Tampilkan postingan dengan label Sindhunata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sindhunata. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Maret 2021

 

Jeritan Kematian Kala Pandemi

 Sindhunata  ;  Wartawan, Penanggung Jawab Majalah Basis, Yogyakarta

                                                        KOMPAS, 20 Maret 2021

 

 

                                                           

Di masa pandemi Covid-19, statistik amat berbicara. Kita suka membaca angka-angka. Tanpa kita sadari, kita terjebak pada cara membaca, yang membuat kita memahami Covid-19 itu seakan hanyalah naik turunnya kasus saja. Misalnya, data 15 Maret 2021, total kasus Covid-19 di dunia sebanyak 120.399.288, sembuh 96.944.566, meninggal 2.664.622. Di Indonesia, positif Covid-19 menembus angka 1.425.044, sembuh 1.249.947, dan meninggal 38.573.

 

Kita khawatir, bila angka itu naik. Dan terhibur, bila turun. Namun, benarkah bila kekhawatiran dan keterhiburan kita hanya kita gantungkan pada naik turunnya angka? Kita lupa bahwa kematian 2.664.622 di dunia dan 38.573 di Indonesia bukan sekadar angka, melainkan juga nyawa. Memang di balik sejumlah angka itu sesungguhnya ada rasa kesedihan, kehilangan, dan kekecewaan.

 

Kematian yang tragis

 

Kematian adalah kematian. Namun, jika kita melihat kematian sebagai sekadar angka, dengan serampangan kita bisa membandingkan kematian karena Covid-19 dengan kematian karena demam, serangan jantung, sakit ginjal, bahkan kecelakaan lalu lintas. Setiap tahun, kematian karena itu semuanya juga menempati statistik yang tinggi.

 

Anggapan macam ini membuat kita lupa bahwa kematian karena Covid-19 tak dapat dibandingkan dengan kematian lainnya. Karena bersama kematian itu terjadi peristiwa yang tidak terjadi pada kematian-kematian umumnya.

 

Kematian sering datang dengan lebih dini daripada yang dikira. Namun, mereka yang berpulang karena virus korona, kematian itu sungguh tragis. Karena datang tanpa dinyana, sering tanpa gejala, dan dalam waktu dekat sudah merenggut nyawanya. Kematian macam ini pasti meninggalkan kesedihan dan penderitaan luar biasa bagi mereka yang ditinggalkan. Seakan tanpa sebab apa pun, mereka tiba-tiba kehilangan orang yang tercinta.

 

Dokter, perawat, dan petugas kesehatan bisa tetap selamat ketika merawat pasien yang menderita sakit, misalnya kanker, jantung, atau ginjal. Tetapi dengan pasien virus korona, mereka harus merisikokan nyawanya. Akhirnya tak sedikit dari mereka ikut meregang nyawa.

 

Mereka yang terpapar lebih sedih lagi. Mereka terasing dari keluarganya justru di saat akhir mereka sangat membutuhkannya. Orang-orang yang bisa mendekat padanya harus pakai alat pelindung diri (APD) lengkap. Mereka bahkan tak mengenali lagi, juga bila yang mengunjungi adalah keluarga terdekat.

 

Ketika kematian menjemputnya, nasibnya benar-benar merana. Tubuhnya disemprot habis-habisan dengan disinfektan. Tak diberi dandanan dan harus cepat-cepat dimakamkan. Penguburannya berlangsung sepi. Keluarga terdekatnya hanya boleh menyaksikan dari jauh. Mereka sungguh seperti orang yang terbuang dan dianggap sebagai wabah yang bisa menyebabkan penularan walau mereka sudah berpulang.

 

Biasanya, penguburan adalah saat di mana mereka yang ditinggalkan memberikan penghormatan terakhir bagi yang berpulang. Saat terakhir cinta dicurahkan, maaf dimintakan, dan keluarga membisikkan pesan. Tentu saja disertai ritual keagamaan untuk mendoakan agar yang meninggal pergi dengan tenang dan yang ditinggalkan dianugerahi penghiburan.

 

Ini semua ditiadakan pada kematian mereka karena Covid-19. Alasannya, jangan sampai yang hidup ketularan. Itulah kematian yang tragis bagi mereka yang mati karena Covid-19.

 

Sudah selayaknya bahwa kematian dihiasi dengan kebahagiaan. Bahkan, mereka yang hidupnya paling nista pun layak mendapat kehormatan sebagai manusia pada saat kematiannya. Itulah yang dilakukan Ibu Theresa, perempuan suci dari Kalkuta.

 

Saat ia menerima hadiah Nobel tahun 1979 di Oslo, Ibu Theresa berpidato, ”Saya tak pernah lupa, bagaimana saya menemukan seorang laki-laki di jalanan. Sekujur tubuhnya dikerubungi lalat. Apa yang kelihatan bersih hanyalah wajahnya. Saya membawa orang itu ke tempat di mana kami menampung orang-orang yang mau meninggal. Inilah satu-satunya kata yang ia ucapkan, ’Saya hidup seperti binatang di jalanan, tapi sekarang saya akan mati sebagai seorang malaikat, dicinta dan dirawat’. Dan ia pun mati dengan indah. Ia berpulang ke Tuhan. Kematian tak lain adalah pulang kembali ke Tuhan. Saya merasa: Ia gembira dan bahagia karena mengalami cinta, bahwa ia dikasihi, diinginkan, dan bahwa adalah seseorang yang berarti bagi yang lain.”

 

Memang, menjelang ajal, siapa pun patut mengalami bahwa ia adalah manusia, yang dicinta dan dihargai sebagai manusia. Justru cinta dan penghargaan itulah yang hilang dalam kematian mereka yang terpapar Covid-19. ”Maaf, penguburan ini tak berkenaan dengan penghormatan,” inilah apologi di balik tiadanya ritual perpisahan dan keagamaan bagi mereka yang meninggal karena Covid-19.

 

Hal di atas kiranya adalah latar belakang mengapa terjadi kasus seperti di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, belum lama ini. Ratusan sukarelawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) mendatangi DPRD Bantul. Mereka memprotes pernyataan salah seorang anggota Dewan sehubungan dengan pemakaman jenazah korban Covid-19.

 

Menurut para sukarelawan, anggota Dewan tersebut pernah menyatakan, pemakaman jenazah korban Covid-19 dilakukan dengan sangat tidak layak, seperti layaknya menguburkan binatang saja. Pernyataan ini jelas sangat melukai hati para sukarelawan, yang dalam segala keterbatasan telah menguburkan jenazah korban dengan ikhlas dan tulus. Syukurlah, kasus itu selesai dengan permintaan maaf dari anggota Dewan itu.

 

Kasus seperti di atas jelas memperlihatkan bahwa Covid-19 membawa problem tentang kematian. Seperti dikatakan oleh kolumnis dari die Zeit, Anna Mayr, Covid-19 mendorong kita untuk bicara terus mengenai turunnya angka kematian, tetapi kita tak berbicara tentang kematiannya sendiri. Kematian manusia menjadi anonim.

 

Di balik ketidakacuhan terhadap kematian ini bisa tersembunyi paham keselamatan liberal yang bilang, apa yang bernilai adalah keselamatanku, peduli amat dengan kematian korban, dan dukacita mereka yang ditinggalkan. Jika ketidakacuhan itu dibiarkan, kita takkan bakal bisa bersama-sama menemukan ide, bagaimana menghargai dan menghormati mereka yang telah berpulang dalam upacara ritual yang sepadan.

