Tampilkan postingan dengan label Harjoko Sangganagara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harjoko Sangganagara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Agustus 2014

Skema Pembiayaan Mahasiswa

Skema Pembiayaan Mahasiswa

Harjoko Sangganagara ;   Pengajar di STIA Bagasasi, Bandung
KORAN JAKARTA, 06 Agustus 2014
                                                
                                                                                                                                   

Pemerintah meluncurkan program beasiswa jenjang pascasarjana ke luar negeri, The Indonesian Presidential Scholarship (IPS). Mestinya program ini diperluas agar semakin banyak mahasiswa Indonesia yang dapat melanjutkan kuliah di luar negeri. Banyak mahasiswa kesulitan biaya kuliah, sementara beasiswa seperti Bidikmisi masih terbatas. Maka, perlu dikenalkan skema kredit mahasiswa yang bisa diakses secara mudah. Bank dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi (PT) agar merekomendasikan mahasiswa yang pantas menerima kredit.

Program beasiswa IPS dibuka untuk umum. Saat ini sudah mencapai seleksi gelombang kedua. Program ini memberi beasiswa pendidikan untuk studi strata dua (S2) dan S3 di 50 universitas terkemuka di luar negeri. Program beasiswa dirancang untuk menyiapkan pemimpin masa depan, baik pemerintahan maupun korporasi, yang autentik dan mumpuni dari berbagai latar belakang disiplin ilmu.

Program pemberian kredit mahasiswa saat ini sangat relevan yang tidak sekadar untuk membayar biaya kuliah, tetapi juga buat star up atau memulai kegiatan usaha sesuai dengan kompetensi dan bakat. Tak bisa dimungkiri, biaya kuliah banyak memberatkan orang tua. Kredit mahasiswa akan membantu buat biaya kuliah, masuk perguruan tinggi, SPP semester, dan hidup sehari-hari mahasiswa. Kelak setelah berpenghasilan mahasiswa akan melunasi kredit tersebut. Perlu juga skema kredit untuk mencetak young entrepreneurs atau pengusaha muda agar para mahasiswa dapat memulai usaha.

Kredit mahasiswa di negeri ini memiliki arti yang strategis karena akan membentuk sejak dini lapisan entrepreneur yang mampu berbisnis secara sehat. Bank sentral Amerika Serikat juga mengalokasikan dana hingga 300 miliar dollar AS kepada pemegang surat berharga yang ditopang berbagai jenis pinjaman, termasuk kredit mahasiswa. Kebijakan bank sentral tersebut telah membantu para mahasiswa sehingga bisa menyelesaikan kuliah dengan baik lalu menjadi pengusaha tangguh.

 Skema pembiayaan pendidikan dengan cara komersial, termasuk peluang PT untuk menerbitkan surat obligasi guna menutup biaya operasional, pengembangan infrastruktur, hingga beasiswa, dan skema kredit mahasiswa telah menjadi agenda penting negara maju. Bahkan, publik Amerika Serikat menilai risiko obligasi terbitan PT terbilang kecil. Sukses PT Amerika dalam meraup dana obligasi diperlihatkan Princeton University, Cornell University, University of Notre Dame, dan lain-lainnya. Princeton telah sukses melepas obligasi senilai 1 miliar dollar AS.

Di Indonesia sudah banyak usulan bahwa ijazah yang berhasil diraih mahasiswa mestinya bisa menjadi jaminan mendapat Kredit Usaha Rakyat. Namun, mekanismenya masih belum berjalan secara baik. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit dan pelaksanaannya masih angin-anginan.

Perbankan nasional juga belum serius dalam mengucurkan pinjaman untuk pembayaran uang kuliah per semester. Ada bank yang telah mencoba menyalurkan, tapi sayang waktunya sangat mepet, prosedurnya bertele-tele, serta belum sinkron dengan kalender akademis.



Setiap tahun pengangguran intelektual Indonesia meningkat 20 persen. Masalah itu diperparah lagi mereka tidak memiliki soft skill atau keterampilan di luar kompetensi utama para sarjana. Indonesia setiap tahun mencetak sekitar 300 ribu sarjana dari 2.900 PT negeri dan swasta. Ironisnya, pemerintah belum memiliki program tepat guna untuk mengatasi kondisi tersebut.

Pakar ekonomi, David Mike Dallen, menyatakan suatu negara akan menjadi makmur bila jumlah pengusaha mencapai sedikitnya 2 persen dari jumlah penduduk. Dalam konteks tersebut, lulusan PT sebetulnya merupakan segmen ideal untuk diarahkan menjadi pengusaha.

Sebagai gambaran, jumlah pengusaha Singapura telah mencapai 7,2 persen, sedangkan Indonesia, menurut hasil riset pada 2010, baru mencapai 0,19 persen. Dengan demikian, untuk mencapai negara makmur, perlu meningkatkan sepuluh kali lipat atau mencetak sekitar 5 juta pengusaha lagi.

