Tampilkan postingan dengan label Ilham Kadir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilham Kadir. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2015

Pendidikan Jiwa Menurut Rasulullah

                        Pendidikan Jiwa Menurut Rasulullah

Ilham Kadir  ;   Peneliti MIUMI;
Mahasiswa Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor
KORAN SINDO,  03 Januari 2015

                                                                                                                       


Selain ekonomi dan politik, pendidikan adalah bagian yang tak terpisahkan dalam hidup manusia, karena itu pula selalu hangat untuk dijadikan topik bahasan dalam berbagai arena. Tema-tema diskusi tentang pendidikan pun terus berkembang dan selalu menawarkan ragam formula mutakhir.

Memang, kejayaan sebuah bangsa sangat terkait dengan pendidikan. Jika pendidikannya maju, maju jayalah bangsanya, jika pendidikannya hancur-hancuran, demikian pula keadaan suatu bangsa. Buktinya, begitu banyak negara yang kaya-raya sumber daya alamnya, tetapi tetap tengkurap dalam kemiskinan disebabkan pendidikannya yang tidak tepat atau salah menyusun formulasi yang tertuang dalam kebijakan pendidikan nasionalnya.

Contoh konkretnya adalah Indonesia, apa yang kurang pada negara ini? Alamnya memendam kekayaan migas yang melimpah, penduduknya yang bersuku dan berbangsa nan kaya khazanah budaya, dan keindahan marga satwanya tak ada duanya. Namun sebaliknya dengan taraf hidup penduduknya, mayoritas dalam kemiskinan dan berdiam di tempat kumuh.

Benarlah kata pepatah, ayam mati di lumbung padi, itik tenggelam di kolam air. Saksikan pula negara tetangga yang terdekat, Singapura. Negara itu tidak terlihat dalam peta dunia, tapi namanya mengalahkan negara sebesar Indonesia. Alamnya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Indonesia.

Hanya seonggok pulau yang berisi tanah bebatuan dan sedikit pasir, bahkan sumber air minum pun tidak ada dan terpaksa harus memasok dari negeri jiran, Malaysia dan Indonesia. Namun negara itu justru jauh lebih maju daripada Indonesia. Kabarnya, kemajuan dari sisi pendidikan saja sudah meninggalkan Indonesia lima generasi ke depan.

Dari segi ragawi, tujuan pendidikan adalah untuk menjaga kelangsungan hidup umat manusia dengan mengajarkan pada setiap generasi cara bertahan hidup dengan memenuhi kebutuhan asasinya. Pendidikan akan mengajarkan bagaimana bercocok tanam, membangun teknologi, mengatur negara, menjaga agama dan sejenisnya.

Tapi, sisi lain pendidikan, terutama yang berhubungan dengan jiwa manusia, juga penting yang tidak bisa diabaikan sehingga sifat-sifat tercela pada diri manusia dapat direduksi atau diminimalkan. Begitu banyaknya masalah yang terjadi di negara ini tidak bisa dilepaskan dari hasil pendidikan yang selama ini dianggap penuh dengan masalah dan kepentingan golongan tertentu.

Tindakan tercela yang dilakukan masyarakat umum seperti pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, pencurian, penjambretan masih terus terjadi. Adapun golongan terdidik seperti pelajar dan mahasiswa kerap melakukan tawuran, demo anarkistis hingga perbuatan asusila berupa pornografi dan pronoaksi.

Demikian pula orang-orang terhormat dari anggota dewan, jaksa, hakim, politisi, kepala daerah hingga menteri tak luput dari kasus korupsi yang menggerogoti uang negara dan mengakibatkan bangsa berada dalam kemiskinan dan kenistaan.
Tiga Tahap

Salah satu fungsi diutusnya Nabi Muhammad kepada seluruh umat manusia adalah agar menjadi suri teladan (uswatun hasanah) dalam berbagai aspek, tak terkecuali dalam pendidikan.

Fungsi Nabi sebagai pendidik dipertegas dalam Alquran, “Sebagaimana kami telah mengutus kepadamu Rasul (Muhammad) dari kalangan kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan jiwa kamu dan mengajarkan kitab dan hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui (QS Al-Baqarah: 151).”

Rasulullah, selain mengajarkan ayat-ayat dalam bentuk tekstual sebagaimana yang tertuang dalam kitab suci, juga mengajarkan ayat kontekstual berupa hamparan bumi, langit, dan segenap isinya, semua itu adalah bagian dari kurikulum pendidikan sang Nabi kepada segenap umat manusia. Ada pula bentuk hikmat yang juga tertuang dalam sila keempat Pancasila “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan”.

Hikmat dalam pandangan Alquran adalah kebaikan yang banyak, “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang dia kehendaki. Barangsiapa yang diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak, (QS Al- Baqarah: 269).” Namun roh pendidikan Nabi yang berbasis wahyu adalah pendidikan jiwa atau dengan nama lain penyucian jiwa (tazkiatun-nafs ), inilah inti dan tujuan utama sebuah pendidikan.