 

Lumpuhnya agama

 

Memudarnya upacara ritual kematian karena Covid-19 ini adalah salah satu tanda lumpuhnya kekuatan agama di era modernitas ini. Menurut filsuf Giorgio Agamben, sudah lama sebenarnya agama harus bersaing dengan kapitalisme dan ilmu pengetahuan. Berhadapan dengan pandemi ini terlihat agama terpaksa ”takluk” terhadap ilmu pengetahuan, khususnya medicine, ilmu kedokteran, dan obat-obatan.

 

Lewat kekuasaan politik, agama diminta tunduk pada ”ritual dan liturgi medicine”. Ini semua harus dibuat demi kesehatan dan kehidupan. Maklum, bagi medicine, kesehatan dan kehidupan adalah segala-galanya.

 

Begitulah, kesehatan telah menjadi berhala di era liberalisme ini. Kata Agamben, salvezza, keselamatan, telah dikurbankan demi salute, kesehatan. Ini disebabkan agama harus mengikatkan dirinya dalam sejarah, mencari keselamatan lewat sejarah. Akhirnya, apa yang ditemukan lewat sejarah ini bukan keselamatan, melainkan kesehatan. Tujuan akhir manusia adalah kesehatan. Apa pun yang di luar kesehatan—apalagi kematian—tidak lagi diperhitungkan. Itulah sebabnya manusia mengalami tiadanya lagi hubungan natural antara kehidupan dan kematian.

 

Diingkari atau diterima, pandemi Covid-19 ini jelas mendekatkan kembali kematian pada kehidupan. Menurut teolog Wolfgang Palaver, saat ini merupakan kesempatan agar kita tidak bersikap dingin terhadap kematian.

 

Dengan sikap itu, kita justru bisa menghargai kehidupan. Namun, seperti sudah ditunjukkan Agamben, kelirulah bila hidup itu kita sempitkan menjadi kesehatan. Begitu berpikir tentang kesehatan, orang mudah tergoda untuk mengutamakan kesehatannya sendiri.

 

Ini antara lain yang menyebabkan kita seperti sama sekali tak mempunyai kemungkinan untuk berpikir bagaimana memberi penghormatan yang layak bagi mereka yang mati karena Covid-19.

 

Memang, hidup tak sekadar kesehatan. Maka, Palaver setuju dengan filsuf Emmanuel Levinas yang mengatakan, menggenggam hidup demi alasan apa pun, adalah akar dari kekerasan dan peperangan. Hidup bukanlah sekadar hidup kita tetapi hidup demi dan bersama orang lain. Di sinilah letaknya kita boleh berpikir kembali tentang keselamatan, di samping atau melebihi kesehatan.

 

Maka, Palaver tak setuju dengan pikiran Agamben, seakan keselamatan bisa dipisahkan dari kesehatan. Keduanya tak terpisahkan dan keduanya ada di dalam sejarah. Tak mungkinlah mencari keselamatan di luar sejarah. Bila harus ditemukan dalam sejarah, keselamatan harus ada bersama kesehatan.

 

Namun, berbicara mengenai keselamatan, tak mungkin melupakan kematian. Dengan kematian, keselamatan itu mencapai kesempurnaannya. Kematian dalam arti inilah yang dilupakan selama pandemi. Kematian seakan hanya disebabkan terinfeksi virus belaka. Maka, ritualnya boleh diabaikan juga. Inilah kiranya yang menyakitkan hati banyak keluarga yang ditinggal orang tercinta yang mati karena virus korona ini.

 

Politik yang tuli

 

Sudah lama kita mendesak kematian sebagai bukan bagian dari politik. Sekarang ganti politik yang didesak oleh kematian, sampai gelagapan. Politik jadi kehilangan jalan menghadapi kematian yang bertubi-tubi datang. Politik dipaksa untuk takut pada kematian.

 

Menurut Palaver, takut akan kematian jangan diartikan hanya negatif. Takut juga meliputi respek. Jika menaruh respek terhadap kematian, politik pun akan menghasilkan tindakan-tindakan yang bertanggung jawab.

 

Di hadapan kematian yang demikian mengancam selama pandemi ini, politik dipaksa untuk menyadari bahwa hidup itu ternyata demikian berarti. Maka dengan menghormati kematian, politik pun pasti akan menghormati kehidupan. Karena bukan kematian melainkan hanya hiduplah yang bisa memberi orientasi, maka politik harus mencari manakah orientasi baru yang sekarang diberikan oleh hidup ini. Jika politik malas mencari orientasi baru itu, bisa terjadi akan datang lagi bahaya yang akan menerkam kita dengan kematiannya.

 

Pertama-tama, orientasi baru hendaklah menghapus pandangan darwinisme sosial yang secara kasar bersemboyan: yang mati biarlah mati, yang hidup biarlah hidup. Pandangan ini jelas merelakan yang lemah sebagai korban demi yang kuat. Tragis, bahwa selama pandemi ini darwinisme sosial ini sempat mengemuka justru di beberapa negara maju.

 

Sekali lagi tampak, seperti ditunjukkan Agamben, itulah berhala dari liberalisme yang mengukuhkan hidup dan kesehatan sebagai satu-satunya tujuan. Terbuka pula kedok dari berhala itu, karena ternyata hidup dan kesehatan yang diperjuangkannya adalah hidup dan kesehatan dari mereka yang kuat. Yang lemah dibiarkan tak terlindungi.

 

Di balik darwinisme sosial itu tersembunyi logika kalkulatif yang kejam. Logika demikian bisa dengan dingin berkesimpulan: bolehlah satu orang mati, jika ribuan orang diselamatkan. Secara moral, logika ini tak bisa dipertanggungjawabkan. Tak dapat diterima, bahwa manusia boleh dikorbankan, bahkan seorang saja, demi keuntungan sekian banyak orang lainnya.

 

Orientasi baru itu kiranya juga perlu menjauhi prinsip modernitas, yang memandang manusia itu bernilai sejauh ia berguna. Menurut sosiolog Zygmunt Bauman, prinsip ini bisa berpendapat, bahwa akhirnya manusia hanyalah sampah, bila sudah tidak ada gunanya lagi.

 

Karena sudah tidak berguna lagi, ia boleh dikecualikan, bahkan dibuang seperti sampah. Maklum prinsip itu berpandangan, hidup akan nyaman, bila tidak terganggu oleh mereka yang hanya menjadi beban. Dalam bahasa Agamben, kaum terbuang itu adalah homo sacer.

 

Di zaman dulu, homo sacer adalah kaum yang dianggap tidak berguna dan boleh dikorbankan. Di zaman ini, homo sacer adalah mereka yang tak bisa dan tak berkapasitas untuk bisa ikut dalam tata aturan demokrasi zaman modern. Karena itu, bahkan demokrasi pun diam-diam menyingkirkan mereka.

 

Bauman memerincikan homo sacer itu sebagai mereka yang kehilangan pekerjaan, para penganggur, dan kaum terpinggirkan. Mereka ini sudah tidak dapat berproduksi lagi karena itu mereka terbelit dengan problem finansial. Akibatnya, mereka juga tidak bisa menjadi konsumen yang ideal.

 

Mereka ini kehilangan suaranya. Akibatnya, mereka pasti akan tercampakkan dari proses demokrasi. Demokrasi mengandaikan warga yang bisa mengurusi dan menentukan nasibnya sendiri. Sementara kaum ini justru harus diurusi karena tak bisa menentukan nasibnya sendiri. Maka, bila digampangkan, politik dengan mudah menganggap mereka pengganggu bagi demokrasi.