Amerika

Pemerintah semestinya bertindak cepat mengatasi pengangguran intelektual agar tidak memperburuk daya saing bangsa. Diperlukan kerja sama antara PT, lembaga keuangan, dan pengusaha untuk mengembangkan semacam young entrepreneurs society di setiap PT. Pada saat ini berlaku prinsip ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge economy) dan sebuah masyarakat berpengetahuan (knowledge society).

Dalam konteks ini ekonomi pengetahuan bertumbuh karena adanya kreativitas dan kemampuan mencipta yang memungkinkan pemecahan masalah secara praktis. Apalagi tren teknologi informasi dan komunikasi diwarnai dengan optimasi penggunaan teknologi cloud computing. Teknologi tersebut secara optimal dapat menumbuhkan digitalpreneur di daerah-daerah.

Berbagai produk dan jasa yang dihasilkan daerah bisa dipasarkan secara global secara murah dan efektif. Selain itu, manfaat pasti teknologi cloud computing bagi entitas industri daerah sebagai Enterprise Application Integration (EAI) framework dengan kemampuan mengelaborasi integrasi aplikasi pada industri proses.

Di Amerika Serikat, hampir seluruh PT memunyai suatu program khusus dalam mempelajari bidang kewirausahaan sehingga melahirkan pengusaha muda andal. Pada prinsipnya, program khusus tersebut mengidentifikasi dan mempersiapkan civitas akademika sebagai calon entrepreneur. Mereka juga mempersiapkan pembuatan business plan untuk usaha baru dan perilaku pengambilan risiko.

Menurut data statistik, 30 persen wirausaha Amerika Serikat berusia sekitar 30 tahun. Mereka dikategorikan sebagai kaum muda. Jadi, sesungguhnya peran PT sangat siginifikan untuk mengarahkan mahasiswa menjadi wirausahawan. Pendidikan wirausaha di Amerika mulai dikenalkan tahun 1960-an.

 Pada era ekonomi kreatif sekarang ini langkah tepat untuk mendorong kelahiran pengusaha muda atara lain dengan memperbanyak workshop usaha dan ruang kreativitas di sekitar kampus. Ini akan memperbaiki daya inovasi para mahasiswa, yang pada gilirannya akan melahirkan jenis-jenis usaha baru. Workshop memiliki nilai lebih strategis bila dikaitkan dengan produk lokal yang tengah ditingkatkan standarnya.

Metode pendidikan wirausaha sangat bervariasi dan tidak mudah dibakukan karena menyangkut aspek kreativitas sehingga tidak ada satu metode yang cocok untuk semua. Namun demikian, pendidikan wirausaha PT sebaiknya dilaksanakan secara terintegrasi dengan bidang studi bersangkutan. Entrepreneurship sebagai instrumen pendidikan hendaknya direncanakan secara berbeda, tergantung pada tujuan dan kompetensi mahasiswa.

Selasa, 24 Juni 2014

Membangun Industri Sepak Bola

Membangun Industri Sepak Bola

Harjoko Sangganagara ;   Dosen STIA Bagasasi Bandung
                                                  KORAN JAKARTA, 23 Juni 2014 
                                                
                                                                                         
                                                      
Piala Dunia 2014 yang diselenggarakan di Brasil menghabiskan biaya sekitar 11 miliar dollar AS atau sekitar 130 triliun rupiah. Ini menjadi Piala Dunia dengan biaya terbesar atau naik hampir tiga kali lipat dari Piala Dunia 2010 Afrika Selatan yang menelan dana 4 miliar dollar AS. Pesta yang pembukaannya dihadiri 12 kepala negara, termasuk Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon, tersebut berlangsung empat pekan.

 Sepak pola adalah sihir sosial yang berdampak luar biasa. Bermula dari sang petualang globalisasi gelombang pertama yakni Marco Polo pada 1254 mengambil secara diam-diam permainan sepak bola dari daratan Asia, khususnya negeri Tiongkok, lalu dibawa ke daratan Eropa. Sejak itu, sepak bola menjadi cermin sosial dan barometer tingkah laku masyarakat. Sampai-sampai pemikir sosial, Antonio Gramsci, menyatakan bahwa sepak bola merupakan model masyarakat yang sangat membutuhkan penegakan hukum fair play dan sportivitas.

 Piala Dunia 2014 juga menyajikan budaya sportivitas dan kreativitas dari para suporter kesebelasan peserta. Berbagai kreativitas suporter akan disuguhkan di dalam dan di luar stadion berupa bermacam atribut hingga suguhan teater tak kalah sensasional dari pertandingan itu sendiri. Para suporter juga menunjukkan daya kecerdasan agar mampu menyedot atensi dan liputan media massa. Daya kreativitas suporter sepak bola global mengeliminasi perilaku suporter yang destruktif dan mentransformasikan menjadi hiburan kolosal atraktif, baik di dalam maupun di luar stadion.