Dapat dimengerti, karena manusia memiliki dua unsur utama jiwa dan raga, pendidikan yang mengutamakan fisik dan material hanyalah menyentuh dimensi raga saja, belum pada aspek jiwanya. Jiwa adalah fitrah dan pada hakikatnya manusia terlahir dalam keadaan fitrah nan suci; keluarga, alam, dan lingkungan yang akan mengubahnya menjadi manusia curang, pendusta, penipu, dan tidak amanah.

Maka pendidikan akan berfungsi mengembalikan manusia pada fitrahnya. Allah pun mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan. Maka beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan merugilah orang yang mengotorinya. Setidaknya ada tiga pendidikan jiwa yang telah digagas dan dipraktikkan Rasulullah.

Pertama, tahkliyah, sebuah proses mengosongkan jiwa dari segala ajakan hawa nafsu dari kecenderungan yang dapat menjerumuskan diri dari perbuatan yang diharamkan Allah, terangkum dalam dua fitnah, subhat dan syahwat. Pertama merupakan bentuk kesamaran yang ditiup oleh setan ke dalam hati manusia agar mereka senantiasa berada dalam keragu-raguan.

Subhat juga beragam, ada subhat syirik, nifak, dan bidbidah. Adapun yang kedua merupakan insting yang dengannya jiwa menyukai sesuatu dan cenderung kepadanya. Syahwat mencakup berahi, rakus, syahwat kekuasaan, syahwat politik, kikir, boros, dusta, dengki, dendam, marah, sombong, bangga diri, pamer, berpikir keterlaluan, terlampau sedih, terlalu senang, malas, dan putus asa.

Kedua, tahliyah. Setelah selesai melakukan pengosongan diri dari cengkeraman hawa nafsu, tahap berikutnya adalah pengisian jiwa oleh sifat-sifat terpuji (mahmudah). Kebiasaan lama yang buruk telah ditinggal dan ditanggalkan lalu diganti dengan kebiasaan baru yang baik, sehingga tercipta kepribadian yang baru.

Inilah tahliyah sesungguhnya yang merupakan proses penghiasan jiwa dengan amal saleh. Ibnul Jauzi, sebagaimana ditulis Ahkmad Alim dalam Tafsir Pendidikan Islam, 2014, menyebut bahwa jiwa harus diisi dengan bertahap, yaitu mujahadah (perjuangan), muhasabah (introspeksi), tafakur (merenungi keagungan Tuhan), takut kepada Allah (khauf), selalu mengharap (raja’), dan puncak dari semua proses itu adalah cinta yang tertinggi hanya pada Allah (mahabbatullah).

Ketiga, tahqiq atau aktualisasi sikap. Setelah melalui proses pertama dan kedua (takhliyah dan tahliyah), tahapan selanjutnya adalah tahqiq ubudiyah. Tahqiq bermakna aplikasi (muthabaqah), kesesuaian (muwafaqah), dan penerapan (itsbat ) permurnian (tashfiyah ), sementara ubudiyah adalah bentuk pengabdian seorang hamba pada Allah semata dengan mengerjakan apa yang dicintai-Nya dalam bentuk ucapan, perbuatan, baik lahir maupun batin.

Maka yang dimaksud tahqiq ubudiyah adalah suatu proses untuk mengaktualisasikan dari nilai ibadah yang dikerjakan untuk kemudian dipraktikkan dalam prilaku hidup sehari-hari sebagai bentuk pengabdian pada Tuhan. Proses ini pula dalam pandangan Ibnul Jauzi sebagai proses pengejawantahan dari ilmu dan amal menuju manusia yang menghambakan diri hanya kepada Allah.

Maka pendidikan jiwa dapat diartikan sebagai, an ya’lama annallaha ta’ala ma’ahu haitsu kana. Mengetahui bahwa Allah selalu bersamanya di mana dan kapan pun berada. Atau sebuah upaya untuk menyucikan jiwa dari berbagai kecenderungan buruk dan dosa, kemudian menghiasinya dengan amal saleh dan sifatsifat terpuji agar selalu tunduk dan patuh pada Allah.

Begitulah pendidikan jiwa ala Rasulullah yang sangat layak menjadi pertimbangan untuk diikuti segenap rakyat Indonesia, lebihkhusus pengikut Rasulullah yang hari ini merupakan hari kelahirannya (12 Rabiul Awal 1436 H) atau lazimnya disebut “hari maulid”.
Akan lebih sempurna jika maulid kali ini menjadi momentum untuk meneladani beliau dari segi pendidikan jiwa agar jiwa-jiwa rakyat Indonesia sehat, bukannya “sakit jiwa” lantaran masalah kian datang silih berganti akibat kebijakan orang-orang yang tidak mempertimbangkan aspek kejiwaan para rakyatnya. Dan untuk para pendidik hendaklah mendidik sepenuh jiwa agar peserta didik pun menimba ilmu tidak separuh jiwa. Wallahu a’lam !  ●