 

Banyak yang keliru dalam modernitas di zaman ini. Sudah lama orang tidak mau keluar dari kekeliruan itu. Dengan jeritan kematiannya, pandemi Covid-19 memaksa kita untuk meluruskan lagi jalan yang keliru itu. Jeritan ini tak boleh kita diamkan karena jeritan itu tidak hanya menggugat, tetapi juga memberi kesempatan bagi kita untuk memikirkan kembali kehidupan.

 

Jeritan itu meneriakkan kematian itu sakral. Bila kita rela untuk kembali mensakralkan kematian, kehidupan juga akan kita sucikan. Maksudnya, kematian menghendaki kita untuk tidak bermain-main dengan kehidupan dan menyempitkan kehidupan hanya sebagai kesehatan belaka. Kehidupan adalah keselamatan, bukan bagi diri kita sendiri, melainkan juga demi sekian banyak manusia lainnya.

 

Di negeri ini, pandemi juga telah mendekatkan kita pada kematian. Politik kita pun sempat dibuat bingung dalam menghadapi kematian itu. Sayangnya, politik kita seakan menutup telinga terhadap jeritannya. Pesan utama kematian, yakni kehidupan itu bernilai, maka hargailah kehidupan dan jadikan kehidupan itu keselamatan.

 

Kita lupa akan pesan kematian itu. Politik tetap kita dangkalkan dengan remeh temeh persoalan yang tak kunjung padam. Politik kita jadikan arena pertikaian, perebutan kebenaran, yang kita sajikan lewat hujatan dan kebohongan.

 

Hiruk-pikuk politik yang dangkal, menjemukan dan menjengkelkan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah yang ditinggalkan pandemi dan harus kita urusi: pengangguran, hilangnya kesempatan kerja, kemiskinan, dan sekian banyak warga yang mendadak terpinggirkan.

 

Demokrasi kita tak boleh mengabaikan warga yang tiba-tiba-tiba menjadi homo sacer itu. Sayangnya, demokrasi kita malah menjadi ajang para elite politik untuk berebut kekuasaan, dan mencari keamanan bagi dirinya sendiri. Elite itu menggembar-gemborkan antiliberalisme, tetapi sebenarnya mereka malah telah memeluk sikap liberal itu sendiri. Sikap liberal itu tak lain adalah kesombongan dan pamrih untuk mencari enaknya sendiri.

 

Rasanya, politik kita sungguh menyia-nyiakan jeritan kematian sekian banyak warga yang telah terenggut nyawanya karena pandemi ini. Kita seakan tidak berutang apa-apa pada mereka. Padahal, utang itu baru bisa kita bayar, bila kita mau menjalankan politik yang menghargai kehidupan. Dan itu kita baru benar-benar akan terwujudkan, bila politik mau membela dan memperjuangkan mereka yang hidupnya lemah dan terancam.

 

Orang Jawa mempunyai ajaran tentang mati sajroning urip, rela mati dalam hidup ini. Siapa mau mempraktikkan ajaran itu, ia akan menjadi arif dan bijak dalam kehidupan ini. Di sanalah kita diajar untuk tidak memutlakkan hidup kita sendiri,dan mau kehilangan sebagian hidup kita demi hidup orang lain. Pandemi telah mempertajam kebenaran ajaran itu. Bila mau peduli dengan kebenaran itu, politik kita pasti akan menjadi lebih arif dan bijaksana.

 

Sayang, politik kita tetap membandel dengan lagak-lagunya yang lama, seakan kematian di tengah pandemi ini tak menuntut apa-apa. Tak kelihatan sedikit pun manakah orientasi baru, yang harus kita temukan secara bersama-sama untuk menghadapi masa depan setelah pandemi mengancamkan kematiannya pada kita sekarang. Rupanya, politik kita juga tak juga mau menjadi arif kendati mendengar jeritan kematian di tengah pandemi ini. ●

 

Rabu, 20 November 2019

”Ambyar”

ETIKA POLITIK
”Ambyar”

Oleh :  SINDHUNATA

KOMPAS, 20 November 2019


Seribu kota sudah kulewati. Seribu hati sudah kutanyai. Tapi tak seorang pun mengerti, ke mana kau pergi. Bertahun-tahun aku mencari, belum kutemukan kau juga sampai hari ini. Seandainya kau sudah hidup bahagia, aku sungguh rela. Namun hanya satu permohonanku, aku ingin bertemu denganmu. Walau hanya sekejap mata, sekadar untuk obat rindu di dalam dada.

Senin, 06 November 2017

Hilangnya Semar

Hilangnya Semar
Sindhunata  ;   Pemimpin Majalah Basis, Yogyakarta;  Kurator Bentara Budaya
                                                    KOMPAS, 06 November 2017



                                                           
Tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dinilai telah memberikan tingkat kepuasan yang lumayan tinggi bagi masyarakat. Namun, sukses itu ternyata tidak serentak menghilangkan kegelisahan masyarakat. Tentu kegelisahan itu tidak disebabkan pertama-tama karena pemerintahan Presiden Jokowi, tetapi justru karena peluang-peluang demokrasi yang disalahgunakan secara tidak bertanggung jawab oleh sementara kalangan.

Itulah latar belakang bagi Bentara Budaya Yogyakarta dalam menjalankan program seni dan budayanya selama September-Oktober 2017, menyongsong tiga tahun pemerintahan Jokowi-Kalla. Programnya adalah pameran foto bertema Di mana Garuda dan pameran lukisan serta pentas kesenian berjudul Hilangnya Semar. Garuda, simbol kekayaan identitas bangsa, akhir-akhir ini seakan menghilang. Dalam pameran Di mana Garuda, para wartawan foto yang tergabung dalam Pewarta Foto Indonesia menampilkan karya yang menggambarkan bagaimana Garuda masih bisa ditemukan walau dalam ketersembunyiannya yang dalam.

Hilangnya Semar memperlihatkan keprihatinan serupa. Khusus di Jawa, Semar adalah simbol kebudayaan, identitas, dan pamomong, yang selalu mendampingi manusia dalam suka dukanya. Dengan Hilangnya Semar dilukiskan bagaimana dewasa ini kebudayaan, identitas, dan pamomong itu menghilang. Hilangnya Garuda dan Semar mengajak kita merenungkan kembali kegelisahan yang akhir-akhir ini terjadi. Pertama-tama, kendati banyak kemajuan, dewasa ini kita mudah merasa tidak terikat satu sama lain. Tiadanya keterikatan itu membuat hidup jadi kurang nyaman, tidak terjamin, dan kurang bahagia. Sebagian warga, lebih-lebih kelompok minoritas, malah merasa hidup dan keberadaannya kurang diterima. Seakan mereka bukanlah saudara se-Tanah Air dan sebangsa.

Sebagai tempat, Tanah Air itu ada dan menampung kita. Namun, karena di tempat itu kita tak lagi merasakan keintiman, keterikatan, kenyamanan, dan keamanan, kita seperti kehilangan Tanah Air. Tanah Air itu bagaikan ibu, tempat kita ingin selalu kembali dan rindu. Hilangnya Garuda dan Semar adalah simbolik ketika Tanah Air seperti tak lagi bisa menjadi ibu. Sekarang, kita mudah menjadi serba gelisah. Mungkin karena Semar sudah ditelan raksasa, seperti digambarkan dalam pameran seni di Bentara Budaya itu. Raksasa itu adalah globalisasi yang menelan bulat-bulat hidup kita, lebih-lebih kaum kita yang miskin dan terpinggirkan.

