Tampilkan postingan dengan label Indonesia Membutuhkan Bisnis Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Membutuhkan Bisnis Sosial. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 November 2012

Indonesia Membutuhkan Bisnis Sosial


Indonesia Membutuhkan Bisnis Sosial
Jalal ;  Aktivis Lingkar Studi CSR (www.csrindonesia.com)
KORAN TEMPO, 02 November 2012


Yunus mengatakan modal terbesar sebuah bisnis sosial adalah ide, bukan uang. Ide itu kerap kali menentang apa yang selama ini dipraktekkan secara luas. 
Beruntung sekali kita kedatangan tokoh sekaliber Muhammad Yunus. Dia datang ke Indonesia untuk menghadiri dan menjadi pembicara kunci dalam International Microfinance Conference 2012 di Yogyakarta, 22-23 Oktober 2012 (Koran Tempo, 25 Oktober 2012). Di sana ia berbicara mengenai bagaimana Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa besar, dan di situ kredit mikro memiliki peran yang lebih besar lagi dibanding sekarang.
Namun, dalam forum yang lebih kecil pada 24 Oktober 2012, Yunus berbagi pengetahuan yang masih kurang populer di sini. Dalam acara diskusi yang digagas oleh Danone Indonesia--Danone adalah perusahaan yang menjadi mitra bisnis sosial Yunus di Bangladesh--ia mengungkapkan bahwa, walaupun lebih dikenal sebagai penggerak kredit mikro, sesungguhnya yang ia perjuangkan seharusnya bisa dipahami secara lebih luas, yaitu transformasi bisnis secara global, dengan mengubah tujuan bisnis dari pencarian laba menjadi penyelesaian masalah ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat. 
Bersama-sama dengan Erie Sudewo, salah seorang pendiri Dompet Dhuafa, dia mempresentasikan gagasan ini kepada ratusan peserta yang mendadak merasa diguyur oleh optimisme penyelesaian berbagai masalah di Indonesia.
Dari paparannya, terdapat beberapa butir penting tentang apa yang dimaksud sebagai bisnis sosial. 
Pertama, sebagaimana yang diungkapkan di atas, bisnis ini didirikan atas motivasi untuk memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Kalau selama ini terdapat doktrin kapitalistik bahwa maksimisasi laba adalah satu-satunya tujuan, ide bisnis sosial malah menyatakan bahwa pencarian laba--tak perlu sampai upaya memaksimalkannya?bukanlah tujuan bisnis. Selama ini bisnis sudah dikenal memiliki dampak positif yang luas, di samping dampak negatifnya. Namun dampak itu sendiri lebih berupa ikutan. Ketika bisnis berjalan, orang-orang yang terlibat di dalamnya akan mendapatkan manfaat ekonomi. Tapi itu hanya ikutan saja dari tujuan pencarian laba.
Dalam pemikiran Yunus, hal ini haruslah dibalik agar manfaat bisnis menjadi jauh lebih luas, dan mudaratnya bisa hilang. Bisnis dibuat untuk memaksimalkan manfaat, dan harus dipertahankan agar tidak merugi, supaya manfaat itu terus bisa dirasakan. Kedua, sebagai bisnis, tentu saja masalah-masalah yang hendak dicapai pemecahannya itu dicari dalam mekanisme pasar. Berulang kali Yunus menyatakan bahwa dia sama sekali tidak menentang donasi atau filantropi. Namun dia yakin betul bahwa bisnis itu memiliki sifat yang lebih unggul dibanding filantropi, karena bisa dibuat berkelanjutan. Mekanisme pasar adalah sebuah mekanisme yang "alamiah" dan telah membuktikan diri mampu membuat alokasi yang baik atas sumber daya. Kalau selama ini ada masalah dengan ketidaksempurnaan pasar, itu bukan berarti pasar harus ditinggalkan, melainkan harus dikoreksi. Dan koreksi tersebut harus dibuat untuk tujuan memaksimalkan manfaat, bukan laba.