Rabu, 28 Mei 2014

Isra Mikraj di Tahun Politik

Isra Mikraj di Tahun Politik

Ilham Kadir  ;   Pengurus KPPSI Pusat, Ketua Lembaga Penelitian MIUMI Sulsel
KORAN SINDO,  27 Mei 2014
                                               
                                                                                         
                                                      
Ditinjau dari segi bahasa, lafaz Isra berakar dari kata, asra’-yusri’- Isra , berarti perjalanan di malam hari. Dari sudut morfologi, Isra berakar dari kata ‘sara’, atau berjalan. Misalnya, Man sara ‘ala al-darbi washala .

Siapa yang berjalan pada jalannya, akan sampai tujuan. Namun, penggunaan diksi dalam bahasa Arab tidak bisa sembarangan, kata ‘berjalan’ memiliki banyak makna, tergantung setting waktunya. Kata, ghadara, untuk berangkat di pagi hari, raha , untuk sore hari, dan sara di malam hari. Dalam segala suasana, dapat dipakai kata masya, zahaba, dan inthalaqa. Dalam bahasa Indonesia, semua bermakna sama, bepergian atau perjalanan.

Perbedaan-perbedaan itu hanya dapat diketahui bagi mereka yang memiliki ‘dzauq‘ bahasa Arab yang dalam. Karena itu, siapa pun yang hendak memahami Alquran dan As-Sunnah secara sempurna harus memiliki dzauq . Itu semua dapat dimiliki dengan telaten mendalami ilmu-ilmu bahasa Arab yang meliputi, Nahwu, Sharaf, Bayan, Badi’, Ma’ani (Balaghah), hingga ‘Arudh, wal-Qafiyah.

Dari segi istilah, Isra adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad dari Masjidilharam Mekkah ke Masjidilaqsha Yerusalem dilakukan pada malam hari yang diperkirakan jatuh pada tanggal 27 Rajab. Mikraj, dari segi bahasa, adalah tangga naik. Asal katanya, ‘araja-ya’ruju-mi’araja-ya’rujumiraj, disebut juga sebagai ismul-alah, atau nama alat yang dipakai untuk naik. Secara istilah, bermakna naiknya Rasulullah bersama Malaikat Jibril dari Baitul Maqdis Yerusalem ke langit teratas, Sidratul Muntaha , menerima langsung perintah salat dari Allah.  

Dalam perjalanan spiritual tersebut, baik Isra maupun Mikraj terdapat banyak kejadian yang disampaikan Nabi sendiri, layak menjadi pelajaran bagi umat Islam. Apa saja itu? Kita lihat. Ibnu Hisyam, sebagaimana dikutip oleh Haekal dalam Hayatu Muhammad (1972) menceritakan riwayat perjalanan Nabi dalam peristiwa Mikraj, di langit pertama, setelah berjumpa dengan Nabi Adam, Rasul berkisah; Kemudian kulihat orang-orang bermoncong seperti moncong unta, tangan mereka memegang segumpal api seperti batu-batu, lalu dilemparkan ke dalam mulut merekahinggakeluarmelaluidubur.

Aku bertanya, siapa mereka itu, Jibril? Mereka yang memakanhartaanakyatimsecara tidak sah, jawab Jibril. Kemudian–lanjut Nabi–kulihat orang-orang dengan perut yang belum pernah kulihat, dengan cara keluarga Firaun menyeberangi mereka seperti unta terkena penyakit di kepalanya, tatkala dibawa ke dalam api.

Mereka diinjak-injak dan tak dapat beranjak dari tempat. Aku bertanya, siapa mereka itu, Jibril? Mereka itu tukang-tukang riba, jawabnya. Kemudian kulihat orangorang di hadapan mereka ada daging yang empuk dan baik, di sampingnya ada pula daging yang buruk dan busuk. Mereka makan yang buruk dan busuk dan meninggalkan yang empuk dan baik. Siapakah mereka itu, Jibril? Tanya Nabi.

Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan wanita yang dihalalkan Tuhan (istri) dan mencari wanita-wanita yang diharamkan, jawabnya. Kemudian, aku melihat wanita-wanita yang digantungkan pada buah dadanya. Lalu aku bertanya, siapakah mereka itu Jibril? Mereka itu wanita yang memasukkan bukan dari keluarga mereka (selingkuh). Lalu aku–lanjut Nabi–dibawa ke surga.

Di sana kulihat seorang budak perempuan, bibirnya merah. Kutanya dia, kepunyaan siapakah Engkau? Nabi sangat tertarik melihatnya, Aku kepunyaan Zaid bin Haritsa, jawabnya. Nabi pun memberi selamat kepada Zaid. Setelah menerima perintah salat sambil menyaksikan peristiwa- peristiwa menakjubkan di atas, Nabi pun turun ke bumi, menyampaikan apa yang dialami, diperintahkan, dan disaksikan oleh dirinya sendiri, dalam durasi satu malam. 

