Tampilkan postingan dengan label Capres 2014 Harapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Capres 2014 Harapan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 September 2013

Capres yang Layak Dipilih

Capres yang Layak Dipilih
Jeffrie Geovanie  ;   Founder The Indonesian Institute
SINAR HARAPAN, 20 September 2013


Untuk apa menjadi calon presiden? Pertanyaan standar yang mungkin akan diremehkan jika diajukan kepada para capres yang kini sudah go public, sudah berkampanye ke seantero negeri. Mereka menganggap pertanyaan ini sebagai basa-basi yang tak perlu dijawab.

Tapi bagi rakyat, pertanyaan ini sungguh penting untuk diketahui jawabannya agar saat di bilik suara untuk menentukan pilihan, mereka tak salah memilih. Rakyat tak mau memilih seseorang yang ingin menjadi presiden sekadar untuk gagah-gagahan, atau sekadar mengejar gengsi dan jabatan tinggi.

Untuk sebagian pemilih yang benar-benar peduli dengan masa depan bangsanya, memilih calon presiden bisa menjadi momentum untuk merealisasikan cita-cita hidupnya, melalui seorang pemimpin yang akan dipilihnya, yang dibayangkannya seperti Ratu Adil.

Bagi mereka yang benar-benar peduli, kejelasan ideologi, visi, misi, dan strategi seorang capres konstruktif bagi kemajuan bangsa dan negaranya menjadi sangat penting. Dengan pertimbangan itu, tentu mereka tahu mana capres yang layak mereka pilih.

Bagi sebagian lain, bisa jadi memilih calon presiden adalah kesempatan mendapatkan keuntungan materi (uang) sebanyak-banyaknya. Mereka menerapkan prinsip yang sangat pragmatis, ada uang ada pilihan. Siapa yang memberi lebih banyak, dialah yang akan dipilih.

Salahkah mereka yang memilih karena pertimbangan pragmatis? Tentu. Tapi rasanya kurang bijaksana juga kalau kita hanya menyalahkan. Keberadaan mereka bisa kita jadikan bahan renungan, bahan refleksi dan introspeksi.

Bisa jadi, munculnya pragmatisme semacam ini merupakan refleksi ketidakpercayaan publik terhadap pemilu dan siapa pun yang akan mereka pilih. Berulang kali mengikuti pemilu tak berdampak sedikit pun pada perbaikan nasib mereka. Presiden boleh silih berganti, nasib mereka tak pernah berubah.

Pragmatisme juga bisa muncul karena banyak capres yang terbiasa mengumbar janji, menebar iming-iming yang tak pernah ditepati. Para capres ini merujuk pada pepatah lama, bagaikan menanam tebu di bibir. Tutur katanya manis, mulutnya penuh gula, tapi tindakannya bagai ular berbisa. Mereka itulah yang berkontribusi besar pada tumbuhnya apatis publik terhadap pemilu.

Apa pun penyebabnya, apatisme publik pada pemilu harus diminimalisasi. Mungkin akan sangat baik jika semua capres kembali menegaskan tujuannya menjadi capres, disertai paparan visi, misi, dan strategi yang akan diterapkan untuk meraih tujuan yang akan dicapainya. Kedengarannya memang klise, tapi ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan dan keyakinan.

Biar Publik Menilai

Menurut saya, tujuan paling ideal menjadi capres adalah merealisasikan cita-cita kemerdekaan republik sebagaimana tertuang dalam pembukaan (preambule) UUD 1945. Yakni untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Setelah semua capres menegaskan tujuannya masing-masing, biarlah publik yang menilai, capres mana yang paling layak mereka pilih. Tentu mereka akan mencermati dengan teliti, mana di antara capres itu yang menyampaikan tujuan hanya basa-basi, dengan penuh kesungguhan, atau yang benar-benar dari hati.

Salah satu indikator yang mereka gunakan adalah melihat perilakunya sehari-hari, kata-katanya, serta kepeduliannya pada lingkungan sekitar, pada kehidupan orang-orang miskin, dan pada kebhinekaan yang menjadi penopang kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka teliti bukan dalam waktu sekejap, dari sepanjang yang mereka tahu dengan melacak rekam jejaknya masing-masing.

Dengan demikian, capres yang layak dipilih adalah, pertama, yang peduli pada nasib rakyat, pada kebersamaan, dan pada setiap upaya yang dilakukan untuk kemajuan masyarakatnya. Capres yang mampu memadukan kata dan perbuatannya. Kepeduliannya pada masyarakat tidak dibuat-buat. Pembelaannya pada bangsa dan negara sudah melekat dari masa ke masa.

Kedua, yang biasa hidup apa adanya, tidak merasa hidup sederhana secara tiba-tiba, yang kedekatannya pada rakyat tidak dibalut dengan beraneka citra, tapi benar-benar nyata, tidak hanya secara fisik, tapi secara aspiratif yang bisa dilihat dan dirasakan manfaatnya.

Ketiga, yang mumpuni, yang punya rekam jejak prestasi yang bisa diukur, bisa dirasakan secara merata tanpa diskriminasi. Tindakan-tindakannya manusiawi tanpa mengabaikan aspek ketegasan. Ia tahu kapan harus bersikap lunak dan kapan harus bertindak tegas.


