengan sunnatullah dan prinsip dasar Islam yang bisa ditemui dalam QS Al Hujurat: 13.

Islam Nusantara sejatinya menjaga prinsip Islam murni yang berasaskan pada Quran dan hadis. Ia menjadi fondasi dan substansi Islam Nusantara. Adapun kreasi atau ijtihad dilakukan pada tataran yang memang dibolehkan-bahkan diwajibkan-untuk itu, yakni pada tatanan syariat ijtihadiyyat atau syariat yang sejatinya dinamis dan memang seharusnya dikontekstualisasi dengan ruang dan zaman untuk menjunjung prinsip rahmatan lil 'alamin.

Minggu, 02 Agustus 2015

Meneguhkan Islam Nusantara

Meneguhkan Islam Nusantara

Zuhairi Misrawi ;  Intelektual Muda Nahdlatul Ulama; Ketua Moderate Muslim Society
                                                       KOMPAS, 01 Agustus 2015      

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Muktamar Nahdlatul Ulama yang akan digelar 1-5 Agustus di Jombang, Jawa Timur, mengangkat tema "Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia". Tema ini diangkat dalam rangka meneguhkan posisi NU sebagai ormas Islam yang menjunjung tinggi moderasi dan toleransi dalam rangka memperkukuh solidaritas keindonesiaan dan kemanusiaan universal.

Tema ini jadi sangat penting karena dua hal. Pertama, konteks global. Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) jadi momok global yang makin menakutkan. Di tengah protes keras dunia terhadap NIIS, mereka tidak menyusutkan aksi brutalnya. Bulan Ramadhan yang hakikatnya suci dan mulia justru digunakan NIIS untuk menebarkan teror di Kuwait, Tunisia, dan Mesir.

Bahkan, saat takbir Idul Fitri berkumandang sebagai simbol kemenangan dan kebahagiaan, NIIS justru terus melancarkan aksi untuk membunuh warga sipil di Irak. Hari suci nan bahagia disulap oleh NIIS menjadi hari kelabu nan nestapa dengan membunuh sesama Muslim yang merayakan kebahagiaan Idul Fitri.

Konteks global ini harus jadi keprihatinan bersama karena Islam sebagai agama rahmatan lil alamin telah dicemarkan sedemikian rupa oleh NIIS, dan kelompok ekstrem lain, dengan menampilkan wajah Islam yang beringas dan menyeramkan. Mereka menganggap hanya paham dan kelompok mereka yang paling benar, sedangkan paham dan kelompok lain dianggap sesat dan kafir sekalipun sesama Muslim. Kelompok ini kemudian dikenal dengan al-takfiriyyun.

Kedua, konteks nasional. Harus diakui konteks global tersebut juga menjalar ke ruang republik. Secara ideologis dan teologis, paradigma "Negara Islam" bukanlah hal yang baru dalam perjalanan sejarah republik. Mereka yang mengamini ideologi tersebut sudah tumbuh benih-benihnya sejak lama dan terus berkembang meskipun secara sembunyi-sembunyi.

Dalam era internet yang kian memudahkan seseorang dan kelompok menyebarluaskan ideologi "Negara Islam", sudah hampir dipastikan ideologi ini akan terus membahana di jagat republik ini. Faktanya, mereka relatif berhasil memasarkan ideologi "Negara Islam" sehingga mampu merekrut para remaja yang belum mempunyai pemahaman keislaman yang kokoh, sebagaimana layaknya kalangan pesantren.
                   
Kedua konteks tersebut cukup menjadi alasan kuat bagi NU agar mencari terobosan untuk menegaskan identitas keislaman yang dapat memberikan harapan bagi Indonesia dan dunia.

Islam Arab

Tak bisa dimungkiri Islam agama yang lahir di Arab dan kitab sucinya berbahasa Arab. Bahkan, kitab klasik yang diajarkan di pesantren umumnya berbahasa Arab. Di dalam tradisi NU, salah satu ukuran untuk disebut sebagai ulama adalah apabila ia menguasai bahasa Arab dengan baik.

Namun, bukan berarti kita harus menelan mentah-mentah seluruh wacana yang bersumber dari Arab, khususnya wacana kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Ibarat lautan yang sangat luas, Arab juga menyimpan sejarah dan realitas kekinian yang kelam.

Menurut Marwan Muasher dalam The Second Arab Awakening and the Battle for Pluralism, kegagalan dunia Arab dalam melakukan perubahan lebih disebabkan oleh menguatnya anasir-anasir ekstremisme dan melemahnya anasir-anasir pluralisme. Hal inilah yang menyebabkan dunia Arab mengalami kesulitan untuk bangkit dari keterpurukan dan perpecahan yang menyejarah itu.

Kelompok-kelompok yang menghalalkan kekerasan dan pembunuhan atas nama Tuhan  di dunia Islam bukan hanya isapan jempol. Keberadaan kelompok-kelompok tersebut pada hakikatnya bertujuan memecah belah umat Islam.

Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan kita dalam hadisnya, "Nanti akan muncul di antara umatku kaum yang membaca Al Quran, bacaan kamu tidak ada nilainya dibandingkan bacaan mereka, dan shalat kamu tidak ada nilainya dibandingkan shalat mereka, dan puasa kamu tidak ada artinya dibandingkan puasa mereka, mereka membaca Al Quran sehingga kamu akan menyangka bahwasanya Al Quran itu milik mereka saja, padahal sebenarnya Al Quran akan melaknat mereka. Tidaklah shalat mereka melalui kerongkongan mereka, mereka itu akan memecah agama Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya" (HR Sahih Muslim/2467, Sunan Abu Daud/4748).