 Transformasi bisa berlangsung secara baik jika perkumpulan suporter mampu membuat tribun penonton tak ubahnya panggung teater yang menyajikan paduan suara, koreografi hingga humor kolosal. Jangan lupa, faktor humor atau komedi yang disisipkan dalam siklus pertandingan sepak bola sangat ampuh meredam emosi sekaligus pembangkit sikap sportivitas.

Usaha membangun budaya sportivitas suporter sepak bola yang bisa menangkal kerusuhan sejalan dengan nilai-nilai seperti dipromosikan Komite Olimpiade Internasional. Partisipasi suporter sehat tak kalah penting ketimbang sebuah angka kemenangan hasil pertandingan.

 Selain untuk membangun karakter bangsa, kini olah raga, khususnya sepak bola, sudah menjadi entitas industri dengan nilai tambah sangat signifikan. Itulah mengapa pengusaha nasional, Erick Thohir, berani mengakuisisi 70 persen saham Inter Milan, klub papan atas Seri A Italia. Kini, Erick telah memiliki mayoritas kepemilikan Nerazzurri setelah menggelontorkan dana sekitar 5,2 triliun.

 Betapa pentingnya mengembangkan industri olah raga nasional. Tren global menunjukkan industri olah raga semakin berpotensi menambah devisa negara. Sayang, pengembangan industri olah raga nasional stagnan. Belum ada terobosan kebijakan dan inisiatif model bisnis luar biasa.

Sudah ada landasan yuridis terkait dengan pengembangan industri olah raga seperti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN). Namun, UU tersebut kurang diimplementasikan secara baik dan masih miskin inisiatif serta sepi inovasi. Meskipun akhir-akhir ini ada beberapa klub sepak bola dunia tersohor datang ke Indonesia, hanya angin lalu dan kurang berdampak signifikan bagi industri olah raga nasional.

Dalam UU SKN, industri olah raga merupakan kegiatan bisnis dalam bentuk produk barang dan jasa. Dia dapat berbentuk prasarana dan sarana yang diproduksi, diperjualbelikan, dan atau disewakan. Bidang ini juga dapat berbentuk jasa penjualan kegiatan cabang olah raga sebagai produk utama yang dikemas secara profesional yang meliputi kejuaraan nasional dan internasional, pekan olah raga daerah, promosi, ekshibisi, festival. Bisa juga keagenan, layanan informasi, dan konsultasi.

Tak bisa dimungkiri bahwa industri tersebut, selain bisa memberi nilai tambah juga telah memperluas lapangan kerja dan menambah ragam profesi. Maka, portofolio ketenagakerjaan di suatu negara spektrumnya semakin luas. Sebagai gambaran, di Korea Selatan, profesi terkait sport semakin menjanjikan. Bahkan, Institute Sport Science Korea sangat serius dan fokus mengembangkan job description terkait dengan sektor ini seperti event, equipment, record data based, dan ticket manager. Ada juga sport law expert, publisher, insurance expert, nutritions, researcher, sponsorship, advertising expert, sport licensing expert, dan seterusnya.

Tiongkok

Tiongkok juga merupakan negara yang sangat progresif dalam mengembang-kan bidang tersebut secara sistemik sejak 1978 dan terus digenjot pasca menjadi tuan rumah Olimpiade 2002. Tiongkok membaginya ke dalam dua sektor: sport service industry (layanan) dan sport good industry (peralatan). Sejak 2005 tiap tahun dihasilkan devisa rata-rata 30 miliar dollar. Bandingkan dengan perputaran ekonomi dari sektor industri olah raga di Amerika Serikat 154 miliar dollar setiap tahun.

Keberhasilan Tiongkok ekspor peralatan olah raga ke Amerika dan Eropa juga patut dicontoh. Nilai ekspor tumbuh dua digit lima tahun terakhir. Industri peralatan mampu mendiferensiasi untuk bersaing dengan industri yang sudah memiliki nama besar. Jenis peralatan yang diekspor antara lain golf, raket, sepatu roda, skateboard, bola, perlengkapan sport air, dan perahu karet.

Struktur industri peralatan sekitar 70 persen dipasok dari Provinsi Guangdong, Zhejiang, dan Jiangsu. Tiongkok berupaya keras agar desain dan produk raket, bola, dan perlengkapan lain sesuai dengan standar Olimpiade. Entitas industri terus didorong memproduksi menggunakan hasil riset tentang ilmu bahan atau material khusus.

Perkembangannya sangat pesat. Ini searah dengan perubahan dalam ilmu olah raga yang berlangsung secara cepat pula. Teknologi terus menyempurnakan tingkat kepuasan penonton di dalam stadion. Bahkan, stadion Olimpiade di beberapa negara maju telah dirancang dengan teknologi yang memungkinkan penonton melakukan wisata virtual tiga dimensi di dalam stadion secara real time menggunakan teknologi virtools.