Ketika peristiwa besar itu disampaikan pada kaumnya di Masjidilharam, ia pun dikerumuni segenap penduduk Mekkah. Semua yang hadir menyangsikan. Sederhana saja alasannya, perjalanan pulang-pergi Mekkah-Baitul Maqdis dengan normal adalah dua bulan. Bagaimana mungkin Muhammad menempuh dalam durasi satu malam? Tidak sedikit yang sudah memeluk Islam, lalu kembali murtad, dan mendatangi Abu Bakar, memberi keterangan tentang berita heboh yang dibawa Muhammad.

Kalian berdusta, kata Abu Bakar. Sungguh, dia sekarang di masjid sedang berbicara dengan orang banyak, jawab si pembawa berita. Kalaupun itu yang dikatakan, pasti dia bicara yang benar, dia mengatakan padaku, ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, di waktu siang atau malam. Aku percaya, ini lebih dari yang kamu herankan, kata Abu bakar.

Ia lalu mendatangi Nabi, mendengarkan mendeskripsikan suasana Baitul Maqdis. Abu Bakar, sudah pernah berkunjung ke kota itu dan tahu persis gambaran masjid tersebut. Selesai Nabi berbicara, Abu Bakar berkata, Rasulullah, saya percaya! Sejak saat itu Nabi memanggil Abu Bakar dengan gelar ‘Ash-Shiddiq’.

Paparan di atas mengantarkan kita pada beberapa kesimpulan: bahaya riba, awas korupsi harta anak yatim, penyakit sosial meliputi selingkuh dan perzinaan, ketaatan pada Rasulullah dengan cara mencintai pada diri pribadi dan selalu terdepan dalam membenarkan sabda dan ajarannya. Lalu apa relasinya dengan tahun politik? Kita liat.

Melakukan kezaliman dengan menjarah hak anak yatim, piatu, fakir, miskin, dan anakanak terlantar adalah fenomena umum di negeri ini. Hakhak mereka terabaikan, keberpihakan pemerintah pada golongan mustad’afin belum terlihat serius. Sesekali disambangi jika ada udang di balik batu, terutama pada saat-saat pilkada atau pemilu.

Peristiwa Isra Mikraj mengajarkan agar tidak mengabaikan hak anak yatimpiatu, mendidik mereka sampai mampu berdikari. Ini adalah bagian dari tugas pemerintah dan orang-orang yang dikaruniai kelebihan rezeki dan ilmu. Dari sudut ekonomi, ribawi adalah sistem yang sedang dipraktikkan bangsa Ini. Keuangan syariah hanya mendapat sekitar 5% pangsa pasar dari total nasabah yang ada di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, selebihnya masih konvensional dan penuh unsur riba.

Itu artinya, riba telah menjadi denyut nadi perekonomian di Indonesia. Kurangnya perhatian pemerintah pada keuangan syariah menjadi salah satu penyebabnya, di samping rendahnya pemahaman masyarakat terkait bahaya riba. Kendati riba bertingkat-tingkat, namun setidaknya ada dua jenis riba yang harus dihindari, yaitu adanya unsur zhulm, atau kezaliman, dan adh’afan mudha’afan, bunga yang berlipat ganda.

Konsep zhulm dalam masalah utangpiutang kerap mendera nasabah bank pada umumnya, betapa tidak, orang yang mengagunkan rumahnya, jika telah jatuh tempo, tanpa tenggang rasa mengusir si pemilik rumah tanpa mau tahu alasannya, setali tiga uang dengan konsep ‘berlipat ganda’. Lihatlah mereka yang kredit rumah di bank, jika berjalan tahunan, maka nominal uang dikembalikan akan berlipat ganda.

Tidak jauh beda dengan rentenir. Sedangkan, problem lain, yang cukup rumit ialah mewabahnya penyakit selingkuh. Fenomena selingkuh telah menjadi kebiasaan umum. Bahkan seorang artis tenar, dengan bangganya menyatakan kehamilannya di depan umum akibat perbuatan zinanya dari lelaki yang bukan suaminya.

Demikian pula, seorang pengacara sekaligus selebritas dengan bangganya menggandeng istri orang lain di depan umum, tanpa merasa berdosa. Pesan Isra Mikraj, bahwa perbuatan selingkuh akan mendatangkan siksa di hari kemudian dapat menjadi renungan untuk segenap penghuni bumi, lebih khusus bangsa Indonesia, tak ada ajaran dan peraturan mana pun yang melegalkan perselingkuhan, hewan sejenis tarsius saja sangat setia pada pasangannya.

Problem kepemimpinan juga menjadi masalah besar umat Islam dan lebih khusus bangsa Indonesia. Tidak adanya hubungan harmonis antara pemimpin dan rakyat. Pemimpin seakan dilepas bebas untuk melakukan kebijakan tanpa bijaksana, lalu bertentangan dengan keinginan dan kebutuhan rakyat.