Perihal kelompok Khawarij yang selalu mengampanyekan kedaulatan Tuhan (hakimiyatullah), Imam Ali bin Abi Thalib memberikan pernyataan menarik. Bahwa sebenarnya kampanye kedaulatan Tuhan yang kerap dikampanyekan mereka pada hakikatnya bertujuan untuk kebatilan. Sebab, paham mereka terbukti telah menumpahkan darah dan perpecahan di tengah-tengah umat.

Terobosan

Apa yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad dan Imam Ali bin Abi Thalib tersebut seakan menemukan momentum dalam konteks keindonesiaan dan global pada masa-masa mutakhir ini.  Perlu terobosan untuk merekonstruksi keberislaman yang mencerminkan identitas Islam sebagai agama yang ramah bagi seluruh penghuni dunia (rahmatan lil alamin).

Islam Nusantara yang dijadikan tema muktamar NU kali ini pada hakikatnya salah satu ijtihad para ulama agar Islam dapat dipahami dan diamalkan untuk kemaslahatan bangsa dan dunia. Sebab, ekspresi keberislaman yang datang dari dunia Arab mutakhir-khususnya Al Qaeda dan NIIS-sangat meresahkan.

Islam yang berkembang di negeri ini sudah teruji mampu membangun kebersamaan sebagai bangsa, bahkan terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan. Bahkan, di tengah perkembangan wacana modern, seperti demokrasi, pluralisme, jender, dan hak asasi manusia, kelompok Muslim mampu beradaptasi dengan baik. Kalangan NU sendiri mampu mentransformasikan wacana modern tersebut dengan terma-terma pesantren. Demokrasi menjadi fiqh al-syura, pluralisme menjadi fiqh al-'addudiyyah, jender menjadi fiqh al-nisa,  dan hak asasi manusia menjadi fiqh huquq al-insan.

Diskursus Islam Nusantara kian kokoh melalui sebuah kaidah yang sangat populer di kalangan pesantren, "mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru/kemodernan yang lebih baik" (al-muhafadhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah).

Maka dari itu, Islam Nusantara bukanlah sesuatu yang baru dalam khazanah keislaman republik ini, melainkan khazanah yang sudah berlangsung lama. Ijtihad para ulama ini dimunculkan kembali untuk meneguhkan identitas kita sebagai umat Islam yang hidup di negeri ini dan peran yang harus dilakukan untuk menjaga kedamaian, merawat kebinekaan, dan mewujudkan keadilan sosial.

Puncaknya, para ulama NU berharap agar wajah Islam yang ramah dan toleran di negeri ini dapat jadi sumber inspirasi bagi dunia Islam yang sedang dirundung petaka akibat proliferasi ideologi NIIS. Para ulama NU menyerukan kepada dunia Islam di mana pun, saatnya kaum Muslim di dunia Arab dan Barat berkiblat ke Indonesia untuk menjadikan Islam sebagai jalan kedamaian dan kerahmatan.

Dengan demikian, Islam Nusantara bertujuan untuk mengingatkan kembali pentingnya moderasi dan toleransi dalam Islam. Namun, pada saat yang sama Islam Nusantara harus mampu mewarnai dunia sehingga Islam tidak selalu diidentikkan kekerasan dan terorisme. Semoga muktamar NU kali ini dapat melahirkan pemikiran yang genuine untuk proliferasi Islam Nusantara di negeri ini dan dunia.

Senin, 29 Juni 2015

Islam Nusantara II

Islam Nusantara II

  Sarlito Wirawan Sarwono ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO, 28 Juni 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Semasa SMA saya paling payah dalam ilmu kimia. Meski begitu saya masih ingat bahwa O2 disebut oksigen atau zat asam. Tapi kalau sudah ditambah dengan hidrogen (zat air) menjadi H2O, namanya sudah berubah menjadi air dan kalau ditambah lagi dengan sulfur menjadi H2S04, namanya berubah lagi menjadi asam sulfat walaupun dalam kedua senyawa itu masih ada unsur oksigen. Hakikat dari suatu zat akan langsung hilang begitu dicampur dengan unsur lain. Jadi kalau oksigen ya oksigenlah. Tidak ada oksigen Arab, oksigen Pakistan, atau oksigen Nusantara.

Tapi itu dalam ilmu kimia, satu cabang dari ilmu fisika. Coba sekarang kita beralih ke luar ilmu kimia. Kita semua tahu “kursi”, kan? Kursi di mana-mana juga kursi, yaitu suatu benda yang dibuat manusia untuk dijadikan tempat duduk. Mau di Mekkah atau di Cibinong, yang namanya kursi ya kursi. Tapi coba sekarang tambahkan unsur lain, misalnya “kayu”, kursi kita menjadi kursi kayu, ada sifat kayunya tetapi masih tetap kursi, kan?

Atau boleh kita tambah lagi dengan “hijau”, menjadi “kursi kayu hijau”, tetapi sifat kekursiannya masih melekat. Atau boleh ditambah terus sehingga menjadi misalnya “kursi kayu hijau saya di sudut kamar tidur mama”. Banyak sekali tambahan unsurnya, tetapi tetap tidak kehilangan sifat kekursiannya. Itulah yang ada dalam ilmu metafisika atau filsafat.