Produk industri manufaktur penting lainnya rumput buatan untuk stadion yang sangat membantu penyelenggaraan event. Teknologi rumput buatan dirancang memiliki sifat-sifat fisik seperti aslinya. Bahkan, biaya perawatan bisa lebih murah dari rumput alam. Ini sangat tepat untuk menghadapi jadwal kompetisi yang semakin padat.

Senin, 20 Januari 2014

Mengatasi “Minsky Moment”

Mengatasi “Minsky Moment”

Harjoko Sangganagara  ;   Dosen STIA Bagasasi Bandung
KORAN JAKARTA,  20 Januari 2014
                                                                                                                        


Langkah Bank Indonesia (BI) yang terkesan membiarkan nilai tukar rupiah melemah beberapa bulan terakhir ini hingga melewati 12.000 per dollar AS memang berpengaruh baik bagi cadangan devisa yang terus meningkat.

Namun, di sisi lain, juga ada dampak negatif yang tidak kalah serius. Ada pelajaran penting di balik kondisi rupiah yang melemah terhadap dollar AS menjelang akhir 2013 sampai pertengahan Januari 2014. 

Pelemahan rupiah semestinya diatasi serius karena bisa menimbulkan efek domino yang memperpuruk perekonomian rakyat pada 2014. Efek tersebut juga mengurangi daya beli masyarakat dan mengancam kelangsungan lapangan kerja karena dunia usaha dan industri kesulitan atau tidak mampu membeli bahan baku impor untuk proses produksi.

Publik sempat kecewa dengan sikap BI yang secara tidak langsung menyatakan bahwa pelemahan rupiah wajar karena banyak utang jatuh tempo akhir tahun sehingga permintaan terhadap dollar melonjak. BI juga menyatakan pelemahan rupiah sudah sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Dalam domain keilmuan ekonomi moneter, fundamental nilai tukar ditentukan beberapa faktor, seperti terms of trade, perbandingan antara harga barang luar negeri dan domestik, aset internasional yang dimiliki suatu negara, serta perbandingan pertumbuhan uang beredar dalam negeri dengan pertumbuhan uang beredar luar negeri, yaitu pertumbuhan jumlah dollar. 

Indonesia yang banyak bergantung pada produk komoditas saat ini cukup terpukul karena harga di tingkat global turun sehingga terms of trade memburuk. Kemudian, cadangan devisa saat ini naik hingga 99,38 miliar dollar AS. 

Memasuki 2014, Indonesia terkena langsung dampak turbulensi perekonomian global yang memorakporandakan teori-teori ekonomi keuangan. Berbagai kebijakan telah diluncurkan untuk mengatasi dampak tersebut, seperti menaikkan BI Rate. Namun, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak kunjung menguat. 

Ada buku menarik berjudul Stabilizing The Unstable Economy karya Herman P Minsky yang bisa dijadikan referensi untuk menghadapi turbulensi perekonomian 2014.

Selama ini, para akademisi dan praktisi ekonomi mengenal istilah Minsky Moment untuk menggambarkan ekonomi yang berada dalam kondisi turbulensi. Kini, istilah tersebut menjadi relevan kembali setelah sekian lama tertimbun keangkuhan neoliberalisme. 

Selama ini, pasar telah berjalan di jalur bebas hambatan. Hampir semua rezim pemerintahan di muka Bumi menciptakan kondisi yang memungkinkan pasar bekerja sempurna, termasuk membuat UU yang memuluskan pergerakan barang, jasa, keuangan, pembentukan lembaga-lembaga pendukung, serta mencegah segala rupa gangguan dari individu atau kelompok terhadap mekanisme pasar.

Intinya, dalam rezim neoliberal, peran negara tut wuri handayani, mendukung dari belakang. Setelah sekian lama, apa yang terjadi? Ternyata daya dan upaya tadi justru mengakibatkan turbulensi tiada henti.

Dengan kondisi demikian, banyak pihak yang merekomendasikan inversi atau pembalikan situasi yang menyebabkan turbulensi tersebut dengan memberlakukan kebijakan tidak lagi melepas sebebas-bebasnya. Di balik rekomendasi tersebut, bekerja model analisis yang melihat krisis saat ini bersifat siklikal bersandar pada teori siklus bisnis (business cycle), yang populer disebut Minsky Moment.
Teori siklus bisnis itu secara sederhana dinyatakan adanya dua periode. Pada mulanya, periode optimisme dalam pasar finansial. Ini ditandai dengan tindakan agresif ekspansif pemberi dan penerima pinjaman karena peluang keuntungan besar di masa depan.