Isra Mikraj yang bertepatan dengan tahun politik kali ini, sebagai momentum memilih pemimpin yang dapat mewujudkan cita-cita bangsa yang mandiri, bebas riba, jujur dalam perbuatan dan perkataan, mereduksi maksiat, dan memuliakan para anak yatim, fakir miskin, dan rakyat jelata dengan menyediakan penghidupan lebih layak. Itulah pemimpin Indonesia hebat dambaan umat harapan bangsa. Wallahu A’lam!

Kamis, 25 April 2013

Kartini Versus Aisyah Tenriolle


Kartini Versus Aisyah Tenriolle
Ilham Kadir ; Peneliti LPPI Indonesia Timur
KORAN SINDO, 24 April 2013



Saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya pernah mengajukan pertanyaan kepada guru sejarah tentang kedudukan Kartini sebagai pahlawan nasional. Sang guru menerangkan dengan sempurna bahwa RA Kartini adalah pelopor pejuang emansipasi wanita. 

Seandainya beliau tidak memperjuangkan wanita supaya memiliki hak sama dengan kaum pria, niscaya wanita Indonesia tidak akan bisa maju dan bersaing. Karena masih tidak puas dengan jawaban Pak Guru, saya kembali mengajukan pertanyaan pada Ibu saya di rumah yang juga terbiasa membaca buku-buku sejarah. Namun jawaban orang tua saya tidak jauh beda dengan sang guru tadi. 

Intinya, “Ibu Kita Kartini”, sebagaimana yang tertuang dalam lagu—adalah satu-satunya pelopor perjuangan wanita pribumi pada masanya. Jawaban guru dan orang tua saya tentu menjadi ‘kredo’ dalam benak saya dan mungkin masyarakat Indonesia secara umum. Karena memang demikian yang termaktub dalam buku- buku sejarah kita. Pikiranpikiran Kartini diketahui melalui surat-suratnya tentang kondisi sosial pada masanya, terutama kondisi perempuan pribumi. 

Sebagian besar suratsuratnya berisi keluhan dan gugatan, khusus menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar seperti kaum pria.Raden Adjeng Kartini biasa juga disebut Raden Ayu Kartini, lahir di Jepara Jawa Tengah, 21 April 1879, dan meninggal di Rembang, 17 September 1904 pada umur 25 tahun. 

Pergulatan intelektualnya bermula ketika berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, aktivis gerakan ‘Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP)’. Wanita berbangsa Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini dengan berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme seperti HH van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai ‘Pendekar Wanita Indonesia’. 

Pada 1911, enam tahun lebih setelah kematian Kartini, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul ‘Door Duisternis tot Lich’. Lalu terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan tema ‘Letters of a Navaness Princess’. Beberapa tahun kemudian terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, 1922’. 

Sekitar dua tahun setelah penerbitan buku di atas, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Pada 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan Kartini serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. 

Saat itu orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri dalam masa kehidupannya hampir tidak ada yang mengenal dan mungkin tidak akan mengenal Kartini, bila orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan, maupun tindakan-tindakan mereka, (Dr. Adian Husaini, Pendidikan Islam, Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab, 2012). 

Kartini Digugat 

Pada 1970-an, di saat rezim Orde Baru mencengkeram dengan kuat, seorang guru besar dari Universitas Indonesia Prof Dr Hasja W Bachtiar menggugat penokohan Kartini. Bahkan, dia lebih jauh mengkritik ‘pengultusan’ Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia sebuah pemikiran yang langka dan dianggap aneh saat itu. Dalam buku, “Satu Abad Kartini, 1879-1979”, Hasja W Bachtiar menulis sebuah artikel bertajuk, “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. 

Guru besar yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University Amerika itu menulis, “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orangorang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.” Tidak hanya menggugat dan mempertanyakan penokohan dan pengultusan Kartini, Prof Hasja juga memberikan contoh wanita Indonesia yang lebih layak ditokohkan dan diangkat menjadi pahlawan ketimbang Kartini yang sumbangsihnya terhadap perjuangan kaum perempuan masih sebatas ide dalam surat. 

Salah satu wanita yang sangat ideal dijadikan ikon perjuangan kaum perempuan di Indonesia adalah Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Siti Aisyah We Tenriolle adalah Datu (Ratu) dari Tanette Sulawesi Selatan. Memerintah di Kerajaan Tanette pada 1855- 1910. Dia menjabat sebagai ratu selama limapuluh lima tahun. Ayahnya bernama La Tunampareq alias To Apatorang dengan gelar Arung Ujung. Sedangkan ibunya bernama Colliq Poedjie yang bergelar Arung Pancana. 