Filsafat adalah ilmu tentang berpikir. Dalam berpikir, manusia menggunakan ide yang diwujudkan dalam kata atau istilah. Ada ide-ide yang bersifat universal (berlaku di mana saja, kapan saja, di seluruh dunia), ada yang bersifat partikular (khusus, bagian dari universal), bahkan ada yang singular (individual). “Kursi”, misalnya, adalah ide universal, sedangkan “kursi hijau” adalah ide partikular (khusus kursi yang berwarna hijau, tidak termasuk yang warna lain), sedangkan “kursi hijau saya” adalah ide singular, hanya ada satusatunya, yaitu kursi hijau yang itu, yangadadikamarmama. Tapi khususnya dalam ilmu kimia tidak ada universal, partikular, singular, karena hal-hal yang lebih khusus (partikular) itu senantiasa identik dengan yang umum (universal). Begitu juga dalam matematika, angka “2” berarti dua, kapansaja, dimanasaja, apakah dia umum maupun khusus. Ketika ditambah dengan angka lain, hakikatnya langsung berubah, misalnya 22, 2.000, 2.000.000 (semua berubah hakikat, bukan lagi dua).

Begitu juga dengan ide tentang Islam Nusantara. Beberapa waktu lalu, sebelum puasa, di depan Munas NU diMasjid Istiqlal, Presiden Jokowi meluncurkan istilah baru itu. Maksudnya tentu saja adalah Islam yang dipraktikkan di Indonesia, yang sejuk, damai, inklusif, moderat, dan toleran. Istilah ini langsung jadi kontroversial. Mereka yang tidak setuju melayangkan protes kepada Presiden Jokowi. Argumentasi mereka, Islam ya Islam, tidak perlu ditambah embel-embel, karena rujukannya sudah jelas: Alquran dan hadis. Yang keluar dari itu malah bisa menjadi aliran sesat.

Tapi argumentasi seperti itu salah karena agama bukan tergolong ilmu kimia atau matematika. Dalam ilmu kimia, memang benar tidak ada O2 lain dan dalam matematika tidak ada angka 2 lain, selain yang sudah dimaksud dari sono-nya karena memang tidak ada partikular atau singular yang berbeda dari universalnya.

Namun agama bukan kimia dan juga bukan matematika. Analogi agama (termasuk Islam) yang lebih tepat adalah “kursi” bukan “oksigen”. Islam yang universal memang ada, yaitu hakikat yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad SAW. Tapi ketika Islam itu dipraktikkan oleh manusia biasa, langsung terjadi Islam yang partikular.

Masalahnya, dalam mempraktikkan agama, manusia selalu mengandalkan pikirannya (satu-satunya alat dalam sistem psiko-fisik manusia untuk menganalisis masalah), maka terjadilah penafsiran. Ketika masuk unsur tafsir, masuklah faktor kebiasaan, adat, kesenangan, kepentingan kelompok, kebudayaan, dan 1.001 faktor lain yang memecah-mecah keuniversalan Islam menjadi partikular, bahkan individual atau singular.

Karena itulah ada Islam Sunni, Islam Syiah. Islam mazhab Syafii, Islam mazhab Hambali, Islam Afghanistan, Islam Arab Saudi, dan Islam Nusantara. Di Nusantara ada Islam Minangkabau yang patriarkat, Islam Tapanuli yang beradat persis sama dengan Kristen Batak, Islam Jawa Tengah yang percaya kepada Nyai Loro Kidul, dan bertradisi selamatan seperti orang Hindu, Islam Kudus yang masjidnya bermenara seperti kuil Hindu dan tempat wudunya berornamen arca Hindu, dan masih banyak lagi. Semua itu tidak kehilangan hakikat keislamannya walaupun tidak sama dengan Islam yang di Arab.

Pada suatu waktu di masa lalu, kebetulan saya dan dua orang Indonesia lain pernah salat Idul Fitri di sebuah masjid di Birmingham, Inggris. Masjid itu adalah masjid komunitas Pakistan setempat. Banyak penganan dijajakan (namanya juga Lebaran), tetapi kami tidak tertarik karena penganan-penganan itu terlalu manis buat lidah kami.

Maka kami pun langsung masuk dan duduk mengambil tempat di dalam masjid dan mendengarkan khotbah dalam bahasa Urdu yang tidak kami pahami.

Untunglah ketika takbir dan salat dimulai, ayat Alfatihah yang dibacakan akrab di telinga kami sehingga kami pun merasa khusuk seperti di rumah sendiri, sampai tibalah saatnya di pengujung surat Alfatihah imam membaca ... “waladhdhoollin”..., maka dengan semangat 45 kami bertiga yang berislam Nusantara segera menyahut keras-keras beramai-ramai ... “amiiinnn“.

Tapi ternyata hanya kami bertiga yang mengamini secara penuh semangat. Jamaah yang lain diam saja. Di situlah kami bertiga menyadari bahwa Islam Nusantara ya hanya berlaku di Indonesia dan tentunya Islam yang non-Nusantara tidak bisa dimasukkan ke Indonesia, apalagi dengan cara paksaan dan kekerasan.