Akibatnya, dalam periode ini, kehati-hatian diabaikan. Praktik spekulasi sangat dominan sehingga menggiring pada periode yang disebut the death of business cylce. Lalu, muncul periode pesimisme yang ditandai dengan hilangnya kepercayaan pada pelaku pasar yang menyebabkan krisis finansial.

Menurut Herman Minsky, ekonom yang pernah terpinggirkan selama periode optimisme pasar finansial, untuk mencegah krisis yang lebih luas, perlu memaksimalkan peran Dewan Bank Sentral AS.

Mereka bersama bank sentral negara-negara kapitalis maju lainnya bertindak sebagai lender of the last resort atau pemberi pinjaman terakhir. Kemudian, membawa kembali peran negara yang aktif dan intervensionis dalam pasar guna menstabilkan turbulensi ekonomi tersebut.

Keyness dikenal dengan rekomendasi untuk mengedepankan kebijakan moneter dibanding stimulus fiskal. Kebijakan ini melahirkan surplus bujet pada periode pertumbuhan untuk menciptakan ruang gerak membawa siklus bisnis ke wilayah soft landing jika terjadi ketidakstabilan atau turbulensi. 

Minsky mengusulkan cara berbeda dengan menekankan bahaya suatu bangsa yang mengalami turbulensi ekonomi. Ini disebut fenomena ketidakpastian masuknya investasi yang dapat mengganggu aliran dana segar atau cash flow saat turbulensi. Gangguan ini melahirkan volatility of investment.

Lewat bukunya, Stabilizing The Unstable Economy, Minsky menjelaskan ekonomi suatu bangsa bisa rentan saat menghadapi fluktuasi dan cara memiliki instrumen untuk memagari perambatan fluktuasi. Menurutnya, proses yang menyebabkan financial fragility bersifat alamiah yang inheren sebagai kekuatan tersembunyi bekerja dalam sistem ekonomi suatu bangsa. 

Minsky lebih mengedepankan peranan inovasi dan daya kewirausahaan untuk mengambil risiko sebagai faktor penggerak utama dari siklus bisnis. Hanya dengan program inovasi yang tepat dan menularkan kewirausahaan kepada rakyat luas yang mampu mengatasi turbulensi ekonomi.

Otoritas ekonomi suatu bangsa mestinya mencermati dengan baik teori Minsky yang bisa menunjukkan celah cara memotong rantai kecenderungan spiral down atau pusaran siklus yang menyedot energi dan sumber daya. Konkretnya, suatu pusaran karena defisit neraca perdagangan sehingga menyebabkan harga dollar terus meningkat dan rupiah melemah. Semua bahan kebutuhan pokok naik harganya. 
Kenaikan harga membawa aliran daya beli rumah tangga terpuruk dan semakin tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup. Siklus spiral down tersebut perlu dikaji secara mendalam agar bisa dihentikan (Minsky Moment).

Intervensi pemerintah dan BI yang lebih besar dan sistemik agar nilai tukar rupiah tidak terus tersungkur tahun ini amat penting. Apalagi kebijakan nilai tukar fleksibel atau mengambang yang dianut otoritas moneter sangat rentan terhadap transaksi arbitrase yang memborong suatu mata uang lalu menjual dengan harga tinggi. Ini juga rentan terhadap spekulasi yang memanfaatkan ketidakpastian di dalam mekanisme pasar. Pemerintah hendaknya tidak mengabaikan dampak negatif kegiatan spekulan lokal dan global terhadap nilai tukar rupiah sekarang. ●

Minggu, 10 November 2013

“Reinventing” Nilai Kepahlawanan

“Reinventing” Nilai Kepahlawanan
Harjoko Sangganagara  ;   Dosen STIA Bagasasi Bandung,
Doktor UPI Bandung, Kerabat KRT Radjiman Wediodiningrat
KORAN JAKARTA, 09 November 2013


Hari Pahlawan 10 November bisa dijadikan momentum bagi generasi kini untuk mengenal dialektika perjuangan dan kepribadian para pejuang dalam mewujudkan kemerdekaan. Di samping itu, peringatan Hari Pahlawan selalu mencuatkan pertanyaan mengenai sosok pahlawan masa depan negeri ini.

Peringatan tahun ini ditandai dengan pemberian gelar pahlawan nasional kepada para pejuang, yakni Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wediodiningrat, Lambertus Nicodemus Palar, dan TB Simatupang. Penting kiranya melakukan reinventing nilai kepahlawanan yang bisa membawa kemajuan dan kejayaan bangsa dalam arti sesungguhnya. 

Di era sekarang, untuk menuju kejayaan bangsa, dibutuhkan usaha keras dan cerdas segenap bangsa serta diwarnai karya-karya inovatif agar bisa menerobos persaingan global. Dalam perjalanan ke depan, bangsa membutuhkan pahlawan inovasi untuk memenangi persaingan global dan mengatasi gonjang-ganjing "The Great Disruption" yang tengah melanda dunia.