Bagi kaum yang terakhir ini, globalisasi bukanlah keuntungan, melainkan kerugian. Dalam keadaan belum siap, mereka sudah dipaksa masuk ke dalam globalisasi yang telah menjadi sivilisasi modern. Padahal, seperti dikatakan sosiolog Zygmunt Bauman, sivilisasi modern bukanlah jaminan manusia tak menjadi barbar, malah sivilisasi bisa juga menyebabkan kebarbaran. Hal itu terjadi karena andalan sivilisasi globalisasi adalah teknologi. Sementara, kata Bauman, dalam teknologi tersembunyi risiko “adhiaphorisasi”. Maksudnya, karena teknologi, manusia dijadikan indifferent, acuh tak acuh, tak peduli dan cuek dalam perilaku moralnya.

Teknologi membuat semuanya jadi netral. Akibatnya, keberadaan manusia pun bisa dianggap tak punya nilai istimewa. Karena itu, manusia bisa begitu saja ditiadakan. Globalisasi teknologi modern itu bisa menelan mentah-mentah Semar sebagai simbol wong cilik. Itulah kiranya barbarisasi teknologi zaman modern yang sedang melanda kita dewasa ini.

Teknologi yang netral terhadap nilai hidup manusia dengan mudah memperalat manusia untuk menjadi barbar. Tindakan barbar itu boleh kita lihat dengan paling jelas dalam kekejaman dan kebrutalan aksi-aksi terorisme. Dalam fenomena itu tampak bagaimana teknologi modern menggandeng fanatisme primitif untuk menjadi kekuatan superdestruktif terhadap kemanusiaan. Kita gelisah karena barbarisme teroris ini juga sudah mendatangi hidup kita. Dan, menyedihkan, karena lagi-lagi yang jadi alat dan diperalat adalah kaum miskin, kurang pendidikan, dan terpinggirkan oleh arus globalisasi.

Semar-semar palsu

Cuek dan tak peduli terhadap kemanusiaan akibat kemajuan teknologi itu memang telah melanda Tanah Air kita. Ibaratnya kita telah menjadi manusia batu. Hati kita membatu tak punya perasaan. Di hadapan manusia batu ini, seorang Semar, personifikasi kearifan dan kebijaksanaan, juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia memberi tahu dan menasihati, tetapi itu semua seperti angin berlalu buat manusia batu. Akhirnya Semar pun hilang, bukan karena ia memang mau menghilang, melainkan karena ia sudah tak lagi didengarkan dan dipedulikan. Kecuekan terhadap kemanusiaan itu menjadi paling terwujud dalam diri politikus kita. Mereka tak memandang rakyat dalam segala aspek manusianya yang utuh. Kemanusiaan rakyat disempitkan hanya pada emosi, naluri primordial, dan sentimen mayoritas serta agresi fanatisme keagamaan. Akal sehat, rasa kebersamaan, dan naluri toleransi dikesampingkan. Ini semua dijalankan oleh politikus semata-mata demi meraih kekuasaan, yang belum tentu membahagiakan rakyat.

Sementara rakyat sendiri memang belum terlalu matang dalam menyadari dan mengolah kemanusiaannya secara utuh. Maka, dengan mudah, mereka tersulut oleh provokasi politik yang membakar emosi, naluri primordial, supremasi mayoritas, serta agresi fanatisme keagamaannya. Kemanusiaan rakyat sungguh dimiskinkan oleh kepentingan kekuasaan para politikus. Dan, rakyat sebagai endapan kebijaksanaan, guru hidup berketetanggaan, gotong royong dan toleransi jadi menghilang. Itulah tragika yang ingin digambarkan dengan hilangnya Garuda dan Semar.

Politikus-politikus mengerjakan semuanya itu demi dan atas dasar kebebasan, yang diberikan oleh demokrasi. Namun, mereka menyalahpahami kebebasan. Kebebasan digunakan sebagai alat kekuasaan, bukan sebagai penyangga demokrasi. Demi alasan kebebasan, rakyat terus diprovokasi untuk menggunakan kebebasannya, dengan melebih-lebihkan bahwa rakyat berhak atas semuanya. Wacana kebebasan dipersempit menjadi “mana hakku” dan “bagaimana aku memperoleh hakku”.

Itulah yang oleh filsuf Axel Honneth disebut sebagai “patologi kebebasan”. Kebebasan demikian adalah patologis karena berakibat menyempitkan manusia hanya sebagai “orang yang berhak” dan melupakannya sebagai “manusia yang berkewajiban”. Memang apabila manusia hanya disempitkan pada haknya, ia akan menjadi patologis buat lingkungannya, tak peduli terhadap kesosialan, keterikatan, dan kewargaannya. Situasi ini menjadi makin patologis jika wacana kebebasan dibumbui dengan bahasa sentimen primordial yang bernada mengecualikan: “mana hakku sebagai pribumi” dan “bagaimana aku harus meraih hakku sebagai pribumi”.

Politikus penyalah guna kebebasan itu kini berkeliaran dalam jagat demokrasi kita. Mereka menarik karena pandai membungkus dirinya dengan pencitraan yang mudah diterima rakyat. Mereka memikat karena pandai menggunakan bahasa yang akrab dengan rakyat. Mereka itulah “semar-semar palsu” yang digambarkan oleh pameran seni Hilangnya Semar. Semar memang figur rakyat. Karena itu, dengan menjadi seperti Semar, mereka juga mudah diterima rakyat.

Semar-semar palsu itu pandai berkata bijak dan damai. Namun, kebijakan dan kedamaian itu hanyalah bungkus untuk menyembunyikan tindakannya yang suka menyulut pertentangan dan permusuhan. Mereka arif berkhotbah tentang kesederhanaan, tetapi dalam tindakannya mereka penumpuk harta dan koruptor. Mereka itulah “Semar Mroyek”, Semar yang bergelimangan uang karena proyek-proyeknya. Semar itu sesungguhnya dewa rupawan bernama Ismaya. Ketika ia mroyek, Ismaya pun meninggalkan dirinya. Semar hanya menjadi badan wadak belaka. Celakanya, kewadakan ini justru diterima dengan mudah karena dewasa ini banyak warga masyarakat sudah didangkalkan, diwadakkan dalam formalisme, ritualisme, dan materialisme semata-mata.

Semar-semar palsu itu adalah politikus-politikus bunglon. Dengan mudah mereka berganti wajah. Wajah atau kepala mereka bisa berganti-ganti, tetapi badannya tetaplah Semar. Dengan berbadan Semar, mereka tetap bisa diterima orang kebanyakan. Namun, sebenarnya mereka menipu karena kepala mereka bukanlah kepala Semar. Itulah lambang pribadi yang terbelah. Badannya proletar, tetapi kepalanya borjuis. Badannya “kiri”, tetapi kepalanya “kanan”. Badannya “timur”, tetapi kepalanya “barat”. Sesekali kepalanya “partai ini”, lain kali “partai itu”. Kepala kutu loncat ini tak merasa bersalah karena mereka yakin badannya tetaplah Semar yang merakyat. Mereka lupa rakyat lama-lama akan tahu bahwa mereka bukanlah pribadi politik yang berintegritas.