Ketiga, baik produk maupun proses produksi dari bisnis sosial harus mendatangkan manfaat. Yunus menegaskan bahwa karena motivasinya adalah memecahkan masalah, produk dari bisnis sosial tidaklah perlu diragukan lagi. Namun ia menegaskan bahwa proses produksinya harus juga dipikirkan untuk membawa manfaat terbesar yang mungkin untuk skala bisnis itu. Ia memberi contoh bahwa bidang pelayanan kontak konsumen, atau perusahaan yang khusus bergerak di bidang itu, seharusnya bisa mempekerjakan banyak sekali orang difabel, selama bisa mendengar dan berbicara dengan baik. Tentu saja, bisnis sosial tak boleh menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan juga. Ia buktikan misalnya dengan membidani bisnis sosial di Haiti yang tujuannya untuk menghijaukan Haiti dengan tutupan hutan, yang produk-produknya?selain kayu, tentu saja?bisa mendatangkan manfaat ekonomi besar untuk masyarakat.
Keempat, bisnis sosial juga harus inovatif. Yunus mengatakan, modal terbesar sebuah bisnis sosial adalah ide, bukan uang. Ide itu kerap kali menentang apa yang selama ini dipraktekkan secara luas. Hal ini dicontohkan dengan bagaimana ia berpikir soal bank. Menurut dia, bank tradisional adalah institusi yang tak cukup baik lantaran memberikan uang kepada mereka yang sudah kaya; sementara yang miskin, yang benar-benar membutuhkan uang, ternyata tak mendapatkan pelayanan. Grameen Bank, institusi yang ia dirikan dan membuatnya meraih Nobel Perdamaian 2006, membuktikan bahwa meminjamkan uang kepada orang miskin yang membutuhkan modal kerja ternyata jauh lebih menguntungkan, lantaran disiplin pengembalian pinjaman yang lebih tinggi dibanding orang kaya.
Terakhir, ia menekankan bahwa para pemilik modal yang disetor untuk membangun bisnis sosial tidaklah bisa menarik keuntungan dari modal tersebut. Gaji bisa diperoleh, namun dividen tidak ada sama sekali. Kalau sebuah bisnis sosial menghasilkan laba, seluruh laba tersebut dimanfaatkan untuk memecahkan masalah yang sama dalam skala yang lebih luas, atau dipergunakan untuk membangun bisnis sosial baru yang memecahkan masalah lainnya. Dalam hal ini, memang Yunus tidak sepenuhnya didukung. Banyak di antara pakar yang tidak mengharamkan pengambilan laba oleh pemilik bisnis sosial. Dalam percakapan dengan Erie Sudewo, penulis mendapatkan wawasan bahwa?mengambil perumpamaan dari fikih zakat?bisa saja pemilik modal memperoleh hingga 12,5 persen dari laba yang diperoleh. Sedangkan pembacaan atas berbagai literatur mutakhir soal bisnis sosial agaknya menyarankan bahwa sebagian besar laba?tanpa menyebutkan angka persis?memang sebaiknya dipergunakan untuk peningkatan skala usaha atau membangun bisnis sosial baru.
Pada pertengahan hingga akhir September lalu, penulis menghadiri sebuah konferensi regional mengenai tanggung jawab sosial perusahaan yang diselenggarakan oleh CSR Asia di Beijing. Di situ terungkap bahwa pemerintah Cina sangatlah mendukung ide bisnis sosial. Mereka tidak hanya merencanakan pemanfaatan 1 persen dari laba BUMN mereka untuk membangun ribuan bisnis sosial, tapi juga meminta Yunus untuk berbicara di sebuah universitas, dihadiri ribuan mahasiswa. Lebih dari itu, kehadiran Yunus juga ditayangkan secara langsung ke 50 universitas lain, yang juga dipadati oleh mahasiswa-mahasiswa mereka. Itu karena pemerintah Cina percaya betul bahwa bisnis sosial adalah bentuk bisnis baru yang akan bisa dimanfaatkan untuk memecahkan berbagai masalah di sana. Bibit-bibitnya sudah mulai tampak, sebagaimana yang dipresentasikan di dalam konferensi tersebut.
Di Indonesia sendiri, kini sudah ada Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia (AKSI). Sudah ada penghargaan internasional yang diberikan kepada figur pendorong bisnis sosial, seperti Erie Sudewo, Tri Mumpuni, dan Silverius Oscar Unggul. Hanya, sangat jelas bahwa jumlahnya masih terlampau sedikit untuk bisa menjadi kekuatan signifikan pemecah masalah. Kalau di level global Yunus kemudian kebanjiran bantuan dari Danone, BASF, Adidas, dan entah perusahaan mana lagi untuk membangun bisnis sosial, apakah kita bisa berharap akan mendapatkan bantuan yang sama dari perusahaan-perusahaan yang punya perhatian? Atau, bisnis sosial akan menjamur dengan kekuatan mandiri dari masyarakat sipil? Semoga keduanya.