Kegigihan dalam berjuang serta dialektika para pahlawan bangsa untuk kemajuan juga telah diperlihatkan Dokter KRT Radjiman Wediodiningrat sejak belia. Pada usia 20 tahun, Radjiman sudah lulus STOVIA Batavia dengan prestasi tinggi sehingga langsung diangkat sebagai dokter Gubernemen Belanda. 

Radjiman adalah tokoh pergerakan Indonesia Merdeka yang berwawasan luas dan memiliki kepribadian matang sehingga dipercaya menjadi Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dia kemudian menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Di dalam BPUPKI, Radjiman bisa dibilang sangat inovatif dan berwibawa dalam memimpin sidang-sidang penting bagi terwujudnya NKRI. Terbukti sidang-sidang BPUPKI tidak pernah deadlock. Perjuangan panjang Radjiman menuju Indonesia Merdeka pada hakikatnya untuk mewujudkan kemajuan bangsa di tengah pergaulan bangsa-bangsa dunia dikerjakan sampai mengembuskan napas terakhir di lereng Gunung Lawu, Desa Walikukun, Kabupaten Ngawi, 20 September 1952.

Pada era globalisasi sekarang, gelar atau predikat pahlawan tidak lagi dimonopoli mereka yang berjuang mengangkat senjata. Predikat pahlawan bisa saja diberikan kepada sosok yang memberi dampak positif pada masyarakat luas, seperti halnya para pelaku ekonomi. Kata pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari dua kata, yakni pahla dan wan. Pahla mengandung makna "buah", sementara wan untuk sebutan orangnya (bersangkutan). 

Dalam pengertian secara luas, pahlawan adalah orang yang menghasilkan buah karya untuk kepentingan bangsa dan negara atau seorang pejuang gagah berani yang mengorbankan jiwa dan raga untuk kepentingan bangsa.

Pada saat ini, bangsa Indonesia sangat membutuhkan pahlawan ekonomi yang mampu membuat terobosan untuk menciptakan nilai tambah dan kesejahteraan rakyat luas. Pahlawan ekononi bukan sosok yang membuat kebijakan ala Sinterklas dengan cara membagi-bagikan uang tunai dan menjalankan kebijakan eufimisme pembangunan yang berbasis utang sehingga melahirkan pertumbuhan ekonomi yang tidak bermutu.

Pahlawan masa depan langkahnya harus berani vivere pericoloso (menyerempet-nyerempet bahaya). Selain itu, mereka harus gandrung pada kebinekaan. Mereka mampu menuangkan ide demi inovasi, seperti Sergey Brin dan Larry Page, pendiri Google. Pahlawan masa depan mampu membangkitkan energi kolektif bangsa ke arah kemajuan berupa modal sosial untuk mengatasi masalah kebangsaan secara bersama-sama, gotong royong. 

Pahlawan masa depan juga mampu membuat semacam new deal (tawaran baru) yang lebih konkret, realistis, dan egaliter bagi rakyat. New deal bukanlah pernyataan politik murahan yang mudah hilang tertiup angin, tetapi terobosan brilian guna mengatasi krisis dan secara terus-menerus dikomunikasikan dengan rakyat.

Banyak

Negeri ini membutuhkan banyak pahlawan inovasi untuk menuju kejayaan bangsa dari segala macam disiplin ilmu dan keanekaragaman budaya, baik tingkat dunia maupun lokal, yang memiliki arti strategis dalam kehidupan berbangsa. Pahlawan inovasi bukan dilahirkan. Berbicara tentang inovator memang memprihatinkan lantaran negeri ini ternyata memiliki indeks inovasi rendah. 

Kebudayaan menjadi strategis bagi perjalanan bangsa ke depan, terutama menumbuhkan kultur inovasi sebagai kunci persaingan bangsa. Maka, penting sekali membuat strategi kebudayaan yang fokus pada inovasi. Menumbuhkan budaya inovasi jangan hanya bersifat seremonial. 

Kegiatan inovatif sebaiknya dilakukan masyarakat luas yang bervariasi. Di sini diperlukan proses belajar. Dalam konteks ekonomi makro, learning sebagai salah satu komoditas ekonomi penting, sementara prosesnya dapat melalui berbagai mekanisme perorangan atau kelompok. 

Agar rakyat mampu berinovasi, harus ada upaya meningkatkan kemampuan ilmu dan teknologinya dengan memperkuat kapasitas learning-nya. Jadi, aliran informasi dan knowledge dari sumber-sumber ilmu dan teknologi ke masyarakat perlu terus-menerus difasilitasi lewat pendidikan formal dan nonformal.