Banyak Semar palsu sekarang menjadi aktor politik demokrasi kita. Mereka merasa menegakkan demokrasi, tetapi sesungguhnya mereka ancaman yang bisa meruntuhkan demokrasi. Di banyak belahan dunia, akhir-akhir ini fakta politis memperlihatkan, demokrasi sungguh terancam jika pemerintahan dan jabatan kenegaraan jatuh di tangan politikus tak berintegritas yang mroyek dan korup. Parlemen juga diperlemah apabila anggotanya terpisah dari keprihatinan dan keinginan rakyat. Seperti yang terjadi pada kita, DPR merembuk dan memutuskan sesuatu, sementara rakyat di tempatnya sendiri dan dengan caranya sendiri sudah memutuskan dan menjalankan sesuatu yang berlawanan dengan rembukan dan putusan DPR. Itu dengan mudah terbaca dalam lalu lintas media sosial yang begitu kritis dan sinis terhadap kebijakan, langkah, dan kata-kata pejabat atau anggota DPR.

Keadaan demikian adalah tanda bahaya bagi demokrasi, tepatnya demokrasi representatif yang kita miliki. Soalnya, lama-lama rakyat tak percaya lagi kepada representasi wakil-wakilnya. Mereka merasa keprihatinannya tak disalurkan dengan baik oleh wakil-wakilnya. Kalau demikian, apa gunanya representasi mereka? Pertanyaan ini adalah cikal bakal bagi munculnya gerakan populisme. Populisme itu mudah marak di negara-negara demokrasi yang kuat, apalagi di negara yang baru belajar demokrasi seperti kita. Padahal, kita tahu, populisme itu bahaya bagi demokrasi karena, bagi mereka, perantara atau representasi sudah tidak relevan lagi. Mereka cenderung memangkas perwakilan itu. Jelas, ini bisa berakibat pada anarki, apalagi jika dalam situasi demikian muncul demagog-demagog populis yang pandai membakar nyala populisme itu.

Dari hal di atas benarlah adagium yang berkata, “demokrasi bisa mengubur dirinya sendiri”. Sebab, lawan dari demokrasi tak datang dari “luar”, tetapi dari “dalam” dirinya sendiri. Dan, lawan-lawan itu adalah aktor-aktor patologis demokrasi: politikus-politikus yang tak bertanggung jawab, korup, dan tak berintegritas. Dalam hal ini perlu kita ingat sejenak ejekan J Goebbels, demagog fasistis rezim Nazi. Kata Goebbels, “Inilah lelucon demokrasi: bagi musuh bebuyutannya, demokrasi menyediakan sendiri senjata yang digunakan untuk membunuh dirinya sendiri.”

Sengkuni tobat

Menghadapi tahun politik menjelang Pemilu dan Pilpres 2019, Presiden Jokowi kelihatannya meraba segala kegelisahan, kekhawatiran, dan bahaya di atas. Karenanya, Presiden meminta kita waspada dan tak membuat kegaduhan: “Masyarakat butuh ketenangan. Masyarakat perlu kesejukan. Masyarakat memerlukan pemimpin yang memberi semangat, syukur kalau bisa memberi inspirasi. Masyarakat perlu itu. Bukan malah membuat masyarakat khawatir” (Kompas, 20/10/17).

Sesungguhnya, seperti ditemukan para wartawan foto dan diungkapkan para seniman dalam pameran “Hilangnya Garuda dan Semar” itu, kegaduhan itu tak ada di tingkat bawah. Para wartawan menunjukkan, Garuda tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Garuda itu mewujud dalam kegembiraan anak-anak yang bermain dan optimistis akan masa depannya, dalam kegembiraan menyambut perayaan 17 Agustus, juga dalam perbuatan cinta kasih dan tolong-menolong yang amat biasa dan sederhana. Sementara beberapa seniman menggambarkan, Semar juga tidak hilang, kita bisa menemukannya asal kita mencari dia di tengah kehidupan yang sederhana. Ia tersenyum di pasar ikan, ia bekerja sebagai penyapu jalan, yang menyapu bukan dengan sapu lidi, melainkan sapu persatuan.

Rakyat biasa juga bisa mengambil hikmah justru dengan hilangnya Semar. Dalam pertunjukan wayang kulit untuk menutup pameran di Bentara Budaya, digelar lakon Ilange Semar. Diceritakan, hilangnya Semar membuat terang dan jelas mana yang baik dan mana yang jahat. Manusia tak bisa mengelak untuk diterangi cahaya terang itu. Bahkan, Patih Sengkuni, tokoh culas dan provokator kerusuhan yang ulung, tak bisa tidak harus mengakui kesalahannya. Ia tak bisa lagi menutupi kejahatannya. Ia tersiksa oleh kejahatan itu. Maka, ia ingin bertobat. Alasan pertobatannya bukan lagi moral, politik atau kekuasaan, melainkan kehidupan. Ia merasa sudah tua, tak boleh lagi ia meneruskan kejahatannya. Kalau tidak, bagaimana ia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya ketika mati nanti.

Sengkuni akhirnya bertobat. Mana ada Sengkuni bertobat? Ini sungguh melawan pakem wayang. Namun, malam itu lakon wayang Ilange Semar memang sengaja hendak dijadikan sindiran agar politikus kita juga mau bertobat, seperti Sengkuni. Memang, seluruh perbuatan politik pun tak bisa hanya dipertanggungjawabkan secara politik dan demi kekuasaan. Politik harus dipertanggungjawabkan juga terhadap kehidupan, yang mau tak mau harus berhadapan dan berakhir dengan kematian dan akhirat. Untuk itu, siapa pun perlu bertobat. ●

Kamis, 25 Mei 2017

Lirih Jeritan Alam

Lirih Jeritan Alam
Sindhunata ;   Wartawan;  Pemimpin Majalah Basis
                                                          KOMPAS, 24 Mei 2017




                                                           
Wir sind nur Gast auf Erden, kami hanyalah tamu di Bumi ini. Begitulah sebuah judul lagu religius klasik di Jerman. Lagu karangan penyair Georg Thurmair itu biasa dinyanyikan untuk mengiringi upacara penguburan. Tapi sebenarnya dalam lagu tersebut tersimpan rasa perlawanan terhadap rezim Nazi yang fasis: kita bukanlah penguasa, tapi hanyalah tamu di Bumi ini.

Kita hanyalah tamu di Bumi ini! Ini juga pernah disuarakan Surono, mantan Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana. Seperti pernah dituturkan kepada wartawan muda Regina Safitri (2015), Mbah Rono, panggilan akrab Surono, mengatakan, Bumi ada sejak 4,5 miliar tahun lalu, sedangkan manusia datang ke Bumi dalam hitungan ribuan tahun lalu. "Artinya, manusia hanyalah tamu dari Bumi ini." Itulah sebabnya, tambah Mbah Rono, dalam lagu Indonesia Raya ada kata-kata "hiduplah tanahku, hiduplah negeriku". Tanah mendahului negeri, artinya jika tanah didahulukan, negerinya akan makmur.

Sebagai tamu di Bumi ini, manusia haruslah hormat dan belajar pada Bumi sebagai tuan rumah. Dengan begitu, manusia dapat berlaku arif, sopan, bisa hidup harmonis dan beroleh kearifan lokal. "Kearifan lokal dibentuk dari budaya setempat, diturunkan oleh nenek moyang, maka harus dijaga. Jika dihayati, kearifan lokal pasti mengandung nilai-nilai yang baik bagi masyarakat," tutur Mbah Rono.

Kearifan lokal adalah inti budaya yang diberikan Bumi. Karena itu, sebenarnya budaya bukanlah semata-mata bikinan manusia, tapi juga anugerah Bumi terhadap manusia. Dan, karena Bumi di masing-masing tempatnya adalah khas, demikian pula budaya yang diberikannya juga khas, berbeda satu terhadap lainnya. Maka, meski sama-sama berada di Indonesia, bumi dan budaya Madura lain dengan bumi dan budaya Jawa, lain lagi dengan bumi dan budaya Sumatera, atau dengan Kalimatan, Sulawesi, dan Papua.