Senin, 22 Juni 2015

Islam Nusantara

Islam Nusantara

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO, 21 Juni 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya punya kebiasaan jalan kaki santai setiap pagi di kompleks perumahan tempat tinggal saya dan kampung sekitarnya. Maka, pada hari pertama Ramadan 1436 H (18 Juni 2015) ini, saya pun tetap melakukan kebiasaan saya itu.

Tetapi, berbeda dari biasanya, pada pagi ini warung-warung makan dan pedagang kaki lima (PKL) penjual gorengan semuanya tutup. PKL tukang sayur yang biasanya ada beberapa, cuma tinggal satu. Begitu juga orang-orang yang biasa berolahraga pagi bersama saya (ada yang jogging, bersepeda, ada yang mengajak anjingnya, ada yang mengajak dua anjingnya, ada yang mengajak istrinya, bahkan ada yang mengajak dua istrinya... jangan ketawa, ini serius, loh), tiba-tiba sebagian besar menghilang.

Digantikan oleh beberapa kelompok anak-anak yang sepertinya libur sekolah dan memilih untuk tidak tidur lagi sesudah sahur, melainkan berjalan- jalan bersama temanteman. Tampak ada perubahan drastis antara hari biasa dan hari Ramadan. Seperti di Arab Saudi yang pernah saya dengar. Di Saudi selama bulan puasa orang membalikkan hari. Siang jadi malam (orang tidur saja karena dipercaya tidur pun berpahala selama Ramadan) dan malam jadi siang (kantor-kantor, perdagangan, jual-beli dilaksanakan pada malam hari).

Tetapi, yang terjadi di lingkungan rumah saya bukan Arabisasi. Warung makan dan PKL tutup karena captive market-nya hilang (tidak ada yang beli), bukan karena larangan menutup tempat makan selama Ramadan. Bapak-bapak pada umumnya melanjutkan tidur dulu sesudah sahur agar nanti fresh untuk ke kantor.

Setelah lelah berjalan kaki, seperti biasa saya duduk di depan TV sambil mengobrol dengan istri saya. Kebetulan tayangan infotainment pagi itu adalah tentang artis bernama LCB yang membuka butik baju muslimah. Artis ini belum setahun berjilbab, setelah sebelumnya dia berpacaran dengan pria non-Indonesia dan nonmuslim pula, tetapi dalam tayangan infotainment pagi itu ia mendemonstrasikan cara memakai jilbab (atau sering disebut juga ”hijab”) cantik dengan menggunakan sedikit saja jarum pentol.

Ini pekerjaan yang menakjubkan karena pengalaman saya dengan anak saya, dia selalu mau pinjam jarum pentol dari ibunya, setiap kali mau memasang jilbabnya (kalau pas sedang menginap di rumah kami) dan selalu dijawab istri saya, ”Enggak ada”, padahal ada (indahnya tidak berbagi... daripada kehabisan sendiri...).

Tetapi, jujur saja pada 1980- an, makin maraknya perempuan berhijab ketika itu pernah saya cemaskan sebagai ancaman Arabisasi. Usaha perlawanan dari pemerintah lumayan keras misalnya dengan melarang siswi- siswi sekolah-sekolah negeri untuk berhijab di sekolah-sekolah negeri. Kekhawatiran saya dan saya kira pemerintah juga adalah terancamnya budaya Indonesia, termasuk merosotnya harkat wanita Indonesia, yang turun menjadi seperti wanita-wanita di Arab Saudi, yang tidak punya hak suara atau hak pilih, tidak boleh mengemudi kendaraan,

dan harus memakai gamish serbahitam dan bercadar walaupun di dalamnya dia memakai tank top atau bahkan hanya berbikini (wanita Arab berdandan hanya untuk pamer kepada sesama wanita atau suami). Memang sejak 30 tahunan yang lalu itu, sampai sekarang, makin marak perempuan Indonesia berjilbab. Tetapi, jilbab di Indonesia masih memungkinkan kita melihat kecantikan wanita Indonesia.

Wajah tidak ditutup cadar dan full make up (termasuk bulu mata palsu) masih dapat kita saksikan. Selain itu, hijab pun bisa dimodel-modelkan, dengan teknik pemakaian ataupun pemilihan warna-warninya agar sesuai dengan busana, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya. Kalau belum puas melihat di TV, bisa masuk ke butik busana muslim dan di sana semuanya ada dan serbacantik.

Wanita-wanita Indonesia pemakai hijab pun tidak sertamerta terdegradasi harkatnya. Anak saya (yang suka pinjam jarum pentol itu) masih associate director di tempat kerjanya dan masih berenang dengan baju renang khusus muslimah yang menutup aurat dari ujung ke ujung. Bahkan sekarang Polwan, yang sudah diizinkan berjilbab, bisa mengatur lalu lintas dengan full jilbab. Alhamdullilah, naluri budaya lokal masih kuat dan melawan dengan cerdik tekanan Arabisasi dalam tradisi berbusana.

Beberapa hari yang lalu, dalam rangka Munas NU di Masjid Istiqlal, Jakarta, Presiden Jokowi melontarkan istilah ”Islam Nusantara”. Maksudnya adalah Islam di Indonesia punya model sendiri yang tidak usah meniruniru Arab. Islam Nusantara adalah Islam yang dipraktikkan di Indonesia yang bersifat toleran, moderat, damai, inklusif, dan membaur dengan budaya lokal.