Bersama ibundanya yang intelek dan mengurusi pengarsipan dokumen-dokumen raja, Aisyah menyelami sastra-sastra Bugis kuno, terutama mahakarya dan epik terpanjang dalam dunia tulis-menulis, La Galigo. Kerajaan Tanette merupakan kerajaan Islam. Pengaruh Islam melekat sangat kuat sebagaimana di kerajaan lainnya, seperti Kerajaan Goa, Tallo, dan Bone. 

Meski demikian, semasa La Rumpang menjabat menjadi Raja, beliau tidak menutup diri dari kebudayaan lain yang masuk. Di masa pemerintahannya, La Rumpang menjalin persahabatan cukup baik dengan BF Matthes dan Ida Pfeiffer. BF Matthes adalah peneliti dari Belanda yang dikirim ke Hindia Belanda dari perwakilan Nederlandsch Bijbelgenootschaap (Lembaga dari Belanda yang mengurusi masalah kitab-kitab). Lewat kedatangan Matthes pada 1853 inilah La Galigo berhasil digali kembali dan diterjemahkan. 

Sedangkan Ida Pfeiffer adalah orang Austria yang melakukan perjalanan keliling dunia dan menyempatkan diri singgah di Tanette. Kecerdasan dan kecakapan Aisyah terlihat semasa dia menjadi ratu. Tidak hanya cerdas di bidang kesusastraan, tapi juga bidang pemerintahan dan bi-dang pendidikan. Aisyah berhasil mendirikan sekolah bagi rakyat. Sekolah tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi laki-laki, tetapi juga perempuan. 

Meski kurikulumnya masih sangat sederhana, hanya membaca, menulis, dan berhitung, tapi pada masa itu tergolong sudah sangat hebat. Karena pada masa itu anak perempuan tidak bersekolah. Aisyah adalah tokoh yang pertama kali mendirikan sekolah yang menerima murid putra dan putri dalam satu kelas. Dia berhasil mewujudkan kesetaraan hak pendidikan bagi laki-laki dan perempuan jauh sebelum Kartini dilahirkan. 

Aisyah menginginkan rakyatnya melek pendidikan, tidak terkecuali perempuan. Di bidang pemerintahan Aisyah menerapkan konsep Pau- Pauna Sehek Maradang (lima tuntunan Hikayat Syekh Maradang). Hikayat tersebut menyebutkan bahwa kewajiban pemimpin itu ada lima, yaitu pertama, orang yang pintar adalah orang yang memikirkan bagaimana menciptakan kesejahteraan suatu negeri. 

Kedua, orang kaya adalah memiliki harta benda dan mendermakan kekayaannya untuk membangun negerinya. Ketiga,orang pemberani adalah mereka yang dapat melindungi rakyatnya. Keempat, wali merupakan orang yang dimuliakan Allah. Lalu yang terakhir fakir, orang yang doanya diterima Allah. Aisyah sangat mencintai dunia sastra. Melalui kekuasaannya, dia berhasil mengumpulkan naskah-naskah tua La Galigo yang terserak di beberapa kerajaan, yaitu Goa, Tallo, dan Bone. 

Dia dan ibunya mengumpulkan naskah tersebut selama duapuluh tahun. Bersama BF Matthess, peneliti asal Belanda, mereka tekun menyelamatkan naskah tersebut. Tetapi diperkirakan baru sepertiga dari naskah keseluruhan yang berhasil diselamatkan. Aisyah menerjemahkan ke dalam bahasa Bugis, lalu Mathess menerjemahkan ke bahasa Belanda dari hasil suntingan Aisyah. 

Oleh Matthes terjemahan ke dalam Bahasa Belanda ini kemudian diserahkan kepada Pemerintah Kerajaan Belanda lewat Nederlandsch Bijbelgenootschaap dan diabadikan di Perpustakaan Universitas Leiden. Karya La Galigo bisa mencuat ke dunia internasional berkat jasa Siti Aisyah we Tenriolle, Colliq Poedjie, dan BF Matthes. Aisyah memiliki peran paling dominan. Karena dialah yang menguasai sastra Bugis kuno sekaligus kekuasaannya yang sangat kuat sebagai ratu. 

Aisyah adalah wanita hebat, tetapi sangat disayangkan bangsa Indonesia kurang menghargai lebih khusus orang Sulawesi. Ironisnya dalam buku “Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia: 1978”, terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani), nama Aisyah sama sekali tidak pernah tersentuh. Jika Kartini hanya menuangkan ide dalam surat-surat, Aisyah We Tenriolle telah berbuat banyak untuk memajukan kaum wanita dan pria, dan meninggalkan jejak tak terhingga oleh peradaban dunia. 

Kini tugas kita adalah meluruskan sejarah yang didistorsi para penjahat sejarah, mari berbuat adil terhadap para pahlawan dengan menempatkan mereka pada posisi semestinya. Di era yang terbuka dan otonomi seperti ini, selayaknya orang Sulawesi mengangkat tokoh-tokoh seperti Aisyah untuk dijadikan suri teladan pada generasi penerus. Wallahu a’lam! 