Indonesia membentang tepat di bawah garis khatulistiwa. Di sini matahari bersinar tiada tandingnya. Terangnya menjadikan hijau dan subur aneka ragam hayati, menjadi zamrud khatulistiwa. Menjadi lebih elok lagi, karena keragaman hayati itu juga memberikan keragaman budaya, yang indah dan khas pada diri masing-masing.

Bahwa kita tidak tahu, mengapa ada keragaman hayati itu, demikian juga kita tidak tahu mengapa ada keragaman budaya bersamaan dengan keragaman hayati itu. Di sini baik kita ingat kata-kata filsuf sejarah Oswald Spengler, alam itu ada dalam keindahan yang hidup seperti digambarkan oleh penyair Goethe, bukan mati seperti dalam rumusan prinsip-prinsip Newton. Lalu bersama alam itu tumbuhlah kultur sebagai bunga-bunganya. Kata Spengler, "Kultur tumbuh begitu saja, tak bisa ditentukan dan seakan tanpa tujuan, persis seperti bunga-bunga tumbuh di ladang-ladang."

Kita tak dapat mencegah bunga yang satu tumbuh berbeda dari bunga lainnya. Maka, kita juga tak dapat mencegah kultur yang satu tumbuh berbeda dari kultur lainnya. Menyeragamkan kultur tidaklah mungkin, setidak mungkinnya seperti kita menyeragamkan tumbuhnya bunga-bunga. Itulah kearifan budaya yang diberikan oleh keanekaragaman alami zamrud khatulistiwa bumi Indonesia ini.

Usaha menyeragamkan pastilah sia-sia karena kita akan berhadapan dengan alam Indonesia yang tak mungkin bisa dan mau diseragamkan. Atau kalau memaksakannya, dalam istilah Mbah Rono, "Kita hanya akan menjadi manusia yang tak beradab, kurang sopan, dan tak menghormati tata cara hidup sebagai tamu di hadapan bumi pertiwi Indonesia ini."

Dan, alam serta keragaman hayati budayanya pun takkan diam, bila ia diinjak-injak untuk diseragamkan, seperti terjadi belum lama ini. Protes alam ini menitik menjadi air mata, ketika baru-baru ini kita menangis karena mendengar di mana-mana warga menyanyikan lagu-lagu keindonesiaan.

Dalam lagu "Indonesia Raya", "Satu Nusa Satu Bangsa", "Rayuan Pulau Kelapa", "Indonesia Tanah Air Beta", alam Nusantara kita akui dan syukuri, kita puja, dan keragaman budayanya kita terima sebagai anugerah. Tapi sudah lama, alam itu kita khianati. Kita tak mampu lagi mendengar jeritannya. Hati kita yang penuh kepentingan ini terlalu keras untuk mendengar tangisnya. Maka, alam pun menyelinapkan tangisnya di mata kita, memaksa kita mengaku bahwa kita telah bersalah karena menyangkali keragaman kita. Mengapa tangis itu begitu mengharukan? Karena tangis itu bukanlah tangis kita, tetapi tangis kedahsyatan alam Indonesia yang sedang menjeritkan penderitaannya.

Sungai cinta

Pada dirinya alam adalah harmonis. Dan bila terganggu, alam selalu bisa mengembalikan keharmonisan dirinya. Maka, jika kita belajar pada alam, keharmonisan pula yang akan kita peroleh darinya. Ini misalnya terjadi dalam fenomena menyatunya Kali Opak dan Kali Progo menjadi Selokan Mataram di Yogyakarta pada 1981. Para sesepuh bumi Mataram percaya, suatu saat Kali Opak dan Kali Progo akan bersatu. Bila perkawinan itu terjadi, bumi Mataram akan makmur dan damai. Upaya "perkawinan" itu dikerjakan sejak zaman Belanda, dilanjutkan di zaman Jepang dan awal Republik Indonesia, tapi baru terwujud sepenuhnya pada 1981 dengan selesainya pembangunan Selokan Mataram. Karena Selokan Mataram, irigasi menjadi lebih lancar, sawah-sawah mendapat cukup air, dan pertanian menjadi lebih makmur.

Namun, menurut para sesepuh, perkawinan Kali Opak dan Kali Progro itu punya makna yang lebih daripada sekadar manfaat material belaka. Kata mereka, digali dari maknanya, Opak itu berkenaan dengan lakuning urip, perjalanan hidup. Sedangkan Progo berkenaan dengan sangkan paran, atau tujuan hidup. Perjalanan hidup ini harus mengarah ke satu tujuan, yaitu manunggal atau menjadi satu dengan tujuan hidup. Itulah yang dilambangkan dengan tempuk-nya atau kawinnya Kali Opak dan Kali Progo. Bila kemanunggalan itu terjadi, penduduk bumi Mataram akan hidup lebih harmonis, damai dan bahagia.

Kisah serupa ternyata terjadi juga di Nigeria. Di sana ada dua sungai, Sungai Benue yang airnya kehijau-hijauan, dan Sungai Niger yang airnya ke kuning-kuningan. Dua sungai itu berbeda sumbernya. Toh keduanya mengalir dan kemudian menjadi satu di Lokaja, sebelah selatan dari pusat Nigeria. Realitas alam ini menjadi inspirasi bagi Chidi Kwubiri, seorang seniman Nigeria, untuk menciptakan karya lukisnya. Dan ia memberi judul lukisannya: "Aku Ada, Karena Kamu Ada".

"Juga bila asal kita berbeda, dan kita mempunyai identitas yang berbeda-beda, kita tetaplah kita. Kita mengarah pada yang lain, dan berkata, aku ada, karena kamu ada," kata Kwubiri. Dalam karyanya dilukiskan dua figur manusia yang serupa. Hanya warna dan latar belakangnya berbeda. Yang satu kehijau-hijauan, dan yang lain kekuning-kuningan. Figur yang hijau meletakkan tangannya pada bahu figur yang kuning, dan tangannya menjadi kuning. Sedangkan figur yang kuning meletakkan tangannya pada bahu figur yang hijau dan tangannya menjadi hijau.

Kedua kontras warna itu menggambarkan batas yang memisahkan. Namun, batas itu ternyata bisa menjadi jembatan yang mempersatukan, bila manusia yang berbeda mau saling menyapa, berpandangan, dan meletakkan tangannya pada bahu satu sama lainnya. "Perjumpaan mereka yang saling berbeda akan menjadi kekuatan tak terkira, seperti kekuatan karena bersatunya dua kekuatan alam yang berbeda," kata Kwubiri.

Perjumpaan itu merobohkan batas yang memisahkan. Karena perjumpaan itu sesungguhnya adalah cinta. Lukisan Kwubiri itu seakan mengungkapkan puisi sufi agung Rumi, yang menyeru agar kita mau mengalahkan akal dengan cinta. Kata Rumi, akal bilang pada kita, arah-arah itu menunjukkan batas, yang adalah sebuah akhir, sementara cinta berkata, tidak, tak ada batas di sana, selalu ada jalan di sana, dan aku sering melaluinya.