Istilah ini langsung menimbulkan protes. Alasannya adalah di Alquran tidak ada kata Islam Nusantara. Islam Nusantara juga tidak diperlukan karena Islam ya Islam, tidak perlu dikasih embel-embel apa pun, karena Islam itu universal. Pertanyaannya sekarang, adakah Islam universal itu? Walaupun agama datang dari langit, dari Allah, tetapi ketika dipraktikkan oleh manusia di bumi, mau atau tidak mesti berangkulan dengan budaya.

Karena itulah, di Sumatera Barat ada Islam yang matriakhal, di Jawa ada Islam yang percaya pada Nyai Loro Kidul, menara Masjid Kudus berbentuk seperti pura Hindu, pancuran tempat umat berwudu berornamen kepala arca (dan tidak satu pun umat yang kemudian memuja arca itu), dan lainnya. Tetapi, Islam Nusantara memang tidak bisa dipaksakan di Afghanistan atau Pakistan atau Arab Saudi sendiri. Tetapi juga tidak bisa Islamnya Arab dipaksakan di Indonesia.

Indonesia mengenal Islam melalui jalur damai dengan gaya dakwah Wali Songo, padahal universalisasi atau Arabisasi Islam selalu dengan kekerasan (sweeping, teror, dan sebagainya). Karena itulah, Islam Nusantara (termasuk mengaji dengan langgam Jawa) secara refleks menolak universalisasi Islam melalui caranya artis LCB mempromosikan teknik berhijab-minimum jarum pentol.

Senin, 25 Mei 2015

Islam Nusantara

Islam Nusantara

Heri Priyatmoko  ;  Alumnus Pascasarjana Sejarah, FIB, UGM
KORAN TEMPO, 22 Mei 2015


                                                                                                                                                           
                                                
Sengketa wacana soal pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa di Istana Negara belum kunjung selesai. Pemerintah dituduh melakukan liberalisasi agama Islam. Menteri Agama gesit menangkisnya. Tujuan kegiatan ini adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di telatah Indonesia. Kalau didapatkan qari (pelantun Al-Quran) yang lihai membaca dengan langgam Melayu, Bugis, Medan, atau dengan langgam apa pun, itu merupakan ciri Nusantara.

Indonesia bukanlah bumi Arab yang sanggup mengadopsi dan menerima segala unsur budaya padang pasir. Megaproyek pengislaman berjalan puluhan abad menggunakan strategi canggih-meminjam istilah pemikir Islam terkemuka Abdul Munir Mulkhan-dakwah kultural. Sederet wali, komunitas ulama, dan para raja membumikan ajaran Islam memakai pendekatan kultural supaya masyarakat tidak berontak dan menampik.

Bentangkan arsip sejarah lokal, terbabar upaya islamisasi yang berjalan mulus dan sukses dikerjakan oleh penguasa tradisional. Kita mulai dari istana Kasunanan sebagai pewaris wangsa Mataram Islam yang tertua. Gagasan cerdas Paku Buwana X memakai bahasa Jawa untuk komunikasi dalam acara khotbah di Masjid Agung menuai sanjung-puji.

Selain itu, Paku Buwana IV bekerja sama dengan para ulama menyusupkan petuah ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran dan hadis ke dalam serat piwulang seperti Serat Wulangreh dan Wulang Putri. Raja bersama ulama hendak menjembarkan pengetahuan para kawula soal Islam-Jawa lewat karya sastra.

Hal serupa dikerjakan oleh petinggi Keraton Kasultanan Yogyakarta. Banyak karya sastra mengutip sejarah dan ajaran Nabi Muhammad yang digarap dalam bentuk tembang macapat. Sebut saja Babad Muhammad, Serat Cariyos Nabi, atau Serat Wulang Mingsiling. Karangan ini mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad dan para pengikutnya. Di almari istana, tersimpan Serat Mikrajan berbentuk prosa dengan sisipan syair. Dengan melahap karya ini, masyarakat meresapi kisah Isra' Mi'raj Nabi Muhammad naik burak.

Barisan pengkritik pembacaan Al-Quran berlanggam Jawa penting untuk diberi tahu fakta berharga yang termuat dalam buku Kraton Jogja (2008) ini. Istana mengoleksi Serat Piwulang Agami berhuruf Jawa dan Serat Ambiya berhuruf Arab Pegon yang sama-sama mengajarkan Islam melalui macapat. Fakta ini menunjukkan, koleksi sastra keraton kental dipengaruhi ajaran Islam. Pengaruh Islam terjalin harmonis dalam bentuk riwayat, biografi, roman, dan lainnya. Ambillah contoh, Roman Amir Hamzah yang disadur menjadi Serat Menak diterima luas oleh rakyat Jawa. Bahkan, sampai memunculkan jenis wayang baru, yaitu wayang gedok. Kala Sultan Hamengku Buwono IX naik takhta pada 1940, keraton tengah didera kesulitan. Sebagai penghibur suasana galau, raja mendorong para pujangga menyusun teks-teks yang lebih banyak menyajikan nuansa Islam dalam wayang menak.

Demikianlah, gambaran pergumulan antara unsur Jawa dan Islam. Yang pasti, potret Islam Nusantara tak akan meninggalkan budaya lokal sebagai unsur asli dan lebih tua, demi mewujudkan sebuah harmoni. Tampaknya, berkaca dari polemik tersebut dan suburnya kelompok garis keras, cara berdakwah kultural mau tak mau kudu diwacanakan tanpa henti oleh Menteri Agama dan MUI. Kita rindu harmoni dan ketenteraman.