Budaya inovasi negeri ini akan membaik jika daya kreativitas masyarakat ditumbuhkan dengan berbagai infrastruktur dan insentif. Pada dasarnya, kreativitas dapat berkembang di semua lini sejauh negara menghargai dan mendorong warga untuk berkreasi. Dalam persaingan global yang sangat ketat dewasa ini, diperlukan berbagai right brain training untuk menggenjot daya kreasi warga.

Menurut Steve Jobs, kreativitas berarti kemampuan mengaitkan berbagai macam atau bidang sehingga menjadi produk bernilai tambah. Budaya inovasi dengan titik berat proses kreatif sebaiknya menjadi muatan kurikulum di sekolah-sekolah. Betapa pentingnya penyelarasan pola pikir kreatif warga dalam berbagai disiplin ilmu. 

Kreativitas diharapkan lahir dari berbagai disiplin ilmu dan bersenyawa menjadi produk luar biasa. Di masa mendatang, kekuatan ekonomi dunia dan kejayaan suatu bangsa sangat ditentukan dengan talenta, imajinasi, dan kreativitas. Ada baiknya direnungkan seruan Bung Karno sebagai pendiri bangsa sekaligus teladan nyata terkait kunci kemajuan dan kebesaran bangsa dalam tajuk "Ascensia Recta".

Ini terkait dengan kebesaran dan kemegahan seni budaya dan daya inovasi negeri ini. Hal itu bisa dilihat dari karya-karya fisik yang sangat fenomenal dan masih berdiri megah hingga kini. Begitu pula dengan konsepsi dan pemikiran Bung Karno untuk bangsa dan warga dunia yang hingga kini masih relevan.

Jumat, 18 Oktober 2013

Optimalkan Pangan Tradisional

Optimalkan Pangan Tradisional
Harjoko Sangganagara; Dosen STIA Bagasasi, Doktor Administrasi UPI, Bandung
KORAN JAKARTA, 17 Oktober 2013


Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober sebaiknya dijadikan momentum untuk menata produksi pangan nasional dengan berbagai terobosan. Peringatan itu dimulai sejak Food and Agriculture Organization (FAO) menetapkan World Food Day melalui Resolusi PBB No 1/1979 di Roma, Italia. Sejak 1981, disepakati seluruh negara anggota FAO untuk memperingati HPS dengan berbagai aksi nyata terkait dengan masalah pangan.

Peringatan HPS di Indonesia tahun ini menekankan pentingnya kepedulian masyarakat terhadap penyediaan pangan yang cukup dan bergizi. Di samping itu, juga perlunya membentuk ketahanan pangan nasional yang berbasis sumber daya lokal.

Keanekaragaman pangan bisa menjadi katup pengaman krisis pangan dunia dengan substitusi pengganti gandum dari tanaman umbi-umbian yang jenisnya sangat banyak. Jika sukses, Indonesia tidak perlu terus-menerus tersandera masalah produk pangan impor. Pada saat ini, pangan tradisional menemukan momentum emas untuk unjuk gigi. Banyak orang merindukan pangan atau makanan tradisional. Kondisi tersebut mestinya dimanfaatkan untuk memperbaiki mutu dan kemasan makanan tradisional sehingga lebih adaptif dengan selera pasar.

Selama ini, industri makanan tradisional secara nyata telah memperkuat ketahanan pangan nasional serta berkontribusi yang berarti bagi ekonomi kerakyatan. Makanan tradisional juga mewarnai wisata kuliner yang menjadi pesona berbagai daerah. Sayangnya, produsen makanan tradisional masih sarat masalah, di antaranya kurangnya insentif dan pembinaan agar konsumen terlindungi.

Perhatian pemerintah daerah terhadap produsen makanan tradisional masih sebatas seremonial dan belum ada insentif yang berkelanjutan. Secara harfiah, pengertian tradisional adalah makanan, minuman, dan bahan campuran yang digunakan dan telah lama berkembang secara spesifik di daerah. Biasanya, makanan tradisional diolah dari resep yang sudah dikenal masyarakat lokal dengan bahan-bahan yang juga diperoleh dari sumber setempat.

Selama ini, usaha untuk menerapkan manajemen mutu bagi usaha makanan tradisional belum optimal sehingga kerap ditolak hanya karena alasan kotor. Penting membangkitkan kesadaran mutu dimulai dengan identifikasi selera konsumen, gagasan konsep produk, bahkan setelah pengiriman pada pembeli. Kesadaran membangun mutu termasuk pula mendengarkan harapan konsumen sehingga terciptanya interaksi dalam sistem manajemen mutu.

Dunia mulai diadang masalah pangan. Meski begitu, belum ada kebijakan luar biasa untuk mengantisipasi krisis pangan. Harusnya ada terobosan esensial, yakni membagikan berbagai macam benih tanaman pangan secara gratis kepada seluruh lapisan rakyat dalam jumlah yang cukup.