Gila harta dan kuasa

Lukisan Kwubiri itu telah merekam ajaran alam tentang cinta. Tapi alam juga mengajari kita tentang derita. Inilah pesan dalam pameran perupa Budi Ubrux, berjudul "Rajakaya", di Taman Budaya Yogyakarta, 18-31 Mei 2017. Di sana Ubrux memasang sejumlah patung sapi, dan membuatnya jadi seperti pasar sapi. Di Jawa, bersama ayam, bebek, mentok, kambing, dan kerbau, sapi disebut rajakaya. Artinya, sapi adalah milik yang bisa memberikan kaya pada pemiliknya. Secara khusus, sapi disebut rewange wong tani, pembantu para petani. Orang di pedesaan Jawa juga percaya, sapi itu adalah ingon-ingone atau hewan piaraan Nabi Sulaiman, yang diserahkan pada petani untuk membantu mereka bekerja. Karena itu, sapi harus dirawat dan dihargai. Di beberapa desa Jawa Tengah, penduduk menjalankan amanah itu, misalnya dengan mengadakan selamatan atau lebaran sapi.

Akhir-akhir ini derajat sapi sebagai rajakaya sungguh turun. Berita-berita gencar mengeluhkan nasib peternak sapi lokal. Peternakan sapi lokal lesu dan terancam bangkrut. Mereka tak berdaya dalam bersaing dengan produk daging sapi impor. Celakanya, perdagangan daging sapi impor merupakan lahan subur bagi praktik korupsi. Tentu saja ini juga berakibat pada makin terpojoknya produk daging sapi lokal. Pemerintah kelihatannya belum serius mewaspadai kejadian ini, apalagi mengambil tindakan tegas untuk mengawasi peredaran daging impor. Jika dibiarkan, peternak sapi lokal terdemotivasi, dan kehilangan hasrat memelihara dan berdagang sapi (Kompas, 29/4/17).

Maka, perhatikanlah nasib sapi lokal itu! Kiranya, itulah pesan Ubrux lewat instalasi pasar sapinya. Ubrux tak membiarkan sapinya tinggal polosan. Ia melukisi sapinya dengan segala macam tanaman hasil bumi petani: cabai hijau dan merah, bawang putih, brambang, kol ungu, laos, kunir, jambu mete, pisang, pepaya, belimbing, bengkoang, kesemek, nanas, srikaya, ubi, ketela, jagung, padi. Segala kekayaan desa jadi kelihatan di atas tubuh sapi-sapi. Di tubuhnya juga kelihatan gambar perempuan-perempuan desa gembira menabuh lesung karena panenannya. Sapi itu jadi tampak sebagai pembawa pengharapan dan kegembiraan mereka.

Sesuai ciri khas lukisnya, Ubrux lalu membungkus kepala-kepala sapinya dengan cetakan koran. Segala simpang-siur berita harian koran yang memusingkan hidup menjadi bagian dari diri sapi itu. Ini jadi menimbulkan kesan, betapa berat "beban pikiran" yang harus ditanggung sapi-sapi itu dalam kepalanya. Berita tentang harga tak terkendali, dualisme pimpinan, dana yang tersampir di pusat, lintah darat dan tuan tanah yang tertangkap, sulitnya kredit pupuk, turunnya harga gabah, dan kenaikan harga kebutuhan pokok, semuanya itu tercetak di kepala sapi-sapi itu.

Lewat kepalanya yang terbungkus koran, sapi-sapi seakan ingin menyuarakan amanat penderitaan rakyat. Sementara sapi-sapi itu sendiri juga ingin bicara dan memperdengarkan nasibnya, bahwa sekarang ini mereka bukan lagi rajakaya, tetapi sekadar komoditas setaraf barang produksi belaka. Tragika sapi ini dipertajam lagi dengan instalasi berikut.

Ubrux memasang sepasang sapi, yang menarik mobil. Menghela cikar atau gerobak, itu adalah normal buat sapi. Tapi menghela mobil? Ini sungguh suatu keterlaluan. Apalagi mobil itu adalah mobil BMW. Mobil itu sudah punya mesin untuk bisa berjalan, mengapa mobil itu masih harus ditarik sapi? Kecepatan mobil itu puluhan kilometer per jamnya. Masihkah mobil ini harus meminta pertolongan sapi yang jika menarik gerobak paling-paling bisa hanya berjalan 2-3 kilometer per jam? Betapa teganya perbudakan modern itu.

Instalasi Ubrux ini tiba-tiba mengingatkan, sapi itu bukanlah sekadar sapi. Sapi itu adalah rakyat. Dari dulu sampai sekarang, rakyat itu harus terus menghela beban. Bahkan di zaman sekarang ini, rakyat juga masih harus menarik mereka yang kaya, agar mereka tetap bisa berleha-leha dan bersenang-senang dengan "kendaraan kemewahannya".

Sapi-sapi rakyat itu bukan hanya menarik ambisi gila harta para penguasa dan mereka yang kaya, tapi juga harus menghela ambisi gila kuasa politik mereka. Sapi-sapi itu dijadikan budak penghela kereta politik mereka. Jika terlalu diam, sapi-sapi itu dicambuki dengan pecut-pecut provokasi, kalau perlu dengan menghalalkan kekerasan. Para penguasa politik itu menjanjikan kebebasan. Namun diam-diam, menyiksa sapi-sapi itu menjadi ciptaan ternista yang tanpa kebebasan.

Waktu itu, 3 Januari 1889, Friedrich Nietzsche keluar dari pondokannya, mau pergi berjalan-jalan. Saat-saat itu ia sedang berada dalam gangguan jiwa yang sudah akut. Ia pergi menuju Plazza Carlo Alberto di kota Turin. Di sana ia melihat, bagaimana kusir dengan amat brutal memecuti kuda penarik keretanya. Nietzsche menangis, dan dengan meratap ia memeluk kuda itu penuh iba.

Tak tahu apa yang terjadi pada saat itu. Mungkin ia melihat segalanya jadi sia-sia. Sepanjang hidupnya ia terbayang-bayang akan "manusia super", manusia yang mengatasi kepicikan, keterbatasannya, manusia yang tidak seharusnya kalah dengan Tuhan yang membatasinya. Sekarang dengan melihat penderitaan binatang berupa kuda itu, semuanya rontok, semuanya seakan percuma. Sia-sialah pencapaiannya, sia-sialah kidung Übermensch dan Zarathustra-nya. Melihat kuda yang menderita itu, Nietzsche menangis, memeluknya, dan kemudian rebah. Ia telah menjadi sungguh-sungguh gila.

Di Pasar Sapi Ubrux ini, kita melihat bahwa sepasang sapi kelelahan menarik mobil BMW mewah. Sungguh sebuah pemandangan gila. Ironi itu membuat kita bertanya: jangan-jangan hidup ini sudah menjadi gila, sampai para penguasa dan mereka yang kaya membuat tindakan demikian tidak masuk akal, memaksa sapi menghela kereta gila harta dan kereta gila kuasa politik mereka? Kita merasa, sapi-sapi itu bukan lagi sapi, tapi alam bumi Indonesia yang sedang menjeritkan nasib rakyat kecil yang menderita. ●

Minggu, 13 Maret 2016

Saat Bulan dan Matahari Asyik Bermadu

Saat Bulan dan Matahari Asyik Bermadu

Sindhunata ;   Wartawan; Penanggung Jawab Majalah Basis Yogyakarta;
Kurator Bentara Budaya
                                                       KOMPAS, 12 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Gerhana adalah fenomena keindahan alam. Karena itu, para perupa yang hidupnya bergelut dengan keindahan tak ingin ketinggalan menangkap fenomena itu dalam kanvas mereka. Beberapa karya mereka dapat dinikmati dalam pameran berjudul Kala Rahu di Bentara Budaya Yogyakarta, 11-20 Maret ini.