Minggu, 26 April 2015

Membumikan Islam Nusantara

Membumikan Islam Nusantara

M Hasan Mutawakkil Alallah  ;   Ketua Tanfidziyah PW NU Jawa Timur
JAWA POS, 24 April 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

DERITA rakyat di kawasan Timur Tengah yang tak kunjung berakhir akibat perang saudara menjadi keprihatinan umat Islam di seluruh dunia. Tragedi kemanusiaan di wilayah tumbuh dan berkembangnya muasal Islam tersebut memicu pertanyaan penting: Di manakah nilai ukhuwah watoniyah, islamiyah, dan basyariyah yang telah diteladankan oleh Rasulullah Muhammad SAW ketika membangun Madinah?

Juga, di manakah aktualisasi Islam sebagai agama rahmatan lil alamin yang mengajarkan cinta kasih dan kedamaian? Realitas yang terjadi di kawasan Timur Tengah itulah yang melatarbelakangi keberadaan Islam Nusantara dipandang sebagai teladan ideal bagi aktualisasi Islam rahmatan lil alamin.

Genealogi Islam Nusantara

Terdapat beberapa asumsi dan teori yang berbeda terkait dengan datangnya Islam di Nusantara, baik mengenai tempat asal kedatangan Islam, para mubalig/pembawa ajaran Islam, dan waktu kedatangannya. Dalam catatan Pijnappel, Snouck Hurgronje, dan Moquette, Islam masuk ke Nusantara dari anak benua India atau tepatnya dari wilayah Gujarat dan Malabar. Mereka tidak menjelaskan waktu kedatangan Islam dari wilayah itu. Hanya, Hurgronje berasumsi bahwa abad ke-12 merupakan periode paling mungkin dari permulaan masuknya Islam di Nusantara.

Pendapat yang berbeda dikemukakan Arnold. Menurut dia, walaupun Islam masuk ke Nusantara dari Coromandel dan Malabar, perlu dipahami bahwa para pedagang Arab dan Timur Tengah umumnya juga membawa misi penyebaran agama Islam ketika mereka dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak awal Hijriah atau abad ke-7 dan ke-8 Masehi (Azra, 1994:26).

Ajaran Islam tersebar secara masif ke Nusantara. Khususnya di kawasan Jawa dan Sumatera, penyebaran itu terjadi setelah masa akhir kekuasaan Kerajaan Majapahit, ketika para mubalig yang di kemudian hari dikenal dengan sebutan Wali Sanga berdakwah dan membagi tugas berdakwah di kawasan yang berbeda sehingga memungkinkan Islam secara cepat tersebar ke berbagai wilayah. Misalnya, Maulana Malik Ibrahim mengislamkan pesisir utara Pulau Jawa dan pernah berusaha mengislamkan raja Majapahit yang bernama Wikramawardhana, yang berkuasa pada 788–833 H/1386–1429 M.

Tetapi, upaya penyebaran Islam oleh Maulana Malik Ibrahim tersebut tidak maksimal hingga kedatangan Raden Rahmatullah, yang diriwayatkan masih memiliki hubungan kekerabatan dari istri raja Majapahit yang berasal dari negeri Campa. Dengan hubungan tersebut, Raden Rahmatullah mendapat fasilitas untuk mengenalkan dan mengajarkan agama Islam. Dia, di antaranya, diberi sebidang tanah di kawasan Ampel Denta untuk kegiatan dakwah sehingga masyhur dengan sebutan Sunan Ampel.

Pada masa yang sama, juga dikenal seorang mubalig yang bernama Syekh Nur Al Din Ibrahim bin Maulana Izra’il yang tinggal di kawasan Cirebon, Jawa Barat. Dia dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Seorang sayid terkenal lain adalah Maulana Ishaq. Dia dikirim oleh sultan Pasai untuk mengislamkan raja Blambangan, Jawa Timur, yang pada akhirnya dikawinkan dengan putri raja Blambangan. Dari perkawinan itu, lahir keturunan yang kemudian dikenal sebagai Raden Ainul Yaqin atau Sunan Giri.

Dari generasi Wali Sanga itu, kemudian berkembang keturunan dan kader cemerlang yang menjadi penerus perjuangan Islam pada abad-abad selanjutnya seperti Syekh Nawawi Banten dan Syekh Mahfud Al Turmusi dari Termas. Dari didikan dua ulama itulah muncul generasi ulama seperti KH Kholil, Bangkalan; KH Hasyim Asyari dari Tebuireng, Jombang; KH Wahab Hasbullah; KH Bisri Samsuri; serta banyak tokoh pesantren yang berkontribusi signifikan untuk tersebarnya Islam di Nusantara. Para ulama tersebut merupakan jejaring intelektual yang meneruskan ajaran Wali Sanga dengan mendirikan pondok pesantren dan melestarikan risalah yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW dalam bingkai ahlussunnah wal jamaah.

Ajaran Islam Nusantara

Islam yang datang ke Nusantara merupakan Islam yang sudah paripurna karena telah mengalami dialog intensif dengan berbagai peradaban besar dunia seperti Turki, India, Tiongkok, Siam, dan lainnya. Akibatnya, ketika sampai di Nusantara, Islam telah tampil dalam kondisi matang. Islam itulah yang diajarkan di pesantren-pesantren di seluruh Nusantara, yang terbingkai dalam ajaran ahlussunnah wal jamaah yang memiliki karakteristik tasamuh (toleransi/fleksibilitas), tawassuth (moderasi), serta tawazun dan i’tidal (menjaga keseimbangan).