Jumat, 26 Oktober 2012

Nabi Ibrahim Menurut Kitab Samawi


Nabi Ibrahim Menurut Kitab Samawi
Ilham Kadir ; Peneliti LPPI Indonesia Timur, Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar
SINDO, 26 Oktober 2012



Setiap kali bulan Zulhijah tiba, atau bulan ke-12 dalam hitungan kalender Hijriah, umat Islam di penjuru dunia kerap membicarakan salah seorang sosok yang mendapat mandat dari Allah sebagai nabi dan rasul. 

Beliau adalah Ibrahim ‘alaihi as-salam(AS). Sosok yang kita bicarakan ini, bukan saja dibahas dalam kitab suci Alquran yang diwahyukan kepada nabi dan rasul terakhir, Muhammad SAW,namun juga telah banyak dibahas dari segenap kitab samawi. Kitab-kitab suci yang ajarannya bersumber dari langit atau sama’,seperti Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud, Taurat kepada Nabi Musa,dan Injil untuk Nabi Isa. 

Ibrahim bin Azzar bin Tahur bin Sarush bin Ra’uf bin Falish bin Tabir bin Shaleh bin Arfakhsad bin Syam bin Nuh dilahirkan di sebuah tempat bernama Faddam,A’ram, yang terletak di dalam kawasan kerajaan Babilonia sekitar tahun 2.295 SM.Kerajaan Babilonia waktu itu diperintah oleh seorang raja yang bengis dan mempunyai kekuasaan absolut lagi zalim yang bernama Namrudz bin Kan’aan. 

Ibrahim dianggap sebagai salah satu nabi ulul azmi. Dari keturunannya, beliau memiliki dua putra yang juga diangkat sebagai nabi dan rasul, yaitu Ismail dan Ishak. Dari kedua putranya inilah kelak muncul nabi-nabi. Dari garis keturunan Nabi Ismail lahir nabi akhir zaman, Muhammad SAW. Sedangkan melalui mata rantai keturunan Nabi Ishak, terlahir Nabi Yakub (Israil), Yusuf,dan Isa as. 

Pada masa Nabi Ibrahim, kebanyakan rakyat di Mesopotamia beragama politeisme, yaitu menyembah lebih dari satu Tuhan dan menganut paganisme. Dewa Bulan atau Sin merupakan salah satu berhala yang paling penting. Bintang, bulan, dan matahari menjadi objek utama penyembahan.Karena itu, astronomi merupakan ilmu yang sangat penting. 

Dalam Kitab Kejadian dan Alquran diceritakan tentang proses pencarian kebenaran yang dilakukan oleh Ibrahim. Pada waktu malam yang gelap, beliau melihat sebuah bintang bersinar-sinar, lalu ia berkata. “Inikah Tuhanku?”Kemudian apabila bintang itu terbenam, ia kembali berkata,“Aku tidak suka kepada yang terbenam [hilang]”. 

Kemudian apabila dilihatnya bulan terbit, lalu memancarkan cahayanya, dia pun berkata, “Inikah Tuhanku?” Maka setelah bulan itu terbenam, berkatalah dia, “Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, niscaya menjadilah aku dari kaum yang sesat”. Kemudian apabila dia melihat matahari sedang terbit, lalu memancarkan cahaya, dia berkata, “Inikah Tuhanku? Ini lebih besar”. 

Namun setelah matahari terbenam, dia berkata.“ Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri (bersih) dari apa yang kamu sekutukan (Allah dengannya)”. Pencarian kebenaran yang dilakukan Ibrahim di atas merupakan daya logika yang dianugerahi kepadanya dalam menolak kepercayaan penyembahan berhala yang diyakini kaumnya, serta menerima Tuhan pencipta bumi, langit, dan isinya. 

Setelah imannya begitu mantap dengan keesaan Allah, Ibrahim memulai dakwahnya dengan mengajak manusia yang paling dekat padanya, yaitu orang tuanya sendiri, Aazar.Namun, sang ayah yang berprofesi sebagai idol creator itu tidak mau menerima ajakan anaknya, dan menganggapnya sebagai anak durhaka. Puncak dari amarah Aazar adalah ketika mengusir putranya dari tempat tinggalnya. 

Inilah senjata pamungkas orang tua sebagai pertanda bahwa hubungan anak dan bapak benar-benar kritis. Gagal mengajak ayahnya untuk bertauhid (monoteis), tidak membuat semangat dakwah Ibrahim surut.Kali ini mencoba berdakwah pada sang raja, Namrudz bin Kan’aan. Setali tiga uang, raja zalim lagi tiran itu menolak dakwah, bahkan mereka berkolaborasi untuk menghabisi Ibrahim, dengan melemparkannya ke dalam api unggun yang menyala- nyala.Namun dengan kehendak Allah, api yang panas itu berubah menjadi dingin. Dan, Ibrahim pun selamat dari maut. 

Rute Minyak Wangi 

Sadar akan ketidakkuasaannya mengajak orang terdekat dan raja, serta segenap kaumnya untuk berpaham monoteis (la ilaha illallah), Ibrahim mulai gusar akan kelanjutan dakwah yang harus terus bersambung. Dalam Kitab Kejadian (Genesis) diceritakan bahwa Ibrahim tidak memiliki anak dan sudah pupus harapan untuk memilikinya. Saat itu Sarah, istrinya, telah berumur 76 tahun, dan Ibrahim telah berusia 85 tahun.

Umur yang telah lanjut untuk mengharap kehadiran seorang anak pelanjut generasi. Sarah juga sadar akan hal itu. Untuk itulah, ia mengizinkan suaminya menikah dengan wanita yang lebih fresh, yaitu Hajar. Seorang budak cantik asal Mesir. Sebagai manusia normal,perasaan cemburu dari istri pertama terhadap istri kedua kerap muncul, sehingga Hajar sering merasa sedih. 

Suatu ketika—sebagaimana dituturkan Kitab Kejadian— malaikat datang menghibur Sarah. “Berbahagilah, kamu akan diberi anak,namailah Ismail karena Tuhan telah mendengar penderitaanmu!” Hajar lalu menjumpai Ibrahim untuk menyampaikan pesan malaikat itu.Ketika Hajar melahirkan seorang putra, Ibrahim lalu menamainya “Ismail” yang bermakna “Tuhan telah mendengar”. 

Ketika Ibrahim berusia 100 tahun dan Sarah 91 tahun,Tuhan berfirman kepada Ibrahim dengan menjanjikan kehadiran seorang putra dari Sarah yang harus dinamai Ishak. Setelah Ishak lahir, Sarah meminta kepada suaminya agar madunya itu keluar dari rumahnya dan mencari tempat tinggal lain. Maka Allah menuntun kedua hambanya itu, meninggalkan Kota Babilonia menuju sebuah lembah di bagian selatan Kan’aan dengan 40 hari perjalanan menggunakan kendaraan unta. 

Rute ini padat lalu lintas kafilah dengan sebutan “rute minyak wangi” karena dilewati parfum, kemenyan, kayu gaharu, dan barang-barang lain yang dibawa dari Arab Selatan menuju Mediterania. Kisah ini ada dua versi, Genesis menyebut bahwa hanya Sarah dan si kecil Ismail yang berangkat mengikuti para kabilah itu.Namun dalam Alquran, Ibrahim turut mengantar anak dan istrinya, lalu meninggalkan mereka di sebuah lembah gersang nan tandus. 

Dilukiskan bahwa semua sisinya dikelilingi bukit kecuali tiga bagian. Sebelah selatan, utara, dan satu sisi terbentang ke Laut Merah, 40 mil ke arah barat. Lembah itu dulunya bernama Bakkah,dan kini dinamai Makkah. Si kecil Ismail, dan ibunya, Hajar,ditinggal di lembah yang tandus itu oleh Ibrahim.Ketika Ismail kehausan, dan air susu ibunya pun telah mengering, maka Sarah berusaha mencari bantuan. 

Namun tak seorang pun yang terlihat.Ia berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali, di saat putus hendak putus asa, sebuah keajaiban terjadi. Air terpancar dari tumit Ismail. Kelak, air ajaib itu dinamai “zamzam”. Rute Hajar bolak-balik berlari- lari kecil mencari bantuan itulah menjadi salah satu rukun dalam ibadah haji, yang dinamakan thawaf atau berkeliling sebanyak tujuh kali sebagaimana yang telah dilakukan Hajar. 

Bertahun-tahun kemudian, tempat ini telah ramai disinggahi oleh para kafilah “rute minyak wangi” berkat air ajaib itu.Sarah dan putranya menjadi penjaga sekaligus pemilik sumur itu, mereka mendapatkan upah dari para kafilah,dan masyarakat yang mulai menetap di lembah Bakkah.Zamzam itu telah menjadi sumber kehidupan banyak orang. 

Saat Ismail telah tumbuh menjadiremaja,sangayahmuncul dengan membawa perintah dari langit lewat mimpi agar segera menyembelihnya. Ismail menyetujuinya.Namun ketika proses penyembelihan itu berlangsung, Allah menggantikannya dengan seekor domba.Peristiwa penyembelihan ini diabadikan oleh umat Islam di seluruh dunia, di mana saja berada dalam ritual kurban. 

Dan pada lembah yang tandus inilah, Ibrahim dan Ismail membangun Kakbah sebagai tempat beribadah bagi keturunannya, dan menjadi simbol pemersatu umat Islam yang terlahir dari ajaran anak-cucu Ibrahim dari Ismail melalui Nabi Besar Muhammad. 

Saat ini setidaknya 1,5 juta umat Islam datang menyambut seruan Allah, menyaksikan tandatanda kebesaran-Nya, dan mengenang perjuangan Ibrahim, Hajar, Ismail,dan Muhammad SAW. Wallahu A’lam!