Penekanan ciri-ciri capres yang layak dipilih ini penting agar kita, dan semua orang yang masih waras, tidak salah pilih, tidak terkecoh janji manis capres yang tiba-tiba peduli, tiba-tiba banyak memberi sumbangan, dan tiba-tiba mengaku banyak berbuat nyata untuk rakyat. Dari rekam jejaknya kita tahu, mana yang sejati, dan mana yang basa-basi. ●

Sabtu, 30 Maret 2013

Capres yang Memberi Harapan


Capres yang Memberi Harapan
Jeffrie Geovanie ;  Founder The Indonesian Institute
KORAN SINDO, 30 Maret 2013


Meskipun pemilihan umum (pemilu) masih pada tahap penetapan partai-partai yang berhak menjadi peserta, namun beberapa calon presiden sudah bermunculan, dengan menawarkan citra dan program yang beragam. 

Semuanya mencoba dengan berbagai cara untuk menarik kita sebagai pemilih agar tertarik dan memilihnya kelak pada saat berada di bilik suara. Untuk menghindari kemungkinan “memilih kucing dalam karung”, kita sudah harus mulai mengenal lebih dalam para capres yang melacak track record-nya satu persatu agar kelak kita tak salah pilih. Salah mengambil keputusan dalam hitungan menit di bilik suara, akibat buruknya akan kita rasakan paling tidak lima tahun lamanya. 

Kita masih punya banyak waktu untuk memilih mana di antara capres-capres yang sudah bermunculan itu, yang kita anggap lebih baik dari yang lain. Untuk mengharapkan yang terbaik saya kira belum ada, jadi cukuplah dengan kriteria “dianggap lebih baik”. Kriteria yang masih sangat moderat dan tentu saja masih terbuka peluang untuk mencari lain yang lebih baik. 

Di tengah kondisi sosial yang belum beranjak maju dengan segenap rakyat yang sebagian berada di ambang putus asa, kita benar-benar membutuhkan seorang pemimpin yang mampu memberikan harapan, bukan pemimpin yang justru membebani rakyatnya dengan keluhan-kesah dan kekhawatiran- kekhawatiran tanpa alasan. Sejatinya, bangsa ini sudah menyimpan banyak inspirasi, terutama dari para pendahulu kita, para pejuang kemerdekaan atau para founding fathers. 

Mereka dengan ketulusan puncak, mengorbankan apa pun yang dimilikinya semata-mata untuk kemajuan bangsa. Tak ada pamrih dengan mengharapkan gaji, apalagi memperkaya diri dengan korupsi. Merekalah pemimpin sejati. Pemimpin yang tampil apa adanya, namun berjuang dengan apa pun yang dimilikinya. Jangankan pikiran dan harta, bahkan nyawa pun siap dikorbankan kapan saja. 

Pada saat ibu pertiwi meminta, semua akan memberikan segalanya. Merekalah pemimpin yang mampu memberikan inspirasi dan semangat. Para founding fathers telah melakukan tugas itu dengan sangat baik sehingga apa yang mereka cita-citakan bisa terwujud dan kita nikmati hingga saat ini. Merekalah pemimpin yang baik, yang membangkitkan inspirasi, memberikan harapan. 

Selain para founding fathers, kita juga punya banyak teladan dari negara-negara lain. Mengapa, misalnya, rakyat Amerika kembali memilih Barack Obama sebagai presiden padahal pada satu periode sebelumnya masih relatif belum mampu memperbaiki kondisi perekonomian Paman Sam yang terpuruk ? Jawabannya, karena presiden yang masa kecilnya pernah tinggal dan memperoleh pendidikan dasar di Jakarta ini mampu membangkitkan inspirasi dan selalu memberikan harapan. 

Mengapa jutaan rakyat Venezuela menangis meratapi kepergian Hugo Chaves? Karena pemimpin dari negeri kaya minyak di Amerika Latin ini pada masa hidupnya mampu memberikan semangat, inspirasi, dan harapan kepada segenap rakyatnya. Mengapa di negeri ini, kita masih menyaksikan sebagaian rakyat kehilangan harapan, putus asa hingga kabarnya kasus bunuh diri pun terus meningkat? Penyebab utamanya, karena para pemimpin kita saat ini tidak mampu membangkitkan inspirasi, apalagi harapan. 

Para pemimpin kita pada umumnya gagal memberikan harapan karena mereka hanya pandai memberikan janji-janji yang tidak bisa ditepati. Maka sebagian besar rakyat bukannya terinspirasi malah antipati. Pemimpin yang baik tampil bagaikan matahari yang menjadi sumber segala macam energi yang dibutuhkan semua makhluk hidup di muka bumi. Yang setia memberi cahaya saat jutaan atau bahkan miliaran umat manusia di seluruh dunia membutuhkan penerangan untuk bekerja memenuhi kehidupan mereka. 

Uniknya, meskipun semua makhluk membutuhkannya, matahari tetaplah matahari yang tahu kapan saatnya terbit, kapan saatnya tenggelam. Meskipun tenggelam, matahari tetap memberikan harapan, karena esok hari, ia akan terbit kembali dengan membawa semangat baru yang lebih baik lagi. Harapan, kata Rhonda Byrne –penulis buku best seller, The Secret— adalah daya tarik yang sangat kuat yang mampu menarik segalanya pada diri Anda. 

Maka, manusia tanpa harapan pada hakikatnya telah mati sebelum nyawa terlepas dari raganya. Saat ini, kita membutuhkan capres yang mampu memberikan harapan, mengajak rakyatnya percaya akan hari esok yang lebih baik, Indonesia yang makmur dan berkeadilan sebagaimana tertuang pada tujuan dari kemerdekaan kita. 

Kita tidak butuh capres yang hanya pandai menjual diri, membuangbuang harta kekayaan sekadar untuk iklan, untuk pencitraan. Kita butuh capres sejati, yakni capres yang mampu meneladani para founding fathers, yang tampil di hadapan rakyat apa adanya, namun siap mengorbankan apa pun yang dimilikinya saat rakyat membutuhkannya.  ●