Karakteristik tersebut menjadi roh Islam Nusantara. Karena itu, dalam aktualisasinya, Islam Nusantara memunculkan wajah yang ramah, damai, santun, dan menyejukkan. Sebab, misi dan ajarannya dapat selaras dan senapas dengan lingkungan sehingga terjadi akulturasi dengan kultur sosial masyarakat di sekitarnya. Lenturnya ajaran Islam Nusantara dengan lingkungan masyarakat menjadikan Islam Nusantara dinamis dan sumber inspirasi umat karena responsif terhadap segala permasalahan umat, misalnya dalam menyelesaikan kasus aliran-aliran yang dianggap menyimpang dari mainstream.

Islam Nusantara mengedepankan tabayun dan dialog untuk menyelesaikan kasus sebelum penyelesaian ditempuh lewat jalur hukum atau lainnya. Begitu pula dalam menyikapi masalah kebangsaan, Islam Nusantara mengajarkan kecintaan kepada negara secara utuh dengan landasan hubbul wathan minal iman. Acuannya adalah ajaran Rasulullah SAW dan Al Khulafa’ Al Rasyidun dalam berpolitik dan bernegara.

Dengan praktik seperti itu, Islam Nusantara sangat responsif terhadap transformasi sosial dengan memberikan solusi secara persuasif dan moderat dalam upaya terciptanya baldatun thoyyibatun warabbun ghaf?r. Spirit ajaran Islam Nusantara tersebut terlembagakan ke dalam Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan organisasi penerus ajaran dan dakwah Wali Sanga.

Atas dasar itu, suatu keharusan bagi NU senantiasa mengukuhkan Islam Nusantara untuk menjadi sumber inspirasi peradaban dunia. NU layak mendorong diri melalui praktik utama terbaik agar Islam bisa memberikan manfaat besar bagi kebangsaan dan kenegaraan Indonesia serta kemanusiaan dan kesemestaan luas. Apa yang belakangan ini menimpa Timur Tengah harus memberikan kesadaran kepada kita bersama atas pentingnya Islam Nusantara. ●

Sabtu, 11 April 2015

Mendahulukan Cinta Tanah Air

Mendahulukan Cinta Tanah Air

Said Aqil Siradj  ;  Ketua Umum PBNU
KOMPAS, 11 April 2015

                                                                                                                                                            
                                                                                                                                                           

Ribut-ribut soal WNI eksodus ke Suriah untuk bergabung dengan Negara Islam di Irak dan Suriah serta pemblokiran situs-situs radikal tampaknya ada hal yang perlu ditarik tegas. Ketegasan kebijakan dan penegasan cara pandang.

Kita tengah menghadapi orang-orang yang sudah hilang rasa memiliki terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka ini adalah orang-orang yang ”kost” di negeri ini. Bagi mereka, yang penting adalah ”cinta agama” dan buang jauh-jauh ”cinta tanah air”.

Pentingnya tanah air

Ada tiga konsep tentang ukhuwah (persaudaraan), yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan umat manusia). Di sini, saya tekankan pada pentingnya ukhuwah wathaniyah. Ukhuwah wathaniyah ini harus didahulukan ketimbang ukhuwah Islamiyah. Sebab, tanpa negara, bagaimana umat Islam bisa melakukan kegiatan keagamaannya?

Pentingnya tanah air dapat kita lihat dari perjalanan hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Nabi ingin mempunyai tanah air (negara) sehingga dakwah Islam bisa berkembang dengan baik. Ini pula mengapa Al Quran masih menyebut-nyebut tentang kisah Fir’aun serta kisah para nabi lainnya. Sebab, kisah-kisah tersebut menyingkapkan adanya sejarah tentang tanah air atau daerah yang pernah dihuni oleh raja-raja terdahulu dan para nabi dalam menjalankan roda pemerintahan dan misi kenabiannya.

Dalam pepatah Arab dikatakan, ”Barang siapa yang tidak memiliki tanah air, ia tidak memiliki sejarah. Dan, barang siapa yang tidak memiliki sejarah, akan terlupakan. Contoh nyata adalah bangsa Kurdi yang tidak memiliki tanah air sehingga tercerai-berai hidup berdiaspora di Turki, Irak, dan Suriah.

Anehnya, di lingkungan keagamaan muncul pandangan yang memperlawankan antara nasionalisme dan agama. Bahkan, banyak kelompok keagamaan yang menolak nasionalisme dan malah menyebutnya sebagai ”kafir” atau thoghut.

Jangan heran jika di negeri-negeri di mana mayoritasnya umat Islam sering kali terjadi pertumpahan darah. Lihatlah Afganistan, Somalia, Irak, Yaman, atau Suriah. Konflik di negeri-negeri Muslim ini tampak sudah berada di ambang batas kemanusiaan. Apalagi, dengan kemunculan NIIS.

Kejadian di Timur Tengah tersebut menunjukkan, ternyata kesamaan dalam agama belum atau tak mampu menyatukan masyarakatnya. Islam di Timur Tengah ternyata berpotensi menimbulkan konflik akibat salah tafsir yang kebablasan. Somalia atau Afganistan, misalnya, 100 persen rakyatnya memeluk Islam. Namun, yang terjadi perang saudara, saling rebut kekuasaan dan penindasan oleh rezim berkuasa.