Terobosan ini juga untuk mengatasi kesenjangan produktivitas sebab produktivitas pertanian di negara maju dan negara berkembang sangat timpang. Pola pertanian di negara-negara maju memiliki efisiensi tinggi. Kapasitas produksi dan rasio output per tenaga kerja juga tinggi, sedangkan di negara-negara berkembang tidak efisien. Tingkat produktivitasnya sangat rendah sehingga hasil yang diperoleh acap kali tidak dapat memenuhi kebutuhan para petaninya sendiri. Maka, antara negara maju dan berkembang muncul kesenjangan produktivitas. Sejak tahun 2000, kesenjangan produktivitas tersebut berkisar 50 banding 1. 

Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi (GP3K) yang selama ini dilakukan pemerintah mestinya menyangkut kebijakan untuk membagikan benih secara gratis kepada masyarakat. Apalagi, dana yang terkumpul dari Program GP3K cukup besar. Dari pihak BUMN saja, pada 2011/2012 bersedia mengucurkan hingga 1,5 triliun rupiah. Sebagian dana tersebut mestinya bisa dipakai untuk membangun infrastruktur memproduksi benih bermutu.

Farming

Untuk mengatasi krisis pangan, negeri ini jangan terlalu menggantungkan diri kepada megaproyek yang membutuhkan dana sangat besar, seperti rencana mendirikan BUMN pangan dan membuat food estate. Pembangunan megaproyek tersebut perlu waktu cukup lama dan belum tentu sukses. Sementara itu, kebutuhan rakyat tidak bisa menunggu. Apalagi pembangunan megaproyek bila tanpa penataan corporate farming yang baik justru akan gagal.

Bangsa hendaknya belajar berbagai aspek corporate farming dari negara Brasil yang telah sukses menjadi pengekspor produk pangan terkemuka. Brasil mengekspor kedelai sekitar 40 juta ton setiap tahun ke China. Teknologi pertanian di Brasil juga masih menjunjung tinggi kearifan organik dan lepas dari kebergantungan pada pupuk kimia serta obat-obatan pertanian sejenis insektisida. Brasil berhasil melintasi krisis kapitalisme global karena mampu mewujudkan tata kelola corporate farming sebaik-baiknya. Antara lain menjadikan lembaga koperasi pertanian berperan besar. Pemerintah Brasil juga telah membangun infrastruktur pertanian, pengairan, perhubungan, dan lain-lain guna menunjang kebutuhan corporate farming. 

Dalam mengantisipasi krisis pangan, ada faktor penting yang tidak boleh diabaikan seperti budaya dan usaha pemuliaan benih tanaman. Sayang, budaya dan usaha itu kini semakin tergilas kebijakan impor benih tanaman pangan dari luar negeri. Usaha pemuliaan dan produksi benih mestinya digenjot, mengingat banyak lahan kritis dan terbengkalai. Pekarangan rakyat mestinya bisa menjadi lumbung pangan jika ada cukup benih. Hanya, maukah pemerintah menyediakan benih unggul.

Sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya maju dalam rekayasa perbenihan sehingga pemerintah mampu menyediakan benih unggul secara gratis kepada rakyat luas, setidaknya dengan harga murah. Dengan langkah itu, program ketahanan pangan keluarga akan terwujud. Sayangnya, hingga kini, benih belum menjadi prioritas utama. Buktinya, hingga kini, Indonesia masih sangat bergantung pada impor seperti padi hibrida dari China. 

Sudah waktunya pemerintah daerah menggalakkan program optimalisasi atau pemanfaatan lahan pekarangan untuk meningkatkan gizi serta memperkuat ketahanan pangan keluarga. Masih banyak pekarangan rumah rakyat yang dibiarkan kosong karena kesulitan benih tanaman pangan. Dengan tersedianya aneka benih yang dibagikan secara gratis kepada rakyat maka setiap jengkal pekarangan akan produktif. 
Pentingnya menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa perkara benih sebenarnya bukan hanya urusan lembaga riset pemerintah atau perguruan tinggi, masyarakat harus pula dilibatkan secara aktif. Tata kelola dan program pemuliaan benih masih memprihatinkan. Akibatnya, ketersediaan benih unggul secara nasional sering kedodoran pada musim tanam. 

Kondisinya semakin runyam karena kini banyak balai benih milik pemerintah tidak berfungsi secara normal karena salah urus. Mestinya beberapa balai benih yang tersebar di daerah, seperti Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, bisa menjadi solusi pengadaan benih unggul. Hasilnya disebarkan kepada masyarakat. 

Namun kenyataannya, balai semacam itu kurang produktif. Mestinya ada insentif dan injeksi permodalan untuk investasi di industri perbenihan. Seperti di Brasil, dari hulu hingga hilir industri benih diberi insentif besar secara kontinu. Apalagi kemajuan teknologi benih transgenik berkembang pesat. Sementara itu, usaha benih secara konvensional berjalan lambat karena biaya produksi tinggi.