Kita mengalami pagi dan malam sebagai kejadian biasa setiap hari. Karena biasa, kita jadi lupa bahwa sesungguhnya keduanya adalah hal luar biasa yang dianugerahkan Sang Pencipta. Gerhana matahari membuat pagi tidak lagi biasa dan kita dibuatnya jadi kagum akan keindahan karunia semesta. Diah Yulianti menggambarkan gerhana matahari sebagai remang-remang yang hening dan sunyi, yang bukan cahaya fajar atau senja. Remang-remang itu adalah suasana persujudan, di mana manusia berada dalam situasi yang tak dimengertinya. Mereka tertelan ke dalam misteri dan tak tahu harus berbuat apa, kecuali sujud dan menyembah kebesaranNya.

Seakan bukan kebetulan, gerhana matahari kali ini jatuh bersamaan dengan perayaan umat Hindu, Saka 1938, hari raya Nyepi, yang mengajak manusia masuk ke dalam keheningan diri. Dalam suasana hening dan sepi itu, I Made Palguna menggambarkan bukan hanya matahari, bulan juga merupakan misteri. Bulan hanyalah kecil, tetapi kali ini bulan mampu menutupi matahari yang besar hingga gelaplah sebagian wilayah bumi. Maka gerhana matahari juga mengundang kita untuk mengagumi kebesaran bulan. Tanpa bulan tiada gerhana matahari. Kita diajak merenungkan kembali tentang perlunya malam bagi siang, seperti perlunya bulan bagi matahari. Tataplah bulan dan di sana akan kita melihat ada makhluk seperti lelaki dan wanita, ikan-ikan, dan cahaya terang. Di bulan pun ternyata ada kehidupan.

Putu Sutawijaya menggambarkan matahari itu sebagai lelaki, yang kuat dan gagah, mengendap-endap mencari bulan. Ketika bulan ditemukan, suasana pun menjadi gelap seketika. Bumi harus mau mengalah, ia harus merelakan pagi menjadi sejenak malam karena di sana matahari dan bulan sedang asyik terbenam dalam persanggamaan. Bumi harus rela untuk sejenak ditinggalkan terang agar raja siang dan ratu malam, dua penguasa jagad raya itu, dapat asyik berpadu di gelapnya malam.

Inilah kisah gerhana di Tanah Jawa. Waktu itu para dewa di kahyangan sedang meminum tirta amerta, air kehidupan. Tanpa sepengetahuan mereka, menyusuplah di sana Kala Rahu, asura, yang berupa raksasa. Ulahnya ini ketahuan oleh Batara Surya, dewa matahari, dan Batara Candra, dewa bulan. Keduanya berteriak sehingga membuat para dewa tersadar akan kehadiran Kala Rahu. Batara Wisnu segera memanahkan senjata cakranya, menebas leher Kala Rahu. Panah itu terlambat karena Kala Rahu sudah telanjur menenggak air kehidupan sampai di lehernya. Maka, hanya badan Kala Rahu yang mati dan jatuh ke bumi, sementara kepalanya tetap hidup selamanya. Kala Rahu menaruh dendam terhadap Batara Surya dan Batara Candra dan ingin selalu menelan mereka. Setiap kesempatan pelampiasan dendamnya itu tiba, terjadilah di dunia ini gerhana matahari atau gerhana bulan.

Jadi, gerhana matahari terjadi karena Kala Rahu, "raksasa menakutkan" itu. Karena itu, Hermanu melukiskan datangnya gerhana sebagai pratanda bahwa alam akan bergejolak. Badai, hujan petir menyambar-nyambar, dan tanah longsor. Bahkan, gerhana itu adalah prawarta bakal terjadi huru-hura. Karena itu, gerhana mengingatkan agar manusia janganlah terlena. Kala Rahu bukan sekadar raksasa yang menelan matahari, melainkan kekuatan tak kelihatan yang terus berusaha untuk menggelapkan hidup kita dan menjerumuskan kita ke dalam kekacauan dan kegelapan. Tidakkah "gerhana kegelapan hidup" itu juga sedang terjadi dalam hidup sosial kita sekarang ini? Kegelapan yang membuat kita kehilangan arah, saling menubruk, dan membuat kita membabi buta mempertahankan kepentingan diri kita sendiri. Untuk itu, mungkin kita diingatkan akan kedatangan Kala Rahu dengan gerhananya sekarang ini.

Bergerak cepat

Subandi Giyanto menggambarkan Kala Rahu itu bergerak cepat, bahkan lebih cepat dari gerak senjata cakra Batara Wisnu yang hendak mematikannya. Maksudnya, sejenak saja kita terlena, kegelapan akan menelan kita. Tampaknya itulah yang kini terjadi di negeri ini. Kekuatan gelap itu demikian berkuasa di antara kita dan kekuatan baik terlambat atau tak sanggup lagi menghadapinya. Maka, keserakahan, ketamakan, dan kerakusan merajalela di mana-mana. Hilanglah segala rasa malu, hilang pula tata tepa selira dalam hidup bernegara. Kekuatan gelap itu menyusup ke mana saja, juga ke dalam tubuh agama, dan menjadikan orang-orang beragama berperilaku dalam kemunafikan dan kekerasannya. Sejenak saja kegelapan itu melanda kita, tak dapat lagi kita mengendalikannya. Itulah kekuatan Kala Rahu yang menjadikan gerhana. Maka, seharusnya kita waspada terhadap "sejenaknya gelap" yang melanda kita.

Kala Rahu adalah ibarat bagi kuasa gelap yang mau menelan apa saja di bumi ini. Maka, Kala Rahu juga bisa "terjelma" dalam diri orang-orang berdasi. Itu yang digambarkan oleh Gunawan Bonaventura. Karena diliputi kuasa gelap, orang-orang berdasi ini bisa menelan apa saja, emas, batubara, kelapa sawit, minyak, palawija, padi, sapi, unggas, dan sebagainya. Dengan memukul lesung, Kala Rahu bisa diusir. Akan tetapi, tak semudah itu mengusir kuasa gelap yang meliputi orang-orang berdasi itu. Mereka tak takut akan suara apa pun. Jangankan suara kentungan dan kendang, suara rakyat pun tak mereka dengar. Telinga mereka sudah tuli akan sinyal bahwa bahaya kegelapan sedang melanda negeri ini. Mereka terus menguntal "matahari kekayaan rakyat ini". Orang-orang berdasi itulah gerhana mengerikan bagi negeri ini.

Demikianlah gerhana adalah saat paling tepat untuk mengajak kita menjadi eling lan waspada. Itulah yang ingin dikatakan oleh Waljiono dengan patung Mbilungnya. Mbilung, gambaran rakyat jelata, menjalankan semadi gerhana. Dengan semadinya, ia tidak ingin menjadi sakti atau hebat. Ia hanya ingin pasrah kepada "kekuatan" yang tak dapat dikuasainya. Ia ingin semeleh dan sujud kepada matahari pada saat gerhana. Justru dengan sujud dan semadi seperti ini, matahari berkenan menyerahkan diri kepadanya dan tinggal di telapak tangannya. Inilah simbol bagi persatuan manusia dengan alam semesta.

Dan akhirnya, Herjaka mengingatkan kita, setelah gerhana, pasar menjadi ramai seperti semula. Irama hidup berjalan seperti irama matahari. Tak ada sesuatu yang istimewa di muka bumi, seperti matahari pun tak merasa istimewa ketika memberikan cahayanya kepada manusia setiap hari. Sejauh pasar ramai berkumandang, matahari pun setia bersinar terang. ●