Ini berbalik fakta dengan apa yang terjadi di Indonesia. Semenjak dahulu kala, Islam di Nusantara sudah memperlihatkan wajah yang arif dan damai. Pertikaian memang terjadi, tetapi hanya lokal dan regional yang tak menimbulkan tragedi nasional, sepertidi Irak atau Suriah dewasa ini. Dan, konflik-konflik yang pernah terjadi di Nusantara tersebut justru menumbuhkan sikap dewasa dan matang, seperti secara khusus kita lihat dalam perjalanan dakwah keislaman di bumi Nusantara ini.

Para pendakwah Islam sejak dulu tidak serta-merta melakukan ”pembumihangusan” terhadap kearifan-kearifan lokal yang sudah lama berserakan di bumi Nusantara. Artinya, mereka tidak menganggap bahwa ”warisan nasional” yang ada di bumi Nusantara ini perlu dihancurkan lantas diganti secara frontal dengan simbol-simbol keislaman yang literalis. Ini jelas jauh berbeda dengan apa yang dilakukan ISIS, Boko Haram, atau Al-Shabab saat menguasai suatu daerah, lalu melakukan penghancuran terhadap warisan-warisan sejarah yang ada, bahkan kuburan pun jadi sasaran penghancuran.

Dari perjalanan pendakwah Islam di bumi Nusantara ini membuktikan tidak adanya pertentangan antara nasionalisme dan ajaran Islam. Mereka menyadari betul bahwa untuk bisa berdakwah, dibutuhkan tanah air yang kondusif.

Para ulama Nusantara dikenal sebagai cendekiawan berwawasan luas, penulis yang kreatif dan produktif, serta terlibat dalam berbagai aspek kehidupan sosial, politik, budaya, dan spiritualitas. Mereka adalah agen-agen perubahan. Contohnya Hamzah Fansuri, Bukhari Al-Jauha, Syamsudin Al-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdul Rauf Al-Singkili. Mereka tiadk hanya telah meletakkan fondasi dakwah yang moderat, tetapi juga mampu memberi bukti nyata bagi perjalanan historiografi dakwah Islam di Nusantara yang menampakkan wajah Islam yang jauh dari sikap dan tindakan radikal.

Hasilnya, bisa kita lihat hingga sekarang. Misalnya, nama-nama pesantren yang justru dikenal karena nama desa atau daerahnya, seperti Pesantren Tebuireng, Pesantren Krapyak, Pesantren Termas, Pesantren Langitan, Pesantren Buntet, Pesantren Suralaya, dan Pesantren Cipasung. Ini jelas berbeda dengan munculnya pesantren-pesantren dadakan yang dibangun oleh kelompok-kelompok radikal-puritan yang menonjolkan nama kearaban. Bahkan, sama sekali tidak menghiraukan nama desa atau daerahnya karena anggapan yang terpenting buat mereka adalah nama-nama yang dipandang ”Islami”. Daerah tempat berpijak tidaklah penting. Yang terlihat di kalangan kelompok radikal seperti ini adalah penonjolan ukhuwan Islamiyah semata dan meniadakan ukhuwan wathaniyah.

Jelaslah, Islam di Indonesia tidak punya akar radikal. Munculnya radikalisme dan terorisme merupakan hasil adopsi kultur keagamaan yang datang dari luar. Katakanlah, Islam yang radikal lebih merupakan ”produk impor”, layaknya sebuah produk yang diimpor dari luar negeri dan kemudian dijajakan di dalam negeri. Arus komunikasi global dewasa ini yang memungkinkan orang begitu mudahnya menyerap paham-paham luaran menjadi fakta adanya pergulatan ”model baru” dalam memaknai dan menindaki ajaran Islam. Kasus pemblokiran situs radikal menjadi potret ketegasan untuk mempertahankan tanah air dari serbuan informasi yang merusak.

Peneguhan peran

Sikap moderat ala Islam Indonesia ini sudah saatnya pula diekspor ke mancanegara, khususnya ke Timur Tengah. Kita lihat di Timur Tengah menunjukkan ketidakberimbangan peranan ulama antara ilmu yang dimiliki dan peranannya kepada kemaslahatan orang banyak. Akibatnya, ulama tidak bisa memberikan kontribusinya pada saat terjadi konflik di tengah masyarakat. Ulama di Timur Tengah hebat-hebat. Namun, kiprah mereka biasa-biasa saja, bahkan terlihat ibarat ”macan kertas’ karena hanya lihai berkhotbah atau menulis berjilid-jilid kitab, tetapi lembek di lapangan.

Ulama kita lebih baik. Itu yang ingin kita tularkan. Ulama-ulama di negeri kita mampu meredam konflik yang terjadi di daerahnya, seperti kasus Sampang dan kasus Jember. Kiai-kiai di negeri ini punya modal semangat pengabdian yang tinggi. Biarpun ilmu pas-pasan, mereka tergerak untuk mendirikan pesantren yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dan negara.

Walhasil, Islam Indonesia adalah harapan bagi kehidupan masyarakat dunia pada masa yang akan datang. Potensi itu sangat besar karena posisi Muslim Indonesia yang moderat. Karena itu, saatnya kembali meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia.