Senin, 23 Mei 2016

Misteri Pemimpin Politik

Misteri Pemimpin Politik

M Alfan Alfian ;   Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Jakarta
                                                    KORAN SINDO, 20 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam beberapa hari belakangan kita membaca berbagai peristiwa kepemimpinan politik. Di Filipina Rodrigo Duterte (71 tahun) personalitasnya mengalahkan yang lain dalam kontestasi presiden.

Di Brasil, Presiden Dilma Rousseff (69 tahun) di ambang kejatuhannya di mana Senat sudah memutuskan memberhentikan sementara. Di Inggris, Sadiq Khan (45 tahun) terpilih sebagai wali kota muslim pertama kali Kota London. Di Amerika Serikat (AS) mengemuka fenomena calon presiden dari Partai Republik Donald Trump (70 tahun) yang kerap berkatakata vulgar dan kontroversial.

Apa yang bias kita catat dari fenomena mereka? Dari segi usia hanya Sadiq Khan yang paling muda. Yang lain rata-rata 70 tahun. Di AS, Bernard ”Bernie” Sanders, kandidat dari Partai Demokrat, lebih tua lagi ketimbang Trump, 75 tahun. Ia bersaing ketat dengan Hillary Clinton, 69 tahun. Rupanya, di Amerika kini calon tualah yang menjadi tren. Juga di Filipina, Duterte tentu tak muda lagi.

Tapi, begitulah politik, usia tuaataumuda tergantung konteksnya. Pasar politiklah yang menentukan. Melihat nama-nama di atas, rupanya personalitas menjadi kata kunci yang tak terpungkiri. Duterte di Filipina dijuluki ”Donald Trump” dari Timur. Personalitasnya menarik perhatian, justru karena kontroversial. Dari rekam jejaknya, publik Filipina menempatkannya sebagai sosok yang unik.

Sebagaimana Jokowi di Indonesia, Duterte mampu memanfaatkan keberhasilannya sebagai wali kota. Duterte sebelumnya wali Kota Davao, kota terbesar di Pulau Mindanao. Duterte mampu menjadikan fenomena Davao sebagai daya tarik pemilih. Dalam kampanyenya ia secara hiperbolis mengatakan telah menjadikan Davao dari kota yang dihantui pembunuh-pembunuh jalanan menjadi kota yang bersih dan teratur, bak Singapura. Dalam isu ekonomi, layaknya politisi populis, ia menjanjikan pemerataan pembangunan dan antikemiskinan.

Menangnya Duterte sesungguhnya mengingatkan kita pada Presiden Estrada masa lalu. Keduanya sama-sama mengesankan dirinya sebagai jagoan pemberantas kejahatan. Menjelaskan kemenangan Duterte karenanya sangat lekat dengan perspektif populisme politik. Ia menambah daftar panjang tren populisme politik di Asia Tenggara pasca-Thaksin Shinawatra di Thailand dan Joko Widodo di Indonesia. Hadirnya Rousseff di Brasil pun tak lepas dari perspektif tersebut.

Ia politisi perempuan yang populis. Ia punya massa riil yang cukup fanatik. Ia terpilih sebagai presiden sejak 2011. Popularitasnya terawat hingga mengemukanya protes besar-besaran skandal Petrosbras yang menyeret namanya. Kalaupun Rousseff jatuh dalam arti bukan lagi diberhentikan sementara, tapi diberhentikan secara formal, apakah pemerintahanbarukelakakanlebih baik? Tergantung kebijakan yang diambil dan dukungan publik terhadapnya.

Publik yang terpecah mungkin akan memengaruhi jalannya pemerintahan, sebagaimana Thailand pasca-Thaksin yang sempat menggejolak. Inipenting, untukdilihat ke depan karena massa Rousseff berjanji tidak akan membuat pemerintah baru tenang dalam menjalankan pemerintahannya. Mereka belum bisa benar-benar ”legawa”. Bagaimana dengan Sadiq Khan?

Sebagaimana Duterte, ia juga mengejutkan. Hanya, konteksnya lain. Khan lebih banyak diberitakan sebagai fenomena ”minoritas” yang memimpin ”mayoritas”. Khan seorang muslim, bagian minoritas dari warga London. Ia segera mengingatkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sosok Tionghoa beragama Kristen yang memimpin Jakarta. Kendatipun demikian, konteksnya masing-masing, bagaimana Khan dan Ahok berproses, tak lepas dari dinamika masyarakatnya.

Khan, menariknya, terpilih justru di tengah fenomena ”muslim jadi sorotan” di Barat. Negara-negara Eropa tengah kebanjiran pengungsi muslim dari berbagai ”negara gagal” di Timur Tengah dan Afrika Utara. Jauh sebelumnya, mereka sensitif dengan isu terorisme pasca- berbagai serangan bom, termasuk yang terjadi di Paris sebagai jantung Eropa. Khan ialah perkecualian. Ia memosisikan diri sebagai, apa yang ditulis majalah Time (edisi 23 Mei 2016), ”antidote” atau penangkal ekstremisme Islam. Para sosok yang terpilih itu tak lepas dari lingkungan politik dan tantangannya.

Mereka semua dihadapkan pada proses menjadi pemimpin. Ada yang belum tentu terpilih dan masih dalam tahap bertanding sebagaimana dialami Trump, Clinton, hingga Sanders di Amerika. Ada pula yang secara fenomenal telah terpilih seperti Duterte dan Khan. Ada yang tinggal ”menunggu hari kejatuhannya”, sebagaimana dialami oleh Rousseff. Begitulah ”cakramanggilingan” alias putaran roda kepemimpinan politik. Pemimpin datang dan pergi silih berganti, memang demikianlah yang menghiasi lembaran-lembaran berita di surat kabar.

Dalam perspektif kepemimpinan politik, sering ada yang mengaitkan faktor adikodrati bahwa hadirnya mereka tak sekadar ditentukan oleh pasar politik, tetapi juga faktor ”di luar kekuasaan manusia”. Konsep karisma dalam pandangan Max Weber mengakomodasi konteks adikodrati itu. Personalitas barangkali bisa dipermak di lembaga-lembaga pencitraan, tetapi isu sekadar untuk memunculkan ”karisma buatan”, bukan otentik.

Karisma otentik lebih dekat dengan dimensi adikodrati tersebut. Namun, di alam realitas apakah pemimpin berkarisma buatan atau otentik, ia akan diuji oleh kebijakan, termasuk di dalamnya masalah integritas. Kasus Rousseff mengingatkan semua pihak.